SELUK BELUK HUKUM KARMA

             Para pembaca yang budiman, tulisan ini merupakan rangkuman dari rangkaian pengalaman lahir maupun batin. Serta hasil asah asih asuh dalam setiap kesempatan diskusi di berbagai acara, misalnya kumpul-kumpul bersama di manapun berada. Perdebatan tentang hukum karma sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Antara yang mempercayainya ada, yang meragukannya, yang belum paham samasekali, maupun yang tidak mempercayai. Sebelum melanjutkan tulisan berikut, seyogyanya kita berusaha memahami terlebih dahulu apa itu hukum karma. Dari berbagai keterangan yang ada, setidaknya dapat disimpulkan bahwa hukum karma atau karma sepadan dengan apa yang di maksud hukum timbal balik. Dalam falsafah Jawa senada pula dengan apa yang dimaksud hukum sebab akibat. Dalam literatur Barat, dikenal dengan istilah hukum kausalitas. Apakah hukum karma yang sedemikian menghebohkan dunia spiritual, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi ini kemudian layak dianggap tidak ada sama sekali ? Saya tidak ingin tergesa dalam menjawab pertanyaan tersebut, sebelum saya pribadi dapat membuktikannya sendiri, baik secara langsung, tak langsung, secara logika maupun pengalaman lahir dan batin.

Secara sederhana hukum karma atau sebab akibat dapat dipahami dengan logika sederhana pula. Sebagaimana dalam rumus yang mempunyai dalil “ada asap, berarti ada api”. Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan “ada akibat, tentu ada penyebabnya pula”.  Yang jelas di dalam hukum karma terdapat pola hubungan erat antara penyebab dan akibatnya. Rumus ini dapat diterapkan untuk memahami setiap kejadian atau peristiwa dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan demikian, hukum karma dapat didefinisikan sebagai hubungan sebab-akibat atas perbuatan yang pernah kita lakukan (sebagai sebab) dan apa yang akan kita alami kemudian (sebagai akibatnya). Dengan demikian di dalam hukum karma terdapat pola hubungan yang bersifat positif atau baik, maupun negatif atau buruk. Hukum karma yang memiliki pola sederhana akan mudah dibaca, misalnya setelah kita berbuat jahat atau membuat masalah, selanjutnya kita akan tertimpa masalah atau balik dijahati orang lainnya. Misalnya, kita melakukan penganiayaan terhadap seseorang, maka akibatnya kita akan dimusuhi keluarganya, teman-teman dari seorang yang dianiaya tadi. Bahkan kelak anak turun seseorang yang dianiaya akan memusuhi anak turun kita sendiri.  Sebaliknya, setelah kita berbuat kebaikan, selanjutnya kita akan menerima kebaikan pula.  Kita menolong seseorang, maka ia atau keluarga yang kita tolong suatu waktu ingin gantian menolong kita di saat kita mendapat kesulitan. Bahkan anak turun yang kita tolong akan mengenang kebaikan yang pernah kita lakukan, dan ingin sekali mereka membalas budi-kebaik kita di waktu selanjutnya. Pola hubungan dalam hukum  karma atau hukum sebab-akibat dapat kita uji coba pula keberadaannya. Misalnya, para pembaca yang budiman gemar sekali membantu dan menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Maka, Anda akan selalu mendapat kemudahan dalam setiap urusan. Sekalipun pernah terpentok saat-saat di mana Anda merasa tidak ada lagi jalan keluar, di saat Anda betul-betul sedang dalam keadaan yang sangat genting dan darurat  pada akhirnya datang lah “the last minute man” atau “dewa penolong”. Jika anda mereview perjalanan hidup anda ke belakang, disadari atau tidak Anda pernah  berperan menjadi “the last minute man” atau berperan sebagai “dewa penolong” disaat seseorang sedang dalam keputus-asaan.

“MISSING LINK” dalam KARMA

Dibutuhkan kecermatan dalam membaca “benang” yang menghubungkan antara suatu kejadian (sebagai akibat) dari kejadian sebelumnya (penyebab). Terkadang dalam hukum karma terdapat pola hubungan sebab-akibat yang sangat sulit dilacak bagaimana pola hubungan itu terjalin. Seolah tak ada hubungannya sama sekali. Sebagai contoh, seseorang tewas akibat bencana alam, misalnya diterjang gelombang tsunami. Jika tewasnya seseorang itu dikaitkan dengan hukum karma, tentu akan sulit sekali dilacak. Benarkah seseorang yang diterjang tsunami hingga tewas sedang menjalani karma? Jika tanpa pemahaman yang mendalam pada saat kita menelusuri pola-pola hubungan dalam hukum karma, kesimpulan yang mengkaitkan di antara dua kejadian tersebut (bencana alam dengan korban bencana) menjadi terasa janggal, seolah terlalu memaksakan diri menghubung-hubungkan dua hal yang tak ada hubungannya sama sekali. Seolah terdapat missing link, atau mata rantai hubungan sebab akibat yang terputus alias tak nyambung.

Hal itu disebabkan adanya pola hubungan yang sangat rumit. Yang membuat kemampuan untuk memahami menjadi terbatas. Dalam terminologi Jawa disebut,”datan bisa hanggayuh kawicaksananing gusti”. Tak mampu memahami kebijaksanaan alam semesta. Dua hal itu tak cukup dijabarkan melalui pola hubungan yang bersifat sederhana dan matematis. Misalnya ia tewas gara-gara terlelap dalam tidur, sehingga tidak dapat menyelamatkan diri saat terjadi tsunami. Jawaban seperti itu bersifat klise, hanya mengena pada “kulit” luarnya saja alias tidak menyentuh hal-hal yang esensial dan prinsipiil. Benar tetapi tidak tepat. Walau sulit, kiranya akan lebih bermanfaat bila kita berusaha menjawab pola hubungan yang jauh lebih mendalam, misalnya dengan menjawab pertanyaan, “kenapa ia tewas? Jawabnya tentu bukan jawaban sederhana, misalnya jawaban yang mengatakan,”oh, semua itu sudah kehendak tuhan”. Ini masih merupakan jawaban klise juga, konsepnya masih sangat lemah. Bagaimana kita tahu persis jika tuhan berkehendak atas tewasnya seseorang itu dengan cara dibuat tsunami? Tentu saja hal itu hanyalah kira-kira atau tindakan berusaha mengambil kesimpulan secara generalisir, gebyah uyah.  Selanjutnya tak ada lagi pelajaran hidup yang sangat berharga yang dapat digali. Orang menjadi hilang semangat berusaha (ikhtiar), yang terjadi adalah bukan kepasrahan melainkan sikap fatalistis, sikap tanpa mau berfikir, berusaha, melainkan  sikap apatis menghadapi segala sesuatu.  Yang rugi kita sendiri.

MENGUJI “MISSING LINK”

Dalam hukum karma, banyak pula terdapat pola hubungan yang sangat kompleks dan memiliki mata rantai sangat panjang serta memiliki rentang waktu sangat panjang pula. Marilah kita rentangkan logika dan pola pikir kita seluas samudra tanpa tepian. Perlu kita catat, bahwa suatu sebab tidak selalu memiliki konsekuensi akibat yang terjadi dalam jeda waktu yang dapat dihitung secara pasti. Antara sebab dengan akibat tidak selalu terjadi dalam siklus yang  dapat dibilang secara matematis. Jika dijabarkan akan terurai pola hubungan begitu kompleks, disebabkan oleh multifactor.  Pernahkah Anda berfikir, jika seseorang yang tewas akibat bencana alam karena ia sedang menjalani akibat dari segala perbuatan dan tindakan di masa lalunya ? Dalam falsafah Jawa disebut sebagai tidakan “Ngunduh wohing pakarti”. Dalam tradisi spiritual Budhis disebut sebagai karmayoga, dalam tradisi spiritual Islam disebutkan adanya khisab (hari hisab). Walau ternyata terjadinya khisab tidak musti menunggu setelah ajal atau setelah datang “hari akhir”. Kita semua bisa menyaksikan, pada kenyataannya “hari khisab” dapat terjadi setiap hari. Apa yang Anda alami hari ini, merupakan “buah” atas apa yang anda lakukan beberapa saat lalu, kemarin, pekan lalu, bulan lalu, tahun yang lalu, atau windu yang lalu. Karma jika didefinisikan sebagai hukum sebab akibat , berarti pula dalam hukum karma tercakup dua makna, yakni sebagai “buah”, atau hasil yang baik, bisa juga berupa akibat buruk (yang diartikan sebagai hukuman). Dalam tradisi samawiah, atau agama rumpun Abrahamisme, disebut sebagai pahala (kebaikan sebagai sebab) dan surga (prestasi sebagai akibat), atau dosa (keburukan sebagai sebab) dan neraka (keburukan sebagai akibat/hukuman).  Lantas dari mana datangnya ganjaran baik dan ganjaran buruk (hukuman) tersebut ? Hukuman maupun hasil baik, bukan datang dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Maksudnya, timbulnya akibat yang kita alami saat ini karena atas perbuatan yang telah kita lakukan sebelumnya. Untuk mempermudah pemahaman, saya kemukakan contoh, seorang korupor divonis penjara 7 tahun lamanya. Pertanyaannya, vonis tersebut datang dari mana? Apakah datang dari tuhan, atau dari lembaga legislatif yang membuat perundang-undangan ? Atau berasal dari lembaga yudikatif  atau hakim suatu perkara? Ataukah vonis itu diberikan oleh pihak-pihak lainnya di luar ketiganya? Jawabanya TIDAK SEMUANYA! Jika kita cermati, hukuman atau vonis itu datang tidak lain dari diri kita sendiri, yakni atas perbuatan yang kita lakukan sendiri.  Hakim hanya sebatas melaksanakan rumus-rumus yang berlaku di dalam hukum alam. Hal itu sepadan dengan bekerjanya mekanisme hukum di dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Sekiranya boleh dikatakan, karma atau hukuman bukan lagi datang dari “tuhan” yang berperan sebagai pembuat rumus dan hukum alam secara langsung pada saat kejadian, karena tuhan (hukum alam) sekedar membentuk rumus-rumusnya secara baku. Selanjutnya rumus-rumus itulah yang akan bekerja dengan sendirinya melalui mekanisme alam yang begitu jujur. Sehingga ia akan bekerja secara tepat dan akurat, serta tak bisa “disuap”. Dapat dibahasakan bahwa hukum alam akan bekerja dengan kadar maha jujur, maha adil, tak pernah menyisakan ketidakadilan dan ketidakjujuran walau hanya sebutir biji sawi. Sebagal akibat tentu ada penyebabnya secara esensial. Bencana alam merupakan salah satu mekanisme hukum alam yang melakukan seleksi sangat ketat. Kita mudah menemukan orang-orang selamat dari bencana alam bagaikan keluar dari lobang jarum. Begitu pula para korban bencana alam yang luka berat, cacat, maupun tewas. Semua itu bukan lah peristiwa KEBETULAN saja. Bisa jadi para korban sedang menjalani karma-yoga, menebus kesalahan, sementara yang selamat sedang “menuai buah” atas apa yang pernah ia tanam jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan menuai buah kebaikan yang telah ditanam oleh para leluhurnya di masa lalu.

RUMUS BERCOCOK TANAM

Pada galibnya, uraian di atas membawa pada kesimpulan, kebaikan akan berbuah kebaikan, keburukan akan berbuah keburukan. Apapun kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri, bahkan jika kebaikan itu berlimpah ruah kualitas dan kuantitasnya kelak akan meluber kepada anak turun kita juga. Bekerjanya rumus hukum sebab akibat tersebut, ibarat menuangkan air ke dalam gelas, apabila air yang Anda tuangkan banyak sekali, air akan tumpah meluber di seputar gelas. Pun demikian pula, jika kita menaman pohon, kita sendiri yang akan menuai buahnya, bahkan jika pohon yang kita tanam berkualitas super, buahnya akan berlimpah ruah, phon akan awet berbuah dan berumur panjang sehingga kelak anak cucu kita masih akan merasakan buahnya. Apa yang membuat tanaman kita menjadi tanaman super? Tentu perlu kita berikan pupuk dan teknik merawat yang tepat. Pupuklah setiap kebaikan dengan ketulusan tanpa batas, sirami dengan “air kasih sayang”, maka ia akan menjadi kebaikan yang berkualitas super, bahkan buahnya akan berlimpah ruah dapat dirasakan oleh anak turun kita.

WASPADA TERHADAP KARMA TURUNAN

Karma Turunan Bersifat Fisik

Sebaliknya, keburukan yang kita lakukan bukan saja akan berbalik pda diri kita sendiri, bahkan anak turun, anak cucu, akan ikut merasakan akibatnya. Hal ini yang dimaksud dengan karma turunan. Katanya, dosa akan ditanggung sendiri oleh si pendosa? Benarkah demikian? Mari kita uji. Kita kadang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, adalah anak seorang pencoleng, perampok, pembunuh, yang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Wajar saja, barangkali orang akan takut dicelakai, kalau-kalau si anak akan menuruni sifat-sifat orang tuanya yang menjadi penjahat kelas kakap. Bahkan bilamana anak seorang penjahat yang benar-benar berbisnis dengan jujur pun, orang yang mengetahui riwayat keluarganya akan  menjadi ragu dan takut. Manakala anak seorang penjahat kakap melamar pekerjaan, kemudian perusahaan melakukan screening melalui CurriculumVitae-nya untuk melacak asal-usul calon karyawannya apakah keturunan dari orang baik-baik, ataukah keturunan penjahat residivis. Jika kedapatan bukti, perusahaan biasanya akan menolak  secara halus. Semua itu merupakan bentuk karma atau “dosa” turunan.

Sisa-Sisa Karma

Saya pribadi termasuk orang yang MERAGUKAN bahwa suatu musibah yang dialami seseorang dapat terjadi secara independen, mandiri, tanpa rangkaian suatu sebab. Dengan kata lain musibah tidak akan menimpa seseorang yang tidak pernah bersalah di masa lalu, dan orang yang terbebas dari karma turunan. Namun apakah ada orang semacam itu? Menurut apa yang saya alami dan sejauh bisa saya saksikan sendiri bahwa, setiap musibah, merupakan akibat dari suatu sebab. Yakni merupakan konsekuansi logis dari kesalahan yang pernah dilakukan kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu atau kesalahan yang pernah dilakukan (secara sadar maupun tidak) di masa lalu. Dan kenyataannya setiap orang pernah mengalami suatu musibah, karena bukankah semua orang tanpa kecuali pernah melakukan kesalahan ?!! Besar kecil, ringan beratnya suatu musibah, tentu saja sepadan dengan suatu kesalahan di masa lalu. Lebih berbahaya lagi karena kesalahan yang kita lakukan saat ini, apabila sampai mati kita baru sedikit menebus karmanya, maka hukuman itu tidak saja menimpa kita di alam sejati, namun bisa pula jatuh ke anak cucu kelak. Anak cucu bisa saja menanggung karma orang tuanya. Kita bisa pula dalam posisi sebagai anak turun yang masih menerima sisa-sisa karma para pendahulu kita. Sebaliknya, karma baik, bisa jadi kesuksesan dan kebahagian yang kita rasakan saat ini merupakan sisa-sisa karma baik para leluhur di masa lalu. Hal ini dapat untuk menjelaskan mengapa ada seseorang yang sering mencelakai orang lain, tetapi hidupnya kok bahagia dan sukses. Tentu saja kesuksesan dan kebahagiaan itu tidak akan berlangsung langgeng sampai akhir hayat. Karena hanya bersifat temporer, setelah sisa-sisa karma baik para leluhurnya habis, akan habis juga kebagahagiaan dan kesuksesan orang itu.

Karma Turunan bersifat Gaib

Wanita Baulawean. Uraian di atas merupakan contoh karma turunan yang mudah kita cermati pola hubungannya. Ada pula karma turunan yang sulit dibuka tabirnya. Terutama yang bersifat gaib. Misalnya wanita bahulawean. Tanda-tanda yang mudah disaksikan, jika wanita tersebut menikah, suaminya selalu meninggal dunia dalam usia perkawinan yang masih dini, antara 1 bulan hingga kurang dari 3 tahun. Mati bukan karena kecelakaan, biasanya karena sakit mendadak, atau menderita sakit ringan saja, tahu-tahu suaminya meninggal. Jika para pembaca telah memiliki kawaskitan yang memadai, akan dapat melihat, di dalam rahim wanita baulawean terdapat sebangsa ular dengan ukuran kecil, kira-kira sebesar pensil. Namun bukan sembarang ular, karena lebih bersifat metafisik atau bangsa alus. Tanpa disadari oleh istri maupun suami, ular metafisik itulah yang menjadi penyebab tewasnya si suami. Wanita bahulawean atau baulawean, memang biasanya ia tak tahu apa yang sedang dideritanya. Jika kita cari penyebab atau asal-usul keberadaan “ular” misterius tersebut, ternyata berasal dari karma. Celakanya, bukan karma akibat perbuatannya sendiri, melainkan karma turunan dari orang tuanya, bahkan dari kakek neneknya di masa lalu. Jika kita telusuri lebih dalam lagi kira-kira kesalahan atau dosa macam apa yang menjadi penyebab baulawean, saya pribadi menemukan benang merah, penyebab utamanya adalah mulut. Di mana mulut sering sekali lepas kontrol, tak disadari maupun disadari seringkali ucapannya menyakiti hati orang lain dalam kadar yang sudah sangat keterlaluan. Memutus karma seperti ini cukup sulit, karena yang dapat kita buang hanyalah “ular” misterius tersebut. Sementara karma bisa saja berubah dalam bentuk lain. Namun setidaknya, kita bisa menyarankan seroang baulawean untuk melakukan koreksi diri, dan berusaha untuk memperbaiki masa lalu para leluhurnya. Caranya antara lain, cari dan mintakan maaf kepada orang-orang atau keluarga yang dirasa memusuhi keluarganya, terutama para leluhurnya, atas segala kesalahan yang dulu pernah dilakukan oleh para leluhurnya. Walau hal itu tidak signifikan merubah “nasib” mereka yang telah pindah alam keabadian, namun setidaknya dapat mengurangi karma turunan yang menimpanya.

Nafas bau bangkai. Selain wanita baulawean, saya pernah secara tak sengaja menemukan seorang yang menderita nafas bau bangkai. Sudah puluhan dokter ia kunjungi. Sudah sekian macam obat dan jamu ia minum. Tapi penyakit itu tak kunjung sembuh, bau bangkai tetap keluar dari rongga mulutnya. Sampai sampai tak ada perempuan yang mau menikah dengannya, hingga usia tua. Alhasil, penyebabnya sama seperti wanita baulawean, berupa karma turunan. Orang itu akhirnya sembuh setelah memalui metode yang sama diterapkan untuk menangani perempuan baulawean. Bedanya hanya pada saat menyingkirkan “ular” misterius saja. Karena penderita nafas bau bangkai tidak ditemukan makhluk macam manapun di dalam tubuhnya.

Karma tak langsung. Masih dalam pola hubungan karma turunan. Yakni korban bencana alam, atau orang yang nasibnya terpuruk, sementara ia sudah menjalani hidup dalam batas kewajaran sebagai manusia yang gemar membantu dan menolong sesama, dengan ketulusan pula.

Masih banyak untuk dijabarkan di sini, adanya beragam penyakit sebagai akibat dari berlangsungnya karma atas perbuatan sendiri, maupun karena karma turunan. Tentu akan saya jabarkan pada kesempatan dan tulisan berikutnya. Misalnya suatu karma tentang berpindahnya penyakit dari orang yang sering dianiaya, kepada orang yang sering menganiaya lahir batinnya. Semua itu bukan lagi teori, tetapi pengalaman demi pengalaman yang terjadi disekitar kita.

Karma Turunan dan Ketidakadilan Hukum

Kita jangan tergesa menuduh dan menyimpulkan, jika hukuman atau karma turunan bersifat buruk dan selalu berarti azab atau musibah dan celaka bagi seorang yang ditimpanya. Telah saya singgung dalam tulisan terdahulu, kami kemukakan dalam tema,”merubah musibah menjadi anugrah”. Memang sekilas terasa merupakan sesuatu ketidakadilan. Namun anggapan demikian ini salah kaprah, karena disebabkan kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap seluk-beluk karma turunan. Karma turunan bisa berubah menjadi ladang amal kebaikan, atau tanaman yang berkualitas baik yang dapat menghasilkan buah berlimpah ruah yang dapat kita tuai sendiri hingga anak cucu kelak. Namun semua itu tergantung si penerima karma turunan. Kita sendiri bisa memutus karma turunan itu dengan suatu kiat-kiat hidup. Tentu pemutusan karma turunan itu bisa dilakukan, dengan bekal kita harus mampu mengerti dan memahami apa sejatinya hidup dan kehidupan ini. Untuk itu dibutuhkan kesadaran spiritual yang memadai. Untuk mengurai karma turunan, saya mencoba menggunakan ngelmu Jawa, (maklum saya miskin pengetahuan lainnya). Kiatnya sederhana, tebuslah kesalahan ortu, atau para leluhur yang menjadi sumber karma. Cara penebusan juga cukup sederhana, lakukan kebaikan, ketulusan, welas asih kepada lingkungan alam dan seluruh isinya.  Kunci keberhasilannya, tentu saja masih harus disertai ketulusan tanpa batas. Tahap awal, kita harus menyadari bahwa apa yangs sedang  kita alami merupakan karma turunan, akibat kesalahan ortu dan para leluhur di masa lalu. Memang bukanlah kesalahan atas perbuatan yang kita lakukan sendiri. Tentu kesadaran ini dapat menyulitkan kita untuk menggapai keadaan tulus tanpa batas. Kita perlu menyadari suatu rumus berikutnya, yakni jika semakin tulus, semakin cepat selesai pula karma turunan. Menjalani karma, bagaikan menjalani vonis dalam lembaga pemasyarakatan (LP). Berlakulah baik selama di dalam lembaga pemasyarakatan, supaya mendapat remisi, atau potongan dan dispensasi masa hukumannya. Jangan suka grenengan, menggerutu, apalagi timbul sikap tidak terima. Justru akan membuat masa hukuman menjadi sia-sia. Seperti halnya gol yang dianulir wasit. Penderitaan yang anda alami akan menjadi sia-sia, ibarat anda sudah menginjak anak tangga paling atas, lantas terpuruk lagi jatuh, dan harus memulai memanjat anak tangga dari bawah. Hal itu menjadi penyebab, mengapa seseorang mengalami derita sepanjang masa, selama hidupnya selalu sial.

Di balik berlangsungnya karma turunan, sebagai bentuk keadilan hukum alam, maka mekanisme alam semesta telah menyiapkan derivasi rumus lainnya.  Karma turunan akan berubah menjadi segudang berkah anugrah yang berlimpah ruah. Anda sendiri tak akan bisa menghabiskan, sehingga akan meluber, sumrambah, mengalir kepada anak turunnya kelak. Apa yang dianggap musibah, akan berubah menjadi anugrah agung. Asal kita semua mau memahami, menghayati, dan mengimplementasikan kuni-kuncinya.

KEMANA JATUHNYA KARMA TURUNAN

Singkat saja, karma turnan akan jatuh kepada orang-orang atau anak turun yang paling dicinta atau paling disayang. Barangkali hal ini sebagai bentuk keadilan alam pula. Coba, lebih adil mana jika karma turunan jatuh ke anak yang paling tidak disayang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Nah, tidak sayang atau pun kebencian belum tentu tepat pada duduk permasalahannya. Kadang hanya karena faktor emosi orang tua dan parameter yang begitu kompleks. Artinya, kebencian ortu pada anak belum tentu karena si anak bukan anak baik-baik. Bisa juga disebab faktor ortunya sendiri. Karena ortu tidak selalu pada pihak yang benar.  Sekalipun ortu di mana-mana sama saja, selalu bilang bahwa semua anak mendapatkan kasih sayang sama-rata. Tapi kenyataannya tidak demikian, kita bisa mencermati dari sikap tindaknya kepada masing-masing anak. Anggap saja hal itu sebagai sesuatu yang wajar dan biasa-biasa saja.  Coba cermatilah diri Anda, apakah sebagai anak yang paling disayang ortu? Jika di antara Para Pembaca yang budiman merasakan hal yang sama, bersyukurlah saja, karena di hadapan Anda sedang disajikan “ladang amal”. Manfaatkan agar betul-betul menjadi  ladang amal, toh Anda sendiri dan anak turun kelak yang akan mengunduh hasil panen atas apa yang anda tanam di ladang amal pada hari ini.

Nilai Utama ; Memenuhi Tanggungjawab Orang Lain

Nilai paling utama pada saat kita menebus karma turunan, karena kita menyelesaikan tanggungjawab orang lain, bukan tanggung jawab kita sendiri. Rumus ini berlaku pula manakala Anda mengangkat seorang bocah terlantar menjadi anak angkat anda. Kenapa anak angkat seringkali jauh lebih ngrejekeni (membawa rejeki) dibanding anak sendiri ? Itulah jawabnya, karena anda memenuhi tanggungjawab orang lain. Sepadan pada saat Anda membantu atau menolong orang yang sedang dalam kesulitan besar. Esnsi dari menolong dan membantu sesama, adalah Anda menghandle beban hidup orang lain menjadi tanggungjawab anda. Itulah nilai kebaikan paling utama. Silahkan dibuktikan sendiri. Karma baik dengan segera akan Anda rasakan. Ngunduh uwohing pakarti akan segera anda alami. Kebaikan yang anda lakukan akan berbalik pada diri anda sendiri, bahkan dengan rumus gema suara, kebaikan akan menjadi berlipat ganda. Asalkan dengan ketulusan tanpa batas.

Sampai di sini, saya menyimpulkan, bahwa “pagar gaib” yang paling kuat mampu membentengi diri kita sendiri dari segala macam marabahaya, musibah dan bencana, tidak lain adalah kebaikan yang kita lakukan. Semakin banyak kebaikan kita lakukan, semakin tebal dan kuat pula “pagar gaib” menyelimuti diri kita. So, tak perlu kita minta-minta dipagari dengan berbagai ilmu kebal. Karena yang mampu melakukan pemagaran paling kuat, adalah diri kita sendiri. Pemagaran yang dilakukan oleh orang lain, hanya bersifat temporer atau dapat bekerja untuk sementara waktu saja. Setelah itu akan pudar lagi, lantas menjadi mudah diguna-guna, disantet, tenung, dan dicelakai oleh orang lain.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juli 26, 2011, in Seluk Beluk Hukum Karma, WORO-WORO and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1.144 Komentar.

  1. pak mohon dengan sangat pencerahannya,,,
    saya mencintai seorang cewek dengan tulus tapi bapaknya tidak setuju,.. saya mengajaknya berjuang dan berusaha mempertahankan hubungan kami,,,, tapi dia malah berpaling dan ikut orangtuanya,.. ya keluarganya memegang akidah agama dengan sangat kuat,.. bagaimana menurut bapak,.. saya sangat sayang ma dia padahal skarang dia mau nikah ama orang yang bekerja di koperasi padahal menurut saya koperasi adalah rentenir bagaimana tanggapan bapak mohon penjelasan saya kasihan ama dia pak,..

  2. Salam kenal,

    Saya membaca tulisan hukum karma ini menambah wawasan saya dalam memahami hukum sebab akibat dan mencoba membaca yang tersirat. Mengenai pernyataan mengenai hubungan korban manusia dengan bencana alam, mohon saya diijinkan untuk mengomentari dengan mengintisarikan hubungan dari kejadian itu. Alam dan manusia memiliki hubungan sebab akibat yang kuat sebagai konsep dari keseimbangan, maka ketika manusia membuat kerusakan pada alam dan manusia tidak memperbaiki kerusakan itu … maka alamlah yang akan memperbaiki dirinya sendiri, tentu saja ya dengan cara alam. Proses perbaikan oleh alam –dalam rangka keseimbangan– itu yang hari ini manusia sebut sebagai bencana… ya longsor lah .. ya banjirlah .. dst …

    Semoga makin banyak anak bangsa yang mau memahami hukum sebab akibat sehingga semakin banyak pemikiran positif untuk berbuat kebaikan. Amin.

    Salam

  3. alhamdulillah dapat pencerahan yang luar biasa, membimbing saya kepada keluhuran budi, mendamaikan hati dan menentramkan jiwa. Mudah-mudahan Ki Sabdo selalu mendapat bimbingan-NYA diparingi sehat lahir bathin dan selalu bermanfaat untuk sepadaning urip. Sejahtera untuk Ki Sabdo sekeluarga.

  4. I visited multiple web pages however the audio feature for audio songs current at this site is in fact
    marvelous.

  5. Amazing.. apa yg dijabarkan diatas mendekati benar!
    Apa yg saya lalui saya saksikan mirip dgn penjelasan diatas..fiuh..
    Saya bersyukur pernah di kasih lihat terjadinya karma buruk seseorang
    Saya jg pernah di cubit Tuhan
    Saya jg pernah merasakan Keajaiban Tuhan
    Saya juga masih ada rasa dendam krn dizolimi, dan penjelasan diatas mampu mengobati rasa dendam saya pada seseorang..

  6. Mohon maaf mau tanya kpada penulis…Bagaimana menghadapi fitnah?
    Karena ini menyangkut pekerjaan.. mohon pencerahannya

    • LATONGmanggung123456789

      jika kita di fitnah orang lain, brarti itu salah atu bentuk orang menceritakan kebaikan yang kita miliki, walaupun dia membalikan fakta.. dengan kata-kata yang dia ceritakan. itu mengarah pada seseorang yang menceritakan tentang keburukan dirinya sendiri… memaafkan orang lain itu muliah… biarpun maaf itu sulit, tapi ganpang di lakukan. salam Razong LOZZA

  7. @ sabdalangit
    hukum karma iku perangan saka ingkang sinebut rta (hukum alam), dene rta ana rong prekara; hukum karma lan punarbawa (penitisan). kekarone nyawiji ora bisa pinilah siji lan sijine. dene anane kaanan kang dumadi ora banjur kabeh iku dumadi saka hukum karma iku. manut wewarah luhur kang dumadi ana saora-orane ana teung prekara;
    1. ananing gangguan
    2. minangka ujian
    3. pepesthen (karmawasana)
    nembe ingkang angka telu iku ana sambung rapete karo hukum karma. tuladha kang luwih ngegla; lamun ana bayi lair cenger ana kang sajroning kulawarga mapan, ana kang sekeng, ana kang sugih, ana kang ayu, ana kang bagus, ana kang gantheng lsp. kabeh iku gumantung saka karmawasanane kang sinebut kriyamana karma, mula maneka warna kaanane. ya lamun kaya kang dikarepake bakal sinebut begja, dene lamun sisip banjur golek golek kanggo paran tutuhan. kabeh iku bakal kalis lamun pambabare lumantar hukum karma. nuwun

  8. Salam,saya mengakui karma keturunan. Karna ibu saya mengajarkan anak anaknya untuk membenci sodara sodara lain ketika itu kami masih kecil karna urusan pribadi sampai ibu pernah ke orang pintar agar mas mas saya masuk PNS di solo dan wonogiri,akhirnya berhasil. Ibu saya hidup sendiri tanpa suami sejak kami kecil. 15 tahun kemudian,1 tahun sebelum saya menikah,saya menghidap kelainan jantung sampai saya operasi jantung di harkit lalu sekarang anak saya berumur 4 tahun jantungnya bocor. Saya sadar kesalahan ibu mendidik saya dan kakak kakak saya tapi saya bahagia karna kesakitan saya membawa banyak orang kasihan pada saya tapi disisi lain saya takut karna suami saya gembala di gereja. Bagaimana baiknya? Trimakasih

  9. ass.. knp gw sejak kecil nasib gw sial. gw saat msh kecil sering sakit sakitan shg fisik jadi lemah. hal itu bikin gw kalau sekolah, kerja, olahraga, bergaul dll gw jadi bahan ejekan org. gw di kampung sering dibenci dan dimusuhi teman. sering dijelekin dan difitnah tetangga. gw tdk tau penyebab nya. mungkin krn gw bukan warga asli dari kampung itu. gw di perantauan sering dijahati org dan sering ditolak cewek. pdhl gw selalu baik, jujur dan sering menolong org. gw pulang kampung nganggur dan jomblo sangat sangat lama sekali tp tdk ada yg mau menolong, tp org2 malah anggap hdup gw enak tiap hari cuma makan dan tidur. benar benar sial!

  10. Islam dan Hukum Karma

    Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Allah Swt. juga memiliki nama lain yang berhubungan dengan keadilan seperti Al-‘Adl (Yang Maha Adil) atau Al-Hakim (Yang Maha Menghakimi). Di dalam Al-Qur’an sendiri juga dijelaskan bahwa segala perbuatan, baik ataupun buruk, sekecil apapun, pasti akan mendapat ganjaran dari Sang Maha Kuasa.
    فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ
    “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)
    Lalu bagaimana Islam memandang hukum karma? hukum karma tidak bertentangan dengan Islam, hanya berbeda nama dan sebutan saja, karena dalam Islam meyakini bahwa Allah Maha Adil dan segala perbuatan kita pasti akan ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat nanti. Hadits Nabi Muhammad SAW,:
    “Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemim pinannya (perbuatannya).” (HR. Bukhari)
    Seperti firman-Nya,
    هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
    “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]:60).

    http://caha.blogspot.com/2012/09/reinkarnasi-dalam-al-quran-dan-hadits.html

    • Cahaya Gusti
      Januari 10th, 2014 pada 16:28

      Islam dan Hukum Karma

      Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan….sangat bagus, paling benar, paling baik ….. seperti merk KECAP no.1 …

      Allah Swt. juga memiliki nama lain yang berhubungan dengan keadilan seperti Al-‘Adl (Yang Maha Adil) atau Al-Hakim (Yang Maha Menghakimi). Kalo ada bencana alam (Yang Maha Murka), Kalo di neraka (Yang Maha Penyiksa), Kalo ada orang mati (Yang Maha Pembunuh) …dst.

      Di dalam Al-Qur’an sendiri juga dijelaskan bahwa segala perbuatan, baik ataupun buruk, sekecil apapun, pasti akan mendapat ganjaran dari Sang Maha Kuasa.
      فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ
      “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)

      Analogi karma … nandur pari thukul pari … nandur jagung thukul jagung(tanam padi tumbuh padi … tanam jagung tumbuh jagung)

      Membunuh orang kapir (bukan orang islam), musrik … niscaya dia akan menerima (balasan)nya
      Pd saat idul adha .. hewan2 kurban yg disembelih masal pasti merasa kesakitan … bagi yg menyembelih … niscaya dia akan menerima (balasan)nya
      FPI yg suka berbuat onar dan buat resah … niscaya dia akan menerima (balasan)nya
      Memaksakan kehendak sesuai akidah islam … niscaya dia akan menerima (balasan)nya

      ISLAM memang hebat …

  11. Acara Harlah PP Al Anwar ke-47 dan maulid Nabi Muhammad Saw pada hari Kamis, 9 Januari 2014 merupakan acara yang istimewa bagi para alumni apalagi ditambah dengan sambutan keluarga menambah khidmatnya acara tersebut, dalam acara ini KH. Abdul Ghofur MZ yang sering disapa Gus Ghofur mengutarakan kebahagian beliau dengan banyaknya santri al anwar, terbukti degan adanya santri al anwar diberbagai Propinsi di Indonesia dan yang membuat beliau lebih bahagia alumni dan santri al anwar masih mau mengajar agama yang bisa menjadikan pondok ini bisa tetap mencetak para santri.

  12. matur sembah nuwun…sejuukkk tenan

  13. Salam
    Sering kali di masyarakat timbul pemahaman Yang rancu.. Karena memperbandingkan antara pahala dan dosa dengan karma.. Yang sejatinya adalah beda..
    Pahala dan dosa adalah urusan diri pribadi kita dengan Tuhan Yang kalau gak salah saya pernah dengar “bahwa setiap manusia tidak akan menanggung selain apa Yang telah diupayakannya” kurang lebih seperti itu..
    Sedangkan karma adalah hukum alam
    Contoh:
    Kakek kita menanam durian.. Pada saat kakek kita meninggal dunia apakah durian Yang ditanamnya ikut mati?? Pastinya tidak trus siapa Yang menikmati duriannya?? Keturunannya pasti..
    Salam

  14. kalau pengalaman gw.. gw di perantauan dijahati teman yg suka maksiat. gw di kampung halaman dijahati teman yg rajin ibadah. sialan. gw curhat kpd teman di kampung halaman bahwa gw sering dijahati org saat merantau. tp teman gw bukan kasihan kpd gw tp dia malah ikut jahat kpd gw. pdhl teman gw rajin ibadah.

  15. berita yang menarik sekali , silahkan beli nvr di tempat kami.

  16. apakah akan menadapat karma bila kita membuang beras ketempat sampah karena kita lupa ?

  17. Saya pernah meminta ijin untuk.menikahi seorang gadis tapi org tua nya memaki2 saya dengan keji.bahkan mantan saya memfitnah saya jabis2an image saya buruk dimata teman2 saya.saya bela2 in sampai menganggur demi pujaan hati saya tapi balasan mya sangat mtenyakitkan.apakah mrk akan mendapat karma yg setimpal dengan perbuatan nya kpd saya?saya harapkan skali semoga mrk dpt karma.saya tidak akan pernah memaafkan mantan saya dan org tua nya seumur hidup saya.

  18. Pak salam bahagia selalu saya punya adik perempuan usia 39tahun ketia umur 37tahun ayah kami meninggal dan harapan ayah kami sebelum meninggal ingin melihat adik saya menikah tapi hingga saat ini sepertinya kemungkinan menikah itu tidak ada..yg sangat saya kuatirkan bukan adik saya tapi bagai mana dengan ayah saya yg telah tiada …bagaimana cara untuk menyadarkan adik saya tapi sepertinya saya sudah menyerah ibu saya juga sependapat..susah banget kalau penyakit istilahnya kangker…semua sudah menyerah tolong pencerahannya untuk bisa saya sampaikan trimakasih atas perhatiannya bahagia selalu…:)

    • Bu Intan Susan Yth
      Jangan merasa khawatir yang berlebihan. Saya yakin ayah anda lebih sekarang lebih tahu kenapa adik belum juga mau menikah sampai saat ini . Pasti ada hikmah di balik semua itu yang belum di ketahui oleh keluarga.
      Rahayu sagung titah dumadi

  19. ini pengalaman pahit ane,Dr kecil disiksa ortu tepatnya bapak saya, Dr kecil smpe kuliah sllu di intimidasi dgn berbagai cara sehingga watak saya keras,kecemasan/ketakutan berlebihan KL urusan dgn BPK sya,sehingga saya tidak pernah akrab dan tidak perduli dgn BPK saya,sering ribut dan cekcok sehingga sumpah serapah selalu keluar dt mulut saya sgn kebencian yg teramat dalam,dan berefek ke ibu saya,sodara saya,jd GW sllu sial ngangur 10thn,skli Dpt kerja sllu ad mslh,brp bln berhenti, nganggur lama,Dpt kerja brp bln berhenti sprti ad sllu mslh,dlm urusan jodoh pun saya sulit,sehingga tak ad keyakinan KL saya bs sukses dlm segi apapun pdhl tampang fisik saya BKN sombong ganteng 90% jujur BKN bohong, tp tdk membawa keberuntungan apapun,ap yg saya inginkan TK pernah tercapai,jd saya Sdh putus asa,sehingga ad keyakinan KL saya tidak lahir di keluarga ini psti saya akan jauh LBH beruntung. # nah pertanyaan saya yg bs jawab terimaksih, semoga Tuhan membalasnya, yaitu apakah karma saya terhadap org tua ini bs hilang ato kutukan ini akan trs ada,Krn kedua org tua saya semua saya sakitin dgn kata dan perbuatan yg bikin ibu saya khususnya jd ikut2 menderita Krn ulah saya, mmng saat ini BPK saya Sdh tsk ad cekcok lg dgn saya Sdh lmyan baik,tp.kutukan2/sumpah seperti sllu ada buat saya sehingga saya skrg sprti hilang semangat dlm hal apapun semua hampa dan sia sia jd langkah apapun saya Sdh pesimis dluan Krn pengalaman saya tadi. mohon dijawab terimaksih semoga Tuhan memberkati kalian agar tdk sprti saya.

  20. Q.S Faathir ayat 18: Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1252]. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya[1253] dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).

    Bisakah Anda Menyalahkan Ayat Al-Qur’an ini ???

    Bagaimana dengan Teori Karma Turunan Anda ???

    • @alif :
      ilmi arab itu : ” ilmu tembung jare “..
      ilmi jare / kata si a ,
      jare / kata si b
      loe sendiri tidak tahu dan tidak ngalami.

      maaf
      itu ilmi orang bodoh
      buat manusia yang sudah mengerti.

      itulah kenapa pendiri pendiri NKRI
      notabene MANUSIA MANUSIA pejuang yang mengerti ,
      beliu beliau menghilangkan 7 kata dalam kalimat di piagam Djakarta.

      Jawa ber allam sampoerna
      ilmi sampoerna bisa presisisi dijalankan
      yang menjalankan kakek nenek yang tinggal di bumi sampoerna.
      ilmi arab pantang ” nguyahi segara ing bumi Jawa “.
      pantang ” di wenehi ati merampas tembolok ”

      mohon maaf sbelumnya.
      sugeng dalu kagem para pinisepuh sedaya.

  21. @entahlah
    Kalau ada yg menggurui, mengkotbahi anda, silahkan mau terima atau tidak. Tapi selama saya tahu, Jawa mengajarkan cara anda mengenal Diri Sejati. Mengajarkan Roh Anda sebagai Raja dan Pikiran/logika sebagai patih pelaksana. Carilah pembimbing Jawa yang mengajarkan kesadaran Roh Sejati. Hanya Kuasa Roh Sejati yg bisa membebaskan diri dari swgala malapetaka. Yang pasti tidak akan keliru. Anda akan tahu tigas Anda, kesalahn Anda, dan cara memperbaikinya dengan benar.
    Pemilik blok ini dan banyak pinisepuh di sini yang bisa Anda ketuk.
    Saran saya, saat ini berbuat baik sebanyak2nya dgn tulus ikhlas, dan penuh kasih. Sambil menemukan pembimbing Jawa anda, untuk bekal selamanya seperti roh anda yg kekal.
    Mengapa Jawa? Karna setahu saya, Jawa punya fasilitas yg lengkap dalam mencapai hakekat manusia seutuhnya. Bukan dogma beruntun, yang bisa salah dan dibelokkan oleh para pembohong yg ingin cari keuntungan sendiri.
    Selamat!

  1. Ping-balik: Hukum Pakai Maskara Kalis Air - Fashion dan Belanja Jadi Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.090 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: