Sukma Tahu Kapan Raganya Akan Mati

Secuil kisah yang terjadi pada tanggal 22 April 2010. Tujuan deskriptif di sini jauh dari maksud untuk iklan, adigang adigung, untuk berlagak dan show off. Tidak sama sekali. Saya hanya berusaha mengambil hikmah pelajaran di balik semua peristiwa, agar supaya dapat dijadikan suatu pengetahuan, minimal untuk diri pribadi. Bukankah tuhan selalu membuat pelajaran dalam setiap fenomena dan gejala besar maupun kecil sepanjang waktu. Seluruh yang ada (being) maupun kejadian dalam jagad raya ini selalu tergelar “ayat-ayat” sang Kausa Prima. Semua itu menjadi tugas setiap orang untuk mempelajari  agar dapat menjalani hidup lebih sesuai dengan rumus-rumus yang tercantum dalam diktat tuhan. Menjadi manusia bijak dan arif, sinergis, harmonis dengan hukum alam, supaya menjadi mudah meraih kemuliaan.

Selebihnya saya ingin share kepada para pembaca yang budiman dan para sedulur NKRI semua tanpa pandang bulu maupun pilih kasih, sebagai wujud persembahan saya, serta sikap welas asih tanpa pamrih yang selalu saya coba sekuatnya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Siapa tahu kisah atau pengalaman pribadi ini ada sedikit manfaat untuk bahan perenungan kita bersama dalam memahami makna kehidupan yang sejatinya.

Roh Berpamitan

Pada 22 April 2012, waktu itu kurang lebih jam 15.00 wib saat saya bersama keluarga jalan-jalan dari Sukabumi, dengan route Cianjur, seterusnya melewati Jl Cugeunang, Cipanas, kemudian melewati Puncak Pas ke arah Ciawi Bogor, kemudian jalanan mulai menurun  terus. Hari itu sepanjang jalan terjadi hujan rintik, lalu berkabut tipis di Puncak dan terasa lebih dingin dari biasanya, pelan-pelan melaju menikmati pemandangan hijau nan indah kebun teh yang agak disamarkan oleh sapuan kabut tipis.   Dan sampailah pada suatu tempat, tepatnya setelah melewati tugu botol kecap pas tikungan sebelah kanan jalan arah menuju Jakarta. Pada saat kendaraan melaju pelan, tepatnya di tikungan kebun teh itu, tiba-tiba samar-samar “hadirlah” sosok wanita cantik putih bersih usianya terkesan masih kurang dari setengah abad (tampak lebih muda dari  usia sebenarnya). Waktu itu sambil nyetir saya kurang konsen, sehingga lupa-lupa ingat siapa gerangan sosok (roh) wanita tersebut kok rasanya pernah melihat sebelumnya. Rasa-rasanya saya pernah mengenalnya, wajahnya tak asing bagi saya, tapi siapa namanya saya lupa. Lalu saya membangunkan istri yang sedang tertidur di samping kemudi. “…lihatlah ada (sukma) yang datang menghampiri kita! Kenalkah dengan dirinya? Isteri saya spontan menjawab,” oh..itu Ibu Ainun Habibie. Saat itu istri saya mengucapkan salam kepadanya lalu bertanya,”ada apa gerangan Ibu datang kemari? Adakah sesuatu yang urgent? Beliau menjawab,” …saya hanya ingin berpamitan denganmu nak, karena saya sudah akan pergi !

Hanya itulah dialog singkat yang terjadi di antara kami. Kebetulan isteri saya dulu pernah berdedikasi di Habibie Center Jakarta untuk program kemanusiaan. Pantas saja beliau kemari. Karena peristiwa sukma yang berpamitan (akan meninggal) biasanya terjadi kepada seseorang yang telah saling kenal sebelumnya. Diri saya tidak mengenal secara pribadi dengan beliau, tetapi isteri saya pernah mengenal dekat beliau, sehingga tak aneh bila kemudian Ibu Ainun Habibie berpamitan untuk berpindah ke dimensi kehidupan yang selanjutnya, setelah dimensi bumi ini.

Sesampainya di Jakarta, petang hari setelah kami selesai menghadiri suatu acara, kami sempat keingetan mas Kadaryono, sahabat kita yang sering singgah di gubuk ini juga. Saya sempat SMS ke mas Daryono,” …Mas, Bu Habibie kok “datang” untuk “berpamitan” ya ? Apa beliau sdg sakit parah ? Mas Daryono langsung mereply sms saya,” …Pamitan jam pinten Mas ? Sakniki malem Jumat Legi. Lalu kurang lebih pada Jam 23.00 Mas Daryono sms saya memberi kabar,”Ya…Ibu Ainun Habibi sudah dirawat di Jerman sjk 1 bulan yll, mas sabda. Karena bronkhitis kronis dan komplikasi lain.

Saat itu jam 22.00 kami bersua Mas Roy Suryo di rumah beliau Jakarta yang kebetulan barusan pindahan rumah. Saya sempat cerita ikhwal “pertemuan” dengan Ibu Ainun sewaktu melewati jalan Raya Puncak tadi sore. Dan infonya sama, Ibu Ainun sedang perawatan intensif di Jerman karena komplikasi akut. Kami semua lalu berdoa, maneges untuk jalan terbaik, nyuwun kawelasan kepada Gusti Ingkang Murbeng Gesang untuk Ibu Ainun diberikan jalan terbaik versi tuhan.

Dua Kemungkinan Belas Kasih

Pada saat menghadapi seseorang yang sedang sakit kritis, kami sungguh menyadari, tak tahu mana pilihan yang terbaik buat yang sedang sakit. Maka rasanya tak pantas jika kami dalam maneges mendikte tuhan untuk minta kesembuhan, apalagi mohon supaya lekas saja dipanggil. Walaupun harapan saya pribadi tentu saja yang terbaik menurut versi saya sebagai manusia awam, tentu mengharapkan kesembuhan beliau. Akhirnya kami kembali pada prinsip, “jadi manusia mbok ya jangan suka mendikte tuhan…kalau berdoa yang netral saja. Jika berurusan dengan kekuatan tuhan, maka posisikan kita sebagai manusia yang tak tahu apa-apa. Tak tahu apa rencana terbaik menurut versi tuhan untuk suatu peristiwa yang akan terjadi. Tuhan memang Mahabijaksana, tetapi manusia seringkali tak mampu nggayuh kawicaksananing Gusti. Tak mampu memahami kebijaksanaan tuhan. Manusia seringkali gagal dalam memahami apa “kehendak” dari tuhan, sebagai sumber kekuatan keseimbangan alam, kekuatan hukum dan rumus-rumus alam semesta. Padahal binatang, tumbuhan dan lingkungan alam pun mampu berada dalam koridor keseimbangan alam, harmonisasi dengan kekuatan keseimbangan jagad raya. Boleh dikatakan mereka semua paham betapa rumus-rumus yang ada di alam semesta ini, yang meliputi hukum sebab akibat, semuanya merupakan hukum keseimbangan alam yang tak pernah menyisakan secuil ketidakkeadilan pun.  Tapi manusia sok tahu, sok pinter, sok-sok-an lainnya yang justru membuat sikapnya bertentangan hukum alam. Bagi siapapun, golongan apapun, dan agama apapun jika perilaku dan sikapnya menentang hukum alam, tentunya ia berhadapan dengan kekuatan dan kebijaksanaan tuhan alam semesta.

Maka dalam doa, hanya terucap,”duh Gusti …nyuwun kawelasan untuk beliau Ibu Ainun. Terserah tuhan, bentuk kawelasan yang mana menurut versi prerogatif tuhan. Yang jelas wujud kawelasan ada dua kemungkinan, sembuh/sehat kembali atau “pindah” ke dimensi kehidupan yang langgeng tan owah gingsir.  Dan dua kemungkinan yang akan terjadi harus kita terima dengan hati yang legowo.

Setiap Sukma Tahu Kapan Raganya Mau Mati

Dari sekian kalinya mengalami peristiwa tak sengaja “dipamiti” roh yang mau meninggalkan dimensi dunia wadag, kiranya cukup bagi saya pribadi untuk mengambil benang merah, bahwa ternyata roh kita tahu kapan waktunya raga akan mati jika timingnya sudah relatif dekat. Lantas kenapa ada orang yang tak tahu manakala mau mati, dan sebagian yang lain mengetahui kapan saatnya ia akan mati. Selain ada dalam ciri-ciri fisik sejak 5 tahun sebelum seseorang mau mati, lebih dari itu, kesadaran sukma sejati dapat mengetahui lebih cepat dan tepat kapan raganya akan mati. Walau tidak sampai mengetahui kapan menit dan detik. Rasanya soal menit dan detik sudah menjadi rahasia hukum alam, rahasia kekuasaan tuhan. Kecuali hanya beberapa menit sebelum seseorang mengalami proses kematian, bisa tahu jam berapa lewat berapa menit dirinya akan mati.

Kesadaran Batin VS Dominasi Raga

Sebagian orang tidak mengetahui kapan dirinya akan mati, namun hal ini bukan berarti sukmanya juga tidak tahu. Melainkan raganya saja yang ndableg, alias mata batinnya tumpul akibat dominasi “mata ragawi” yang ada pada dirinya. Tak ada kesinambungan antara kesadaran sukmanya daya respon raga untuk menerima informasi berupa sinyal-sinyal kematian dari sang sukma. Dapat diperumpamakan setiap orang memiliki “kabel” penyambung antara raga dengan sukmanya, yang berfungsi untuk mengirimkan data informasi “rahasia gaib” dari sang sukma untuk diterima oleh raga melalui kesadaran otak kanan, lalu dicerna oleh otak kiri. Kesadaran rasa-sejati, dikirim kepada sukma sejati, lalu dikirim lagi kepada jiwa, dan diterima oleh raga. Banyak kendala  menghambat proses pengiriman informasi tersebut. Di antara penyebab utama tumpulnya kesadaran ragawi atau raga tak mampu membaca sinyal-sinyal dari sang rasa-sejati dan sukma-sejati adalah sbb;

  1. Seseorang tidak suka mengolah batin, mempertajam nurani, melatih kawaskitan. Akibatnya kesadarannya didominasi oleh kesadaran ragawi saja. Di satu sisi kekuatan batinnya tidak diberikan kemerdekaan untuk berapresiasi, dan di sisi lain kesadaran batinnya tak bisa berkembang karena telah dibelenggu oleh berbagai kekuatan koloni di antaranya ; referensi “katanya”, jarene, ceunah ceuk ceunah, konon. Hal itu membuat diri pribadi tak pernah sungguh-sungguh merasakan betapa tuhan sungguh LEBIH DARI SEKEDAR Mahapengasih-penyayang, lebih dari sekedar Mahaadil.
  2. Mengumbar nafsu ragawi, sehingga bukannya nuruti kareping rahsa (rahsa-sejati),  tetapi lebih cenderung nuruti rahsaning karep. Pribadi yang nuruti rahsaning karep/mengumbar nafsu, biasanya berkarakter temperampental, suka jalan kekerasan fisik (okol), pendek akal, mudah emosi, gampang mencaci dan omong kasar, suka merendahkan dan menghina orang lain yang beda pendapat (antitoleran), apalagi jika berhubungan dengan keyakinan. Menyukai 3G, yakni golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe. Atau 3,5 G, yakni ditambah seneng golek-golek mungsuh.
  3. Memiliki skor tinggi dalam menghafal suatu referensi, tetapi salah menafsirkan makna tersirat/hakekat dari referensi itu. Seseorang tanpa sadar memahami suatu ajaran hanya berhenti pada kemampuan hafalan dan harfiahnya saja. Tapi lupa bahwa hafalannya harus dipraketkkan dalam kehidupan sehari-hari kepada seluruh mahluk tanpa pilih-pilih kasih. Akhirnya tipikal pribadi demikian sangat terbiasa mengukur kedalaman ilmu seseorang hanya berdasarkan banyaknya hafalan dan referensi buku yang digunakan. Ini jelas tidak keren. Apalagi saya ini, semakin banyak baca semakin banyak lupa… J
  4. Nol  besar dalam praktek suatu nilai kebaikan. Atau kebaikan yang dilakukan penuh pamrih (termasuk pamrih pahala dan takut dosa). Bukan atas dasar keikhlasan dan rasa kasih sayang tanpa batas. Sikap kasing sayang kepada tuhan, konsekuensinya harus diwujudkan dalam bentuk sikap penuh kasih sayang kepada seluruh mahlukNya tanpa pilih kasih.  Soal keyakinan, beda pendapat sih wajar, tapi manusia tak perlu membunuh dan mencederai orang lain, biarkan saja tuhan Mahahakim yang menghakiminya. Jika hal ini kita terapkan bersama secara kompak dan konsisten dalam praktek kehidupan sehari-hari, maka perang berdarah di muka bumi ini akan segera berubah menjadi kedamaian dan ketentraman dunia.  Saya rasa tuhan lebih menyukai ketentraman dan kedamaian daripada peperangan sekalipun si haus perang mengklaim atas nama tuhan. Karena perang sudah menjadi kegemaran si pemilik perusahaan alat-alat perang. Kalau gak ada perang produknya gak laku. Makanya, siapapun pencipta alat perang dan yang menggunakannya atas dalih apapun tentu saja termasuk sikap melawan hukum alam. Bukankah alam semesta ini terjadi oleh suatu hukum keseimbangan alam yang sedemikian harmonis, berbeda-beda tetapi saling membutuhkan dan saling melengkapi. Manusia “bermata dua” agar supaya bisa melihat kebenaran secara lebih obyektif. Agar mau melihat kebenaran dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi orang yang “bermata satu” alias dajjal, bisa digunakan sebagai kiasan bagi pribadi yang maunya hanya melihat sesuatu dari satu sisi dan satu sudut pandang saja. Orang lain yang berdiri di sisi dan sudut pandang lainnya dianggap musuh. Padahal dimensi planet bumi yang bulat maupun jagad raya ini terdapat milyaran bahkan trilyunan sisi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Begitulah kiranya sikap yang lebih menentramkan dalam memahami Kemahaluasan Tuhan yang terasa tiada batasannya. Tapi otak kiri kita bisa saja memungkiri noumena di atas dengan menciptakan konsep ketuhanan menjadi teramat sempit yang terasa menyesakkan dada, pusing kepala, dan bertentangan dengan nurani paling dalam.

Ada orang yang tahu kapan raganya akan mati. Bukan berarti ia harus seorang yang sakti mandraguna. Tidak. Ia masih manusia yang biasa dan wajar-wajar saja, hanya menyadari jika menjalani hidup ini perlu membawa-bawa  “kembang kanthil” kemanapun ia pergi. Kanthil sebagai gambaran untuk seseorang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menerapkan pepatah,”ngelmu iku kalakone Kanthi Laku (kanthil), lekase kalawan kas, kas iku tegese nyantosani”. Senantiasa membuat sentausa (keselarasan, keseimbangan dan harmonisasi) kepada seluruh mahluk dan lingkungan alam. Dengan begitu, “kabel” penghubung antara sukma sejati dengan ragasejati akan turn on. Terjadi sinkronisasi antara tata-batin dengan tata-lahir. Tak berhenti di sini, kita masih harus mengimplementasikan apa yang diketahui sang rasa-sejati ke dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga menjadikan pribadi yang mampu nuruti kareping rahsa. Maka diri kita akan mudah merasakan, mengalami, suatu noumena spiritual yang melampaui dimensi ruang dan waktu, serta mampu memanfaatkan kejernihan mata batin dalam mengupas berbagai persoalan dan peristiwa di dalam wilayah mikrokosmos dan makrokosmos.

Pada masa lampau banyak orang sakti karena mau memahami suatu ajaran kebaikan  melalui sisi kesadaran hakekatnya. Sebaliknya generasi zaman sekarang cukup puas pada kesadaran otentik, harfiah, kulit, walau berakibat dinamika kesadarannya menjadi mandeg pada kesadaran ragawi. Yaah…cari amannya saja. Seperti prinsip yang diterapkan oleh pelaku bisnis yang gagal. Daripada tersandung, lebih baik “berpenghasilan” minim sekali, dan sesekali menjadi pengemis dari pada berani berspekulasi menjelajah ke dimensi spiritual, walau buahnya bisa berupa “penghasilan” berlimpah.

Sukma Sejati Sebagai Dasar Kawaskitan

Waskita, atau cermat dan awas dalam penglihatan batin. Memiliki ketepatan dan akurasi tinggi dalam membaca hahasa alam. Semua kemampuan itu tidaklah semata berdasarkan kemampuan ragawi, kemampuan otak. Kita semua mungkin sepakat memahami agama, keyakinan berikut kegaiban tak perlu adanya dominasi otak, nalar, logika, atau apalah sebutannya. Tetapi kita lupa bahwa instrumen otak yang telah mampu mensinkronkan diri dengan kesadaran sukma akan dapat menerima berbagai peristiwa gaib sebagai sesuatu yang sangat masuk akal. Jika masih dianggap mengada-ada tak masuk akal, hal itu dikarenakan otak belum mampu menerima kesadaran sukmawi.

Demikian sebaliknya, jika memahami suatu keyakinan hanya berdasarkan “katanye”, jarene, tentu saja masih akan dicerna dan dikelola oleh otak kiri secara dominan. Akibatnya terjadi stagnansi dalam kesadaran spiritualnya, bahkan yang paling parah adalah tidak sadar jika diri kita sedang tidak sadar. Karenanya, dogma yang hanya dipahami secara mentah-mentah, teksbook, harfiah tanpa adanya upaya pemahaman secara kontekstual, esensial, dan hakekat, ia cenderung membelenggu kesadaran kita. Kesadaran kita bagaikan terperangkap masuk ke dalam “kapsul” kesadaran semu. Alias kesadaran di dalam “goa”, kesadaran yang masih di dalam “tempurung”.

Kesadaran Sukma vs Kesadaran Semu

Kita sadari atau tidak, setiap orang sukmanya tak jarang melakukan aktivitas di luar raganya, bahkan dengan mudahnya mampu menembus suatu “dimensi” di mana hukum ruang dan waktu tak berlaku lagi. Aktivitas sukma tersebut tidak disertai dengan aktivitas raganya, sehingga sebagian orang hanya merasakannya bagaikan mimpi yang seolah nyata, sebagian lainnya tidak menyadari sama sekali. Sukma secara mandiri bisa melakukan aktivitas di luar fisiknya atau wadah/warangkanya, demikian pula raga dapat melakukan aktivitas di luar kendali sang sukma. Raga yang demikian ini yang kita sebut sebagai pribadi yang “nuruti rahsaning karep”, pribadi yang mengumbar nafsu. Beresiko  tinggi untuk salah langkah, salah pilih, dan salah kaprah memahami dan menjalani kehidupan ini.

Seperti peristiwa roh yang “berpamitan”, sebagaimana kisah dalam peristiwa di atas merupakan suatu aktivitas sukma tanpa raga. Seringkali saya bertanya langsung secara wadag kepada seseorang yang kebetulan sukmanya barusaja melakukan aktivitas di luar raganya. Perlu belajar ! Karena hanya sedikit saja orang yang benar-benar menyadari apa saja aktivitas yang dilakukan oleh sukmanya sendiri. Dari yang sedikit itu, hanya sebagian orang saja yang sungguh bisa membedakan apakah suatu “mimpi” benar-benar merupakan pengalaman sukmawi, tanpa melibatkan raga. Atau hanya sekedar imajinasi, ilusi, dan kamuflase “alam pikiran bawah sadar” saja.  Tak dapat dipungkiri banyak orang merasa dirinya pernah dan tahu suatu dimensi gaib. Tetapi apa yang diketahuinya hanyalah sesuatu yang semu, yang hanya sekedar ilusi, imajinasi, dan merupakan endapan-endapan dari dalam “alam pikiran bawah sadar”.  Oleh sebab itu sangatlah bijaksana bila tidak menjadikan peristiwa mimpi sebagai suatu tolok ukur menyimulkan benaran religius. Bukanlah sesuatu yang istimewa sekaligus bukti kebenaran hakiki apabila masing-masing umat agama, pernah mengalami mimpi yang di dalamnya terdapat gambaran-gambaran atau simbol-simbol agama yang dianutnya. Hendaknya jangan lantas buru-buru menyimpulkan bahwa agama yang simbol-simbolnya masuk di dalam “alam mimpi” tersebut merupakan bukti bahwa agama yang dipeluknyalah satu-satunya yang bener.

Kadang antar sukma orang-orang yang masih hidup dapat berjumpa dalam dimensi gaib. Hanya saja masing-masing tidak menyadarinya. Adapula yang salah satu pihak dapat menyadari sementara pihak yang lain belum bisa menyadari aktivitas pertemuan antara dua sukma. Namun begitu, getaran nurani biasanya memiliki kecermatan yang tinggi.  Melalui getaran nurani anda bisa merasakan suatu kedekatan batin atau tali rasa yang bisa anda rasakan begitu dekat dengan seseorang. Mungkin hal itu karena antara sukma anda dengan seseorang dimaksud pernah berjumpa dan berinteraksi di dalam dimensi “halus”. Seperti yang peristiwa batin yang terjadi pada Kang SG dengan Mas SHD beberapa minggu yang lalu (lihat komentar dalam Membedah Alam Fikiran SSJ). Seolah-olah hanya sekedar  mimpi yang terasa nyata, tapi jika dikroskan pun ternyata cocok dengan keadaan yang sebenarnya. Itulah pertemuan antar sukma.

Bedakan Alam Pikiran Bawah Sadar

Sekalipun sukma melakukan banyak aktivitas namun belum tentu aktivitasnya diketahui oleh kesadaran raganya. Seolah terdapat dinding yang sangat tebal yang memisahkan antara kesadaran sukma (kesadaran rasajati) dengan kesadaran raga. Bagi yang mulai bisa merasakan kesadaran sukma jangan puas dahulu. Karena seringkali alam bawah sadar lah yang sebenarnya muncul. Misalnya, manakala anda mengalami mimpi,  di mana di dalam mimpi muncul berbagai simbol-simbol dan atau mengatasnamakan agama. Misalnya anda melihat sukma kakek anda  sedang melakukan sembahyang. Jelas..kehidupan sukma sudah tak butuh suatu religi lagi. Kesadaran sukma pun tak perlu lagi identitas dan simbol-simbol religi, karena sudah berada dalam alam kehidupan yang sejati, keadaan yang serba hakekat dan dalam “bahasa” yang bersifat universal. Mimpi seperti merupakan “bunga tidur” karena sudah terpolusi oleh data base yang tersimpan di “alam pikiran bawah sadar” anda sendiri. Alam bawah sadar dapat terinstal suatu gambaran, pelajaran, dan ilmu pengetahuan melalui proses proses belajar/pendidikan, pengalaman fisik inderawi/ragawi, maupun diperoleh melalui indoktrinasi.

Prasangka dan Konsep Berfikir Yang Tak Logis

Seringkali kita dengar kalimat, “jangan mendahului kehendak tuhan, itu larangan & dosa besar!Sebagai contoh misalnya pada saat kesadaran sukma anda mampu weruh sadurunge winarah, mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (kejadian futuristik), seringkali orang lain lantas berprasangka buruk, “…wah..itu namanya dosa besar karena mendahului kehendak tuhan!

Hmmm…tuhan yang mana yang kehendaknya bisa didahului oleh mahluk? Kalimat di atas terasa sebagai kalimat sangat bodoh. Walau tidak pernah sekolah, rasanya tuhan tidaklah bodoh, apalagi sesimple pola pikir manusia seperti dalam konsep di atas. Apakah pada saat manusia sudah tahu apa yang akan terjadi, sementara tuhan malah belum tahu karena belum menyusun suatu rencana? Tentu saja tidak. Jika anda weruh sadurunge winarah, hal itu semata karena anda sebagai manusia mau mengolah dan memanfaatkan “perangkat lunak” (software) anugrah tuhan yang ada dalam diri anda. Sehingga anda bisa mengetahui atau menangkap sinyal-sinyal suatu rencana ketetapan tuhan. Jika anda tahu sesuatu akan terjadi di masa mendatang, hal itu bukanlah mendahului kehendak tuhan namanya. Dalam konsep pola pikir “mendahului kehendak tuhan” arti yang tersirat bahwa  tuhan belum punya rencana tapi anda sudah menceritakan sesuatu yang akan terjadi kelak di suatu hari. Kesannya tuhan menjadi lebih bodoh dari manusia, bahkan patuh pada manusia. Maknanya menjadi sangat janggal.

Kiranya manusia tak akan bersalah bila memiliki kemampuan mengintip apa rencana tuhan (weruh sadurunge winarah). Kalau memang tuhan tak menghendaki rencananya diintip/diketahui mahluk, pastilah tuhan akan “mengunci dan menutup rapat” mata setiap manusia, agar supaya rencanaNya tetap menjadi X File yang untouchable oleh kesadaran manusia setinggi apapun juga. Logikanya, jika suatu kejadian futuristik dapat diketahui oleh manusia yang mau mengolah dan menajamkan batin, tentu bukanlah merupakan  suatu larangan bagi tuhan. Dengan kata lain, tuhan membiarkan manusia mau peduli untuk mengetahui atau cuek-cuek saja akan apa yang terjadi di masa mendatang. Apa untungnya ? Tentu saja bagi orang yang sempat mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang (kejadian futuristik) dapat mempersiapkan diri menentukan langkah antisipatif, mengevaluasi dan mengoreksi diri pribadi beserta lingkungan sosialnya.

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juni 15, 2010, in Sukma Tahu Kapan Raganya Akan Mati and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 104 Komentar.

  1. Blog sampean bisa buat wangsit untuk saya nih……tanks/

  2. Kepada siapa saja yang berkenan memberi response. Saya pernah baca buku bahwa Siti Jenar pelopor pembentukan masyarakat yang beranggotakan “rakyat”. Intinya bukan sebagai “abdi” pada jaman kerajaan2 jawa dahulu. Implikasinya, pemahaman saya, kalau abdi adalah sepenuhnya jadi reh-rehan/milik raja. Bila raja mau istri/anak abdinya ya tinggal utusan untuk menjemput. Kalau sudah tidak kepakai diberikan kepada siapa saja diantara abdinya. Beberapa punya isteri selir yang banyak dan anak yang banyak, puluhan. Yang seperti ini bagaimana kira2 “kejawen”nya. Sementara “rakyat” tidak seperti itu. Ia punya hak hak yang raja sekalipun tidak bisa berlaku semena mena. Mengambil istri/anak/kudanya umpamanya. Saya bertanya tanya apakah secara umum sebagai selir atau mendapat istri triman itu dianggap oleh “abdi” dimanapun tatarannya sebagai kehormatan ? Atau karena takut menolak. Apakah raja tersebut orang jawa tapi tidak “jowo” ? Disamping itu juga para abdi yang mengabdi secara total dengan “gaji” yang jumlahnya tidak masuk akal. Kupupus angan angan saya bahwa bagi mereka uang bukan hal yang utama tetapi bisa sebagai abdi total itu dianggap pencapaian yang luhur. Sehingga sampai mati ya seperti itu keadaannya, secara materi hidupnya miskin. Sptnya banyak tanah luas, pabrik gula (kerja sama dg belandakah?) dll sumber keuangan yang pengelolaannya mutlak ditangan raja, begitukah. Juga pernah dipertanyakan apakah syeh siti jenar itu ada atau tidak. Lho ? Ini sudah berjalan jauh lha kok ternyata masih ada pertanyaan seperti itu. Yang saya ingin tahu keterkaitan ajaran syeh siti jenar dengan raja(2) jawa apakah selaras dengan kedekatan raja(2) jawa dengan para wali yang lain. Jika demikian dimana letak ajaran syeh siti jenar dalam masalah kejawen.

  3. eheheheh kesalahan dan kekurangan (hitam) ternyata lebih gampang dpt respon dan lebih cepat dpt ponis (hukuman) sementara kebaikan (putih) ga keliatan 🙂 jngn harap bisa membedakan hitam putih ditempat yg ga ada setitik pun cahaya ehehehhehehe

  4. hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya…hi hi hi…

    ttd. Jayabaya

  5. hebat saya suka belajar rahayu

  6. Rahayu,,,

  7. Katur Mas Sabdo Yth.

    mBoten nami kula cumantaka utawi gadhah maksud “Ngendhak Gunaning Jalma” nanging ing pengalaman kados makaten menika kula kok radi nggumun, pepanggihan kaliyan ingkang Sukma kalawau ngendikanipun si Sukma pamitan kamangka penulis taksih wonten nglebet mobil kaliyan ingkang garwa si Sukma menapa wonten jawi mobil?. kok ingkang aneh malih penulis dereng patoso tepang ingkang tepang celak ingkang garwa, biasanipun namung salah setunggal ingkang saget mangertosi utawi ingkang saget mriksani si Sukma. saya malih ngantos ngendikan teteh biasanipun namung langkung sumpena.
    Kula kok gadhah meri, dene penulis saget pinangih sukma sukma tiyang ageng menapa inggih sampun pinanggih sukmanipun tiyang biasa boten tetiyang Top. utawi sederekipun celak ingkang badhe seda?… maturnuwun saha nyuwun pangapunten.

  8. katur rahayu ,mugi dadoso sasmitoning gesang kawulo…

  9. Ki Sabdo ndherek tepang, menawi pareng kulo nyuwun alamat ingkang dipun lenggahi kaliyan no tlp ingkang saged dihub. Mbok bilih sakmangke pas wonten kitho panjenangan, menawi kepareng kulo badhe sowan. Nuwun

  10. Aba
    Mohon di ajari semua melalui email Ngge?

    matur Nuwun sanget

  11. Indra Hardjosoegondo

    Assalamualaikum wr wb…
    Sugeng rahayu Ki dan Para sedulur
    Salam kenal semuanya
    Membaca tulisan Ki diatas dan setelah saya renungkan lagi, saya jadi teringat dengan pengalaman pribadi saya. Pernah suatu ketika seorang teman menyapa saya dan mengatakan bahwa dia melihat diri saya sedang berdiri di dekat rel kereta api dengan mengenakan pakaian batik, tetapi tidak menjawab ketika disapa sehingga membuat teman saya sedikit jengkel. Padahal, pada saat teman saya melihat saya berdiri di dekat rel itu, posisi saya sedang mengantar Ibu mertua menabung di sebuah bank yang lokasinya berjauhan dengan rel kereta api itu. Tentu saja saya hanya bisa celingukan dan kebingungan mendengar cerita teman saya itu. Pernah juga suatu hari, saya dan keluarga mengunjungi pesta tunangan keluarga di Madura. Dan dalam perjalanan di angkot menuju lokasi,ada seorang bapak-bapak tua yang belum pernah saya kenal menyapa saya dan mengatakan bahwa dirinya sering melihat saya duduk-duduk di sebuah warung di terminal bus. padahal, saya sendiri tidak pernah duduk-duduk di warung tersebut. Apakah itu sukma saya yang tengah beraktivitas diluar kesadaran raga saya ya Ki? Mohon pencerahannya. Matur Nuwun

  12. anda benar ki sabda, sukma tahu kapan raganya akan mati adalah benar .. karena pernah terjadi dikeluarga saya sendiri … (kakek saya)

  13. Semakin banyak yg bercomment aku semakin bingung! Tp dlm diriku ada sesuatu yg persis seperti yg di sharekan. Contoh,pamitannya sukma hal ini sdh sering aku alami kalo ada kerabat atau kenalan yg akan meninggal. Santet dan berbagai jin banyak yg aku ketahui dan anehnya para Jin rata2 pada sungkan sama aku. Contoh setiap ada orang kerasukan atau sejenisnya, aku cukup membentak siKesurupan tsb dan langsung sadar. Padahal seumurku yg mendekati 30 th aku blm pernah lelaku atau tirakat. Bahkan krn aku seorang akademis mk hal2 yg bersifat mistis aku anggap sebuah kebetulan atau fenomena yg tak masuk akal. Cuma bpk2 atau poro wasis disini ketahui bahwa leluhur saya adalah keturunan kraton Solo. Buat yg mbaca tulisan saya mohon pencerahannya. matunuwun.

    • Mas Rio Akbar Yth
      Tanpa Anda sadari, para leluhur Anda telah menurunkan suatu kemampuan/ilmu yg menyatu manjing ke dalam diri Anda.Mungkin hal itu terjadi sejak masih berada di dalam kandungan ibu maupun sejak masih usia kanak-kanak. Soal kebetulan dan tidak masuk akal. keduanya hanya disebabkan kurangnya pemahaman dan informasi ttg rumus-rumus dan hukum alam yg sesungguhnya ada dan berlaku. Maklum krn semenjak kecil lebih banyak diperkenalkan ilmu-ilmu eksakta, yg non eksakta pun sangat terbatas daya jelajah spiritualnya nya. Jadi yg berkembang pesat hanyalah otak bagian kiri, sementara otak bagian kanan kurang tergarap secara optimal.
      Salam karaharjan

    • Alangkah baiknya kalo ada yg kesurupan ga perlu dibentak mas…kadang ada pesan yg ingin disampaikan oleh makhluk gaib tersebut…sebab-akibat kok mas begitu itu….maksudnya biar selaras dan harmonis hubungan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan…matur nuwun…..rahayuuu

  14. Kisabdo
    salam
    assalamualaikum
    wr.wb untuk
    panjenengan,dan
    semua para pembaca
    digubuk sejuk ini,.
    dan kita sama-sama
    mengkaji ilmu Allah
    ini,…
    langsung saja pada
    pokok masalah yg
    ingin aku tanyakan
    kepada Kisabdo dan
    juga tentunya kepada
    pembaca blog ini ,.
    apakah dialam nyata /
    alam yg tidak terlihat
    oleh setiap orang
    mempunyai nama/
    gelar “PANGERAN
    SABLENG”?
    Itu saja yg
    kutanyakan,ringkas
    tepat padat
    jika ada yg tahu
    tolong email ke
    meigaan@gmail.com
    trima kasih dan
    assalamualaikum……

  15. nyuwun sewu sedulur, nderek ngaos kaweruh,
    sajake seru tur kepenak neng ati.

  16. Segala Puji bagi Allah Penguasa Jagad raya, Puja Puji Seharum Ketsuri.
    Assalamuallaikum wb wb.
    Sungguh suatu pelajaran yang sangat baik, terimakasih dan penghargaan saya aturkan kepada mas sabda langit atas kesedianya berbagi pelajaran dalam blog ini.
    Saya hanya sedikit mengingatkan barang kali diantara kita ada kelupaan/ kealpaan dalam memahami kehendak/ketentuan Ilahi.
    Kelestarian Alam semesta diletakan pada rumus keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan
    Manusia ditugaskan untuk menjalankan peranya sebagai aktor utama dalam panggung alam semesta.
    Benar sekali, cuma kita harus tau yg dimaksud keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan itu apa. bukankah keseimbangan itu dua sisi mata uang: ada baik ada buruk, ada pinter ada bodoh, ada tinggi ada rendah dll. manusia satu dengan yang lainya mempunya peran yg berbeda2, ada yg peranya jd orang pinter ada juga yg hrs jd orang bodoh, ada yg peranya mempunyai kepekaan batin ada juga yg peranya hanya sebatas ragawi. masing2 peranan tidak bs dipaksakan keperanan yang lainnya, kalo dipaksaan keseimbangan alam akan rusak dan kelestarian alam terancam.
    Kalo di alam ini diisis hanya oleh orang pinter siapa yg menjalankan peran kebodohan, kalo dialam ini diisi semua orang kaya, semua orang batiniah, semua ahli teknologi, semua pekerja keras, semua prisiden semua baik, siapa yg akan berdiri disisi lainya, disisi yang tidak enak tentu semua manusia tidak ada yg mau.

    Yang kedua keharmonisan dan keselarasan, dalam melestarikan dirinya Alam ini membentuk hukum yang disebut sebab akibat. ada asap pasti ada apinya, ada kejadian pasti ada penyebabnya. kita sebagai pemegang peranan sebagai kalifah dan pengelola alam harus bisa menjaga keharmonisan dan keselarasan dua hukum tersebut. ekosistem, rantai makanan, adalah salah satu yang harus dijaga supaya alam ini bisa terpelihara dan masih banyak yg lainya. saya tidak perlu jelaskan lebih detail karna saya yakin yang masuk ke blog ini tdk jauh dari ilmuwan, ahli fikih, sufistik atau ahli dalam pandanganya masing2.
    menurut saya kita tidak usah bermuluk2 menginginkan semua manusia mengetahui dan menjalankan apa yang kita pahami. yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan kualitas diri kita supaya kita bisa menjalankan peranan yang ditugaskan kepada kita dengan baik. mungkin ada yang bertanya: “berarti kita g harus berdakwah?’. berdakwah itu wajib menyampaikan kebenaran dan kebaikan, menyerukan ketauhidan, selebihnya Allah yang menentukan. “tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu merubahnya sendiri.”, “Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah.”
    Demikian semoga bermanfaat, jika ada kesalahan dan kekeliruan mohon dimaafkan dan dibenarkan karna saya manusia biasa yang tidak luput dari lupa dan kekurangan.
    Semoga Penguasa Jagad raya memberikan Pencerahan dari apa yang kita pahami, dan memaafkan/mengampuni kekurangan kita. Amin

    wasalamuallaikum wr wb

    • Sabda Alam
      Maret 4th, 2013 pada 20:09

      Assalamuallaikum wb wb.
      Segala Puji bagi Allah Jagad raya, Puja Puji Seharum Ketsuri…ITU TIDAK PERLU … karena Allah itu seperti BUNGA, TIDAK BUTUH DIPUJI …yg butuh dipuji itu adalah MANUSIA.
      Sungguh ini suatu pelajaran yang sangat baik bagi Sabda Alam
      … menurut saya kita tidak usah bermuluk2 menginginkan semua manusia mengetahui dan menjalankan apa yang kita pahami… yg bodoh biarkan bodoh … yg merasa ajarannya paling benar dan diridhoi oleh Allah biarlah selalu meng KAPIR kan orang yg tidak sama dg ajarannya
      … berdakwah itu wajib menyampaikan kebenaran dan kebaikan, menyerukan ketauhidan, selebihnya MANUSIA yang menentukan BUKAN Allah… “Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak MANUSIA,… BUKAN Allah.”

      Allah TIDAK IKUT CAMPUR dg urusan MANUSIA, karena HUKUM UNIVERSAL Jagad Raya sudah bekerja secara OTOMATIS, tinggal bagaimana MANUSIAnya.

      Demikian semoga bermanfaat, jika ada kesalahan dan kekeliruan mohon dimaafkan dan dibenarkan karna saya manusia biasa yang tidak luput dari lupa dan kekurangan.
      Semoga kita dapat Pencerahan dari apa yang kita pahami, dan maafkan kekurangan saya. A-plus

      wasalamuallaikum wr wb
      Sabda Alam

  17. bersama_bangkit

    Assalamu’alaikum,….
    nderek langkung,……nderek maos,..nambah kawruh,……
    mugi2 kemawon ndadosaken amal kesaenan kagem ingkang nulis,…Amiiin,….

  18. oh, jadi kalau mimpi tapi terasa nyata itu pertemuan sukma yah? Maaf, mau tanya, sebenarnya kalau ingin “berkaca” sy ini siapa atau ingin mengetahui seluk beluk diri ini itu caranya bagaimana yah.. Matur suwun

    Salam hormat

  19. suatu tulisan yang menarik.. kalo versi islamnya :
    AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU
    Artinya : Manusia itu rahasiaKu dan Akulah rahasianya.

    WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN
    Artinya : Aku ada di dalam Jiwamu, mengapa kamu tidak melihat?

    WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
    Artinya : Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu.

    kalo di tanah arab TUHAN itu= ALLAH
    kalo di barat TUHAN itu = GOD
    di Tanah Jawa TUHAN itu= Gusti
    di Tanah Sunda TUHAN itu= Gusti Pangeran…

  20. Sperti yang pernah saya dengar bahwa setiap manusia itu dikasih tahu kapan akan mati berikut tanda tandanya, hanya manusia jarang yang mampu mengetahui karena tidak mempertajam mata batin. Penjelasan diatas sangat gamblang dan mudah dimengerti. Yang tidak mudah adalah memanage hati, mengendalikan nafsu/ambeg dan tentunya membedakan alam bawah sadar atau aktivitas sukma

  21. roso menawi sedoyo menungso sampun dumugine pati.rogo bali maneh dateng tanah sebab asal ususle saking hasil dari tanaman dari tanah, sukmo -roh menungso mbenjang wangsul dateng asal usule ,menawi miturut kitab alquran kasebut asal- usul menungso kang kapindah inggih saking nabi Adam,sakderengipiun nabi Adam turun kebumi nabi Adam diperingatkan “jangan sekali-kali memetik buah quldi,karena nabi Adam jadi memtik buah quldi maka nabi Adam diganjar turun ke bumi dengan diberi daya cipta,rasa dan karsa untuk memenuhi segala kepentingan nabi Adam.Karena itu kalau setiap manusia mati akan kembali kehidupan nabi Adam sebelum turun ke bumi umat islam mengucapkan “inalilahi waina ilaihi rojiun” artinya wangsul dumateng kersane Tuhan Alloh SWT yaitu surga karena asal usulnya nabi Adam dari surga.

  22. Sesungguhnya ayat-ayat Qur’an yang nyata adalah apa yang ada di Jagad Raya semesta, baik yang terlihat maupun yang gaib. dan sesorang yang mampu melihat sukma seseorang adalah orang2 tertentu, baik itu melalui proses belajar ataupun orang yang diberikan kemampuan itu oleh ALLAH SWT.
    dan salah satu ayat adalah adanya sukma dan raga kita, dalam salah satu hadist bahwasanya ALLAH itu lebih dekat dari urat nadi yang ada di leher kita. hanya orang2 yang dapat menjaga kesucian sukma dan raga maka orang tsb. akan diberikan Ilmu LADUNI………..

  23. Trimakasih yg sebesar besarnya buat ki sabda.. Yg telah memberikan tuntunan untuk saya yg memang sedang mencari jalan menuju apa yg selama ini saya cari dalam kehidupan.

  24. ngapunten…mboten diagem…ugi mboten kagem…
    ngapunten…mboten badhe mbeta…monggo pun agem…menawi kersa ingkang badhe dipun agem…
    ngapunten

  25. Mengetahui tnd kmtian itu pnting!! tpi mnyediakn bekal untk mnghadpi kmtian,itu lbih pnting!!!!,dr pd mmbuang umur mnuntut ilmu spy thu kmtian,,,, lbih baik mnggunakn umur untk mnyediakn bekalnya.!!!!.

    • Mas Rahman YTh
      Premis panjenengan ada benarnya. Tapi tdk optimal. Jika orang hanya melihat dengan samar apa, di mana dan bagaimana, obyek yg menjadi target sasaran atau tujuan hidup. Tentu bekal, tata cara dan persiapannya menjadi spekulatif dan tidak optimal. Sebaliknya jika kita tahu dengan lebih jelas apa, bagaimana target sasaran, atau tujuan hidup, membuat usaha kita lebih efektif, efisien, dan kita menjadi lebih wellprepare.
      Rahayu sagung dumadi

  26. Pangeran Jawi Wetan

    nyimak,……

  27. Dadang Kusuma Atmaja

    Apakah selama ini aku merasakan hal ghaib itu seperti merasakan mahkluk” halus, baca aura, transfer energi dll itu cuma khayalan belaka atau benar ya? soal nya kata teman” yg bisa lihat semua yg aku sebutkan itu benar. Dan saya tidak tahu harus bagaimana, di sisi lain silsilah dari keluarga ibu saya dari keturunan keraton jogja yg ceritanya kawin lari. Mohon jelaskan secara detail, dan saya tidak tau harus bagaimana mengenai kondisi ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: