Review SO~3

SO 3Hari menjelang sore suasana cukup hening dan langitpun tampak eksotis dengan semburat keemasan cahaya matahari. Setelah para peserta SO-3 dari berbagai penjuru tanah air berkumpul di tempat  yang telah ditentukan. Seluruh peserta SO-3 memasuki  otobus dan tak lama kemudian kendaraan beranjak meninggalkan areal 0 kilometer Kota Yogya menuju Pajimatan Agung Imogiri. Sebagian peserta sudah datang sehari sebelumnya. Sebagian lagi hadir berkumpul beberapa jam sebelumnya. Ada pula yang hampir  ketinggalan pada detik-detik pemberangkatan saat otobus mulai bergerak.

Kami yakin, semenjak pertama kali hati terbersit untuk mengikuti acara SO-3, di situlah awal dari sebuah perjalanan spiritual seseorang telah dimulai.  Keheningan hati, kejernihan fikir, dibutuhkan untuk menimbang dan menentukan ketetapan hati apakah pilihannya sudah tepat atau belum. Setiap peserta bukan saja perlu pemikiran, meluangkan tenaga dan waktu, tetapi lebih dari itu butuh beaya yang tak sedikit jumlahnya. Setiap peserta tentu saja harus memikirkan ongkos tiket pergi-pulang, dan mungkin perlu menyiapkan uang untuk keluarga dan orang-orang terdekat yang akan ditinggalkannya untuk sementara waktu. Masing-masing pasti punya cerita penuh perjuangan yang butuh puluhan halaman folio untuk menorehkanya. Biarlah hal itu menjadi pengalaman pribadi masing-masing peserta SO-3. Di balik semua itu adalah pelajaran berharga betapa sebuah  pengabdian membutuhkan pengorbanan yang tidak ringan. Mengabdi pada bumi pertiwi, berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhurnya. Mengabdi kepada perjuangan menggapai sebuah nilai yang dirasakan baik dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup di waktu yang akan datang. Pengabdian dan perjuangan mengalir begitu saja, dinikmati dan dihayati sebagai sebuah kewajaran dan sebuah pelajaran apa arti ketulusan dan kesabaran itu. Dilakoninya semua peristiwa tanpa ada umpatan dan suara gerutu yang terucap dari mulut. Semua itu diingatkan oleh peserta kita Mas Sutopo Yuwono yang terlambat datang terakhir dan hampir tertinggal bus. Mengingatkan kita semua untuk membangun topo tepaking tepa tulus, sebagaimana ditorehkan oleh Eyang Gusti KGPAA Sri Mangkunegoro IV dalam Serat Wedhatama. Selalu berusaha menerapkan budipekeri yang luhur dengan bekal ketulusan. Agar mendapatkan keselamatan jiwa dan raga dalam menjalani lakon kehidupan ini.

Menjelang petang sampailah otobus di depan tangga naik pintu gerbang Pajimatan Agung Imogiri. Seluruh peserta disambut hangat oleh panpel Mas Purwanta Hadiprayitna (alumnus SO-1) yang telah rapi mengenakan busana lengkap peranakan (kostum untuk pisowanan a la Yogyakarta). Seluruh peserta diajak bersama hening cipta dalam sikap tindak yang santun dan lembah manah (ramah dan rendah hati). Dijiwai oleh rasa tulus berserah diri hendak manembah marak sowan para Pepuden Tanah Jawa yang sumare di Pajimatan Agung Imogiri. Mari kita tundukkan wajah, kita tata hati kita memasuki keheningan, ketulusan dan kesabaran. Kita atur detak jantung dan nafas kita agar lebih tenang. Di hadapan kita adalah tangga yang terjal menanjak menuju gerbang utama Pasarean Agung Imogiri sebagai lambang perjalanan hidup manusia yang hendaknya bersifat progresif. Di sanalah Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo dan Kanjeng Ratu Batang beserta  para Ratugung Binatoro bersemayam, termasuk Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono IX, figure fenomenal yang sangat berjasa atas terbentuknya NKRI ini. Dan tahun lalu ada beberapa para pejabat NKRI pernah melakukan percobaan untuk menghianati beliau. Namun seperti yang dapat kita saksikan, semua yang berlagak bagaikan pahlawan kesiangan dan yang berteriak lantang menghianati sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Semuanya tumbang, runtuh wibawa, jatuh ke lembah hina sebagai penghuni “hotel” prodeo hingga hilang nyawanya. Menolak keistimewaan Jogja artinya bukan sekedar merubah konstitusi saja, namun lebih dari itu adalah suatu bentuk penghianatan dan penghinaan terhadap pihak dan tokoh-tokoh yang berjasa besar atas berdirinya NKRI.

BERAPA SESUNGGUHNYA JUMLAH ANAK TANGGA ?

Berjalan menaiki tangga Pajimatan ImogiriTangga yang terjal menanjak menuju gerbang utama Pasarean Agung Imogiri melambangkan perjalanan hidup manusia yang (hendaknya) bersifat progresif dan dinamis. Tangga naik yang diperkirakan berjumlah 409 anak tangga itu melambangkan perjalanan hidup manusia dalam menggapai kemerdekaan dan kemuliaan lahir dan batin. Saat meniti tangga kita lakukan topo (bertapa) turu sajroning lumaku (tidur sambil berjalan). Kita “tidurkan” kesadaran raga, tetapi kita bangkitkan kesadaran jiwa. Dimulai dari anak tangga paling bawah hingga anak tangga terakhir, peserta dengan konsentrasi penuh dalam setiap langkahnya menghitung satu-persatu berapa jumlah keseluruhan anak tangga. Hasil hitungannya pun sangatlah fantastis. Ada yang mendapatkan hitungan sebanyak 340, 348, 360, 368, 394, 405, dan ada pula yang mendapatkan hasil 415 anak tangga. Perbedaan yang sangat ekstrim hingga sebesar 60 angka. Masih banyak lagi angka-angka fantastis bahkan di antara peserta lupa berapa hasil hitungan yang didapatkannya. Lantas berapa jumlah persisnya ? Saya pribadi tak bisa menjawab dengan pasti. Biarlah ia menjadi misteri yang belum terpecahkan. Itulah salah satu misteri pasarean Pajimatan Agung Imogiri yang begitu sakral. Untuk ziarah ke sana tidak perlu ongkos besar sampai harus jual tanah waris. Tidak perlu bayar paspor juga. Dan di situ pasarean orang Indonesia yang berjasa membangun bangsa besar ini.  Kesakralan Pajimatan Agung Imogiri sudah tersohor. Bahkan siapapun calon presiden RI harus marak sowan ke Pajimatan Agung Imogiri dan Kotagede untuk mendapatkan restu para leluhur agung. Jangankan Capres-Cawapres yang enggan marak sowan, bagi Capres-Cawapres  yang marak sowan-pun belum tentu mendapatkan restu dari para leluhur agung di sana. Pengalaman selama ini, tanpa marak sowan di kedua tempat sakral itu, 99% tidak akan terpilih menjadi presiden RI. Ini bukanlah sesuatu yang latah dan arogan. Kami memahami leluhur agung Nusantara ternyata masih peduli akan nasib bangsa ini. Beliau berkenan turut menyeleksi siapa yang paling layak menjadi pemimpin bangsa. Namun otoritas leluhur tidaklah sekehendak kemauannya sendiri. Restu para leluhur tetap selaras dalam hukum tata keseimbangan alam. Leluhurpun paham jika bangsa ini harus melewati masa di mana pilihan Presiden-Wapres bukanlah dengan mencari mana yang paling baik. Tetapi mana yang paling pas mengisi masa-masa tertentu sesuai zamannya.  Terkadang dihadapkan pada pilihan dilematis, dari yang jelek sampai yang jelek sekali. Tentu saja pilihan jatuh pada yang jelek. Walaupun bangsa ini melewati masa di mana dipimpin oleh pemimpin yang kurang ideal, namun saya memahami semua itu sudah pas dengan situasi dan kondisi yang ada. Misalkan era zaman edan dipimpin oleh Presiden “edan-edanan”. Era kalabendu dipimpin oleh Pemimpin yang dalam masa-masa tugas, restunya dicabut oleh para leluhur. Semua kita pahami sebagai proses dinamika zaman secara bertahap  untuk menuju pada situasi dan kondisi yang sesuai seperti yang dicita-citakan dan idamkan.  Seperti pula tahapan demi tahapan yang tergambarkan dalam setiap anak tangga menuju puncak di mana terdapat gerbang Pajimatan Agung Imogiri. Ada tanjakan terjal, ada pula yang datar.

TURU SINAMBI MLAKU

Tangga naik Makam Raja Imogiri“Tidur sambil berjalan”. Mata hati menjadi indera penglihatan. Melakukan perjalanan dalam keadaan hening meditative. Setiap kaki melangkah menapaki anak tangga, dihayati dalam lantunan doa di dalam batin untuk harapan kemuliaan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup kita dan keluarga, serta untuk Nusantara. Jaga hati dan ucapan agar tidak menyakiti sesama. Kinaryo karyenak tyas ing sesama. Jaga lidah dan bibir supaya jangan selalu berucap gerutuan agar diri tidak dirundung kesialan. Karena semua itu sangat beresiko menjadi kenyataan yang menimpa diri sendiri. Untuk itu, ucapan hanya untuk suatu kalimat yang baik, ungkapan kebahagiaan dan rasa sukur kepada Sang Hyang Jagadnata. Kata-kata baik yang kita ucap, akan terwujud sesuai proporsi dan asas kepantasan masing-masing orang untuk mendapatkannya. Kata-kata buruk akan segera terwujud dan menimpa diri sendiri.

            Hening, khusuk, lahir dan batin. Satukan rasa tulus dan sabar. Ucapkan segala harapan yang positif dalam setiap langkah kaki. Ucapkan rasa sukur kepada Sang Jagadnata, kepada para leluhur agung yang telah mewariskan tanah perdikan dan bumi pertiwi untuk kita diami ini. Hayati dalam setiap hela nafas, alirkan semangat dalam aliran darah. Kita bersama-sama melakukan tapa mbisu (menjaga ucapan untuk mawas diri), tapa ngrame (giat membantu sesama),  dan tapa ngeli (mengikuti aliran air) dalam menjalani kehidupan saat ini agar sak tibo-tibone tansah nemu bejo –seberat apapun keadaan, sesulit apapun persoalan, kita akan selalu menemukan keberuntungan. Begitulah pesan dari Eyang Gusti Respati Madularas (Permaisuri Eyang Gusti MN IV) selalu terpatri di dalam sanubari menjadi penuntun setiap kaki melangkah. Dan semua itu ternyata bukanlah omong kosong. Karena bukti selalu menepati.

ENENG ENING

Bangsal Kaping Sangan ImogiriTak lama setelah seluruh peserta SO-3 berkumpul di bangsal Kapingsangan di halaman Pasarean Ingkang Sinuhun Pakubuwono VI sd PB IX yang terasa lebih sunyi senyap, damai dan tenang. Rencana semula, SO-3 akan berkumpul di bangsal Kapingsedasan atau Bangsal Giriloyo di mana Sinuhun PB X sd XII disemayamkan, tempat yang tampak lebih bersih, mewah dengan fasilitasnya lebih lengkap. Namun rupanya para leluhur ingin mengajarkan sesuatu kepada sedulur-sedulur peserta SO-3. Berbeda dengan bangsal Kapingsedasan yang penuh fasilitas, bersih, lebih terang dan rapi. Bangunan bangsal Kapingsangan lebih luas dan besar di banding Kapingsedasan. Walau fasilitasnya masih bersahaja, bangsal Kapingsangan memiliki kelebihan yakni lebih tenang, lebih adem dan kuno, juga terasa daya sakralitasnya begitu kuat. Kita perlu meresapi dan menghayati  aura dan rupa bangsal Kapingsangan sebagai pedoman dalam sikap dan tindak terutama dalam menghadapi situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.

Seluruh sedulur peserta SO-3 telah berkumpul di bangsal Kapingsangan. Tidak ketinggalan pula panpel menyiapkan minuman ciri khas Pajimatan Agung Imogiri yakni wedang uwuh, sejenis minuman yang berisi berbagai dedaunan dan rempah yang menyehatkan, karena menghangatkan tubuh dan memperlancar peredaran darah. Bahkan banyak yang percaya sebagai minuman bertuah karena beberapa macam dedaunan untuk bahan minuman diambil dari daun-daun yang jatuh di dalam pasarean Imogiri.  Memang cita rasa minuman khas Pajimatan Agung Imogiri ini sangat berbeda dibandingkan dengan yang dibuat di luar atau bahan-bahannya sengaja didatangkan dari daerah lain. Ciri khas minuman wedang uwuh Pasarean Imogiri dengan bahan-bahan yang diambil dari runtuhan dedaunan rempah yang terdapat di dalam Pasarean Agung Imogiri disuguhkan dalam keadaan panas, sebagai minuman penyambut para sedulur dari penjuru tanah air. Sambil berharap tuahnya lumuntur sumrambah kepada siapapun yang menikmati minuman unik dan berkhasiat tersebut.

Bangsal Kaping Sangan ISKS PB VI~IXSelesai minuman wedang uwuh dibagikan, tiba-tiba listrik di sekitar Pasarean padam. Dalam keadaan gelap kami semua tak dapat mengelak, hanyut dalam keheningan. Dalam suasana gelap panitia mulai menyalakan lampu-lampu darurat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Namun uniknya, speaker wireless pun ikut padam alias lenyap energy listriknya padahal sebelumnya telah dicas penuh. Kita semua mengalir saja, biarlah keadaan menjadi gelap kita nikmati setulus hati. Namun lihatlah, semua menjadi tampak terang benderang manakala kita menggunakan pelita hati dan melihat dengan menggunakan mata batin. Lihatlah apa yang tidak terlihat. Karena segala sesuatu belum tentu seperti apa yang Anda lihat. Janganlah yakin begitu saja dengan apa yang orang lain lihat. Jangan pula Anda yakin begitu saja apa yang dilihat orang lain, hanya karena Anda  sedang suka padanya. Karena jika pandangan Anda keliru, akan berubah menjadi fitnah,  setidaknya salah kaprah dan membuat bubrah pila pikir. Penyesalan di kemudian hari bisa jadi tak lagi berarti untuk merubah kondisi yang telah terjadi. Beberapa lama listrik masih padam, hingga seseorang yang ditunggu datang.

Mas Bambang Legowo sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kab Bantul hadir untuk memberikan apresiasi yang sedalam-dalamnya kepada para tamu sedulur-sedulur yang datang dari berbagai kota dan pulau. Sebagai generasi yang menghargai para leluhur perintis bangsa. Generasi yang menghargai sejarah. Dan para peserta SO-3 adalah tamu-tamu terhormat bagi masyarakat Kab Bantul khususnya Pemkab Bantul DIY. Beliau hadir atas dawuh Ibu Bupati yang pada saat itu menyampaikan penyesalannya tidak bisa hadir sesuai rencana karena suatu acara mendadak harus ke Thailand. Terimakasih Ibu Sri Widati dan Bapak Bambang Legowo.

Kami semua segenap panitia dan peserta SO-3 berusaha belajar menanamkan sikap legowo sekalipun listrik padam. Kami sadari pula kondisi cuaca yang sempat mendung, kemudian dalam waktu singkat tampaklah langit menjadi bersih dan rembulan pun bersinar dengan terangnya berperan mengganti lampu-lampu neon. Menciptakan suasana menjadi lebih eksotis, tenteram dan sakral.

Sambutan Kepala Dinas Pariwisata Kab BantulSaat acara dimulai, dalam temaram lampu emergensi, kami segenap panitia dan diikuti seluruh peserta membuka acara dengan bersama-sama melantunkan tembang Serat Wedhatama pupuh pangkur podo ke 1 & 2. Suara tembang berpadu membahana memecah kesunyian Pasarean Agung Imogiri. Dilantunkan dengan penuh hikmat dan penghayatan segenap jiwa rawa, sembari mengenang pengorbanan dan perjuangan para leluhur di masa lampau dalam upayanya mewujudkan harapan untuk mewariskan tanah perdikan Nusantara. Sakral, hikmat, sahdu, lalu senyap dalam keheningan di bawah terangnya sinar rembulan purnama. Saat panpel memberikan sambutan, saat itulah listrik tiba-tiba kembali menyala.  Habis gelap terbitlah terang. Kalimat sambutan dari panpel diwakili Mas JSP, kemudian saya lanjutkan, dan diteruskan oleh bapak Bambang Legowo selaku kepala dinas Pariwisata Kab Bantul DIY. Jika hati kita tetap legowo walaupun “digoda” oleh suasana yang tidak sesuai dengan harapan, atau mendapat godaan dari orang-orang yang gagal nggayuh kawicaksananing Gusti,  tan wruh ngelmu kang sanyata. Gagal memahami sejatinya hidup dan gagal memahami apa yang terjadi. Kita tetap fokus pada tujuan utama untuk meraih sesuatu yang lebih mulia. Maka semua akan berjalan lebih dari yang kita harapkan. Kejutan (suprsprise) senantiasa akan terjadi di luar apa yang kita bayangkan.

PISOWANAN & MISTERI SITI WANGI

            Selesai seremonial pembukaan acara, kemudian dilanjutkan pengenalan seluk beluk pasarean dan penjelasan soal etika, pantangan dan anjuran selama melaksanakan pisowanan. Pisowanan kali ini diutamakan kepada Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrawati, dan permaisuri beliau Kanjeng Ratu Batang. Posisi beliau ada di puncak tertinggi kompleks Pajimatan Agung Imogiri. Karena sebagai leluhur yang paling senior (sepuh). Di samping kiri Pasarean kanjeng Sultan Agung terdapat siti wangi atau tanah yang berbau harum. Berupa celah batu kapur yang mengeluarkan aroma wangi bunga setaman. Siti wangi yang mengeluarkan harum itu sudah ada ratusan tahun silam semenjak Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma dikebumikan, dan tetap ada hingga saat ini. Bau wangi yang abadi, melambangkan derajat kamulyan dan bukti penerimaan sang bumi atas segala amal kebaikan dan perjuangan Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyorokusumo/Hanyakrawati kepada bangsa besar ini. Celah batu kapur itu bukan dari mana-mana, ia ada dan asli dari tanah Jawa, di lokasi itulah anak panah yang diluncurkan Kanjeng  Sultan Agung menghunjam ke tanah. Di situlah pertanda di mana kelak Kanjeng Sultan Agung akan dikebumikan raganya.

            Sebagai peziarah, setelah berdoa dan menabur bunga di pusara Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo, disarankan untuk menghirup aroma wangi pada celah siti wangi, boleh dilakukan sekali, 3 kali atau 7 kali hirupan. Tergantung kemantaban hati masing-masing orang. Selain powerfull, aroma wangi itu juga sangat bertuah. Tentu saja tuahnya akan memberikan dampak positif bagi dirinya masing-masing.

STIMULASI ENERGI TERPENDAM

Peserta SO~3 berlatih olah nafasSelesai acara pisowanan, seluruh peserta SO-3 kita berikan beberapa metode dan teknik olah nafas untuk pembangkitan dan penguatan inner power secara lebih efektif. Kami perkenalkan pula beberapa teknik meditasi yang lebih efektif. Kita terangkan apa gunanya untuk pelaku. Apa hubungannya antara mikrokosmos dengan makrokosmos.   Bagaimana cara mengkoneksi energy medan magnet galaktika (langit) dengan energy yang berlimpah di atas bumi melalui nafas pancer (guru sejati). Kami terangkan melalui video tutorial di layar proyektor dan melalui presentasi yang singkat dan jelas. Kemudian dilanjutkan praktek langsung secara bersama-sama. Dilihat dari tanda-tanda, gerak-geriknya, dan getaran energinya, kami lihat seluruh peserta (disadari atau tidak) dapat merasakan efeknya. Apalagi seluruh peserta baru saja melakukan pisowanan dan secara disadari maupun tidak, telah terjadi penyerapan energy yang cukup besar. Semua itu bersinergi menjadikan belajar olah nafas dan meditasi terasa lebih efektif. Bahkan dapat menjadi treatment bagi para peserta yang memiliki simpul energy dengan para leluhurnya. Pada saat melakukan teknik meditasi khusus yang kami berikan, jika di antara peserta pernah diberikan sesuatu oleh leluhur atau leluhurnya sendiri, maka dapat merasakan adanya stimulant yang membangkitkan energy lebih besar lagi. Maka tidaklah heran jika di antara sedulur-sedulur peserta SO keluar auman harimau. Akan tetapi tidak perlu risau dengan hal-hal demikian, sebab kami dan panpel akan selalu memberikan kontrol secara bijaksana.

Presentasi Inner Power dengan proyektorMenjelang tengah malam, kami semua melaksanakan inaugurasi untuk penutupan acara di Pajimatan Agung Imogiri. Tak lupa sembah sungkem hatur terimakasih kami sampaikan kepada seluruh pepunden yang sumare di Pajimatan Agung Imogiri. Dan tak lupa kami semua mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Dengan diiringi tembang “tulak bala yang dilantunkan bersama oleh seluruh peserta SO-3 dan panpel kami menutup acara di Pajimatan Agung Imogiri. Semoga sawab, berkah, donga, & pangestu beliau-beliau  selalu lumintu lan lumuntur mengiringi dalam setiap perjalanan kami semua untuk menggapai berkah alam semesta dan Sang Jagadnata. Seperti biasanya, kami pasrahkan kepada leluhur untuk menuntun dan membimbing langsung pada seluruh sedulur SO dalam perjalanan dan selama mengikuti acara sampai tuntas. Dan bukanlah mengherankan jika terjadi berbagai macam peristiwa istimewa selama mengikuti acara SO.

Panunggalan, roroning atunggil, dwi tunggal

            Kami semua beranjak menuju Cepuri. Di tengah perjalanan sempat diguyur hujan lebat hingga masuk lokasi, matur sembah nuwun atas berkah dan rejeki ini. Setiap peristiwa selalu membawa hikmahnya masing-masing. Kita bersama-sama belajar bagaimana berkomunikasi dengan alam semesta agar selalu mendukung apa yang kita harapkan untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat. Kita belajar bagaimana agar hujan bisa berhenti tepat pada saat kita perlukan. Dan kami hanya sekedar berikan contoh dan teknik dasar bagaimana mengelola daya kekuatan rahsa sejati agar mampu bersinergi dengan kekuatan alam. Kita satukan rasa antara jagad kecil (mikrokosmos) dengan jagad besar (makrokosmos). Keduanya sebenarnya bukanlah sesuatu yang terpisah melainkan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kita buktikan bahwa kita merupakan bagian dari jagad besar itu sendiri. Dalam upaya ini panunggalan rahsa menjadi pekerjaan utama, agar mencapai level kesadaran roroning atunggil dalam getaran rahsa sejati. Diisi dengan pendayagunaan kekuatan batin, dan kekuatan batin itu akan nyata ada saat kita endapkan segala nafsu, agar mencapai keadaan “duwe rasa, ora duwe rasa duwe”. Punya rasa, tidak punya rasa punya ! Di situlah sumber daya kekuatan yang tersembunyi dalam diri jagad kecil (manusia) akan meletupkan kekuatan besar. Keberhasilan panungalan antara ruh jagad kecil (sukma sejati) yang terdapat dalam mikrokosmos dengan roh jagad besar (Tuhan) makrokosmos dalam wujud kesatuan dan kesamaan kehendak. Tercapainya kesatuan dan kesamaan kehendak akan menimbulkan ucapan yang berkekuatan dahsat untuk mewujudkan menjadi kenyataan. Ini yang dimaksud sebagai idu geni (ludah api),  atau sabda pandita ratu.  Apa yang diucap akan segera terjadi. Karena ucapan bukan keluar dari hawa nafsu, melainkan diucapkan oleh kehendak rahsa sejati yang bersinergi dengan kekuatan ruh jagad agung.

???????????????????????????????Begitu sampai halaman rumah abdi dalem juru kunci Parangkusumo, hujan baru saja berhenti. Kita mengamati langit, tampak warna hitam gelap pertanda mendung tebal masih bergelayut. Rembulan kadang-kadang tampak temaram muncul di balik bagian mendung yang tipis. Tapi tetap saja rembulan untuk bersinar lebih lama menjadi kecil kemungkinannya. Alangkah indahnya jika suasana Cepuri dan pantai Parangkusumo disinari rembulan penuh, dan langit yang cerah saat kita laksanakan kegiatan. Namun kita  tak perlu pesimis. Situasi dan kondisi justru sangat mendukung untuk dijadikan laboratorium alam sebagai wahana praktik secara langsung. Mari kita olah rahsa untuk mensinergikan dengan kekuatan alam. Agar tumbuh daya kekuatan untuk menstimulasi cuaca alam supaya sesuai yang kita harapkan.

Rembulan di Parangkusumo Tak berapa lama, mendung gelap itu perlahan berangsur menipis dan akhirnya langit tampak terang benderang. Rembulan bersinar terang di posisi agak ke timur. Kita berjalan menuju pantai untuk beranjangsana membangun tali paseduluran dengan seluruh mahluk Tuhan dari bangsa apapun.  Karena semua mahluk yang hidup di dimensi bumi ini tercipta bukan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya agar saling memberikan welas asih  dan saling memberikan kehidupan di antaranya.

Bagi yang selalu menebar kedengkian atau yang bernafsu menciptakan permusuhan tentu saja menjadi pihak yang menentang hukum alam, dan tanpa disadari di dalam jiwanya terdapat sesuatu yang tak beres”.

Kita sebagai bangsa manusia, idealnya menebar rasa welas asih kepada seluruh mahluk,   termasuk kepada penguasa di wilayah selatan, terutama KRK. Beliau adalah bangsa widodari yang jumeneng ratu. Jika ada yang menganggapnya sebagai jin, setan, siluman atau bahkan hanya dianggap mitos, saya pastikan pendapat itu pasti keluar dari pihak yang tidak pernah melihat gaib. Dan anggapan negative itu hanya berdasarkan asumsi yang diperoleh dari mitologi atau dongeng yang berisi stigma buruk.  Bagi yang belum pernah melihat, saya kira lebih ideal memilih untuk tidak berasumsi negative, karena kalau keliru sama halnya melakukan suatu tindak kejahatan. Sebaliknya, jika berpikiran positif   seandainya ada kekeliruan, tetap tidak ada unsur kejahatan. Jadi lebih aman.

Rembulan Mustika NagaSuara debur ombak terkadang terasa tiba-tiba senyap. Lalu tiba-tiba bergemuruh memecah kesunyian. Tampak sinar rembulan terang benderang menerpa permukaan gelombang laut. Memantulkan cahaya berkilau bagaikan tebaran berlian di atas permukaan ombak. Kami masuk ke kedalaman tertentu untuk melakukan seremoni sederhana sebagai wujud penghormatan kepada seluruh mahluk. Usai seremoni sedulur-sedulur seluruh peserta melakukan testimony berbagai pengalaman batin disampaikan dalam forum sharing pengalaman. Ada yang merasakan keheningan sangat dalam hingga debur ombak tak terdengar lagi. Ada yang mendengar suara alunan gending, aroma harum bunga setaman, ada pula yang melihat cahaya di bawah permukaan laut, hingga melihat bayangan orang dalam wujud siluet (dua dimensi). Selesai sharing, dilanjutkan berlatih dan praktik melakukan gerak nafas pancer dalam posisi berdiri karena keadaan pasir yang basah barusaja terguyur air hujan. Dalam sesi latihan terutama di alam terbuka, kami selalu mengawali dengan nafas penyelarasan. Gunanya untuk penyerapan energy alam dan sikap santun permisi kepada alam semesta. Karena di pinggir pantai kita fokuskan untuk menyerap energy ombak laut dan energy alam di sekeliling kita. Kemudian dilanjutkan dengan nafas pancer yang kita fokuskan untuk menyerap energy rembulan. Namun yang utama adalah untuk menyatukan  diri kita  dengan “bapa angkasa” dan “ibu bumi”. Sukma sejati kita adalah pancer atau “guru sejati” yang eksistensinya ada di antara bapa angkasa dan ibu bumi (pancerku kang ana ing ngisor langit lan kang ana ing nduwur bumi). Mirip dengan esensi sebuah keris yang terbuat dari tosan-aji merupakan materi yang berasal dari langit (batu meteorit) dan materi bumi (inti baja). Kedua materi manunggal dalam bentuk benda pusaka bernama keris. Panunggalan-nya tersirat dalam wujud pamor, yakni membentuk guratan-guratan berbentuk sesuatu yang penuh makna. Saya optimis setiap peserta SO cepat atau lambat akan menemukan pamornya (aura jati diri) masing-masing.

            Begitu acara di Pantai Parangkusumo kami tutup, mendung gelap kembali datang menghalangi sinar rembulan. Ya…itu tandanya “kontrak” dengan ruh jagad agung telah habis. Begitulah hukum alam akan berlangsung secara disiplin sesuai apa yang kita semua ucapkan sebelum berlatih. Kita mohon agar supaya selama acara berlangsung di pantai, alam mendukung kita. Suasana malam dini hari kembali gulita. Dan kita semua siap beranjak meninggalkan Parangkusumo menuju lokasi berikutnya dengan jarak tempuh kurang lebih 120 km.

MASIHKAH BANGGA DENGAN “MIMPI-MIMPI” ?

Bendera KKSTibalah di Candi Sukuh, seluruh panpel dan peserta SO-3 melakukan aktivitas di pagi hari yang terasa dingin sekali. Toilet, cuci muka, (nggak tahu ada yang berani mandi apa tidak), minum kopi, berbincang santai,  berdiskusi, saling tukar alamat, nomer telpon,  dan bercerita pengalaman masing-masing selama mengikuti acara. Seru dan hangat sekali larut dalam suasana kekeluargaan. Materi SO hanyalah bonus, sedangkan yang utama adalah bagaimana kita semua belajar untuk kompak dan bersama-sama seiring sejalan sebagai sesame generasi penerus bangsa dengan latar belakang budaya, agama, suku, ras yang berbeda-beda. Perbedaan itu bukanlah penghalang untuk merajut niat suci menjalin tali persaudaraan sebagai sesama  generasi penerus bangsa yang peduli akan nasib bangsanya sendiri. Dan sebagai sesama mahluk penghuni planet bumi ini. Kita jalin tali persaudaraan bukan terbatas antar bangsa manusia saja, tetapi sudah lintas bangsa. Bangsa kasar hingga bangsa alus, bangsa manusia dengan bangsa tumbuhan dan hewan. Indah sekali, damai, tenteram, nyaman. Semua itu menjadi pintu berkah bagi kita semua.

Mas Patrick dari Belgia belajar ilmu JawaKita mengenal, menggali, dan memahami tentang situs Candi Sukuh. Kita sebagai generasi sekarang menyaksikan betapa tingginya beradaban dan kesadaran spiritual leluhur nenek moyang Nusantara di masa lalu. Apakah semua itu tidak cukup untuk membuat kita bangga dengan jati diri dan bangga memakai identitas bangsanya sendiri ? Generasi sekarang banyak yang tak kenal dengan tingginya peradaban kuno Nusantara, maka maklum jika tidak tumbuh rasa sayang kepada budaya dan bangsanya sendiri. Adalah realitas tak dapat dipungkiri, kita ini darah Indonesia, darah Sunda, Batak, Jawa, Melayu, Flores, Papua, Bugis, Makassar, Dayak dll. Tetapi mengapa kita justru bangga untuk sekedar bermimpi menjadi bangsa asing….? Bangsa asing yang juga belum tentu lebih unggul jika dinilai secara obyektif, dan bila disaksikan dengan mata kejujuran.

MASIH BERSINERGI DENGAN ALAM

Belajar mengolah batin & mengolah nafasSelesai aktivitas pagi hari, kita semua mulai belajar. Khusus untuk sedulur alumnus SO, materinya lebih memperdalam dan menyempurnakan materi dan keilmuan yang pernah di dapat sebelumnya. Bagi sedulur peserta SO-3 materi-materi baru sebagaimana telah disiapkan dan disesuaikan. Pagi yang dingin segera berubah menjadi pagi yang panas dengan pancaran sinar matahari terasa menyengat di kulit. Tentu saja dalam cuaca terik seperti itu cukup mengganggu saat dilakukan meditasi  papasu dan meditasi penyerapan terutama karena lokasi untuk meditasi di alam terbuka dan mendapat terpaan langsung sinar matahari. Biarlah, mungkin alam sedang menyediakan “laboratorium”nya agar kita semua bisa melakukan praktikum. Semula kita nikmati saja hangatnya sinar mentari pagi.  Selanjutnya kami ajak para peserta agar mengolah rahsa hingga tercapai sinergisme dengan kekuatan alam. Dan kembali bersama-sama mengarahkan kehendak agar terjadi mendung tetapi jangan sampai terjadi hujan deras agar meditasi didukung oleh suasana alam dan dapat berlangsung dengan baik. Pertama kita praktek meditasi dan penyerapan energy dengan teknik seperti yang dicontohkan oleh romo Panembahan Bodo. Seluruh panitia dan peserta duduk meditasi pada altar di atas Candi. Benar saja, terik matahri perlahan berubah menjadi suasana mendung, sejuk dan hawa dingin nan sejuk seringkali menghembus kita semua. Puji sukur duh Sang Jagadnata atas semua berkah ini.

???????????????????????????????Selesai meditasi penyerapan, gerimis turun dan hanya sebentar saja. Kami semua menuju warung-warung kosong. Di sana Mbak Primadani dan Mbak Yayuk alumnus SO-1 yang kita tunggu-tunggu ternyata telah menyiapkan nasi dus, air mineral dan kopi. Sarapan kali ini jam 09.30 pagi. Selesai sarapan kita lanjutkan lagi berlatih materi baru (bagi peserta SO) dan memperdalam materi (bagi alumnus SO). Alangkah indahnya, jika saat berlatih nanti tidak terjadi hujan, tetapi berkabut. Ya, mari kita coba agar alam mendukung kita sesuai apa yang kita harapkan. Sesaat setelah latihan di mulai, benar saja kabut tebal turun dan menyapu seluruh peserta. Terasa sejuk dan pemandangan menjadi eksotis. Peserta baru berlatih meditasi keseimbangan dan kepekaan. Alumnus berlatih dan memperdalam nafas kirana jati. Kedua materi adalah orisinil hasil penelitian dan komparasi kami selama puluhan tahun. Sehingga saat kami terapkan pada sedulur-sedulur sekalipun sangat awam, kami dapat melihat hasil yang cukup signifikan. Tak perlu berlatih berbulan-bulan lamanya, tetapi cukup beberapa saat asal diakukan dengan teknik dan metode yang tepat dan akurat semuanya akan menjadi lebih efisien. Kami senang dapat berbagi dan melihat hasilnya.

Belajar meditasi keseimbangan & kepekaanDi Candi Sukuh ini kami cukup waktu untuk berlatih materi hingga acara kami sudahi setelah kabut semakin tebal dan bercampur hujan mulai turun deras. Pukul 11.30  wib kami berkemas dan beranjak meninggalkan Kompleks Candi Sukuh. Terimakasih kepada para leluhur yang menjaga Candi Sukuh, terimakasih kepada seluruh mahluk yang ada di sekitar lokasi. Dan terimakasih kepada Bapak Sunarto selaku security Candi yang telah banyak membantu kelancaran acara kami.

PUSAKA “PENA EMAS”

Makam Gusti Mangkunegoro IVPerjalanan menuju Pasarean Agung Girilayu hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Jalanan beraspal, tidak lebar namun mulus serta berliku-liku lengkap dengan tanjakan terjal dan turunan yang curam. Sesampai di Girilayu, para abdi dalem sudah menyambut dan mempersiapkan menu tradisional berupa singkong rebus, ubi goreng, wedang teh ginastel, serta kopi. Seluruh sedulur boleh memilih salah satu minuman atau kedua-duanya jika mau. Panpel memperkenalkan siapa saja yang sumare di Astana Girilayu. Kami juga memperkenalkan siapa sejatinya beliau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV ?  Apa saja karya besar beliau ? Banyak sekali karya sastra beliau. Salah satu di antaranya adalah serat Wedhatama. Namun ada satu karya beliau yang sempat menghebohkan masyarakat antariksa dunia. Yakni gending ketawang puspawarna.   Gending ketawang puspawarna sebagai salah satu masterpiece beliau dan menjadi satu di antara dua karya besar dunia selain karya komposer Sebastian Bach. Gending Puspawarna pernah diputar oleh NASA pada ketinggian 15 Milyar 500 juta km dari permukaan bumi. Dan terbukti gelombang sound-nya dapat sinergis dan matching dengan gelombang energy yang dipancarkan oleh Alien. Wajar saja, karena suara gamelan Gending Puspawarna  memang sangat unik, jika kita rasakan dalam keadaan meditatif terasa memiliki irama dan bunyi nada-nada gamelan dengan getaran spesifik dan ada kemiripan dengan suara-suara natural yang terdapat di ruang hampa udara jagad galaktika.

Astana GirilayuSerat Wedhatama karya Gusti MN IV di dalamnya sarat dengan keilmuan. Ilmu filsafat, ilmu spiritual, seni dan budaya. Terkenal dengan ajaran “ngelmu iku kalakone kanthi laku”, ada pula kalimat terkenal beliau yakni “nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake”. Karena beliau memiliki pusaka berupa pena berbahan dasar dari emas. Pusaka “pena-emas” digunakan untuk berperang secara tenang melawan penjajahan Belanda. Eyang Gusti MN IV cukup menorehkan pusaka pena emas untuk mengusir penjajah Belanda. Caranya dengan menulis surat berisi tulisan yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda. Tulisan tersebut membuat nyali Pemerintah Hindia Belanda runtuh dan saat itu juga mereka mundur dengan sendirinya tanpa terjadi peperangan. Nah, di dalam serat Wedatama, jika kita tembangkan secara langsung, atau kita baca dengan seksama akan merasakan energy dahsyat yang mengalir melalui syair-syair beliau. Saat itu seluruh peserta SO-3 kami ajak untuk menembangkan Serat Wedhatama pupuh pangkur podo ke 1-2 secara bersamaan. Semua bisa merasakan energinya yang dahsyat. Powerfull, sangat menyentuh perasaan, dan semua larut dalam keharuan. Sebagian besar panpel dan panitia larut dalam isak tangis saat kita semua menembangkan Pangkur Wedhatama semenjak di bangsal hingga berlanjut di dalam ruangan pasarean Gusti MN IV. Saya pribadi memaklumi, saya tidak bisa menilai kejadian ini sebagai sesuatu yang lebay dan kolokan.  Karena memang begitulah daya kekuatan magis dari Serat Wedhatama salah satu masterpiece Gusti Mangkunegoro ke IV pada tahun 1850-an. Terlebih lagi dilantunkan di tempat pepunden secara langsung.

 Ziarah Makam KGPAA MN IVJika kita membaca karya-karya besar KGPAA MN IV dan seluruh jasa-jasa besar beliau kepada bangsa ini rasanya menjadi tidak adil saat kita sadar jika beliau sampai saat ini tidak mendapat penganugrahan gelar sebagai pahlawan Nasional. Para penguasa kita saat ini, kurang memperhatikan sejarah bangsanya sendiri. Mengabaikan pesan Bung Karno : Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan (meninggalkan)  sejarah.  Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan para pahlawannya. Lantas dari mana bangsa ini mau besar jika dengan orang-orang pendahulu yang berjasa atas berdirinya Nusantara ini saja menghianati dan melupakan segala jerih payah dan pengorbanannya selama beliau-beliau berjuang membangun bangsa ? Jika hal ini terus berlanjut, rasanya menjadi mustahil bangsa besar ini dapat menggapai cita-cita luhurnya. Yakni kejayaan Nusantara seperti yang pernah dialami oleh Kerajaan Majapahit.

Next review…..

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juli 1, 2013, in ACARA KKS (Kadang Kadeyan Sabdalangit), Review SO~3 and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. Rahayu…
    Tak ada tutur kata lain yang dapat terucap selain rasa Syukur yang amat dalam kepada Sang Hyang Jagadnata, Alam semesta, orang tua, pahlawan serta Leluhur Agung yang membuka tabir synergi alam dengan diri kita terasa begitu kuat…SO-3 memiliki getar aura positip yang luar biasa, walau sebelumnya saya sudah mengikuti SO-1 tapi kata hati terus mengajak untuk selalu membuka diri dalam sembah bekti kepada seluruh yang ada di Jagad Raya ini…Semakin kita men-syukuri, menghargai serta menjiwai makna kehidupan dan tatanan yang telah dibangun oleh leluhur kita, semakin terasa Inner power dalam diri kita semakin besar…Duh Gusti Sang Jagadnata betapa besar yang Kau berikan untuk kami dan bangsa ini, buka-kanlah mata bathin orang2 yang menghianati kebesaranmu agar mereka dapat merasakan getar aura yang kami rasakan dan mereka jua dapat bersatu padu membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Beradab, bangsa yang Besar dan Agung…Dan sadarkan kami akan sikap tepa salira yang tinggi dan menjunjung serta mengamalkan budi pekerti yang luhur yang senantiasa dapat bersimbiosis dengan alam dan isinya…
    Tak lupa ucapan terimakasih yang dalam kepada orang tua kami Ki Sabda Langit, Mami Untari dan Panpel serta kepada seluruh peserta yang dapat membangun tali paseduluran yang sangat solid… mengutip dari filosofi leluhur : SOPO WERUH ING PANUJU sasat SUGIH PAGER WESI (Dalam kehidupan siapa yg punya Cita2 luhur, jalannya seakan tertuntun)
    Rahayu Sagung Dumadi….

  2. Estu sae sanget acara punika, mugi sanes wedal kawula saget nderek.nuwun.

    Rahayu….

  3. gending puspawarna ada versi mp3 nya nggak sih..

  4. Salam Karahayon Kang Sabda
    Setuju kang kita harus bisa menghargai dan menghormati para canggah buyut , serta tapak tilas perjuangan dan sumbangsih beliau, betapa hebat dan mumpuni, semoga ini bisa menjadi pembelajaran pada kita maksh kang sabda atas kegiatan ini sangat menarik krn dilatih org2 yg benar2 pilihan pr leluhur dan tentunya ijin para leluhur , sukses kang

  5. Manstaaabbbb Kereeen Saluuut up Terharu (y)

  6. salam…

    setelah membaca bagian awal. Apakah ada dari sekian banyak yang hadir mendapati sebuah kamar penuh dengan senjata pusaka yang tersimpan di dalam sebuah kamar yang di jaga oleh seorang wanita? tempatnya seperti bak air. Cuma sayangnya saya sendiri lupa menanyakan nama beliaunya. yang saya ingat waktu itu hanyalah, dipersilahkan mampir ke rumah seseorang karena sedang ada hajatan setelah keluar dari kamar tersebut. kalau ada. mohon disaringkan ya mas…. (ma’af, perjalanan ini bertepatan dengan diriku yang lagi setengah sadar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: