BANCAKAN WETON & PUASA APIT WETON

BANCAKAN WETON & PUASA APIT WETON

BANCAKAN WETON

Bancakan weton dilakukan tepat pada hari weton kita. Weton adalah gabungan siklus kalender matahari dengan sistem penanggalan Jawa yang terdiri dari jumlah 5 hari dalam setiap siklus (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Dalam tradisi Jawa, setiap orang seyogyanya dibuatkan bancakan weton minimal sekali selama seumur hidup. Namun akan lebih baik dilakukan paling tidak setahun sekali. Apabila seseorang sudah merasakan sering mengalami kesialan (sebel-sial), ketidakberuntungan, selalu mengalami kejadian buruk, lepas kendali, biasanya dapat berubah menjadi lebih baik setelah dilakukan bancakan weton. Bagi seseorang yang sudah sedemikian parah tabiat dan kelakuannya, dapat dibancaki weton selama 7 kali berturut-turut, artinya setiap 35 hari dilakukan bancakan weton untuk ybs, berarti pula bancakan weton dilakukan lebih kurang selama 8 bulan berturut-turut.

MANFAAT BANCAKAN

Manfaat dan tujuan bancakan weton diibaratkan untuk “ngopahi sing momong”, karena masyarakat Jawa percaya dan memahami jika setiap orang ada yang momong (pamomong) atau “pengasuh dan pembimbing” secara metafisik. Pamomong bertugas selalu membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah, agar supaya lakune selalu pener, dan pas. Pamomong sebisanya selalu menjaga agar kita  bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, merugikan. Antara pamomong dengan yang diemong seringkali terjadi kekuatan tarik-menarik. Pamomong menggerakkan ke arah kareping rahsa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif,  sementara yang diemong cenderung menuruti rahsaning karep, ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan negative,  dengan mengabaikan kaidah-kaidah hidup dan melawan tatanan yang akan mencelakai diri pribadi, bahkan merusak ketenangan dan ketentraman masyarakat. Antara pamomong dengan yang diemong terjadi tarik menarik, Dalam rangka tarik-menarik ini,  pamomong tidak selalu memenangkan “pertarungan” alias kalah dengan yang diemong. Dalam situasi demikian yang diemong lebih condong untuk selalu mengikuti rahsaning karep (nafsu). Bahkan tak jarang apabila seseorang kelakuannya sudah tak terkendali atau mengalami disorder, sing momong biasanya sudah enggan untuk memberikan bimbingan dan asuhan. Termasuk juga bila yang diemong mengidap penyakit jiwa. Dalam beberapa kesempatan saya pernah  nayuh si pamomong seseorang yang sudah mengalami disorder misalnya kelakuannya liar dan bejat, sering mencelakai orang lain,  ternyata pamomong akhirnya meninggalkan yang diemong karena sudah enggan memberikan bimbingan dan  asuhan kepada seseorang tersebut. Pamomong sudah tidak  lagi mampu mengarahkan dan membimbingnya. Apapun yang dilakukan untuk mengarahkan kepada segala kebaikan, sudah sia-sia saja.

Kebanyakan kasus pada seseorang yang mengalami disorder biasanya sang pamomong-nya diabaikan, tidak dihargai sebagaimana mestinya padahal pamomong selalu mencurahkan perhatian kepada yang diemong, selalu mengajak kepada yang baik, tepat, pener dan pas. Sehingga hampir tidak pernah terjadi interaksi antara diri kita dengan yang momong. Dalam tradisi Jawa, interaksi sebagai bentuk penghargaan kepada pamomong, apalagi diopahi dengan cara membuat bancakan weton. Eksistensi pamomong oleh sebagian orang dianggapnya sepele bahkan sekedar mempercayai keberadaannya  saja dianggap sirik. Tetapi bagi saya pribadi dan kebanyakan orang yang mengakui eksistensi dan memperlakukan secara bijak akan benar-benar menyaksikan daya efektifitasnya. Kemampuan diri kita juga akan lebih optimal jika dibanding dengan orang yang tidak pernah melaksanakan bancakan weton. Selama ini saya mendapat kesaksian langsung dari teman-teman yang saya anjurkan agar mem-bancaki wetonnya sendiri. Mereka benar-benar merasakan manfaatnya bahkan seringkali secara spontan memperoleh kesuksesan setelah melaksanakan bancakan weton. Hal itu tidak lain karena daya metafisis kita akan lebih maksimal bekerja. Katakanlah, antara batin dan lahir kita akan lebih seimbang, harmonis dan sinergis, serta keduanya baik fisik dan metafisik akan menjalankan fungsinya secara optimal untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan yang ada. Bancakan weton juga tersirat makna, penyelarasan antara lahir dengan batin, antara jasad dan sukma, antara alam sadar dan bawah sadar.

SIAPAKAH SEBENARNYA SANG PAMOMONG ?

Pertanyaan di atas seringkali dilontarkan. Saya pribadi terkadang merasa canggung untuk menjelaskan secara detil, oleh karena tidak setiap orang mampu memahami. Bahkan seseorang yang bener-bener tidak paham siapa yang momong, kemudian bertanya, namun setelah dijawab toh akhirnya membantah sendiri. Seperti itulah karakter pikir sebagian anak zaman sekarang yang terlalu “menuhankan” rasio dan sebagian yang lain tidak menyadari bahwa dirinya sedang tidak sadar. Apapun reaksinya, kiranya saya tetap perlu sekali menjelaskan siapa jati diri sang pamomong ini agar supaya para pembaca yang budiman yang memiliki antusiasme akan luasnya bentang sayap keilmuan, dan secara dinamis berusaha menggapai kualitas hidup lebih baik dari sebelumnya dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Pamomong, atau sing momong, adalah esensi energy yang selalu mengajak, mengarahkan, membimbing dan mengasuh diri kita kepada sesuatu yang tepat, pas dan pener dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Esensi energy dapat dirasakan bagaikan medan listrik, yang mudah dirasakan tetapi sulit dilihat dengan mata wadag. Jika eksistensi listrik dipercaya ada, karena bisa dirasakan dan dibuktikan secara ilmiah. Sementara itu eksistensi pamomong sejauh ini memang bisa dirasakan, dan bagi masyarakat yang masih awam pembuktiannya masih terbatas pada prinsip-prinsip silogisme setelah menyaksikan dan mersakan realitas empiris. Pamomong diakui eksistensinya setelah melalui proses konklusi dari pengalaman unik (unique experience) yang berulang terjadi pada diri sendiri dan yang dialami banyakan orang.  Lain halnya bagi sebagian masyarakat yang pencapaian spiritualitasnya sudah memadai dapat pembuktiannya  tidak hanya sekedar merasakan saja, namun dapat menyaksikan atau melihat dengan jelas siapa sejatinya sang pamomong masing-masing diri kita. Dalam pembahasan khusus suatu waktu akan saya uraikan secara detail mengenai jati diri sang Pamomong.

TATACARA WETONAN

Setiap anak baru lahir, orang tuanya membuat bancakan weton pertama kali biasanya pada saat usia bayi menginjak hari ke 35 (selapan hari). Bancakan weton dapat dilaksanakan tepat pada acara upacara selapanan atau selamatan ulang weton yang pertama kali. Anak yang sering dibuatkan bancakan weton secara rutin oleh orangtuanya, biasanya hidupnya lebih terkendali, lebih berkualitas atau bermutu, lebih hati-hati, tidak liar dan ceroboh, dan jarang sekali mengalami sial. Bahkan seorang anak yang sakit-sakitan, sering jatuh hingga berdarah-darah, nakal bukan kepalang, setelah dibuatkan bancakan weton si anak tidak lagi sakit-sakitan, dan tidak nakal lagi. Dalam beberapa kasus saya menyaksikan sendiri seorang anak sakit panas, sudah di bawa periksa dokter tetap belum ada tanda-tanda sembuh, lalu setelah dibikinkan bancakan weton hanya selang 2 jam sakit demannya langsung sembuh. Inilah sekelumit contoh yang sering saya lihat dengan mata kepala sendiri  persoalan di seputar bancakan weton. Masih banyak lagi yang tak bisa saya ceritakan di sini.

Mungkin para pembaca yang budiman memiliki banyak pengalaman spiritual di seputar soal weton, saya berharap anda berkenan untuk berbagi kisah di sini agar bermanfaat bagi kita semua. Baiklah, pada kesempatan ini saya akan paparkan secara singkat uborampe untuk membuat bancakan weton.

A.Bahan-Bahan

  1. Tujuh macam sayuran : kacang panjang dan kangkung (harus ada), kubis, kecambah/tauge yang panjang, wortel,  daun kenikir, bayam, dll bebas memilih yang penting jumlahnya ada 7 macam. Seluruh sayuran direbus sampai masak, tetapi jangan sampai mlonyoh, atau terlalu matang. Agar tidak mlonyoh, setelah diangkat langsung disiram dengan air es atau cukup disiram air dingin biasa, sehingga sayuran masih tampak hijau segar tetapi sudah matang. Maknanya ; 7 macam sayur, tuju atau (Jawa; pitu), yakni mengandung sinergisme harapan akan mendapat pitulungan (pertolongan) Tuhan. Kacang panjang dan kangkung tidak boleh dipotong-potong, biarkan saja memanjang apa adanya. Maknanya adalah doa panjang rejeki, panjang umur, panjang usus (sabar), panjang akal.
  2. Telur ayam (bebas telur ayam apa saja). Jumlah telur bisa 7, 11, atau 17 butir anda bebas menentukannya. Telur ayam direbus lalu dikupas kulitnya. Maknanya ; jumlah telur 7 (pitu), 11 (sewelas), 17 (pitulas) bermaksud sebagai doa agar mendapatkan pitulungan (7), atau kawelasan (11), atau pitulungan dan kawelasan (17).
  3. Bumbu urap atau gudangan. Jika yang diberi bancakan weton masih usia kanak-kanak sampai usia sewindu (8 tahun) bumbunya tidak pedas. Usia lebih dari 8 tahun bumbu urap/gudangannya pedas.   Bumbu gudangan terdiri : kelapa agak muda diparut. Diberi  bumbu masak sbb : bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun salam, laos, daun jeruk purut, sereh, gula merah dan garam secukupnya. Kalau bumbu pedas tinggal menambah cabe secukupnya. Kelapa parut dan bumbu dicampur lalu dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang. Maknanya : bumbu pedas menandakan bahwa seseorang sudah berada pada rentang  kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang penuh manis, pahit, dan getir. Hal ini melambangkan falsafah Jawa yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan kedewasaan anak harus dimulai sejak dini. Pada saat anak usia lewat sewindu sudah  harus belajar tentang kehidupan yangs sesungguhnya.  Karena usia segitu adalah usia yang paling efektif untuk sosialisasi, agar kelak menjadi orang yang pinunjul, mumpuni, perilaku utama, bermartabat dan bermanfaat bagi sesama manusia, seluruh makhluk, lingkungan alamnya.
  4. Empat macam polo atau umbi-umbian. Terdiri dari ; 1) polo gumantung (umbi yang tergantung di pohon misalnya; pepaya), 2) polo kependem (tertaman dalam tanah) misalnya telo (singkong), 3) polo rambat atau yang merambat misalnya ubi jalar.  4) kacang-kacangan bisa diwakili dengan kacang tanah. Semuanya direbus kecuali papaya. Papaya boleh utuh atau separoh/sepotong saja.
  5. Pisang dan buah-buahan. Pisang yang diperlukan dalam bancakan weton terdiri dua jenis pisang yakni pisang raja dan pisang raja pulut (pisang raja getah). Masing-masing cukup satu sisir saja. Jika sulit mendapatkan pisang raja pulut, dapat diganti dengan pisang raja, namun seyogyanya diupayakan untuk mendapatkan pisang raja pulut, biasanya mudah didapatkan di pasar tradisional dan pasar induk. Untuk buah-buahan selain pisang cukup disediakan paling tidak 3 macam buah, misalnya mangga, salak, apel atau yang lainnya.
  6. Nasi Tumpeng Putih. Beras dimasak (nasi) untuk membuat tumpeng. Perkirakan mencukupi untuk minimal 7 porsi. Sukur lebih banyak misalnya untuk 11 atau 17 porsi. Setelah nasi tumpeng selesai dibuat dan di doakan, lalu dimakan bersama sekeluarga dan para tetangga. Jumlah minimal orang yang makan usahakan 7 orang, semakin banyak semakin baik, misalnya 11 orang, 17 orang. Porsi nasi tumpeng boleh dibagi-bagikan ke para tetangga anda. Maknanya, dimakan 7 orang dengan harapan mendapat pitulungan yang berlipat tujuh.  Jika 11 orang, berharap mendapat kawelasan yang berlipat sebelas. 17 berharap mendapat pitulungan lan kawelasan berlipat 17. Namun hal ini hanya sebagai harapan saja, perkara terkabul atau tidak hal itu menjadi “hak prerogatif” Tuhan.
  7. Alat-alat kelengkapan : 1) daun pisang secukupnya, digunakan sebagai alas tumpeng (lihat gambar). 2) kalo (saringan santan) harus yang baru atau belum pernah digunakan. 3)  cobek tanah liat yang baru atau belum pernah digunakan. 4) Tambir atau tampah, semacam anyaman bambu berbetuk bundar, dengan ragam diameter antara 30cm-70cm.  Cara menggunakannya lihat dalam gambar.
  8. Makanan jajan pasar. Terdiri dari makanan tradisional yang dapat Anda temukan di pasar. Misalnya makanan terbuat dari ketan; wajik, jadah, awug, puthu, lemper dll. Makanan yang terbuat dari beras ; nagasari, apem, cucur, mandra, pukis, bandros. Dari singkong ; combro, lemet, cemplon dsb. Serta dilengkapi buah-buahan yang ditemui di pasar seperti salak, rambutan, manggis, mangga, kedondong, pisang. Semuanya dibeli secukupnya saja, jangan terlalu banyak, jangan terlalu sedikit. Maknanya ; kesehatan, rejeki, keselamatan, supaya selalu lengket, menyertai kemanapun pergi, dan di manapun Anda berada.
  9. Kembang setaman (terdiri dari ; bunga mawar merah, mawar putih, kantil, melati dan bunga kenanga). Maknanya : kembang setaman masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri. Misalnya bunga mawar ; awar-awar supaya hatinya selalu tawar dari segala nafsu negatif. Bunga melati, melat-melat ing ati selalu eling dan waspada. Bunga kenanga, agar selalu terkenang atau teringat akan sangkan paraning dumadi. Kanthil supaya tansah kumanthil, hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkan kita, kepada orang tua kita, dengan harapan kita selalu berbakti kepadanya. Kanthil sebagai pepeling agar supaya kita jangan sampai menjadi anak atau keturunan yang durhaka kepada orang tua, dan kepada para leluhurnya, leluhur yang menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa.
  10. Uang Logam (koin) Rp.100 atau 500, atau 1000. Istilahnya wajib. Wajib selain melambangkan harta benda adalah urusan duniawi yang harus diletakkan secara proporsional, artinya manusia tidak boleh menghamba pada harta benda. Maka wajib ini diletakkan di bawah kalo, di atas cobek bersama sampah daun pisang, maknanya seperti dalam falsafah ; barang siapa menanam rumput, padi tidak akan ikut tumbuh. Sebaliknya barang siapa menanam padi, rumput akan ikut tumbuh. Padi adalah melambangkan amal kebaikan, memberi kehidupan kepada yang hidup, sementara itu rumput merupakan lambang harta benda. Siapa yang hidupnya berguna untuk seluruh makhluk, welas asih, memelihara, merawat, maka jalan rejeki otomatis akan selalu datang dan terbuka. Selain itu wajib, bermakna pula ; kalau ada uborampe yang terlewatkan atau kurang, silahkan membeli sendiri di “pasar Diyeng” (berada di dekat hargo dumilah di puncak Gunung Lawu).  Artinya mohon dimaklumi.
  11. Bubur 7 rupa : bahan dasar bubur putih atau gurih (santan dan garam) dan bubur merah atau bubur manis (ditambah gula jawa dan garam secukupnya). Selanjutnya dibuat menjadi 7 macam kombinasi; bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, putih silang merah, bubur putih tumpang merah, merah tumpang putih, baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran gula merah dan parutan kelapa secukupnya). Maknanya : bubur merah adalah lambang ibu. Bubur putih lambang ayah. Lalu terjadi hubungan silang menyilang, timbal-balik, dan keluarlah bubur baro-baro sebagai kelahiran seorang anak. Hal ini menyiratkan ilmu sangkan, asal mula kita. Menjadi pepeling agar jangan sampai kita menghianati ortu, menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.
  12. Minuman. Terdiri dari teh tubruk, kopi tubruk, dan rujak degan (semacam es kelapa muda). Bedanya, sajikan air kelapa muda dengan tanpa es ke dalam gelas kemudian tambahkan gula jawa atau gula merah yang telah diserbuk. Tambahkan pula sedikit garam kemudian daduk hingga rata, selanjutnya masukkan kelapa muda yang sudah dikeruk ke dalam gelas tersebut. Teh tubruk dan kopi tubruk sajikan dalam gelas atau cangkir. Semua jenis minuman biarkan terbuka, jangan ditutup.

CARA MENYAJIKAN

  1. Tumpeng Bancakan Weton

    Tumpeng Bancakan Weton

    Buatlah “sate” terdiri dari (urutkan dari bawah); cabe merah besar (posisi horisontal), bawang merah, telur rebus utuh dikupas kulitnya (posisi vertical), dan cabe merah besar posisi vertical (lihat dalam gambar).  “Sate” ditancapkan di bagian puncak tumpeng. Maknanya ; kehidupan ini penuh dengan pahit, getir, pedas, manis, gurih. Untuk menuju kepada Hyang Maha Tunggal banyak sekali rintangannya. Sate ditancapkan di pucuk tumpeng mengandung pelajaran bahwa untuk mencapai kemuliaan hidup di dunia (kemuliaan) dan setelah ajal (surga atau kamulyan sejati) semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika meminjam istilah, habluminannas merupakan sarat utama dalam menggapai habluminallah. Hidup adalah perbuatan nyata. Kita mendapatkan ganjaran apabila hidup kita bermanfaat untuk sesama manusia, sesama makhluk Tuhan yang tampak maupun yang tidak tampak, termasuk binatang dan lingkungan alamnya.

  2. Nasi tumpeng dicetak kerucut besar di bawah runcing di bagian atas. Tumpeng letakkan tepat di tengah-tengah kaloMaknanya ; nasi tumpeng sebagai wujud doa, sekaligus keadaan di dunia ini. Segala macam dan ragam yang ada di dunia ini adalah bersumber dari Yang Satu. Dilambangkan sebagai tumpeng berbentuk kerucut di atas. Makna lainnya bahwa segala macam doa merupakan upaya sinergisme kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, di bagian bawah tumpeng bentuknya lebar dan besar, semakin ke atas semakin kerucut hingga bertemu dalam satu titik. Satu titik itu menjadi pucuk atau penyebab dari segala yang ada (causa prima) melambangkan eksistensi Tuhan sebagai episentrum dari segala episentrum. (Lihat gambar di atas).
  3. Syarat-syarat bancakan weton

    Tumpeng, Sayuran & Telur

    Tujuh macam sayur ditata mengelilingi tumpeng serta bumbu gudangan/urap diletakkan di antaranya. Makna 7 macam sayur sudah saya ungkapkan di atas. Sayur di tata mengelilingi tumpeng. Tumpeng sebagai pusatnya energy ada di tengah. Energy diisi dengan segala hal yang positif seperti harmonisasi symbol angka 7 (nyuwun pitulungan).

  4. Telur rebus dibelah jadi dua, ditata mengelilingi nasi tumpeng (lihat gambar). Maknanya : telur merupakan asal muasal terjadinya makhluk hidup. dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro ke IV, telur melambangkan proses meretasnya kesadaran ragawi (sembah raga) menjadi kesadaran ruhani (sembah jiwa). Dua kesadaran itu akan menghantarkan menjadi menusia yang sejati (sebagai kiasan dari proses menetas menjadi anak ayam).  Dalam cerita pewayangan telur juga melambangkan proses terjadinya dunia ini. Kuning telur sebagai perlambang dari cahya sejati (manik maya), putih telur sebagai rasa sejati (teja maya). Keduanya ambabar jati  menjadi Kyai Semar. Dengan perlambang telur, kita diharapkan selalu eling sangkan (ingat asal muasal), menghargai dan memahami eksistensi sang Guru Sejati kita yang tidak lain adalah sukma sejati yang dilimput oleh rasa sejati dan disinari sang cahya sejati. Inilah unsur  Tuhan yang ada dalam diri kita. Dan yang paling dekat; adoh tanpa wangenan, cedak tanpa senggolan (jauh tanpa jarak, dekat tanpa bersentuhan). Lebih dekat dari urat leher. Inilah salah satu sang Pamomong yang kita hargai eksistensinya melalui bancakan weton.
  5. Cara Penyajian Bancakan Weton

    Dari bawah : Cobek, Kalo, Daun Pisang,Tumpeng

    Kalo diletakkan di atas cobek (kalo dialasi dengan cobek). Jangan menggunakan kalo dan cobek bekas pakai, seyogyanya beli yang masih baru. Maknanya : Cobek merupakan makna dari bumi (tanah) tempak kita berpijak. Nasi tumpeng dan segala isinya yang diletakkan dalam kalo jika tidak dialasi cobek bisa terguling. Hal ini mensyiratkan makna hendaknya menjalani hidup di dunia ini ada keseimbangan atau harmonisasi antara jasmani dan rohani. Antara unsur bumi dan unsur Tuhan. Antara kebutuhan raga dengan kebutuhan jiwa, sehingga menjadi manusia sejati yang meraih kemerdekaan lahir dan kemerdekaan batin.

  6. Daun pisang dihias sedemikian rupa sesuai selera sebagai alas meletakkan tumpeng dan sayuran. Daun yang hijau adalah lambang kesuburan dan pertumbuhan. Maknanya adalah pengharapan doa negeri kita maupun pribadi kita selalu diberkati Tuhan sebagai negeri yang subur makmur, ijo royo-royo, kita menjadi pribadi yang subur makmur, dapat menciptakan kesuburan bagi alam sekitar dan kepada sesama makhluk hidup.
  7. Bancakan Weton

    Cobek, sampah, uang logam

    Sisa guntingan atau potongan daun pisang, hendaknya diletakkan di antara cobek dengan kalo (di atas cobek-di bawah kalo) Jangan lupa letakkan uang logam (pecahan Rp.100, 500, atau 1.000) bersama sampah sisa potongan daun pisang. Hal ini bermakna segala macam “sampah kehidupan”, sebel sial, sifat-sifat buruk ditimbun atau dikendalikan oleh segala macam perilaku kebaikan sebagaimana tersirat di dalam seluruh isi kalo. Uang logam merupakan perlambang dari harta duniawi atau segala hal yang bersifat nafsu keduniawian. Hal ini mengandung pêpeling (peringatan) bahwasanya harta karun, nafsu liar dan segala macam “perhiasan duniawi” ibarat sampah tidak akan berharga apa-apa jika tidak digunakan secara tepat sebagai sarana laku prihatin. Sebaliknya, tanpa pengelolaan yang baik, tepat dan pas semua itu tak ubahnya seperti “sampah” yang mengotori kehidupan kita. Jika kita menjadi orang kaya harta, jadilah orang kaya harta yang selalu prihatin. Manfaatkan harta kita untuk memberi dan menolong orang lain yang sangat butuh pertolongan dan bantuan, agar tangan kita lebih mampu “telungkup”, agar jangan sampai kita menjadi orang-orang fakir yang telapak tangannya selalu tengadah dan menjadi beban orang lain.

  8. gambar bancakan weton

    Bunga setaman & Ragam minuman

    Kembang setaman ditaruh dalam mangkok/baskom isi air mentah. Jika ingin menambah dengan dupa ratus / semacam “dupa manten” bisa dibakar sekalian pada saat merapal doa dan japa mantra. Tak perlu dibakar jika dirasakan bau dan asapnya akan menganggu lingkungan Anda. Kembang setaman diletakkan bersama-sama dengan 3 macam jenis minuman ; kopi tubruk, teh tubruk, dan rujak degan (kelapa muda). Dalam gambar terdapat 4 macam minuman. Ini di luar pakem karena saah satu minuman adalah wedang jahe gula jawa merupakan request khusus.

  9. Syarat-syarat bancakan weton

    Pisang Sanggan

    Siapkan tambir (lihat dalam gambar). Tambir digunakan untuk menyajikan kedua sisir pisang, dengan posisi seperti jari-jari kedua telapak tangan yang menengadah ke atas. Di seputar pisang diletakkan aneka ragam buah-buahan, rebusan aneka ragam umbi-umbian dan jajan pasar. Susunlah semua uborampe tersebut dengan rapi dan indah. Pisang dua sisir jika disatukan akan berbentuk seperti tangan yang menyangga sesuatu. Dinamakan pula pisang sanggan. Bermakna seluruh pamomong agar menyangga dan menopang kehidupan kita. Atau bermakna agar supaya kehidupan kita berdayaguna untuk menopang, menyangga kehidupan (hamemayu hayuning bawana). Dengan simbol kemakmuran yang berasal dari berkah bumi, berupa aneka ragam hasil bumi yang mengitari pisang sanggan. Pisang raja, sebagai lambang kemuliaan dan keluhuran derajat dan pangkat, sementara itu pisang raja pulut bermakna kemuliaan dan keluhuran derajat pangkat tersebut agar selalu kepulut (lengket karena getah), atau melekat lengket dalam diri pribadi. Itulah arti dan makna dari uborampe yang di dalamnya penuh dengan maksud doa, niat, usaha dan harapan bagi yang mbancaki dan yang dibancaki. Arti dan makna di atas harus diresapi dan dihayati supaya manjing ke dalam sanubari, mewarnai dan menjadi tekad bulat perjalanan hidup secara lahir dan batin Anda dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

  10. Bubur 7 rupa dapat disajikan dalam porsi kecil, sajikan lepek atau cawan (piring kecil) supaya mudah habis dimakan. Lihat gambar berikut :
Sesaji Bancakan Weton

Bubur 7 Rupa

Untuk lebih mudah mengingat, uborampe bancakan weton di atas merupakan bancakan weton dengan standar lengkap, terdiri dari 4 kelompok yakni ;

1) satu kalo nasi tumpeng dengan lauk, sayur-sayuran, dan bumbu urap.
2) satu tambir berisi pisang, buah, buahan, jajan pasar dan rebusan umbi-umbian.
3) satu set bubur 7 rupa (lihat dalam gambar).
4) satu baki atau nampan berisi 3 jenis minuman dan satu mangkuk kembang setaman.

BANCAKAN SEDERHANA 

Apabila Anda merasa kerepotan menyajikan beberapa uborampe di atas, paling tidak Anda dapat menyajikan bancakan sederhana terdiri, kelompok 1 secara lengkap, dan kelompok 2 diisi pisang 1 tangkep, buah dan umbi seadanya. Kelompok ke 3 tetap dibuat semuanya. Kelompok ke 4 paling tidak 2 macam minuman ; teh tubruk dan kopi tubruk.

Setelah seluruh uborampe bancakan weton selesai dibuat. Selanjutnya diletakkan di dalam kamar orang yang sedang dibancaki weton atau kamar orang tuanya. Selanjutnya diucapkan mantra dan doa, usahakan yang mengucap mantra atau doa dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pepunden Anda yang masih hidup. Misalnya orang tua anda, bude, bulik, atau orang yang anda tuakan/hormati. Adapun doa dan rapalnya secara singkat dan sederhana sbb :

Kyai among nyai among, ngaturaken pisungsung kagem para leluhur ingkang sami nurunaken jabang bayine…. (diisi nama anak/orang yang diwetoni) mugi tansah kersa njangkung lan njampangi lampahipun, dados lare/tiyang ingkang tansah hambeg utama, wilujeng rahayu, mulya,  sentosa lan raharja. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan bejo kang teko. Kabeh saka kersaning Gusti.

(Arti dan maknanya kurang-lebih sebagai berikut: Para pengasuh lahir dan batinku (kakang kawah adi ari-ari, sedulur papat keblat dan kelima pancer), dan seluruh leluhur pendahulu si jabang bayi … (sebutkan nama anak atau orang yang dibancaki weton), ijinkan saya menghaturkan segala uborampe bancakan weton sebagai wujud rasa menghargai, rasa hormat, dan terimakasih. Semoga selalu bersedia untuk membimbing dan mengarahkan dalam setiap langkah. Agar menjadi orang yang berifat mulia, luhur budi pekerti, bermanfaat untuk seluruh makhluk. Selalu mendapat keselamatan  dan kesentosaan, dan selalu mendapakan keberuntungan kapan dan di manapun berada.

Setelah bancakan dihaturkan, tinggalkan sebentar sekitar 10-20 menit lalu dihidangkan di ruang makan atau diedarkan ke para tetangga untuk dimakan bersama-sama.  Usahakan agar semakin banyak yang ikut menikmati hidangan bancakan weton supaya rejeki yang dibancaki sumrambah (bermanfaat dan berkah) untuk banyak orang. Minimal 7 orang.

PUASA APIT WETON

Dalam tradisi Jawa dikenal begitu akrab “lakupuasa apit weton (bukan puasa weton). Laku ini bertujuan untuk mengupayakan dayaguna dan segala kelebihan (potensi) yang terpendam yang ada inheren dalam diri pribadi si pelaku. Termasuk di dalamnya untuk upaya semakin menajamkan mata batin. Atau menyambung kesadaran (awareness) antara kesadaran ragawi dengan kesadaran sang guru sejati. Sehingga menjadikan pribadi yang waskita dan permana lahir dan batinnya. Jika Anda melakukannya puasa apit weton selama 7 kali weton berturut-turut tanpa putus dan dilakukan secara sungguh-sungguh, Anda akan merasakan manfaat dan hasil yang mungkin membuat Anda sendiri kagum, apalagi disertai dengan melaksanakan bancakan weton tanpa terputus selama 7 kali berturut-turut, bahkan Anda akan terperangah dengan hasil yang mungkin di luar yang Anda duga-kira. Adapun tatacara puasa apit weton cukup sederhana saja. Anda memulai puasa seperti biasa, akan tetapi jamnya lebih fleksibel yang penting dilakukan antara 12 s/d 24 jam. Anda boleh makan sahur atau tidak makan sahur terlebih dahulu. Puasa apit weton tentu saja dilakukan pada satu hari sebelum weton dan satu hari sesudah weton. Misalnya weton Anda Setu Pahing, maka puasa apit weton dilakukan pada hari Jumat Legi dan Minggu Pon. Selama melakukan puasa apit weton harus melakukan sesirih pula. Sesirih maksudnya menjaga kesucian lahir dan batin, diawali dengan mandi sekujur tubuh (dapat pula dilakukan dengan mandi kembang setaman pada jam 00.00) di malam menjelang pelaksanaan puasa apit weton). Sesirih berarti pula tidak boleh melakukan hubungan seks selama melakukan ritual tersebut.

Adapun niat puasa apit weton adalah sebagai berikut :

Niat ingsun poso weton, sing poso lair lan batinku. Kakang-kawah adi ari-ari, sedulurku papat keblat, lan kelimo pancer, manjingo anunggil ing jero badan sariraku, curigo manjing warangka, warangka manjing curigo, sun jumeneng roroning atunggil, dumung manunggal kalayan Gusti. Saka kersaning Gusti.

Sebelum niat tersebut diucapkan, lakukan patrap semedi atau meditasi dalam waktu sejenak hingga mencapai kedamaian, ketentraman hati dan keheningan rasa. Selanjutnya ucapkan niat tersebut di dalam batin Anda. Biasanya pada saat mengucap niat tersebut tubuh kita akan terasa seperti ada getaran energi yang mengalir dari ubun-ubun menjalar ke bawah hingga ujung kaki. Kadang getaran muncul dari cakra Jayengdriya Anda di seputar tulang ekor Anda, kemudian menjalar ke atas hingga ubun-ubun dan terasa sampai ujung kaki dan kedua telapak tangan Anda. Demikian share saya tentang tata cara pelaksanakan bancakan weton dan puasa apit weton, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkan. Salam asah asih asuh untuk seluruh pembaca yang budiman. https://sabdalangit.wordpress.com

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 9, 2011, in -, Bancakan Weton & Puasa Apit Weton and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 368 Komentar.

  1. ki saya mau tanya saya weton jumat pon weton istri saya kamis wage.kami menikah 4 mei 2014 stlh tany ke org yang ngerti..tapi stlh nikah kok terasa berat rejeki dan pekerjaan susah di dapat..mohon petunjuk apa harus di ruwat atau bagaimana..terima kasih ki
    rahayu rahayu rahayu

    • Mas Andrian Yth
      Jumat Pon 13 tiba gedong. Kamis wage 12 tiba rejeki. Secara pribadi masing-masing neptu sangat bagus. Tapi jika digabung jumlahnya 25 tiba pati. Apa yg njenengan alami saat ini yang kalah rejekinya (nasib). Itu masih lebih bagus dari pada yg kalah fisiknya. Neptu waktu menikah Minggu Pon jatuhnya 12 (rejeki) sudah cukup bagus. Tetapi kendala utama tetap ada di neptu pasangan yg kurang pas. Untuk solusi sekelas kendala seperti ini harus melalui ruwatan. Paling tidak akan mengurangi kendala lebih dari 50 %. Panjenengan jangan berkecil hati, untuk ke depan tetap bisa meraih sukses, hanya saja jalannya harus kepati-pati (prihatin yg cukup berat). Jika panjenengan berdua mampu melewati, tentu akan menjadi keluarga yg sukses lahir batin. Kesuksesan akan sepadan dengan perjuangan anda berdua saat hidup kepati-pati. Cobalah lakukan seperti dalam FAQ : membangun laku prihatin.
      Semoga berguna

  2. Slmt malam kang Sabdo..
    Sy lahir sabtu wage wuku prangbakat ( 28 juli 79), suami lahir minggu legi wuku merakih ( 10 juni 79).
    Menikah jum’at wage wuku wayang (28 okt 2011).
    Punya anak perempuan lahir di rabu pahing wuku uye (18 apr 12).
    Mohon pencerahannya kang, kehidupan kami sekeluarga jauh dr kata harmonis. Sedikit senggolan dh bisa bikin ledakan.
    Apa sj yg harus saya atau kami lakukan utk mmperbaiki kondisi ini.
    Trm ksh.. Salam rahayu.. _/|\_

    • Mbak Heni Julianti yth
      Panjenengan nikah pas neptu taliwangke. Bahasa Sunda nya PAMALI. Ora ilok utk acara nikah. Jumat wage jatuhnya tibo PATI.
      Sedangkan dari weton lahir, Suami tibo pati, panjenengan 13 tibo gedong, bakat sugih. Jika digabung dengan weton suami = 23 tibo gedong juga. Gabungan suami istri sdh bagus. Rejeki tidak masalah.
      Weton anak, Rabu Paing 16 tibo Sri banyak teman, pandai bergaul, disayangi teman~teman.
      Saya lihat sumber masalah ada pada neptu saat menikah. Cobalah utk mbangun nikah, dengan mengulang upacara menikah dgn neptu yg bagus misalnya, Sabtu Paing, Sabtu Wage, Kemis Legi, atau Kemis Paing.
      Semoga bermanfaat
      Rahayu sagung dumadi

  3. Ageng Jabeer Firmansyah

    Assalamu’alaikum Ki sabdo,, namaku m.firmansyah lahir jum’at legi istri dewi hartati selasa pon, kami menikah sudah 11 thn tetapi blm dikaruniakan keturunan, mohon pencerahan nya Ki Sabdo,, Rahayu,,Rahayu,,Rahayu,, terimakasih

  4. asalamualaikum,ki.. nama saya udin lahir jumat pahing kok sering kena sial,kira-kira ada apa dg saya,Ki? atas bantuanya saya ucapkan terima kasih sebesar besarnya…

  5. Ki saya mau nikah weton saya selasa pahing dan calon saya jumat legi,,, dan saya sering puasa weton selama 24 jam dan kira_kira cocok gk sama calon saya,,, terima kasih

    • Mbak Ida yth
      Jumlah weton anda 12 rejeki, calon suami 11 sri. Jumlah keduanya 23 gedong. Pasangan yang sangat ideal. Pilih hari nikah Sabtu Paing. Pantangan anda berdua, yg dapat menghalangi kesuksesan ekonomi dan kehidupan keluarga adalah watak pelit. Maka ingatlah pantangan/waril/pamali itu. Buang jauh~jauh.
      Rahayu sagung titah dumadi

  6. KI weton aku rebo pon sedangkan istri senin wage.dan weton anak minggu kliwon.gi mana menurut KI sabda

    • Mas Soni Sanjaya Yth
      Rebo pon 14 tiba lara. Sering mengalami peristiwa yg membuat nelangsa atau sakit hati. Tp itu mjd jalan prihatin atau jalan mendapat berkah. Senin wage 8 tiba gedong, bakat sugih. Jumlah keduanya 22 rejeki. Pasangan yg mudah mendapatkan rejeki. Biar pun sedikit tetap ada saja jalannya. Minggu kliwon 13 tiba gedong. Anak yg ngrejekeni, anak yg bakat kaya.
      Semoga berguna
      Rahayu sagung dumadi

  7. Assalamualaikum, maaf ki saya mau tanya, weton saya rabu wage dan weton calon saya sabtu pahing, itu baik apa tidak, dan kalo tidak baik ada ruwatanya tidak ?? Terimakasih.

    • Mas Woko Yth
      Rabu Wage 11 tiba sri disenangi kawan, pandai bergaul, banyak relasi. Sabtu Paing 18 tiba gedong bakat kaya dan kuat bertanggungjawab pada jabatan yg terhormat. Jika digabung jumlahnya 24 tiba lara. Pasangan yang sukses secara ekonomi, tapi “laku” prihatinnya sering kelara-lara, nelangsa hatinya. Atau sakit raganya tapi selalu ada jalan mudah untuk sembuh. Hanya saja gabungan neptu wage dan paing sama-sama keras kepala. Pasangan tidak jarang mengalami percekcokan, pertengkaran, atau selisih paham. Ruwatan akan efektif untuk menganulir efek negatif gabungan wage-pahing. Semoga berguna.
      Rahayu sagung titah dumadi

  8. Nuwun sewu Ki Sabda…
    Saya lahir Sabtu Wage, Istri Selasa Wage, anak Kamis Pon Sabtu Pon dan Selasa Kliwon…. nyuwun pencerahane anggen kulo berkeluarga, terutama menghadapi yang Kamis Pon,,,
    Sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan banyak terimakasih atas waktunya…rahayu

    • Mas Sudiman Yth
      Sabtu wage 13 tiba gedong “kuat nyunggi drajat” dan bakat kaya. Selasa wage 7 tiba rejeki. Jika digabung jumlah 20 tiba pati. Weton keduanya jika sendiri-sendiri memang bagus sekali tetapi jika digabung akan cukup berat. Biasanya mengalami laku prihatin yg sangat berat (kepati-pati) bisa pati rejekinya, kalau nggak kuat bisa raganya. Misalnya kalaupun dilakukan Ruwatan, biasanya tidak signifikan bisa merubah atau menghilangkan efek tiba pati-nya. Paling tidak hanya berkurang saja. Tapi jangan berkecil hati Pak Sudiman, karena sistem keadilan kosmos ini sungguh adil dan bijaksana. Jalan hidup “kepati-pati” justru bisa menjadi jalan utk laku prihatin. Jika panjenengan berdua bisa mensiasati dan menciptakan keadaan tata titi tentrem, pasti akan mendapatkan “upah” nya berupa kanugrahan dan kemuliaan yang besar yang tak mudah di dapat oleh kebanyakan orang.
      Rahayu sagung titah dumadi

      • Matur sembah nuwun Ki Sabda,,,
        Apa yang Ki Sabda tulis memang tidak jauh dari keadaan yang terjadi (kalo tidak boleh dikatakan tepat).
        Mohon doa dan pangestune Ki,,,semoga kami bisa menjalani semua dengan ikhlas dan sabar. Nyuwun tips dan trik e untuk menyiasati semua itu, juga mungkin ada sesuatu yang ‘khusus’ dari Ki Sabda, yang bisa saya (kami) lakukan untuk bisa mendapat “upah” itu karena sebab ‘tibo pati’ Ki Sabda???
        matur suwun–rahayu rahayu rahayu

  9. Nuwun sewu Ki Sabda.
    Mohon pencerahannya ki. Saya lahir Selasa Legi, calon suami lahir Rabu Wage. Mohon petunjuk untuk neptu nikah yg baik.
    Mohon restunya juga ki, untuk saya nglampahi puasa weton seperti yg Ki Sabda sampaikan.
    Matur sembah nuwun

    • Mbak Ayuk Yth
      Sebaiknya mengambil hari pernikahan/ijab pada neptu Sabtu Paing atau Kemis Legi. Untuk resepsi bisa kapan saja misalnyaa pas hari libur. Kalau mau nyambung ijab lgs resepsi ya Sabtu Paing. Atau neptu Minggu Kliwon. Saat nikah minta tolong ke ahli rias atau catering atau orang yang mengerti untuk membuat sajen bucalan lengkap ya. Kalau sudah berumahtangga supaya hatinya tidak kelara-lara.
      Rahayu sagung dumadi

  10. Matur nuwun sanget ki atas jawaban dan petunjuknya.

  11. Nuwun sewu ki sabda,
    istri saya ada pengalaman unik mengenai weton.
    atas arahan ibu mertuanya (ibu saya maksudnya) sudah lebih dari 5 bulan istri saya melakukan “laku” untuk setiap malam menjelang wetonnya, dengan membuat puncet (tumpeng kecil dari nasi putih) dengan air putih 1 gelas serta di letakkan garan sedikit di atas lepek (piring super mini). maklum sanggupnya baru segitu ki..

    saat weton kemarin, istri saya fisiknya sedang kurang sehat ( batuk dan demam). Namun dia tetap membuat puncet untuk dirinya sendiri disore hari, sebelum hari wetonnya . Malamnya, Saat tidur, istri saya bermimpi meihat banyak sekali yang memakan puncet yang di letakkan di atas meja. hingga tak bersisa. Pagi harinya, istri saya merasa sudah sehat. Demamnya hilang batuknya juga entah kemana…

    Itulah sekelumit pengalaman istri saya yang bisa saya ceritakan. Sempurane ki sabda jika kurang berkenan, maklum baru bisa bikin puncet saja. belum bisa tirakat bancakan.
    ngapunten ya ki..

  12. ass…
    ma’af mas saya mau tanya soal tata cara puasa weton.
    yank saya tidak tau doa sesajenya mnta tolong doax gimana.
    Dan misalanya bunganya gak ada mawar Merah/Putih itu bsa di ganti gak mas soalnya di tempat prantoan sini g ada bunganya mas.mohoh pencerahanya mas.

    • Mas Hamzah yth
      Untuk bunga bisa diganti dengan bunga apa saja tetapi usahakan jangan bunga semboja atau kamboja. Diusahakan jumlahnya 3 macam bunga. untuk doa bisa diucapkan seperti akan melaksanakan bancakan weton. Karena kita sudah lama dibiasakan apa-apa pakai doa yang diucapkan secara baku akibatnya ketika suatu kegiatan tidak ada doa khusus lantas terasa canggung dan bingung. Padahal doa atau niat sudah otomatis akan muncul ketika kita hendak melakukan suatu hal. Apa yang ada dalam hati dan pikiran kita itu tinggal diucapkan saja secara lisan sudah menjadi doa atau niat kajat. Oleh sebab itu ada hal yang lebih penting dibandingkan dengan doa yg diucap, yakni kesadaran lahir batin kita akan tujuan dan harapan atas apa yg hendak kita lakukan. Kita harus paham dan mengerti betul apa harapan, target, dan tujuan yg akan kita lakukan. Dengan begitu kita makin paham kalimat apa yang tepat diucapkan dalam doa. Orang semakin sadar dan memahami apa yg akan dilakukan tentu kalimat doanya akan lebih tepat sasaran walau rangkaian kata-katanya sederhana. Panjenengan boleh saja merangkai kalimat doa yg lebih bagus. Karena lalimat doa yg bikin tetep saja manusia. Tuhan nggak bikin kalimat doa. Ini contoh doa puasa apit weton yg biasa saya ucapkan dalam batin : Niyat ingsun poso apit weton, kanggo mulyaake jabang bayiku Ian ibu kangwus ngalairke sukma jiwa ragaku. Mugya wiIujeng rahayu kang tinemu, banda Ian begja kang teka saking kersaning Gusti Maha Agung.
      Semoga berguna, rahayu sagung titah dumadi

  13. Ki.. Sy rabu pon istri sy jumat legi, kami nikah rabu pahing.
    Anak sy yg pertama kamis pon
    Yg kedua,ke tiga kembar lahir kamis pahing,
    Ada saran/ruwatan utk keluarga kami..

  14. Ki..Sy lahir 2maret 1979
    Ruwatan beton apa yg hrs sy lakoni, sy sering Jd sasaran salah,..jdsering bermasalah sama rekan, mohon saran

  15. Ass,
    Saya mau tanya perihal kelahiran, Suami saya weton Rabu pahing, saya senin wage, anak saya yang pertama sabtu pahing. Saat ini saya sedang hamil anak ke-2. Yang mau saya tanya kan. Orang tua berkata bahwa kalau anak pertama weton sudah sabtu pahing, maka tidak boleh mempunyai anak lagi, karena jika weton anak ke-2 lebih sedikit dari anak pertama, rejeki akan berkurang. Apakah benar begitu atau bagaimana.
    Terima Kasih.

  16. Lestari budaya jawa

  17. Ki sabdo langit, sy pgn belajar budaya jawa, intinya kebatinan jawa, bisa ki tunjukkan alamatnya

  18. Kang sabda
    Saya weton jumat klien (31/10/1980) istri jumat lagi (27/07/1990) anak pertama kamis legi (17/06/2010) anak kedua sabtu legi (12/04/2014).yang mau saya tanyakan, anak kedua sampai sekarang belum bisa jalan, apa ada hubungan dengan weton? Ada yang bilang keberatan nama, nama anak saya sekar lintang nirmala. Mohon beri pencerahannya.

  19. slmt mlm..
    maaf ki saya mau tanya.
    weton saya sabtu kliwon & istri saya jumat wage.
    kami menikah tgl 30 juni 2011.
    sudah hampir 4th tp blm mmliki keturunan.
    dan rezeki kami trsa seret & tidak lancar.
    ingin mmbangun rumah pun sll bnyk halangan.
    mohon pencerahannya Ki.
    terimakasih.

  20. Mau tanyak ki sabda
    Weton saya senen wage.
    Sy mau puasa apit weton..minggu pon dan selasa kliwon.
    Terus selasa kliwon.rabu legi dan kamis pahing adalah dino 40.
    Kalo saya teruskan puasa dari minggu pon.selasa kliwon.rabu legi dan kamis pahing..apa bisa dinilai sbg puasa apit wetan dan puasa 40 dino.sekaligus…mohon penjelasannya

  21. apakah punya artikel tentang kembang leson dan komposisinya? mohon referensinya, untuk tugas kuliah

  22. Nuwun sewu Ki Sabda..
    kula lahir sabtu legi lan calon suami nama miswandi kamis pahing.
    ajeng nglangsungake pernikahan. nyuwun pencerahanipun, matur suwun..

  23. Salam smuanya.
    Syukur alhamdulillah atas segala yg Allah berikan.
    Beberapa waktu lalu saya sudah mencobanya, slametan weton dan puasa apit weton ( walaupun cuma dapat 2 hari ).
    Alhamdulillah efeknya sangat hebat sekali.
    Smuanya lancar. Tentunya atas izin Yang Maha Kuasa.
    Wktu sore hari ada kupu2 kecil warna coklat dikontrakan saya, kemudian malamnya serasa ada yg mau masuk ke dlm tubuh saya tetapi saya tahan dan akhirnya saya tidak jadi pingsan. Setelah saya tanyakan dengan pak lek saya, kata beliau sodara saya datang dan ingin masuk.

    Mohon untuk para sesepuh bisa membantu saya menjelaskannya.

    Trima kasih.
    Salam rahayu…

  24. Assalamu’alaikum,

    Mas Sabda, dalam prosesi bancakan weton ini, jika bancakan dibuat oleh orang lain (diluar keluarga) dan peserta bancakan semuanya bukan keluarga, apakah boleh?

    Salam.

    • Mas Yanuar Nur Alam Yth
      Boleh asalkan orang yg dituakan. Tapi kalau maksudnya bancakannya hanya pesan/beli di catering atau orang yang bisa masak ya tentu saja boleh banget yang penting sesuai pakem. Tapi cara menghaturkan/mengabulkan sebaiknya dilakukan oleh orang yang dituakan atau dipercaya. Kalau Ibu masih ada sebaiknya beliau yang mengabulkan. Dari jauh juga bisa.
      Rahayu sagung titah dumadi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.049 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: