KRITIK TERHADAP “LAKU PRIHATIN”

Berusaha memaknai laku prihatin secara tepat,
yang selama ini banyak orang telah salah kaprah
dalam memaknai dan memahaminya.

MAKNA PRIHATIN by sabdalangit

Untuk memudahkan pemahaman, prihatin saya akronimkan sebagai kepanjangan dari rasa perih ing sajroning batin. Perih di dalam batin karena seseorang tidak lagi bergumul dalam kenikmatan jasad mengumbar nafsu-nafsu ragawinya. Sebaliknya meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar berfungsi secara alamiah dan proporsional, yakni sekedar sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidup (survival), bukan untuk mengumbar segala keinginan ragawi yang erat dengan kenikmatan.  Pengendalian atas nafsu-nafsu sebagai bentuk sikap mengikuti kareping rahsa (sejati). Sementara itu sikap mengumbar hawa nafsu merupakan perilaku menuruti segala macam kemauan dan keinginan panca indera tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban diri pribadinya maupun orang lain. Saya gambarkan sebagai sikap mengikuti rahsaning karep (mengumbar napsu hawa).

Nafsu tak perlu dimatikan, hanya butuh pengendalian diri atau sikap mengekang hawa nafsu. Jika belum terbiasa konsekuensinya akan menimbulkan efek perasaan yang tidak nikmat karena pupusnya kesenangan ragawi yang selalu didambakan jasad. Hal inilah yang membuat  kekecewaan dan akhirnya menimbulkan efek “kepedihan atau kepahitan”  yang dirasakannya. Sebaliknya, mengumbar hawa nafsu, akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan (bersifat semu) yang tiada taranya. Namun kesenangan itu hanya sebatas “kulit” atau kesenangan imitasi yang tak ada limitnya. Bagai meneguk air laut, semakin banyak diminum, semakin terasa haus. Untuk lebih jelasnya para pembaca silahkan membuka kembali posting saya terdahulu tentang “Di manakah level Anda” di mana saya gambarkan proses perjalanan kesadaran manusia.

Itulah gambaran dari rahsaning karep, wujud konkritnya hanya berupa “kesenangan” yang bersifat  imitasi saja. Sebaliknya, kareping rahsa (sejati) sekalipun terasa pahit hanyalah pada level  “kulit”nya saja. Bagi orang yang memahami hakekat kehidupan, di balik penderitaan dan kepahitan itu sungguh menyimpan sejuta kebahagiaan. Hanya saja sedikit orang yang benar-benar tahu dan mau membuktikan “postulat” ini. Karep maksudnya adalah keinginan nafsu sering dikiaskan pula sebagai “godaan setan yang terkutuk”.  Godaan bisa berasal dari luar diri, yang diserap oleh panca indera, yakni; pori-pori kulit sebagai efek rangsangan akibat adanya persentuhan dengan lawan jenis dsb. Bisa pula melalui rangsangan mata, telinga, penciuman, dan indera pencicip mulut sebagai gerbang kerakusan perut. Mulut juga bisa berperan sebagai pengobral kata-kata hasutan, penebar kalimat kebencian dan permusuhan. Dalam cerita pewayangan, panca indera dilukiskan ke dalam simbol-simbol Pendawa Lima. Jika tepat memanajemen akan memproduksi output yang sangat positif dan konstruktif, sebaliknya  menimbulkan output yang sangat negatif, merusak, destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan alamnya.

MANUSIA MENENTUKAN PILIHAN, TUHAN (ALAM) MENENTUKAN KONSEKUENSINYA

Semua orang dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ibarat pisau, manusia bebas memilih mau menggunakannya sebagai sarana yang positif dan konstruktif atau digunakan sebagai sarana negatif dan destruktif. Yang jelas, bukan urusan tuhan untuk mengatur apakah seseorang memilih jahat, hidup berada dalam kegelapan, atau memilih menjadi baik, hidup dalam cahaya terang. Jika tuhan yang memilihkan, berarti itu tuhan palsu yang berada di dalam imajinasi manusia. Imajinasi manusia beresiko “menciptakan”  tuhan bodoh dengan manajemen yang tidak adil. Bagi tuhan yang maha pinter, tentunya untuk menentukan pilihan tersebut semua terserah manusia. Sementara itu, tuhan atau hukum alam semesta cukup merangkai konsekuensi secara detil, adil dan lugas untuk masing-masing pilihan manusia tersebut. Nah dengan pemahaman seperti ini, terasa tuhan lebih adil kan. Selain itu, manusia akan berhenti mencari-cari kambing hitam, menyalahkan tuhan karena tidak memberikan petunjuk untuk dirinya. Petunjuk untuk menjatuhkan pilihan pun menjadi tanggungjawab setiap manusia. Siapa yang mau berusaha, tentu akan membuahkan hasil.

UNTUK APA MENJALANI LAKU PRIHATIN (NURUTI KAREPING RAHSA) ?

Perlu saya garis bawahi bahwa laku prihatin sangat berbeda dengan penderitaan. Penderitaan merupakan keadaan tidak menyenangkan, yang menyiksa secara lahir atau pun batin. Namun tidak semua penderitaan adalah bentuk laku prihatin. Untuk menilai apakah suatu keadaan termasuk kategori laku prihatin ataukah bukan, Anda bisa mencermati faktor penyebabnya. Selain itu suatu penderitaan termasuk laku prihatin atau bukan, sangat tergantung cara masing-masing individu dalam mengambil sikap.

Pertama, perilaku dan sikap yang tabah, sabar, tulus, bijaksana dan arif. Tipikal pribadi demikian ini mempunyai level kesadaran yang bermanfaat sebagai pengendalian nafsu. Kemerdekaan lahir dan batin yang terbesar manusia justru pada saat mana ia bisa  meredam, menahan, atau mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Inilah sifat arif dan bijaksana, yang merubah penderitaan menjadi bentuk “laku prihatin”. Bahkan dalam tataran kesadaran spiritual yang lebih tinggi, seseorang akan menganggap penderitaannya sebagai jalan “penebusan dosa” atau “menjalani sanksi” (eksekusi pidana) atas kesalahan yang sadar atau tidak telah dilakukan  di waktu yang telah lalu. Dalam tradisi Jawa-isme, menjalani penderitaan (musibah, bencana, sakit, kesulitan dll) dengan sikap sabar, tulus, dan tabah, sepadan dengan makna karma-yoga atau kesadaran diri untuk melakukan penebusan atas kesalahan yang pernah dilakukan.

Kedua, sikap yang keduwung nepsu. Atau dikuasai oleh nafsunya sendiri manakala tengah mengalami suatu penderitaan. Misalnya sikap emosional yang berlebihan; bersedih terlalu berlarut-larut, kalap, putus asa, selalu menggerutu dan grenengan, selalu mencari-cari kesalahan pada pihak-pihak lain, serta tak mau melakukan instropeksi diri.

Mengapa nafsu tak perlu dilenyapkan? Karena melenyapkan atau menghilangkan nafsu samasekali justru merupakan tindakan melawan kodrat alam. Coba Anda bayangkan jika nafsu dimusnahkan, pasti kehidupan manusia akan segera punah dari muka bumi dalam waktu 100 tahun ke depan. Karena nafsu itu ada, karena menjadi alat untuk bertahan hidup, regenerasi, serta melangsungkan kehidupan. Sebaliknya, memanfaatkan nafsu secara berlebihan atau tak terkendali sama halnya dengan melakukan bunuh diri dan membunuh kehidupan lainnya secara perlahan namun pasti. Nafsu adalah anugrah Tuhan, berkah alam semesta juga. Nafsu hanya perlu dimanfaatkan sebagaimana mestinya sesuai kodrat alam. Jika digunakan secara arif dan bijak akan menghasilkan kebaikan pula. Bukankah semua manusia lahir ke bumi berkat “jasa baik” sang nafsu juga. Sebab itu, nafsu tidak perlu dimusnahkan atau dilenyapkan dari dalam jagad alit diri manusia. Pengendalian nafsu bertujuan supaya seseorang berpegang pada prinsip nuruti kareping rahsa. Bukan sebaliknya nuruti rasaning karep. Sampai disini, alasan utama mengapa seseorang perlu menjalani laku prihatin, tidak lain untuk menggapai kesadaran lebih tinggi dalam memaknai apa sejatinya hidup di dunia ini. Pada gilirannya, kesadaran tersebut dapat menjadi sarana utama untuk menggapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Secara spiritual, laku prihatin mempunyai energi yang memancar ke segala penjuru. Energi yang timbul dari dalam diri (jagad kecil) yang selaras dan harmonis dengan hukum alam (jagad besar). Keselarasan dan sinergi di antara keduanya inilah yang akan menempatkan seorang penghayat laku prihatin dalam jalur hidup yang penuh dengan anugrah dan berkah alam semesta.

PRINSIP DASAR DALAM LAKU PRIHATIN

Menjalani laku prihatin pada prinsipnya adalah perbuatan sengaja untuk mengendalikan nafsu negatif yang bersumber dari kelima indera yang dengan instrumen hati sebagai terminal nafsu tersebut (tapa brata dan tarak brata).  Kita semua tahu, bahwa pemenuhan nafsu negatif memiliki daya tarik yang luar biasa karena di dalamnya menyimpan segudang kenikmatan. Kenikmatannya sungguh dahsyat dan menggiurkan,  namun bersifat semu atau imitasi. Anda bisa juga menyebutnya sebagai kenikmatan palsu, di mana kenikmatannya bersifat tidak langgeng, dan cenderung merusak. Tak ada kepuasan, dan setiap saat minta dituruti kemauannya tanpa kenal waktu. Setiap hari tuntutan nafsu akan semakin bertambah kompleks dan semakin variatif. Artinya, tingkat kepuasan nafsu hanyalah sementara saja. Apabila nafsu berubah menjadi liar maka karakternya menjadi negatif dan destruktif. Sebagai konsekuensinya, bagi yang belum terbiasa menjalani laku prihatin, ia akan merasakan “kepedihan” dan “kehausan”   dalam hati. Bagaikan minum air garam, semakin banyak minum Anda akan semakin merasa haus. Itulah karakter nafsu negatif.  Paling prinsip menjalani laku prihatin, adalah berupa PENGUASAAN dan DOMINASI “kerajaan batin” terhadap “kerajaan jasad” yang berpusat di dalam gejolak nafsu.

SULITNYA MENGIDENTIFIKASI LAKU PRIHATIN

Dari pembahasan ini dapat diambil intisari bahwa menjalani keprihatinan (laku prihatinsama sekali TIDAK IDENTIK dengan perilaku yang gemar hidup dalam penderitaan, kesengsaraan dan serba kekurangan. TIDAK IDENTIK pula dengan perilaku  serba membatasi diri untuk menghindari gaya hidup yang serba kecukupan lahir dan batin. Bukankah kita semua tidak ingin menjadi “pengemis” atau menjadi orang “peminta-minta” yang telapak-tangannya selalu menengadah?!

Untuk menghindari cara hidup seperti itu, kita mesti memegang prinsip bahwa setiap saat “kerajaan batin” harus mampu ngemong atau mengasuh “kerajaan jasad”  agar tidak nyelonong ke arah yang negatif. Dengan begitu terbangun pola keseimbangan antara “kerajaan batin” dengan “kerajaan lahir”. Dalam implementasi perbuatan, dapat dilihat ketika SIKAP seseorang menjalani hidup ini secara tidak berlebih-lebihan, maksudnya memenuhi segala keinginannya melebihi apa yang ia butuhkan. Idealnya, hidup ini dijalani dengan sikap sakmadyaning gesang ; artinya proporsional, selaras, dengan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan hidup. Prinsip keseimbangan tersirat dalam sebuah tamsil “ngono ya ngono ning aja ngono”. Untuk itu sering kita diingatkan agar supaya menjalani hidup secara proporsional, tetap berada dalam batas toleransi untuk melakukan sesuatu hal, asal tidak kebablasan, atau melampaui batas nilai kepantasan, nilai  kebutuhan, dan melebihi batas nilai kewajaran (norak). Kemewahan hidup bukan lantas berarti seseorang tidak menjalani “laku prihatin”. Namun hidup bermewah-mewahan konotasinya adalah hidup berlebih-lebihan (melebihi apa yang menjadi kebutuhan), dan makna ini yang termasuk tidak menjalani “laku prihatin”. Misalnya seorang pengusaha, membeli mobil berjumlah 10 unit dengan berbagai tipe dan mahal harganya untuk menjelajah medan yang berbeda-beda, atau untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaannya. Ini bukan termasuk pola hidup berlebihan dan bermewah-mewah.  Lain halnya, keluarga kecil yang terdiri hanya 3 orang anggota keluarga, membeli kendaraan mewah hingga 4 unit atau lebih, melebihi apa yang dibutuhkan untuk operasional sehari-hari. Ini termasuk hidup berlebihan dan bermewah-mewah. Walaupun hal itu menjadi hak setiap orang untuk melakukannya, namun dampak negatif ada pada dirinya sendiri. Kembali kepada diri sendiri.

CONTOH PENILAIAN TERHADAP “LAKU PRIHATIN

Berikut di bawah ini, saya kemukakan beberapa contoh teknis mengidentifikasi apakah suatu penderitaan merupakan bentuk keprihatinan atau bukan. Jika bukan, penderitaan itu bisa jadi merupakan hukuman atau akibat dari sebab pernah melakukan kesalahan kepada orang lain. Maka dari itu kita bisa melihat apa faktor penyebab seseorang mengalami penderitaan.

Suatu keadaan menderita BUKAN termasuk dalam kategori LAKU PRIHATIN, apabila keadaan itu akibat dari ulah perbuatannya sendiri. Misalnya sebagai berikut;

  1. Seseorang dipenjara karena ia mencuri, korupsi, membunuh orang.
  2. Seseorang yang hidupnya serba susah, celaka, sial dan menemui kesulitan,  karena ia gemar mempersulit orang lain, menyerobot hak orang lain, dan sering menyakiti hati sesama, atau sering menyusahkan orang banyak baik disadari maupun tidak disadarinya.
  3. Seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi, karena ia orang yang malas bekerja, menyia-nyiakan masa-masa belajar dengan mengejar kesenangan hedonistis.
  4. Orang yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena ia orang yang tidak jujur dan tidak bisa dipercaya untuk bertanggungjawab menjalankan tugas dan tanggungjawab pekerjaan.
  5. Kehilangan harta benda, karena ia seorang yang pelit, atau orang yang mencari harta denga cara menindas (menari di atas bangkai). Misalnya menangguk untung besar atas pembebasan tanah (menyerobot) yang dilakukan secara tidak adil, kurang adil dan tidak jujur, rentenir dan sejenisnya.
  6. Sakit parah di masa tua hingga menghabiskan seluruh harta kekayaannya, karena di masa lalu ia menjadi hakim, pengacara, aparat penegak hukum, jaksa, dsb yang sering mempraktekan “pagar makan tanaman”, tidak menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran.
  7. Mengalami berbagai peristiwa tragis, yang mengakibatkan kehilangan harta benda atau nyawa, sakit parah tak kunjung sembuh, tak ada orang yang mau menolongnya,  karena di masa lalu ia berpraktek menjadi rentenir, lintah darat, atau memiliki pesugihan, atau sering menyerobot hal orang lain.

Contoh-contoh di atas lebih berupa hukuman atau karma (karma-pala). Yakni akibat ulah dirinya sendiri yang menimbulkan dampak berlangsungnya hukum sebab-akibat. Siapa menanam, akan mengetam. Meskipun demikian, orang yang terkena karma atau terkena eksekusi dari mekanisme hukum alam, jika dapat menjalani semua penderitaan itu dengan PENUH KESADARAN untuk menerima dan instropeksi diri akan kesalahannya selama ini, sikap demikian justru akan mempercepat selesainya “masa hukuman”. Paling tidak, kemungkinan masih ada waktu untuk mengoreksi kesalahan lalu memperbaiki pada sisa-sisa waktu yang masih ada. Sikap demikian termasuk laku prihatin level bawah. Caranya adalah menjalani masa-masa “hukuman” dengan sikap menerima, sabar, ikhlas, tidak menggerutu. Lebih ideal jika kita melakukan evaluasi diri apakah kira-kira kesalahan yang kita lakukan baik yang kita sadari maupun yang tidak disadari selama menjalani kehidupan ini. Setelah itu, berusaha mengoreksi kesalahan-kealahan selama ini, yakni dengan menjalani kehidupan dengan prinsip yang lebih ideal dibanding waktu masa lalu.

Karena sulitnya mengidentifikasi suatu penderitaan, apakah termasuk hukuman ataukah jalan untuk laku prihatin. Saya pribadi menempuh sikap “paling aman”, dengan cara lebih suka menganggap suatu penderitaan sebagai HUKUMAN tuhan atau alam semesta, ketimbang menganggapnya sebagai COBAAN (bagi orang-orang beriman). Jika saya menganggap setiap derita sebagai cobaan, maka sikap demikian beresiko menimbulkan sikap kurang waspada dan kurang eling. Sebaliknya tanpa disadari justru membuat sikap “besar kepala”, merasa diri sudah beriman lalu disayang tuhan. Karena tuhan sayang kepada kita kemudian tuhan memberi cobaan. Inilah sikap yang penuh bias, sikap menghibur diri sendiri, sikap GEDE RASA (Ge-eR), dengan menyangka disayang-sayang Tuhan, lalu tuhan pun mencoba dirinya. Di sinilah awal mula kita tergelincir karena hilangnya sikap eling dan waspada. Terlalu naif kiranya.

Lalu…manakah yang disebut laku prihatin ? Baiklah, di bawah ini saya fokuskan pembahasan soal apa saja perbuatan yang termasuk kategori LAKU PRIHATIN. Termasuk pembahasan beberapa scope atau lingkup/cakupan laku prihatin yang menentukan level-level kualitasnya. LAKU bermakna bahwa perbuatan yang tidak disengaja maupun disengaja atau direncanakan secara sadar untuk mengoptimalkan kekuasaan  “kerajaan batin” atas “kerajaan jasad” kita sendiri.

KATEGORI LAKU PRIHATIN

Dilihat dari faktor penyebabnya, laku prihatin dapat dibagi menjadi dua kategori. Yakni laku prihatin disengaja, dan laku prihatin tidak disengaja ;  by sabdalangit

Laku Prihatin Tidak Sengaja

Suatu keadaan di mana seseorang terpaksa mengalami suatu penderitaan yang disebabkan bukan oleh akibat langsung dari ulah dirinya sendiri. Keprihatinan tak sengaja ini disebabkan oleh ulah orang lain. Seseorang mengalami keprihatinan  karena menjadi obyek penderita saja. Dengan kata lain keprihatinan timbul sebagai akibat atas situasi dan kondisi keadaan di sekeliling kita, misalnya ulah orang lain yang bertindak ceroboh, maupun ada unsur sengaja ingin mencelakai diri kita. Misalnya ulah para koruptor yang menggasak kekayaan negara mengakibatkan kesengsaraan  rakyat yang tak kunjung usai. Atau ulah teroris yang meledakkan bom, sehingga membunuh salah satu anggota keluarga yang menopang nafkah bagi seluruh keluarganya. Akibatnya adalah timbulnya kesulitan hidup bagi anggota keluarga yang dinafkahi korban yang telah mati. Anggota keluarga yang ditinggalkan, hidup dalam suasana penuh keprihatinan. Keprihatinan tak sengaja, di dalamnya termasuk keprihatinan sebagai akibat dari force major atau kejadian yang tak terelakkan seperti musibah dan bencana alam. Penderitaan yang dialami sebagai ekses atau akibat buruk atas kejadian di luar diri yang menimpanya. Namun demikian penderitaan yang menimpa diri kita tidak secara otomatis menjadi ajang untuk menjalani (laku) prihatin.  Semua masih tergantung pada cara kita merespon atau menyikapinya. Apabila diri kita tetap banyak-banyak mensyukuri sisa-sisa nikmat dan anugrah yang ada, serta tidak ngedumel atau menggerutu (grenengan), atau selalu mengeluh. Sebaliknya justru dijalani dengan benteng kekuatan terakhir yakni kesabaran dan ketulusan, tetap kuat dan semangat berusaha dengan gigih, sekuat tenaga dan pikiran untuk meneruskan hidup, maka penderitaan yang dialami itu barulah akan berubah menjadi “laku” prihatin.

Sia-sia kah kesabaran, ketulusan, dan sikap gigih berusaha yang Anda lakukan ? Tentu saja tidak ada yang sia-sia. Dalam kurun waktu tertentu, cepat atau lambat, apa yang Anda lakukan akan membuahkan hasil yang gemilang. Kesuksesan hidup lahir dan batin akan Anda rasakan. Begitulah rumus baku sebagai kuci dalam upaya Anda merubah MUSIBAH menjadi ANUGRAH yang terindah. Masukkan prinsip hidup di atas ke dalam jiwa Anda, lalu wujudkan kesadaran “jiwa” anda tersebut ke dalam perbuatan nyata, yakni menghayatinya dalam setiap gerak langkah kehidupan Anda di manapun dan suasana apapun juga. Itulah makna dari JAWA, yakni jiwa kang kajawi, jiwa kang kajawa. Menjiwai nilai-nilai luhur kedalam perbuatan sehari-hari. Nilai-nilai luhur yang telah dijiwai, lalu dihayati dalam perbuatan nyata. Jawa iku jawabe ! dudu mung ujare. Yang penting adalah tindakan nyata, bukan sekedar mulut berbusa-busa memainkan teori. Falsafah hidup bagi orang Jawa yang belum hilang kejawaannya; yang terpenting dari nilai luhur, bukan sekedar katanya (teorinya), tetapi aplikasinya dalam perbuatan sehari-hari. Bangunlah jiwanya, maka bangunkan badannya..!! Kesadaran jiwa, diimbangi oleh kesadaran berbuat.

Laku Prihatin Disengaja

Laku Prihatin disengaja atau direncanakan mempunyai dua macam orientasi. Pertama ; laku prihatin yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup diri pribadi. Misalnya Anda melakukan berbagai ritual puasa, cegah turu, atau melek-melek, cegah syahwat atau sesirih. Anda mengembara berkelana jauh tanpa bekal apapun di tangan dengan tujuan merasakan kehidupan yang polos, lugas, apa adanya, dan mendapatkan berbagai pengalaman untuk merasakan sisi kehidupan yang tak pernah Anda rasakan sebelumnya. Atau Anda sengaja hidup dalam suasana yang serba kekurangan atau pas-pasan. Laku prihatin ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas mental lahir dan batin setiap masing-masing pribadi yang sengaja menjalani “laku prihatin” model demikian. Namun laku prihatin ini manfaatnya belum bisa dirasakan oleh orang lain atau lingkup yang lebih luas secara langsung. Kedua ; laku prihatin dengan tujuan agar hidup kita bermanfaat bagi lingkungan yang lebih luas. Misalnya membantu sesama, atau menolong orang lain yang sedang mengalami penderitaan dan kesulitan dengan tulus tanpa pamrih apapun (tapa ngrame).

LEVEL LAKU PRIHATIN

Level Bawah (Orientasi Diri Pribadi)

Laku prihatin level bawah berorientasi untuk kebutuhan meningkatkan kualitas diri pribadi. Masing-masing orang sah-sah saja menjalani laku prihatin level bawah ini dengan cara dan gaya yang berbeda-beda, misalnya dengan cara berpuasa, cegah tidur, cegah sahwat, cegah makan, atau mengembara tanpa bekal uang di tangan, makan hanya apa yang ditemukan saja, menjalani hidup dalam kondisi serba pas-pasan bahkan serba kekurangan. Semua dijalani dengan kesabaran dan ketulusan, untuk membangun kekuatan mental lahir dan batin. Hilangnya rasa takut berganti dengan nyali berani hidup dalam gelimang derita dan sengsara (lara lapa). Namun laku prihatin ini efeknya sebatas mematangkan dan menguatkan keadaan mental lahir dan batin si pelaku. Apapun cara laku prihatin yang Anda lakukan tidaklah menjadi soal, yang penting dilakukan dengan sepenuh hati, jangan setengah-setengah karena akan percuma sia-sia saja, tak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Manusia sejati kuat mental lahir dan batin bukanlah orang yang berani mati, tetapi orang yang berani hidup. Yakni hidup dalam gelimang sengsara dan derita (kuat tapa brata; lara lapa, lara wirang). Namun, menjalani laku prihatin seperti itu belumlah cukup untuk meraih suatu kemuliaan yang sejati. Diumpamakan, kita baru memperoleh instrumen atau alat untuk meraih tujuan. Alat itu berupa kematangan sikap, lahir dan batin, solah (perilaku lahir) dan bawa (perilaku batin) yang arif dan bijaksana dalam memahami dan menjalani kehidupan yang teramat kompleks ini.

Level Tinggi (Orientasi Publik)

Berbeda dengan laku prihatin di atas, yang saya kategorikan sebagai bentuk laku prihatin level bawah, maka laku prihatin ORIENTASI PUBLIK saya kategorikan sebagai laku prihatin level tinggi. Penghayat laku prihatin bukan lagi berorientasi untuk meningkatkan kualitas mental lahir dan batin dengan obyek (sasaran) pribadinya sendiri. Dengan bekal instrumen atau alat berupa kualitas diri lahir dan batin sudah tercapai, maka yang paling utama adalah memanfaatkan instrumen tersebut dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkup “ruang publik”, dengan obyek/sasaran yang lebih luas yakni orang banyak.   Laku prihatin berorientasi publik, dilakukan dengan penuh kesadaran diri akan makna sejatinya kehidupan ini. Termasuk untuk menjawab atas pertanyaan,”untuk apa kita lahir dan berada di planet bumi ini? Bagi saya pribadi, kita hidup bukan untuk MENCARI. Melainkan untuk memberi. Memberi artinya membuat diri kita bermanfaat untuk seluruh makhluk dan lingkungan alam di sekitar kita. Yakni saling memberi kasih sayang (welas asih) kepada seluruh makhluk tanpa kecuali. Welas asih memiliki wujud konkrit, yakni berupa SEDEKAH (donodriyah) atau memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan seluruh makhluk. Meliputi sedekah lahir berupa harta, tenaga, pikiran, sedekah doa (paling lemah). Dan sedekah batin berupa kasih sayang yang menghasilkan rasa nyaman, aman, tenteram. Memberi, atau donodriyah, dalam falsafah hidup Jawa disebut sebagai mulat laku jantraning bumi. Mengikuti sifat tabiat bumi yang selalu memberi kehidupan kepada seluruh makhluk tanpa kecuali, dan tanpa pilih kasih. Untuk menghayatinya, kita terlebih dahulu harus menjadi manusia yang memiliki instrumen lahir dan batin yang cukup ideal. Yakni menjadi manusia yang MERDEKA LAHIR & BATIN, yang manusia yang tidak lagi tersekat-sekat oleh primordialisme agama, golongan, kepentingan politik, suku, dan ras.

Coba simak baik-baik serat Wedhatama bait Sinom pupuh 29 berikut ini :

Mungguh ugering ngaurip,

Uripe lan tri prakara,

Wirya arta tri winasis,

Kalamun kongsi sepi,

Saka wilangan tetelu,

Telas tilasing janma,

Aji godhong jati aking,

Temah papa papariman ngulandara

Pedoman hidup itu demikian seyogyanya,

hidup dengan tiga prinsip;

Keluhuran (kemuliaan, kekuasaan), harta (kemakmuran), ketiga ilmu pengetahuan.

Bila tiga perkara itu tak satu pun dapat diraih,

habis lah harga diri manusia.

Masih lebih berharga daun jati kering, bakal mendapatlah derita, sengsara dan terlunta.

Dalam Pupuh Sinom serat Wedhatama karya Ingkang Wicaksana Gusti Mangkunegoro IV di atas menggambarkan prestasi hidup seseorang yang sangat ideal untuk menjalani laku prihatin.  Sekilas tampak paradoksal dengan laku prihatin yang sering diidentikkan dengan keadaan yang serba tidak enak, menderita dan sengsara. Tapi coba lah kita telaah dengan melibatkan nurani.  Saya coba berefleksi dengan mengajukan pertanyaan berikut ;

Pilih model yang manakah untuk menjalani laku prihatin, apakah menjalani hidup dalam keadaan serba kekurangan, pas-pas-an, ataukah menjalani hidup dalam keadaan serba kecukupan materi, kaya ilmu, dan berkuasa ?

Jangan tergesa menjawab dan menyimpulkan. Para pembaca yang budiman silahkan melanjutkan membaca tulisan di bawah ini.

Prihatinnya Orang Kaya Harta

Orang yang kaya harta melakukan prihatin dengan cara memanfaatkan hartanya tidak hanya untuk kepentingan dan kebutuhan dirinya sendiri dan keluarganya saja. Tetapi harta-kekayaannya dimanfaatkan pula agar menjadi berkah bagi orang-orang di sekitarnya termasuk lingkungan alamnya. Hartanya bermanfaat untuk menolong dan membantu orang banyak tanpa pilih kasih, tidak berdasarkan sentimen agama, ras, suku, golongan, kelompok kepentingan. Itulah orang kaya harta yang mau menjalani laku prihatin. Hidupnya mberkahi, jauh lebih bermanfaat ketimbang orang yang menjalani laku prihatin level bawah.

Prihatinnya Orang Kaya Ilmu

Orang kaya ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu spiritual, akan menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan ilmunya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya saja. Tetapi dimanfaatkan pula agar menjadi berkah bagi orang-orang di sekelilingnya, untuk masyarakat luas, bangsa, termasuk lingkungan alam sekitarnya. Ilmunya  dibagi secara tulus, tanpa mengharap upah atau imbalan kepada siapa saja yang memerlukan. Dan dilakukan  tanpa pilih kasih, tidak berdasar sentimen agama, ras, suku, golongan, kelompok, dan kepentingan. Itulah orang kaya ilmu yang menjalani laku prihatin.

Prihatinnya Orang Punya Kekuasaan

Orang punya otoritas kekuasaan menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan kekuasaannya untuk menciptakan berkah bukan saja bagi diri dan keluarganya, lebih utama adalah untuk dipersembahkan kepada rakyat dan ibu pertiwinya (alam semesta). Kekuasaannya dijadikan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya serta untuk menjaga kelestarian lingkungan alam. Dengan kata lain, kekuasaan dimanfaatkan untuk menciptakan negeri yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja. Itulah orang punya otoritas kekuasaan yang menjalani laku prihatin. Negarawan sejati, adalah wajah orang yang sugih kuwasa yang menjalani laku prihatin. Berbeda dengan “politikus sejati”  yang hanya membela kelompoknya, kepentingannya, golongannya, sesama keyakinan, sesama suku dan rasnya sendiri. Namun untuk memenuhi kriteria ini bukan berarti kita harus menjadi pemimpin, pejabat, penguasa. Kita perlu menyadari bahwa setiap diri kita merupakan seorang pemimpin. Yakni pemimpin untuk diri kita sendiri, keluarga, sahabat, kelompok, organisasi dst.

Kesempatan Besar Menggapai Kamulyan Sejati

Kenapa musti sugih bondo, sugih ngelmu, sugih kuwasa ? Bagaimanapun juga seseorang yang dilengkapi dengan 3 macam kemampuan tersebut (setidaknya memiliki salah satu di antaranya), akan memiliki kesempatan besar untuk selalu MEMBERI (telapak tangan telungkup) kepada yang lain. Lain halnya orang yang menjalani laku prihatin untuk dirinya sendiri, walau kemauan ada, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk memberi. Secara logik orang yang lengkap memiliki 3 kemampuan tersebut akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menjalani laku prihatin level tinggi. Ia memiliki “ladang amal”. Sehingga ia lebih banyak kesempatan untuk menanam “pohon kebaikan” dengan jumlah sebanyak-banyaknya. Tentu “buah-buah” yang dihasilkan pun akan lebih banyak lagi. Dalam satu kali tanam saja bisa mencapai ribuan, bahkan jutaan “pohon kebaikan”. Dengan kata lain, jika benar-benar memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya, seseorang lebih mudah menggapai kamulyan sejati dalam kehidupan dunia maupun kehidupan sejati kelak. Seorang presiden, ratu, raja, gubernur, bupati, dan pejabat daerah lainnya, adalah orang-orang yang memiliki ladang amal, alias memiliki kesempatan besar meraih kamulyan sejati. Persoalannya, apakah orang-orang itu mau memanfaatkan kesempatan besar itu ? Semua tergantung pilihan sikap dan kesadaran spiritualnya masing-masing.

KAYA HATI ; Laku Prihatin Level Tinggi

Laku prihatin level tinggi, adalah dengan cara memberi sesuatu yang bermanfaat kepada banyak orang. Memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain artinya adalah BERSEDEKAH. Sudah beberapa kali saya sampaikan dalam beberapa tulisan terdahulu, jika kita ingin bersedekah, atau membiasakan telapak tangan kita selalu “telungkup” mulailah sejak kita belum menjadi orang kaya, sejak belum memiliki ilmu yang luas, dan sebelum menjadi penguasa. Banyak orang berjanji akan bersedekah (donodriyah) dengan cara membantu, menolong, memberi tapi nanti jika sudah kaya, sudah punya harta, sudah punya ilmu atau sudah berkuasa.

wrote by sabdalangit

Prinsip demikian biasanya gagal terlaksana karena setelah benar-benar kaya akan lupa terhadap janji-janjinya sendiri yang pernah diucap pada waktu masih miskin atau hidup ngrekoso. Maka idealnya untuk memberi, menolong, membantu sesama hendaknya dibiasakan sejak kita belum menjadi orang kaya, sejak ilmu pengetahuan dan spiritual kita masih pas-pasan.  Kita harus mensetting HATI kita, menjadi orang yang KAYA HATI. Orang yang kaya hati tidak lagi menghitung-hitung berapa prosentase harta untuk dikeluarkan sebagai sarana membantu dan menolong orang lain. Jika kita masih saja menghitung prosentasenya, kita masih terjebak pada kebiasaan buruk untuk menggugurkan kewajiban saja. Setelah mengeluarkan hartanya sekian persen, maka ia menganggap sudah selesailah tanggungjawab sosialnya. Inilah kebiasaan buruk yang terus terpelihara sampai saat ini.

Sementara itu, menurut pengalaman, KAYA HATI adalah modal utama, terutama untuk meraih kekayaan ilmu dan materi. Seringkali pintu rejeki seret atau tertutup rapat gara-gara seseorang memiliki HATI yang MISKIN. Sebuah pengalaman nyata dan bisa dibuktikan oleh siapa saja, sungguh KAYA HATI justru menjadi kunci pembuka menuju kesuksesan lahir batin, kesuksesan moril dan materiil.

Untuk menjadi orang yang kaya hati, tentu harus belajar.  Pada tahap awal akan terasa pahit dan getir menjadi orang yang kaya hati. Untuk itu diperlukan kegigihan, ketekunan, kesabaran, tekad bulat, serta sikap percaya diri bahwa apa yang Anda lakukan bukanlah hal yang sia-sia. Agar sikap percaya diri itu bisa tumbuh dalam diri pribadi, biasanya seseorang memerlukan bukti atau contoh, setidaknya pengalaman yang dialami orang lain. Mudah-mudahan tulisan  ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri bagi para pembaca yang budiman yang tengah belajar menjadi orang yang kaya hati. Bahwa sikap dan tindakan Anda sama sekali bukanlah hal yang sia-sia. Sebaliknya, kaya hati merupakan sikap yang selaras dan harmonis dengan hukum alam. Yang akan membuat diri kita selalu berada dalam lajur yang penuh berkah dan anugrah.

TOLOK UKUR KAYA HATI

KAYA HATI sama dengan MURAH HATI. Orang yang murah hati, akan selalu mudah rejekinya. Semakin banyak memberi (tentu dengan ketulusan) akan semakin banyak menerima atau mendapatkan rejeki. Maka orang yang kaya hati, selama hidupnya tak pernah mengalami penderitaan akibat kekurangan. Orang yang kaya hati, hidupnya akan selalu terjaga dari segala kefakiran. Sebab kaya hati akan menjadi PAGAR GAIB yang senantiasa melindungi diri kita dari segala macam marabahaya, derita dan sengsara. Sudahkah kita murah hati ??? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seyogyanya dilakukan secara obyektif. Jangan berpegang pada penilaian dari kacamata kita sendiri (subyektif). Tetapi dengarkan dan lihatlah apa penilaian orang-orang lain pada diri kita sendiri (obyektif).

“jadilah orang yang kaya hati,

sejak kita belum menjadi kaya harta,

kaya ilmu, dan kaya kuasa”

SETIAP ORANG PUNYA SESUATU UNTUK MEMBANTU & MENOLONG

Sekalipun seseorang paling miskin se-Indonesia, namun bukan berarti tak punya apa-apa lagi untuk modal menjalani laku prihatin level tinggi. Dalam falsafah hidup Jawa (kejawen) mempunyai prinsip bahwa bersedekah bisa dilakukan melalui empat cara sesuai dengan kemampuan masing-masing orang. Cara-cara tersebut menunjukkan level atau tingkatan derajat nilai dalam menjalani laku prihatin. Berikut ini saya urutkan dari level paling bawah :

  1. Sedekah Doa : sedekah doa adalah doa bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Namun demikian sedekah doa merupakan sedekah yang paling mudah dan sedekah yang paling lemah. Boleh dibilang sedekah ini tanpa memerlukan modal. Jika  mulut tak kuasa berucap, hatipun masih bisa berdoa. Anda bisa melakukan sambil berbaringan, sambil duduk santai dst. Bahkan orang yang sedang terkapar sakitpun masih bisa bersedekah doa untuk orang lain.
  2. Sedekah Pikir dan Wicara (tuturkata) : satu level lebih tinggi dari sedekah doa. Sedekah ini memerlukan modal berupa kemampuan berfikir yang konstruktif, dan kemampuan menyusun kata-kata menjadi rangkaian kalimat tuturkata yang menentramkan hati dan menumbuhkan semangat hidup bagi orang lain.
  3. Sedekah Tenaga ; satu level lebih tinggi dari sedekah point 2 di atas. Orang yang bersedekah harta memerlukan modal dan perjuangan yang lebih banyak. Kita butuh tenaga, untuk memperoleh tenaga kita harus memenuhi kebutuhan makan minum yang cukup. Pemenuhan kebutuhan makan  dan minum memerlukan beaya. Tenaga yang keluar merupakan tetesan keringat dan aliran energi yang kita miliki. Jadi sedekah tenaga  memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit.
  4. Sedekah Harta ; satu level lebih tinggi dari sedekah tenaga. Sedekah harta memerlukan lebih banyak pengorbanan waktu, pikiran, tenaga dan harta itu sendiri. Untuk memperoleh harta kita butuh pikiran dan tenaga. Kita bisa bayangkan betapa tidak mudah mencari harta, meskipun demikian setelah mendapatkannya sebagian dari harta kita sedekahkan untuk membantu dan menolong orang lain. Oleh sebab itu sedekah harta adalah “laku” prihatin yang paling berat. Apalagi jika sedekah itu bermanfaat tidak hanya untuk satu dua orang, melainkan dapat dirasakan oleh banyak orang (rakyatnya). Seorang pemimpin dengan jiwa negarawan sejati, ia akan menjalani “laku” prihatin dengan melibatkan segenap jiwa raganya. Melibatkan lahir dan batinnya demi mensejahterakan  rakyat yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin, ratu, raja, penguasa yang bersifat adil, arif dan bijaksana, serta berhasil mensejahterakan rakyat serta memakmurkan bangsanya akan mudah sekali menggapai kemuliaan sejati setelah ia “lahir” ke dalam kehidupan yang sejati setelah raganya ajal. Karena sedekah yang ia lakukan tidak lagi bersifat ketengan atau eceran, melainkan bersifat borongan bermanfaat untuk orang banyak.

Seorang negarawan sejati, pemimpin besar, presiden, ratu, raja, pejabat, seharusnya dipegang oleh orang-orang yang mampu melakukan ke-empat macam sedekah tersebut. Bahkan setiap diri kita idealnya jumeneng mandireng pribadi. Pribadi yang mampu mulat laku jantraning bumi menjadi manusia yang mempunyai kesadaran spiritual tinggi, menjadi manusia kosmologis. Menjadi pribadi yang mau dan mampu untuk selalu memberi ke-empat macam sedekah.

semoga bermanfaat
asah asih asuh

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Januari 19, 2011, in Kritik Terhadap "Laku Prihatin" and tagged , , . Bookmark the permalink. 139 Komentar.

  1. Maturnuwun mbah atas pencerahannya.. pencerahan mbah membvat saya pribadi jadi lebh sbar dan eling menjalani beratnya kehidupan ini., mbah kalo bleh nanya.. ilmu pangontongan itu yg bagaimana ia? salah seorang temen saya yg ska bkn jamu2an jawa pengen blajar itu..

  2. sugeng enjang, ki sabda salam hormat kulo katur ki, matur sembah nuwun wejanganipun, mugyo sedoyo poro maos lan kulo pribadi sageto hanglampahi laku meniko, mugyo sedoyo tansah nemahi slamet rahayu karaharjan
    Nuwun

  3. salam kenal ki dr wong tuban. .mkch wejangan nya yg sangta bermanfaat. .mg kisabdo selalu mendapat rahmat dr allah. .

  4. Salam, selamat pagi. Ijin nyimak.

  5. Sungguh penjelasan yang jelas dan gamblang semoga banyak di baca oleh sesama dan dapat di aplikasikan ke dalam kehidupan ini termasuk diri saya pribadi matur suwun ki sabdo, semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan ridhonya.

  6. Salam Taklim Kang Sabdo
    Luar Biasa Kang Sabdo anda mengulas kritik terhadap laku Prihatin, semoga hal merupa-
    pencerahan bagi diri pribadi maupun sedulur lain.
    Suatu perjalanan yang panjang dan berat sekali terasa ketika seorang manusia menuju
    Kautamaning urip kang sejati, tidak akan ada seorang manusiapun yang dapat menemu
    kan titik terang (jalan yang lurus) untuk kembali kepada sang Pencipta kalau tidak bisa menerima pencerahan-pencerahan positif yang bisa menjadi referensi dan tambahan wacana Ilmu Ketuhanan
    Semoga saja pencerahan ini bisa lebih memantapkan diri untuk mencapai Level yang
    tertinggi, Makasih Kang Sabdo

  7. Salam Ki Sabda………

    Pencerahan yang “agak” lama saya tunggu…………..
    Saya berharap bisa mendapat pencerahan berikutnya……….
    Matur nuwun……

  8. Mantap sekali Ki, sangat runtut dan mencerahkan. Tinggal kita mau menjalankannya atau tidak. Terkadang dalam menjalani hidup ini kita sering jatuh bangun, baik dalam urusan kadonyan maupun spritual. Namun bagi saya, yang terpenting adalah tekad dan kemauan untuk segera bangkit lagi dan meneruskan perjalanan.Salam taklim saking kula, mugi penjenengan sakeluarga tansah pinayungan Gusti ingkan maha asih.

    rahayu

  9. numpang nimbrung, ini ada sedikit cerita, mudah2an bermanfaat..

    Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak berbahagia.

    Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamu itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak Tua itu.

    “Pahit.., pahit sekali rasanya…”, jawab tamu itu sambil meludah kesamping.

    Pak Tua sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga didalam hutan didekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ketepi telaga yang tenang itu.

    Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”, perintah Pak Tua. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak Tua kembali bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam didalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

    Dengan kebapakan Pak Tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan itu adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama. Dan memang akan tetap selalu sama.”

    “Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. LAPANG kanlah DADA mu MENERIMA semuanya. LUAS kanlah HATI mu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Pak Tua itu kembali memberi nasehat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

    suwun

    • setahu uce, garam rasanya “asin” tul gak?

      • @uci..

        kexnya garamnya, garam meja..yg udah kelamaan di toples..hhh

      • @Sawunggaling
        Walaupun saya bingung garam yg pahit adanya dimana, tapi ceritane apik.
        Cuma saya mau tanya, untuk lapangkan hati itu gimana caranya?

      • lapangkan hati ya iklas … iklas …. ridho
        iklas tanpa pamrih ….. kalau msh ada pamrih jdnya ngrundel ngedumel sendiri alias gak ridho… hatinya malah makin menciuttttt bukan malah lapang gitu kali ya?

        terus iklasnya jgn karena dipaksa iklas …..

        “ini iklas ya uangnya sy ambil” kata perampok yg pinter hipnotis
        “ya saya iklas” kata yg dirampok (maklum dia lagi gak sadar)
        Dasar itu perampok bego, kalau yg ngasih duwit bilang iklas dianggepnya halal …. karena yg ngasih iklas

        tapi begitu sadar …. dia yg kena rampok gak ridho …. “gua sumpahin itu org yg ngrampok uang sy agar ini itu dsb ….. ” ya malah tambah sempit hatinya.
        ini kritikan buat yg laku prihatin …. harus iklas, jangan laku prihatin krn terpaksa krn gak punya beras, terus puasa … bukan itu.
        Catat ini usulan !!!

    • Mas Sawunggaling yth,
      cerita nya bagus..izin copy ya Mas
      Salam Rahayu

  10. Negara kita memang lagi PRIHATIN..saking prihatin nya tahun 2011 ini pemerintah rencana ngutang lagi 200 Trilyun..(wow, siapa yg bayar ya? masa harus BA/Uci/RP ?)

    NAFSU berutang pemerintah makin besar. Sayang, kemampuan membelanjakan dan memanfaatkannya makin kendor. Tahun ini misalnya, pemerintah menargetkan penerbitan surat utang negara (SUN) senilai total Rp 200,6 triliun. Selain menambal kekurangan Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 senilai Rp 124,7 triliun, penerbitan obligasi negara juga bertujuan menyerap aliran dana asing berjangka pendek (hot money). Maklum, banyak yang memprediksikan, tahun ini dana-dana asing masih mengalir deras ke Tanah Air.

    Pemborosan

    Menurut Rahmat, pemerintah akan tetap melelang obligasi negara secara rutin setiap bulan. Khusus penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI), pemerintah akan menerbitkannya pada Februari dan Agustus 2011. Bentuknya bisa ORI maupun sukuk ritel.

    Latief Adam, Ekonom LIPI, mengingatkan supaya pemerintah memanfaatkan hasil utang ini untuk membiayai program produktif. “Jangan cuma gali lubang tutup lubang,” kata dia. Maklum, selama ini hasil penerbitan utang ini lebih banyak dimanfaatkan untuk mencicil utang lama.

    Itu baru satu soal. Di sisi lain, kemampuan berutang pemerintah tak dibarengi dengan kemampuan membelanjakannya. Tingkat penyerapan anggaran pemerintah, misalnya, makin memble.Tahun 2010, belanja pemerintah hanya terpakai 90 persen dari total senilai Rp 1.126 triliun, di bawah penyerapan belanja tahun 2009 yang sebesar 95,8 persen. “Lantas, mengapa kita masih terus berutang? Ini pemborosan,” kata Revrisond Baswir, Ekonom dari Universitas Gadjah Mada. Jadi, kita membuka TAHUN BARU ini dengan UTANG BARU

    • enak aja uce yg hrs bayar !

      ini menurut uce yg alumni sekolah pohon beringin,
      sebaiknya generasi penerus belajarnya ke begawan Dorna ….

      sejak orba, begawan ekonomi indonesia siapa?
      mrk itu menerapkan Ekonomi Pembangunan “zero grow”, Itu teori bikinan amrik.
      dalam teorinya zero grow, kita ngutang dlm jangka waktu tertentu utang kita akan habis (0), misalnya dalam jangka waktu REPELITA (setiap 5 th), utang negara kita dari 100% akan menurut 0%.

      Mulailah pembangunan dilaksanakan melalui pinjaman luar negeri. Waktu terus berjalan. …. utang bukannya lunas tapi justru makin membengkak @#%^^ bocor di sana sini, yg senyam senyum ya pejabat yg jd mediator atas cairnya pinjaman, ataupun proyek2 yg lain?
      para mediator2 tadi masih mencengkeram ketat pada proyek2 yg telah dibangunnya, misalnya saja pinjaman untuk PLN, katanya zero grow tapi kenyataannya setelah jangka waktu pinjaman habis atau utang telah kembali tapi justru harga listrik makin melaju.
      Jalan tol, juga. bukannya zero grow bebas biaya murah untuk rakyat, tapi ini malah melonjak terussssssssss …… huh
      Ini kan kasihan rakyat kecil yg kemampuan akal cari rejekinya baru sebatas otak dengkul, beban akan semakin bertambah.

      Negeri tuyul spt ini sampai kapanpun gak akan maju …
      Makanya uce sangat setuju, jika anak2 muda yg belum terkontaminasi &^%$ diberikan peluang spt RP/RD yg msh bersih dari virus2 spt itu untuk memimpin negeri ini? Jadi mau alumni ITB lah, ui lah, ugm lah …. gak ada kemajuan buat negeri ini jika akhlaknya tidak jujur, bener, lurus.
      Teori2 yg dijejelin ke mahasiswa itukan cuma ilmu terapan, terap sana, terap sini, jika sudah lulus masih juga gak dihargai ……. lebih seneng jadi kuli dari pada jadi wirausaha.
      Tauh lah pusing %^%$$^^ tanya aja lah sama putrinya bu lurah yg sanadnya dari Jepang yg sekarang kerja di NASA

  11. Dari Daftar tersebut, saya berada di no 3 n 4. Bodohnya saya.. Bodohnya.. Bahkan Menganggap hal itu adalah cobaan..

    • daftar apa sih? bolak balik cari itu daftar, gak juga ketemu.
      urutan no. 3 masih juga dapet hadiah, tenang aja
      cobaan? seneng-susah, miskin-kaya apa cobaan? ………… itu anugrah

      jgn yg susah atau miskin doang yg dianggap sbg cobaan
      justru ketika senang jangan harus inget ketika susahnya, biar semua yg kita terima susah-senang menjadi rasa syukur kpd-Nya

      uce adalah teman kalian semua …..

  12. “”…….menganggap suatu penderitaan sebagai HUKUMAN tuhan atau alam semesta, ketimbang menganggapnya sebagai COBAAN (bagi orang-orang beriman). Jika saya menganggap setiap derita sebagai cobaan, maka sikap demikian beresiko menimbulkan sikap kurang waspada dan kurang eling. Sebaliknya tanpa disadari justru membuat sikap “besar kepala”, merasa diri sudah beriman lalu disayang tuhan. ……..”

    Inilah penyakit umat yang paling besar, tapi jarang disadari. Menjadi PR bagi kita semua.
    Tantangannya dalam kehidupan sosial, kita lebih sering “menghibur” orang yang terkena bencana/musibah dengan berkata “Semoga anda tabah dengan COBAAN ini”, tidak pernah kita berkata “Semoga anda tabah dengan HUKUMAN ini”.

    • salamungalaikuum.
      Kalau jalma sudh bisa lila, legawa, temen, sabar dan berbudiluhur, yang namanya susah senang, khawatir, takut, waswas etc itu ya nggak lagi manjing guwagarbane. karena wis ora gumunan.
      Wah rumah Kangmas Sabda semakin gayeng dan indah saja.
      Salam Rahayuu wibawa mukti.

  13. terima kasih atas uraiannya yg gamblang dan mencerahkan… semoga kita semua semakin menyadari pentingnya laku prihatin baik untuk peningkatan kualitas diri sendiri maupun untuk kesejahteraan makhluk lain tanpa kecuali….
    Salam dari pinggiran kali opak….

  14. Terima kasih..atas penjelasannya, Pak. Jadi jelas bagi saya sekarang, apa laku prihatin itu.
    Sebelumnya saya kira laku itu cuma seperti merasa perih sendiri, diam, lantas berdo’a. Ternyata tidak begitu.
    Terima kasih sekali lagi Pak, atas penjelasannya.
    Salam dari saya ditepian laut teluk lampung.

  15. SABDOPALON dan WANGSIT-SILIWANGI…

    adalah Pernyataan Puncak KePRIHATINan

    • BERJUANG MELAWAN DAN MELEPASKAN DIRI dari Penjajahan, Penjarahan, Pembodohan…ADALAH SALAH SATU BENTUK PERNYATAAN KEPRIHATINAN…

      MATI SAKJERONING URIP…
      Jangan disalah artikan menjadi ZOMBIE

      • dulu ketika kecil saya dialog dengan orang jawa asli, saya sebut asli karena saya blasteran jawa dan jepang
        dia bilang, manusia jawa itu keturunan dari Togog,,,,

        hahahaaha,,,,,

        kenapa saya pindah, hehehe….

        coba deh kang BA yang kadang keminter hahaha…..apa asal kata Togog….
        hehehehehe….

        kedua neh, saya sebenarnya hapal cerita wayang….itu favorit saya waktu ABG smp…
        ada kisah menarik tentang KUMBAKARNA…

        saya lihat belum ada yang membahas di sini dalam-dalam….

        atau saya yang mau mendongeng soal kumbakarna…padahal saya bukan jawa murni lho, entar malu lagi hahahaha….

        sebuah perulangan….BAU WANGIIIIIIII………
        sepi nih malam hari….

        hehehe….

      • ZOMBIE ya zombie beda dgn insan kamil ……….
        org yg udah bisa melihat bima suci itu namanya insan kamil
        kalau zombie ya mayat berjalan hhh ………..

        Jadi gini aja deh, diantara makhluk yg punya visi misi jauh kedepan ya ULAT. Apa visi misinya? dia itu kepingin bisa terbang …….. laku ini dicontoh oleh para nabi juga para raja yg pandita.
        makanya dia laku prihatin, pertama2 dia makan yg banyak biar badannya gede dulu, setelah itu mulai deh puasa gak makan daun ….. sampai dirinya jadi kepongpong, terus dan terus dia puasa sampai jadi kupu-kupu.
        setelah jadi kupu-kupu (cita2nya terkabul) dia terus terbang ………..

        makanya orang jepang negeri sakura itu senang dgn kupu2 malam hhh …..

  16. @Sabdalangit
    Apakah untuk melaksanakan laku prihatin level tinggi sebaiknya melalui level bawah dulu?
    Atau bisa berbarengan?

    Terima kasih

    • Mas Abu Itza Yth
      Menjalani laku prihatin level wabah dan level tinggi bisa berbarengan. Bisa juga salah satu. Tapi banyak pula orang yang sudah memiliki kematangan mental lahir dan batin sebagai bawaan lahir, atau talenta. Orang-orang demikian biasanya tak perlu belajar menggembleng mental lahir dan batinnya lagi, karena prihatin level tinggi sudah terimplementasi ke dalam perbuatannya sehari-hari.
      Namun bagi yang belum “lulus” prihatin level bawah, prihatin level tingginya menjadi bersifat SEMU. Karena masih terperangkap oleh pamrih, sekalipun pamrih (harapan) untuk disanjung-sanjung. Yang lebih parah, pamrih mendapat upah dari tuhan. Orang seringkali kebablasan, mentang-mentang tuhan dianggap mahakaya, mahamemberi, mahakuasa, mahapemurah, dst lantas orang selalu menganggap dirinya pantas utk selalu meminta imbalan atau upah pahala kepada tuhan. Di mana nilai kepantasannya ? Di mana pula nilai ketulusan kita ? Setiap orang memang berhak berpamrih kpd tuhan. Itu adl pilihan. Bahkan mungkin dianggap sbg pilihan TERBAIK. Tetapi sikap tersebut menjadi cermin diri, sampai di manakah level kesadaran spiritualnya. Yang pasti masih jauh di bawah level “DUWE RASA, ORA DUWE RASA DUWE”. Titik nol, samudra tanpa tepi.
      Asah asih asuh

  17. Edy Yatno Milkhan

    Mas Sabda ,
    Bagaimana cara menjalankan lalu prihatin agar sampai ketujuan tidak muter-muter dalam kegagalan dan bagai mana cara untuk mengetahui sudah sesuai alur atau malah melenceng mohon pencerahan dan bimbingannya mas, kulo edy yatno milkhan yang lebaran kemaren sowan ke Rumah matur nuwun

  18. artikel ki sabda selalu buat adem dan tambah ilmu..
    😀
    :top:

    ijin save ya ki 😀

  19. Ki Sabda, Yth.

    Dalam suasana prihatin, sering kali kita mendengar; jika kita menjalankan puasa tertentu,dalam waktu tertentu, dengan doa tertentu, keinginan kita bisa segera tercapai.

    Saat kita sengaja menjalankan puasa ini, kita berharap tuhan mengabulkan permintaan kita, dan menarik perhatianNya dengan puasa tertentu dan doa tertentu.

    Apakah ini bukan semacam tindakan “pamrih” dan “penyuapan” terhadapNya? Sebenarnya bagaimana Ki Sabda.

    Satu hal lagi Ki Sabda, seandainya tuhan menghukum salah satu dari pasangan suami-istri, tentunya yang merasakan hukuman itu semua yang ada dalam rumah itu (suami, istri,anak, pembantu atau bahkan mertua ) karena mereka terlibat secara langsung dalam keberlangsungan rumah tangga tsb.

    Apakah memang demikian Ki Sabda. Mugi panjenengan kerso maringi pitudhuh lan pepadang. Nuwun Ki.

    Apakah demikian Ki

  20. Ki Sabda Yth,

    Dalam suasana prihatin, sering kita dengar bahwa puasa tertentu,dalam waktu tertentu dan doa tertentu, bisa segera mengabulkan setiap keinginan kita.

    Saat kita melakukan puasa ini, tentunya kita berharap agar tuhan bermurah hati segera mengabulkan keinginan kita, karena kita telah melakukan sesuatu yang khusus(puasa tertentu, waktu tertentu dan doa tertentu).

    Bukankah sebenarnya yang kita lakukan ini semacam perilaku “pamrih” dan sekaligus tindak “penyuapan” terhadapNya?

    Satu hal lagi, Ki Sabda. Saat tuhan menjatuhkan hukuman kepada salah satu pasangan suami-istri, seisi rumah juga ikut menderita ( suami, istri, anak, pembantu, bahkan mertua) karena mereka dlam satu kesatuan. Apakah demikian Ki Sabda?

    Mohon pencerahannya Ki. Nuwun

  21. Salam Rahayu
    Trima kasih saya sampaikan kepada mas Sabda yg telah menjelaskan secara rinci bab Laku Prihatin ini,dlm pemahaman saya laku prihatin masih seputar puasa dll,teryata cakupan sangat luas.seandainya saja penguasa,pengusaha,dan cerdik pandai melakukan prihatin seperti yang di sampaikan Mas Sabda saya yakin Indonesia ndak seperti saat ini.dan adanya Blog ini merupakan bentuk laku Prihatinya mas Sabda kan ?.
    Salam sedjati

  22. siiippp…mantavvv ki sabdo..ini yg tak tunggu” dari kemarin..mkch atas pencerahannya ki…..
    Rahayu _/\_

  23. siiippp…mantavvv ki sabdo..ini yg tak tunggu” dari kemarin..mkch atas pencerahannya ki…..
    Rahayu _/\_ .

  24. Ngglosor Madhep Wetan

    Yth. Poro Pinisepuh & Poro Sedulur, sy minta ijin urun rembug.

    Melalui tulisan Mas Sabda ini makin menjadi jelaslah esensi ‘laku prihatin’ spiritual kejawen, yaitu laku prihatin yg terus-menerus (dg berbagai ragamnya) selama kita hidup.

    Laku prihatin yg berarti mau memahami, mengerti, berjuang, menyemangati, berbagi & memaafkan kepada diri pribadi, sesama & semesta. Inilah laku prihatin sejati, yg secara wajar dapat dilakukan oleh semua orang, tidak aneh-aneh, tidak memberatkan (mungkin berat bagi mereka yg terbiasa memelihara serakah-angkara-iri-srei-dengki)…

    Di dalam sulur2 ilmu kejawen ada pula dikenal beberapa metode tapa-brata / tarak-brata. Beberapa orang menyebutkan metode ini menggunakan pendekatan metafisik dg cara mati-raga atau pantang-puasa untuk mencapai tujuan2 mulia atau hanya sekedar menggapai suatu ilmu.

    Jenis lakunya pun macam2, ada yg puasa biasa, puasa 1 hari full (buka-tutupnya jam 18.00 sore), mutih (hanya makan nasi putih belaka & minum air putih saja), ngalong (hanya makan buah), ngrowot (hanya makan umbi2an), ngebleng, pati-geni, dlsb.

    Dasar dari menjalankan laku adalah membuat diri kita kosong (jasmani & rohani), yg kemudian digedor dg masukan baru, entah itu berupa nasehat maupun ilmu. Dg kondisi jasmani & rohani yg ramai maka nasehat atau ilmu akan sulit masuknya, mungkin karena jika kita tidak dalam kondisi kosong & pasrah maka logika penolakan & superioritas kita-lah yg bekerja.

    Mungkin bisa dibayangkan, kita akan sangat sulit mendapat respon dengan mengetuk2 pintu atau bahkan menggedor2nya jika bangunan yg kita ketuk sedang mengadakan acara ajeb-ajeb. Berbeda dg rumah yg sepi, beberapa ketukan pelan-pun bisa langsung mendapatkan respon.

    Jadi sebenarnya laku prihatin kejawen itu sangat mudah, yg sebenarnya adalah penyadaran diri. Laku prihatin dengan cara bermati-raga hanya merupakan panggilan hidup, & sama sekali tidak baik bila dipaksakan. Para penghayat kejawen biasanya bermati-raga (pantang / puasa) hanya jika mendapat tuntunan dari Kadhang Sejatinya, & biasanya ini adalah peristiwa spesial.

    Bila kami mengetahui ada saudara yg sedang melakukan dawuh (perintah) spesial ini, kami akan sangat senang karena bila laku-nya berhasil, maka bukan hanya yg bersangkutan saja yg menerima berkah, namun juga saudara2 yg lain akan mendapat berkah juga. Maka dari itu kami mendukung bila ada saudara yg sedang ‘nglakoni’.

    Puasa di dalam kejawen bukan bertujuan untuk membuat senang hati Tuhan. Gusti Ingkang Moho Agung bukan sosok yg gila hormat, yg suka disembah2. Namun Gusti akan senang sekali jika kita melakukan laku prihatin penyadaran diri. Berkat-Nya pasti akan diturunkan, tinggal kita menanti waktu saja, dg catatan kita harus selalu berusaha & tekun. Berusaha loncat sana-sini, pindah sana-sini, baru mulai sudah ganti yg lain : itu namanya bukan berusaha & bertekun. Gusti menyukai proses & ketekunan di dalam proses, sebagaimana semesta ini tercipta : dengan proses.

    Hla kok ada orang yg prosesnya empuk2, sementara saya prosesnya keras sekali… so hard !!… Bagaimana ini ? Tuhan tidal adil !!!

    Benarkah Tuhan tidak adil ?

    Tuhan menjadi tampak tidak adil jika kita tidak mengikuti aturan2-Nya. Aturan seperti apa ? Aturan agama ? Aturan agama itu baik, tetapi yg lebih pokok adalah hukum semesta : tekun mengikuti proses, seberat apa-pun.

    Mengambil langkah yg selalu baru & berbeda, tanpa ada kesinambungan, bukanlah mengikuti proses, hal ini tidak mengikuti kaidah hukum semesta. Usaha seperti ini tidak akan pernah berhasil.

    Usaha yg akan berhasil adalah jika kita mau bertekun di dalamnya, seberat apa-pun. Hasilnya bisa kita petik kemudian : karena Tuhan pasti akan memberikan berkat-Nya utk kita. Bila kita tidak berhasil di negeri sendiri, mungkin talenta kita yg sudah sekian lama kita asah dapat laku dijual di luar negeri… siapa tahu..?? hehehe…..

    Orang2 yg mengalami jalan mudah-cepat-empuk sebenarnya telah Tuhan sediakan untuk contoh, namun kita harus menyesuaikannya agar cocok dengan kondisi kita, toh kondisi kita juga dinamis. Jadi wacananya sebenarnya sudah terpapar, tidak ada rahasia2 lagi. Dengan demikian hubungan kita dg sesama sebenarnya bisa saling menyemangati….. hidup menjadi lebih semangat, lebih menyenangkan……

    Oh ya, sedikit ilustrasi tentang berusaha & bertekun : buah anggur saat ini harganya 30-60 ribu per kilonya. tapi apa yg terjadi bila buah anggur tersebut diinjak2 sampai hancur mumut, diperas sampai sarinya terpisah dg ampasnya, & kemudian disimpan di ruang bawah tanah – setiap 3 bulan sekali botolnya diputar – & ini dilakukan tahunan. Sungguh suatu proses panjang yg membutuhkan ketekunan & usaha. Hasilnya ? sebotol anggur (wine) yg harganya bisa mencapai angka fantastis.

    Jadi laku prihatin kita adalah penyadaran diri, berusaha & bertekun di dalam proses. jangan khawatir ‘Gusti mboten nate sare’ ( Tuhan tidak pernah tidur ) ……..

    nuwun
    Rahayu

    • mas ngglosor ……
      pernah juga sih aku ditanya ama temen ….. kok bisa punya kelebihan ini-itu tanpa laku prihatin …. hhh …… lah wong leluhurku biyen sing tuku prihatin topo broto kanggo anak-cucune, saiki anak cucune tinggal panen

      ujare dekne … “enak juga ya, gadah leluhur sing apik-apik lan sakti2, lehe prihatin kanggo anak-cucune”.
      makanya jadi anak ya kudu kenal karo leluhure, orang tua itu kadang-kadang mbelani banting tulang ya buat anak cucunya jel ……

    • Mas Ngglosor Yth
      Maturnuwun panjenengan sampun kerso medar pangandikan ingkang estu ndamel reno ing manah. Ulasan bab wine, wahh.. Dados kemutan…Sumonggo dipun unjuk benteran ingkang abrit menopo ingkang pethak mas 🙂
      Dipun mixed kaliyan softdrink ugi eco, seger lan anget ing badan.

      Mas Edy Yth
      Puasa (segala macam puasa) pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri pribadi. “Pahalanya” ya berupa kualitas diri yang meningkat. Itupun kalau kita memahami makna dan fungsi puasa secara tepat. Setelah kualitas diri meningkat, selanjutnya dijadikan bekal untuk diterapkan dalam perbuatannya keseharian. Jika panjenengan sudah menghayati mengamalkan ke dalam perbuatan sehari-hari, “pahala” akan meningkat, kebaikan panjenengan akannberbuah kebaikan pula.
      Nah, apabila seseorang berpuasa untuk suatu tujuan khusus, hal ini sama halnya dengan BERDOA. Keduanya akan berpengaruh kpd sikap mantab, tekad bulat dalam diri untuk menggapai suatu harapan dan cita-cita. Efek kemantapan sikap inilah yang tumbuh di dalam diri si pelaku puasa atau pendoa. Efek tersebut sangat positif dalam mendukung upaya-upaya pencapaian cita-citanya. Paling tidak, tumbuhnya rasa percaya diri seseorang dalam upaya meraih keberhasilan akan sangat menentukan kesuksesannya.

      Selanjutnya, soal hukuman kpd suami istri, yang akibatnya ikut dirasakan oleh anak-anak dan saudara yang lain. Hal itu memang sering terjadi. Oleh sebab itu kita perlu lebih waspada, bahwa keburukan yg kita lakukan bisa membuahkan karma atau akibat yg bisa dirasakan tidak hanya diri kita saja, bisa diderita oleh anak-anak, sodaranya, bahkan tetangganya. Sebaliknya, kebaikan akan memancarkan hal-hal positif kepada orang-orang terdekat kita, ansk, istri, suami, ortu, tetangga, sahabat dst.
      Apabila kita mengalami penderitaan akibat ulah orang lain, hal itu justru bisa dijadikan sarana utk “laku prihatin”. Krn derita bukan merupakan hukuman atas perbuatan yg kita lakukan.
      Salam asah asih asuh

    • @ mas Ngglosor, pinanggih malih mas…

      Dari paparan panjenengan, tentang aneka cara laku prihatin, spt : mutih, ngalong, ngebleng, ngrowot, pati-geni dsb,…kayaknya perlu ditambahi NGANGGUR…artinya dalam waktu tertentu hanya MINUM-ANGGUR saja…
      he he he…prihatin ning sssuegggerrr…

  25. assalamualaikum. .ki mohon tanya,gmana caranya qt bs menemukan leluhur qt yg bs membimbing qt ki,krn slama ini saya g tw silsilah dr kakek kakek yg trdahulu,udah pd meninggal. .sdngkan skrg ziarah nya cuma alm bpk n kakek saya. .pengen bgt ki ktmu leluhur yg baik atw waskita tp g tw caranya,maaf ki pertanya an yg g mutu tp mohon di jwb,maaf jg kalo bhasanya kurang sopan n blepotan,assalamualaikum. .slm knl bwt pinisepuh yg lain dr wong tuban

  26. assalamualaikum wr. wb.
    salam sejahtera.
    Yth. ki sabda….
    semoga sehat selalu.
    setelah membaca tulisan njenengan di atas dan komen-komen dari para sedulur, sampailah saya pada sebuah pemahaman bahwa laku prihatin bisa kita jadikan salah satu jalan untuk mendapat kesempurnaan hidup (semoga pemahaman saya tidak salah). tapi kalu boleh saya urun pendapat? bahwa laku prihatin yang njenengan urai di atas, dari laku prihatin level bawah dengan objek (sasaran) pribadinya sendiri dan laku prihatin dengan objek orang banyak (level tinggi). bagaimana kalau di tambah dengan laku prihatin yang objek sasarannya adalah semua ciptaan tuhan selain manusia (karena manusia telah menjadi objek laku prihatin level bawah dan level tinggi). misal: hutan (tumbuhan), laut (sungai, kanal), tanah (bumi), hewan (darat dan laut), mahkluk gaib, Dsb. karena manusia tidak sendiri hidup di bumi ini. dan juga manusia sangat tergantung kepada bumi seisinya selain ketergantungannya kepada manusia lain. contoh konkrit;
    1. sebagai petani hendaklah kita arif dan bijak dalam mengolah tanah dengan cara tidak berlebihan menggunakan bahan kimia (pupuk, pestisida),
    2. sebagai nelayan janganlah memanen ikan dengan cara racun ikan, pukat harimau, atau bom ikan.
    3. pemilik pabrik hendaknya harus memperhatikan AMDAL, jangan membuang limbah di laut, sungai. hendaknya pabrik dilengkapi dengan pengolah limbah.
    4. pemilik hak pengelolaan hutan hendaklah jangan suka menenang, tetapi gemar menanam.
    5 dan masih banyak tindakn-tindakan yang bijak terhadap alam seisinya.
    itulah sedikit yang bisa saya usulkan ki…. semoga berkenan,

  27. Matur nuwun kagem sederek2 ingkang sampun kerso medar sabdo puniko, mugi2 sedoyo angsal pinaringan kanugrahan saking Gusti ingkang Moho Kuwaos,,,, Amin.

  28. Betul kang sabda ….
    selain manusia, spt binatang atau tumbuh2an juga ada laku prihatin? tapi kalau dicermati laku prihatin binatang/tumbuh2an adalah proses alami menuju out put …..
    Tp intinya baik binatang/tumbuh2an ingin memberikan contoh kepada manusia agar mereka mengerti dan menghargai makna hidup dan kehidupan di alam bebrayan ya di dunia ini hhh ….
    kang sabda coba kita lihat semut? ada beberapa hikmah yg bisa kita petik dari gerak gerik semut ya kan?
    kemudian tanaman padi, makin tinggi makin merunduk ya kan?
    kemudian pohon pisang? pohon ini hendak memberikan pelajaran buat manusia, bahwa hidup ini harus memberi manfaat. Pohon pisang ditebang tumbuh lagi, di tebang tumbuh lagi terus ….. dia gak bakalan mati, dia cuma kepingin mati jika sudah memberi manfaat yaitu buah pisangnya, artinya tanpa ditebang pun jika sudah berbuah dia akan mati sendiri ya kan? ya itu laku prihatinnya barang kali loh

    kemudian uce pernah ngobrol di makam pangeran jayakarta di jakarta kaum, pingin tahu siapa beliau dsb ….
    ini asal-usulnya, ilmunya dari akademis mana? hhh …..
    jawabannya juga bagus, tapi kalau asal-usul gak mau uci cerita disini, nanti ada yg marah krn ada yg gak terima krn gak sama hhh ….. maklumlah cara pandang sejarah dgn cara pandang dari hasil dialog kadang suka gak serasi.
    ada 3 (tiga) pertanyaan dari uce :
    1. kita hidup di dunia ini untuk apa?
    2. kenapa orang2 selalu jahat kpd uce, mereka banyak yg nipu uce
    3. apa bener eyang jayakarta benar2 sakti ?

    kemudian beliau menjawab pertanyaan, pertama, katanya beliau kuliahnya di padepokannya sunan gunung jati (hhh …. beliau alumni dari gunung jati). Perumpamaan hidup di dunia dia cerita gini …. ketika dia mesantren (istilah pesantren itu sekarang kalau dulu pesantren itu padepokan) para santri disuruh pergi mengembalakan sapi ke suatu tempat (kalau istilah sekarang PKL/Praktek Kerja Lapangan, masing2 santri dibekali sapi …. maka pergilah semua santri menggembalakan ternak ya sapi tadi selama sekian bulan.
    Setelah selesai, para santri pulang ke padepokan, kemudian sunan gunung jati bertanya kepada semua santri …”HIKMAH APA YG KAMU PEROLEH DARI PKL?”
    Masing2 santri memberikan jawaban, sesuai dgn pengalamannya masing2.
    Umumnya hikmah yg diperoleh para santri yg diceritakan kpd gurunya, adalah kelaparan, kedinginan (hhh …. dasar anak manja kt bathin uce).
    Jawaban yg paling menajubkan justru dari Pangeran Jayakarta, dia dapet nilai A (hebat hhh …… apa ada nilai di atas A ya?).
    Kata beliau….. “HIDUP DI DUNIA INI HENDAKNYA BERMANFAAT BUAT ORANG LAIN, MENCONTOH SEPERTI SAPI”
    lah apa yg dicontoh dari binatang sapi?
    coba cermati sapi :
    1. dari tenaganya bermanfaat buat bajak sawah
    2. susunya bermanfaat untuk kesehatan
    3. kulitnya bisa bermanfaat buat bikin sepatu, baju, dll
    4. dari kotorannya bermanfaat buat pupuk
    5. dari dagingnya bermanfaat
    6. dst ….. capailah

    lah ini kok ada manusia yg tidak berguna buat orang lain? …..

    jawaban yg kedua, kenapa manusia berkelakuan suka berbohong?
    kata beliau, TIDAK ADA SATUPUN MANUSIA YG DAPAT MENGHINDARI DARI KERIDOAN ALLAH? apa maksudnya ya?
    setelah direnung2in, ternyata ya memang banyak perbuatan kita yg tidak diridoi allah yg kita jalani, coba hitung dalam satu hari berapa perbuatan kita yg tidak diridhoi allah?

    Jawban yg ketiga, beliau tidak sakti (mungkin beliau merendah padahal sakti hhh …), ketika melawan penjajah belanda, beliau pakai siasat istilahnya pakai akal lah, ketika dikejar2 belanda, pakaiannya di lempar ke sumur (di makam sana emang ada sumur) lah dikira Pangeran Jayakarta masuk ke sumur, maka sumur di lempar batu sampai yg nglempar cape ….. sebulan kemudian ternyata beliau masih hidup segar bugar lagi ceramah di padepokan ….. (jangan2 simbad juga pakai trik kamera kali yah?).

    amat sedikit orang yg sakti ya? kakek uce juga dulu ketika bergerilya melawan belanda, ditembak gak mati-mati? kata uce kpd kawan2.
    kata kawan2 “hebat dong .. sakti dong”
    lalu kata uce “ya jelas gak mati karena gak kena! alias peluruhnya meleset”.
    teman2 ” huuuuuu ……”

  29. salam mas Sabda

    tulisan ini selain untuk cermin diri, juga untuk obat diri, terutama buat yang merasa super dan merasa puas telah berhasil membuat semua menjadi “prihatin” tanpa pegangan alias kembali lebih terpuruk

    laku Prihatin …..ya benar , sekarang seperti teraplikasi untuk diri secara nyata

    • tidak ada yang tertinggal kecuali di mataku yang masih sipit, semua sudah dijelaskan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya walau bukan dalam ukuran waktu cepat dalam pemahaman manusia.,…

      andai semua menjalankan apa saran saya, tidak ada yang kacau dan kehilangan pegangan, ah semua bandel sih….hehehe…

      sudah saya bilang, saya tuh jenius, semua sudah saya paparkan dan sampaikan masalah berikut solusinya dan semua pertanyaan dan keluhan sudah ada jawabannya, tinggal dijalankan…

      sebenarnya mudah bagi saya menjelaskan semua dengan sangat detail, tapi nantinya bangsa ini impoten tidak ada arus pemikiran yang keluar dan berproses melalui kaidah hierarki…

      itu sajalah hehehe…

      • hhh …. nah kan ngaku ….. jeng Rina mata masih sipit, ya pantesan gak jelas melihatnya ….. hanya mata yg lebar lah yg mampu melihat sempurna ….
        seperti bulan bentuknya masih sipit juga pantulannya masih gelap remang … dan jika bulan telah terbuka semua namanya bulan purnama …. dia mampu menerangi kegelapan …..
        kata orang nih …. terang mana matahari dgn bulan? jawabannya pasti terang bulan……
        ditengah kegelapan malam hari ketika manusia tidak punya penerangan yang lain spt listrik dll dan matahari juga sudah tidak peduli lagi, justru bulan dan bintang yg bisa memberikan penerangan ….
        oleh karena itu bulan dan bintang sbg lambang apa? ya lambangnya si pemberi penerangan kpd yg tertimpa kegelapan …..
        Rina dari negeri matahari ya pasti benci jika datang bulan ya kan? karena jika datang bulan buat perempuan, badan jadi gak enak lah …. tapi jangan lupa dgn datang bulan Rina jadi sehat dan subur karena darah kotornya terbuang …. lah kok nglantur sih uce ngomongnya, datang bulan aja diomong, apa ada kaitannya dgn kritik terhadap laku prihatin?
        ya maaf deh ….. habis lg kesel aja ama Rina yg matanya masih sipit dan cara pandangnya pasti sebelah mata uhh

  30. salam kenal ki bagaimana kita bisa tau dan yakin dengan jalan hidup yang kita pilih

    • Bocah Yth
      Salam kenal kembali,
      ki bagaimana kita bisa tau dan yakin dengan jalan hidup yang kita pilih ?
      Hal itu lebih mudah, kita hidup ada dalam dua macam dimensi. Hidup yang bersinggungan dengan dimensi gaib. Dan hidup yang bersinggungan dengan dimensi wadag atau nyata, riil, fisik.
      Hidup dalam dunia wadag, fisik, riil, tentu lebih mudah memastikan mana yang tepat dan benar dilakukan. Karena semua orang bisa membuktikan dan bisa juga menyaksikan. Sedangkan hidup yang bersinggungan dengan dimensi gaib. Karena dimensi gaib sulit disaksikan, apalagi disaksikan oleh khalayak, sehingga sulit juga membuktikannya. Lantas orang hanya ditekankan utk SEKEDAR YAKIN saja terhadap hal-hal gaib. Yakin artinya percaya tanpa perlu membuktikannya. Namun kita harus menyadari bahwa
      Agar selamat, yang penting kita jalani hidup ini dengan TIDAK mencelakai, tidak merugikan, tidak menyakiti hati orang lain, dengan dalih apapun juga.
      Sebaliknya, buatlah diri bermanfaat utk seluruh makhluk, dan alam semesta. Hal itu akan membuat diri kita selalu mendapat keselamatan jiwa-raga.

      Perdebatan mengenai hal-hal bersifat realitas, fisik, wadag, sudah lazim dilakukan utk mencari deskripsi dan eksplanasi yang tepat akurat. Lain halnya dengan hal-hal gaib, jika didiskusikan secara ngotot menjadi sangat rawan terjadi perpecahan. Nah, akhirnya hidup selalu dalam perpecahan, perselisihan, pertengkaran akan sesuatu yang gaib yang sulit dibuktikan secara obyektif. Jika kita mau jujur, pembuktian akan hal gaib pun yang paling mudah dilaksanakan justru dalam pendekatan rasionalitas.
      salam asah asih asuh

      • Terima kasih ki. ki sabda saya saat ini tidak menjalankan agama saya dengan benar . saya mulai kehilangan keyakinan terhadap agama saya . terkadang saya juga merasa kehidupan saya hanya jalan di tempat alias tidak ada perubahan

      • es lilin … es lilin …. oi siapa mau beli
        caranya makan di jilatin aja ditempat gak usah jalan2, sampai habis …..

    • ngapunten ya kang sabda (hhh … uce juga tahu diri biar kang sabda dulu tuan rumah, siapa tahu ada rejeki dari kang sabda)

      ini bocah tua atau bocah kecil ya? krn ada bocah tua nakal di film Andylauw
      gini ya masalaj jalan … ini tentang jalan ya?
      ehm … kalau ditanya nanti ditanya ama sesama bocah “kalau kita mau ke Monas, jakarta starnya dari Depok, jalan ada berapa belokan?” tolong dijawab 2 (dua) belokan, yaitu belok kiri dan belok kanan tul kan?
      terus kalau ditanya, ujungnya dimana? tolg jawab “ujungnya ada di monas !” betul kan?
      Itu kan berangkat, lah kalau pulangnya juga sama ada 2 (dua) belokan kanan-kiri … terus kalau di tanya ujungnya di mana? tolong jawab ujungnya ya di rumah? tul gak?

      artinya kalau kita udah tahu jalan hidup dan ujungnya, pasti mantab toh?
      lah kalau gak tahu jalan bisa kesasar, masih untung gak masuk selokan got, atau melanggar rambu-rambu lalu lintas, bisa ditilang kena pasal rp 750 ribu, tul kan?
      lah untuk mencapai monas sampai kembali pulang, kuncinya harus punya bekal, iman, sabar, tawakal …. pasti slamet deh kembali kpd-Nya.
      Kalau di jalan ketemu perempuan spt Rina Aizawa jgn mau di ajak, itu godaan yg amaaaaaaat mengerikan. Ok!
      Agar dicatat ini masukan! hhh …. kali2 bisa diterima.

      • nambah deh …. doakan ya biar gepokan cepat cair ….
        itu BA lagi nuntut warisan mataram tp belum cair2, masalahnya di dunia ghaib juga administrasinya ruwet, banyakbiro krasinya ….
        itu gepokan buat kalian para bocah yg pada mau belajar serta menjalankan laku urip, biar tahu jalan pulangnya …. halal kok wong itu hadiah dari allah, biasalah akhir tahun (akhir jaman) perusahaan2 baik di alam kita dgn alam ghaib sama bagi2 SHU sisa hasil usaha …. bru dijuru, bro dipantau, ngalayah di tengah imah, amiiin robal alamin

      • kalau dirasa setiap pertanyaan hampir sama, uce jadi inget org jualan di kaki lima yg teman2 yg jualan pura2 jadi pembeli …..???
        supaya dagangannya laku hhh …. trik kali
        begitu dibuka kardusnya, ternyata isinya cuma gelas, uce pikir isinya jam tangan dari emas … tapi ya gak papa, perjuangan emang kt RD harus dgn air mata ….. kasihan deh uce ini ….
        uce kamu itu virus kata suara di sana …. mau ngapain keluyuran mbangunin orang tidur, biarin aja kenapa? lagi tidur mimpi enak2 dibangunin ya percuma …. awalnya sih teriak2 kembalikan – kembalikan itu barang dagangan sy yang di rusak ….. ya udahlah mungkin Rina Aizawa yg benar ….. togog ya magog ya ma-juj ….
        kakang Semar, uce nyuwun pangapura, gak sanggup cari saja yg lain, uce mau pulang aja deh …. habis uce udah berani melawan Rina Aizawa …. maafin aku ya Rina sayang …… ternyata kamu tuh cantik, hatinya mulia, uce udah salah sangka …..

      • Kakang Semar ….. ternyata yg jualan dagangan dan yg beli dagangan di monas ya itu2 juga orangnya, artinya cuma trik agar menarik pembeli yg sesungguhnya …. “gemana critanya ngger?” kt semar.
        tujuannya agar pembeli (asli) biar pd tertarik melihat adanya demo laris manis tanjung kimpul ……. “mas-mas ini barangnya apik tenan, jam tangan asli dari emas, kemarin sy beli barang spt ini di sana jelek2 alias palsu kenapa ya? saya kok jadi ragu ama barang yg sudah sy beli?” kata penjual yg menyamar jadi pembeli.
        “oho disana emang begini…. begitu …. begini…. dst …..” kata penjual menjawab pertanyaan yg pura2 jd pembeli.
        Melihat pemandangan tsb, para pejalan kaki jadi pada tertarik berkerumun, pulangnya pada linglung krn terngiang2 kata2 penjual dagangan, sampai2 pulangnya muter-muter ada juga yg memilih jalan kiri, lah gak sampai2 kembali ke rumahnya masing2 krn kehabisan ongkos ….. setelah dibuka kardusnya eyallah cuma kardus isi gelas ….. ya nangis hhh ….. kacihan

      • lah gmn? mau protes protes ama siapa? mau kembalikan itu gelas satu kardus gak punya ongkos balik ke monas …. hhh ….. lagian itu pedagang kaki lima udah pada ngibrit kabur di kejar-kejar kamtib.
        nangis ….. nongkrong di pinggir jembatan, sampai akhir jaman lah kacihan deh …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: