Ilmu (kawruh) adalah pengetahuan nalar. Sedangkan ngelmu (angel anggone ketemu) adalah pengetahuan spiritual.

Prakata

Sebelum membahas tentang ngelmu sastra jendra saya bermaksud sedikit mengulas secara “ontologis dan epistemologis” agar supaya kita lebih mudah memahami apa sejatinya ngelmu sastra jendra. Di antara para pembaca yang budiman barangkali bertanya-tanya, apakah yang dimaksudkan dengan pendekatan rasionalisme dan apapula yang dimaksud dengan pendekatan emphirisisme dalam tradisi memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara kita untuk mengenali dan membedakan di antara keduanya?

Untuk membedakannya, kita bisa melihat apakah objek yang dibahas itu adalah sesuatu yang bisa dilihat ataukah sesuatu yang menjadi objek pembahasan itu tidak bisa terlihat. Jika objek dari pokok bahasan itu bisa dilihat seperti objek biologi, kimia, fisika dan lain-lain maka kita menyebutnya dengan ilmu emphirisme. Sementara jika objeknya tidak bisa terlihat seperti fildafat, bahasa, matematika, agama kita menyebutnya dengan ilmu rasionalisme. Jikalau kita sudah bisa mengenali mana persoalan ilmu yang disebut dengan emphirisisme dan mana yang disebut dengan rasionalisme maka apakah yang menjadi pembeda di antara keduanya ? Bagaimana persoalan pengetahuan dari sudut pandang orang-orang emphiris dan bagaimana pula dari sudut pandang orang-orang rasional? Jawaban sederhananya ; adalah terletak pada penekanan fungsi akal. Menurut orang-orang emphiris tidak ada satupun di alam semesta ini yang masuk akal kalau sesuatu itu tidak bisa dilihat dan dialami. Fungsi akal pada persoalan ini persis seperti fungsi cermin, yaitu hanya menerima bayangan yang masuk lalu kemudian memantulkannya lagi. Dengan memahami persoalan fungsi akal ini maka menurut kaum emphiris manusia itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang mereka usahakan dan karena itulah maka semua orang akhirnya memiliki takaran pengetahuan yang berbeda-beda karena berangkat dari pengalaman olah akal yang berbeda-beda pula. Sedangkan menurut kaum rasional justru sebaliknya. Menurut pendapat mereka fungsi akal justru untuk mengingat-ingat kembali (recalling) apa-apa yang sudah ada di dalam akal itu sendiri. Jadi tidak benar kalau akal mendapatkan pengetahuan dari indra dan pengalaman karena sesungguhnya pengetahuan manusia itu sudah melekat pada dirinya sendiri jauh-jauh hari sebelum mereka terlahir ke planet bumi ini. Karena fungsi akal adalah untuk recalling atau mengingat-ingat kembali, maka dengan sendirinya semua orang sesungguhnya mempunyai potensi pengetahuan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan recalling masing-masing individu.

Ilmu Spiritual yang Metodis dan Ilmiah

Sastra jendra, merupakan ngelmu yang diperoleh melalui perpaduan antara metode olah batin, pendekatan emphirisisme dan rasionalisme. Ketiga pendekatan tersebut harus matching, sinambung dan sepadan. Untuk itu sastra jendra bukanlah ngelmu yang hanya sekedar jarene atau katanya. Dapat dikatakan Ngelmu sastra jendra diperoleh sebagai hasil dari olah batin yang gentur dilakukan dalam waktu yang lama sehingga membuahkan hasil berupa pengalaman batin dan pengalaman lahir. Bahkan ngelmu sastra jendra merupakan ilmu rahasia “langit” yang berhasil diproses agar “membumi”. Dengan demikian dalam kawruh sastra jendra, tidak ada lagi kegaiban yang tidak masuk akal. Segala yang gaib justru sangat masuk akal, bisa diterima oleh logika penalaran. Artinya, otak kiri sudah berhubungan erat dengan otak kanan. Otak kanan sudah pernah menerima noumena (“fenomena gaib”) yang diterima oleh mata batin maupun wadag. Bagi yang belum bisa memahami gaib secara akal, atau masih menganggap gaib sebagai sesuatu yang irasional, hal itu menandakan ia belum berhasil melewati proses demi proses ngelmu Sastra Jendra secara tuntas.

Pada awalnya untuk mendapatkan ngelmu Sastra Jendra ditempuh melalui metode olah batin yang berat dan panjang. Untuk memperoleh Ngelmu sastra jendra, seseorang tidak hanya cukup yakin saja. Tetapi harus bisa membuktikan sendiri, dengan menyaksikan, mengalami dan merasakan sendiri fakta di balik rahasia alam wadag maupun di “alam” gaib. Dalam metode atau pendekatan ngelmu satra jendra, kebenaran bukanlah sekedar postulat, aksioma, argumentasi rasional, apalagi sekedar keyakinan saja. Kebenaran sekalipun bersifat gaib dan dalam ranah idealitas, tetap harus bisa dibuktikan secara “ontologis” dan “epistemologis” atau obyek dan subyek ilmu. Oleh sebab itu, dalam tradisi ngelmu sastra jendra pengalaman gaib bukan lagi pengalaman batin yang bersifat subyektif, melainkan pengalaman yang bersifat obyektif dapat dibuktikan oleh orang lain yang memiliki kemampuan olah batin yang sama. Apabila pengalaman gaib dikatakan subyektif hal itu karena kenyataan bahwa hanya sedikit orang-orang yang sungguh-sungguh bisa membuktikan dan mempunyai pengalaman gaib tersebut. Secara epistemologis, metode pembuktian dilakukan oleh beberapa orang yang sama-sama mampu merambah ke dalam dimensi gaib untuk melakukan pembuktian bahkan tidak menutup kemungkinan menemukan suatu “hipotesis” baru. Hasil dari pembuktian itu lalu diambil suatu kesimpulan yang dirumuskan sebagai sebuah rumus-rumus yang berlaku di alam kegaiban. Misalnya; seperti kisah keajaiban yang pernah saya posting dalam “Kunci Merubah Kodrat” bahwa organ tubuh manusia yang “disimpan” di dalam dimensi atau alam kehidupan sejati (alam kelanggengan) tidak akan rusak atau busuk, karena di sono tidak ada rumus kerusakan sebagaimana di mercapada atau bumi. Merca adalah panas atau rusak, pada adalah tempat atau papan. Segala sesuatu yang ada di mercapada berarti akan terkena rumus kerusakan. Rumus ini tidak berlaku di alam kelanggengan atau alam kehidupan sejati. Rumus ini dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa “aneh” (sebut saja mukjizat) di mana seorang anak angkat yang menghibahkan ginjalnya untuk ditransplantasi kepada ibu angkatnya selama lebih kurang 15 tahun lamanya hingga wafat dalam kondisi baik dan sehat. Setelah beberapa tahun sejak ibu angkatnya wafat, ginjal itu benar-benar kembali ke dalam perut anak angkat yang menghibahkannya dulu, dan tetap berfungsi secara normal lagi. Peristiwa mukjizat tersebut TIDAK terjadi sekonyong-konyong, ujug-ujug, dan bukannya peristiwa yang tidak bisa dijelaskan prosesnya. Melalui ngelmu sastra jendra, peristiwa itu dapat dijelaskan secara rasional oleh orang lain dan secara emphiris oleh ybs (anak angkat tersebut). Maka dari itu ngelmu sastra jendra bisa disebut sebagai ilmu spiritual (gaib) yang ilmiah. Dapat dilakukan verifikasi (uji kebenaran) atas hipotesa-hipotesanya oleh banyak orang terutama yang mampu membuktikan.  Hanya saja, kelemahan ngelmu sastra jendra yang memverifikasi hipotesis haruslah seseorang yang sudah berkompeten, mahir dalam berinteraksi dengan dimensi gaib. Tak cukup hanya melalui disiplin ilmu  pengetahuan saja. Kelemahan metode ini selain sangat terbatas orang yang bisa menguji atau memverifikasi kebenarannya, juga orang yang mengaku bisa menguji harus terseleksi hingga lulus uji terlebih dahulu. Sebab bukan tidak mungkin orang tersebut masih rancu dalam memahami gaib. Kerancuan yang disebabkan oleh adanya polutan yang bernama ilusi, imajinasi, dan fantasi hal-hal gaib atau dogma yang mengendap di alam bawah sadarnya yang sewaktu-waktu bisa muncul seolah gambaran gaib. Sebaliknya, yang menseleksi juga harus diseleksi terlebih dahulu. Hal itu dapat dilakukan apabila semakin banyak orang waskita yang mampu berinteraksi dengan gaib secara bersama-sama melakukan uji kebenaran dan dilakukan sejujur-jujurnya. Orang-orang seperti ini jarang kita temukan di zaman sekarang di mana kesadaran kosmos telah terampas oleh kesadaran semu dogma, termasuk pula yang semata-mata mengandalkan daya analisa otak kiri yang limited. Namun masih ada secercah harapan, dengan hadirnya anak-anak kristal, yang jauh lebih cermat dan matang dari anak-anak indigo serta kawula muda bangsa yang kini tampak semakin bersemangat untuk belajar mempertajam batin. Sedikit orang waskita yang memiliki ketajaman batin bukan berarti merupakan takdir atau garis hidup dan bakat alamiah. Bagi saya pribadi, setiap orang memiliki “software” yang kurang lebih sama, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mempertajam mata batinnya  asal saja mau mengolahnya dengan sungguh-sungguh.

Lebih lanjut tentang metode memperoleh ngelmu sastra jendra, secara ontologis ia memiliki obyek penelitian yang bersifat gaib maupun wadag (tanda-tanda/bahasa alam) tetapi apa sesungguhnya yang terjadi masih sangat rahasia. Namun sekali lagi, kegaiban bukan berarti tidak bisa dilihat dan dialami secara emphiris, tidak pula melulu hanya dibahas dengan pendekatan rasionalisme.  Hanya saja walaupun obyek gaib (noumena) benar-benar ada, namun belum tentu langsung bisa dilihat secara wadag oleh setiap orang. Bagi orang yang bisa melihat, menyaksikan dan merasakan sendiri obyek gaib, hal itu merupakan sebuah pengalaman emphiris yang biasa-biasa saja. Gaib bukan lagi sekedar bisa dijabarkan melalui pendekatan idealisme-rasionalisme, namun juga dengan mudah dapat diketahui dan dalami secara emphirisisme. Semua tergantung pribadi masing-masing apakah ada kemauan atau tidak. Dengan metode itulah Ngelmu sastra Jendra lahir dari orang-orang waskita di zaman dahulu. Ngelmu Sastra Jendra tak ubahnya “pisau analisa” yang mampu mengupas rahasia di dalam NOUMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi gaib, apalagi hakekat dan rahasia di balik FENOMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi wadag.

Antara Keyakinanisme dengan Spiritualisme

Lantas di mana posisi keyakinan dalam hal ini ? Tentu saja keyakinan tidak memiliki metode ilmiah sebagaimana Ngelmu Sastra Jendra. Keyakinan melimputi dua kutub yakni; yakin untuk meyakini adanya sesuatu atau pun yakin untuk meyakini tiadanya sesuatu. Kedua kutub keyakinan tersebut sama-sama hanya butuh pengakuan subyektif saja untuk sekedar meyakini saja! Asas utama kedua kutub keyakinan itu adalah sikap percaya tanpa perlu membuktikan melalui pengalaman batiniah, emphiris  dan rasional. Nah, ngelmu sastra jendra bisa digunakan untuk membuktikan sekaligus menguatkan dua macam kutub keyakinan dengan cara membuktikan apakah sesuatu yang diyakini atau tidak diyakininya benar adanya. Dengan cara berusaha untuk mengalami dan menyaksikan paling tidak merasakannya, sehingga tidak hanya sekedar yakin, tetapi menjadi hak atau kesadarannya akan adanya kebenaran sejati. Meskipun demikian kedua kutub keyakinan mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk menopang mental seseorang. Sebaliknya, kelemahan dari kedua kutub keyakinan tersebut masing-masing dapat terpatri secara kuat dalam benak, menyingkirkan kemampuan nalar dan batin untuk memahaminya secara rasional dan secara esensial (hakekat). Bahkan dua kutub keyakinan dapat menjadi lebih kuat daripada pengalaman emphiris dan pengetahuan rasionalitas. Karena kedua keyakinan (sengaja) bertumpu pada sesuatu yang teramat jauh dari jangkauan rasionalisme dan emphrisisme itu sendiri. Jika kita mau jujur, pada saat keyakinan adanya sesuatu atau keyakinan akan tiadanya sesuatu kita serap dengan nalar dengan tanpa disertai olah batin untuk sekedar merasakan bahkan melihat atau mengalami sendiri, nyaris tak ada bedanya pada saat nalar kita menikmati sebuah imajinasi, mitologi, legenda dan dongeng. Dan masing-masing pemegang sikap keyakinan untuk yakin adanya sesuatu dan keyakinan untuk menolak adanya sesuatu, keduanya memiliki kecenderungan yang sama yakni, menganggap bahwa keyakinan dirinyalah yang paling benar sementara ia sulit membuktikannya sendiri.

Sementara itu kesadaran spiritual (ketuhanan) lebih cenderung memahami kehidupan ini  secara bijak dan arif. Ia sadar bahwa jalan menggapai spiritualitas adalah beribu bahkan bermilyar cara yang tiada batasan jumlahnya. Ibarat bilangan berapapun jika dibagi nol (0) ketemunya adalah bilangan tak terbatas. Atau sejatine ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu. Manusia bisa manembah kepada Gusti Yang Maha Tunggal (suatu episentrum dari segala episentrum zat energi yang maha dahsyat atau energi hidup yang menghidupkan) dengan sebanyak nafasnya. Bagaikan aktifitas menghirup udara bisa kita hitung, berapa kali dalam sehari, dan dilakukan oleh berapa banyak orang. Tetapi udara itu sendiri merupakan suatu zat yang tak bisa dihitung. Sikap manembah berarti menselaraskan zat yang ada dalam diri kita dengan zat maha dahsyat tersebut. Lebih lanjut soal spiritualisme, bahwa nilai-nilai spiritual akan tumbuh dengan sendirinya seiring-sejalan dengan makin banyaknya pengalaman demi pengalaman batin dan lahir yang individu alami sendiri. Maka spiritualisme berakar pada suatu pengalaman batin, dan tak dapat disangkal dan ditolak bahwa kecenderungan setiap individu adalah bersentuhan dengan suatu pengalaman batin. Bagi yang mau mencermatinya, tentu akan mendapatkan pengetahuan spiritual, sebaliknya akan mengabaikan pengalaman batin tersebut bagai angin berlalu begitu saja tanpa bekas.

Kebimbangan ; Pertarungan Nurani dengan Nalar

Terkadang nurani merasakan adanya kejanggalan atas sesuatu yang kita yakini atau pun yang tidak kita yakini selama ini. Hingga timbul keraguan yang sangat bergolak di dalam sanubari. Hal itu wajar karena apa yang diyakini atau tidak diyakini merupakan sesuatu yang belum pernah dilihat dan dialami sendiri, sehingga “keimanan” sangat rentan bergoyah. Kebimbangan demi kebimbangan muncul saat terjadi pemberontakan nurani terhadap pola pikir yang selama ini hanya menyerap ilmu melalui doktrin semata. Termasuk di dalamnya manakala anda akan melakukan sesuatu keputusan yang membuat bimbang. Hal ini menunjukkan adanya daya tarik menarik antara getaran nurani dengan pertimbangan nalar anda sendiri. Bila kekuatan keduanya berimbang akibatnya kebimbangan itu muncul, yang disertai keraguan, dan ketidakpuasan terhadap apa yang anda yakini ataupun yang tidak anda yakini selama ini.

Nalar kita yang sudah terpola  (mind-setting) oleh doktrin keyakinan sejak kanak-kanak, biasanya nalar tersebut dengan sekuat tenaga akan segera mencegah kesadaran nurani yang sedang menggeliat, dengan buru-buru mendefinisikan geliat nurani itu sebagai bentuk gangguan mahluk halus. Kesadaran indoktrinasi bagaikan “lingkaran setan”. Kesadaran indoktrinasi meretas nilai-nilai doktrin yang baru. Nalar yang sudah terdoktrin cenderung mendoktrin kesadaran kita, dengan cara meyakin-yakinkan diri kita atas suatu dalih bahwa keyakinan merupakan wilayah yang tabu untuk disentuh dan dijabarkan di depan publik. Atau ditekankan suatu konsep bahwa “hanya tuhan saja yang paling berhak mengetahui segala sesuatu yang gaib”. Walau kenyataannya banyak sekali manusia yang berkesempatan merasakan, mengalami dan menyaksikan suatu noumena di alam kegaiban. Dalam titik kulminasi terjadi extreme ignorance, atau kesalahan yang fatal, di mana nalar yang terindoktrinasi berusaha membunuh setiap getaran nurani. Nalar dengan serta-merta menjatuhkan vonis bahwa kebimbangan dan keraguan terhadap suatu keyakinan bukan datang dari nurani, melainkan wujud nyata “bisikan setan” yang bertujuan menggoyahkan keimanan seseorang. Nalar kita mampu bekerja secara otoriter, artinya tidak berperan secara dinamis melalui prinsip dialektika, dialog imbal balik, atau kontemplasi mendalam dalam memahami kehidupan ini.  Tabiat nalar yang otoriter justru melahirkan dehumanisme, mencetak karakter pribadi yang tumpul mata batinnya. Alam bawah sadar yang merangkum nilai doktrinasi sejak kecil menciptakan akal fikiran yang sangat terpola dan menjadi kaku, tertutup, serta anti toleran (sikap fanatisme).

Sudah menjadi hukum alam semesta bahwa kehidupan ini bersifat dinamis, walau seringkali memakan waktu teramat  panjang dan terlambat. Bisa jadi lambat laun kekuatan nurani memenangkan pertarungannya dengan kekuatan nalar yang terindoktrinasi. Dalam falsafah Jawa dikenal rumus-rumusnya misalnya becik ketitik, ala ketara. Sepadan dengan peribahasa berikut; serapat-rapatnya menyimpan bangkai, toh akhirnya tercium baunya juga. Barangkali tahun 2012 di mana daya magnetik galaktika melemah, gravitasi bumi kendur, menyebabkan banyak orang mengalami penurunan gelombang otak, ibarat melakukan meditasi secara massal. Lereming pancadriya, tinarbuka ing waksita. Bisa jadi saat itu kelak menjadi momentum terbukanya kesadaran nurani yang lebih dalam lagi bagi banyak orang. Bila tahun 2012 dianggap sebagai saat kiamat tiba, saya memahaminya sebagai kiamatnya kesadaran semu yang melekat dalam nilai-nilai doktrin, sekaligus merupakan awal lahirnya suatu kesadaran baru, yakni kesadaran sejati berada di relung sanubari kita. Sementara yang gagal lolos seleksi alam, berarti pula pertarungan dimenangkan oleh kekuatan doktrin yang cenderung kontraversi dengan dinamika alam semesta. Kegagalan itu beresiko melahirkan kepribadian mudah stress, gampang bingung, sikap fatalis, hingga gangguan kejiwaan. Ujung-ujungnya adalah sikap ekstrim sebagaimana sikap-sikap radikal.

Sampai kapan nalar kita mampu mencegah pemberontakan kekuatan nurani? Sejak zaman dulu manusia terjebak oleh pola pikir yang menyangka bahwa kedua macam kutub keyakinan tersebut selalu dikaitkan dengan kekuatan yang transenden (berada di luar diri manusia), yang memiliki hukum sebab akibat fantastis. Kebaikan menghasilkan surga, keburukan menyebabkan neraka. Surga neraka pun terjadinya kelak pada waktu yang tak seorangpun tahu kapan akan terjadi sehingga banyak orang cenderung bersantai-santai. Saya kira “surga-neraka” sudah ada sejak saat kita hidup di bumi ini yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Hari pembalasan/hukum karma  pun tak perlu dinanti kelak, karena telah terjadi pembalasan tiap hari, yang terangkum dalam mekanisme hukum sebab akibat. Hari ini adalah buah dari apa yang kita lakukan di waktu yang telah berlalu.

Fanatisme vs Spiritualitas Sejati

Nilai-nilai keyakinan diikat dan dipertahankan melalui doktrin-doktrin atau proses hegemoni kesadaran agar seseorang mempercayainya. Sementara itu nilai-nilai spiritual diikat dan dipertahankan oleh diri pribadi karena pengalaman emphiris dan pengalaman batiniah yang sekaligus bisa diterima secara rasional. Spiritualisme adalah pemahaman akan hakekat yang memuat nilai-nilai universal. Tak heran jika seorang spiritualis sejati memiliki sikap toleransi tinggi terhadap keyakinan yang berbeda. Karena spiritualisme berlandaskan pada kesadaran holistic spirituality. Inilah bedanya, fanatisme sejati, dengan spiritualis sejati. Fanatisme bertumpu pada keyakinan saja. Sementara itu spiritualitas sejati bertumpu pada perjalanan batin yang penuh dengan pengalaman emphiris, maupun pengalaman batin yang bisa dipahami dan dijangkau oleh rasio. Seorang fanatis menjelaskan tuhan secara etnosentris, rasis, primordialis dan dogmatis, yang memaksa orang lain agar sependapat dengan dirinya. Fanatis juga memvonis siapapun yang berusaha menjelaskan tuhan secara rasional sebagai kafir (menutup diri dari kebenaran) dan sesat (salah jalan). Hal itu justru mengesankan seolah-olah  kebenaran sejati ditandai bilamana “kebenaran” tersebut tidak bisa dicerna secara rasional. Jikalaupun ada orang yang mampu mengalami persentuhan dengan gaib, baik secara batin maupun emphiris, disebutlah ia sebagai pembohong besar dan telah disesatkan oleh si “setan kober”. Sementara itu spiritualis sejati menjelaskan konsep ketuhanan dengan sifat-sifatnya secara esoteris, demokratis dan universal. Maka seorang spiritualis sejati, ia akan menganalogikan tuhan sebagai wujud sifat dan karakter yang lebih enak dan nyaman dirasakan. Misalnya Mahakasih, Tuhan Yang Tidak Pilih kasih, Yang Tidak Kejam, Yang Maha Welas Asih. Sikap sebaliknya, meyakini tuhan dengan karakter seperti layaknya sifat-sifat nafsu manusia yang menakutkan, misalnya ; kejam, murka, bahkan disangka tuhan pencemburu. Faktanya, konsep tersebut sangat mempengaruhi pola pikir masing-masing orang. Orang yang mengkonsep tuhan maha kejam, ia akan menjadi pribadi yang tega-an. Yang mengkonsep tuhan maha murka, ia akan menjadi pribadi yang gampang marah, bahkan menyangka kemurkaannya adalah absah karena telah mewakili kemurkaan tuhan. Darimana ia tahu tuhan telah murka ? Jika kita mau cermati adalah suatu fakta di lingkungan kita, bahwa landasan spiritual –yang berlandaskan pada holistic spirituality–  cenderung memiliki sifat toleran, sebaliknya fanatisme yang tumbuh dari doktrinasi cenderung bersifat anti-toleran.

Saya pribadi memahami bahwa agama bukanlah tujuan melainkan jalan untuk mencapai kesadaran spiritual itu sendiri. Lebih dari itu, agama bukan alat untuk meraih kekuasaan (politisasi agama) apalagi untuk mendirikan suatu kekalifahan seperti zaman dulu di Timteng dan sekitarnya. Memahami agama sebagai tujuan, lagi-lagi akan terjebak pada sikap fanatisme. Selebihnya, menjadikan agama sebagai alat untuk menciptakan dan meraih kekuasaan (kalifah/theokrasi) akan rentan terjadi instabilitas nasional. Itulah salah satu sebab di manapun saja, negara theokrasi –yang berasaskan agama– sangat rawan terjadi perpecahan dan pergolakan. Hal itu dipicu oleh sebab kebebasan beragama yang bersumber pada kesadaran holistic spirituality hilang  bilamana prinsip negara nasional digantikan dengan prinsip “negara agama” (theokrasi). Theokrasi sangat memerlukan tali pengikat keutuhan politik. Biasanya  theokrasi lantas terjebak menerapkan sistem otoriiterisme, tirani, ataupun fasisme. Nah, apakah konsep ketuhanan dipahami bersifat tiran, fasis, otoriter ? Ataukah tuhan bersifat demokratis ? Jawabannya bukan pada tuhan, tetapi pada pola pikir masing-masing  individu.

Apa yang akan terjadi jika nusantara ini berprinsip theokrasi, alias “negara agama”. Tentunya negara theokrasi akan memiliki kecenderungan anti-toleran dan rawan memecah belah kesatuan bangsa yg sangat heterogen ini.  Tak pelak nusantara akan menjadi ladang pembantaian antara satu dengan lainnya (killing field). Sebab akan terjadi “pengadilan atas keyakinan yang berbeda” berdasarkan tafsir tunggal suatu (aliran) agama yang memiliki otoritas politik besar. Sekedar contoh, di zaman dulu banyak kasus-kasus hukuman mati atas perbedaan keyakinan, atau bentuk-bentuk kekerasan fisik dan mental, intimidasi, teror, serta anarkhisme seperti masih terjadi di zaman sekarang. Hal itu membuktikan suatu kebangkrutan sebuah ideologi agama bercorak “imperialisme doktriner” yang kurang memberi tempat pada keyakinan/iman yang berbeda-beda.

Setiap orang pada mulanya berada dalam “goa” prasangkanya sendiri. Manakala menoleh di belakang, oh ternyata ada cahaya tampak terang, lalu melongok ke atas, barulah menyadari betapa selama ini berada di dalam goa yang gelap gulita. Banyak hal merupakan sangkaan pribadinya sendiri, tidak ada apa-apa kecuali yang berfatwa. Maka untuk mengurangi resiko destruktif, kita seyogyanya lebih berpositif thinking dan berhati-hati saat sedang berprasangka (buruk) kepada orang lain yang berbeda pandangan.

Ngelmu dan Kawruh

Ngelmu atau angel anggone ketemu (sukar diraih) disebut pula ilmu spiritual, yakni ilmu tentang kebatinan dan ketuhanan. Ngelmu banyak diserap oleh indera batin sebagai pengetahuan batin.   Sementara itu kawruh adalah ilmu diserap oleh indera fisik, sebagai pengetahuan nalar. Sastra Jendra termasuk kategori ngelmu. Ngelmu Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu ilmu spiritual yang mengandung kebenaran faktual (noumena), nilai-nilai luhur, dan keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia pada umumnya. Karena itu Ngelmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu sejati atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam (fisik dan metafisik) beserta dinamikanya. Ngelmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ilmu pengetahuan batin sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Ngelmu Sastra Jendra berasal dari kaum ningrat di dalam kraton, jika dijabarkan teramat luas cakupannya. Dulunya dipelajari oleh para raja, orang-orang linuwih, empu, resi, kihai dan para pandita.  Itulah orang-orang yang dimaksud golongan NINGRAT, bukan berarti setiap orang yang “berdarah biru”, tetapi orang yang selalu hening ing rat. Orang yang selalu mengheningkan cipta dan batin untuk menggapai kesadaran kosmos. Seseorang sebelum menyerap ngelmu sastra jendra terlebih dulu harus memahami jagad alit dan jagad ageng, mikrokosmos dan makrokosmos. Mengenali hakekat diri sejati dan hakekat alam semesta. Sesudah itu barulah secara bertahap dapat memahami, menghayati dan mengamalkannya. Bagaimana mungkin seseorang berhasil sukses dalam peng-hayat-an dan peng-amal-an  (implementasi) jika belum sungguh-sungguh memahami secara benar tentang diri sejati dan alam semesta ini.

Cakupan Ngelmu Sastra Jendra

Ngelmu Sastra Jendra mencakup beberapa pokok bahasan sebagai berikut ;

1. Ajaran tentang ketuhanan
2. Ajaran tentang alam semesta
3. Ajaran tentang manusia
4. Ajaran tentang kesempurnaan

Ngelmu sastra jendra, menjadikan seseorang memiliki KESADARAN KOSMOS, sehingga mempunyai kemampuan yang titis, tetes, tatas, mampu  weruh sadurunge winarah, karena energi kesadarannya telah menerobos dimensi ruang dan waktu. Muara ngelmu sastra jendra adalah Hayuning Rat Pangruwating Diyu, Jagad gumelar jagad gumulung, yakni sebuah prinsip keseimbangan alam, dalam cerita wayang diperankan dalam cerita Panggung Songgo Buwana.

About these ads