Review SO~4

sinolewah

Mumpung ada kesempatan baik, apalagi ada barengan dengan para sedulur peserta SO, dan ada bimbingan tentang tata cara melaksanakan ziarah ke makam para leluhur khususnya para leluhur besar Nusantara di tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kami bulatkan niat dan tekad untuk berbakti kepada ibu pertiwi, kepada kedua orangtua kami, kepada para leluhur yang telah menurunkan kami, kepada leluhur pahlawan Indonesia, kepada para leluhur agung perintis Nusantara. Karna  kegiatan SO merupakan upaya bersama-sama belajar untuk lebih menghargai alam semesta, menghormati para perintis bangsa, dan menumbuhkan jiwa nasionalisme. Begitulah yang bisa kami garisbawahi motivasi para sedulur mengikuti kegiatan SO. Jika ada kegiatan meditasi, olah nafas, dan lainnya, semua itu adalah bonus. Namun bagi yang berharap ada nuansa politik tentu kecewa, karena tak ada nuansa politik praktis samasekali. Kegiatan ini memang bukan untuk mengurusi persoalan politik praktis.

Setiap SO pasti ada nuansa yang berbeda, termasuk pada kegiatan SO-4 tanggal 2-3 Nopember ini. Bukan sekedar beda beberapa lokasi yang dikunjungi, tetapi beda situasi dan kondisi, serta berbeda pula  pesan-pesan yang ada. Kali ini perbedaan paling utama ada pada saat menjelang siklus Suro Moncer, 1 Sura 1947 taun alip, dengan sinengkalan Sapta tirta nembus bumi, panca geni nyuceni jagad“.

KOTAGEDE

IMG_0696Kenapa acara selalu kami awali dari Kotagede? Jawabnya simpel, karena di situlah tempat di mana cikal bakal leluhur yang telah berjasa melakukan babad alas membuka distrik pemerintahan di bawah panji Mataram. Berdirinya Mataram sebagai eksistensi generasi penerus Majapahit (Majapahit Baru), bahkan eksistensi itu masih ada hingga sekarang sebagaimana pernah diisyaratkan oleh Sri Narpati Prabu Brawijaya 5 sebelum muksa di Hargo Dalem puncak gunung Lawu. Apalagi lokasinya termasuk mudah dijangkau oleh tim panpel. Di dalam bangunan utama Pasarean Raja-raja Mataram Kuthogede terdapat banyak batu nisan makam para leluhur besar Nusantara. Di antaranya adalah Ki Ageng Mataram atau Ki Ageng Pemanahan, Nyi Ageng Nis, Pangeran Jayaprana, Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya), Kanjeng Panembahan Senopati Ing Alaga, Kanjeng Ratu Retno Dumilah & Kanjeng Ratu Kalinyakmat. Raden Ronggo, Pangeran Sedo Krapyak, Ki Juru Martani, Sri Sultan Hamengku Buwono II, Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Sinuhun Pakualam Pertama dan keluarga. Masih terdapat lagi tempat pasamaden bernama Soko Guru sebagai lambang kemakmuran. Dan terdapat pula salah satu pusaka Kanjeng Panembahan Senopati bernama Balok Kyai Tunggul Wulung yang digunakan saat topo ngeli menyusuri kali Opak hingga ke muara laut selatan. Di lingkungan kompleks Pasarean juga terdapat tempat untuk penyucian diri bernama Sendang Seliran, terdiri dua sendang yakni sendang Kakung dan sendang Putri. Salah satu keistimewaan sendang Seliran karena di dalam kolam yang tak pernah surut sepanjang zaman itu terdapat seekor lele reges, yakni lele hidup yang hanya terdiri dari kepala dan duri saja. Siapa pun yang kebetulan dapat melihat lele reges di dalam sendang, itu merupakan pertanda dirinya akan mendapatkan anugrah keberuntungan yang besar. Pasarean Agung Raja-raja Mataram lebih tua dari Pasarean Agung Pajimatan Imogiri. Namun kedua makam itu dapat menjadi indikator utama berhasil-tidaknya seseorang menjadi pemimpin tertinggi di Republik Indonesia. Siapapun calon Presiden atau Cawapres jika tidak melaksanakan pisowanan agung di kedua Pasarean itu dapat dipastikan tidak akan berhasil menjadi Presiden atau Wakil Presiden. Yang melakukan saja belum tentu “diterima” apalagi yang tidak melakukan pisowanan. Bagi calon yang melakukan pisowanan akan mendapatkan semacam pralampita apakah kelak dirinya berhasil atau tidak. Bahkan khususnya di Pajimatan Agung Imogiri, pralampita dapat disaksikan oleh orang lain melalui pusaka enceh, yakni gentong pusaka yang berisi air. Di salah satu gentong pusaka itu bisa memunculkan sosok wajah seseorang yang akan menjadi calon Presiden di waktu yang akan datang.

IMG_0898Puji sukur kepada Sang Hyang Jagadnata, terimakasih yang sebesarnya kepada para leluhur besar Pasarean Agung Kotagedhe Raja-raja Mataram. Saat itu sudah menunggu di lokasi, adalah Kanjeng Panembahan Senopati, Ki Juru Taman, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Sri Sultan HB II, dan beberapa lainnya. Kami biso rumongso, kita ini siapa, kita ini wong cilik, mereka adalah para Ratugung Binatara. Tetapi begitu peduli kepada kita semua. Saya tahu, semua itu berkat ketulusan dulur-dulur semua dalam menghaturkan sembah pangabekti kepada para pendahulu yang telah berjasa untuk Nusantara. Kita bisa mengadopsi sifat rendah hati para Ratugung Binatara. Agar tidak menjadi manusia yang adigang adigung adiguna. Yakni sikap arogan, sombong, takabur, mentang-mentang, dan aji mumpung.

ASAS KEPANTASAN

Pukul 14.00 Wib sebagian panpel mulai mempersiapkan peralatan dan kelengkapan untuk acara SO di lokasi halaman Pasarean Agung Kuthogede Mataram dengan harapan agar kegiatan kali ini lebih disiplin waktu hingga jangan sampai berakhir kemalaman. Pukul 16.30 wib ketua Panpel Mas Irwan dari Jakarta menyambut dengan untaian makna Spiritual Odyssey seperti dikiaskan ngumpulake balung pisah, lan ngraketake balung sing wis ngumpul. Untuk mengumpulkan tulang berpisah dan merekatkan tulang-tulang yang sudah berkumpul. SO sebagai sarana menyambung tali paseduluran dengan prinsip saling asah asih asuh. Bukan saling menggurui. Ziarah yang dilakukan pun bukan atas pamrih kepentingan pribadi, tetapi demi mewujudkan sikap hormat, menghargai, dan rasa berbakti kepada kedua orang tua, kepada leluhur yang menurunkan kita, dan para leluhur perintis bangsa yang telah mewariskan pusaka berupa tanah perdikan NKRI. Semua itu menjadi kode etik KKS. Bukan panpel yang membentuk kode etik, tetapi kita sekedar menggunakan standar hukum alam yang wajar-wajar saja, dan tentunya seperti yang telah diajarkan oleh para leluhur. Siapapun bisa saja mengalami proses seleksi alam bila gagal membangun sikap perilaku dalam tolok ukur kewajaran itu.

SUATU WEWALER (sunda : “PAMALI”)

IMG_0959Jikalaupun ada suatu hajat yang ingin diutarakan, tetap harus memperhatikan asas kepantasan. Misalnya kita melakukan ritual ziarah ke makam leluhur untuk mendapatkan restu menjadi Bupati, Walikota, Gubernur, bahkan Presiden, sah-sah saja, boleh-boleh saja asalkan kita tetap menggunakan tolok ukur nilai kepantasan. Sudah pantas kah kita menjadi seorang Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden? Apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat ? Prestasi apa yang sudah dapat kita raih? Adakah kita memiliki kredibilitas dan kapabilitas untuk menjadi Bupati, Walikota, Gubernur dan seterusnya? Sudahkah kita berkompeten menduduki kursi jabatan tersebut? Semua itu merupakan pertanyaan yang harus kita jawab secara cermat, teliti, obyektif dan sejujur-jujurnya. Bukan jawaban yang menghibur diri sendiri.  Bagi yangs edang mengalami kesulitan hidup, kita pun tak perlu mendikte leluhur. Dengan meminta secara rinci apa yang menjadi kehendak kita. Leluhur lebih bijaksana, lebih memahami dan lebih awas dibanding dengan penglihatan lahir dan batin kita. Leluhur tidak bisa ditipu dan dikelabuhi. Jikalaupun Anda minta dibantu dalam usaha mendapatkan proyek, itupun haruslah proyek yang tidak melanggar asas keadilan dan kebenaran,  bukan proyek yang hakekatnya merampok uang Negara, bukan pula proyek yang merugikan atau mencelakai masyarakat banyak. Kalau ada yang mempunyai hasrat seperti itu, saya tegaskan SO bukanlah tempatnya. SO bukan untuk mencari pesugihan dan usaha mewujudkan nafsu keserakahan. Pasti akan segera terkena proses seleksi alam.

CEPURI & PARANGKUSUMO

IMG_1077Bagaikan napak tilas, diawali pisowanan kepada Kanjeng Panembahan Senopati yang sedang melakukan prihatin topo ngeli, menghanyutkan diri sepanjang kali Opak dengan menaiki balok kayu jati ukuran 500×25 cm. Logikanya balok kayu jati sifatnya berat dan padat, sehingga tidak terapung jika dimasukkan ke dalam air. Itu artinya, justru Kanjeng Panembahan Senopati ing Alogo (KPSiA) lah melalui kesaktiannya sehingga balok kayu jati itu mengapung di permukaan air. Dan beliau bersila di atas kayu sepanjang kali Opak menuju pantai Parangkusumo. Pukul 22.00 wib tepat, setelah berpamitan dengan sagung para Nata ingkang sumare di Pajimatan Agung Kuthagedhe Mataram, kami meninggalkan pelataran Pasarean Agung kemudian dengan 2 medium bus dan 2 mobil pribadi menuju Cepuri dan Pantai Parangkusumo. Di Cepuri itulah terdapat batu cinta yang pernah menjadi momentum sejarah romantika. Di batu itulah pertemuan antara KRK dengan KPSiA terjadi sebagaimana dikisahkan dalam serat Wedhatama pupuh Sinom podo 18 sebuah masterpiece Eyang Gusti Mangkunegoro IV :

Serat Wedhatama
Pupuh Sinom podo 18
 
Wikan wengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda

PUTAR TEMBANG DI SINI

 
Memahami kekuasaan di dalam samodra 
seluruhnya telah dijelajahi,
“kesaktian” melimputi seluruh panca indera
Bagaikan ungkapan : 
cukup dalam satu genggaman saja 
Sudah mampu dikuasai  
Hingga bertemu yang mulia Kangjeng Ratu Kidul, yang sedang melesat terbang menggapai awang-awang (“patrol”),
datang menghadap dengan penuh hormat,
kepada Wong Agung dari Ngeksigondo Kanjeng Panembahan Senopati

Kita bukan lagi sekedar mendengar cerita, atau membaca kisah di dalam buku cerita yang seringkali dianggap mitos atau mitologi. Saat itu kita benar-benar berada di lokasi yang termaktub dalam sejarah  yang ditoreh para waskita dalam sastra Jawa masa lalu. Kita juga bersama-sama menembangkan sastra kuno yang memuat kisah perjalanan spiritual serta kisah-kasih antara Kanjeng Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kisah cinta antara bangsa manusia yang menjadi raja besar dengan bangsa widodari (kadewatan) yang jumeneng ratu. Kisah bukanlah mitologi (keyakinan). Kisah adalah fakta empiris dan rasionalis. Baik yang melimputi fenomena maupun noumena. Berbeda dengan keyakinan atau mitologi, the myth. Di mana keyakinan sifatnya tidak memerlukan fakta empiris rasionalism. Sehingga keyakinan tidak dikategorikan ilmu pengetahuan dan bukan ilmiah. Keyakinan juga tidak membutuhkan dasar empiris dan rasionalism. Sebaliknya, keyakinan akan memandang segala sesuatunya cukup melalui perspektif irasionalisme non empirism. Sementara itu ilmu spiritual berdasarkan ngelmu kasunyatan, atau ilmu yang berdasarkan pada fakta, material dan fakta imaterial (noumena). Namun sangat disayangkan, di zaman yang serba kuwalik ini dalam memahami sesuatu seringkali terbalik. Itu disebabkan oleh dangkalnya pengetahuan spiritual. sebagai contoh, mitos dianggap fakta, sementara itu fakta malah dianggap mitos. Sebagai masyarakat Indonesia yang bercita-cita ingin menjadi bangsa yang cerdas maka sudah saatnya kita mampu dan mau membedakan mana keyakinanisme, mana ilmu pengetahuan, mana pula spiritualisme. Sebab berbagai penelitian sudah pernah dilakukan korelasi antara keyakinan dan tingkat kecerdasan suatu masyarakat. Hasilnya sungguh tidak mengagetkan, semakin pekat keyakinan mewarnai pola pikir (mindset) seseorang, maka ia semakin rendah kecerdasannya.  Sebaliknya, semakin tinggi kadar kesadaran spiritualitas seseorang maka ia semakin cerdas pula. Sekali lagi saya tegaskan, antara keyakinan dengan spiritualisme sangatlah berbeda.

Kembali terucap rasa sukur kepada Gusti Sang Hyang Jagadnata, terimakasih kepada Kanjeng Ratu Kidul yang telah berkenan rawuh, menunggui kita semua saat berada di Cepuri. Beliau sudah berjanji sejak 5 hari sebelum SO saat kami memohon ijin untuk menggunakan Cepuri sebagai salah satu lokasi SO-4. Beliau dengan gerakan lembut bagaikan gerakan menari, berucap singkat padat,”pengestuku tansah mbayu mili yo nggeer !”. Pengestu (restu) kepada siapapun yang mampu berselaras, harmonis, arif dan bijaksana dalam memahami alam semesta. Begitulah kearifan Sang Ratugung Binatara yang bijaksana dan sakti mandraguna tapi penuh kerendahan hati. Keberadaannya di muka bumi sungguh berguna untuk menjaga system keseimbangan alam sehingga apa yang beliau lakukan dapat memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. Tidak seperti sangkaan dan tuduhan sebagian orang yang tega hati. Kami sampaikan apa adanya, meskipun kadang ada yang menuduh telah memanipulasi leluhur, tentu saja pendapat itu keluar dari orang yang ora nggaduk ngelmune, ora biso nggayuh kawicaksananing Gusti, atau kecewa karena tujuannya tidak tercapai akibat ulah perilakunya sendiri yang gagal menyelaraskan diri dengan hukum alam. Kami tak risau sama sekali dengan penilaian subyektif, karena bukti (realitas obyektif) lebih mampu berbicara. Kami justru ngelus dada, mau nemui apa orang seperti itu, orang yang tidak sadar jika dirinya sedang tidak sadar, orang yang tidak tahu jika dirinya sesungguhnya tidak tahu. Marilah sedulur-sedulur, terutama sedulur yang pernah mengikuti SO, jangan sampai hidup kita asik dan sibuk merusak tatanan, merusak ketentraman orang, lebih baik fokuskan pada cita-cita luhur masing-masing pribadi agar hidup kita berguna untuk orang-orang terdekat, untuk banyak orang, nusa dan bangsa. Fokuslah berkarya nyata, carilah makan dari bidang pekerjaan yang konkrit sesuai keahlian kita masing-masing dan dengan cara terhormat, penuh etika, serta tidak merampas hak orang lain, dan makanlah hanya rejeki yang halal saja. Jika tidak, cepat atau lambat hukum alam akan melibas diri Anda.

SAPTA TIRTA

IMG_1208Salah satu lokasi untuk kegiatan SO~4 adalah petilasan Pangeran Sambernyawa, yakni sumber air Sapta Tirta di kelurahan Pablengan Kecamatan Matesih Kab Karanganyar. Pada saat panpel mendapatkan wisik kemudian menentukan lokasi Sapta Tirta sebagai salah satu rangkaian acara SO, kami semua belum menyadari bahwa tahun 1947 alip (5 Nop 2013 – 26 Okt 2014) memiliki sinengkalan atau condrosengkolo yakni  “sapta tirta nembus bumi“. Kejadian ini tentu bukan kebetulan, sebab lokasi Sapta Tirta yang kami kunjungi pun bukan dengan sekehendak hati. Kami mencoba untuk dapatkan melalui sebuah wisik atau petunjuk langsung. Barulah setelah 2 hari pasca SO~4 kami kroscek ternyata benar, Suro Moncer 1947 yang dimulai Selasa Pon tanggal 5 Nopember 2013 memiliki sinengkalan atau condrosengkolo  yakni  “sapta tirta nembus bumi“.

Kami masih berusaha mengupas apa makna sesungguhnya dari sinengkalan tersebut. Jika ditelaah, sinengkalan tersebut terdapat beberapa makna. Tujuh sumber mata air meresap ke dalam bumi, gunanya untuk menyucikan bumi, dan bila air tersebut meresap jauh ke dalam tanah akan menciptakan kelembaban pada kedalaman tanah sehingga berguna untuk mengurangi terjadinya gempa bumi sebab lempeng bumi menjadi lebih lentur. Namun demikian efeknya adalah permukaan tanah menjadi lebih kering, bahkan bisa jadi curah hujan akan menurun di saat musim penghujan. Jika kemungkinan kedua ini yang terjadi, maka wajar saja fenomena alam saat ini di mana musim hujan yang sudah sempat terjadi di pertengahan hingga akhir Oktober 2013 tiba-tiba hilang, beberapa hari menjelang bulan Suro cuaca kembali menjadi panas.

Apabila meresapnya air ke dalam bumi merupakan peristiwa di mana bumi sedang menyucikan dirinya, maka kita pribadi sebagai jagad kecil  idealnya juga harus menyucikan diri, lebih utamanya di 7 sumber mata air, 7 muara, atau air yang diambil dari 7 sumur berbeda. Untuk itu sedulur-sedulur peserta SO~4 sudah ideal sekali  menyucikan diri di Sapta Tirta Pablengan, Matesih, Karanganyar, Jateng pada saat menjelang Suro Moncer tahun 1947 sinengkalan sapta tirta nembus bumi“.

Tidak cukup dengan memanfaatkan air dari 7 sumber peninggalan Pangeran Sambernyawa itu. Sedulur-sedulur menjalani ritual penyucian diri dengan tata cara yang pas dan pener sesuai dengan urutan sumber air di Sapta Tirta. Dan melakukan manekung dengan mengucapkan japa mantra yang diambil dari Serat Wedhatama Pupuh Pangkur podo kaping 13 sebuah sastra ilmu spiritual yang berisikan “epistemologi” karya KGPAA Mangkunegoro IV. Epistemologi yang saya maksudkan adalah, Serat Wedhatama bukanlah “ikan”, bukan pula sekedar “kail”, melainkan ilmu bagaimana cara membuat “kail” yang hebat yang mampu menghasilkan ikan-ikan besar dan berjumlah banyak.

Saat panpel dan peserta melakukan meditasi bersama, kami merasakan dan menyaksikan kehadiran Pangeran Sambernyawa atau KGPAA MN I. Kami haturkan sembah pangabekti, terimakasih yang tidak terhingga. Karena beliau berkenan hadir untuk memberikan restu dan mencharge energy kepada semuanya yang hadir dan ikut meditasi di depan Sasana Pamelengan dengan tujuan untuk manages kepada Sang Hyang Jagadnata dan mohon restu kepada para leluhur yang menjaga Sapta Tirta. Dalam keheningan meditasi kami lantunkan semuah tembang mantra yang memang dikhususkan untuk olah pasamaden di Sasana Pamelengan. Tembang mantra itu adalah Serat Wedhatama Pupuh Pangkur podo 13 sebagai berikut :

Serat Wedhatama
Pupuh Pangkur podo 13
 
Tan samar pamoring sukma
Suniksmaya winahya ing asepi
Sinimpen telenging kalbu
Pambukaning warana
Tarlen saking liyep layaping aluyup
Pinda pesating sumpeno
Sumusing rasa jati

PUTAR TEMBANG DI SINI

 
Tidaklah saat sukma menyatu
Meresap terpatri dalam keheningan semedi
Diendapkan dalam lubuk hati
Menjadi pembuka tabir
Berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
Seperti saat terlepasnya mimpi
Disitulah merasuknya rasa yang sejati

Tembangkan atau ucapkan dalam olah samadi, pahami makna untaian kata demi kata dalam kalimat yang maknanya begitu dalam itu. Kemudian rasakan, hayati, dan Tetap fokus pada titik konsentrasi. Anda akan merasakan suatu kekuatan positif yang tidak lazim. Itulah karya para leluhur besar, para waskita yang pernah berjuang untuk Nusantara demi mewariskan pusaka bumi pertiwi kepada kita semua generasi bangsa yang masih hidup hingga hari ini. Siapa berani menjadi penghianat dan mendurhakai mereka, tentu tidak akan luput dari sistem pengadilan alam semesta.

Lokasi SO-4 di Sapta Tirta bukanlah kebetulan. Kita dituntun oleh kekuatan alam yang berpihak kepada kita semua. Satu-persatu kita semua menjalani ritual di sumber air dengan memperhatikan tata urutan yang tepat sesuai level laku prihatin dari tingkat dasar hingga meraih kamulyaning gesang. Ritual itu sekaligus mengingatkan kita bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini secara tepat dan pener agar dapat menyongsong zaman moncer. Kesuksesan jangan sampai diraih dengan cara-cara tidak terhormat dan kotor agar tidak menjadi racun di esok hari, yang meracuni diri sendiri maupun anak cucu kelak kemudian hari. Saya berdoa, khsusunya untuk para sedulur peserta SO-4 dan seluruh panpel yang telah melakoni ritual di Sapta Tirta dapat menjadi pribadi yang resik lair & batin serta siap melangkahkan kaki menyongsong tahun moncer dengan berbagai kesuksesan. Demikian pula kepada sedulur-sedulur di manapun berada, para pembaca yang budiman, benar-benar dapat mensucikan diri dengan caranya masing-masing. Sebagai bekal mengarungi samudra kehidupan di tahun 1947 alip, 05 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

PANCA AGNI NYUCENI  JAGAD

Beberapa hari sebelum acara SO-4 cuaca di Jogja dan sekitarnya mulai turun hujan lebat kadang disertai badai. Pada hari Jumat tanggal 1 Nopember 2013 atau sehari menjelang acara SO-4     dilangsungkan cuaca berubah menjadi panas hingga saat menjelang akhir acara barulah mulai turun hujan lebat dan angin. Alam semesta seolah memberikan kabar pada kita semua akan sinengkalan yang terjadi di tahun Jawa 1947 yakni panca agni nyuceni jagad. Hawa panas sekitar 3 hari mirip seperti uap api yang keluar dari dalam bumi. Biarkan uap api itu membakar nafsu serakah dan angkara murka. Panca agni akan membakar “sampah-sampah” kehidupan di permukaan bumi, agar jagad ini perlahan kembali menjadi bersih. Api akan membakar orang-orang yang suka “membakar” sesama manusia dan makhluk hidup. Jika kita berharap selamat dan terhindar dai seleksi panca agni mudah saja caranya. Eling dan waspada, berikan dan ciptakan sarana kehidupan untuk seluruh makhluk hidup di muka bumi ini.

Memasuki bulan Suro, masyarakat yang masih memegang nilai kearifan lokal akan menjalankan tradisi Jawa ritual jamasan pusaka. Ritual jamasan yang esensinya adalah mensucikan, tidak hanya dilakukan pada benda-benda pusaka saja. Namun lebih utama adalah “jamasan” lahir dan batin untuk setiap pribadi yang tidak hilang kejawaannya. Sedulur-sedulur peserta SO kami ajak bersama-sama melakukan ritual jamasan. Mensucikan lahir dan batin dalam suatu rangkaian perjalanan spiritual.

ASTANA GIRILAYU

IMG_1278Pukul 07.30 pagi seluruh rombongan telah sampai di kompleks Astana Girilayu yang berada dipuncak bukit areal kaki gunung Lawu. Udara sangat sejuk, air yang masih seperti es, embun pagi yang belum beranjak sirna, suara kicau burung, membuat suasan begitu eksotis dan sakral. Kenapa kita di Astana Girilayu ? Sungguh, kita sedang mencontoh perilaku dan kearifan seroang raja yang arif dan bijaksana. Sukses lahir dan batin. Raja yang sugih bondo, sugih ngelmu, sugih kuwasa. Raja yang kaya harta, kaya ilmu, dan memiliki wibawa serta otoritas besar. Beliau terkenal dengan kemampuannya mengusir penjajah Belanda tanpa menimbulkan korban di keduabelah pihak. Cukup dengan tulisan, beliau berkuasa mengusir pemerintah kolonial Belanda di tanah Jawa, tanpa harus menelan korban jiwa dan harta. Beliaulah Eyang Gusti Ingkang Wicaksana Sri Mangkunegoro kaping 4 atau KGPAA MN IV. Bersukur dan terimakasih sebab beliau bersama permaisuri yakni Eyang Gusti Respati Madularas berada di lokasi, sepertinya memang menunggu dan sudah mengetahui jadwal detil Beliau seorang seniman, budayawan, politisi handal, pengatur siasat perang yang jitu, pengusaha, ahli ekonomi dsb. Salah satu karya materpiece beliau adalah gending Ketawang Puspowarna yang masuk seleksi di antara 50 keping piringan hitam seni musik dunia yang diputar oleh NASA di angkasa luar pada ketinggian 5 milyar 500  ribu km dari permukaan bumi. Dan hanya dua piringan hitam yang lantunan iramanya selaras dengan frekuensi makrokosmos medan magnet galaktika. Bahkan konon merupakan musik yang mempunyai daya tarik terhadap UFO.

IMG_1496Dalam spiritualisme, KGPAA MN IV mengingatkan kepada kita agar menjadi manusia sejati. Manusia sejati adalah orang yang dalam dirinya terdapat 3 predikat yakni, sugih ngelmu, sugih bondo, dan sugih kuasa. Predikat dan prestasi itu diraih dengan modal utama berupa SUGIH ATI atau kaya hati. Maka menjadikan ketiga macam prestasi itu sebagai sarana untuk melaksanakan prihatin level tinggi. Dengan sugih bondo, kita mampu berbuat banyak untuk menolong orang. Dengan sugih ngelmu kita bisa lebih banyak berbagi ilmu untuk mencerdaskan bangsa, menumbuhkan wibawa, dan integritas. Dengan sugih kuasa kita mampu mengendalikan diri, dan melindungi yang lemah. Pada gilirannya, dengan instrumen tiga macam kekayaan itu kita harus mampu menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, dan ketentraman untuk banyak orang. Bila tak satupun dari ketiga macam kekayaan itu dapat kita raih, maka diibaratkan masih lebih berharga daun jati kering dibanding diri kita.

Mahakarya sastra Nusantara Serat Wedhatama karya KGPAA MN IV bukanlah sembarang tulisan, bahkan telah diakui dunia sebagai salah satu khasanah kekayaan intelektual dan spiritual milik dunia yang harus dilestarikan dan dilindungi. Saya pribadi menilai, bila Serat Wedhatama diumpamakan dalam kiasan “ikan & kail”. Maka Serat Wedhatama bukanlah sekedar ikan, bukan pula  sebatas kail. Serat Wedhatama adalah ilmu tentang bagaimana membuat kail yang hebat dan canggih yang bisa untuk mengail ikan-ikan besar dan banyak. Dengan kata lain, Serat Wedhatama adalah sepadan dengan epistemologi. Yakni ilmu tentang bagaimana mencari ilmu. Untuk itu, saya sekedar menghantarkan sedulur-sedulur SO-4. Posisi saya sebagai ing madya mangun karsa, tut wuru handayani, untuk sedulur-sedulur dalam menjalani laku prihatin. Berhasil-tidaknya, atau besar-kecilnya ilmu yang berhasil sedulur-sedulur raih, semuanya tergantung pada tingkat keseriusan masing-masing dalam berusaha. Sebisa mungkin diterapkan dalam laku hidup sehari-hari sebagaimana pesan Eyang KGPAA MN IV berikut ini :

Serat Wedhatama
Pupuh Pucung Podo 33
 
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase klawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya, Pangekese dur angkara

PUTAR TEMBANG DI SINI

 
Ilmu yang sejati
Hanya dapat diraih dengan cara menghayatinya dalam perilaku & perbuatan nyata
Dimulai dengan adanya kemauan
Kemauan untuk memberikan kehidupan terhadap sesama
Teguh memegang budi pekerti luhur
Dengan mengendalikan semua angkara murka

IMG_1603Di pelataran Astana Girilayu yang cukup luas, pada ketinggian sekitar 800mdpl di kaki Gunung Lawu ini tampak sangat bersih, rapi dan udara terasa sangat sejuk. Kami manfaatkan untuk belajar olah nafas dan meditasi. Kamin semua lakukan nafas Pancer. Untuk mensinergikan diri kita sebagai mikrokosmos yang posisinya berada di bawah Bopo Angkasa yang menyimpan energi medan magnet galaktika, dan di atas Ibu Bumi yang menyimpan ground energy yang sangat dahsyat. Kedua sumber energi itu bila bertemu akan menghasilkan arus listrik sangat tinggi. Seperti halnya hubungan arus pendek antara ion positif dan negatif. Ion positif yang ada di angkasa, dan ion negatif yang berasal dari bumi. Diri pribadi kita sebagai pancer atau pusat di antara dua kekuatan alam tersebut. Diri kita diposisikan sebagai accu atau rechargable batery.

Selanjutnya kita bersama-sama belajar melantunkan tembang Wedhatama Pupuh Pangkur podo kaping 1-2. Namun kami mendapatkan kritikan dari Eyang Gusti MN IV kata beliau rekaman gending pengiringnya tidak bagus, dan kurang pas racikannya. “Iya, saya akui karena suara gambang dan gender-nya memang hanya menggunakan rekaman keyboard.” Meskipun demikian Eyang Gusti sempat memuji sedulur-sedulur, yang berusaha dan belajar dengan gigih nembang pangkur, sekalipun logatnya lidah Jakarte. Kita rasakan energinya begitu dahsyat, karena suara tembang itu keluar dari ketulusan hati yang cukup mendalam, dihayati, dan diucapkan secara live serta dilakukan secara bersama-sama. Saat itulah jika ada yang membawa alat pengukur energy pasti bisa membuktikan sendiri.

Saat pisowanan (nyekar) seluruh peserta SO-4 atu persatu masuk ke dalam bangunan utama Pasarean Eyang Gusti MN IV. Saya sudah menduga mayoritas peserta tidak akan kuat menahan getaran dahsyat yang bertebaran di sekitar areal bangunan utama. Apalagi saat kami semua berada di dalam bangunan utama itu sambil menembangkan Serat Wedhatama. Segala macam perasaan yang tersimpan jauh di lubuk hati, tumpah ruah keluar menjadi hujan air mata. Kami saksikan sendiri Eyang Gusti MN IV kakung-putri pun tampak menitikkan air mata haru. Biarlah peristiwa itu menjadi penguras segala beban hidup. Tumpahkanlah segenap kegelisahan, kegundahan, kegalauan atas lika-liku pahit getirnya kehidupan agar suasana hati kembali menjadi plong.

Jika kita tak cukup tenaga merubah keadaan yang sudah sedemikian carut-marut, jika kuping para pemegang otoritas politik seolah budeg, jika mata hati para pejabat dan penguasa seolah mengidap rabun senja, jika orang-orang terdekat kita tak cukup kuat merubah keadaan, jika tempat untuk bersandar telah roboh, lantas kepada siapa kita mengadu, meronta, menumpahkan segala perasaan jika bukan kepada para supernatural being, yang jelas-jelas memiliki kemampuan. Kita berharap kedua orang tua, kakek nenek, kepada para leluhur untuk  memberikan doa restunya kepada diri kita sebagai bekal sipat kandel dalam mengarungi samudra kehidupan.

Mengadu kepada Tuhan adalah hal lazim dan memang sudah sewajarnya dilakukan kebanyakan orang. Tetapi kita harus mampu menelaah sekaligus jujur mengakui bahwa mengadu kepada Tuhan adalah bentuk usaha  yang paling minim dan lemah. Sambil berpangku tangan pun bisa dilakukan, bahkan di manapun kita berada tanpa menggeser sedikitpun pantat dari tempat duduk pun bisa saja mengadu kepada Tuhan. Kita musti mulai sadar jika sedikit-sedikit mengadu kepada Tuhan hanya akan membuat manusia malas berusaha. Di zaman mutakhir ini tidak lagi dibutuhkan orang pemalas. Bukan lagi zamannya orang asik-masyuk mendem agama dan mabuk donga. Kita adalah generasi manusia yang dituntut untuk bicara secukupnya, tapi giat bekerja, belajar dan berusaha tanpa kenal lelah dan putus asa. Agar supaya tidak tergilas oleh roda dinamika zaman.

Bagi yang rajin doa kepada Tuhan, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Sudahkan Anda meminta restu kepada kedua orang tua, kepada kakek nenek, yang masih hidup maupun sudah hidup sebagai leluhur ? Tanpa restu dari beliau-beliau, apalah artinya upaya siang malam mendoa pada Tuhan ? Jangan terhenyak dan terbakar emosi dulu, tapi renungkan dalam kedalaman hati dengan sejujur-jujurnya.

SAHABAT MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI

IMG_1788Beberapa hari menjelang SO-4 cuaca di Jogja dan sekitarnya sudah memasuki musim penghujan. Setiap hari sudah terjadi hujan yang disertai angin. Namun sehari menjelang dilaksanakannya SO yakni mulai hari Jumat 1 Nop 2013, hingga hari pelaksanaan Sabtu dan Minggu siang cuaca tampak cerah. Saat kami selesai melaksanakan kegiatan di lokasi Astana Girilayu di Matesih, selajutnya berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi berikutnya. Namun sebelum beranjak meninggalkan Astana Girilayu kami sarankan agar seluruh panpel dan sedulur-sedulur peserta SO mengeluarkan jas hujan dari tas dan agar disimpan di saku atau mempersiapkan jas hujan sedini mungkin. Karena sinyal yang kami terima, nanti di Merapi seluruh peserta SO-4 musti mendapatkan hujan sebagai tanda berkah alam kepada kita semua. Kita berencana nanti di lokasi Merapi sedikit membasahi tubuh kita dengan air hujan yang menjadi pertanda rejeki itu. Didahului oleh tim “foreiders” untuk mengkondisikan lokasi berikutnya. Pukul 11.30 wib rombongan kami terdiri 2 medium bus masing-masing berkapasitas 30 orang, diiringi 2 mobil pribadi pengangkut peralatan dan panpel, mulai bergerak perlahan menuruni bukit Girilayu beranjak menuju ke lereng selatan Gunung Merapi.

IMG_1683Waktu menunjukkan pukul 15.30 wib seluruh panpel dan peserta istirahat dan menikmati hidangan makan sambil mendengarkan uraian singkat soal Agni-Udaka-Maruta. Yakni 3 unsur spiritualitas yang membentuk konfigurasi garis lurus. Dari titik puncak Merapi, Tugu Jogja dan Cepuri Parangkusumo. Merapi sebagai simbol keluhuran spiritual, tugu Jogja melambangkan kehidupan di planet bumi atau kehidupan dalam masyarakat dan udaka di laut selatan yang melambangkan interaksi dengan dimensi metafisik. AUM melambangkan sebuah pola hubungan spiritual yang meliputi 3 dimensi yakni dimensi Ketuhanan, dimensi Kemanusiaan dan dimensi Metafisika. AUM memaparkan hubungan manusia dengan Ruh Jagad Agung, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dimensi gaib. Pola hubungan itu hendaklah sinergis dan harmonis agar seseorang menjadi pribadi mulia. Pribadi yang didukung oleh alam semesta, yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita luhur. Pribadi yang mudah sekali meraih sukses lahir dan batin dalam setiap usaha dan pekerjaannya.

Di lokasi lereng Merapi berada pada radius kurang lebih 7 km dari puncak Merapi. Kami haturkan salam persahabatan untuk semua sedulur penghuni Merapi. Sungguh kami tersanjung, saat itu sudah tampak menunggu di sana ada Ki Juru Taman yang bertugas menjaga di bagian selatan Merapi. Mbah Petruk yang bertugas menjaga di bagian barat laut Gunung Merapi, dan Nyai Semito yang tugasnya ada di teritorial Pasar Bubrah dan Sendang Pengantin. Terimakasih kepada ratusan penghuni Merapi yang tidak punya nama atau yang tidak kita ketahui namanya. Terimalah sikap persahabatan kami, sebagai ungkapan rasa saling welas asih, rasa menghargai sesama mahluk penghuni planet bumi, ,ita semua adalah sesama mahluk yang hidup saling berdampingan. Tak ada rasa permusuhan, tak ada sangkaan dan tuduhan negatif kepada mereka, dan di antara kita semua. Kita saling doa, murih antuka wilujeng tuwin kamulyan. Suasananya menjadi nyaman, damai, dan tampak gelagat alam semesta selalu menunjukkan keberpihakan kepada kita semua.

Di dalam getaran rahsa sejati kami tebarkan energi sungsang buwana walik, suatu spektrum energi holistik, universal dan unifikasi mikrokosmos dengan makrokosmos :

“Nga tha ba ga ma, nya ya ja dha pa, la wa sa ta da, ka ra ca na ha, sejatine datan ana apa-apa, kang ana amung Ingsun sejati“

“Tak ada lagi ego & klaim utusan, tak ada lagi perselisihan & permusuhan, tak ada lagi yang menang maupun kalah, tak ada lagi kehancuran dan kematian. Sesungguhnya tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah Ingsun Sejati”.

Beberapa menit lamanya kami sempat melakukan olah nafas penyelarasan dan penyerapan. Kita manfaatkan energi berlimpah yang memang telah “dijanjikan” oleh Merapi untuk dihidangkan kepada siapapun tamu-tamu yang bersahabat.

IMG_1894Hidangan energi berlimpah ruah dari Merapi sebagai suguhan kepada kita semua. Begitulah kearifan alam semesta mensikapi setiap tamu asalkan di dalam hatinya penuh rasa welas asih dan sikap persahabatan. Anda semua dalam kapasitas sebagai tamu yang ditunggu-tunggu karena membawa sikap persahabatan dengan lingkungan alam. Getaran welas asih dan ketulusan yang Anda pancarkan dari kedalaman rahsa sejati merupakan bahasa universal tanpa huruf, tanpa kata-kata dan kalimat, tetapi mempunyai kedalaman makna. Dirangkum dalam bahasa universal yang mampu melampaui sekat-sekat fisik dan non fisik. Mampu melampaui kendala ruang dan waktu yang membatasi kita semua.

Tak berapa lama setelah melakukan olah nafas dan olah batin, hujan yang telah dijanjikan itu akhirnya benar-benar terjadi.  Kami biarkan sejenak tubuh kita disiram oleh bulir-bulir air yang jatuh dari angkasa. Terasa sejuk menyegarkan hati dan pikiran. Puji sukur kepada Roh Jagad Agung, terimakasih kepada para leluhur, kepada Romo Panembahan Bodo yang setia mengawal perjalanan kami, terimakasih kepada seluruh mahluk yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Kita sama-sama penghuni Nusantara yang hendak berbakti kepada bumi pertiwi.

AKUMULASI ENERGI

Energi alam yang berasal dari kelima lokasi SO-4 yakni Pasarean Agung Kotagede, Cepuri Parangkusumo, Sapta Tirta, Astana Girilayu, Merapi dan tambahan lagi ritual agung topo mbisu mubeng benteng pada Senin malamnya, bagi sedulur yang bisa mengikuti lebih terasa kekuatan besar ini berproses menyatu ke dalam diri, berakumulasi dengan energi yang diperoleh dari seluruh lokasi sebelumnya. Hasilnya adalah energi yang benar-benar besar dan kuat. Wajar saja bila kemudian masing-masing peserta, panpel dan siapapun yang terlibat dalam kegiatan, akan mengalami suatu efek seperti yang dirasakan oleh sebagian besar sedulur peserta SO-4. Efeknya beragam misalnya badan terasa lemas, seperti ada sensasi trance dan seperti melayang saat berjalan.  Bahkan banyak pula yang mengalami demam selama beberapa hari. Setelah proses tersebut selesai, artinya energi sudah manjing ajur ajer (menyatu-padu) ke dalam diri maka semua gejala itu akan sirna dengan sendirinya.

PENUTUP

IMG_1924Terimakasih saya ucapkan yang sedalam-dalamnya kepada seluruh Panpel yang telah menunjukkan kekompakan dan integritasnya, tetap solid walaupun banyak sekali tantangan dan hambatan sejak persiapan mulai dari badan tiba-tiba meriang, demam, pening dan seterusnya. Saya sadari semua itu dilakukan dengan tanpa upah, tanpa imbalan materi. Bahkan harus membeayai diri sendiri ongkos perjalanan. Tapi dengan penuh semangat sedulur-sedulur Panpel SO-4 telah menunjukkan ketulusannya dalam melayani sedulur-sedulur peserta SO-4 yang datang dari segala penjuru. Kita semua sedang berkarya membangun “jembatan emas” untuk kesuksesan hidup kita dan anak cucu kita kelak. Biarkan alam semesta mencatat apa yang panjenengan semua lakukan untuk memenuhi standar kewajaran sebagai wong urip ing alam donya kang bisa hanggayuh sejatining urip. Kekuatan Ruh Jagad Agung, kekuatan alam semesta pasti akan selalu berpihak kepada panjenengan semua. Berat ! Semoga panjenengan semua lolos uji dari seleksi alam.

Kepada sedulur SO-4 kami ucapkan terimakasih atas kekompakan & kerjasamanya yang begitu baik dalam setiap acara demi acara. Kami segenap Panpel dan tim KKS mohon maaf yang sebesarnya apabila dirasakan masih banyak kekurangan dalam melayani sedulur semua. Semoga akan lebih baik di waktu mendatang. SO-4 kali ini sungguh hikmat, hening, tetapi  baru sadar jika berat sekali pada saat acara telah usai. Terakhir untuk sedulur yang sudah mendaftar dan berhalangan hadir, jalanilah semua itu secara ikhlas  sebagai bentuk laku prihatin, tetap sabar dan topo ngeli. Kami segenap panpel dan dulur-dulur tak lupa mengirimkan doa untuk Panjenengan semua. Doa kami untuk seluruh sedulur-sedulur dan para pembaca yang budiman di manapun berada. Wilujeng rahayu kang tinemu, bondo lan begja kang teka saking kersaning Gusti. Semoga Panjenengan semua menjadi generasi bangsa yang merupakan bagian dari Satrianing Nagari. Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

…………………..

Video Inaugurasi Penutup

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 11, 2013, in ACARA KKS (Kadang Kadeyan Sabdalangit), Review SO~4 and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 53 Komentar.

  1. kapan diadakan lagi untuk tahun 2014 ini Ki?? mohon informasinya.

  2. Pengin jadi anggota sabdo langit gmna caraea ea.dan tepat almatea mana y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: