Satu Suro 1947 : Mukti opo Mati !?

MONCER ATAU MATI

Setelah kita dihantarkan oleh Suro Pambuka, pada 15 Nopember 2012 sampai dengan 4 Nopember 2013, tahun baru Jawa kali ini atau lebih populer 1 Suro, 1947 Taun Alip, Sengara Langkir, di tahun 2013 ini jatuh pada hari Selasa Pon tanggal 5 Nopember 2013. Tahun baru Jawa kali ini merupakan Suro Moncer. Moncer artinya bersinar terang, bisa diartikan pula makmur. Semoga tahun 2013-2014 menjadikan pondasi (starting point) untuk kemakmuran Nusantara diwaktu mendatang. Bulan Sura Moncer tahun 1947 mempunyai condrosengkoloSapta tirta nembus bumi, panca geni nyuceni jagad“. Namun demikian Tanggal 1 Sura Moncer ini jatuh pada hari Selasa Pon yang memiliki angka 10 atau tibo pati, jatuhnya mati. Mukti opo mati?! Artinya, untuk meraih kemakmuran masih terdapat satu rintangan pengapesan (sial) yang gawat. Yakni tepat pada tanggal 1 Sura hari Selasa Pon tibo pati. Siapa yang melakukan tindakan bertentangan dengan hukum alam, misalnya mencelakai orang, menyakiti hati, dan seterusnya, atau resikonya bisa gugur dalam meraih kemakmuran dalam tahun moncer alias mendapati “mati” (sengsara). Sebaliknya siapa yang selalu eling dan waspada, hingga selalu menjaga keselarasan dan harmonisasi dengan hukum alam tentu akan menjadi manusia yang bakal kebagian moncer-nya tahun Jawa 1947, alias “mukti” (urip mulya). Prinsip hukum keseimbangan alam yang serba balance, semakin besar anugrah yang akan diperoleh seseorang tentu tebusannya semakin berat pula.

SAPTA TIRTA MENEMBUS BUMI

Condrosengkolo yang termaktub dalam kalimat “sapta tirta nembus bumi” artinya pada tahun baru Jawa 1947 yang dimulai pada 5 Nopember 2013 ini, menggambarkan fenomena 7 sumber mata air yang menembus bumi. Bisa pula bermakna kiasan untuk menggambarkan, di tahun moncer ini tujuh asal sumber air di permukaan bumi dapat amblas meresap ke dalam bumi dengan cepat. Hal itu untuk menggambarkan pula ground washing, atau “penyucian bumi” dari segala macam wabah, hama, penyakit bahkan marabahaya yang ditimbulkan oleh bencana alam. Layaknya sebuah kolam, terlebih dahulu dikuras untuk membersihkan kotoran sebelum diisi dengan air baru yang bersih. Setelah bumi Nusantara disucikan, berarti Nusantara akan siap menerima sesuatu anugrah yang baru pula. Setelah berbagai macam bencana dan musibah yang merundung negeri Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini, kini saatnya Indonesia mulai bangkit dan beranjak dari keterpurukan. Ditandai dengan kemenangan dan prestasi TimNas sepakbola U19 (generasi muda bangsa) secara beruntun. Bangkitnya kesadaran Nasionalisme, dan semangat generasi muda untuk kembali kepada jati diri bangsanya merupakan sebagian tanda-tanda kebangkitan Nusantara. Dan semoga di tahun moncer 1947 (2013-2014) ini akan lahir aset bangsa yang telah dinanti-nanti “kedatangannya” oleh mayoritas rakyat Indonesia sebagaimana telah tersirat dalam prediksi yang ditorehkan pada lembaran serat kuno Jawa dan Sunda. Bukan hanya sekedar terpilihnya Presiden RI yang ideal, lebih dari itu lahirlah calon pemimpin besar Nusantara bahkan dunia ingkang badhe kalairaken ing satengahe bumi Mataram.

PANCA GENI MENYUCIKAN JAGAD

Secara lugas condrosengkolo di atas berarti mengisaratkan “5 api yang membersihkan jagad”. Secara kias sepertinya bahwa bumi ini akan disucikan dengan unsur api. Api dapat menggambarkan kejadian panas bumi atau panas matahari yang terasa semakin menyengat dan pengap. Api bisa juga diartikan sebagai gunung berapi yang akan meletus. Di awal bulan Suro moncer ini saja memang sudah terjadi satu peristiwa meletusnya Gunung Sinabung di wilayah Sumatera Utara. Akankah beberapa gunung berapi menyusul meletus ? Saya tidak akan membahas gunung api yang bakal meletus. Yang jelas “api” dan sumber air tersebut menjadi mekanisme alam untuk menyucikan diri segala macam “kotoran” dan polusi yang menimpa jagad Nusantara ini oleh akibat ulah manusia maupun siklus alamiah. Bumi sedang diruwat oleh Sang Hyang Wenang. Maka siapapun orangnya jika dirinya termasuk yang eling dan waspada pasti akan selamat. Sebaliknya yang merusak tatanan kehidupan akan hancur pada tahun ini juga. Biarkan sang api dan sang air yang akan membersihkan segala macam kotoran di bumi Nusantara ini. Semua kejadian penyucian diri jagad agung itu merupakan peristiwa alamiah. Jagad semesta akan menata sistem keseimbanganya yang telah rusak (self healing). Sehingga pada akhirnya jagad semesta ini berganti kulit kembali menjadi remaja.

SENGARA LANGKIR

Sengara langkir merupakan salah satu siklus di antara lebih dari sepuluh siklus yang ada dalam sistem kalender Jawa. Sengara artinya kesengsaraan. Semoga di tahun alip 1947 ini kesengsaraan rakyat Indonesia sudah berakhir, setidaknya berangsur selesai.

Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti Wilujeng Rahayu Kang Tinemu, Bondo Lan Begja Kang Teka Saking Kersaning Gusti

Video Kirab Agung Topo mBisu :

Kirab agung kadangkadeyan sabdalangit pada malam 1 Suro 1947 :

KEJADIAN DI LUAR KEHENDAK 

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 5, 2013, in PRIMBON JAWA, Satu Suro 1947 : Mukti opo Mati !? and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 51 Komentar.

  1. Yo aq pengen ngerti,lan aq tak ngadem wae,semoga sang hyang gusti sukmo sejati maringi petunjuk,rahayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: