PANTANGAN DAN RINTANGAN DALAM MENJALANI LAKU PRIHATIN

Melengkapi tulisan saya terdahulu, dengan judul “FAQ : Membangun Laku Prihatin yang Pas dan Pener”. Tujuan dari penulisan ini sebagai harapan saya siapa tahu bermanfaat bagi siapapun dan seluruh sedulurku yang sering mampir di sini khususnya yang saat ini sedang berjuang  meraih kesejahteraan bagi keluarganya. Ada berbagai gejala yang perlu diperhatikan dan penting diketahui agar supaya siapapun berhasil dalam menjalani laku prihatin yang pas dan pener. Jika gejala-gejala di bawah ini kurang diperhatikan akan menjadi halangan atau rintangan dalam meraih kesuksesan dan menggapai anugrah yang akan datang pada diri anda. Tekad bulat, niat, harapan, serta kemantaban hati kita akan melalui semacam “uji nyali”. Jika lolos, anugrah akan kita dapatkan. Jika tidak lolos, berarti kita batal mendapat anugrah yang sudah disiapkan. Untuk itu, berbagai macam gejala berikut ini perlu saya ungkapkan dengan harapan dapat menambah dan menumbuhkan sikap eling dan waspada bagi seluruh sedulurku yang sedang menjalani “laku prihatin”.

SAAT HARI WETON TIBA

Dalam rentang waktu selapan hari (35 hari) siklus weton akan berlangsung sekali. Artinya, jika weton anda Senin Pon, maka weton Senin Pon berikutnya akan datang lagi setelah putaran waktu 35 hari. Ada beberapa gejala paling umum saat hari weton kita tiba. Gejala-gejala tersebut antara lain :

  1. Perasaan gundah, resah, dan perasaan tidak enak seperti ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tidak mengetahui sesuatu apa yang sedang tidak beres.
  2. Tubuh terasa capai, merasa lelah, lemas, jika bekerja mudah lelah, otot-otot terasa ngilu, pegal-pegal dan rasa tak enak badan yang tidak karuan dirasakan. Suhu badan agak naik, bahkan badan terasa seperti akan terserang flu atau demam.

Setelah hari weton berlalu semua gejala di atas akan sirna dengan sendirinya. Bagi yang sudah memahami gejala tersebut, biasanya lantas teringat jika hari tersebut adalah hari wetonnya. Pertanyaannya, kenapa gejala tersebut muncul saat weton anda tiba ? Hal itu  disebabkan oleh banyaknya sengkolo dan sukerto yang ada dalam diri kita. Sementara itu sudah lama sekali tidak dilakukan bancakan weton. Bagi yang sering melakukan bancakan weton (paling tidak setahun 1 kali), gejala saat hari weton tersebut tidak lagi terasa.

SAAT BERZIARAH

Ziarah bukan saja bertujuan untuk mendoakan dan merawat makam para leluhur yang kita kunjungi. Lebih dari itu, kedatangan kita ke makam leluhur tak ubahnya kita menghadap kepada sesepuh yang kita hormati untuk menghaturkan sembah bakti kita kepada beliau-beliau yang telah hidup di dalam kehidupan sejati. Serta untuk mendapatkan bimbingan, arahan dan doa restunya. Pergi berziarah seperti halnya kita menuju suatu tempat untuk menjemput anugrah. Bahkan anugrah yang besar, minimal anugrah doa restu dari orang-orang yang sudah pindah dalam kehidupan yang sejati.

Hal-hal Yang Perlu Dihindari

Apabila anda pergi berziarah ke pasarean agung, makam raja-raja besar, makam para  ratugung binatara, atau makam orang-orang yang dianggap suci dan mulia sewaktu hidupnya hendaknya menghindari hal-hal berikut :

  1. Jangan Menunggu-Nunggu. Untuk melakukan ziarah ke makam leluhur yang menurunkan kita, atau para leluhur besar nusantara, biasanya seseorang akan menunggu-nunggu saat mempunyai cukup uang, atau saat waktunya sudah senggang. Nah, apabila anda termasuk di dalamnya, biasanya sangat kecil kemungkinan rencana tersebut akan terlaksana. Apa yang saya lakukan justru kebalikannya. Walaupun uang belum kepegang, serta belum tahu kapan jadwal waktu senggang ke depan. Namun jauh-jauh hari sebelumnya saya tetap berani menentukan kapan jadwal keberangkatan untuk pergi ziarah. Biasanya antara hari Kamis, Jumat, dan Minggu. Beberapa kawan saya anjurkan tips yang sama seperti saya lakukan. Hilangkan sikap ragu-ragu karena alasan tidak cukup uang saku dan belum adanya gambaran kapan ada waktu yang longgar. Dengan keteguhan hati tetapkan saja jadwalnya kapan berangkat. Saat hari H tiba, ternyata apa yang dikhawatirkan semuanya lenyap, justru sebaliknya semua berjalan lancar seperti sudah ada yang mengatur. Menjelang hari H, seperti kebetulan saja, kawan saya mendapatkan uang yang lebih dari cukup dan waktunya juga pas senggang. Jalan untuk berbakti kepada ortu dan para leluhur akan selalu terbuka lebar, kecuali bagi yang dipenuhi oleh keraguan.
  2. Jangan Menunda-Nunda. Saatnya penentuan jadwal kapan akan berangkat ziarah (marak sowan) ke makam leluhur. Selama anda belum berani menentukan hari, tanggal, bulan, tahun, kapan akan pergi berziarah, biasanya rencana tersebut akan sulit terlaksana. Jika anda menyadari betapa penting dan besar sekali manfaat menziarahi pesarean para leluhur kita dan para leluhur tanah Jawa/nusantara. Demikian pula bila dirasakan sudah urgent, jangan ragu dan tunda-tunda lagi keinginan anda. Mantabkan hati, segera tetapkanlah jadwal keberangkatan. Percayalah, kelak jika sudah tiba waktunya semua akan berjalan dengan mudah.
  3. Jangan Urungkan Rencana. Saat menjelang keberangkatan menuju makam atau Pasarean Agung, biasanya ketabahan, tekad bulat, keteguhan hati dan keinginan kuat kita akan diuji. Beberapa peristiwa alam seperti tiba-tiba hujan lebat, petir menyambar, angin terjadi dengan tiba-tiba. Di lain hal, bisa saja terjadi kendala teknis seperti kendaraan yang akan kita gunakan tiba-tiba mogok, kunci kontaknya ketlingsut (hilang karena lupa meletakkannya). Atau human error, misalnya orang yang akan anda ajak atau sudah janjian ikut bareng pergi ziarah, sudah ditunggu lama malah tidak tidak muncul-muncul juga hingga waktunya terbuang percuma untuk menunggu. Apabila anda menghadapi kejadian-kejadian di atas, segeralah konsentrasi untuk maneges,  berkatalah dalam hati nurani anda (kareping rahsa) bahwa anda akan tetap teguh berangkat berziarah (marak sowan) sekarang juga, biarpun ada kendala-kendala seperti di atas. Sebagaimana saya sudah sering mengalaminya. Manakala saya maneges, meneguhkan hati untuk tetap berangkat demi rasa hormat dan menghargai kepada beliau para leluhur, semua kendala di atas seketika dapat teratasi dan segera menemukan jalan keluarnya. Jangan sampai mengurungkan niat anda untuk berziarah hanya karena kendala-kendala tersebut.  Jika anda mengurungkan rencana, berarti anda telah mengingkari janji pada leluhur. Anda menjilat ludah akibatnya cukup fatal buat anda sendiri.
  4. Jangan Berbalik Arah. Misalnya anda sudah menuju ke arah makam tersebut, namun ada yang kelupaan atau ada barang yang tertinggal di rumah, maka anda jangan sekali-kali berputar lalu balik arah. Biarkan barang itu tertinggal. Misalnya, bila anda kelupaan mengambil uang di ATM, tetap saja lanjutkan cari ATM di sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Apabila tidak ketemu juga, bisa pinjam teman, atau saudara yang ikut. Jika tidak ada, gunakan uang seadanya saja yang anda bawa saat itu. Pernah suatu ketika, seorang rekan yang akan melaksanakan proyek besar saya ajak untuk ziarah ke Makan Agung Imogiri. Sebelumnya sudah saya warning tidak melakukan beberapa hal yang menjadi pantangan. Dan saya sarankan untuk berbagi sedekah dengan para abdi dalem dan juru kunci. Namun, saat di jalan menuju makam ia terungat kalau kelupaan tidak menyiapkan uang. Sehingga ia harus putar balik kembali ke arah kota, dan baru menemukan ATM saat masuk di pinggiran kota. Saya sudah memberi peringatan jika hal itu sudah menjadi pertanda dalam bentuk kiasan untuk mengurungkan niat melaksanakan proyek besarnya.  Sebab proyek yang akan ia laksanakan membahayakan keselamatan rekan saya dan keluarganya. Namun ia merasa sudah terlanjur banyak keluar duit. Dan tetap saja akan menjalankan proyeknya, nah..di tengah jalan saat ia membangun proyek tersebut ia masuk dalam “lingkaran setan” koruptor yang tak bisa ia hindari, sehingga akhirnya ia tak bisa mengelak dan ikut dijebloskan ke dalam penjara. Jika rekan saya tidak kelupaan membawa uang, tidak pula berbalik arah, tetap melanjutkan perjalanan sekalipun lupa bawa uang sedekah, saat ia menjalankan proyeknya walau tidak menghasilkan apa-apa namun ia dan keluarganya akan tetap selamat. Hikmah di balik semua itu adalah peringatan agar dalam menjalani kehidupan ini selalu menjaga sikap eling dan waspada.
  5. Jaga Sopan Santun. Boleh jadi banyak orang mengira, makam adalah tempatnya orang yang telah mati. Bagi saya pribadi tidak demikian keadaannya. Justru di situlah tempatnya berkumpul orang-orang yang telah hidup di alam sejati. Ibarat balai, padepokan, pesanggrahan, pepunden, monumen, atau terminal yang menghubungkan antara orang yang masih hidup di dimensi bumi dengan yang sudah hidup di alam kehidupan sejati yang jasadnya dikubur di makam tersebut.  Yang bisa berkumpul kapan mereka mau di pasarean tersebut, hanya orang-orang yang “lolos seleksi” yakni orang yang meraih kamulyan dan kamulyan sejati. Berkali-kali saya mengadakan rencana untuk  marak sowan ke pasarean. Walaupun tidak “woro-woro” terlebih dulu, ternyata leluhur sudah tahu rencana kedatangan kami. Setiba di pasarean tersebut sudah banyak para leluhur yang menanti.   Begitulah yang terjadi. Saya merasakan betapa alam kematian (kehidupan sejati)  ternyata sangat dekat, bahkan lebih dekat dengan orang-orang yang masih hidup di dimensi bumi. Sejak itu saya menyadari saat kita marak sowan berziarah, para leluhur sudah tahu tanpa kita beri tahukan. Dan yang kita temui adalah bukan orang-orang hidup di dimensi bumi yang masih bercampur aduk dengan hawa nafsu, melainkan orang-orang yang sudah hidup di alam yang sudah bersih dari segala macam nafsu duniawi dan ragawi. Apalah artinya diri kita yang masih hidup berlumuran dengan nafsu. Maka jagalah sopan santun, sikap andap asor, jangan kumalungkung, gede rasa, gede ndase, merasa jagoan dan seterusnya. Itulah alasan mengapa saat kita ke makam terutama makam para leluhur besar tidak boleh membawa benda-benda pusaka bentuk apapun, kecuali yang sudah manjing ke dalam raga dan rasa. Tidak boleh mengenakan perhiasan emas dan berlian. Cara berpakaian juga musti sopan. Biasanya tiap makam ada tatacara berpakaian yang berbeda-beda sesuai adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Juru kunci akan memandu dan apabila tidak membawa pakaian adat biasanya sudah ada disediakan pakaian untuk disewa.
  6. Jaga Segala Macam Tutur Kata. Apabila anda marak sowan ke makam para leluhur. Hendaknya menjaga diri agar jangan sampai berkata jorok dan kotor. Jangan berkeluh kesah. Karena melanggar pantangan tersebut sama halnya kita datang dengan sikap melecehkan dan menantang. Akibatnya sangat fatal. Akibat paling ringan, leluhur yang akan memberikan sesuatu buat anda, akan dibatalkan segera. Berkatalah yang baik-baik dan sopan. Sebab apa yang anda ucapkan bisa saja numusi, atau bertuah, apa yang diucap akan terjadi. Celakanya jika apa yang anda ucapkan adalah perkataan yang ditujukan ke orang lain tidak baik bisa berbalik mencelakai diri anda sendiri.  Pernah suatu ketika saya mengantar sedulur dari Jakarta untuk ziarah ke Kotagede Panembahan Senopati. Setibanya di jalan menuju makam, ia berkeluh-kesah merasa kepanasan terik matahari, gerah, haus dan cape. “Aduh cape dan panas banget, repot kalau begini.  Sepulanganya dari makam, ia bener-bener kerepotan mobilnya distarter tak bisa hidup. Sampai  mendatangkan bengkel belum juga berhasil hidup. Akhirnya saya coba maneges apakah gerangan kesalahan orang ini sampai-sampai mobilnya tak bisa hidup. Saya hanya mendengar jawaban  tanpa melihat siapa gerangan yang berucap, ”katanya ingin berbakti kepada para leluhurnya tapi kok kurang ikhlas, tidak mau susah, dan banyak berkeluh-kesah. Seketika itu saya anjurkan ke sedulur tadi untuk memohon maaf kepada para leluhur karena kurang ikhlas dan banyak berkeluh kesah saat marak sowan. Setelah sedulur menghaturkan maaf, mobil saya coba  starter langsung hidup tanpa perlu ada yang diperbaiki.
  7. Ikuti Aturan atau Tatacara Yang Berlaku. Masing-masing pasarean memiliki tatacara dan adat yang berbeda-beda. Usahakan anda mematuhi aturan yang berlaku. Sebab kedatangan anda bukan untuk mencari perkara, melainkan mencari sesuatu yang baik untuk diri anda dan sesama. Jangan meludah dan buang “hajat” sembarangan. Bila anda terpaksa melakukan sesuatu yang sifatnya melanggar aturan, sebelumnya mohon ijin. Misalnya anda ingin sekali mengambil gambar di makam tersebut tetapi tidak untuk tujuan  kepentingan pribadi, mintalah ijin, ucapkan dalam hati. Tapi bila hanya untuk kepentingan pribadi dan komersial, sudah termasuk sikap serakah. Sebab bila anda meraih keuntunganpun hartanya akan mencelakai diri anda sendiri.   Tujuan berziarah jangan sampai keluar dari maksud dan tujuan berziarah itu sendiri, yakni untuk menghormati dan menghaturkan rasa berbakti. Hendaknya urungkan niat anda yang kurang baik misalnya hanya untuk coba-coba dan menjajal ilmu anda.
  8. Bawalah Ubo Rampe Sekedarnya. Bila anda ziarah ke makam leluhur sendiri, atau makam yang tidak ada juru kuncinya, siapkan peralatan kebersihan misalnya sapu, lap, ember air untuk membersihkan makam. Minimal membersihkan batu nisan leluhur yang kita ziarahi. Membawa bunga disesuaikan dengan adat setempat juga lebih bagus. Sebab hal itu mewujudkan rasa kasih sayang, hormat dan sembah bekti kepada para leluhur yang anda datangi. Dan masing-masing bunga memiliki makna tersendiri, mewakili nurani, berupa harapan dan doa yang tak terucapkan. Taburlah bunga dari arah kaki menuju ke arah kepala. Hal ini menjadi simbol untuk pepeling bagi orang yang masih hidup hendaknya meniti hidup dari “bawah ke atas”. Selain itu cara menabur bunga tersebut merupakan wujud doa dan harapan kita agar supaya leluhur mendapatkan tempat kemuliaan yang sejati di alam kelanggengan.
  9. Berbagilah Sedekah. Terutama pada orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk merawat dan menjaga makam tersebut. Jangan sampai anda merasa owel, pelit, tidak ihlas. Karena seberapa besar keikhlasan yang anda berikan akan beresonansi dalam kehidupan anda di masa-masa yang akan datang. Semakin besar anda berbagi, semakin tulus anda memberi, maka kebaikan itu akan menjadi berlipat-lipat kembali pada diri anda sendiri. Tak ada yang sia-sia kebaikan yang anda lakukan dengan tulus. Lihat saja para abdi dalem pasarean agung Imogiri dan Kotagede, serta makam-makam besar lainnya. Mereka walaupun hanya mendapat gaji  Rp. 36.000 / bulan, tetapi hidupnya selalu kecukupan, ayem tentrem, selamat, dan anak turunnya yang ngunduh anugrah keberuntungan. Anak-anak mereka banyak yang menjadi pengusaha sukses, pejabat, dan orang-orang penting di negeri ini. Bahkan apabila kita turut bersedekah kepada para abdi dalem tersebut, maka safa’at dan berkahnya akan sumrambah / mengalir pada diri kita sendiri dan keluarga. Bila anda sedang ada rezeki berlebih alokasikan dana anda untuk menyumbang perawatan atau perbaikan makam. Tak ada yang sia-sia, uang anda tidak akan berkurang justru bertambah melalui pintu-pintu rejeki manapun seiring dengan ketulusan yang anda berikan. Begitulah efek resonansi dari kebaikan yang kita lakukan akan berlaku.
  10. Nyawiji. Nyawiji atau satu tujuan. Terutama apabila anda berencana ziarah ke makam leluhur besar, jangan hanya menjadi ampiran atau sekedar mampir saja. Atau bukan menjadi tujuan utama. Niatkan dan rencanakan untuk marak sowan kepada para leluhur besar. Berangkat dari tempat tinggal anda tidak boleh mampir-mampir kecuali berhubungan dengan acara ziarah misalnya membeli uborampe seperti bunga setaman dst. Atau anda menjemput orang yang turut berziarah di tempat yang sama. Selain urusan yang berkaitan ke makam hendaknya jangan dikerjakan. Sepulang anda dari makam, barulah boleh mampir untuk makan, itupun jika benar-benar merasa lapar. Jika tidak, sebaiknya lanjutkan perjalanan sampai tiba di rumah/tempat di mana anda tinggal. Barulah setelah itu anda pergi untuk acara-acara lainnya. Pernah suatu ketika saya hendak pergi ziarah ke Kotagede. Tetapi saya mampir ke bandara untuk mengantar ortu mau pergi ke Sumbar. Setelah itu baru ke pasarean agung Imogiri. Sampai di depan pintu gerbang, kami serombongan mendapati jalan ditutup dengan portal. Rombongan kami juga tidak melihat satupun abdi dalem yang tampak padahal sebelumnya saya sudah pesan ke juru kunci KPH Soerjonagoro mau ziarah hari itu. Dan sudah diberi tahu jika para abdi dalem sudah menunggu kedatangan rombongan kami di atas (di makam). Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Saat berbalik arah saya mendengar suara yang saya kenal sebelumnya yakni salah satu leluhur besar yang sumare (dimakamkan) di makam tersebut. “kalian pulang saja, para leluhur tidak berkenan menerima kehadiranmu hari ini, lain kali saja datang kemari karena kalian telah lupa melanggar wewaler”.  Saya hanya bisa berkata “nyuwun gunging pangapunten dan sendiko dawuh. Saya kemudian telpon juru kunci katanya masih ditunggu para abdi dalem di atas. Bahkan saya sempat telpon salah satu abdi dalem ternyata memang mereka menunggu bahkan salah satu abdi dalem telah siap sejak pagi hingga saat ini di pintu gerbang menunggu kehadiran kami.  Tapi kami semua seperti ditutup pandanganya, begitu pula para abdi dalem.

KONSISTEN DAN BERPOSITIF THINKING

Pada saat anda menjalani “laku prihatin” banyal kendala yang menjadi batu ujian apakah hati anda tetap teguh atau mudah patah arang. Rasa bosan dan jenuh kadang menghinggapi perasaan manakala anda menunggu keajaiban/mukjizat yang belum juga muncul seperti yang anda bayangkan. Walau tidak selalu, namun terkadang anda justru merasakan kehidupan yang anda jalani terasa semakin berat. Untuk itu saya hanya bisa menyampaikan pengalaman sendiri dengan harapan siapa tahu bermanfaat buat para sahabat yang saat ini tengah menjalani laku prihatin.

  1. Bosan dan Jenuh. Perasaan ini biasa menghinggapi orang-orang yang tengah menjalani laku prihatin dalam rentang waktu yang cukup lama namun belum menampakkan hasil yang diharapkan. Jangan keburu berburuk sangka. Sebab terkadang kita salah menafsirkan semua itu. Tidak setiap orang bisa nggayuh kawicaksanane Gusti. Harapan yang kita sangka baik belum tentu baik untuk diri kita. Sebaliknya, keadaan yang seolah tampak kurang baik, namun akan berujung menjadi sesuatu yang indah pada akhirnya. Lebih indah daripada yang kita harapkan sebelumnya. Untuk itu, sikap yang kita perlukan adalah lebih eling dan waspada, lakukan saja tapa ngeli, sabar, tulus, dan selalu berprasangka baik.  Jika sudah sabar hendaknya lebih sabar lagi. Jika sudah tulus hendaknya lebih tulus lagi. Sebab semakin dekat anugrah agung yang kita harapkan, godaannya akan semakin berat pula. Berupa rasa bosan, habis uang, jenuh, lupa, dan pupus harapan.  Semakin dekat anugrah untuk kita, semakin berat juga jalan yang harus dilalui.
  2. Hidup Terasa Semakin Berat. Lebih hati-hatilah apabila setelah sekian lama anda  menjalani “laku prihatin” telah merasakan hidup yang semakin berat. Jangan sampai banyak menggerutu, berkeluh kesah, marah-marah. Rumus Tuhan sama halnya kodrat alam. Manakala akan terjadi rob maupun tsunami, lautpun pasti surut terlebih dulu. Saat musim hujan mulai tiba, sumur-sumur justru surut airnya bahkan mengering. Tapi sebulan kemudian airnya kembali penuh bahkan menjadi sangat berlimpah ruah. Ibarat anda akan melompat jauh ke depan, pasti anda memerlukan ancang-ancang atau kaki anda mundur beberapa langkah ke belakang setelah itu kencang berlari untuk mendapatkan loncatan yang jauh ke depan. Saat anda menaiki tangga, pasti terasa berat sekali. Namun saat anda meraih puncaknya, hati menjadi lega, gembira, perasaan puas yang mampu menghilangkan segala keletihan-keletihan. Itu artinya, pada saat anda akan mengalami loncatan menggapai anugrah dan kemuliaan hidup yang tinggi pasti butuh pengorbanan yang tidak ringan. Sebab tak ada anugrah yang gratis. Semua perlu tebusan berupa keprihatinan termasuk di dalamnya lara-lapa, lara-wirang, tapa-brata, tapa-ngrame dan harus disertai pula dengan tapa-ngeli. Semakin besar anugrah, semakin besar pula tebusannya. Penderitaan, keprihatinan, dipermalukan orang lain, sikap menahan diri dan mawas diri, giat dalam membantu dan menolong sesama, semua itu bagaikan anda mengumpulkan modal yang akan digunakan untuk menebus anugrah agung.
  3. Jangan Berkeluh-Kesah. Pada saat anda sedang “mengumpulkan modal”, sedang mengalami “ancang-ancang” yang anda rasakan begitu berat, hendaknya lebih berhati-hati agar supaya jangan sampai suka menggerutu atau sikap tidak tulus menjalani keprihatinan tersebut. Keluh kesah, menggerutu hanya akan membatalkan anugrah yang sudah dekat menunggu anda.  Sebaliknya, bangunlah sikap bisa-o rumangsa, jangan mentang-mentang rumangsa bisa.

Beberapa Contoh Kejadian Bermakna

Berikut ini kami kemukakan beberapa pengalaman yang kebetulan saya alami sendiri saat berziarah dan apa yang dialami oleh orang-orang terdekat saya. Saya yakin di antara anda semua para pembaca yang budiman pasti memiliki pengalaman-pengalaman yang hampir senada. Dengan sangat kiranya berkenan memaparkan pengalaman panjenengan di sini dengan harapan dapat menambah referensi bagi sahabat-sahabat yang lainnya.

  1. Kebiasaan di antara peziarah adalah mengambil bunga kanthil dan telasih di atas batu nisan (khususnya di pasarean Agung Kota Gede dan Imogiri). Bunga kanthil bermakna mengikat rasa selalu terhubung dengan para leluhur. Diharapkan dapat mencontoh perilaku baik para leluhur semasa hidupnya. Bunga kanthil berarti tansah kumanthil. Yang kumanthil adalah hatinya. Sukur-sukur berkahnya (safa’atnya) dapat “kanthil” (mengikuti) sumrambah mengalir ke dalam jiwa raga si peziarah. Bunga Telasih bermakna welas asih, dengan harapan dapat kawelasan atau belas kasih dari Gusti Hyang Manon. Belas kasih pula dari para leluhur yang akan njangkung dan njampangi setiap langkah kita agar tidak salah langkah menjalani proses kehidupan yang sangat pelik ini. Apabila kita beruntung, tidak mengambilpun akan mendapatkannya. Biasanya ketahuan setelah sampai di rumah, di rambut, saku, atau lipatan baju ada sebuah bunga kanthil yang benar-benar kantil, menempel di badan. Bunga kanthil dan telasih sebaiknya disimpan di laci kantor, di lemari baju, atau di dalam tas dan dompet. Biarkan sampai kering dengan sendirinya. Banyak kejadian di makam keramat saat berziarah yang bisa menjadi perlambang dan merupakan jawaban bagi peziarah. Misalnya beberapa waktu lalu saat saya ziarah ke Gusti Amangkurat Amral, ada seekor tikus pithi (tikus rumah yang bersih dan ukurannya kecil sekali) berlari mengelilingi tiang di dalam makam. Tikus itu lalu kembali ke hadapan saya dan menaiki batu nisan yang hanya berjarak sekitar 60 cm di hadapan saya. Lalu tikus pithi tersebut menggigit sehelai bunga telasih, selanjutnya tikus pithi tanpa ada rasa takut sedikitpun berdiri dengan dua kaki sambil menggigit bunga telasih dengan wajahnya menatap wajah saya seolah mengajak berkomunikasi. Pelan-pelan bunga telasih saya ambil dari mulut si tikus. Lalu tikus tersebut kembali turun dari atas batu nisan dan tak tampak lagi batang ekornya. Ternyata sehelai bunga telasih tersebut memiliki energi metafisik yang luar biasa besarnya. Bagi peziarah yang lainnya, kejadian itu dianggap lucu dan aneh. Namun apa yang saya lihat secara metafisik sungguh berbeda. Tikus tersebut merupakan ejawantah dari abdi dalem atau penderek Gusti Amangkurat Amral sewaktu masih hidup di dimensi bumi. Pengalaman lain, terkadang ada orang yang ingin mengambil bunga kanthil tapi tidak mendapatkan satupun walau taburan bunga di atas batu nisan sudah diacak-acaknya. Sementara yang mencari belakangan malah mendapatkan bunga kanthil dengan mudahnya. Semua itu dapat menjadi pertanda dalam bentuk kiasan. Jika kita mengalami hal demikian hendaknya segera mengkoreksi diri, mengevaluasi diri akan tindakan, harapan, dan suatu tujuan yang direncanakan.
  2. Sensasi Rasa Yang Aneh. Terdapat banyak kejadian yang tak bisa dilihat namun bisa dirasakan. Misalnya anda merasa terdorong ke depan atau ke belakang hingga hampir jatuh,  padahal tidak ada orang lain yang mendorong anda. Kejadian lain yang hampir serupa misalnya anda merasakan ada hantaman energi yang sangat kuat tiba-tiba menghunjam dan merasuk ke dalam dada/tubuh anda. Perasaan lainnya misalnya anda merasakan merinding di ubun-ubun, terasa hangat/panas di punggung dsb. Semua itu sebagai sinyal anda mendapatkan sesuatu biasanya semacam tenaga dalam, kekuatan, ketabahan, keteguhan, dan bisa jadi berupa kesaktian. Apabila sensitifitas mata batin anda sudah terlatih tidak menutup kemungkinan akan tahu manakala anda diberikan restu dari leluhur. Misalnya anda melihat sosok orang yang berdiri di hadapan anda, dengan tangan posisi telungkup di atas kepala anda, itu tandanya leluhur sedang memberikan doa-restu (sawab-donga-pangestu) atas apa yang anda harapkan dan cita-citakan selama ini.
  3. Terlelap Ketiduran. Pernah ada kejadian manakal saya mengajak sedulur berziarah sebut saja si A saat duduk manembah di samping pusara, tiba-tiba terlelap ketiduran. Namun saat si A ketiduran ia merasakan suatu peristiwa dahsyat. Ia diajak oleh seorang laki-laki tinggi langsing mengenakan pakaian raja. Ia diajak ke suatu tempat yang sangat indah, diperkenalkan apa namanya, diberitahu apa kunci rahasianya dalam menjalani kehidupan ini agar supaya ia kelak bisa berada di tempat yang menyenangkan tersebut.  Saat kejadian itu si A merasa diajarkan suatu ilmu lengkap dengan teknis penerapan dan kegunaannya. Beberapa bulan berikutnya si A sudah pandai mengolah dan menerapkan ilmu sejati yang diberikan oleh leluhur tersebut saat raganya ketiduran dan sukmanya di bawa masuk ke dimensi alam para leluhur.

Masih banyak peristiwa-peristiwa yang sangat panjang jika diceritakan satu persatu. Baik saya alami sendiri maupun dialami oleh para sahabat. Setiap peristiwa yang pernah anda alami silahkan untuk “dionceki” dikupas secara detil dan mendalam. Banyak pelajaran di balik peristiwa-peristiwa. Jagad raya yang fisik maupun metafisik merupakan kitab suci yang tak tertuliskan. Kitab suci yang tidak dicemari oleh ragam bahasa manusia. Alias SASTRA JENDRA. Sebuah papan tanpo tulis.

OTORITAS TUHAN atau MANUSIA ?

Kiat-kiat di atas penting untuk diketahui, sebab banyak orang yang mengalami kesalahan fatal dalam melangkah sehingga mengalami kegagalan menjelang garis finis. Kesalahan fatal justru terletak pada saat konsentrasi seseorang terlalu fokus pada hasil yang diharapkan. Jangan berkonsentrasi pada hasil, namun berkonsentrasilah pada prosesnya. Kodrat Hidup tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya rangkaian sebab. Kodrat hidup ditentukan oleh rangkaian sebab yang merupakan proses kehidupan. Hubungan antara proses kehidupan dengan hasil akhir merupakan kesatuan rumus-rumus tuhan atau hukum alam. Semua hukum alam menyiratkan makna di mana hasil yang gemilang merupakan hadiah atas rangkaian proses yang indah dan menawan. Maka mainkanlah bola secara cantik dan indah, supaya pintu kemenangan yang gemilang terbuka lebar. Manusia mempunyai otoritas penuh dalam menjalani proses demi proses kehidupan yang teramat kompleks. Kepasrahan total dalam arti menyerahkan sepenuhnya PROSES tersebut kepada tuhan, sama halnya sikap dalam keputusasaan, alias sikap fatalistik yang teramat parah. Kreatifitas, kemauan, inisiatif semuanya menjadi musnah. Sama saja dengan anggapan yang salah kaprah akan kemutlakan kodrat tuhan di mana tuhan menetapkan jam berapa anda buang hajat besar, kapan anda pipis, detik berapa anda akan garuk-garuk kepala karena salah tingkah.  Kesuksesan tak lepas dari proses. Proses adalah mutlak pilihan dan otoritas manusia agar supaya manusia tidak ngenak-enak mau enaknya sendiri.  Menjalani Laku Prihatin sama halnya kita sedang menjalani sebagian dari proses tersebut.

Sabda

Salam karaharjan

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Januari 19, 2010, in Pantangan & Rintangan Dalam Menjalani LAKU PRIHATIN and tagged . Bookmark the permalink. 110 Komentar.

  1. Sugeng Ndalu Ki Sabda

    Saya tidak pernah ingat wajah salah satu leluhur saya. Ibu. Ibu saya meninggal saat saya masih kecil. Saya tidak mampu mengingat wajah ibu saya. Semakin saya coba mengingat, makin ambyar.

    Suatu ketika kerinduan saya ini memuncak. Begitu kepinginnya saya bisa menjumpainya. Segala cara saya lakukan. Hampir setiap tengah malam saya memohon kepada-Nya. Suatu malam saya bermimpi, bersama perempuan muda yang mengajak saya ke suatu tempat berkumpulnya banyak orang. Ia menyuruh saya duduk di tikar, menunggunya. Di sana banyak orang dari segala tingkatan usia. Setelah lama saya menunggu, dia tidak menjumpai saya lagi. Saya terbangun. Kaget.

    Saya kembali mencoba mengingat wajah perempuan itu. Agak kaget saya, ternyata perempuan itu sebenarnya orang yang pernah saya kenal hampir dua puluh tahun lalu. Dan saya tidak lagi tahu di mana dia tinggal. Sampai sekarang. Ini saya alami hamir empat bulan lalu.

    Ini cuma imajinasi atau sebuah petunjuk ya Ki Sabda. Nuwun Ki.

  2. Ia menyuruh saya duduk di tikar,…

    Artinya: Anda diperintahkan sholat dan bertobat…hmmm.

  3. Rahayu,,,

  4. Ada lagi mas yang kadang terlupakan, biasanya kalo kita ziarah rata2 banyak orang pada jualan ini sebenarnya pantangan apalagi kalau perlon kita sudah selesai, bagi yang tidak tahu ia akan jajan makan atau apapun menurut eyang saya, kalo kita ziarah persiapkan bekal jangan pernah jajan, karena menurut beliau berkah yang kita dapat akan hilang percuma kita bagi ke orang yang jualan. Dari manapun dengan tujuan suci jangan sekli2 jajan biar berkahnya dapat dinikmati seluruh orang dirumah kita jadi jangan jajan

  5. Salam kenal ki
    Trimakasih atas tulisannya
    Rahayu selalu amin

  6. mas Sabda bila berkenan mohon alamat anda..? dan bila tahu alamat mas ndlosor madep ngetan saya diberi infonya..?

    • eri sakti ambawani

      Selamat pagi ki sabda…saya eri(perempuan),saya merasa setelah ibu saya meninggal hampir 2 thn ini masalah datang silih berganti.Dan kebetulan saya &suami blm di karuniai keturunan,apakah saya juga harus ziarah ke leluhur selain berdoa pastinya.Atau harus puasa?
      Terimakasih

  7. mas Sabda….boleh saya ambil alih blog ini?! huahaha….

    • Ambil aja…. kamu kan HACKER
      oh ya… apa kamu pernah denger cerita ttg MUTASI ONTA
      wkwkwkwk… tuh banyak……
      lalu cerita kalo ONTA ONTA BANYAK YG DI BANTAI…
      itulah mengapa banyak ONTA yg hanya membaca blog ini. pada takut di bantai lg…

      hahahahaha

      kalo aku liat muka ONTA pas lagi ketemu sama kaum mu yg miskin. ck ck ck kasian aku… ya ma ONTA nya ya ma kaummu yg miskin
      yg miskin kok mau aja di pecundangi ma ONTA. bukannya ONTGA seharusnya di tunggangi dan di pecuti
      kenyataan ONTA sangat PELIT meski dengan KAUM mu yg nota bene jg KAUM nya ONTA
      hahahahahahahahaha…

      ONTA goblok ato si miskin yg GOBLOK…

      LOO kebanyakan ngenet seh.. bantu tuh kaum mu yg miskin supaya terbebas dr jeratan hutang ONTA dan jangan sampe Mak mu aek perempuanmu jadi BABU di negeri ONTA BERANTAH
      Kalo adek ipar mu. silahkan mau kamu apain TERSERAH
      wkwkwkwk

  8. Ki Sabda,
    sungguh ini uraian sangat baik untuk para penempuh spiritual ,karena memang memang banyak rintangan dan godaan,mudah2an para penempul spiritual pemula membaca uraian ki sabda ini.Dalam menjalani laku untuk istiqomah 7,40,satu tahun akan banyak ujian,terutama ujian bosan.

    Tapi yg perlu diperhatikan bahwa dibeberapa makam jadi tempat kumpulan energi negatif atau positif atau sama-sama.Maka bila habis dari makam hendaknya langsung cuci kaki dan tangan sebagai simbol dan niat membersihkan energi negatif yang menginduksi/nempel.Bila habis ziarah makam agung bila punya hajat tertentu pulangnya hendaknya jangan mampir-mampir,konon dipercaya energi positifnya bisa terkontaminasi atau malah lepas sama sekali.Oleh karena itu bila ziarah langsung pulang diharapkan bila dianugerahi sesuatu bisa langsung tersimpan di rumah/mengendap dirumah.

  9. Pengalaman saya waktu jiarah di gunung tunggal/galantung,disitu ada makam saudara kandung Jasasinganwarman (Pendiri Tarumanegara),saat itu sperti ada getaran tangan saya untuk menyentuh nisan dan nisannya ada simbol bintang delapan.Setelah menyentuh nisan dan pulang badan saya mriyang,tangan kanan ngilu satu minggu panas dingin.Ketika saya tanyakan ke sahabat saya rupanya ada energi yang masuk ke tubuh yang memang diberikan oleh leluhur sebagai piandel untuk jaga-jaga katanya.Rupanya panas dingin itu adalah proses penyesuaian energi yg masuk dg tubuh.Setelah tiga tahun saya ketahui ternyata saya adalah anggota keluarganya dimasa lalu(wajib militer ).Ketika saya di makam kota gede di makam Ki Ageng Pemanahan,tiba2 tangan kakan saya seperti ada yg membimbing menaruh bunga kantil tiga tiga kuntum.kata sahabat saya waktu itu yang saya ziarahi datang dan berkenan dan berbahagia.

    masih banyak lagi pengalaman unik

  10. ki langsung aja …..
    Saya awam dengan dunie kejawen bahkan bisa dibilang nol prutul dan saya sangat2 tertarik untuk mendalaminya cmn masalahnya ki kl niat mendalami sdh ada tp tnp adanya pembimbing kan sama aja gk jelas kmn juntrungannya,bisa2 malah ‘kesasar’ sampai ke cina
    Jd maksud saya ki dan para senior smua, drmana saya harus mulai utk mendalami ini semua?
    intinya kepada siapa saya hrs ‘berguru’? ato adakah komunitas utk ini smua
    Mohon info yang sedetil-detilnya????
    kl gak detil tutup aja blog ini

  11. setiap karya akan berbuah …..

  12. “Bergelar pangeran perang, meski berpakaian kurang pantas.”
    Artinya, SP bukan berasal dari militer, dia orang sipil. Meski begitu ia tetap disebut jendral oleh anakbuahnya. nantinya tni tidak bernama tni lagi, tapi diganti menjadi COBRA. huruf kapital semua ini tak menunjukkan ada artinya, melainkan agar tak dianggap ular kobra saja.

    Sehari-harinya nanti, SP akan memakai baju jubah merah didepan umum. Lho kenapa jubah merah? Karena itu menunjukkan dia adalah pertapa yang melakukan hubungan dengan wanita. sekolah buddhism miliknya dibagi dua: jubah kuning dan jubah merah. jubah merah melakukannya, jubah kuning tidak melakukannya.

    Tidak mungkin saya menyebarkan agama buddhi tanpa menikmati wanita. agama buddhi berbeda dengan agama buddha. agama buddha tidak melawan, saat ada muslim akan pergi ke tempat terpencil.

    saya juga bisa bisa berubah wujud dengan kostum khusus yang diberi Dewa Indra. Yaitu seperti robot sharivan, yang merah.

    sampai jumpa dilain waktu. jangan coba-coba menjadi sp lagi. segalanya sudah diputuskan.

    • berpakaian kurang pantas, karena jika memang disebut pangeran perang seharusnya memakai baju jendral. tapi cuma memakai baju jubah saja.

      saya pendiam. tapi kalau lawan-lawan saya tak juga berubah. saya akan membunuh untuk menyelesaikan masalah. ingatlah itu baik-baik.

      • banowati saya pakai untuk mengurung orang muslim. jadi maaf ya, kamu tidak bisa berubah menjadi robot. jane yang akan berubah menjadi robot.

        saya dan jane akan berubah menjadi robot. woooooo hoo !!

      • “Berpakaian kurang pantas” juga menunjukkan makna yang lain. yaitu setiap kali ditemui, sp selalu ditemui baru keluar dari kamar dengan cewek, dengan pakaian sp yang kurang rapi.

        ingat bahwa jayabaya atau prabu siliwangi III adalah ayah dari satria pinandhita sinisihan wahyu. dan prinsip “dalam arti yang sebenarnya” berlaku pada setiap ramalan mereka.

  13. Sampai jumpa dilain waktu. saya mau membaca sutta dulu, ndul.

  14. salam sejahtera bwt saodara”qu smua, .smoga ttp mndptkn kbaikan dnia n akhirat. .
    amin

  15. Saya membaca artikel kamu.sangat menyenangkan dan menarik. Saya bisa banyak belajar. Saya jadi ingin kesana. Minta alamat boleh kah?

  16. Benar, saya sungguh terkesan, sangat selaras dengan apa yang juga saya rasakan. sungguh saya sangat terbantu dalam hal ini sehingga saya dapat mawas diri dan perlu berbenah. Gungging panuwun.

  17. Matur Nuwun artikelnya. Alhamdulillah saya semakin bangga menjadi orang jawa,

  18. saya sangat bangga menjadi orang jawa, karena laku prihatin sangat perlu dilakukan asalkan tidak lupa dengan Tuhan yang menciptakan segala alam dan semesta tidak lupa manusia, bahwa orang hidup merupakan perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai segala keinginan dengan usaha dan doa.Laku prihatin sebuah kepercayaan seumpama di jalankan asalkan tdk melanggar aturan dalam beragama.artikelnya bagus,nuwun

  19. salam kenal mas sabdo
    terimakasih atas semua tulisannya smg mnjdi tambahan wacana buat saya pribadi n sahabat semua

    rahayu

  20. drerek nyimak ki,maturnuwun

  21. lagi kepingin present kemawon.. lan absent komentar.. parengggg…

  22. setiap ziarah ke leluhur, adik saya selalu bisa bertemu dan bicara dengan kakek dan mbah buyut kami, sedangkan saya tidak pernah bisa merasakan kehadiran beliau-beliau. bagaimana caranya pak supaya saya bisa seperti adik saya tersebut

  23. saya akan mengingat apa yang panjenengan beritahu ini.

  24. Asalamualaikum.ki saya mau bertanya,apakah boleh kalau wanita hamil ziarah ke pemakaman para lelulur…??

  25. Kulo nuwun Ki Sabdo,,,lagi-lagi saya menyicil membaca berbagai wejangan dari tulisan panjenengan, saya merasa sangat tersentuh dan sangat sedih karena merasa jadi pribadi yang gagal. ingin sekali rasanya saya bertanya pada panjenengan akan segala ketidak tahuan saya akan kehidupan ini. Saya dilahirkan dari keluarga yang latar belakang miskin spiritual, jauh dari agama, bahkan tak punya guru spiritual. Ingin sekali rasanya belajar dari Panjengan tentang wejangan-wejangan leluhur. Sudi kiranya Ki sabdo memberi alamat panjengengan, nomor telpfon atau apa saja yang kiranya bisa menjadi penghubung bila mana saya memiliki pertanyaan yang menggundahkan hati saya ini email saya ki widi.xsur@gmail.com bila mana ada kesempatan ingin sekali saya untuk soan dan ngansu kawruh pada panjenengan secara langsung. Nyuwun agunging pangapuro bila saya lancang atau salah dalam bertutur kata semoga Gusti ingkang maha welas selalu merahmati.

    Rahayu.

  26. dewi agung suryaningsih

    bagus sekali…saya masi menyimak ….membaca …..belum bs komen banyak

  1. Ping-balik: PENGGUNAAN METODE ANALISIS SWOT DAN ANALISIS DESKRIFTIF KUALITATIF KAWASAN WISATA SPIRITUAL IMOGIRI | inoseichinoseki

  2. Ping-balik: inoseichinoseki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: