SECERCAH HARAPAN MERAPI

SECERCAH HARAPAN MERAPI

Hari ini (Jumat Legi tanggal 19 Nopember 2010) adalah hari ke 35 atau tepat selapan hari sejak  acara labuh ke Merapi pada Jumat legi tanggal 15 Oktober 2010. Kali ini kami kembali melaksanakan ritual agung multi etnis dan multi kepercayaan yang kami pusatkan di dua tempat, Pasarean Agung Agung Kotagede di mana sumare para ratugung binatara, paranata, putra wayah dan sahandap sentono dalem. Ki Ageng Pemanahan, Nyi Ageng Enis, Panembahan Senopati, Kanjeng Ratu Kalinyakmat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Sultan Hadiwijaya (Ki Jaka Tingkir),  Pangeran Jayaprana, Ki Juru Martani, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Sinuhun Sampeyan nDalem Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dan di Pasarean agung Imogiri di mana sumare sapanghandap sampeyan ndalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrawati, Kanjeng Ratu Batang, Gusti Hamangkurat Jawi, Sri Sultan HB III s/d IX, Sinuhun Kanjeng Sunan Pakubuwono I s/d IX dan masih banyak lagi.

Acara diikuti oleh sekitar 250 orang terdiri dari para abdi dalem Kraton Solo dan Jogja, juga masyarakat umum dari berbagai daerah. Dengan fokus tujuan yakni harapan dan upaya agar seluruh makhluk yang ada di bumi ini terutama di daerah-daerah rawan bencana di manapun berada, apapun suku dan agamanya di wilayah nusantara ini mendapatkan berkah keselamatan dan kesejahteraan jiwa-raganya, lair dan batinnya. Selain itu ada adalah harapan besar untuk kesuksesan suatu kepemimpinan di wilayah paling utara batas zona nusantara di mana pada zaman dahulu sebelum Masehi sebagai starting point cikal bakal lahirnya bangsa besar yang kini disebut bangsa Indonesia di kepulauan nusantara.

Malam itu sungguh istimewa, acara dipusatkan di dalam pelataran pasir pasarean agung Kotagede Panembahan Senopati dengan menggelar tikar dan ubo rampe sesajian lengkap juga gelar tumpeng nasi kuning komplit dan tumpeng nasi putih sebagai simbol penghormatan kepada leluhur di tlatah Kutai dan Mataram. Tak kurang nasi dus untuk semua peserta yang hadir. Acara dimulai pada jam 21.11 wib. Pranata adicara (mc) adalah abdi dalem pasarean wakil dari Solo segera membuka acara dengan sambutan singkat dan padat. Dalam membuka sambutan, berkali-kali MC megatakan “sugeng rawuh katuraken dumateng panjenenganipun Raden Mas Sabdopalon ingkang paring dawuh ngleksanaaken adicara malem tirakatan punika…” dan MC menyebut pula nama-nama para leluhur agung yang sumare di Pasarean Agung Kota Gedhe dan Imogiri. Banyak perserta tirakatan agak bingung kenapa MC menyebut Sabdopalon dari awal acara hingga penutup dan kenapa pula tidak ada yang meralatnya. Tampak beberapa peserta agak bingung dan menyangka MC telah melakukan kesalahan dalam menyebut nama. Tapi sebagian besar lainnya tampak tetap tenang seperti tak ada yang salah.

Sugeng Rawuh Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong

Beberapa di antara kami, rekan-rekan yang memiliki bakat bawaan lahir bisa melihat dan berinteraksi dengan titah gaib. Tak mengherankan jika malam itu banyak yang menyaksikan sebagai acara yang istimewa karena benar-benar dihadiri oleh banyak leluhur besar nusantara terutama yang sumare di dua pasarean agung tersebut. Namun ada satu hal paling istimewa, di mana saat acara selesai pada jam 23.00 kami melihat ada satu leluhur yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Ternyata beliau adalah Ki Sabdopalon (saudara kembar Ki Noyogenggong). Dalam hati saya, “inilah beliau sosok legendaris yang banyak dibicarakan orang, dan ternyata betul-betul ada, sebagai sosok yang sederhana mengenakan udeng di kepala. Berperawakan tidak gemuk, tidak kurus tinggi sedang semampai dengan wajah yang bersih berseri. Suara dan tutur kata yang lembut tak ubahnya seorang resi arif bijaksana. Yah, malam itulah banyak di antara kami merasa beruntung, bisa menyaksikan sosok legendaris itu betul-betul rawuh.

Apakah rawuhnya Ki Sabdopalon dan Noyogenggong sudah beberapa waktu lamanya atau baru malam itu, dengan sebelumnya ditandai Gunung Merapi meletus dahsyat 5 pada  Nopember 2010 lalu ? Hal itu saya pikir tidaklah menjadi soal, yang paling penting adalah bahwa Ki Sabdopalon  benar-benar telah rawuh. Beliau netepi janjine yang diucapkan pada 500 tahun lebih yang lalu. Kedatangannya bukan untuk menghancurkan, tetapi akan memberikan pelajaran hidup bagi manusia Jawa yang telah hilang kejawaannya. Pelajaran yang diberikan bukanlah dengan kekerasan, peperangan, kelicikan, atau pun keculasan. Bukan itu jalan yang bakal ditempuh. Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong tokoh yang pandai  belajar dari sejarah, menghargai sejarah, dan tahu sejatinya hidup. Beliau berdua memberikan pelajaran melalui aras kasih sayang, welas asih, dan memberikan pelajaran-pelajaran berharga melalui peristiwa dan pengalaman hidup. Hanya tinggal tergantung kita saja, apakah mau dan sudi untuk belajar dari peristiwa dan pengalaman atau mau ndablek. Itu pilihan masing-masing orang. Tentu saja, masing-masing pilihan akan memiliki konsekuensi yang berlaku secara adil dan bijaksana. Yang tak mau ambil pelajaran akan rugi sendiri dan tergilas oleh dinamika zaman. Sementara yang mau belajar akan menjadi orang yang selalu beruntung, selamat, sejahtera lahir dan batin.

Kenapa Bergejolak ?

Perlu diketahui, Merapi bergolak karena ada beberapa alasan, pertama; karena ulah manusia yang sudah tidak menghargai para penghuni dimensi lain yang jelas-jelas selama ini selalu konsisten menjaga keselarasan alam semesta, sehingga lagi-lagi manusia lah yang diuntungkan. Tapi pernahkan mayoritas manusia sadar diri telah berhutang budi dan jasa kepada sesama makhluk di bumi ini, sehingga manusia beradab untuk berterimakasih ? Saya lihat yang terjadi justru sebaliknya, sebagian manusia malah mendisreditkan, menjelek-jelekan, menghina, tidak menghargai makhluk lain dengan menuduhnya sebagai sumber kesesatan, kemusrikan, angakara, dan dunia hitam kejahatan. Sekedar untuk berempati, bagaimana perasaan Anda apabila setiap saat konsisten menjaga ketentraman lingkungan masyarakat di temat mana Anda hidup, tetapi ada kelompok masyarakat yang memfitnah, mendistkreditkan, dan menuduh Anda sebagai penjahat dan biang kerok ? Sesuai janji Ki Jurutaman (abdi dalem Panembahan Senopati) ia akan tetap setia menjaga Jogjakarta dari letusan Merapi, dengan syarat, selama masyarakat masih memiliki kesadaran kosmos, untuk saling menghormati dan menghargai sesama makhluk ciptaan Tuhan, apapun wujudnya, dan bagaimanapun caranya. Terbukti ratusan tahun sejak Ki Jurutaman “bertugas” menjaga Merapi, gunung Merapi tak pernah sekalipun menebar abu vulkanik ke arah Jogja.  Tahun  2006-2007 adalah batas kesabaran terakhir “masyarakat” Merapi. Tahun 2010 kesabaran itu tak lagi bisa diulur–ulur karena tindakan masyarakat manusia terhadap para “tetangganya” itu sudah keterlaluan. Inilah yang dimaksud masyarakat melanggar paugeran. Atas pelanggaran itu, berdampak sikap kecewa Ki Jurutaman yang ditandai luruhnya geger boyo (glacap gunung) pada tahun 2007 lalu . Geger boyo atau glacap gunung yakni hamparan bukit yang mirip punggung buaya, yang berada di sebelah selatan kawah Merapi berfungsi sebagai tanggul penahan arah lava pijar supaya tidak mengarah ke selatan (Jogjakarta). Sejak longsornya geger boyo pada tahun 2006, Jogjakarta mulai mendapat kiriman abu vulkanik, saat itu tahun 2007 saat Merapi terjadi erupsi, abu vulkaniknya mencapai Jalan Gejayan dan Condong Catur Yogyakarta. Peristiwa yang sama-sekali belum pernah terjadi sejak ratusan tahun silam. Alasan kedua; bergolaknya Merapi karena “masyarakat halus” gunung paling aktif di dunia itu hingga kini belum lah memiliki “seorang” ratu. Tidak seperti gunung Lawu dengan Dewi Untari (Dewi Nawang Sari). Memang banyak penguasa di sana sebut saja di antaranya adalah Mbah Petruk. Tetapi mereka bukanlah sosok yang hangratoni jagad Merapen, melainkan sekedar penguasa sebagian wilayah saja. Karena “masyarakat halus” Merapi lebih awas ketimbang masyarakat manusia yang sudah bebal ketajaman batinnya, mereka tahu jika ada seseorang yang layak diangkat menjadi ratunya, yakni Hyang Wuhud Mbok Rondo Kasiyan (cemoro pethak) yang tengah mengandung calon sang hyang Ratuning Jagad Nusantara. Masyarakat Merapen sangat mengharapkannya bersedia menjadi ratu junjungan untuk “masyarakat” Merapen. Saya pikir sangat wajar dan maklum, siapapun…”masyakarat halus” maupun agal berharap memiliki pemimpin yang “sekti mandraguna”, dan berbudi bawa leksana. Sehingga Merapi ingin “meminang” mbok Rondo Kasiyan untuk jumeneng sebagai ratunya. Tapi pada 19 Nop 2010 “pinangan” itu ditolak secara bijaksana oleh Mbok Rondo.

Sun iki titah jalma, sira kabeh titah alus,
papan ku lan papan mu dewe-dewe.
Prayoga sira kabeh goleka ratu
saka bangsamu titah alus bae.
Sun sadrema nglampahi jejibahan
Murih laire bocah kang wus dangu digadhang
para ngaluhur lan bangsa.
Kita kabeh padha donga-dinonga
murih slamet.
Sakabehing titah alus aja padha kuwatir,
samengko bakal akeh pramudha
kang handarbeni rasa welas asih
lan ngajeni mring samubarang titah gesang,
iyo sato kewan, bangsa wit-witan,
kalebu sakabehing titah alus.

Andil Besar Para Leluhur

Tentu saja kepentingan masyarakat Merapen berbenturan dengan kepentingan masyakarat manusia.  Di mana masyarakat manusia telah lama mengidam-idamkan figur pemimpin (ratu) yang berbudi bawa leksana, berwatak adil dan rendah hati, yang bisa selalu mengasah mengasihi mengasuh, arif  bijaksana terhadap rakyat agal maupun halus. Ialah calon pemimpin (negarawan sejati) yang akan mampu mengangkat martabat nusantara untuk menggapai kejayaannya di kelak kemudian hari. Doa tidak akan cukup hanya diulang repetitif melalui mulut sekalipun sampai berbusa dan kering. Doa harus disertai upaya konkrit. Oleh sebab itu kepedulian leluhur sangat diharapkan untuk andil dalam menjaga keselarasan dan keamanan. Namun tanpa upaya dari anak turun dan segenap generasi bangsa untuk “menjemput bola” para leluhur, sepertinya leluhur pantang terlibat urusan duniawi.

Kenapa musti leluhur ? Kita semua tentu telah pahami, bahwa seluruh makhluk hidup tidaklah sempurna yang bisa melakukan segalanya, mereka semua ada dengan segenap perbedaan-perbedaan  supaya  dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Ada hal yang bisa manusia hidup lakukan, sementara hal tersebut tak bisa  dilakukan leluhur. Banyak hal yang bisa dilakukan leluhur apalagi yang menggapai kamulyan sejati, sementara kita yang masih mempunyai raga tak bisa melakukannya. Ada hal-hal yang bisa dilakukan oleh makhluk halus, sementara kita tak bisa melakukannya. Banyak pula hal-hal yang tak bisa dilakukan oleh makhluk halus, sementara kita bisa melakukannya. Begitulah seharusnya hidup saling melengkapi, saling menghormati. Bukan menuduhnya dengan nilai-nilai kekejian. Kita lebih baik selalu waspada, jika betul-betul tidak menyaksikan, mengalami atau melihatnya sendiri, coba lah berfikir korektif, “jangan-jangan persangkaan buruk yang kita tuduhkan itu  ternyata salah. Apa jadinya ? Bukankah lebih baik berfikir positif kepada seluruh makhluk dari pada berfikir negatif yang pada ujungnya menjadi siksaan perasaan buat diri sendiri ?!

Secercah Harapan

Pada akhirnya, segenap upaya menjemput bola pun menghasilkan secercah harapan. Para leluhur besar nusantara ini berkenan untuk meminta “masyarakat” Merapen untuk cooling down supaya Merapi tidak lagi bergolak lebih besar. Malam itu, demikian banyaknya leluhur agung yang rawuh dan satu di antaranya memberikan kabar bahwa Merapi sudah bisa dirih-rih (didinginkan “hatinya”). Hanya saja masih harus waspada terhadap resiko sekunder berupa awan beracun dan banjir lahar dingin. Namun redamnya Merapi berarti ada sisa magma dan kekuatan besar yang tidak jadi keluar. Jika magma itu harus keluar maka timbulah konsekuensi lain, yakni magma akan mencari lubang (kawah) lainnya yang memungkinkan. Barangkali Anak Krakatau dan Bromo menjadi pilihan tepat, di mana keduanya relatif lebih aman karena kedua gunung tersebut tidak berada di tengah perkampungan dan perkotaan yang padat. Anak Krakatau berada di tengah laut, Bromo pun tidak lah membawa resiko sebesar Merapi, karena masyarakat Bromo (suku Tengger) lebih bisa dipercaya dalam langkah penyelamatan diri. Suku Tengger masih lebih  arif dalam memahami karakter Bromo dan mampu berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan alamnya khususnya wilayah sekitar Gunung Bromo. Dengan kata lain, antara Suku Tengger dan Gunung Bromo masih terbangun hubungan yang selaras dan harmonis.

Lantas apakah RI-1 yang serba salah tingkah dan salah kaprah merupakan wujud bencana baru pengganti Merapi yang sudah mulai coolingdown ? Semoga bukan itu. Sebab jika demikian hal nya, maka harus berhadapan dengan hukum alam yang tak pernah menyisakan ketidakadilan secuil-pun juga. Siapa menanam pohon kebaikan, ia akan menuai buah kebaikan pula. Ibaratnya, barang siapa menanam akan mengetam. Siapa pun yang menabur angin akan menuai badai. Siapapun yang durhaka dan menghianati jerih payah orang tua, dan perjuangan pahlawan serta para perintis bangsa, ia tak akan luput dari bebendu. Karena kita adalah generasi penerus bangsa sungguh telah berhutang jasa kepadanya. Hal itu sudah menjadi  mekanisme hukum sebab akibat, penghianatan akan berbuah kejatuhan.

Kenyataannya, semenjak Ibu Tien wafat, setelah itu tak pernah ada lagi Presiden yang mendapatkan wahyu keprabon. Di mana sebagai tolok ukur apakah seorang pemimpin  direstui oleh para leluhur atau tidak. Jika tidak mendapatkan wahyu keprabon, lantas apa jadinya ? Tentu kita semua bisa melihat dengan jelas dengan mata kepala sendiri.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 30, 2010, in Secercah Harapan Merapi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 301 Komentar.

  1. mas dalbo nggih niku sakniki tinggal kenangan mas BA, smoga tujuan mas BA, membangunkan yg tidur akan mendapat restu para leluhur kita semua, dan alam mendukungnya
    Salam asah asih asuh
    Nuwun

  2. Salam kenal, untuk Budak angon, Bharatayudha, dan semuanya yang ikut sharing di sini.
    Menarik sekali pembahasan mengenai jasad+ruh= jiwa, jiwa sebagai mediator antar jasad dan ruh, apabila mati, jasad kembali ke tanah dan ruh kembali ke Allah, sedangkan jiwa akan mempertanggung jawabkan perannya (mediator) kepada Allah, jadi yang nantinya abadi adalh jiwa. Mohon maaf apabila kesimpulan saya dari membaca diskusi di atas. dan mohon maaf juga saya tidak memakai bahasa jawa ato karena baru sedikit bisa. kalo boleh saya ada pertanyaan untuk bapak2. Tadi disebut sebelum ma’rifat kita harus mengenal diri sendiri, lha bagaimana caranya untuk mengenal diri sendiri ato mengetahui jati diri yang harus dikenali apanya? sifat?nafsu?,keinginan?………….ato yang lain. Mohon jawabannya.

    • bima suci-Nya
      Dia kembar spt ibu kalau lg ngaca ….
      tp hati2 iblis laknalatul maut juga bisa membo2 spt ibu, bahkan orang tua ibu atau leluhur ibu …… maka ketika ajal menjemput banyak rupa2 yg hadir, jangan pedulikan jika yg hadir bukah hu yg haq, maka ucapkan laa bukan kamu yg aku tuju. tapi ILALLAH, jadi tidak ada ilaa ilaa selain allah

  3. Nuwun, Numpang Komentar
    Sebuah obrolan yang sangat cerdas, terus terang saya sangat menyukai obrolan seperti ini, saling berbagi bersama.
    Saya juga mau berbagi sedikit pengetahuan saya yang berkenaan dengan kehidupan kita Manusia sebagai mahluk Tuhan. Keberadaan kita didunia sudah tentu karena Tuhan, namun melalui hukum Sebab-Akibat. Sebabnya adalah pertemuan kedua orang tua kita dan Akibatnya ada kita. Sebabnya adalah pertemuan Sel telur dan Sperma dan Akibatnya adalah ada Pembuahan (Embrio).
    Melalui hal inilah Sang Maha Kuasa dalam bentuk Zatnya masuk menjadi Sang Pemberi Hidup (ada juga yang menyebutnya sebagai Ruh). Sifat Ruh itu tentu saja sempurna sesuai dengan sifat asalnya.
    Lalu kenapa kemudian kita sebagai manusia dikatakan tidak sempurna ?
    Ini juga tidak lepas dari Hukum Sebab-Akibat tadi.
    Sebabnya adalah Ruh memberi hidup kepada Jasad
    Dan Akibatnya ruh akan menjadi Jiwa Mahluk (jiwa kita)
    Berikut ini berturut-turut akan saya urutkan hubungan sebab akibat selanjunya (dengan penjelasan yang sebelumnya menjadi sebab dan yang setelahnya adalah akibat dst) :
    1. Jiwa
    2. Sifat dasar mahluk
    3. Kecerdasan
    4. Egoisme
    Jiwa karena menghidupi jasad melahirkan Sifat Dasar Mahluk
    Sifat dasar mahluk itu ada tiga :
    1. Sifat mulia (sifat ketuhanan / sifat seperti asalnya)
    2. Sifat agresifitas (sebagai akibat positif dari pertemuan ruh dan jasad)
    3. Sifat lamban / malas (sebagai akibat negatif dari pertemuan roh dan jasad)
    Ketiga sifat ini ada pada kita (tergantung yang mana yang dominan pada diri kita)
    Dari tiga sifat ini lahirlah Kecerdasan, ini adalah sifat yang beupa Intelektual Manusia. Sifat mulia dan agresifitaslah yang dominan membentuk Intelektual Manusia.
    Akibat selanjutnya oleh kecerdasan adalah Egoisme.
    Egoisme juga ada tiga bentuknya :
    1. Pikiran adalah ego yang dominan memiliki sifat mulia (Ketuhanan)
    2. Pengindra ; adalah ego yang didominasi oleh sifat agresif
    3. Benih Pengindra

    Pikiran adalah : egoisme yang didominasi oleh sifat mulia (ketuhanan) sehingga pikiran itu bisa menjangkau lebih dari alat pengidra pada diri kita.
    Pengindra adalah : alat yang dijadikan tempat oleh pikiran untuk merealisasikan sesuatu terdiri dari : matauntuk melihat, hidunguntuk mencium, telinga untuk mendengar, lidah untuk mengecap, kulit untuk meraba/rasa, tangan, kaki, mulut, dubur dan kelamin.
    Benih Pengindra adalah : egoisme yang didominasi oleh sifat lamban (bersifat pasif) namun peranannya sangat penting; karena dialah yang membuat Pengindra itu bisa berfungsi. Benih ini adalah : Benih cahaya sehingga mata bisa melihat, benih suara sehingga telinga bisa mendengar, benih rasa sehingga lidah bisa mengecap, benih bau sehingga hidung bisa mencium, dan benih sentuhan hingga kulit bisa merasa/raba.

    Inilah hukum sebab-akibat yang terjadi pada diri kita sebagai mahluk.
    Sehingga prinsip dalam kehidupan yang sempurna itu harus mengenali diri kita terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan secara baik dan efisien.
    Kata Orang Bijak :
    1. Pelihara benih Idra itu dengan baik sebab dia adalah sumber kemampuan Idra
    2. Kendalikan Indra itu secara bijak melalui pikiran dan Kecerdasan
    3. Pupuk sifat mulia/ketuhanan dan jadikan agresifitas sebagai tenaganya
    Niscaya kita akan dekat dengan Sang Jiwa. karena Sang Jiwalah sesungguhnya mewarisi sifat ILLAHI yang bersembunyi dalam diri kita sendiri.

    Salam persahabatan

    • gemerlapkan jiwa…
      semikanlah cinta
      semoga kau dan aku akhirnya bersama
      aku kan menunggun walaupun seribu tahun lagi
      woooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo……

      by SITI NURHALIZA…..

  4. jangan nyam pah dan sum pah sera pah…hi hi hi…

    di sini kumpulan kawulo sakti…hi hi hi

  5. Rahayu,,,,
    wah podo adu kepinteran kabeh,,,
    mboten wonten menungso seng sempurno lo dulur,,,,
    nuwun:)

  6. waktu telah berbicara meninggalkan bekas** cerita. tlah aku jalani semua pelajaran hidup dari orang per orang yang pernah mampir di hidupku. sakit, senang, sedih, bahagia, rona hidup bergulir bagai roda.

    Jawa Tengah ( yogyakarta ) 6 bulan aku tinggal di sana. hidup menggelandang menyusuri lorong** benteng, bergumul dengan gelombang hari yang kadang penat kadang juga melegakan.

    Desir pantai parangtritis, tempat di mana pernah terlontar kata** amarah tak tertahan memukul** hari yang tiada dapat aku dekap dalam damai desah alunan nafas.

    Kota gedhe, di mana aku di dudukkan dalam tangis yang entah datang dari mana menusuk** kalbu, mengoyak relung paling dalam di pusara “KI AGENG PEMANAHAN” dan juga di pusara ” PANEMBAHAN SENAPATI ” langit saat itu hujan, ayam dan anjing bersaut**an. entahlah aku sendiri tidak sadar. hari itu yang ada adalah air mata meleleh tiada henti.

    Gunung kidul, di mana aku berusaha mengembalikan seorang wanita lemah mental yang berkeliaran di jalan berlibido besar usia 24 th. walau onak dan duri harus menerima makian dari keluarganya, aku yakin bahwa apa yang aku lakukan adalah benar. bahwa dia harus diselamatkan dari tangan tangan mesum, walau akhirnya aku sendiri harus memaklumi bahwa garis nasibnya tetaplah begitu. ” HAMIL DI LUAR NIKAH ” dengan orang yang aku tidak tau bagaimana rupanya.

    Malioboro, saat hari** di siang dan malam aku menyibukkan diri menyambung hidup agar bertahan lama di YOGYA, bertemu dengan bermacam kehidupan siang dan malam yang amburadul. Dian ( cewek bisu ) sekolah di sebuah SMA swasta, memakai tindik di hidung. NGATEMI ( cewek temanggung yang aku ndak tau nama aslinya ) yang selalu ceria walau hidupnya pahit. Si lai ( anak lemah ingatan ) menyanyi dengan gitar kecil dengan lagu campur aduk, selalu bikin suasana ger-geran. anak ** SPI ( serikat pengamen Indonesia ) dengan lagu** heroik dan segar menjadikan diri untuk selalu ingat untuk apa aku hadir di sana. Sekar ( salah satu binaan aktifis PKBI ) berbaur dengan anjal, walau aku tak tau pasti sepak terjangnya. aku tetep salut dengan perjuangannya yang kadang tidak aku setujui dalam sepak terjangnya. pernah juga aku mengalami masa salah paham karena sebuah argumen, tapi inilah realita jalanan.

  7. buka puasa pake [pecel] enak kali ya…hehe…

  8. Katur Mas Sabdo ingkang kinormatanan.
    Nyuwun gunging pangaksama, keparenga kula bade nyuwun priksa bab bab ingkang kapacak ing nginggil.
    1. Ki Sabdopalon dalah Ki Noyogenggong sak menika kok kagungan titel Raden Mas, 500 tahun kepengker titel ipun menapa nggih mas?.
    2. Miturut dedongengan blegeripun, Ki Sabdopalon dalah Ki Noyogenggong meh sami kaliyan Ki Bancak dalah Ki Dhoyok, Utawi kados Ki Jarodheh kaliyan Ki Prasonto, utawi Ki Semar Badranaya dalah bebagonganipun (Astrojinggo). wonten pacakan ing nginggil kok mboten kasebataken blegeripun Ki Noyogenggong ?
    3. Kacariosaken, nalika penulis priksa Ki Sabdopalon rawuh saget cetho priksa blegeripun dalah pasuryaipun ganthi gamblang, tanpa kenging prabawa menapa menapa menika mujudaken kawontenan ingkang luar biasa, ingatasipun Sukma Ageng mboten ngetingalaken prabawa ingkang ageng saengga para rawuh kathah ingkang semerap kanthi wijang…. maturnuwun saha nyuwun pangapunten.

  9. Salam ki sabda langit. Apa ki sabdopalon sama dengan Ki semar? Mohon pembabarannya.

  10. he 3x, seng penting jawa…… ora jawan

  11. Bhikkhu Dhammaraja

    Namo Buddhaya

    Kraton Mataram katanya sudah hilang wibawanya seperti halnya gusdur akibat kebanyakan melucu. Itu disebabkan lahar merapi yang biasanya mengalir ke magelang kini mengalir ke yogyakarta (seolah mengatakan pada saya tidak perlu sekolah di STIAB Magelang karena waktu tidak memungkinkan dengan cepatnya kedatangan ratu adil rudra chakrin). apakah terlalu banyak informasi dalam satu paragraf ini, karena saya hendak melanjutkan lagi. Mungkin itu sebabnya Sri Sultan seperti semakin tak bergairah dalam mengawasi pemerintahan (mungkin kalimat ini berlebihan secara ia cuma gubernur).

    Saat kemunculan ratu adil nanti, di indonesia akan terbangun dua blok, blok pertama memihak pada acuan pemerintahan berdasarkan sendi islam sedang blok kedua adalah berdasarkan kekuatan rudra chakrin.
    Saya sudah merasakan ini sejak lama, dimana sebagian orang berusaha menjatuhkan saya, meski sudah diingatkan teman-temannya yang bersimpati pada saya, “sudah, tidak usah diganggu lagi dia, dia sudah payah sekali. Sekarang ia dua langkah lagi untuk tak punya apa-apa,” yang saya koreksi, “satu. satu langkah lagi.”

    Latihan-latihan yang keliru seperti puasa diwaktu pagi itu cuma sedikit pengaruhnya bagi kekuatan pikiran, ia cuma memicu atau mendorong saja. Berbeda dengan total menjadi bhikkhu seperti saya, bawahsadar saya jika ada yang buruk semua muncul dipermukaan, seperti rudra chakrin, dan kali ini dalam arti yang sebenarnya.

    Semoga seluruh makhluk berbahagia,
    Bhikkhu Dhammaraja, Vihara 10.000.000 Buddha

    • Bhikkhu Dhammaraja

      Namo Buddhaya

      “pemuda berjanggut rutin memberitahu salah dan benar, tapi orang malah aneh justru pemuda berjanggut dipenjara.” Kata Ades, pemuda berjanggut itu kan mister x, pengurus dana sukarno. Menurut saya itu meragukan, dikarenakan sejak 15 tahun lalu sampai sekarang ia tidak pernah muncul di TV atau di blog-blog untuk memberitahu orangsalah dan benar. Dirisaya lebih tepat untuk sosok pemuda berjanggut karena saya memang berjanggut seperti santri tapi karena saya buddhist tidak sampai menjadi dikira kambing, alamilah.
      “pemuda gembala melawan sambil tertawa, tertawa sambil melawan” juga diri saya. saya terus melawan rezim muslim di indonesia, dan kadang saya tertawa-tawa sendiri saat membaca buku Mati Ketawa Cara Muslim yang sedang disusun oleh Naya Genggong. Ngomong-ngomong semua kutipan itu berasal dari buku uga wangsit, bagi pendatang baru.

      “pemuda berjanggut dipenjara. orang yang takut hilang negara mencarinya yang rumahnya pohon handelum dan hanjuang (diyogya) itu. Tapi yang dicari sudah pergi ke lebak cawene.” didunia ini cuma satu lokasi yang seperti itu dilengkapi dengan ciri-ciri rumah itu lainnya, itu cuma rumah saya. gak ada oranglain punya rumah seperti itu. Jadi, singkatkata dipenjara itu maksudnya adalah ditutup ruanggeraknya, yang adalah wajar saya tinggal di negara mayoritas muslim. Tapi bertepatan dengan orang hendak datang ke tempat saya, ilmu saya sudah sempurna dan tak terpenjara lagi, saya pun langsung pergi ke jawabarat.

      Beberapa tahun lalu seorang komentator blog sabdolangit berkata, “saya melihat ada orang dilatih dalam setengah batok bolu. ia tidak tahu jalankeluarnya cuma jika naik ke atas.” Tanggapan saya, itu jika anda pikir dia muslim. Tapi saya bukan muslim dan bukan dengan naik menujuNya pemecahan tersebut, melainkan dengan diputar terus dengan ilmu kalacakra. sedikit lagi ilmu saya sudah sempurna, dan sudah bisa pindah ke jawabarat.

      Semoga seluruh makhluk berbahagia,
      Bhikkhu Dhammaraja, Vihara 10.000.000 Buddha.

      • Bhikkhu Dhammaraja

        Ciri-ciri Sultan Herucakra menurut musarar jayabaya (untung bukan babon seperti biasanya), “orangnya tampan jika senyum manis sekali.”
        Sewaktu saya kecil jika saya tertawa orang selalu memperhatikan saya, saya tidak tahu kenapa. Satu kali ibu saya yang kelahiran Dewi Kunti berkata pada bapak saya yang kelahiran Pandu, “betul juga kata si A, dia kalau tertawa manis.’
        Sebenarnya saya kalau tertawa tidak manis, tapi kira-kira itulah gambaran sultan herucakra (rudra chakrin) kelak, yaitu orangnya suka humor, jadi meski oranglain sedang bicara serius, dia tersenyum. tapi bukan senyum karena ucapan orang itu bijak, tapi senyum karena ada yang lucu.

      • Bhikkhu Dhammaraja

        Kenapa sp rudrachakrin, ataupun asistennya seperti saya harus ke jawabarat, karena disana kan ibukota. Kelak ibukota akan dipindahkan dari jakarta ke suatu lokasi yang disebut lebak cawene. yang tahu lokasi itu cuma orang baduy. kalau orang kota cuma memilih saja misalnya bandung dijadikan ibukota.

        Adapun yogyakarta akan menjadi pusat militer, sedangkan jawabarat akan menjadi pusat pendidikan buddhism, sesuai ramalan, “dari jawatimur kuning benderanya.” kuning adalah simbol salahsatu panji buddhist. bait itu juga menunjukkan ramainya orang berpakaian kuning dijawatimur yaitu para biksu.

  12. Bhikkhu Dhammaraja

    Dulu sudah saya pernah katakan di blog ini, bahwa tidak semua orang tersenyum atau tertawa itu manis. jika anda disurus bos tersenyum agar manis itu salah. itu awalnya dulu saat orang barat travel ke india, disana mereka melihat orang india kalau senyum manis. dari situlah dibawa sebuah aturan tersenyum sedikit agar manis, tapi gak musti orang jadi manis kalau dia senyum atau ketawa.
    sudah terkenal yang manis senyum atau ketawanya adalah Shri Khrisna. nah saya rasa ada sri khrisna di diri saya. sri krisna sendiri masih di alamnya.

  13. Bhikkhu Dhammaraja

    Koreksi sedikit: jawabarat terletak ibukota, jawatengah militer, dan jawatimur adalah pusat pendidikan buddhist.
    Dewi Durga mengingatkan saya bahwa saya sudah tidak ada lagi disaat itu, yang ada cuma rudra chakrin, karena saya telah menjadi Buddha. ya, itu benar. jadi setelah lenyapnya tubuh saya berganti sultan herucakra, dialah yang akan ke jawabarat.
    “karsaning hyang sukma akarya buwana balik.” (dibalikkan keadaan)
    “sileme prahu gabus, kumambanging watu item.” (orang lemah lenyap, keluar orang kuat berkulit hitam)

    • Bhikkhu Dhammaraja

      Saya pamit sekarang, tapi jangan kawatir saya akan kembali. Maaf ya sabdalangit, saya telah berusaha mengatur ucapan saya agar tidak menjadikan ruang komentar di blog ini seolah adalah jurnal pribadi saya, tapi setidaknya sesekali saya juga perlu berpamitan setelah berbicara beberapa hal.
      Bagi para wanita janganlah mencoba melucu/sok lucu setelah melihat saya. perempuan gak bisa apa-apa, tiap melihat mereka mencoba melucu rasanya jadi eneg. seandainya saya bukan bhikkhu saya akan berkata “cukup di dapur dan di ranjang saja lah.” tapi saya tak akan berbicara hal itu.

      • Bhikkhu Dhammaraja

        Memang ada perempuan-perempuan yang lucu (dalam arti yang sebenarnya) seperti ellen degeneres, tapi ia cuma bisa sebentar saja, perempuan cuma sebentar saja bisa, setelah itu gak bisa lagi. tunggu besok baru bisa lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: