Review Spiritual Odyssey Trip 2

Untuk SO-2 rencananya kami ingin mengurangi jumlah peserta dari quota 34 orang menjadi sekitar 32 atau lebih sedikit lagi sekitar 24 orang. Alasannya simpel karena sudah memasuki awal musim hujan, dan selaku guidance, saya butuh tenaga ekstra karena disamping harus memberikan sentuhan materi satu-persatu secara langsung kepada dulur-dulur peserta SO, belum lagi tanggungjawab menjaga seluruh peserta agar jangan sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diharapkan terutama yang berhubungan dengan persoalan meta-fisik. Lebih dari itu SO-2 dilaksanakan sudah memasuki bulan Suro di mana energi alam sangat terasa lebih berlimpah ruah, namun keadaan juga akan jauh lebih wingit. Di satu sisi hal itu menjadikan suatu keuntungan, namun sepadan pula dengan tingkat resikonya. Kebaikan yang kita lakukan akan memancarkan energi lebih kuat di banding bulan-bulan biasa, sebaliknya setiap kesalahan yang kita lakukan akan menerima akibatnya secara spontan dan terasa lebih berat.

Semenjak kami upload di blog dan di Facebook Cv Lakutama, pada hari kedua saya tanyakan kepada Mas Setyo berapa jumlah calon peserta yang sudah mendaftar. Namun Mas Setyo masih sibuk di Jakarta dan Bogor jadi belum sempat mendata ulang jumlah peserta SO-2. Maksud saya supaya tim SO bisa membatasi jumlah peserta sesuai rencana semula. Apalah daya, hari berikutnya saya tanyakan lagi dan ternyata bener dugaan saya. Sudah mencapai 39 orang ditambah rombongan dari Kuala Lumpur Ibu Endang dkk ada sekitar 9 orang. Belum lagi rombongan dari Jakarta dan Depok sekitar 5 orang dan rombongan lainnya. Al hasil, jumlah total peserta SO-2 mencapai 70 orang di hari H-nya karena Mas Setyo terkena skak-ster. Banyak dulur-dulur yang belum konfirm ke Mas Setyo namun sudah terlanjur beli tiket pesawat, bus, dan kereta. Saya sangat mafhum karena memang peakseason wajar jika susah mencari tiket apapun yang menuju Jogja. Ya sudahlah akhirnya tim panitia SO-2 harus berani menambah quota demi memberikan kesempatan kepada sedulur-sedulur dari segala penjuru tanah air. Saya pribadi sebagai guide harus siap bekerja extra time demi dapat berbagi dan melewatkan hari-hari bersama para sedulur SO-2. Hal itu lebih membahagiakan dan membuat rasa capek tidak pernah menghinggapi badan selama kegiatan berlangsung.

BERSIAP TAPA NGELI

Seperti sudah saya wanti-wanti semenjak akan memberangkatkan rombongan SO-2 sebagaimana halnya SO-1. Bahwa perjalanan ini bukanlah sekedar perjalanan tamasya. Tetapi merupakan perjalanan spiritual yang sangat sakral. Sejak awal kami semua berniat dan bertekat bulat untuk mengharmonisasi diri dengan memasuki frekuensi roh jagad ageng, agar menajdi pribadi yang selaras (taat dan patuh) dengan hukum alam (Tuhan). Keselarasan yang terus menerus dengan roh jagad ageng menjadikan kita berhasil manjing ajur ajer dengan sang Hyang Suksma Jagad Ageng, yakni manunggaling kawula kalawan Gusti, roroning atunggil, atau dwi tunggal. Untuk itu hati ini dan hati sedulur semua butuh ditata, agar menjaga kadar ketulusan semaksimal mungkin (punya rasa, tidak punya rasa punya). Selama perjalanan melakukan tapa ngeli, konsekuensinya kita dituntut menerima apapun yang terjadi termasuk telat makan dan sedikit istirahat. Semua itu kita terima sebagai bentuk laku prihatin tapa brata. Agar supaya kita berhasil menemukan samudra berkah Ilahi. Sejak pembukaan acara, tim SO mengajak sedulur-sedulur peserta untuk mencermati setiap peristiwa yang berlangsung karena di dalamnya mengandung sejuta makna. Jika kita mampu membaca makna di balik setiap peristiwa, kita akan mampu menjawab sebagian teka-teki kehidupan. Bahkan di balik setiap peristiwa di antaranya merupakan perlambang bagi kehidupan kita di hari esok. Mengetahui makna di balik perlambang, berguna untuk dijadikan modal menentukan sikap dan rencana hidup kita di masa yad.

PERLAMBANG

Persiapan kali ini sengaja kami lakukan lebih awal karena banyaknya peserta yang harus mengisi daftar hadir dan registrasi ulang untuk mendapatkan kartu tanda peserta dan booklet. Tepat pukul 17 (pitulungan lan kawelasan) pra-acara dimulai oleh Mas Setyo dengan membacakan tata tertib, perlengkapan, dan berbagai macam arahan. Saya lanjutkan dengan mengajak dulur-dulur peserta SO-2 untuk mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para leluhur agung bumi putra bangsa yang telah mewariskan pusaka bumi pertiwi, nilai-nilai luhur kearifan lokal, dan mewariskan sebuah bangsa besar bernama Nusantara yang kemudian mengalami proses politik menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu tak lupa kami mengenang perjuangan para pahlawan pembela bangsa Nusantara dan NKRI.

Hening cipta dengan iringan lantunan tembang serat Wedhatama pupuh pangkur karya Gusti Mangkunegoro IV. Kami lantunkan tembang Pangkur bersama istri, langsung dua podho (bait) pertama dan kedua. Saat melantunkan tembang pangkur, saya merasakan energi kehadiran Eyang Gusti Mangkunegoro ke IV. Kesadaran saya terasa berubah menjadi setengah sadar dan terasa serangan kantuk luar biasa. Saya tahu, setiap melantunkan tembang-tembang Wedhatama, Gusti MN IV seringkali hadir dengan rasa haru tampak di raut wajah beliau, kadang beliau berkaca-kaca mungkin trenyuh mengetahui apa yang diajarkan pada zaman dulu ternyata kini masih ada generasi muda bangsa yang peduli untuk nguri-uri nilai luhur warisan luhur. Di Sepertinya di tengah-tengah tembang suara saya agak tersendat karena merasakan keharuan Gusti MN IV yang begitu dalam :

Mingkar mingkuring angkara, Akarana karenan mardi siwi, Sinawung resmining kidung, Sinuba sinukarta, Mrih kretarta pakartining ngelmu luhur, Kang tumrap neng tanah Jawa, Agama ageming aji

Meredam angkara murka dalam diri, Hendak berkenan mendidik putra-putri (bangsa), Tersirat dalam indahnya lantunan tembang, berhias penuh variasi, agar menjiwai hakekat ilmu nan luhur, yang tumbuh di tanah Jawa (nusantara), agama seperti halnya “pakaian” (yang membalut intisari).

Jinejer neng Wedatama, Mrih tan kemba kembenganing pambudi (nora bakal apeparab lamun lamis), Mangka nadyan tuwa pikun, Yen tan mikani rasa, Yekti sepi asepa lir sepah samun, Samangsane pasamuan, Gonyak ganyuk nglelingsemi.

Berpedoman pada perilaku utama, agar jangan miskin budi pekerti, walaupun sudah tua bangka, jika tidak memahami rasa sejati (batin), niscaya tiada berguna bagaikan ampas, percuma sia-sia, dalam pergaulan sering bertindak ceroboh dan membuat malu.

Larut dalam suasana hening dan haru. Kita bersama-sama melakukan refleksi diri ; kita hidup dari yang maha hidup, hidup di planet bumi untuk meraih sejatinya hidup, dan sejatinya kidup apabila kita sudah mampu memberikan kehidupan kepada makhluk hidup lainnya. Sudahkah kita raih sejatinya hidup. Usai menjelajah di alam keheningan batin untuk melakukan refleksi diri. Kami gugah semangat dulur-dulur untuk melanjutkan mata acara. Sebuah testimoni yang unik dan menarik oleh Mas Bias Remadyo. Mas Bias yang bekerja sebagai kontraktor listrik di wilayah Makasar dan sekitarnya, ternyata mampu menyelesaikan berbagai kendala teknis dan non-teknis serta proyek-proyek besar dengan kiat sederhana yakni melakukan penyelarasan dan harmonisasi kesadaran kosmologis. Dupa di tangannya kadang dijadikan sebagai sarana dan media efektif dan ampuh sebagai media komunikasi dengan alam. Walau bosnya seorang LDII namun ternyata bukti dan fakta di lapangan telah meluruhkan ego dan fanatisme. Selesai mas Bias menyampaikan testimoninya, dilanjutkan sambutan oleh Pak Tasbir selaku kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Pemprov DIY. Kami segenap tim SO menyampaikan banyak terimakasih atas dukungan moral dari Pemprov DIY yang diwakili DinParbud Propinsi DIY.

Harimau

Masyarakat sekitar Pasarean Agung Hastorenggo Kotagede telah lama mengetahui jika benteng yang melingkari pasarean itu dijaga oleh harimau kesayangan Kanjeng Sinuhun Panembahan Senopati. Melihat harimau, mengindikasikan seseorang akan mendapatkan rejeki di kemudian hari. Memang tidak banyak yang bisa melihatnya karena “kelasnya” telah naik ke dimensi metafisik (badan halus). Salah satu peserta SO-1 ada yang sempat kemasukan harimau itu, mungkin karena sedari awal sudah ada rasa panasaran dan mungkin ingin mencoba sesuatu. Kami hentikan dengan memohonkan maaf kepada Kanjeng Sinuhun Panembahan Senopati atas segala sikap tindak yang mungkin dinilai kurang trapsilo. Untuk peserta SO-2 hanya satu dulur peserta yang mengalami trance terkena splash power sang harimau saat di luar dan di dalam pasarean. Tapi kejadian itu karena sebab lain, peserta memang memiliki kepekaan dan masih keturunan Sinuhun HB II di mana di antaranya memang sering ada yang memiliki inti energi berupa tiger power. Maaf njih mas Antari…terpaksa kami menahan kedua mata Panjenengan agar tidak terpejam sampai acara di Kotagede selesai. Soalnya setiap kali Panjenengan mengikuti instruksi meditasi dengan pejamkan mata, kepekaannya langsung on sehingga mudah sekali trance, itu jadi kesibukan buat istri saya hehe. Jujur, setiap melihat wajah Mas Antari sebagai satu-satunya peserta yang matanya melek sendiri dan sering kali memandang ke arah saya saat sedang memberi instruksi, kesannya wajah Mas Antari jadi lucu banget…haha.

Cahaya Putih Kehijauan

Sekitar pukul 21.00 empat personil tim film documenter rumah produksi buttonijo Mas Amir Pohan, Mas Arsyan, Mas Ismail, Mas Tomy, secara tidak sengaja melihat kilatan cahaya berwarna hijau yang sangat terang tepat berada di atas pasarean agung Panembahan Senopati. Cahaya seperti itu biasa disebut ndaru, dan yang kebetulan melihat termasuk beruntung. Karena cahaya seperti itu menjadi salah satu indikasi akan mendapat pulung atau keberuntungan. Bisa berupa rejeki, drajat dan pangkat atau kedudukan. Mudah-mudahan film Mas Amir yang berjudul Kejawen, menang lomba di Prancis dan dapat diputar di layar lebar Indonesia. Mungkin beberapa sedulur peserta SO juga ada yang melihat cahaya tersebut. Sukurlah semoga menjadi indikasi baik akan datangnya keberuntungan dan berkah untuk Anda dan keluarga.

Lele Règès

Di sebelah selatan pasarean Agung Panembahan Senopati Kotagede tepatnya di belakang bangsal kakung, terdapat Sendang Seliran, atau sendang sepasang karena memang ada dua jumlahnya. Peserta putri mandi di Sendang Keputren sedangkan putra mandi di Sendang Kakung. Di sendang itu terdapat banyak ikan lele dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran sebesar paha orang dewasa. Ada yang berwarna putih ada juga yang berwarna hitam. Namun yang unik, di sendang ini terdapat ikan lele reges. Disebut reges karena ikan lele itu hanya terdiri dari kepala, sedangkan badan dan ekornya tanpa daging alias hanya terdiri dari duri-duri saja, tetapi lele tersebut masih dalam keadaan hidup sejak ratusan tahun silam. Bagi yang sedang melaksanakan mandi siraman suci terkadang bisa melihat lele reges. Jika dulur-dulur peserta melihat lele reges itu menandakan suatu saat cepat atau lambat akan mendapatkan keberuntungan besar. Puji sukur beberapa di antara peserta ada yang melihat lele reges tersebut pada saat mandi di sendang Seliran.

Parangkusumo & Sepasang Burung Putih

Pukul 23.00 rombongan kami menuju pantai Parangkusumo. Ada sebanyak 13 konvoi mobil mengangkut 70 dulur-dulur peserta SO-2, (termasuk peserta yang membawa mobil sendiri), tim SO, dan kru film yang keseluruhan berjumlah sekitar 95 orang. Di tempat yang sama digunakan saat SO-1 seluruh peserta melakukan meditasi daya cipta, beberapa saat lamanya, kemudian kami melakukan larung saji sebagai oleh-oleh karena kita semua sedang bertamu ke “selatan” sebagai ungkapan welas asih kami kepada seluruh mahluk ciptaan Tuhan. Sebagaimana kita saaat sedang mengunjungi orang tua, kakek-nenek kita sendiri, tentunya kita ingin memberikan sekedar oleh-oleh yang disukainya. Khusus dalam event ini kami membawa kolak pisang emas (kolak kencana) sebagai wujud sikap menghargai, menghormati dan welas asih kita kepada KRK. Kami juga menghaturkan ketan salak, yakni ketan yang dicampur dengan gula jawa atau gula merah sebagai wujud penghormatan dan welas asih kita kepada Kanjeng Sutan Agung Hanyakrawati. Kedua ubo rampe itu merupakan pasangan yang seyogyanya tidak dipisah. Tak lupa kembang setaman dan boreh (parutan dlingo dan bengle), ditambah dengan sebungkus kinang (sirih, kapur sirih, tembakau, gambir). Itu saja oleh-oleh yang mewakili kami semua untuk penyelarasan dan harmonisasi dengan alam semesta dan segala isinya. Sebenarnya tidak ada yang memberatkan namun kadang orang masih ada saja yang terlalu rewel. Penyelarasan dan harmonisasi berarti pula kita selalu menjalin rasa paseduluran sembari menyingkirkan sikap curiga, negative thinking, dan sikap permusuhan. Dengan selalu membangun sikap demikian, pastilah alam semesta dengan segala isinya akan selalu berpihak kepada diri kita. Dengan kata lain, Tuhan selalu memberikan berkah kepada kita sebagai umat yang takwa, yakni taat dan patuh kepada hukum alam yang maha bijaksana.

Pada saat saya memandu meditasi dan penyelarasan roh jagad alit dengan roh jagad ageng, terjadi suatu peristiwa langka. Adalah sepasang burung puter berwarna putih polos mendarat jatuh di sebelah pojok kiri depan, tepat di mana Mas Setyo duduk meditasi. Bahkan salah satunya jatuh di pangkuannya. Momentum itu disaksikan pula oleh tim kamerawan dan tim asisten kami. Namun sayang sekali peristiwa itu terjadi hanya beberapa saat setelah semua kamera dimatikan. Sehingga tak satupun kamera sempat menangkap di saat momentum itu terjadi. Semula hanya satu ekor, dan beberapa detik kemudian disusul satu ekor lainnya. Sementara kondisi saat itu lebih gelap di banding cuaca pada saat SO-1 berlangsung. Logikanya burung itu tak dapat melihat apapun di saat malam hari. Tapi pilihannya tepat kepada Mas Setyo yang saat itu juga mengenakan pakaian dan udeng serba putih (satria seta) melaksanakan dawuh dari Gunung Tidar. Keadaan ombak pada saat itu juga cukup besar namun angin terasa sangat tenang, langit bersih tak ada mendung hanya saja rembulan tiada tampak di langit. Kami semua tetap hikmat melakukan meditasi daya cipta dan penyelarasan.

Selesai meditasi, kami seperti biasa mendengarkan testimoni dari sedulur-sedulur peserta SO-2. Begitu banyak peserta yang dapat mendengar suara gending, mencium bau aroma wangi, bahkan banyak di antara peserta melihat secara visual berbagai pemandangan entitas gaib, temasuk para manggalayudha Kerajaan Laut Selatan yang sungguh cantik menawan. Bagi yang belum pernah melihat KRK, tentu saja akan mengira sosok manggalayudha yang dilihatnya itu sebagai KRK, karena walau pasukan KRK tetapi wajahnya memang bener-bener cantik. Begitu banyak pengalaman sedulur-sedulur SO-2 seperti halnya saat SO-1. Bagi beberapa sedulur yang belum sempat melihat suatu entitas gaib, jangan khawatir, karena memang ada banyak faktor yang menentukan. Pesan saya janganlah merasa pesimis, karena bisa jadi di tempat lain Anda dapat merasakan bahkan melihat, sementara dulur-dulur yang lain malah tidak bisa melihatnya.

Pemandangan metafisik setiap orang bisa berbeda-beda. Namun bukanlah obyeknya yang berbeda melainkan tingkat kemampuan melihat gaib masing-masing orang berbeda. Jika diibaratkan melihat gajah, ada yang hanya melihat belalainya, kakinya, kepalanya, perutnya, atau hanya bekas telapak kakinya. Jika bermacam perwujudan itu dirangkai akan membentuk pemandangan yang utuh. Lama-kelamaan nantinya akan bisa melihat entitas gaib secara utuh, tentu saja jika lebih bersemangat melakukan meditasi daya cipta dan beberapa olah batin lainnya.

Kami memutuskan untuk membawa sepasang burung puter warna putih itu hingga ke Candi Cetho, dan rencananya kami akan lepaskan di sana sebagai bagian dari upacara penutupan. Burung itu kami artikan sebagai perilaku alam yang sedang mewisuda Mas Setyo sebagai Satria Seta, kesatria putih, yakni seorang yang diwisuda sebagai salah satu pahlawan untuk turut andil mengembalikan jati diri bangsa. Setelah testimoni selesai, kami merasa tugas memandu dulur-dulur semua di Parangkusumo sudah cukup. Kami berharap agar senantiasa dulur-dulur berhasil memasuki frekuensi yang selaras dan harmonis dengan frekuensi roh jagad besar (makrokosmos), sehingga berkah alam selalu berlimpah kepada dulur-dulur semua, kepada keluarganya, orang-orang terdekatnya dan dapat mengalir kepada banyak orang terutama yang sedang dalam kesulitan hidup.

Guru Yang Sesungguhnya Bukanlah Saya

Pukul 03.00 dini hari konvoi beranjak dari Pantai Parangkusumo menuju Kahiangan Dlepih. Melewati daerah Panggang, tembus ke daerah Sodo, Wareng, dan tembus sebelum kota Wonosari, Gunungkidul. Rombongan menuju Pracimantoro, Wonogiri. Selepas wilayah Gunungkidul, sopir bus nomer 06 yang aneh, semau gue, clelekan, dan mau menangnya sendiri, selalu ingin berada di posisi paling depan. Saat mau masuk pantai Parangkusumo saja ia sudah bingung malah masuk ke Parangtritis. Apalagi saat mau masuk Pracimantoro lagi-lagi ia mengambil jalan “sesat” hingga muter berkali-kali ketemu tempat semula yang telah dilewatinya. Akhirnya ia jalannya mengarah ke Wonogiri kota. Itu artinya kami dibawa muter jauh dan kehilangan waktu sekitar 1 jam. Seharusnya selepas Gunung Kidul ambil jalan lurus ke arah Pacitan, lewat Goa Gong, lalu ambil kiri arah Tirtamaya Wonogiri. Singkat cerita, rombongan kami tiba di Kahyangan Dlepih sekitar Jam 07.30 pagi alias kesiangan. Mas Setyo burur-buru keluarkan sepasang burung Puter karena akan dikasih makan jagung. Ternyata setelah keluar dari dus kedua burung itu langsung terbang semua dan hinggap di atas atap rumah warung. Ya sudah lah kalau begitu, susah menangkapnya.

Lagi-lagi warna hijau ada yang tertinggal. Jika pada SO-1 yang tertinggal berupa jaket milik Mbak Yayuk Sri Rahayu di bangsal putri Pasarean Agung Kotagede, kali ini di Dlepih ada yang tertinggal berupa sapu tangan warna hijau tua milik salah seorang dulur peserta SO-2. Parangkusumo dan Dlepih memiliki paugeran khusus yakni melarang mengenakan pakaian dan asesoris berwarna hijau. Karena warna hijau adalah warna kebesaran di kedua tempat itu. Warna hijau melambangkan identitas diri sebagai warga di dimensi sana. Maka jika seseorang mengenakan pakaian berwarna hijau berarti pula siap untuk bergabung dengan masyarakat dimensi gaib. Melihat kejadian yang sudah-sudah, justru jika seseorang hatinya baik, maka ia memenuhi syarat bisa diterima sebagai warga masyarakat dimensi gaib. Hilanglah orang itu dari dimensi fisik.

Setelah minum teh dan kopi kami segera menuju ke pelataran Kahyangan Dlepih untuk melakukan olah pernafasan Pancer, yang mensinergikan diri (pancer) dengan Bapa Angkasa dan Ibu Bumi Pertiwi. Hanya beberapa saat kemudian, sepertiga peserta langsung tergeletak, karena telah memasuki gelombang delta. Banyak di antaranya yang cukup keras mendengkur. Sementara yang lain, kami bimbing untuk tetap menjaga kesadaran sukma supaya bisa mendengarkan setiap instruksi kami, raganya biarkan istirahat dan tertidur pulas, posisi badan tetap samadi didahului nafas pancer. Seluruh tim asisten kami membantu memberikan sentuhan inner power pada chakra papasu dan mahkota. Dilakukan secara diam-diam tanpa aba-aba dan suara agar supaya tampak mana yang sudah peka mana pula yang masih kurang peka. Dan agar jangan sampai hanya karena sugesti saja. Saat di Kahyangan Dlepih, kami dapat mengamati seluruh peserta telah lebih peka dibandingkan sebelumnya saat di Kotagede dan Parangkusumo. Puji sukur. Setiap tim asisten kami mencharge inner power tepat pada kedua chakra tersebut, peserta pasti mengalami guncangan lembut, sampai guncangan kuat. Banyak di antaranya langsung tumbang saat terkena charging. Kami memang tidak sembarangan memilih asisten agar supaya target kualitas dapat dicapai oleh para peserta SO. Walau begitu, saya pribadi merasa tetap harus memberikan sentuhan langsung satu-persatu. Tujuan kami memberikan nilai positif yang bermanfaat untuk kehidupan sedulur-sedulur semua di waktu yad. Semaksimalnya kami berusaha agar tidak membuat kecewa hati dulur-dulur semua, walau kami merasa masih banyak sekali kekurangan di sana sini karena keterbatasan kami selaku tim SO maupun saya pribadi. Namun saya percaya, sedari awal acara sedulur-sedulur sudah selalu belajar menanamkan kesabaran, berusaha memahami arti sebuah ketulusan, agar mampu memenuhi laku topo ngeli, menghanyutkan diri mengikuti aliran air, mengikuti proses demi proses selama berlangsungnya acara agar supaya keberuntungan berpihak kepada Anda semua. Karena apapun yang terjadi, selanjutnya sudah saya serahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan alam semesta sebagai roh jagad ageng yang akan menuntun sendiri roh jagad alit untuk memasuki frekuensinya. Saya serahkan keada kekuatan supernatural power (leluhur) untuk membimbing dan mengarahkan setiap langkah supaya berkah alam selalu berlimpah kepada dulur-dulur SO. Jadi, bukan saya yang menjadi guru, melainkan alam semesta lah, atau roh jagad ageng lah yang menjadi guru buat kita semua. Sekali lagi, saya dan tim SO sekedar menjadi guidence.

Lakon Segera Dimulai

Sebanyak 12 mobil konvoi, masing-masing mempunyai jalan cerita “kehidupannya” sendiri. Hal itu bisa menjadi petunjuk dan bahasa isyarat kehidupan kita sebelumnya, saat ini dan kehidupan di waktu mendatang.

Selesai melakukan nafas pancer di Kahyangan Dlepih, dulur-dulur peserta SO-2 menuju Sendang yang di situ terdapat pusaka ular besi sebagai intisari kekuatan alam di sekitar tempat itu. Mas Setyo dan tim asisten kami mendampingi dulur-dulur hingga selesai. Tak lama karena mengingat waktu sudah beranjak siang dan cuaca terasa sangat panas. Rombongan kembali ke tempat parkir kendaraan karena kami telah menyiapkan prasmanan untuk sarapan yang menunya masih sama dengan para peserta SO-1. Pukul 11.00 wib kami siap berangkat menuju Candi Cetho yang berada pada ketinggian 1800 mdpl berada di kaki gunung Lawu. Lagi-lagi, mobil transportasi peserta cepat meninggalkan lokasi diikuti oleh seluruh mobil yang lainnya. Saya dan Mas Setyo tertinggal di paling buntut, karena harus membayar retribusi dll yang memang aturannya dibayarkan pada saat pulang. Kami tertinggal oleh seluruh rombongan. Semula kami tenang-tenang saja karena kami telah instruksikan kepada sopir agar mengambil route semula, yakni keluar Dlepih belok kiri kembali ke arah Ngadirojo, kemudian mengarah ke kota Wonogiri, Sukoharjo, sesampai di perempatan besar Sukoharjo atau daerah Nguter ikuti petunjuk arah belok kanan menuju Karanganyar. Dari Karanganyar ambil jalan ke arah Tawangmangu, nanti akan melewati pertigaan ada gapura besar bertuliskan Candi Cetho dan Sukuh. Dengan menempuh jalur itu, waktu yang kami perkirakan hanya sekitar 3 jam saja dari Kahyangan Dlepih.

Kami berhasil menyusul rombongan paling belakang, namun ternyata sudah terlanjur mengambil arah ke kanan katanya mengikuti petunjuk ibu-ibu yang berada di sebuah warung di Dlepih. Ibu-ibu itu memberitahukan jalur singkat kepada sopir, lagi-lagi karena sopir bus nomer 06 itu sempat menanyakan jalur singkat menuju Candi Cetho. Tanpa kompromi dengan sopir-sopir lainnya, ia nyelonong begitu saja karena merasa sok tahu. Sopir-sopir lainnya juga nurut saja mengikuti yang paling depan dan sok tahu itu. Kami yang berada di paling belakang kesulitan untuk menyusul bus nomer 06 yang berada paling depan karena jalanan sempit, sebelah kiri tebing tinggi, sebelah kanan jurang yang dalam, jalanan rusak berlubang lagi. Akhirnya saya pasrahkan saja, karena saya tidak berhasil menghubungi telpon sopir terdepan. Mungkin karena gangguan sinyal yang di lokasi itu memang tidak stabil, sinyal GSM alias geser sedikit..mati ! Saya pribadi sudah merasa bad feeling tapi apa daya konvoi terlanjur berlari liar seperti mengejar mobil “hantu” yang memandu jalan. Pada saat itu, saya teringat sepasang burung Puter yang lepas di Kayangan Dlepih. Dalam hati saya, nama Puter berarti juga muter atau berputar. Apakah burung itu benar sebagai petunjuk jika perjalanan rombongan kami akan ada yang tersesat sampai muter-muter di belantara hutan dan perbukitan dengan tebing-tebing yang sangat terjal ? Kenapa pula tadi kok kedua burung itu tidak berusaha ditangkap lagi, dan sesuai rencana akan dilepas di Candi Cetho ?

Kejadian itu mengingatkan kita semua bahwa suatu rencana besar dapat buyar gara-gara persoalan sepele. Instruksi yang kami berikan untuk melewat jalur kota Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Candi Cetho akhirnya mentah dan gagal total gara-gara sopir bus nomer 6 yang sedari awal memang tampak sangat aneh seperti orang bingung. Mungkin kurang percaya pada jalur yang dipilih panitia SO dan lebih percaya pada ibu-ibu penjaga warung yang mungkin juga belum pernah melewati jalur yang ditunjukkannya itu. Artinya dalam bekerja, kita harus mempercayakan pekerjaan kepada ahlinya dan yang harus bisa dipercaya serta penuh tanggungjawab. Sedikit saja ia lalai dan slengekan, kacaulah pekerjaan kita. Itulah fakta kehidupan, kita musti selalu awas dan sadar terhadap kendala besar di depan mata, tetapi kita seringkali jatuh tersandung oleh segelintir krikil di jalanan.

Beberapa saat kemudian kami harus berjuang melewati bukit Genengharjo yang tinggi dan terjal. Bahkan lebih terjal dari tanjakan Candi Cetho. Sesuatu di luar dugaan tim SO. Tapi apa boleh buat sudah terlanjur, jika puter balik pun perjalanan sudah terlampau jauh dan sama-sama wasting time. Nekat melewati jalur itupun kita semua merasa spekulasinya sangat besar. Beberapa kali kami menyaksikan betapa perjuangan sangat berat dialami bus no 6 buatan Korea itu. Tak mungkin ada rumah dilokasi seperti itu, dan tak tampak penduduk yang melintas untuk dimintai tolong membantu mendorong bus no 6. Tak tega hati bila peserta yang menumpang harus turun jalan kaki apalagi membantu mendorongnya. Tak ada pilihan yang lebh tepat selain saya akhirnya sambat-sebut kepada sedulur-sedulur titah alus untuk membantu mendorong bus no 6. Selain tenaganya lebih besar, tentu mereka tidak lah kesulitan untuk berkumpul di lokasi itu dengan cepatnya, apalagi memanggilnya tidak perlu menggunakan handphone dan pulsa. Praktis dan efektif. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh bangsa manusia pada sikon seperti itu. Itulah makna kenapa kita hidup harus selalu menebar welas asih kepada seluruh mahluk. Di saat-saat tertentu kita butuh bantuannya. Apalagi kehidupan yang beragam ini bermanfaat agar dapat saling menolong, saling melengkapi, saling memberi dan saling menutupi kekurangan. Hong wilaheng jagad dewa batara..nyai among kyai among, nyai slamet kyai slamet, nyai jogorogo kyai jogorogo, nyai biru kyai biru, kakang kawah adi ari-ari kadhangku kang lair nunggal sedino lan sewengi, sedulurku papat keblat, kelimo pancerku…ewangono nyurung mobil-mobil sing ora kuwat.

Seyogyanyalah kita jangan sampai merasa takabur (ojo dumeh), dumeh dadi menungso, dumeh rumongso sempurno, kemudian menganggap hina mahluk lainnya. Sikap dumeh itu hanya akan mencelakai dan merugikan diri kita sendiri. Karena di balik sikap dumeh pasti ada sikap suka meremehkan kehidupan lainnya. Bagai boomerang, sikap itu menjadi sumber bencana kehidupan buat bangsa manusia sendiri.

Rombongan 4 bus lainnya sudah bablas tak tampak lagi. Tapi tak lama setelah itu kami menyaksikan rombongan 3 bus sisanya sudah berhasil berjuang melewati medan yang berbahaya bukit Genengharjo. Semoga semua peserta yang berada di dalam 3 bus itu dapat melewati segala macam tantangan dan rintangan dalam hidupnya, jumeneng menjadi prabu jaya baya. Yang artinya berjaya atau selamat melewati marabahaya kehidupan. Terimakasih dulur-dulur titah alus. Kita tak perlu mengaitkan dengan istilah sesat atau musrik. Memang letak musriknya di mana ? Titah alus sebagaimana halnya dengan manusia, bedanya mereka tidak punya fisik. Kenapa kita tidak dituduh musrik saat minta tolong kepada sesama manusia ? Toh bedanya hanya tak punya raga dan punya raga. Kalau tidak bisa dilihat kan hanya persoalan kemampuan mata visual masing-masing orang. Bukan berarti disimpulkan tidak ada. Sementara itu saat kita minta tolong pada orang lain buat mbetulin genting rumah yang mlorot, juga tidak pernah minta tolong kepada Tuhan, atau ijin terlebih dahulu kepada Tuhan kan ?!! Sederhana saja masalahnya tapi manusia seringkali membuatnya menjadi rumit, atau memang sengaja dirumit-rumitkan.

Dalam perjalanan menuju Cetho kami sempat kerepotan. Saat 45 menit sepeninggal Dlepih saya telpon Mas Sigit Wibowo alumnus SO-1 yang membantu tim SO dengan tulus dan sukarela, sudah sampai di Ngadirojo, sedikit lagi sudah sampai Wonogori kota. Sementara rombongan kami barusaja berhasil melewati tanjakan terjal Genengharjo. Hampir 2 jam kami mengawal “pasukan tersesat” hingga berhasil melewati belantara hutan dan bukit kapur selepas Kedungringin, Cangkringan, Sugihan, Rejosari, Jatisari, Gunungsari akhirnya bisa keluar dari belantara hutan itu setelah menemukan jalan raya di Jatisrono. Jarak menuju Wonogiri kota masih 30 km. Itu artinya kami semua kehilangan waktu hampir 1.5 jam hanya untuk jarak tempuh 25 km antara Genengharjo sampai ke Jatisrono. Itupun membuat rombongan kami terhempas jauh dari tujuan yakni Wonogiri kota atau paling tidak pertigaan Ngadirojo. Karena jarak tempuh Wonogiri kota ke Dlepih berkisar antara 1 jam dengan jarak sekitar 35 km. Jalur yang kami tempuh menajdi berjarak 60 km lebih hanya untuk sampai di Wonogiri.

Saya sendiri melakukan refleksi diri, kami sadar sebagai guide, jika dibayangkan posisinya tentunya guide berada di depan menjadi pemandu. Namun apa daya, alam telah memposisikan kami berada di ekor. Kami berada di bagian buntutnya. Kami diingatkan oleh alam agar menjadi orang jangan sampai gemar menggurui orang lain, dan tetap pegang prinsip selalu menjadi murid. Kami dipaksa alam agar menempuh laku tut wuri handayani. Bukan ing ngarsa sung tulada, karena kami percaya dulur-dulur peserta SO adalah orang-orang yang sudah kenyang pengalaman hidup. Dalam perjalanan menuju Candi Cetho memang terasa sangatlah merepotkan, ibarat orang yang momong (menggendong anak) sampai-sampai selendangnya putus. Mungkin alam semesta berkehendak lain. Semula kami ingin selalu momong dulur-dulur peserta SO, tapi akhirnya saya sadar, bukankah semenjak dari Kotagede saya sudah serahkan dulur-dulur SO-2 agar alam semesta Sang Jagadnata yang momong, saya pasrahkan kepada roh jagad besar dengan para supernatural powernya untuk menuntun dulur-dulur peserta SO-2 hingga tujuan akhir di Candi Cetho. Sumonggo saya pasrahkan saja nasib masing-masing peserta kepada Sang Jagadnata untuk menuntun dan membimbingnya.

Barusaja rasa lega kembali tumbuh di dada karena seluruh kendaraan berjumlah 12 mobil itu kumpul di Jatisrono dan sudah berada di depan kami semua. Hampir saja mereka salah arah lagi karena sudah siap mengambil arah jalan ke timur alias menuju Ponorogo Trenggalek Jatim. Kami sigap turun dari mobil dan meminta semua untuk balik arah menuju Wonogiri. Lagi-lagi bus no 6 beralih posisi terdepan lagi tidak kapok memandu jalan “sesat” dengan mengambil arah ke Jumapolo. Kami sengaja menghindari jalur Jumapolo karena sudah pengalaman sewaktu mengawal dulur-dulur peserta SO-1. Jalurnya rumit naik turun dan banyak jalan yang rusak bergelombang. Membuat perjalanan menjadi lama sektar 2 jam baru bisa tembus sampai Matesih Karanganyar, belum lagi naik menuju Candi Cetho masih cukup jauh. Kami tak mau kehilangan waktu lagi. Kami mencoba telpon sopir terdepan sudah tidak bisa terhubung. Tetapi masih bisa terkoneksi dengan mobil Bu Endang Setyaningsih beserta rombongan dari Kualalumpur. Saya tanyakan posisi Bu Endang ada di mana, supaya saya bisa cek di google map. Bu Endang tidak paham sedang berada di daerah mana. Karena tak tampak seorangpun yang bisa ditanya. Tak lama kemudian baru ketemu seseorang, Bu Endang lantas memberi tahu kami posisinya ada di daerah bernama Gigolo. Bu Endang menyebutkan daerah itu tanpa sadar dengan segala kejanggalan dan kelucuan. Saya sendiri penasaran,”hah…coba Ibu tanya lagi, benerkah Gigolo, saya sembari menahan ketawa karena kok lucu banget kedengarannya. Barulah Bu Endang sadar dan ragu lalu ketawa sendiri benarkah nama daerahnya Gigolo ? Tapi setelah ditanyakan lagi kepada seseorang di jalan itu memang benar, sekali lagi ia menyebut Gigolo. Kami semua di dalam mobil, dan Bu Endang di sana, serempak ketawa semua. Yah lumayan buat suasana menjadi fresh lagi. Ada-ada saja.

Bertubi-tubi. Nyali dan sikap ngemong kami bener-bener diuji. Karena bus no 6 buatan Korea itu membuat ulah lagi akhirnya radiatornya jebol, mau tak mau harus berhenti untuk memperbaikinya. Tak mau ambil resiko, saya, mas Setyo, dibantu mas Sigit Wibowo siap meluncurkan mobil Avansa dan Inova cadangan. Satu mobil siap dikirim ke lokasi antara Ngadirojo-Wonogiri. Tapi setelah 1 jam bus no 6 memberi kabar sudah bisa jalan lagi akhirnya mobil cadangan kami minta kembali ke garasi di Solo. Matur nuwun Mas Sigit malah jadi repot sampai mengganti ongkos pembatalan mobil cadangan. Ketulusan panjenengan akan dibalas berlipat oleh roh jagad ageng. Pada saat yang sama, kami mendapatkan kabar bahwa elf coklat kalau nggak salah no 2 yang paling pecicilan ngebut mentang-mentang merasa mesinnya bertenaga lebih, toh akhirnya mandeg juga setelah ban kanan belakangnya bocor. Lebih parah lagi karena bannya sudah tak bisa lagi digunakan, alias harus ganti ban. Waktu kembali terbuang selama kurang lebih 1 jam. Sementara kami menempatkan posisi di tengah, antara rombongan yang sudah melaju mendekati lokasi Candi Cetho dengan rombongan yang masih sibuk “belajar mbengkel”. Saya tanyakan pada mas Setyo, apakah dalam acara SO-2 kali ini memang peserta diberi materi tambahan tentang belajar kesabaran tingkat lanjut dan kursus montir mobil ? Kata Mas Setyo kok nggak ada ? Berarti itu bagian dari kisah perjalanan laku prihatin ya mas? Hahaha.

Sementara itu di daerah Gigolo ada satu bus lagi tetapi sudah tertinggal dengan rombongan Bu Endang. Melalui telpon bus itu saya paksa balik tapi pak sopirnya ngeyel sekali dengan alasan rombongan di depan sudah sulit dikejar dan ditelpon untuk diminta putar balik tetap tidak mau. Jadi bus itu mau nyusul rombongan di depannya. Alasannya sudah terlanjur menempuh jarak yang cukup jauh kalau harus balik lagi. Saya sempat tegas memperingatkan pak sopir supaya balik arah mengikuti perintah saya atau akan kehilangan waktu lebih lama. Karena kami lah penanggungjawab SO. Jadi sopir kali ini harus menuruti perintah satu komando, kita sudah banyak kehilangan waktu. Akhirnya hanya satu bus itulah yang putar balik ke Ngadirojo, untuk ambil rute Wonogiri bergabung dengan rombongan kami. Tapi…ada yang harus kami sampaikan kepada ingkang kinurmatan Pak Satyo Hadi dulur peserta dari Cibubur yang bekerja sebagai kontraktor. Pak Satyo Hadi, saya mohon maaf beribu maaf, karena ternyata pak sopir yang kami tegur keras itu adalah Pak Satyo Hadi…alias “pak sopir” bo’ongan. Lebih parah lagi, taunya Pak Satyo Hadi kena marah dari Mas Setyo HD, heheee, jadi seru sekali, padahal yang menegur keras “pak sopir” sesungguhnya saya tapi menggunakan HP Mas Setyo HD. Punten ndalem sewu njih Pak Satyo, nyuwun gunging samudra pangaksama awit lepat kula. Mugya reno ing penggalih. Saya tahu Pak Satyo hanya senyum-senyum saja tatkala di Candi Cetho saat kami semua sharing lika-liku dan perjuangam selama di jalan sambil menceritakan kalau beliau terkena marah Mas Setyo. Tapi saat itu saya memang belum mengerti kalau yang dimaksud adalah saat terkena teguran keras dari saya sendiri.

Akhirnya kendala teknis bisa segera teratasi. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 wib. Tepat saat busnya Pak Satyo HD sampai di Ngadirojo kemudian menuju ke Wonogiri dan Sukoharjo, dua bus yang mengalami kerusakan juga sudah bisa melanjutkan perjalanannya. Kami tunggu di Wonogiri sambil berjalan pelan-pelan, hingga tersusul di perbatasan kota Sukoharjo. Kami mengawal mereka menuju ke arah Karanganyar. Perjalanan terasa singkat dan cepat. Tak lama lagi kami sampai di Jalan Lawu kota Karanganyar. Jika lancar dari jalan Lawu menuju Candi Cetho hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit saja. Tapi rupanya dua bus di depan masih kurang puas tersesat. Hanya 2 km lagi menjelang Jalan Lawu Karanganyar kota, dua bus di depan saya tiba-tiba belok kanan. Mereka melaju kencang karena kejar waktu, sementara saya kejar tapi jalanan sempit, baru kesusul di sebuah perempatan jalan di mana kedua bus itu tampak mulai kebingungan ambil jalur. Mas Setyo turun menanyakan mau kemana? Pak Sopir dengan entengnya bilang mau cari Pom Bensin. Oalaaah, mana ada orang cari pom bensin kok mengarah ke hutan. Apa mungkin karena malu tersesat lagi ? Embuh lah. Yang penting kami paksa si sopir bus no 6 dan jemaahnya agar jangan biyayakan nyetirnya, cukup ikuti saja mobil kami supaya tidak tersesat lagi. Kami pandu bus-bus itu keluar jalur menuju Matesih. Kami terlanjur kehilangan waktu lagi karena jalanan sudah muter terlampau jauh. Kelebihan jarak tempuhnya sekitar 10 km. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, sementara sudah ada 2 bus dan satu mobil yang berhasil menjangkau Candi Cetho. Ya, saya baru sadar lagi, kenapa sedari awal di Kotagede harus mengulang-ulang kalimat tentang kesabaran dan ketulusan. Jika sudah sabar harus lebih sabar lagi. Jika sudah tulus harus lebih tulus lagi. Ternyata memang kedua modal itu akan sangat digunakan selama menjalani acar demi acara. Tapi saya sangat layak acungkan dua jempol kepada para dulur-dulur semua tanpa kecuali, terlebih kepada Pak Satyo HD dan Mas Bebet (Albert Christianto) yang mampu tetap enjoy, sabar dan tulus sekalipun dikerjai oleh bang sopir yang seenaknya memanggang para peserta di dalam bus, dan “Mas Setyo” gadungan. Hehe. Anda semua telah lulus melewati gemblengan kesabaran. Saya layak berguru kepada Panjenengan semua.

RPB Tepati Janji

Pagi sebelum berlangsung acara saya mengajak istri, mas Setyo, ayah mas Setyo, marak sowan Romo Panembahan Bodo (RPB) yang pasareannya ada di makam Sewu di Kecamatan Pajangan, Bantul, Yogyakarta. RPB adalah salah satu putra Prabu Brawijaya V. Tangan kirinya selalu dalam posisi meditasi menyilang di bagian depan dada, telapak tangannya menempel di bahu kanan. Jika tangan kiri di buka atau dilepas dari posisi itu, maka akan terjadi hujan angin, bahkan bisa disertai guntur menyambar-nyambar. Meditasi a la RPB sempat kami praktekan buat dulur-dulur SO-1 di Candi Sukuh. Dan di Candi Cetho untuk dulur-dulur SO-2. Kedua candi ini memiliki karakter energi yang hampir sama. Hanya model gelombangnya saja yang berbeda. Candi Sukuh energinya berupa siklon seperti gasing, jika kita sudah memasuki pada frekuensi dan kumparan energinya kita tidak akan terpental justru akan kokoh berdiri atau duduk walau ada guncangan keras. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa di puncak pelataran Candi Sukuh tidak terdapat pagar pengaman walaupun posisinya tinggi, cukup membuat cidera berat jika jatuh ke luar pelataran. Sedangkan di Cetho gelombangnya tidak serapat Sukuh, tetapi terasa lembut dan lebih kuat dengan jarak gelombang yang lebih longgar.

Tujuan kami sowan RPB pertama untuk atur sembah bakti, karena sudah menganggap kami sebagai anak sendiri. Kami merasa wajib sowan kepada ortu bila akan mengadakan hajatan untuk memohon doa restu beliau. Kami juga berharap agar RPB berkenan memberikan doa restu kepada seluruh dulur-dulur peserta SO. Doa restunya sangat terasa sebagai sabdo pandito ratu. Terasa sangat powerfull. Yang kedua, sowan kami untuk minta iguh pertikel (masukan) apakah diperkenankan jika kami melakukan negosiasi dengan alam agar tidak terjadi hujan selama acara berlangsung. Karena kami khawatir akan mengganggu niat kami untuk topo ngeli, menghanyutkan diri mengikuti irama dan kehendak alam semesta. Rupanya diperkenankan, hanya saja RPB ngendiko kalau peserta SO-2 ini harus terkena gerimis ben kerejeken, biar mendapatkan rejeki. Kata-kata RPB mengisaratkan beliau nanti yang akan menaburkan gerimis sebagai pertanda turunnya berkah alam. Maka kami selaku guide sudah mewanti-wanti sedulur-sedulur SO-2 supaya nanti saat acara berlangsung jika terjadi germisi jangan ada yang mengeluh dan jangan khawatir sakit karenanya. Saya sendiri percaya, jika ada peserta yang tak tahan oleh gerimis akan merasakan sendiri efek positifnya dan tidak perlu khawatir badan menjadi sakit, justru sebaliknya. Untuk itu jangan sampai ada yang mengeluh atas gerimis itu, malah biarkan gerimis membasahi badan. Karena gerimis itu menjadi pertanda akan mendapatkan rejeki.

Semula kami sempat penasaran jam berapakah gerangan RPB akan mengirim gerimis kepada kami semua ? Apakah saat di Kotagede, Parangkusumo, Dlepih atau saat di Candi Cetho ? Tapi rasa penasaran itu terjawab pada pukul 15.30 wib. Saat kami melihat cuaca mendadak jadi gelap oleh mendung hitam tebal disertai angin yang cukup kuat. Kami hanya berfikir jika sampai Cetho tetap terjadi hujan besar, maka kami melaksanakan rencana B, akan memberikan materi lainnya yang tidak membutuhkan ruang terbuka dan luas. Saat mobil kami berhasil mencapai Candi Cetho, gerimis sempat berhenti beberapa saat. Kemudian mulai lagi hujan gerimis pada saat seluruh peserta beranjak mendaki puncak Candi Cetho untuk segera memulai acara.

Mengapa Rasa Lelah Menghilang ?

Banyak dulur-dulur peserta SO memberitahukan kepada tim SO, selama mengikuti acar tidak merasakan capek, kantuk dst. Terasa stamina jauh lebih kuat dari biasanya walau hanya denga sedikit tidur dan makan secukupnya. Keadaan itu sebenarnya merupakan efek dari meditasi dan olah nafas selama acara berlangsung. Dulur-dulur dapat merasakan secara langsung efek positif dari kegiatan meditasi dan olah nafas. Kami tidak ingin hanya sekedar mensugesti tetapi kami berharap para peserta bisa mengalami dan membuktikan sendiri efeknya. Asalkan teknik meditasi dilakukan secara tepat dan akurat tentu hasilnya pun maksimal dan spontan. Waktu istirahat dulur-dulur peserta SO saya ambil untuk kegiatan mata acara. Sebagai gantinya kami memberikan materi meditasi ringan yang memandu dulur-dulur memasuki alam relaksasi hingga pada gelombang tetha bahkan beberapa di antaranya bablas pada level delta. Alias tanpa disadarinya tubuh telah tertidur pulas mendengkur. Tapi masih dapat mendengarkan aba-aba atau kalimat yang saya instruksikan. Biarlah dulur-dulur mulai merasakan sensasi kesadaran sukma pada saat raganya sedang tertidur. Lama kelamaan akan mencapai level melek sajroning turu. Kesadaran di dalam tidur, raganya tertidur pulas tetapi dapat merasakan kesadaran sukma. Untuk fokus pada materi ini bisa saja kita berikan nanti jika kita adakan SO level 2.

Intermezo

Saya ingin sedikit berbagi pengalaman unik yang dialami rombongan Pak Wiji dari Surabaya saat turun dari Candi Cetho yang membawa Mas Biaz & Mas Narto ikut serta dalam mobilnya. Saat turun dari Candi Cetho mereka bercanda tawa dengan kelakar seru. Menurut pengakuan Mas Bias yang datang malam-malam di rumah saya dan ditegaskan oleh Mas Narto, saat itu hanya bermaksud bergurau dengan menganggap mudah dan sepele kalau hanya sekedar tidak salah jalan pulang menuju Karanganyar-Solo-Jogja. Belum selesai gelak-tawa dalam mobil rombongannya dikejutkan saat mesin mobil tiba-tiba mati tepat di depan kuburan. Mereka merasa posisinya masih aman karena berada di jalan utama. Setelah itu barulah sadar tersesat setelah beberapa kali hanya berputar-putar di sekitar hutan karet tak berhasil menemukan jalan keluar. Sulit menemukan penduduk untuk bertanya. Yang ada adalah hutan karet, jurang dan bukit. Persediaan rokok, air minum, sudah hampir habis, apalagi makanan. tak terbayang bagaimana jika harus tersesat sepanjang malam. Seperti kebiasannya Mas Bias menjalankan ide cemerlang, hanya dengan media dupa yang menjadi andalannya. Dupa dikeluarkan dari dalam tas. Ia turun keluar dari mobil, lalu menyalakan dupa di pertigaan jalan, mulut komat-kamit menguntai kalimat permohonan maaf, penyelarasan dan ungkapan paseduluran dengan semua titah gaib. Kemudian rombongan memacu lagi mobilnya, setelah beberapa kali muter-muter, ketemu di tempat semula, sekitar jam 10 malam mereka akhirnya menemukan dua orang remaja nongkrong di atas sepeda motor. Dari salah satu remaja itulah rombongan Mas Bias dipandu putar balik untuk menemukan jalan utama hanya dalam waktu sekitar 10 menit. Mereka penasaran, kemudian sambil putar balik sembari mencermati di mana posisi keberadaan dupa dan pertigaan tadi, walau hanya selisih beberapa menit jaraknya dari dua orang remaja yang nongkrong itu, namun dupa dan pertigaan tidak diketemukan samasekali. Ya, akhirnya Mas Bias dkk pun mengambil pelajaran atas kejadian itu, bahwa gunung Lawu adalah tempat wingit, dan menyadari perjalanan kali ini merupakan perjalanan spiritual yang sakral, maka tidak seyogyanya untuk bercanda. Setelah dilihat jam, sadar ternyata rombongan telah tersesat 1.5 jam lamanya. Pengalaman yang mengasikkan tentunya.

Bukan Perpisahan, Melainkan Awal

Untuk mencapai Candi Cetho seluruh peserta SO-2 butuh perjuangan yang tidaklah mudah. Sekali lagi, semua itu terjadi karena kita bukanlah rombongan tour atau piknik. Melainkan bersama-sama menjalani laku prihatin untuk meraih kesadaran lahir dan batin yang lebih tinggi. Materi meditasi sebagai saran pendukung, dan beberapa materi olah nafas anggap saja sebagai bonusnya. Iuran kami anggarkan seminimal mungkin supaya kita semua dapat merasakan suatu bentuk laku prihatin. Namun resikonya cukup tinggi karena kami tim SO dituntut bekerja se-efisien dan se-efektif mungkin sembari mengurangi resiko secara maksimal. Maka wajar saja jika banyak peserta SO-1 dan SO-2 yang menyampaikan kekhawatirannya kepada saya, apakah uang segitu bisa mengkaver seluruh kegiatan ? Saya hanya bisa menjawab sederhana, yang penting saya tidak nombok, kalau ada dikit-dikit ya wajarlah. Bagi saya pribadi yang penting saya perhatikan kesejahteraan tim SO yang lainnya. Bagaimanapun saya tak akan tega jika harus menyita waktu, tenaga, pikiran dari dulur-dulur panitia. Semua itu menjadi konsekuensi saya pribadi karena telah mengajak dulur-dulur dari segala penjuru tanah air bahkan sampai luar negri untuk menempuh laku prihatin, menapaki jalan spiritual guna meraih kesadaran kosmologis. Saya percaya 100% alam semesta akan memberikan perhatian kepada saya maupun seluruh dulur-dulur peserta SO. Bukankah tak ada orang miskin gara-gara bersedekah kepada orang-orang yang tepat. Acara SO kami jadikan juga sebagai salah satu cara mensukuri anugrah Tuhan sang Jagadnata yang telah memberikan segalanya kepada saya dan keluarga serta orang-orang terdekat kami. Karena rasanya bersukur hanya melalui ucapan saja tak ubahnya omong doang. Kiranya dulur-dulur dapat memahami pada saat kami melaksanakan kegiatan SO, berusaha tetap jauh dari sikap berlebihan apalagi berfoya-foya dalam menu makanan. Tak ada hotel atau penginapan, jika hendak tidur pun cukup selama dalam perjalanan saja, dengan memanfaatkan meditasi ringan untuk menciptakan tidur singkat tapi berkualitas. Tak perlu euforia dalam sikap dan tindak. Walau begitu, kalau ada makanan berlebih, atau ada menu tambahan seperti snack sumbangan sukarela dari Mas Sigit Wibowo dan bubur suran dari istri saya, semua itu anggap saja sebagai berkah tambahan buat dulur-dulur di luar rencana.

Gelap gulita, hanya dengan bantuan beberapa lampu senter, seluruh dulur-dulur peserta SO naik mendaki setiap undak-undakan menuju puncak Candi. Mengantri satu persatu, dengan hikmat kaki melangkah menuju puncak Candi Cetho. Hening tanpa suara, hanya suara gerimis menerpa plastik mantel para peserta. Gerimis terus membasahi permukaan batu-batu candi. Menambah suasana menjadi semakin hening dan sakral. Walaupun gerimis membasahi bahu dan kepala para peserta SO-2 namun hal itu tidaklah menyurutkan semangat dan tekad bulat untuk menghaturkan sembah bakti kepada para leluhur agung bumi putra bangsa, khususnya yang kapurbawisesa di gunung Lawu yang sangat wingit. Sesampai dipuncak Candi, Mas Setyo memulainya dengan rapal doa dan ungkapan segala rasa sukur kami semua berhasil mencapai puncak Candi Cetho dengan selamat. Selesai tugas mas Setyo, gantian saya handle untuk memandu acara. Pertama-tama saya minta seluruh peserta mengambil posisi melingkari mahkota Candi sembari berdiri karena lantainya basah tersiram gerimis yang tetap berlangsung. Gerimis kiriman RPB pertanda berkah alam semesta. Beberapa untaian kalimat sembah bakti, rasa hormat dan terimakasih kami sampaikan untuk mengantarkan dulur-dulur pada level pemahaman kosmologis. Selanjutnya, kami minta dulur-dulur saling merapatkan barisan (pacak baris) agar supaya lebih teguh berdiri. Maknanya, kita semua sebagai generasi penerus bangsa hendaknya saling rukun, menjalin tali persaudaraan lintas suku dan agama. Selain itu agar peserta tidak terjatuh saat mengikuti meditasi penyerapan energi alam semesta dengan meditasi a la RPB. Dengan merapatkan barisan di antara peserta dapat saling menopang tubuh peserta lainnya apabila terasa akan terjatuh terkena hempasan gelombang energi. Setelah semua siap, kami mulai melakukan meditasi penyerapan energi alam semesta maupun daya kekuatan yang berasal dari supernatural power di Candi Cetho. Udara dingin lenyap berganti dengan hawa yang nyaman dan sejuk di badan. Beberapa kali terasa ada terpaan hawa dingin berhembus kuat lalu lenyap. Dorongan energi yang lembut namun kuat membentuk gelombang bagaikan ular berjalan. Itulah energi makrokosmos yang siap kita serap.

Kami mulai meditasi penyerapan terlebih dahulu dengan sikap sungkem (hormat a la Jawa) diiringi kalimat menghaturkan sembah bakti kepada para leluhur besar yang menjaga tlatah gunung Lawu ; kepada yth Maha Prabu Brawijaya V, Ibu Dewi Untari (sosok widodari), Mbah Lawu/Sunan Lawu (Dipa Menggala), Mbah Jalak/Kyai Jalak (Wangsa Menggala), dan banyak lagi yang kami sebutkan. Termasuk kepada semua titah agal dan alus yang ada di Gunung Lawu.

“…Terimalah kehadiran kami generasi penerus bangsa, seluruh sedulur-sedulur SO sebagai wujud bakti dan rasa welas asih kami kepada bumi pertiwi dan seluruh penghuninya. Kami sadar bahwa bakti kepada kedua orang tua kami, kepada para leluhur yang menurunkan kami, leluhur bumi putra bangsa kami adalah kunci kesuksesan hidup kita lahir dan bantin. Tanpa ada rasa welas asih, kami semua tidak akan berada di dalam frekuensi roh makrokosmos yang maha adil dan bijaksana. Tanpa sikap hormat dan menghargai bumi pertiwi, para pendahulu, dan para pahlawan bangsa, kami akan terhempas dari kumparan berkah alam semesta yang penuh belas kasih ini. Ketidakmampuan kami mengenali dan memahami jati diri bangsa, hanya akan membuat jiwa kami hilang, hanyut ditelan derasnya wabah kebodohan yang merajalela. Kami bosan menjadi bangsa jahiliah, bangsa yang menganiaya saudaranya sendiri. Kami akan bangkit dari bangsa rendah kesadaran spiritualnya. Kami harus sadar bagaimana agar kami tidak menjadi generasi yang mendurhakai para leluhur agung bumi putra bangsa. Kami harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi, agar tidak menjadi penghianat bagi bangsanya sendiri. Kami luruhkan sikap pengecut bersama lebatnya gerimis dalam gelap malam yang dingin ini. Kami harus bangkit menjadi kesatria-kesatria Nusantara yang selalu bersikap tepo seliro dan setyo tuhu kepada ibu bumi pertiwi dan bapa angkasa. Kita pancarkan watak ratu adil di dalam diri kita masing-masing. Marilah kita semua pacak baris untuk bahu-membahu meraih kesadaran kosmoslogis. Kejayaan Nusantara nasibnya bukan di tangan bangsa asing, bukan pula tergantung budaya luar sana, namun ada di tangan kita sendiri, berada pada kesadaran spiritual kita dalam memahami jati diri bangsa”. Marilah kita saling bergandengan tangan bahu membahu bangkit membuka gerbang kejayaan Nusantara.”

Tamu Istimewa

Saat mobil kami sampai Sukoharjo menuju Karanganyar, saya mendapat telpon dari Ki Amig Bahrul, atau lebih familier kita panggil beliau Ki Camat karena memang menjabat sebagai Camat di kecamatan Taman Kab. Sidoarjo Jatim. Ki Camat ternyata bersama Mas Kumitir (pemilik blog alang-alang kumitir) sedang berada di telaga Sarangan Magetan di lereng Lawu bersama 110 anggota/peserta dalam acara outbond. Hanya saja terasa ada yang kurang, karena beliau-beliau ini biasanya terdiri dari tiga serangkai, satu lagi adalah Ki Wongalus. Karena Ki Wongalus sedang kundur ke Jogja jadi tak bisa gabung bersama Ki Camat dan Mas Kumitir. Pada saat itu Ki Camat telepon saya mau menuju Astana Mangadeg dan Girilayu guna marak sowan atau nyekar ke pasarean Pangeran Sambernyawa dan Gusti MN IV. Akan tetapi setelah mengetahui rombongan SO-2 tengah menuju Candi Cetho, Ki Camat dan Mas Kumitir langsung nyegat rombongan kami di Cetho. Kehadiran Mas Kumitir dan Ki Camat di Candi Cetho sungguh merupakan suatu kehormatan dan terasa sangat istimewa. Beliau berdua ini sudah saya anggap saudara sendiri yang ada di wilayah timur. Perjuangan Ki camat dan Mas Kumitir saya nilai sudah tak diragukan lagi dalam upaya netepi tugas kesatria bangsa, sebagai generasi penerus bangsa yang terus berjuang untuk njejegake soko guru bangsa. Kami terharu mendengar ungkapan Ki Camat, bahwa kita semua sebagai generasi bangsa sudah waktunya harus bangkitkan kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Dan saat ini kita semua di sini duduk bersama sebagai saudara, dengan latar belakang budaya, agama, sosial, politik, ekonomi, yang berbeda. Tetapi kita semua telah membuktikan bahwa bangsa ini masih ada orang-orang yang peduli dan mampu menciptakan kedamaian dan keharmonisan sebagai bangsa besar. Inilah yang disebut berbudaya dan beragama yang sesungguhnya. Matur nuwun Ki Camat, Mas Kumitir atas segala kepedulian dan dukungan moral yang sangat berarti untuk saya, dan dulur-dulur peserta SO-2 pada umumnya.

Lagu Indonesia Raya & Format Ulang

Seperti telah beberapa kali saya posting di blog bahwa Nusantara ini menderita penyakit sangat akut. Ibarat komputer telah terjadi kerusakan pada mainboard karena serangan virus yang mematikan. Virus itu tak bisa lagi sekedar dibersihkan, upaya penyelamatan harddisk harus dengan memformat ulang. Nusantara butuh diformat ulang untuk memulai sesuatu yang baru. Yakni tinarbukaning gerbang kejayaan Nusantara. Peristiwa yang terjadi pada saat Mas Bebet menjadi dirijen saat seluruh peserta SO-2 menyanyikan lagu Indonesia Raya. Maksud mas Bebet memberikan aba-aba mengambil suara. Namun dulur-dulur peserta SO-2 malah menyanyikan bait terakhir itu hingga selesai. Jadilah lagu Indonesia Raya dinyanyikan hanya sepotong pada bait terakhirnya. Mas Bebet sempat meminta maaf walaupun sebenarnya bukanlah kesalahan Mas Bebet melainkan kelalaian kita semua generasi penerus bangsa. Akhirnya mas Bebet membawa seluruh peserta SO di pendopo Candi Cetho untuk mengulang Lagu Indonesia Raya dari awal lagi. Terlepas dari apa yang dapat kita saksikan saat itu, sebenarnya peristiwa itu telah mengisaratkan bahwa Nusantara ini butuh dibangunkan kembali, atau direformat secara esensial. Artinya kita harus napak tilas menelusuri dan mengulang kembali sejarah awal mula Nusantara. Dimulai dari masa Kerajaan Kutai Lama bahkan sebelum Raja Kudungga. Kami butuh kesatria berdarah Kutai untuk membuka gapura sebagai pintu gerbang kejayaan Nusantara dan harus didahului kebangkitan spiritual para generasi penerus bangsa. Kita semua seluruh peserta SO-1 dan SO-2 saat ini telah mengawalinya. Kita menjadi bagian dari para generasi yang bangunkan jiwa bangsa, pada gilirannya akan terbangun pula badannya.

Menuju Puncak Berkah

Saya musti buka sedikit rahasia. Para leluhur telah memberikan restu untuk acara SO. Itu artinya para leluhur yang kita sowani telah menunggu kedatangan kita dan siap memberikan restunya. Siapa yang sampai Cetho tentu akan mendapatkan restu lebih banyak lagi. Maka tak mudah untuk menjangkau puncak Candi Cetho. Namun bukan berarti yang belum sempat sampai puncak Candi Cetho tidak mendapatkan restu. Restu tetaplah mengalir kepada seluruh dulur-dulur semua seiring diijinkannya acara SO-1 dan SO-2. Restu tetap mengalir dalam setiap langkah demi langkah melewati acara satu demi satu mata acara. Namun dalam setiap langkah itu selalu mengalir restu para supernatural power. Semakin mendekati penghujung acara tentu semakin banyak berkah yang diperoleh. Siapa yang bisa sampai puncak Candi Cetho, di sana leluhur telah meninggalkan suatu berkah lebih besar lagi sebagai “reward” atas keberhasilannya melewati perjuangan yang tidak ringan saat menggapai puncak Cetho. Sebab itulah untuk menjangkau Candi Cetho rasanya sungguh tidak ringan, seluruh peserta menghadapi perjuangannya masing-masing. Semua itu menggambarkan lika-liku kehidupan. Semoga pengalaman unik itu dapat membangunkan kesadaran kita bagaimana harus bersikap bijaksana dalam melangkahkan kaki mengarungi samudra kehidupan ini. Kita semua telah memulai meletakkan pondasi bagi Nusantara baru yang gemah ripah loh jiwani, tata titi tentrem kerta raharja.

Harapan kami, sedulur-sedulur semua semakin merasakan kesadaran spiritual yang lebih tinggi sehingga mata batin kita menjadi lebih cetho ataujelas. Saat kita pijakkan telapak kaki di Candi Cetho, semoga energi semesta menjadikan segala sesuatu menjadi jelas dan terang benderang (cetho welo-welo). Karena Candi Cetho menyimpan kumparan energi yang dapat membersihkan hati, pikiran, dan jiwa kita dari segala hal yang menutupi kesadaran selama ini.

Selesai meditasi penyerapan energi dan penyelarasan di puncak Candi Cetho, acara kami tutup di tempat itu juga. Kami semua tim SO, segenap jajaran tim asisten, dokumentasi, direktur Lakutama dan saya pribadi sebagai guidance, menyampaikan rasa sukur yang sedalamnya atas segala berkah dan anugrah ini. Dapat menemukan rasa persaudaraan antar warga bangsa yang kini terasa semakin gersang. Ketulusan dalam tali persaudaraan ini bagaikan oasis di tengah gurun yang panas. Menyejukkan dahaga batin yang haus akan kedamaian dan ketentraman. Tak lupa kami mohon maaf yang sebesarnya atas segala kekurangan dalam menyajikan acara demi acara, dalam menyambut kehadiran para sedulur SO semua yang telah mengorbankan waktu, beaya, dan tenaga, datang dari segala penjuru tanah air bahkan dari negri jiran Malaysia. Kita semua benar-benar sadar bahwa perselisihan, permusuhan, konflik apapun motivasinya dapat menjadi faktor utama penutup pintu berkah dan anugrah Sang Jagadnata, Roh Jagad agung, alam semesta. Sebaliknya kita buka pintu berkah selebar-lebarnya dengan kunci yang bernama welas asih tanpa pilih kasih, kepada seluruh kehidupan di muka bumi. Perpisahan pada malam hari itu, terasa sangat berat. Hawa dingin, temaran lampu senter yang dihiasi percikan air gerimis, menambah beratnya hati untuk berpisah dengan sedulur-sedulur semua. Namun saya selalu ingatkan, ini bukanlah akhir, melainkan awal dari segala kebaikan. Dan kita semua di sini telah mengawalinya untuk suatu perjalanan panjang. Kedamaian, ketentraman, kebahagiaan, keselamatan, dan berkah agung selalu berpihak kepada orang-orang yang selaras dan harmonis dengan roh jagad agung, alam semesta, Sang Jagadnata. Tak akan sia-sia segala jerih payah, usaha, dan laku prihatin kita hingga malam itu. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berada di dalam berkah alam semesta. Amin

Saya sangat menyadari, kesuksesan acara ini berkat beberapa pihak yang sangat besar turut andil membantu. Terimakasih kepada istri saya yang telah banyak membantu banyak hal secara moril dan materiil yang tidak bisa dinilai dengan uang hingga SO-2 berjalana dengan lancar dan sakral. Baik dalam menyambut para tamu dulur-dukur SO yang menyempatkan rawuh ke rumah. Termasuk menyiapkan berbagai hidangan makan malam, sarapan, makan siang. Istri, sekaligus sebagai sumber inspirasi ilmu dan pengalaman hidup hingga dapat saya bagi kepada dulur-dulur semua peserta SO maupun para pembaca di blog ini. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu demi kelancaran acara SO kali ini. Mas Sigit Giri Wibowo yang dengan tulus menjadi tim sukarelawan acara SO, telah memberikan banyak bantuan moril, materil, tenaga, waktu dan pikirannya. Ibu Endang S yang telah memberikan banyak support. Mas Setyo yang sangat sibuk, mas Diaz, mas Bias, yang telah banyak membantu saat pra-acara. Kepada tim asisten yang bekerja dengan kompak dan tak kenal lelah. Kepada seluruh peserta yang dapat bekerjasama dengan sebaik-baiknya bersama tim SO sehingga acara kita menjadi lebih berkualitas. Kepada semua bapak sopir yang sudah ikut merasakan pahit getirnya menapaki jalan spiritual, walaupun ada yang mecicil tapi itulah ragam kehidupan, dan mungkin pak sopir bus no 6 dikirim oleh alam untuk menjadi penguji ketulusan dan kesabaran kami semua. Kita semua telah saling bahu-membahu, demi kesuksesan acara kita. Terimakasih kepada Sang Hyang Jagadnata dan para leluhur yang telah mengatur, membimbing, menata segala sesuatunya menjadi lebih dari yang kita harapkan. Berkah anugrah untuk Anda semua, untuk kita, kami semua, dan para pembaca yang budiman, sedulur-sedulur sebangsa setanah air.

Salam asah asih asuh

Sabdalangit

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 24, 2012, in Review Spiritual Odyssey Trip 2. Bookmark the permalink. 52 Komentar.

  1. Perangkai bunga Indonesia

    wah… alhamdulillah ya kang… dulu saat masuk ke padepokan ini, pernah ada hujan bunga, lalu hilang lagi. sekarang da hujan bunga lagi… puji syukur ya kang… dengan segala penat penantian akhirnya ketemu juga yang di cari… saya ikut berbahagia kang, mudah-mudahan cepat membawa kemulyaan.

  2. sugeng dalu, mohon maaf numpang memberi komentar Kang Sabda..
    saya tak sengaja menemukan blog ini (padahal ini petunjuk bagi saya juga dan gak ada sesutu yg kebetulan.. hehe). dan dengan segera petuah2 maupun semua artikel telah terserap dan meresap dalam hati, jadi saya mohon ijin ikutan ngangsu kaweruh, nimba ilmu, dan menyerap semua energi positif yang ada di blog ini.
    terima kasih banyak Kang Sabda, insyaalloh yg saya peroleh disini menjadi tambahan ilmu yg besar buat saya, dan insyaaloh telah saya sebarkan semampunya maupun saya amalkan buat lingkungan. terutama dalam menyelaraskan diri dengan alam semesta, menghormati leluhur, dan menambah teman2 sedulur papat keblat.

    mohon pangestune untuk mengamalkan yang ada disini ya Kang. klo misalnya saya punya pertanyaan, apa bisa kontak untuk tanya jawab..
    matur suksma, terima kasih sebelumnya

  3. salam rahayu wilujeng bagi sedulur kejawen dimana saja berada,begitu lama rasanya tidak membuka blog ini ternyata banyak event menarik yang telah diadakan oleh seorang pencerah HATI hingga timbul uneg-uneg dalam hati kapan ya…saya bisa ikutan untuk memperdalam khasanah ilmukejawen yang begitu luhur maklum lah saat ini saya masih dalam tahap menebus dosa masa lalu dalam artian menjalani hidup rekoso akibat perbuatan yang merugikan banyak orang di masa lalu.walaupun demikian saya beryukur pada TUHAN atas semua ganjaran yang saat ini saya terima ….
    bagaimana dulu malang melintang di dunia hitam penuh nista,hidup bergelimang harta yang tak BERKAH,hidup penuh dengan kesenangan semu yang tak ada habisnya tapi semua tak bertahan lama sirna tanpa bekas.dan kini saya iklash menyusuri jalan setapak demi setapak berpeluh keringat sambil mendorong grobak mie ayam

    salam rahayu……………

    • @ Notojiwo … kinasih……salut.
      apresiasi jiwa anda yang sangat indah sekali
      suatu kesadaran yang baik untuk mengawal perjalanan yang sangat panjang
      jagalah selalu kesadaran itu (eleng lan waspodo), ….
      ….. agar cepat sampai pada apa yang dituju
      semoga anda selalu dimudahkan
      semoga anda selalu berbahagia

      maturnuwun

  4. Selamat pagi ki sabda ,,,, kapan rencana akan dilaksanakan SO3 ??
    Kalau bisa saya ingin berpartisipasi. Untuk mengenal nusantara yg lebih baik. Saya dari bali, dan kebetulan sedang melanjutkan studi di jogja 🙂 *matur nuwun

  5. Di adakan acara lagi kapan Ki…?

  6. KESADARAN YANG MEMERDEKAKAN

    TINJAUAN HIDUP, MOTIVASI & TUJUAN

    Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara di Gedong Songo memenuhi undangan Mas Sabdalangit, saya banyak bertemu teman-teman pejalan spiritual.
    Pertemuan tersebut adalah pertemuan Kadang Kadeyan Sabdalangit, dimana oleh Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng Untari, teman-teman yang tergabung didalamnya ibarat Sedulur Sinarawedi, anak-anak laku Beliau berdua.
    Banyak hal saya dapatkan dari sharing kehidupan, salah satunya dari refleksi Mas Setyo Hajar Dewantara.
    Saat itu Mas Setyo mengajak untuk merefleksikan motivasi dan tujuan dalam menapaki jalan spiritual yang dalam hal ini spiritualitas kejawaan… sebuah panggilan atau pelarian…kalau boleh saya simpulkan begitu… :mrgreen:
    Tak boleh dipungkiri banyak orang menapaki jalan spiritual..*hanya istilah yang sering digunakan*.. boleh jadi merupakan sebuah pelarian… Pelarian dari kesulitan ekonomi, dari penyakit yang tidak sembuh-sembuh, dari kehampaan & kebuntuan hidup, dan beragam sebab yang lainnya.
    Namun… pelarian tidak selalu berarti suatu istilah yang kurang baik…
    Pelarian bisa berarti suatu evolusi paradigma hidup yang dengan penuh kesadaran kita tingkatkan. Kata kuncinya adalah kesadaran..

    Bagi saya sendiri, ketika merefleksikan motivasi dan tujuan tersebut.. saya merasa ada sebuah kecenderungan dalam diri yang membuat saya tertarik akan hal-hal yang bersifat perenungan akan hakikat dari apa yang tergelar dan saya alami.. hal ini pasti karena pribadi saya yang clingus dan introvert kurasa.. juga kecenderungan tertarik akan akar budaya saya yang seorang jawa..
    By the way, saya mau menerima istilah Kejawen juga baru saja, karena dasar kecenderungan saya adalah budaya jawa dalam arti yang luas dan merasa istilah Kejawen terdengar ekslusif.. 
    Kecenderungan-kecenderungan tersebut yang lalu dengan GR (keGedhen Rumangsan) dan semena-mena saya istilahkan sebagai “panggilan DNA”.

    Panggilan DNA tersebut, mengutip kalimat dari novelnya James Redfield; Celestine Prophecy, yang membawa saya menuju dan menuntun kearah kesempatan yang pernah saya impikan yang dulu hanya merupakan suatu firasat/intuisi mengenai sesuatu yang ingin dilakukan, arah yang ingin ditempuh dalam hidup. Yang setelah agak lama melupakannya dan pikiran terpusat ke hal lainnya ehhh… malah bertemu dengan seseorang /beberapa orang, membaca sesuatu ataupun pergi ke suatu tempat yang membawa saya ke arah pemenuhan hal-hal yang merupakan intuisi atau mimpi tersebut. :mrgreen:

  7. PENEBUSAN DALAM KESADARAN

    Banyak hal yang saya dapati lewat event pertemuan tersebut. Saya datang bersama dengan kakak dan anak perempuan saya. Cukup lama untuk saling berdiskusi dengan Kakak saya sambil menunggu rombongan teman-teman yang lain datang.
    Kesegaran udara dengan kadar oksigen yang murni terbaik kedua di dunia, heningnya suasana puncak Gunung Hong Aran dan dingin udara saat kabut tebal turun menyelimuti dan melingkupi kami membawa kami dalam sebuah pemahaman baru.

    Hong Aran, lebih terkenal dengan sebutan Ungaran, boleh jadi merupakan salah satu situs awal Kebudayaan Jawa. Banyak dikaitkan dengan cerita Ramayana, menjadi tempat Anoman mengubur Rahwana hidup-hidup, sebenarnya merupakan Maha Yoni berhubungan dengan Ratu Shima, Baga-Sri, Anjani dan simbol-simbol per-EMPU-an lainnya.
    Di area Gedong Songo sendiri yang merupakan pancernya sebenarnya hanya berdiri 5 Candi utuh yang lainnya masih berbentuk reruntuhan, namun lebih lanjut sejatinya ada 12 bangunan candi sesuai tataran kehidupan manusia.
    1 sampai 9 adalah Babahan Hawa Sanga dimana manusia berjuang mengosongkan kesembilan lubang nafsunya, berkutat dalam dualisme kehidupan, baik buruk, laki perempuan..
    Ditataran ini manusia sebagai pancer atau inti menemukan Kiblat Papatnya atau plasma. Di Timur ada Empu, Selatan Satria, Barat Pemerintahan dan Utara Sang Smara Hyang. Telah banyak petilasan dan bangunan Candi sebagai plasma Gedong Songo yang ditemukan.
    Hingga dalam perjalanan berikutnya mencapai kesadaran lepas dari dualitas menemukan Sang Dasamuka dalam dirinya.. Ia akan menemukan keseimbangan dualitas yang harus dirangkumnya, disimbolkan sebagai Beji Tundha Loro ataupun Kembang Wijayakusuma dan Kembang Wijayamulya yang lalu mewujud menjadi Wit Kastuba Urip, Tree of Life, Khayun, Pohon Kehidupan.
    dan dalam Kendali Kesadarannya (KendhaliSadha) ia akan mampu untuk Nglintang Sukma, melakukan penebusan hidupnya seperti legenda Abhyasa.. dan akhirnya mencapai kesempurnaan dalam tataran ke-12 : Moksha.

    Abhyasa, entitas kesadaran tinggi.. yang mampu melakukan penebusan pohon kehidupannya..
    Bila dalam konteks Kristiani, penebusan adalah memberikan silih atas dosa, seperti Isa yang harus menjadi silih atas dosa Adam.. maka dalam konteks Jawa, Sang Abhyasa dalam diri Isa yang selalu sadar, menyadari apa yang terjadi dalam setiap momen hidupnya.. itulah yang menjadi penebusan.
    Kesadaran yang tidak lari dari realita meski ia harus digiring seumpama domba yang akan disembelih, dilecehkan, dianiaya dan dibunuh.. Hingga dalam akhir hidupnya di kayu salib, dalam kesadaran penuh akan hidup dan penderitaannya Isa berkata..”Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku”.. tuntaslah penebusan itu.

  8. MEMBANGUN RELASI

    Bila dalam kisah Isa maupun Sidharta, kesempurnaan dicapai lewat diri sendiri.. dalam kearifan Jawa ternyata kesempurnaan tidak ego-sentris, banyak cerita tentang sepasang suami istri yang moksha bersama, bahkan mokshanya karena berpasangan, penebusannya adalah kesadaran dalam membangun relasi yang saling menyempurnakan.

    Di situs Candi Gedong Songo, slokanya adalah seperti ini : Candi VI adalah Lingga Yoni, diapit Ratu Shima dan Jejaka, dimana pertemuan Rahsa Sejatinya memancarkan kama ke Candi III yang menjelma menjadi tokoh Abhyasa..

    Sering dalam kehidupan ini dalam membina relasi kita terlalu memberi beban yang berlebihan kepada orang lain. Kembali ke refleksi Mas Setyo… pelarian kita kepada jalan spiritual seringkali benar-benar sebuah pelarian tanpa kesadaran..
    Kita tak mampu menerima diri apa adanya, tak mampu menerima keadaan diri apa adanya, lalu melarikan diri dalam ilusi pemujaan ide-ide dan figur spiritualis.. kita yang tak mampu menerima diri menimpakan beban kepada orang lain…
    Lalu ketika semua harapan tak sesuai dengan kenyataan yang memang harus dihadapi.. banyak yang makin terperosok lagi dalam pelarian dengan menyalahkan orang lain, ide-ide ataupun figur yang semula dikaguminya.. contoh yang paling up to date adalah kasus Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur :mrgreen:

    Kita tak akan pernah lepas dari lingkaran Nawa Sanga (Babahan Hawa Sanga) bila kita tak mau menghadapi realita kehidupan kita dan menyadarinya dengan kesadaran intens..

    Dalam konteks Kadang Kadeyan Sabdalangit, nuju prana sekali mengadakan gathering di Gedong Songo, disinilah kita bisa mengupgrade kesadaran kita.. merefleksi dan menyadari peranan kita masing-masing.. dengan tetap mikul dhuwur mendhem jeru orangtua dalam hal ini Ki Sabdalangit dan Nyi Ageng, juga para leluhur kita.. kita membangun relasi yang saling memerdekakan dan menyempurnakan..

    Dan..
    Pribadi-pribadi yang pernah membangun peradaban adiluhung di Gedong Songo ini adalah juga pribadi-pribadi yang melakukang gathering Kadang Kadeyan Sabdalangit. Sang Abhyasa adalah yang sedang duduk berkumpul bersama… pribadi yang melakukan penebusan lewat membina relasi dengan penuh kesadaran…

  9. POWERING THE EMPOWERMENT

    Tentang panggilan DNA, ada sesanti Jawa yang sangat diugemi yang juga berhubungan dengan membina relasi yang menyempurnakan yaitu : Ngraketake balung pisah…
    Balung-balung pisah yang oleh panggilan DNA lewat peristiwa kebetulan yang Ndilalah Kersaning Allah tadi telah dikumpulkan dan diraketake..
    Nah kini dengan penuh kesadaran mulai menata sesuai Tatanan, Tuntunan dan Tuntutan masing-masing… yang menjadi balung sikil mulai menguatkan.. yang menjadi balung iga melindungi, tulang punggung menegakkan dan seterusnya…

    Masing-masing mengambil peran dan mengaktualisasi diri sesuai apa yang dimiliki secara potensial…

    Dan dalam relasi tersebut akhirnya menyadari tiadanya dualitas, mencapai apa yang disebut dengan sikap lepas bebas, sudah ‘duwe rasa ora duwe rasa duwe’.
    Bertemu dengan Dasamuka masing-masing, merangkumnya, memeluknya dalam Hong Aran dan Kendhalisada

    Lalu dalam pandangan terang bathin ini tidak lagi menemukan motif, aku, diriku, dan milikku dari semua yang nampak dalam benak, dalam apa yang dilihat, dirasakan, dicerap, tidak memberi diri dikaitkan dengan semua pengalaman itu.
    Bagaikan alam yang hening tiada memuji, tiada mengeluh dan hanya asyik melihat, dan menyokong, dan merahimi mahluk-mahluk hidup menjalani hidupnya dalam kodratnya masing-masing. Seperti Isa yang memberikan dirinya diseret dalam pembantaiannya… Itulah awang-uwung.

    Akhir kata…
    Semoga kita dalam kesadaran mencapai Pantai Seberang… Mencapai kesadaran rasa. Sadar dan menyatakan, tidak sekedar realize, namun juga release melepaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: