NEGARAWAN SEJATI

“Manusia Yang Merdeka dari Hegemoni Lymbic Section”

Otak Kanan & Otak Kiri Yang Belum Merdeka

otak simpanseBanyak sekali buku-buku yang ditulis. Bahkan berbagai pelatihan dengan beaya mahal dan sangat ekslusif. Dipresentasikan dengan alat-alat canggih dan mengagumkan. Dengan tujuan mengasah Otak Bagian Kanan yang mengolah impuls kelembutan, keindahan, spirit, bahkan disebut sebagai bagian otak di mana terdapat titik God Spot. Seolah-olah dengan cara itu kita dapat mengembangkan peran Otak Bagian Kiri dan dapat keluar dari berbagai persoalan. Kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu, Otak Bagian Kanan (OBKa) dan Otak Bagian Kiri (OBKi) sama saja. OBKa bekerja untuk mengolah dan memikirkan data-data non eksakta : metafisis, budaya, moralitas, seni, ide, gagasan, dan kesadaran spiritual. OBKi bekerja untuk hal-hal yang bersifat eksakta. Namun berdasarkan berbagai penelitian di Eropa dan Amerika, pengembangan OBKa dan OBKi sama saja apabila masih terkendali oleh Lymbic. Lymbic merupakan insting dasar hewani. Lymbic dipelajari pada ilmu neurosains kognitif. Lymbic memiliki beberapa sistem fisiologinya. Meliputi amigdala, Sirkuit Papez, dan termasuk pula Accelerated Learning.   Amigdala berasal dari bahasa latin amygdalae (bahasa Yunani αμυγδαλή, amygdalē, almond, ‘amandel’) adalah sekelompok saraf yang berbentuk kacang almond. Pada otak vertebrata terletak pada bagian medial temporal lobe, secara anatomi amigdala dianggap sebagai bagian dari basal ganglia. Amigdala dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Sirkuit Papez adalah suatu jalur utama pada sistem limbik di otak besar dan berperan pada korteks otak besar untuk mengontrol emosi. Sirkuit ini pertama kali dipaparkan oleh James Papez pada 1937.  Sementara itu Accelerated Learning atau efektifitas belajar dan mengolah impuls dari luar diri, dan setiap informasi yang masuk ke otak kanan dan kiri terlebih dulu melalui sistem lymbic.

Oleh sebab itu, perkembangan Otak Kanan tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan benda-benda kebutuhan insting dasar atau hewani, hanya saja dikemas secara lebih indah dan mewah (hedonisme) saja. Perkembangan otak kiri tanpa pembersihan dari polusi lymbic hanya akan menghasilkan pola hidup yang sangat material dan cenderung destruktif. Itulah keadaan hidup manusia yang masih sangat primitif namun terkesan sebagai manusia kesadaran spiritual tinggi, menjadi soleh dan suci.

Manunggaling “Manusia-Hewan”

Bila  kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting dasar saja, sesungguhnya kita masih menjadi binatang yang berevolusi kesadaran yang sangat lambat alias masih menjadi binatang yang berkedok jasad manusia.  Perbedaannya terletak di mana binatang tidak bisa berpura-pura dan mengelabuhi dirinya sendiri (munafik),  sebaliknya manusia dengan perangkat mind (otak sadar/pikiran/akal) mampu berpura-pura seolah bukanlah binatang. Kepura-puraan (sikap munafik) ini berkat pendayagunaan OBKa yang diperhalus OBKi, sehingga manusia lebih mampu memoles insting-insting hewani menjadi lebih halus dan samar. Kita lebih pandai mengelabuhi orang lain seolah telah menjadi insan kamil, manusia sejati, dengan kesadaran spiritual ultra tinggi (highest consciousness). Maka banyak kita membaca berita di koran-koran seorang rohaniawan, pemimpin, politisi, penegak hukum, intelektual melakukan pelecehan seksual, korupsi, penggelapan, tindak kriminal lainnya dsb. Inilah wajah manusia  apabila OBKa dan OBKi masih dikuasai oleh sang lymbic.  Perkembangan diri manusia masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri hanya menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang masih peduli memanusiakan diri sendiri.

KENAPA HARUS ADA LYMBIC

Meskipun lymbic merupakan insting dasar hewani yang terdapat dalam tubuh manusia, bukan berarti lymbic harus dimusnahkan dari dalam diri manusia, lymbic hanya perlu dikendalikan dalam batas-batas yang wajar dan manusiawi agar bermanfaat sesuai fungsinya. Lymbic berfungsi sebagai alat untuk survival, menggerakkan kebutuhan biologis atau jasadiah untuk keperluan mempertahankan kehidupan di planet bumi. Lymbic juga diperlukan untuk reproduksi, proses kelangsungan hidup seluruh makhluk agar kehidupan di bumi tidak punah.  Lymbic mencerminkan kebutuhan  dasar atau kebutuhan paling primitif makhluk hidup. Sementara itu kehidupan manusia bukan saja untuk memenuhi kebutuhan dasar, lebih dari itu adalah kebutuhan rohani, atau kebutuhan jiwa, sukma atau kebutuhan roh.  Kebutuhan insting dasar dipahami sebagai batu loncatan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi  (mulia) yakni kebutuhan jiwa atau roh tersebut. Kebutuhan dasar selalu tumbuh berganti, berubah-ubah, dan tidak langgeng. Sementara kebutuhan akan kemuliaan bersifat langgeng tan owah gingsir, yang azali abadi.

Adapun rumus-rumus dasar perubahan yang berlaku bagi kebutuhan dasar (insting dasar hewani) yang digerakkan oleh lymbic adalah sbb :

  1. Tumbuh, berkembang, lalu hancur.
  2. Pertama-tama lahir, hidup, lalu mati.
  3. Muncul keinginan, pemenuhan keinginan, kepuasan lalu semakin lama hilanglah kepuasan itu.

Demikianlah sifat dasar dari kebutuhan lymbic, tak ada yang kekal abadi, sebab lymbic hanya mencakup dimensi jasad, atau dimensi bumi saja. Semua yang berada dalam dimensi bumi akan terkena rumus bumi, ada/lahir, tumbuh/berkembang lalu hancur/mati/sirna. Bumi merupakan mercapadha ; merca berarti panas atau rusak, padha artinya papan atau tempat.  Bumi seperti halnya jasad, merupakan tempat di mana segala sesuatu akan mengalami kerusakan dan kehancuran.

Keberhasilan mengendalikan si lymbic, akan membuat kita berhasil memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yakni kebutuhan roh. Artinya, apabila kebutuhan jasad dapat dikendalikan secara wajar justru kebutuhan sukma atau jiwa akan terpenuhi, berupa ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan kebahagiaan tertinggi (audaimonistis). Dalam falsafah Jawa, proses pengendalian lymbic ini tercermin dalam pepeling yang tampak sederhana tetapi sudah menjadi bagian dari kearifan lokal : ngono yo ngono ning ojo ngono. Maksudnya agar manusia tidak melampaui batas kewajaran dari nilai-nilai kemanusiaannya, alias tidak “ber-evolusi mundur” atau set back kembali menjadi binatang berbalut raga manusia.  Berbagai teknis meredam dan mengendalikan lymbic dengan olah rasa, mengoptimalkan rasa sejati/rasa pangrasa. Sehingga akan lahir menjadi manusia ber-evolusi pesat menjadi manusia linuwih, jalma kinacek, dengan kesadaran spiritual yang tinggi. Menjadi cirikhas orang-orang yang berhasil nuruti kareping rahsa. Bukan sebaliknya nuruti rahsaning karep.

TIPE PENGUASA LYMBIC

Apabila insting-insting hewani kita dibiarkan tumbuh berkembang dalam diri, lama-lama akan mengkooptasi dan menghegemoni alam pikiran bawah sadar, di mana tersimpan nilai-nilai dasar pandangan hidup, yang setiap saat mendasari cara pandang (mind set) dan dapat menjadi nara sumber “kebenaran” yang bersifat subyektif dan palsu. Alam pikiran bawah sadar sebagai stockpile, yang terisi oleh insting dasar hewani tersebut menentukan pola-pikir (mind set), cara pandang, dan menuntun bagaimana harus bertindak. Celakanya, semua itu diartikulasi atau dimanifestasi dalam perbuatan nyata, yakni berupa perbuatan hewaniah. Kekuasaan lymbic tercermin dalam sikap ego dalam diri yang sangat tinggi. Celakanya lagi ego yang melakukan pencitraan harga diri terlalu tinggi membuat seseorang sangat mudah tersinggung, gampang murka, selalu golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe.  Sebuah karakter yang sangat berbahaya, karena karakter muncul dari ego yang sangat kuat, yang dapat menyiksa, menganiaya, menyakiti,  menghancurkan, dan memusnahkan segala hal yang tidak sesuai dengan ego-nya sementara kejahatannya itu sebagai bentuk kebenaran tak terbantahkan.

Lymbic, sepadan dengan Nafsu negatif.  Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di dalam air samudra yang sangat luas. Artinya, nafsu dapat menjadi sumber keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula sebagai akyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, bila nafsu menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi “tumpukan sampah” atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep). Hewan bertubuh manusia.

Lymbic bekerja membawahi akal budi. Artinya seberapapun hebat kemampuan akal, secerdas dan sejenius apapun otak manusia tetap saja berada di bawah kekuasaan lymbic. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut latu murup  ing telenging samudra. Latu atau bara api sebagai kiasan dari insting dasar (hawa nafsu). Sedangkan samudra sebagai kiasan dari jiwa yang suci.

Tipikal pemimpin yang dikuasai lymbic section atau pemimpin yang belum menjalani pengendalian lymbic dapat dilihat sebagai mana tercermin dalam beberapa karakter pemimpin di bawah ini;

  1. Kagetan, gumunan. Bersifat reaksioner.
  2. Ora kuat nyunggi drajat; begitu mendapat jabatan, mereka akan berubah sikap sangat drastis. Sok jaim, sok wibawa, sering salah tingkah, gagal menjalankan tanggungjawabnya sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.
  3. Sumber kewibawaan bukan berasal keluhuran budi, kualitas kerja dan karya, melainkan keibawaan identik dengan menakutkan.
  4. Menjaga kehormatan diri dan kekuasaannya dengan cara intimidasi dan menebar ancaman.
  5. Hilangnya kharisma yang memancar dari dalam diri. Kharisma diganti dengan wajah angker nan galak. Seram dan menakutkan. Sikap yang bukan tegas namun tega dan sadis.
  6. Kepatuhan para staf dan rakyatnya hanya dikendalikan oleh rasa takut, bukan rasa welas asih dan terimakasih.
  7. Mengutamakan kepentingan kelompoknya; kelompok politik, golongan, ras, suku, agama, dan faham politiknya. Sikap anti toleran, pola pikir sektarian, primordial, rasistis.
  8. Lebih memilih penghancuran dan pemusnahan sebagai cara utama dan pertama yang ditempuh daripada pendekatan persuasif melalui penyadaran dan  penginsyafan.
  9. Kekuasaan bukan dipandang sebagai sarana, tetapi sudah menjadi tujuan utama. Bila seseorang bercita-cita menegakkan keadilan dan ingin menciptakan kemakmuran untuk negeri dan rakyatnya, tetapi meraih kekuasaan melalui cara-cara kotor, menghalalkan segala cara, mau menangnya sendiri, itulah penguasa yang dikuasai lymbic.
  10. Power of law, berganti menjadi law of the power. Kekuasaan bukan lagi bersumber dari hukum atau konstitusi yang disepakati rakyat, sebaliknya kekuasaan disalahgunakan untuk merumuskan hukum yang  melindungi  kepentingan pribadinya.
  11. Pemimpin bukan dipahami sebagai pelayan rakyat. Sebaliknya pemimpin malah menuntut rakyatnya yang harus melayaninya.

Tipikal “pemimpin lymbic”, layaknya sindrom yang mengidap sebagian politisi kita saat ini. Di mana kemauan lebih  berkiblat kepada nafsu jasad atau (nuruti rahsaning karep) yang bersumber dari lymbic section, ketimbang kebutuhan roh yang bersumber dari cahaya Ilahi (nuruti kareping rahsa).

WASPADAI DIRI SENDIRI

Lymbic mendorong seseorang untuk memenuhi segala kebutuhan insting dasar hewani. Guna mewujudkan setiap keinginan hewani bilamana ada kesempatan seseorang akan menghalalkan segala cara demi mewujudkan insting primitifnya. Tindak “pelacuran otoritas” hingga  pembunuhan, tindak kriminal seperti korupsi, mark up, penggelapan, perampasan hak orang lain, merupakan manifestasi dari dorongan lymbic atau insting primitif hewani.

Sementara itu akal-budi, disebut juga indera. Keberadaan nafsu menjadi wahana adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing pandengankudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam nafsu, diibaratkan sebagai “orang lumpuh mengelilingi bumi”. Adalah tugas yang amat berat bagi akal-budi; yakni menuntun hawa nafsu angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga diumpamakan wong lumpuh angideri jagad; orang lumpuh yang mengelilingi bumi. Dalam wilayah ilmu tasawuf disebut juga akyanmaknawiyah. Kemenangan akal-budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.

Nah, apabila lymbic dibiarkan berkembang secara simultan pada gilirannya akan menghegemoni alam pikiran bawah sadar dan setiap saat akan menjadi sumber pembenaran diri atau kebenaran subyektif.  Demikianlah proses terjadinya sosok manusia super egois, hinggga mencapai titik paling ekstrim yakni timbulnya penyakit jiwa seperti megalomania, egosentrisme, psikopat hingga kegilaan permanen. Psikopat tidak selalu tindakan pembunuhan berantai seperti dalam film-film thriller. Psikopat bisa saja dengan mudah menyusup ke dalam perilaku golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benerew dewe. Hal ini membentuk pola pikir atau mind set yang sempit, yang menganggap diri paling bener. Lalu dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk menganiaya lahir atau batin orang-orang yang dibenci atau yang berbeda pendapat  dan keinginan dengan dirinya. Seorang psikopat mudah menyakiti dan mencelakai orang lain demi pencapaian keinginan pribadinya. Bahkan saking terbiasanya, ia dapat berbuat kejahatan kepada siapapun yang dikehendakinya, sementara ia menikmati perbuatan jahatnya itu. Bahkan dengan bangganya seorang psikopat mentertawakan kesengsaraan orang lain yang menjadi korban kejahatannya. Itulah gambaran jiwa psikopat, di mana hati nuraninya telah wafat. Kepuasannya justru terpenuhi manakala ia dapat “menari di atas bangkai” para  korbannya. Lymbic yang benar-benar out of control amat sangat berbahaya, lebih berbahaya lagi apabila jiwa-jiwa psikopat disertai dengan kecerdasan otak yang relatif tinggi dengan dimilikinya kekuasaan yang legitimate. Manusia akan berubah tidak hanya sekedar binatang, namun menjadi sosok monster yang lengkap memiliki senjata pamungkas. Kenyataannya penyakit jiwa ini banyak menghinggapi penduduk bumi nusantara di masa sekarang ini. Manusia yang turun martabat dan habitatnya menjadi spesies purba dan primitif namun juga sangat ganas. Benar-benar menjelma sebagai manusia homo-hominilupus, alias binatang buas buat manusia lainnya. Apa jadinya bila sosok demikian ini berkesempatan menjadi pemimpin umat di negeri ini ? Menjadi sosok manusia yang mempunyai kesempatan dan kemampuan tinggi untuk  menghancurkan bumi. Otak bagian kanan tidak difungsikan untuk menggapai kesadaran dan kecerdasan spiritualitas, sebaliknya hanya berfungsi membangun perilaku munafik, sibuk memperhalus dan menutupi kebuasannya. Selalu berkreasi untuk menjaga imej mulia dan lembut di hadapan khalayak, sementara di dalam dirinya menyimpan potensi besar insting hewani yang primitif yang siap menelan segala yang ia inginkan.

HUBUNGAN KEKUASAAN LYMBIC DENGAN KERUSAKAN ALAM SEMESTA

Negeri ini sudah terlalu carut marut, semrawut, bagaikan benang kusut. Berbagai penyakit  kejiwaan akibat dominasi kekuasaan lymbic telah menjangkiti  seluruh sendi kehidupan negeri. Tindakan  yang sangat mendesak untuk segera dilakukan, adalah ; jati diri palsu bangsa ini harus segera dikoreksi dan diselamatkan dengan cara menselaraskan antara keseimbangan mikrokosmos dengan keseimbangan makrokosmos. Sebagaimana telah dikatakan oleh seorang filsuf Socrates pada 500 th SM, serta terdapat dalam berbagai kitab suci, kita harus mengenali jati diri terlebih dahulu, barulah kita akan mengenali Tuhan. Maka jati diri bangsa ini harus digali dan dikenali lagi. Untuk sebuah gerakan penyadaran jati diri bangsa, akan lebih efektif apabila dimulai oleh para pemimpin dengan menjalani lakuning urip secara pas dan pener. Biarpun kekacauan multidimensi negeri saat ini tampak sudah sangat akut, namun hendaknya kita tetap optimis. Sebab masih ada satu celah dengan cara menghayati nilai-nilai luhur kearifan lokal. Hal ini bukan sekedar latah, karena nilai kearifan lokal adalah nilai yang merepresentasikan jati diri bangsa apa adanya, alamiah dan manusiawi. Dimulai dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat dalam lingkup otoritas daerah, selanjutnya hingga ke pusat secara bottom up. Tentu saja untuk sebuah misi mulia itu masing-masing pribadi harus memerdekakan diri dari hegemoni insting primitif hewani terlebih dulu. Sebab untuk menjadi pamomong bagi banyak orang seyogyanya kita lebih dulu harus sukses ngemong diri sendiri.

KENAPA HARUS DI MULAI DARI DIRI KITA PRIBADI ?

Karena kegelisahan, kegundahan, sifat mudah panik, kalut, ela-elu, anut grubyuk, yang merambah dalam diri kita bukanlah disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal. Namun disebabkan oleh mekanisme ketidakseimbangan (disharmoni) dalam diri kita sendiri. Berawal dari terjadinya disharmoni, lalu terjadi disintegritas jati diri kita yang menghasilkan hormon  dan adrenalin secara berlebihan. Kelebihan produksi hormon itu dapat mengganggu kestabilan dan kesehatan jiwa raga alias stress dan depress. Terjadilah imbal balik, di mana  stres dan depresi, akan mengacaukan kesimbangam dalam diri yang berujung memperdalam terjadinya disintegritas jati diri. Di saat inilah manusia turun drajat menjadi binatang, jika tidak ya sepadan dengan manusia setengah gila.

Carut marut negeri ini berasal dari keadaan mental diri kita sendiri. Mental generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya. Tak kenal dan tak selaras lagi dengan karakter lingkungan sosial dan  lingkungan alam sekitarnya. Hilangnya jati diri melahirkan tindakan-tindakan melawan kodrat alam. Hal itu meretas kegelisahan dan kebingungan, kepanikan dan kebuntuan dalam mengambil sikap hidup. Semuanya jadi serba salah kaprah & salah tingkah. Banyak hal-hal esensial menjadi serba terbalik maknanya. Inilah yang dimaksud dengan tanda-tanda wolak-waliking jaman seperti pernah diperingatkan oleh para pujangga masa lalu. Yang saat ini ternyata benar-benar terjadi.

Penebangan hutan secara liar, ekploitasi pertambangan alam yang tidak lagi peduli dengan kaidah alamiah dan manusiawiah, cut and fill kontur tanah yang tidak memperhatikan hukum-hukum geografis dan geologis, demi alasan pembangunan nasional  sungai-sungai dirombak alur dan irama alamnya menjadi irama nafsu lymbic.  Lembah-lembah hijau tempat serapan air dirubah menjadi resapan penghasil fulus dengan ijin “ilegal” mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran dan lembah sungai. Mata air digusur, hutannya dibabat habis, gunung-gunung sebagai tampungan air telah digempur diratakan. Akibat dari semua itu adalah banjir, kekeringan, salah mongso, iklim yang kacau, suhu yang berubah-ubah drastis, lempeng bumi terjadi rongga-rongga karena kadar air semakin berkurang, lempeng bumi terjadi pelapukan dan pergeseran lebih cepat. Akibat lebih lanjut adalah terjadi berbagai gempa bumi, kekurangan air tanah, kelembaban udara menurun drastis, mengakibatkan baksil dan bakteri berkembang biak, wabah penyakit dan hama tanaman menjadi sangat variatif dan sulit diatasi.

Itulah gambaran dalam dimensi luas hubungan antara manusia (jagad alit) dengan lingkungan alam (jagad besar) yang tidak lagi selaras, seiring dan sejalan. Untuk itu para pemimpin perlu segera mengupayakan usaha-usaha pemerdekaan diri bagi generasi penerus bangsa dari penjajahan lymbic section. Kembali kepada jati diri bangsa, menggapai kesadaran tinggi (highest consciousness) yang tidak terjajah oleh lymbic, yakni kesadaran rahsa sejati. Usaha itu harus diawali dengan membangun keseimbangan dalam diri kita pribadi. Dimulai dari pribadi-pribadi peduli yang tinggal di “wilayah TIMUR”. Sebagaimana terungkap dalam kitab kuno jongko-joyoboyo. Dan di sinilah  tempatnya yang tepat. Dimulai  dari kota lumpur Sidoarjo tempat di mana para putra Sang Fajar mulai menyingsing dari ufuk timur. Njejegake soko guru bangsa, yang akan membuka jalan bagi kembalinya kejayaan bumi nusantara. Dan para putra sang fajar itu adalah Anda yang hadir di sini dalam pertemuan ini. Sebagai pemimpin, apabila anda melakukan start lebih awal, anda bersama rakyat akan lebih dulu meraih dan merasakan anugrah agung yakni, indahnya kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Yang melibatkan kesejahteraan lahir dan batin. Namun anugrah agung itu tentunya tidaklah GRATIS, karena masyarakat bersama para pemimpin di wilayah Sidoarjo harus menebus anugrah agung dengan musibah dan penderitaan panjang. Semakin tabah menjalaninya, semakin besar pula “uang tebusan” yang anda kumpulkan. Berati semakin besar pula anugrah yang akan diperoleh.

TIPIKAL NEGARAWAN SEJATI

Sementara itu gambaran kejiwaan negarawan sejati, mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kesadaran theolgis, lebih dari itu memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang selaras dan seimbang antara jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar (makrokosmos),  keselarasan antara rakyat dengan pemimpinnya (manunggaling kawula kalawan gusti), dan keselarasan jiwa manusia  dengan nilai ketuhanan (manunggaling kawula Gusti atau roroning atunggil/dwi tunggal). Pencapaian keadaan itu dapat dirasakan sebagai suasana yang tenang, damai, riang, bahagia. Saling memberi, saling menebarkan aura kasih-sayang. Terpancarlah nilai-nilai kebaikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan.   Kebaikan akan meretas kebaikan pula. Dalam diri pribadi, keadaan positif ini memicu produksi hormon-hormon melatonin & endorfin,  yang bekerja  untuk melipatgandakan ketenangan, ketrentaman dan kebahagiaan.  Begitulah seterusnya. Hiup menjadi lebih tenang, tidak kelebihan hormon adrenalin yang akan membawa kepada sikap kagetan dan gumunan, raksioner dan  frontal, gelisah, geram dan  emosional.

Tipikal seorang negarawan sejati yakni merdeka dari pengaruh hegemoni lymbic. Saya sebut pula sebagai pemimpin yang nuruti kareping rahsa.  Dalam terminologi falsafah Jawa disebut sebagai kodok kinemulan ing leng, atau wit ing sajroning wiji.  Jiwa yang tuntun oleh sukma-sejati/roh kudus/ruh al kuds, dibimbing oleh rasa sejati/sirulah, disinari oleh cahyo sejati/nurullah, dan pada akhirnya menjadi jiwa raga yang dihidupkan oleh atma sejati/chayyu/kayun yakni energi yang menghidupkan.  Mereka itulah adalah sosok negarawan sejati. Pribadi yang tidak lagi terkooptasi oleh kelompok kepentingannya sendiri. Tidak mewakili dan mengatasnamakan kepentingan dan warna politik, golongan, dan kelompok tertentu. Negarawan mengatasi kepentingan seluruh warga bangsa, atau mengutamakan kepentingan umum. Perilaku dan perbuatan pribadi negarawan sejati tidaklah egois, sebaliknya bersikap altruis mempersembahkan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya di atas kepentingan-kepentingan lainnya (berkah bagi alam/rahmatan lil alamin). Kursi kekuasaan bukan menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana atau alat menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan bersama. Biarpun tidak sedang menduduki jabatan, seorang yang berjiwa negarawan sejati memiliki tabiat perilaku yang konsisten. Arif dan bijaksana, mampu ngemong diri pribadi sebelum bertanggungjawab ngemong orang banyak sehingga tak ada bedanya saat sebelum dan sesudah menduduki tampuk kekuasaan. Kehidupan ini dijalani dengan sikap profan apa adanya, tidak mengada-ada, antara solah atau perilaku badan dengan bawa atau perilaku batin tidak berbenturan  satu sama lain (munafik). Selalu eling akan sangkan paraning dumadi, dan waspada atas segala hal yang dapat menjadi penghalang kemuliaan dirinya. Seorang negarawan sejati berani sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya  dengan dasar rasa welas asih, welas tanpo alis, belas kasih kepada siapa saja tanpa pilih kasih, dan tanpa pamrih kecuali sebagai bentuk netepi titahing Gusti,  mengikuti afngal atau sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tanpa pernah pilih kasih !! Negarawan memanfaatkan kewenangannya sebagai alat atau sarana laku prihatin yakni dengan tapa ngrame. Laku tapa, tapaking hyang suksma. Menjadi pribadi kosmologis, perilakunya selaras, harmoni dan sinergi dengan kodrat alam. Kesadarannya bukan hanya kesadaran theologis dogmatis saja, namun sudah menggapai kesadaran kosmologis yang berada dalam wilayah kesadaran hakekat.

Pastilah berkah Tuhan akan selalu berlimpah ruah, sumrambah dateng tiyang kathah, mampu merubah segala musibah menjadi anugrah. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Itulah konsep keadilan dan kemakmuran suatu negeri, akan datang  bilamana pemimpinnya adalah sosok pribadi yang jumeneng satria pinandita sinisihan wahyu. Siapapun bisa melakukan asal memiliki kehendak (political will) dan bertekat bulat ibarat melakukan semedi di “alas ketangga” (keketeg ing hangga) yakni dengan tekat bulat meliputi jiwa dan raga.

Figur negarawan sejati,  menjadikan dirinya seperti medan magnet positif yang akan menebarkan dan menarik segala hal yang positif, dan rumus ini berlaku pula sebaliknya. oleh sebab itu tidaklah sulit bagi negarawan sejati, bila selama masa kepemimpinannya akan menyebarkan benih-benih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Menjadikan rakyatnya merasa benar-benar menjadi tuan di istananya sendiri. Bagi negarawan sejati, apa yang diucap akan terwujud (sabda pandita ratu), dan apa yang diucapkan segera terlaksana (idu geni). Siapapun dapat menghayati dan membuktikan sendiri. Karena Negarawan sejati bukan hanya monopoli seorang presiden, raja, atau perdana menteri saja. Tetapi bisa dilakukan oleh siapapun orangnya ; gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW/RT. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin buat dirinya sendiri, dan keluarganya.

Kiranya tidaklah mengada-ada, apabila telah diisyaratkan oleh para leluhur kita di masa lampau, bahwa negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, menjadi negeri yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya pada saat mana dipimpin oleh figur Ratu Adil. Berarti pula memiliki kiasan sebagai pribadi-pribadi yang gandrung keadilan dan sistem ekonomi-politik yang adil. Dan siapapun anda bisa menjadi figur ratu adil apabila anda memiliki kemauan sungguh-sungguh yang anda tetapkan mulai hari ini.

TEKNIK PENGENDALIAN LYMBIC

Kita harus melakukan berbagai usaha untuk meredam kekuasaan lymbic dalam diri kita. Banyak cara dapat ditempuh, misalnya dengan berolahraga dan berolah-batin, misalnya olah meditasi, semedi, mesu budi, maladihening hingga tradisi jazirah dengan cara berzikir, i’tikaf dsb. Semua tujuannya sama, menggali getaran nurani sebagai terminal getaran energi Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Energi yang hidup abadi yang ada dalam diri kita. Lebih dekat dari urat leher. Itulah Tuhan yang bersembunyi di dalam hati kita. Persoalannya adalah ; bagaimana kita mampu untuk mengolah rasa menggapai kesadaran tinggi (highest consiousness) ?! Menjadi diri sejati, menjadi negarawan sejati, yang memiliki sipat kandel, winasis sebagai pribadi yang trewaca, waskita dan permana.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 19, 2009, in Negarawan Sejati and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 26 Komentar.

  1. Hasil tulisan dari sebuah pendalam bathin yang Luar biasa. Terima Kasi Ki. Jangan bosan2 untuk membagi ilmunya pada kita2 yang masih Bodoh.

    Matur Nuwun

  2. pamuji rahayu…,

    terima kasih kangmas.. atas semua pemaparan yang sangat bermanfat bagi kami yang masih harus mencari dan mencari serta nglakoni …, type seorang pemimpin seperti ini yang sangat didamba rakyat saat ini, namun sampai sekarang kok yo belum ada yang seperti ini .., sejatinya pemimpin sekarang lebih cenderung kepada nafsu jasad…, jarang dan bahkan belum ada yang sampai kedalam sejatinya kareping rahsa… malah lebih mengutamakan kepada ego dan nafsu lymbicnya, karena seorang penguasa beda dengan negarawan sejati…, penguasa lebih cenderung kepada tindakan kesewenangan .. lebih korup dan cenderung mempertahankan diri dari serangan ulah sendiri.., lebih bertindak menindas dan membenarkan diri, semoga penguasa kita, pemimpin kita bisa merambah menjadi seorang negarawan sejati,. sehingga apa yang kita harapkan untuk mengembalikan jati diri bangsa mencapai ujud yang konkrit , tidak hanya kita sendiri yang mulai namun seorang pemimpin dan penguasa hendaknya memberikan contoh tauladan seperti apa yang sering didengungkan bahwa contohlah tauladan nabi, namun… yah …, sanak kadhang, memang musti kita sendiri, dari mulai diri kita sendiri seyogyanya melaksanakan dalam keseharian kita tepa slira tenggang rasa silih asih asah asuh… menjalin kebersamaan dalam perbedan dan peraudaraan yng universal… selalu menjaga hati, solah bawa di manapun kita berpijak. terhadap lingkungan , bebrayan agung maupun dimana saja .., saya mulai banyak belajar dari para saudara saudara spiritualis sejati.., mereka tidak bosan bosannya memberikan pencerahan agar kita menjadi manungswa yang berperikemanusian, persatuan, sejahtera adil dan beradab.., menjadi manungswa yang mengerti sejatinya sangkan paraning dumadi.., matur sembah nuwun kangmas atas semua pencerahan – pencerahan ini, semoga Gusti membukakan pintu ilmu yang seluas luasnya dan hikmah spiritual untuk lebih mengerti karyaMU dan tujuan manusia hidup
    matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu.

  3. Ki mohon maaf sebelum dan sesudahnya kami ikut nimbrung corat-coret mohon koreksi bila salah emang kebodohan kami maklum bukan orang sekolahan )bila benar itu milik Alloh.

    Beginilah Tuntunan Islam
    Belum ketemu tapi sepaham
    Islam jadi Rohmatnyah Alam
    Bila sampurna Hawa dan Adam

    Agama Ihsan iman islam
    Tanpa Simbol Amal Islam
    Beda kaipiat berbeda paham
    Hanyalah kembang penyubur Alam

    Allah Taala pencipta Alam
    Mengawasi seluruh Alam
    Hasud dengki sirik dendam
    Alloh mengutuk siang dan malam

    Ilmu putih ilmu hitam
    Bagai kopi dua Alam
    Barang luwar barang dalam
    Tukang mitnah terburuk Alam

    Pitnah itu lebih kejam
    Dari kejamnyah ebom meriam
    Hasud dengki sesama islam
    Islam jadi penghancur islam

    Sabdolangit amanat Alam
    Coba ulama belajar maham
    Bukan timbang simbol islam
    Tetapi bijak dewasa paham

    Adapun Julang kejuluk ayam
    Di gosipin berilmu hitam
    Ulama islam hasud dendam
    Sirik dengki mengundang awam

    Pancasila jika di paham
    Isi ihsan iman islam
    Tukang mitnah ya ditikam
    Amanat Alloh pencipta Alam

    Bukti pakta tuntunan islam
    Semenjak Zaman Nabi Adam
    Kiamat hanya buwat Alam
    Manusia penghasud dendam

    Silih menuding bagai di maksar
    Sambil tida usaha sadar
    Napsu emosi sering terbakar
    Ulama silih menuding nyasar

    Orang awam salah belajar
    Para doktrin salah mengajar
    Menjadi kompak ngaco nyasar
    Sambil pada hilang sadar

    Satu duwa orang sadar
    Tapi tasabbuh pada nyasar
    Jadi tibang bingung benar
    Tungtungannyah semuwah benar

    Nuju sorga tepat benar
    Nuju naroka tepat benar
    Hanya ilmu paling benar
    Kenal Alloh Allohuakbar

    Hasud musrik bermulut besar
    Gambar sipetruk tepat benar
    Mulut besar perut besar
    Dewasa bijak picik benar

    Alloh di adu saling gampar
    Sesama iman kaga sadar
    Sesama islam ora sadar
    Katah Alloh sikurang ajar

    Julang ketuduh ngaco nyasar
    Terblokir tiep mengajar
    Murtad kapir kupur kupar
    Julang tibang berkelakar

    Saudaraku nyang masih sadar
    Sabdolangit patut mengajar
    Ulama umaro wajib belajar
    Supaya umat ketemu sadar

    Lembaran ini penting di sebar (maksudnya tulisan ki Sabdolangit dan yg lainnya)
    Kepenjuru dunya seputar
    Agar orang iklas belajar
    Paling tida rumasa sadar

    Tuntunan sudah begini baik
    Mengapa orang suka menampik
    Mungkin dari sangat picik
    Tidak sadar pasik munapik

    Amanat tablig patonah sidik
    Sipat rosul makluk terbaik
    Menuntun umat kejalan baik
    Seperti ini pabila cerdik

    Terburuk mu’min hasud musrik
    Menjadi sombong rasa terbaik
    Tuntunan iman malah ditampik
    Merasa dirinyah orang terapik

    Ahli sunah cobalah lirio
    Berjamaah hasud dan musrik
    Dongeng rosul hanya hanya menarik
    Demi pendukung bertambah baik

    Lepada Alloh buta mendelik
    Wujud Alloh ora kelirik
    Cuma bonapid yang dilirik
    Ingá tak sadar zolim munapik

    Putus taklid si kapir zindik
    Empat mazhab di obrak abrik
    Taklid batil ulama musrik
    Ulama pajal tidak tertilik

    Merasa keras rasa tercutik
    Nyinggung nyindir nyuruh cerdik
    Kepada Alloh cermat cerdik
    Jikalau benci itulah musrik

    Julang bersukur pada peracik
    Tiep tuntunan amatlah baik
    Ini lembaran penyebab taupik (maksudnya tulisan ki Sabdolangit dan yg lainnya)
    Jika pembaca tidak munapik

    Musuh Alloh sihasud musrik
    Hidup serakah teramat sirik
    Sesama umat silih mencutik
    Akhirnyah kompak Alloh neng nyutik (kiamat dah luh yaa loh iyaa abis dah)

    Bersambung………

  4. Ya setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya-keluarga dan orang lain,oleh karena itu harus pula berusaha untuk mengembangkan segala bakat,memanfaatkan segala kesempatan dan hasilnya disyukuri sbg kurnia Allah yang digunakan untuk menerus-kan kasih dan kebaikan Allah.
    Oleh karenanya seorang negarawan sejati harus menjauhi nafsu2 hewani dan mengasah OBKA agar lebih bermoral-berbudaya,punya gagasan2 ide yg cemerlang dan kesadaran spiritual yg tinggi untuk mengantarkan warga bangsa agar hidup lebih sejahtera.
    Matur sembah nuwun Ki Sabda yg telah mengingatkan para pemimpin bangsa yang akan dilantik bsk Rabu Pahing.[7+9=16,1+6=7:pitulungan Gusti]

    salam rahayu.

  5. Kangmas Sabdalangit yang terkasih,
    Tadi malam habis semedhi saya tertidur mimpi bertemu panjenengan, dalam sebuah perhelatan seorang leluhur yang sangat butuh kepedulian anak cucunya. Bot repote leluhur, kita sebagai anak cucu mesti ikut ambil bagian & dalam mimpi tersebut panjenengan sudah memberikan teladan kepada saya.
    Sebuah tulisan yang mencerahkan Mas, kita memang perlu disadarkan bahwa ternyata kita masih banyak dikuasai oleh lymbic section ini
    Maka tak bosan saya katakan bahwa manusia saat ini banyak yang sudah kehilangan kamanungsannya hanya tinggal suatu komoditas saja
    Hal ini dikarenakan eksploitasi manusia atas manusia. Agama & budaya dalam hal ini adalah senjata yang terampuh bagi para penguasa untuk terus mengeksploitasi
    Dengan terus memelintir agama sebagai sebuah pengejaran tanpa henti atas kepuasan limbic dan pelembagaan ketakutan akan Tuhan
    Sehingga dalam memaknai hidupnya manusia terjajah ini hanyalah seumpama hewan yang takut digebuk majikan & mengejar iming-iming.
    Sebagai tanda kepedulian saya dalam memerdekakan manusia meski banyak yang menghujat berikut saya copas sebuah pemikiran dari blog saya
    Perlu dilakukan kerja di bidang ideology untuk membangun kembali kemanusiaan
    Dan perjuangan memang harus dimulai dari diri kita sendiri membuat budaya tandingan suatu kontradiksi dengan keadaan yang ada, sehingga dialektika kehidupan terus berjalan, antitesa yang membuat sintesa baru, hidup yang berkualitas, hidup yang membawa kepada kepenuhannya
    Teringat sebuah peribahasa :
    Mengapa kau berikan sebuah perhiasan emas kepada seekor anjing, yang tidak tahu gunanya nantinya hanya akan merusaknya dan balik menyerangmu
    Semoga persembahan pemikiran ini bukan sekedar perhiasan yang tak ada gunanya, & bangsa kita belum sepenuhnya manunggal dengan hewan

    WAHYU ILAHI

    ALAM ini adalah KUMPULAN ATAU GUGUSAN WAHYU TUHAN YANG TIADA TERHINGGA, tinggal tergantung KEMAMPUAN MANUSIANYA UNTUK MEMBACA ATAU MENAFSIR RUMUS-RUMUS ALAM SEMESTA, mampu atau tidak?

    ……Suprayitno

    Pengertian wahyu diberbagai agama memang berbeda, bila dalam Islam wahyu adalah anugerah Tuhan bagi manusia terpilih dalam Kristen wahyu adalah Sabda yang menjadi Daging yang terwujud dalam diri Yesus.
    Bagi mistikus Timur seperti leluhur Nusantara, wahyu seperti yang telah dijelaskan oleh Mas Prayit. Wahyu adalah tersingkapnya kesejatian diri.
    Hasil dari laku kita sebagai manusia dalam memaknai hidup.
    Sebagai contoh :
    Seorang wanita, istri yang sungguh2 menghayati hidupnya sebagai mitra lelaki dalam penciptaan, penjaga, pelindung dan perawat kehidupan suatu saat ketiban wahyu SRI GADUNG MELATI dhanghyang penunggu mata air symbol penjaga mata air kehidupan.
    Sepasang suami istri yang telah setia atut runtut tansah reruntungan kadya mimi lan mintuna mendapat wahyu KEONG MAS symbol cinta yang tak terpisahkan dari Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Candrakirana.
    Seorang seniman yang mengabdikan dirinya demi seni guna membuat hidup lebih indah mendapat wahyu KAPUJANGGAN.
    Dan masih banyak lagi termasuk wahyu jadi Ratu atau Presiden.
    Jadi menurut saya memang benar wahyu adalah anugerah bagi manusia terpilih yang mampu memaknai hidupnya sehingga kesejatian dirinya akan disingkapkan.
    Namun tak seorangpun boleh mengklaim pencapaian hidupnya itu dengan menafikan pencapaian hidup orang lain atau malah menganggap dirinya lebih dari orang lain, karena wahyupun bisa dijabel, diambil lagi dari dirinya. Saat laku hidupnya tak lagi menggambarkan citra wahyu itu.
    Benar juga bahwa wahyu adalah Sabda menjadi Daging.
    Bila Mas Prayit menganggap Tuhan hanya sekedar konsep, maka wahyu adalah sebuah peng-alam-an manusia atas segala konsep yang dibuatnya itu. Suatu yang trensenden yang jauh diawang-awang yang dicipta dalam angan-angan manusia itu mulai di-alam-i dijadikan suatu yang imanen.
    Jadi Tuhan tidak lagi di atas langit entah dimana namun sungguh2 membumi, hidup dalam diri kita, mewujud dalam tingkah laku “solah bawa” kita
    Maka kita juga sama identik dengan Yesus, Tuhan yang meninggalkan segala kemuliaanNya dan mengambil wujud dalam rupa manusia

    • Mas Tomy Ingkang Kinurmatan
      Memerdekakan diri dari lymbic section, merupakan perjuangan yg tidak ringan. Lymbic sama halnya NURUTI RAHSANING KAREP. Merupakan evolusi tahap primitif di mana manusia tak ubahnya sebagai BINATANG BERTUBUH MANUSIA. Sudah menjadi tugas masing-masing orang untuk memerdekakan diri keluar dari belenggu lymbic atau insting dasar hewani. Menuju kesadaran spiritual tinggi, kesadaran rahsasejati, dimana saat kita benar-benar mengenal jati diri kita dan jati diri bangsa ini. Tak mudah. Perlu sebuah pusaka, yang bernama KALIMA SADHA sebagai senjata pamungkas menuju evolusi kesadaran, menjadi manusia sejati. Panjenengan sebagai salah satu anak bangsa, yang dianugerahi kawaskitan, tidaklah mudah dalam mensyukuri anugerah itu. banyak tantangan dan hambatan serta butuh energi yg tak pernah ada habisnya. Energi itu bernama ketulusan dan kasih sayang kepada sesama makhluk, kepada semesta alam.
      Selama manusia masih dihegemoni lymbic , tidak akan tercapai kesadaran rasasejati, dan belum akan jumeneng “ratu adil” dalam diri kita masing-masing. Apalagi “sistem sosial politik ekonomi yang adil. Jauh panggang dari api.

      salam sejati

  6. [ Sebuah komentar saya dari blog mas Tomyarjunanto =

    http://tomyarjunanto.wordpress.com/2009/10/16/logosentris-dan-stigma-antikris/#comment-1036

    Saya mem-posting disini, khusus saya persembahkan pada mas Sabdalangit yang mencintai dunia spiritualitas, yang akhir2 ini rajin berkarya di berbagai tempat, berdiskusi mengenai hal2 spiritual.
    Dear All , saudara-saudari yang terkasih 😉 ]

    @ Mas Suprayitno ,

    Mas Suprayitno berkata :

    tapi sesungguhnya yang aku maksudkan adalah, cara kita mendekati ke Allohan/Ketuhanan menggunakan pendekatan yang lebih rasional ketimbang mistik.

    Sebab tuhan itu bagiku hanyalah masalah semiotis, nah supaya gathuk ya harus di komparasikan dengan kenyatan-kenyataan yang lebih terukur.

    Saya selama beberapa bulan ini telah cukup banyak membaca komentar2 dari mas Suprayitno terutama di blog mas Tomy ini dan blog saya sendiri.

    Sesungguhnya, ada hal yang saya setujui dari pendapat mas Prayit. Juga, terkait dengan artikel mas Tomy mengenai “logosentris” ini.

    Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan, Tanah Terjanji, Surga dll. Logos menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan & diperebutkan.

    Benang-merahnya adalah, manusia dogmatis umumnya tidak berangkat dari “ketidaktahuan”, dari “emptiness” dari “pure-mind”… , tetapi berangkat dari “iman” terhadap ajaran agama.. ,

    Bila berangkat dari “iman” atas ajaran agama, maka dia tidak pernah menemukan kesejatian. Tepat seperti sepenggal kalimat mas Tomy yang ini : ” Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan…dst.”

    Yang semula hendak dicari adalah, kesejatian, mengenai alam-semesta, diri ini, kehidupan, tujuan-hidup dan lain2 sebagainya. Namun, karena sudah berangkat dari “iman” , maka ia tidak akan pernah menemukan kesejatian yang ia cari2 tersebut, sebab dalam pikirannya telah terinduksi, bahwa kesejatian itu adalah “Tuhan” seperti yang dikonsepsikan oleh ajaran2 kepercayaan dan agama yang diajarkan turun-temurun dan diindoktrinasikan kedalam cetak-biru batinnya.

    Bila sudah begini, maka sudah tidak diperlukan lagi pencarian, karena mencari seperti apapun, yang ketemu di depan mukanya adalah “LOGO” yang sudah disuntikkan kedalam segenap pikirannya, baik dalam alam-sadar maupun bawah-sadar.

    Yang lebih parah lagi, bila Tuhan itu diberi “nama” khusus sesuai ajaran yang dianutnya, maka akhirnya seperti yang banyak terjadi di sekitar kita, pemaksaan keyakinan/kepercayaan.

    Dan, kebenaran pun menjadi kabur, karena apa-apa yang seharusnya hanyalah ranah “kepercayaan” digeneralisasi sebagai “kebenaran” ; padahal antara (sekedar) “kepercayaan” dengan “kebenaran” ( yang-sejati ), itu adalah dua hal yang jauh berbeda.

    MEMAHAMI BENCANA ALAM

    Banyak pemeluk2 agama / ajaran tertentu mengexploitasi penderitaan, kegagalan, dan berbagai frustasi yang dialami oleh ummat manusia untuk kepentingan agamanya.

    Semisal, bila di daerah tertentu sebagian besar penduduknya mengalami kesusahan, tertimpa musibah, maka akan diberi stempel seturut perintah ego-nya, “Itu karena penduduk wilayah itu tidak mengenal Tuhan “ABCDE”.. , coba kalau mereka semua mengenal Tuhan “ABCDE”, pasti nasibnya akan berbeda. Maka dari itu, sadarlah dan bertaubatlah, kembalilah kepada Gusti “ABCDE” yang ESA dan Maha-Kuasa!… dst.”

    Contoh yang nyata adalah, peristiwa bencana-alam yang datang bertubi-tubi.

    Karena peristiwa itu, lalu muncul statement2 tendensius dari orang2 yang menyebut dirinya “spiritualis” , “pejalan-spiritual”. Bahkan, ini tidak hanya muncul dari mulut satu orang saja, tapi banyak orang di negara ini termasuk hingga lembaga agamanya ( Majelis Agama tersebut ) ikut memberikan statement senada. Statement itu kurang-lebih berbunyi demikian :

    Bencana ini semua terjadi karena adalah kehendak “Tuhan” ( ia menyebut nama Tuhannya spesifik sesuai agamanya ) . Ini pertanda bagi kita semua supaya hendaknya sadar dan kembali kepada sebenar-benar ajaran ke-ESA-an “Tuhan” ( kembali ia menyebut nama “Tuhan”-nya dengan spesifik sesuai dalam agamanya dengan berbagai terminologi agamanya ). Agama yang mengajarkan sebenar-benar ke-ESA-an “Tuhan” adalah sebenar-benar petunjuk sejati, dan selama ini masyarakat Indonesia telah melupakan … dst. (dengan banyak menyebutkan istilah2 / kosakata2 agamanya yang bersifat tendensius / “mengarahkan” )

    ( Padahal, bila masalahnya adalah mengenai kembali pada “Tuhan” yang disebutkannya tersebut, maka masalah akan menjadi rumit ketika bilamana mayoritas korbannya dan wilayah tempat terjadinya itu, adalah orang2 dan wilayah yang menganut kepercayaan yang ia seru2kan untuk kembali dipeluk dengan teguh tersebut. Coba, bagaimana bila yang terjadi adalah demikian, apakah tidak menjadi hal yang me-“wirang”2-kan ( mempermalukan ) diri sendiri ?

    Dan, bila sekalipun permasalahannya adalah mengenai “MORALITAS” yang dianggapnya telah “bejad”, maka… serukanlah saja hal2 mengenai perbaikan moralitas tanpa harus membawa2 nama “Tuhan” dan agamanya. Toh, belum tentu dengan meyakini “Tuhan” sebagaimana diseru2kan itu seseorang menjadi ber-moral luhur, sementara banyak pula manusia2 ber-MORAL “sempurna” tetapi tidak meyakini Tuhan dan agama yang dia seru2kan dan bahkan tidak pernah menjadi korban bencana alam tersebut… Bagaimana bila faktanya demikian ? )

    Yang disayangkan adalah, tanpa disadari, orang2 dan sekelompok orang dalam lembaga agama yang merasa dirinya “spiritualis” tersebut, telah mengexploitasi penderitaan yang dialami oleh masyarakat demi pembenaran atas ajaran agamanya sendiri, ditambah lagi, ia telah “menimpakan-tangga” terhadap orang-orang yang sudah “terjatuh” tersebut ( sudah jatuh tertimpa tangga pula ) dengan menjatuhkan penghakiman bahwa mereka telah bersalah karena telah melupakan agama ( tentu saja yang dimaksud adalah agama yang dianut oleh si pengucap tersebut , tampak jelas pada statementnya yang tendensius tersebut ).

    Dan, kalau kita mau jujur, inilah contoh2 orang yang batinnya telah terpenjara dengan “konsepsi” ; atau istilah mas Tomy : LOGOSENTRIS

    Banyak orang2 menyebut2 “Tuhan” – bahkan kemudian lengkap dengan “nama”-nya spesifik sesuai ajaran agamanya – dalam rangka berkomentar akan sesuatu kejadian. Tentunya, tak dapat dihindari, ucapan2nya menjadi “terbingkai” untuk mengarahkan pembaca supaya “membenarkan” ajaran agamanya. Dan, inilah yang tanpa disadari telah dilakukan oleh banyak manusia. 😉

    LALU HARUS BAGAIMANA ?

    Menurut saya ( tanpa harus disepakati, karena tidak memaksakan pendapat juga ; ) Dalam menanggapi sesuatu hal, tidak perlu membawa-bawa nama “Tuhan”. Karena, bahkan apakah si pengucap yang membawa2 nama “Tuhan” itu sendiri telah benar2 menyaksikan oleh dirinya sendiri, bahwa konsepsi Tuhan ( yang bernama “ABCDE” atau pun “FGHIJ” atau nama yang lain2nya ) seperti yang ia sebut2kan itu, benar2 merupakan sosok “pribadi” yang “berkuasa” atas alam-semesta seisinya dan yang telah “menciptakan” segala sesuatu ? Bila telah meyaksikan bahwa ia memang “berkuasa” dan “pencipta”, bagaimana kisah penciptaannya itu berlangsung sesuai pengalaman spiritual diri sendiri tersebut ? Seberapa “berkuasa”-nya Tuhan konsepsi-nya itu ? Dan jika memang ada sosok “pribadi” pencipta itu, seperti apakah dia, tinggal dimana, ? dan lain-lain sebagainya, dan lain2 sebagainya.

    Inilah, bila tidak berhati-hati, maka orang akan terjebak dalam “logosentris” seperti yang mas Tomy maksudkan :

    Alih-alih menemukan kesejatian diri ia malah terperangkap oleh penanda seperti Tuhan…dst.

    “TUHAN” konsepsi, , muncul atas desakan psikologis dan pencarian manusia atas kesejatian hidup dan kehidupan ; lantas, karena ke-tidak berdaya-annya, muncullah konsepsi “Tuhan” sebagai “hal-ikhwal”, sebagai “penguasa”, sebagai “pencipta”.

    Ditambah runyam lagi, bila ada seorang tokoh berpengaruh dalam sejarah hidup manusia, yang melalui pencariannya lalu bertemu dengan sesosok “pribadi” non-manusia tertentu, yang “ghaib”, dan kemudian mengklaim diri dengan menyatakan, “Aku adalah Tuhan, Pencipta, Penguasa, Pengendali dari semua, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada…dst.” , lantas seorang tokoh berpengaruh yang mengalami hal itu mempercayai pernyataan2 pribadi non-manusia yang “ghaib” tersebut dan kemudian mewartakannya pada orang-orang disekitarnya dan orang2 menjadi mempercayainya, maka, “Tuhan-konsepsi” ini kemudian menjadi “CREDO” ; dogma yang tidak boleh dibantah dan menyebar luas dalam masyarakat , yang akhirnya menjadi sumber malapetaka dan bencana-spiritual, termasuk ekses2 peperangan fisik, pertumpahan2 darah, dan lain2 sebagainya.

    Padahal, tokoh berpengaruh yang mengalami hal itu , belum tentu juga telah menyelidiki hingga tuntas, “benarkah sesosok “pribadi” yang memberikan “wahyu”2 tertentu itu adalah benar2 yang berkuasa atas alam-semesta dan semua makhluk ? Benarkah ia memang pencipta semua makhluk dan alam-semesta ? Apakah benar, bahwa alam-semesta ini diciptakan oleh sesosok pribadi tertentu dan Ia adalah yang berkuasa atas semua makhluk dan alam semesta ? Pertanyaan2 yang menuntut pengungkapan “KEBENARAN-SEJATI” seperti itu, belum tentu telah benar2 terjawab dengan tuntas.

    Maka, sejauh manusia terhenti pada konsepsi yang ditawarkan ini, hingga disitu sajalah pencapaian spiritual / “pencerahan”-nya.

    Sebatas kisah2 “penciptaan” yang diceritakan dalam kitab2 agama, sebatas pada pengakuan bahwa hal2 yang tidak dapat ia jangkau semuanya adalah wilayah “Tuhan” yang telah dibingkai dalam konsepsi2 tertentu tersebut.

    MEMECAHKAN BELENGGU SPIRITUAL

    Konsepsi2 dan “logo”-sentris inilah yang sesungguhnya telah membelenggu kemampuan manusia yang sesungguhnya dahsyat luar-biasa untuk memahami alam-semesta seisinya. Dengan berpedoman pada bingkai “logosentris” dalam kemasan “CREDO ( dogma yang tidak boleh dibantah, hanya di”iya”kan saja ) , maka, “puncak-spiritual” / “pencerahan” yang seharusnya bisa diraih manusia, menjadi “TER-KEBIRI” ; bagaikan seorang kasim yang dipotong alat-vitalnya.

    Apakah kita semua hendak meneruskan pola2 “pemenjaraan-spiritual” yang seperti ini ?

    Memang, “kebebasan-pencarian-spiritual” seperti ini susah dipahami. Dan, justru inilah yang seringkali menimbulkan salah-paham antara beberapa “pejalan-spiritual” yang bertipikal bebas dan radikal ( radix = akar ; radikal disini saya maksud mencari jawaban atas kebenaran sejati hingga tuntas sampai ke akar2nya ) sebagaimana saya maksud tersebut dengan ummat2 agama tertentu yang berpegangan pada “iman” dan “dogma”.

    Dan, inilah yang seringkali membuat orang salah-paham dengan pola-pola saya pribadi ; dimana saya memilih untuk membuktikan segala sesuatu oleh diri-sendiri, akan tetapi banyak orang2 sebagai lawan-bicara telah mula2 berpegangan pada “iman” ajaran tertentu, seperti misal “iman” terhadap “Tuhan-Pencipta”.

    PERILAKU PERNUJUMAN

    Banyak pula, kemudian orang2 yang telah berpegangan pada “iman”, ketika berjalan di dalam perjalanan spiritualnya mendapatkan “vision” atau penglihatan2 tertentu akan apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi, lalu dikait2kan bahwa itu petunjuk dari “Tuhan”-nya. Lalu menceritakan kesana-kemari pada orang2 lain.

    Apakah fungsi dan guna-nya ?

    Sementara, banyak pula orang2 yang mencapai tataran spiritual tertentu, yang juga mampu melihat kesejatian, mengenai apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi justru tidak bercerita kesana-kemari tentang apa yang dilihatnya, tetapi lebih memilih untuk “menawarkan-solusi” berupa perbaikan2 kualitas diri dengan tanpa menceritakan pengalaman spiritualnya , sebab ia mengetahui, bahwa apa yang dialaminya sesungguhnya adalah hal yang biasa dan tidak istimewa.

    Hal seperti ini juga sering menjadi salah-paham. Orang2 yang berpegang pada “iman” tersebut diatas, yang merasa telah diwahyui oleh “Tuhan”-nya , lantas men-cap orang yang berikutnya, yang memilih lebih giat menawarkan solusi dengan ajaran2 kebajikan dan moralitas, sebagai orang2 yang “TEORITIS”, tanpa pernah mengalami suatu pengalaman spiritual yang “ghaib”. Padahal, apakah seseorang yang mengalami pengalaman spiritual yang “luar-biasa” sekalipun harus diwartakan kesana-kemari ?

    AKHIR KATA

    Sampai pada kalimat terakhir. Bahwa, “logosentris” dan “Tuhan-Konsepsi” adalah merupakan “BELENGGU-SPIRITUAL” terkuat dan terbesar dalam hidup manusia.

    Bila memang hendak merealisasi “Pencerahan-Sejati”, seseorang harus berani memecahkan belenggu ini ( termasuk dengan berani meninggalkan dogma yang paling mendasar : dogma tentang adanya “Tuhan-Pencipta” ), keluar dari penjara-spiritual yang dibuatnya sendiri ini. Kemudian, melangkah dan menyelami kehidupan tanpa batas, alam-semesta yang tak terkira luasnya dan tak terkira usianya ini.. dengan begitu, kebenaran-sejati akan benar2 bisa kita raih, bisa kita dapatkan , bukan “kebenaran” konsepsi yang diajarkan turun-temurun.

    Semoga Bermanfaat. 😉

    May All Beings b Happy and Well 😉

    Semoga Anda dan Kita Semua Selamat Sejahtera 😉

    Ratana Kumaro.

  7. Permisi ki Sabdo Langit
    Mohon maaf semuanyah salam kenal buat para nara sumber maupun para pembaca sumua.
    Sambungan

    Hidup julang sebatang kara
    Pendidikan tidak punya
    Amal ibadah sekaba kaba
    Entek anu Alloh kejumpa

    Qur’an hadis kias ijma
    Hanya itu padoman taqwa
    Sampai Alloh ketemu juga
    Tapi julang ketuduh gila

    Begitulah cerita dunya
    Dalam soal iman taqwa
    Alim ulama cemburu buta
    Mitnah tidak pernah rumasa

    Untungnyah Alloh maha bisa
    Nulung julang walau gila
    Dateng sohib satu duwa
    Mereka iklas beri harta

    Semoga Alloh selalu bela
    Pada sohib yang setia
    Dunia berkah dan bahagia
    Di akherat masuk sorga

    Semoga teman suku bangsa
    Bila betul telah membaca
    Sabdo langit punya bicara
    Jadi kajian sekujur jiwa

    Kalau julang mah sudah gila
    Sampai juga anak keluarga
    Kompak ama banyak warga
    Kaya ulama ngatain gila

    Namun tida tiep ulama
    Masih banyak alim ulama
    Aji baca uji dan tanya
    Rendah hati iklas bertanya

    Agama bukan kadar cerita
    Simbol itu tida berguna
    Tapi ngaji mengkaji jiwa
    Sampai Alloh bisa kejumpa

    Wujud Alloh montong di tanya
    Tapi iklas yakin percaya
    Islam iman ihsan agama
    Husu taqwa Alloh kejumpa

    Aparatur pemerintah
    Jika mereka sadar pangkatnyah
    Pasti hormat menghargainyah
    Pada manusia insan kamilnyah

    Insan kamil horikul adah
    Ia istirahat ibadah
    Alloh izinkan apa maonyah
    Tapi hidupnyah semalah susah

    Memang Alloh ituh sipatnyah
    Alloh raja julukannyah
    Tapi melarat ama duwitnyah
    Alloh raja paling bugegnyah

    Manusia pakar duwitnyah
    Terutama pemerintah
    Alloh juga ampe kalah
    Bisa jadi Alloh kebantah

    Amanat Alloh lihat sajah
    Sawah ladang jadi rumah
    Pepohonan abis semuwah
    Bumi gundul Allohnya marah

    Manusia gundul gede anunyah
    Bumi gundul semalah lemah
    Azab bahla tentu sajah
    Melanda dunya seluruhnyah

    Jika manusia coba sadarlah
    Pancasila coba kajilah
    Lambat laun amalkanlah
    Insha Alloh duniya berkah

    Sabdo langit serta jamaah
    Jangan segan di solusinyah
    Julang ini sudah rebah
    Semuwah orang pada ogah

    Semuwah tida semuwahnyah
    Epro kontra itulah rohmah
    Jika sama bertuhannyah
    Apah alasan amanat ogah

    Hasud musrik dengki serakah
    Montong nuduh montong mitnah
    Tapi rumasa sadar dirinyah
    Begitulah Alloh amanah.

  8. Matur nuwun Sedherek Wredha kula yang dengan ketulusan telah berbagi nutrisi pencerahannya
    HAYWA SAMAR DUR SUKERING KAMURKAN
    MRIH DU KAMARDIKAN
    BAYA SIRA HARSA MARDIKA

    Manusia memang harus dimerdekakan dari belenggu spiritual, sebab jika memang jujur kepada diri sendiri jujur kepada motivasi yang tersembunyi dalam diri, manusia harus mengakui adanya hasrat yang butuh pemuasan.
    Manusia adalah makhluk hasrati.
    Bila selimut logo disingkap, semua bermuara pada pemuasan hasrat manusia. Bahkan konsep tentang surgapun adalah puncak dari dambaan pemuasan hasrat tersebut.
    Hal-hal yang mengatasnamakan Tuhan hanyalah lapisan atas untuk menutupi hidupnya yang hasrati.meminjam istilah Mas Sabdalangit ‘Lymbic Section’.
    Dalam banyak konteks, keduanya *hasrat manusia dan kedok penutup seperti Tuhan* saling bertentangan.
    Hasrat yang ditutupi itu akhirnya menampakkan diri sebagai bayangan, yang disebut Mas Prayit ‘split personality’ atau kemunafikan.

    Ingsun Tohjalining Dzat Kang Maha Suci Kang Amurba Amisesa
    Kang Kuwasa angandika Kun FayaKun
    Dadya Sakciptaningsun
    Ana Saksedyaningsun
    Teka sakersaningsun
    Metu Saka Kodaratingsun

    Manusia harus dimerdekakan dalam melihat dirinya dengan sejujurnya, mengenali JATI DIRI dan untuk menJADI DIRI. Karena manusia hidup untuk MENJADI & kegagalannya karena terbelenggu oleh persepsi & konsepsi yang secara cultural didoktrinasi kepadanya.
    Perjalanan yang didikte oleh peta selalu membawa kekerasan pada ruang, akan tercipta batasan-batasan, perangkap-perangkap & pengkotakan. Dan hidup hanya menjadi arena kompetisi yang luas mencari kebenaran*pembenaran*.
    Sedang kebenaran hanyalah ekspresi dari individu atau kelompok social atas kehendaknya untuk berkuasa, yang jaminan atas klaim kebenarannya itu tak lebih dari nilai subyektivitas individu atau kelompok social tersebut dalam membenarkan status quo.
    Terjadilah eksploitasi manusia atas manusia dalam nama ‘kebenaran’
    Manusia harus pula dimerdekakan dari pengkotakan tsb, dimerdekakan dari paradigma oposisi biner, benar dan salah untuk berani merayakan kemungkinan yang lain.
    Kemungkinan yang lain, kebernilaian hidup dari perjalanannya sendiri dalam meyelami kehidupan tanpa batas.
    Maka kualitas hidup manusia terletak pada ‘pembuatan keputusan’ dalam hidupnya bukan sekedar mencomot & mengambil apa yang sepertinya telah dibuatkan untuknya. Manusialah yang amurba amisesa hidupnya
    ‘Aku seorang Kafir’ bisa jadi hanya sekedar bergenit-genit saja namun juga bisa merupakan sebuah pernyataan dari pembuatan keputusan dalam memaknai hidup
    Tiada nilai mutlak berasal dari Tuhan, manusia sendiri yang harus bertanggung jawab atas nilai & kebernilaian hidupnya.

  9. permisi semua…..coment pencerahannya pada high end cemua hingga susah nyari endingnya…he he antara yg “true end” ato “blunder end” jadi ga keliatan batasnya…..bisa2 malah jd enteléhét niech….mungkin gak ya utk mengukur level spiritualitas seseorg dg org laen musti “ditarungin” ?! stidaknya sbg patokan awal utk pemula dlm mengembangkan spiritualitasnya….bukankah kita bertemu diblog mas sabda juga mungkin bisa dikategorikan logo sentris ….begitu juga alam dan seisinya…? Jangan2 kita juga bagian dari logo sentris tsb? Dapatkah kita berdiri sendiri jikalau kita jg awalnya juga dr yg laen yg mungkin juga logo sentris….silakan kembangkan akal budi otak kita se kembang2 nya se maksimal mungkin walaupun batas maksimal mungkin juga blm kita ketahui…..ah mbuh …langsung aja ke ki sabda…gimana ki ?!

  10. Permisi ikutan ngrusuhi….hehehe..
    Nuwun sewu Ki Sabda.dan sesepuh2 yang lain..
    Saya setuju sekali dengan tanggapan @Safinah: .bukankah kita bertemu diblog mas sabda juga mungkin bisa dikategorikan logo sentris ….begitu juga alam dan seisinya…? Jangan2 kita juga bagian dari logo sentris tsb?
    ——————————
    banyak orang yang mengaku spiritualis sejati masih menggunakan logo-logosentris, sementara yang lain mengkritik kelompok logosentris ini, dengan mengajak untuk memerdekakan DIRI dan menemukan JATIDIRI, meninggalkan Teori Pendahulu2 kita yang menurut “BERITA” telah mencapai Derajat Kamulyan. Ada juga yang mengandalkan Kemampuan diri untuk menemukan Kebenaran sejati.

    Kalau kita mau jujur kelompok yang menggunakan kemampuan diri, Menggunakan Akal Budi, menggunakan Logosentris atau mengkritik LogoSentris , semua masih taraf LOGOSENTRIS, bahkan JATI DIRI-pun masih bagian dari LOGOSENTRIS, LALU….??

    Ya kita harus keluar dari itu semua kalau memang tidak mau menjadi bagian dari LOGOSENTRIS, Bagian dari Simbol-Simbol yang ada di ALAM SEMESTA RAYA yang merupakan BUKTI AKAN KEBENARAN ADANYA TUHAN…….SEMUA INI adalah mimpi-mimpi Tidur kita….Sebelum kita bangun dari Tidur,bangun dari mimpi dan Terjaga, SADAR kita belumlah keluar dari itu semua..

    Salam asah asih asuh
    Salam sihkatresnan
    nuwun

  11. @ Safinah & Lor Muria

    Dengan apakah kita mampu menyatakan harumnya mawar?
    Dengan apakah ku mampu nyatakan perasaan cintaku ini padamu kekasih?

    😉

    Maka penanda pun lahir : kata, teks, bahasa, symbol.
    Semuanya ada dalam pencarian bukan nilai akhir yang mutlak
    Hanya penanda akan suatu yang belum hadir
    Sedang kehadiran itu sendiri selalu kontekstual
    Yang harus dibaca ulang
    Begitu juga MANUSIA ini selayaknya teks pula symbol
    Ada yang retak, selalu dalam pencariannya
    Maka dalam kisah di Timur Tengah
    MANUSIA diperintahkan untuk IQRO’
    Bacalah selalu
    pembacaan akan Hidup, pembacaan yang melampaui teks, pembacaan dengan penekanan pada gairah total akan Hidup sebagai ‘Kebenaran Keseluruhan’ yang tak akan mungkin dibahasakan, melampaui pengetahuan & tak terjemahkan.
    Membaca… adalah suatu religiositas hidup *religius berasal dari relegere (membaca ulang) & religare (menyambung kembali)* Religiositas hidup yang selalu berbenah diri, penyatuan hal yang terpisah secara terus-menerus.
    Tiada pernah tercapai finalitas definisi, suatu ’Kebenaran Tunggal’ yang terlepas dari hadirnya ’Yang Lain’.
    Bacalah selalu karena manusia adalah makhluk subjektif yang penuh kemajemukan. Akan selalu tersingkap ’Kebenaran Yang Lain’. Dan dari situlah, melalui perjumpaan dengan ’Yang Lain’, manusia yang imanen bisa mentransendensi dirinya, melebur dalam ketidakterbatasan.

    • Mas Tomy dkk Yth
      Dari wacana tukar pendapat di atas kiranya perlu saya sedikit perjelas ttg maksud logosentris dan simbol, sebab sepertinya ada mis-understand di antara para sedulur yg lain. Menurut pengamatan saya pribadi, simbol diwujudkan secara real sebagai upaya penyimpulan dan pembahasaan. Simbol berupa kiasan akan suatu hakikat agar mudah dipahami orang per orang. Simbol diwujudkan melalui teknik penyederhanaan makna atau generalisir. Hasil generalisir dilambangkan secara visual ataupun secara riil. Oleh sebab itu, Logo-sentrisme berarti kebiasaan memaknai simbol hanya dalam batas apa yg tampak secara visual dan level “kulit”, tanpa pendalaman makna esensial (hakekat). Jadi maksud para diskuser sebenarnya sama tujuan dan maksud hanya saja tidak ada kesepadanan dalam pendefinisian logo-sentris. Demikian kira-kira penjelasan yg bisa saya utarakan, semoga dapat mempermudah pemahaman kita semua.

      salam asah asih asuh

  12. SALAM UNTUK KITA SEMUA.

    UNTUK MAS TOMY AYATNNYA MEMANG IQRO’ = BACALAH.
    TAPI JANGAN LUPA SURATNYA AL-ALAQ = SEGUMPAL DARAH
    SARAN AJA NIH, IQRO’/BACALAH YANG DIBACA JANGAN JAUH-JAUH DULU, DARAH YANG ADA DIDALAM MAS TOMY DULU YANG DIBACA.
    SEMOGA BERMANFAAT.

    SALAM UNTUK KITA SEMUA.

  13. matur nuwun sanget Mas/Mbak Bau Tanah sudah mengingatkan
    memang sudah seharusnyalah begitu
    jagad kang gumelar ginambar ing angganira
    mengenal dunia dimulai dari mengenal jati diri
    sepindah malih matur sembah nuwun sanget.

    Salam karaharjan

  14. .......................

    Aku tidak mau membangun tempat2 ibadah,sanggar2 pamujan yg terbuat dari batu,aku tidak ingin bangsaku menjadi bangsa pengemis,pemalas,pengkhayal dan peminta,yg akan kubangun baitullah2 yg hidup dan ditelantarkan dibawah sana,mereka dan kita ga pernah disadari betapa ada artinya,guna dan manfaatnya mereka semua di lahirkan (setidaknya di mataku).

  15. Nyuwun ijin kulo posting (simpen wonten) blog kulo.

    Matur nuwun sanget Ki Sabda

  16. sungguh situs ini sangat membantu kita untuk menambah pengetahuan!

  17. Dan satu hal yang ‘dilupakan’ dalam teori lymbic (insting hewan) mu itu:

    hewan tidaklah memberikan ‘isyarat’ dengan ‘menggeleng-gelengkan kepala’ nya…

    QS. An Najm
    53.23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan ‘bapak-bapak’ kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

    Tolong informasikan kepada Adam as…ada ‘lymbic’ di bumi pengganti ‘khuldi’…

    • puterinya bu lurah

      MAU LARI KEMANA KAU SAYA KEJAR….

      Imam Suyuthi berkata :
      “pada jaman khalifah abbasiyah adalah khalfah bernama al mahdi yang mengejar kemanapun golongan sekte muslim yang sesat..’
      (Tarikhul Khulafa – Imam Suyuthi)

  18. wah…….
    gayeng sak estu……
    meniko kawulo dereng nyadak Ki…….
    nderek maos lan nyuraoske rumiyin….
    salam.

  19. Bhikkhu Dhammaraja

    Namo Buddhaya,

    Terimakasih Sabdo Langit atas tulisannya. Tidak perlu membuat manunggaling kawulo hewan, kawulo gusti itu tidak terganggu, karena tidak ada manusia bertuhankan hewan didunia ini, kalau ada tentu istilahnya pun ada. Sapi misalnya, bukanlah Tuhan bagi umat hindu.

    Presiden yang masalalunya kelam atau cacat maka ia akan beringas dan tidak baik sebagai presiden. seperti pernah eyang nyatakan dulu “kita gak perlu presiden seperti itu”.
    Maka itu, Ratu Adil, sekalipun 40 tahun hidup menderita tapi unsur mesin yang ada pada tubuhnya telah mengubah penderitaan ditubuhnya. Sehingga saat ia berubah gagah, tubuhnya pun seolah terlahirkan kembali.

    Sehingga Ratu Adil tidak punya alasan untuk beringas pada orang karena masalalunya, karena semua sudah diperbaiki bahkan diupgrade oleh mesin-mesin tubuhnya. Ia lahir sebagai kebahagiaan, ia bukan orang yang mau memetik hikmah penderitaan tapi jenis orang yang gak mau menderita. Dengan begitu ia cuma beringas sebagai bentuk respon dalam kampanye perang-perangnya saja kelak.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia,
    YM Bhikkhu Dhammaraja Mahathera, Vihara 10.000.000 Buddha

    • Bhikkhu Dhammaraja

      Teman-teman disini belum tahu, God spot itu dibagian mana menurut kata sabdo langit itu. God spot itu adalah kelenjar pituary, tapi Allah tidak ada disini lho. cuma Shiva. Kalau Allah spot itu letaknya adalah pintu-pintu panca indra, kalau orang itu gak mengizinkan gak bisa masuk Allah.
      Diatas God spot adalagi Dhamma Spot, nah kalau Dhamma Spot ini letaknya ditengah otak, disebut kelenjar pineal.
      Sedangkan Shakti spot letaknya energy sepanjang tulang punggung.

      Demikianlah penjelasan saya tentang letak dari god spot, Dhamma spot, shakti spot, dan Allah spot. untuk menambahkan tulisan eyang sabdo langit.
      Anda boleh “mengoreksi” teori saya ini di alam telepati. Kalau betul akan saya betulkan kelak. Yang penting jangan sok alim seperti “mampir ngombe yuk?” Saya tampar nanti.

  20. Bhikkhu Dhammaraja

    Terakhir yang ingin saya komentari tentang tulisan Sabdo Langit ini adalah bahwa saya setuju dengan beliau tentang tidak perlunya mengasah otak kiri dan otak kanan segala. Untuk apa diasah-asah itu.
    Belajar saja terus, kok mikirin “otak kanan gue lagi gimana sekarang.”

  21. siapa yang bakal menjadi pilihan pemilu roh leluhur dialah disebut negarawan sejati… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: