Pêpéling Ing Jaman Dahuru

PȆPÉLING ING JAMAN DAHURU

Sekedar pengingat di zaman huru-hara gejolak alam

Selaraskan & Harmoniskan diri Mikro-Makrokosmos
Eling dan Waspadha
Merubah Musibah & Bencana Menjadi Berkah & Anugrah

Jaman dahuru akèh hêra-hêru, bantala lir ginaru-garu, wong-wong padha mlayu, kadya gabah dèn intêri. Langit pêtêng ndhêdhêt lêlimêngan. Banjir bandhang, udan barat kilat thatit makêmpra lir cêmêthi-ning jagad, banyusêgara munggah daratan, daratan karoban toya darat, lindu sêdina kaping pitu, lêmah longsor lêmah padha mlaku. Gunung-gunung samya njêbluk, sawusé Sinabung lan Marapi ing tlatah kulon, Kelud ing wetan, banjur Mêrapi ing tlatah têngah, sanalika kairing panjêbluking 127 ardi gêni ing saindênging Nuswantara. Dénya samya diéling kalawan waspadha karêbèn lolos lulus sak sêla-sêlané waja garu. Sing jêjêg anggoné padha mlaku murih atêmahan wilujêng rahayu kang tinêmu, bandha lan bêgja kang têka. Jaya-jaya wijayanti. Kalis ing rubéda nir ing sambékala. Muriha bisa hanggayuh urip kang MONCÈR ing warsa moncèr iki.

Jika dikatakan prahara dan bencana tidaklah tepat. Jika dikatakan anugrah, belum tentu. Semua tergantung kepada diri kita masing-masing. Apakah mampu merubah musibah menjadi berkah ? Bagaimana cara kita merubah musibah dan bencana menjadi berkah dan anugrah ? Silahkan simak coretan berikut ini.

Berkah dan anugrah bagaikan piala tanda penghargaan atas suatu prestasi. Tanda penghargaan tidak akan diberikan kepada orang yang tidak berharga karena tidak berprestasi untuk kehidupan di planet bumi ini. Maksud saya orang yang berprestasi bukan jenis orang yang rajin melakukan upacara atau ritual agama. Melainkan orang yang rajin melakukan amal kebaikan (donodriyah) kepada seluruh mahluk dan lingkungan alam. Amal kebaikan yang penuh kasih dan dilakukan dengan ketulusan, tidak pilih kasih. Istilah amal kebaikan terlalu naïf, dan abstrak untuk dipahami. Lebih mudahnya kita dalam memahami amal kebaikan (dånådriyå), cukup dengan pemahaman simple yakni : hidup kita berguna untuk semua orang, tanpa pandang bulu golongan, agama, suku, ras, dan hidup kita ada gunanya untuk seluruh mahluk hidup lainnya. Disebut berguna apabila kita dapat memberikan KEHIDUPAN bagi seluruh mahluk. Hal yang sebaliknya terjadi apabila hidup kita hanya menciptakan kerusakan kepada sesama bangsa manusia, bahkan merusak kehidupan seluruh mahluk. Itu namanya kejahatan dan dosa besar.

Rubahlah Musibah & Bencana Menjadi Anugrah & Berkah

Orang yang mampu merubah musibah dan bencana menjadi berkah adalah orang yang mampu melakukan segala dånådriyå atau perbuatan positif yang berguna untuk kehidupan seluruh mahluk. Apa hubungan antara bencana, dånådriyå dan keselamatan ? Dånådriyå mempunyai fungsi utama untuk membangun keselarasan antara mikrokosmos (individu manusia) dengan makrokosmos (jagad raya dan hukum tata keseimbangannya). Keselarasan akan terjadi antara pribadi yang mempunyai sifat-sifat sebagaimana sifat alam semesta (lihat posting Pusaka Hasta Brata). Yakni selalu memberi kehidupan kepada seluruh mahluk, tulus tanpa pamrih, dan tak pernah pilih kasih. Sekalipun kepada penjahat, tetap saja alam memberikan oksigen dan air untuk kelangsungan hidupnya. Namun si penjahat tidak akan bisa lolos untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada hukum alam yang maha adil. Dengan dånådriyå berarti kita sudah semakin selaras dan harmonis terhadap hukum tata keseimbangan alam, hukum keadilan alam. Siapa saja yang hidupnya selaras tentu hukum alam akan menjamin keselamatan lahir batinnya. Begitulah Sang Hyang Jagadnata membuat suatu hukum atau rumus kehidupan di jagad raya ini. Hukum alam diciptakan oleh Sang Hyang Jagadnata untuk bekerja dalam mekanisme yang otomatis dapat mengadili setiap mahluk hidup berdasarkan prestasinya masing-masing. Dan hukum ala mini tidak pernah menyisakan secuilpun ketidakadilan. Masuk akal !

Oleh karena itu, saya simpulkan bahwa dengan melakukan dånådriyå secara kuantitatif (volume dan intensitas) dan kualitatif (ketulusan dan tepat sasaran) itu artinya kita sedang membangun “pagar gaib” yang akan melindungi diri kita dari segala macam bahaya akibat bencana alam maupun musibah kemanusiaan. Jika para pembaca yang budiman menyadari apa isi dan esensi tulisan ini, itu artinya sudah berada dalam tahap éling. Eling berarti juga menjiwai (jiwa). Dan apabila para pembaca yang budiman giat menerapkan apa yang sudah dipahami, sembari selalu melakukan evaluasi diri, itu artinya sudah berada dalam tahap waspadha. Waspada berarti juga mewujudkan apa yang sudah dijiwai (“mengeluarkan” jiwa ke dalam perbuatan nyata atau kajawa). Jawa merupakan ringkasan dari jiwa kang kajawa. Orang Jawa yang belum mengimplementasi apa yang dijiwainya berarti masih gak njawa. Kewaspadaan termasuk waspada dalam mencermati bahasa alam dan memahaminya secara tepat. Sebab hukum tata keseimbangan alam semesta ini sungguh maha adil. Setiap kali akan ada bencana alam, sebelumnya alam semesta sudah memberikan tanda-tandanya yang bisa oleh siapapun yang mau dan mampu membaca (ilmu sastra-jendra). Kemampuan seseorang membaca bahasa alam maupun melihat masa depan hingga 1 juta tahun ke depan tidaklah tepat dicap dan disangka akan mendahului kehendak tuhan. Jika Anda mau jujur dan berani menggunakan akal sehat, sebenarnya pendapat itu nadanya terasa janggal sekali. Semua orang tidak akan bisa mendahului kehendak Tuhan. Karena secara akal sehat Tuhan yang mahakuasa tidak akan bisa didahului oleh siapapun. Jika ada Tuhan yang bisa didahului kehendakNya, pastilah dia tuhan palsu yang ada dalam imajinasi pikiran (sadar dan bawah sadar) dan tertancap di dalam emosi (iman) saja. Monggo, mindset-nya boleh di-resetting lagi.

Perlu untuk merubah mindset secara tepat dalam memahami alam semesta dan apa sejatinya hidup ini, agar kita bisa melakukan dånådriyå dengan tepat sasaran. Pada gilirannya ketepatan sasaran itu sangat menentukan besar kecilnya prestasi kita memberikan manfaat untuk seluruh mahluk hidup. Dengan banyak melakukan dånådriyå, itu artinya kita sudah berada dalam lajur yang akan mengarah pada tujuan utama yakni keselamatan lahir batin dan lokasi di mana berkah anugrah berada.

Mari kita pahami musibah dan bencana Nasional bahkan dunia ini, sebagai suatu proses ujian kenaikan kelas. Atau kita pahami saja, kita sedang berada di arena kompetisi untuk melakukan prestasi hidup. Siapa yang prestasinya tinggi, tentu akan mendapatkan piala penghargaan tinggi dari alam. Sebaliknya siapa yang tidak berprestasi atau malah wanprestasi, tentu tidak akan luput dari vonis alam. Dan menjadikan kita sulit lolos dari celahnya garu (seleksi) alam.

Terakhir, kiat-kiat agar musibah dan bencana menjadi berkah dan anugrah, kita lolos lulus atas seleksi alam yang sedang terjadi. Kita semua tak perlu protes, tak perlu menolak, setulusnya biarkan mekanisme hukum alam melaksanakan tugasnya sendiri agar segera kabut hitam yang menggelayut di atas bumi Nusantara maupun berada dalam diri kita masing-masing segera tersibak menjadi terang benderang. Karena diri kita merupakan bagian dari alam itu sendiri. Bagi yang tidak terima dan tidak memahaminya, justru akan tergilas oleh dinamika alam semesta itu sendiri. Kita hanya perlu selaras dan harmonis dengan alam. Berhasil atau tidaknya penyelarasan dan harmonisasi butuh beragam ilmu pengetahuan dan spiritual. Tak cukup hanya mengandalkan satu atau dua disiplin ilmu saja, apalagi hanya mengandalkan dogma-dogma usang. Marilah buka mata hati, buka pikiran dan sudah saatnya mengkonstruksi mindset yang lebih canggih dalam memahami alam semesta dan kehidupan yang maha kompleks ini. Bergurulah kepada seluruh mahluk dan apapun benda yang tergeletak di muka bumi maupun yang tersimpan di dalam tanah. Yang melayang di awang-awang maupun yang ada di dalam rahasia kegaiban. Kenali jati diri, golèkono tapaké kuntul anglayang. Golèkono galihé kangkung.

Pralampita

Pada posting kali ini, sekaligus saya selipkan suatu fenomena alam. Bukan untuk menakuti sebaliknya agar kita lebih berhati-hati dalam meneruskan hidup di tahun ini supaya berhasil meraih kehidupan yang moncèr. BMKG dan BVMBG serta masyarakat tak perlu mebiasakan diri meremehkan pertanda alam apalagi menganggapnya sebagai hoax. Jika sikap itu semakin menjadi-jadi dan membudaya, maka kebodohan bangsa ini tak akan segera kunjung usai.

Prabu SentanuSentanu cropKonfigurasi awan Prabu Sentanu Edited

Coba perhatikan kedua gambar berikut ini. Keduanya berbentuk tokoh wayang Prabu Sentanu raja Hastinapura. Wayang Sentau ternyata melambangkan mangejawantahnya Kyai atau Mbah Sentanu yakni entitas hidup yang menjaga Gunung Merapi ada di posisi lereng utara. Kyai Sentanu muncul dalam bentuk konfigurasi awan pada tanggal 24 Januari 2014 sore hari jam 16.30 wib, atau 2 hari sebelum gempa Kebumen tanggal 26 Januari 2014. Dalam pewayangan Jawa, gambar Prabu Sentanu menghadap ke kanan. Tetapi dalam penampakan konfigurasi awan menghadap ke kiri. Dari sudut pandang saya waktu itu Prabu Sentanu menghadap ke arah kiri (utara) mengarah ke Gunung Merapi.

Kêmis wagé tanggal 30 Januari 2014 ini terjawab sudah apa makna di balik fenomena bahasa alam itu. Kyai Sêntanu sendiri menerangkan pratandha iku pada karo lindhu, banjir, tanah longsor lan sapiturute kang ana ing sadengah papan, untuk memberikan peringatan kepada bangsa manusia akan bahaya besar di sebelah utara (dari perspektif saya saat melihatnya yakni arah ke Gunung Merapi), aja mburu bandha, nyawa dipikiraké…! Pesan untuk seluruh manusia, jangan lupa diri berburu harta. Dan bagi masyarakat sekitar Merapi jangan mengutamakan harta bendanya, tapi di saat Merapi mulai bergejolak cepatlah mengungsi untuk menghargai nyawanya. Lebih lanjut, mêngko yèn wus titiwanciné Mêrapi bakal gung kobar lan ngêdalaké hawa panas kang panasé tikêl sêpuluhé duk rikala taun 2010. Kabèh kuwi mau amarga jagad nêmbé rêrêsik, panca agni nyucèni jagad, lan nata bantala supaya kahanan dadi tata titi têntrêm kêrta raharja.

Ya, memang demikian sudah klop dengan pesan para leluhur maupun pralampita bahwa tahun moncèr ini memang jagad sedang sesuci diri, melalui unsur air, udara, api dan tanah. Ke empat unsur alam sedang menata diri dan saat ini belumlah puncaknya. Menata dirinya alam ini, biasanya dibahasakan oleh manusia sebagai gejolak bencana alam.

Rubahlah Bencana Alam

Saudara-saudaraku semua, para pembaca yang budiman. Mari kita merubah pola pikir yang lebih arif dan bijaksana. Jika para gunung sudah mulai meletus, air laut banjir menerjang daratan di berbagai wilayah. Badai menyapu daratan. Api berkobar di mana-mana. Gempa sehari tujuh kali. Kita pahami bahwa bencana alam bukan untuk menteror makhluk hidup, melainkan fenomena alam yang alami dan wajar. Fenomena alam yang sering disebut sebagai bencana itu bukan untuk menteror dan mengintimidasi bangsa manusia dan bangsa lainnya. Akan tetapi fenomena alam itu bisa menjadi teror terhadap orang-orang yang gagal memahami apa artinya hidup ini. Dan menjadi “hantu” bagi orang yang gagal mencapai kesadaran spiritual kosmologis. Atau akan membuat stress dan kecut wajah bagi orang-orang yang mendem agomo dan mabuk donga. Bukan pula Tuhan sedang menjajal iman. Sebaliknya Sang Hyang Jagadnata sedang menabur berkahnya untuk seluruh makhluk. Tersenyumlah dan bersyukurlah saat melihat fenomena alam yang begitu dahsyat. Nikmatilah keindahannya. Hindari resikonya, dengan sikap eling dan waspada agar tidak terkena residu fenomena alam sedang yang menata diri. Sekali lagi fenomena alam bukanlah musibah, tetapi merupakan berkah yang sedang berproses. Ibarat Jamu Jawa, pertama diminum pahit, tetapi akan menyembuhkan dan menyehatkan dengan proses yang alamiah. Bencana bukanlah bencana, ia merupakan fenomena alam yang wajar dan alami sebagai bentuk alam sedang menata diri. Memperbaiki sistem tata keseimbangan alam yang sudah butuh direparasi. Berkat fenomena alam itu, maka sesudah suatu peristiwa terjadi, seluruh makhluk akan diuntungkan. yang diperlukan hanyalah mengantisipasi dan menghindari resikonya saja. Kiranya kita butuh pemahaman sederhana seperti dalam analogi berikut, jika ada seorang petani yang sedang mencangkul tanah, minggirlah agar tidak terkena hantaman cangkul.

Semua orang sudah mengerti dan maklum jika Tuhan mahatahu. Tapi kita memahami apa yang terjadi, itu jauh lebih penting. Agar layak disebut wong kang bisa nggayuh kawicaksananing Gusti. Orang yang benar-benar memahami apa yang terjadi akan lebih mudah memperoleh keselamatan, meraih kesuksesan hidup, serta ketentraman lahir dan batin. Jaya jaya wijayanti. Donga-dinonga andum slamêt untuk seluruh pembaca yang budiman, dan sêdulurku kabèh ing papan ngêndi waé.

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Januari 30, 2014, in BAHASA ALAM (SASTRA JENDRA), Pêpéling Ing Jaman Dahuru and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 48 Komentar.

  1. Pe eL eN Koruuup...

    mau minta level berapa bos…tegangan lama or tegangan baru (new record)…xixixi

  2. amien amien ya robb

  3. Sugeng tetepangan kagem ki sabda langit lan sedoyo KKS, kapan SO 5 diadakan?

  4. mtr sembah nuwun ki,,,,sampun ngemut aken dateng kawulo,,,,,,

  5. kawruh lan pitutur kang wicaksana.

  6. Pak Di Update lagi dunk…bagus2 artikelnya…

  7. slm prkenalan.. trima kasih ki sabda langit ats info yg sgt bguna ini.

  8. saya ngak tahu harus menulis apa, terlalu banyak beban berat ini. saya hanya berbagi terserah penilaiannya, sekaranglah saatnya bangsa indonesia memilih pemimpin yang dinanti nanti, tapi sekarang saya mau bercerita sedikit tentang yang tertulis di ugo wangsit siliwangi dia menceritakan budak angon
    ” Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.
    di kalimat budak angon dalam artian disini angon adalah orang yang angon bukan binatang, bukan manusia tapi angon, ngumpulkan arwah mukodasa dari para leluhur nusantaara disatuiin untuk dikasihkan kepada pemimpin bangsa ini, dalam artian sosok seorang pemimpin itu adalah wadah/ sarungnya keris, sedang arwah mukodasa adalah kerisnya, ” pantona satungtung gunung orang dengan kepribadian keras dan secara spiritual dia tidak akan bisa diteropong secara ghaib bahkan yang kelihatan hanya hitam atau ngeblank, handelem dan hangjuang disini dalam artian kenapa tidak dari dulu dilaksanakan dan diperjuangkan, dan selama 15 tahun dia muali ngumpulkan yang ketemu dan sebagian di sumputken, dalam artian ngumpulaken adalah arwah mukodasa para leluhur nusantara disatuin hingga wakyunya tiba dimasukin atau dititiskan ke sukma orang yang akan memimpin negeri ini diibaratkan keris dimasukan ke warangkanya.
    Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
    Disini ibartkan kita ditunggangi oleh orang barat yang memegang peranan, tanah tanah kita, hasil hasil bumi kita tapi kita yang jadi kulinya sedangkan orang barat yang jadi bosnya, karena meraka banyak berinvestasi di negeri ini
    Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun
    Dating seorang jenggotan dilihat dari penampilan dia orang biasa dengan baju bututnya mengingatkan para anggota dpr atau caleg, tapi mereka tidak peduli dan dianggap sepele mereka lebih memilih memperjuangkan kedudukan dia kepilih apa ngak nya sebagai caleg, dan dikiranya memperkeruh suasana
    Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.
    Ketika orang orang sibuk dengan kemenangan partainya, “buta jadi waradal” atau jadi tumbal kemenangannya budak angon baru di bicarakan apa omongan yang pernah diomongkan yang tadinya obrolan hanya sebatas obrolan warung kopi menjadi obrolan sekampung, kemudian menjadi obrolan senegara, oh bener apa yang pernah diomongkan atau disampaikan oleh budak angon jeng budak jenggotan,
    Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
    Budak angon sama orang jenggotan dicari, dicari karena hanya dia yang bias masukin arwah mukodasa yang sudah dikumpulkan selama 15 tahun dan sekarang tinggal satu yaitu ke daerah banten, dalam jangka waktu dekat akan kesana sesudah pemilu tapii, kalau sampai kesana saya ngak tahu apa yang akan terjadi Negara ini, mungkin akan kacau karena seorang sesepuh banten yang bergelar TUBAGUS pernah berkata “KAMU JANGAN KESINI LAGI ( KE BANTEN ) APABILA KAMU KESINI BANTEN AKAN HANCUR INDONESIA JUGA AKAN HANCUR ( KACAU ), MUNGKIN DARI ORANG ORANG NYA, ATAU MUNGKIN DARI MUSIBAH BENCANA ALAM YANG DITANDAI GUNUNG GEDE HANCUR DAN HANCUR SEGALA RUPANYA, HANCUR MANUSIANYA
    Saya berharap sebelum kejadian CAPRES YANG SEKARANG BISA ketemu sama dia, dan dia akan mengajukan pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya dan kalau bisa menjawabnya maka seluruh arwah mukodasa yang sudah dia kumpulkan selama 15 tahun dan sampai sekarang bisa diwariskan ke CAPRES sekarang, setelah itu dia akan menghilang ngak moksa atau ngak tau bagaimana hanya dia dan ALLAH SWT ysng tahu, dan sangat berat menanggung beban ini dan kemarin hampir saja terjadi. KELEBAT SORBAN YANG SELAMA INI DIBAWA DIHAMPARKA DITENGAH SAWAH DAN LANGSUNG DIARAHKAN KE LANGIT TEPAT JAM 12 MALAM SEBELUM PEMILU, KARENA UDAH TERUCAP KATA sudah berat beban amanah ini apakah harus dihancurkan dulu gunung gede dan hujan seluruh Indonesia 7 hari 7 malam biar semuanya kebuka dan ngarti apa yang disampaikan sama alam,
    Dan kejadian tersebut udah pernah terjadi di negeri ini ketika awal bulan februari kami bertiga berangkat ke demak sholat jumat di mesjid demak kemudian ziarah ke makam sunan kalijaga, ketika kami pulang sorenya memasuki alas roban hujan besar disertai halilintar menyertai kami karena ikut arwah mukodasa dengan julukan “ SULTON BANTEN CIREBON RATU NGARUNG SAPU JAGAT KAKI GEDE ING MATARAM” kebawa semuanya dari situlah awal mulai bencana hujan terus terusan banjir di seluruh nusantara,
    Dan ini bukan gurauan walaupun kelihatannya sepele dan dibuat buat serta di cocok cocokin tapi itu adalah kebenaran sebenarnya akan ari dari UGO WANGSIT SILIWANGI DAN RAMALAN JAYA BAYA
    SAYA HANYA BERHARAP SEBELUM SEMUA KEJADIAN DAN BENCANA SERTA MUSIBAH TERJADI DIA BISA DI PERTEMUKAN SAMA CAPRES YANG BENAR DAN COCOK UNTUK MEWARISKAN SEMUA YYANG DIKUMPULKAN, TEMPAT DAN WAKTU TERSERAH, JANGAN ADA WARTAWAN, ORANG ATAU SIAPAPUN HANYA BERDUA AJA,
    Wallahu a’lam “Dan Allah Mahatahu/Maha Mengetahui atau Lebih Tahu” SEMOGA ALLAH SELALU MELINDUNGI KITA SEMUA

  9. Ojo di pikir. Jayalah Nuswantoro

  10. SANTUN DI JIWA

    Udara segar, hangat iringi sumilirnya udara
    Penat badan tak terasa
    Duhai eloknya bumi nan indah ini
    Duhai biru awan mengiring langit

    Manusia sadar allam inilah sahabat sejati kita
    Semua tuntunan disana finalnya
    Semoga semua terang hatinya
    Segar jiwa segar badan elok terasa

    Hutan ceria airjernih tertawa riang
    Bersinarlah warna cinta manungsa pada allam semesta
    Udara cahaya melirik tenang
    Tenanglah allam semesta Raya
    Kami diam mengiring sang BUNDA

  11. Pangeran Jawi Wetan

    sugeng pepanggiyan malih ki, sebagai orang baru didunia maya ini saya merasa senang me ngikuti apa yang njenengan sampaikan lewat tulisan, karena sekarang inilah momentum yang tepat ibarat sudah waktunya, pembukaan dan pembersihan, siapa yang harus dibuka dan si apa nanti yang harus dibersikan, kita sebagai insan tuhan wajib saling mengingatkan, tidak mengharapkan pahala juga bukan hanya sekedar kuwajiban tapi lebih tinggi lagi ini merupa kan suatu anugrah, salam kenal untuk semuanya mudah2an manfaat dan manfaat yg ferbaik yang selalu kita semua dapatkan, salam sejaterah, rahayu nuwun.

  12. Zaman dahuru ! bakal ana peperangan gadhe , mengkono kersane Pangeran,wong jowo kari separo, china londo kari sakjodho, anane pepati tanpa aji, saka kobong ginawe karang abang. Ana wong gedhe padha kleru singgih, ratu jumenggung wong rucah, lan kinuya kuya , wong rucah ngedhangkrang? Wong cilik padha dadi mantri bupati, wong gedhe sangsara keplayu kinuya kuya, Omah dhuwur tanpa aji , wong mangan wong, arang kang bener omonge, omong mung tunggal swara,t anpa tabet, nyatane kosong,ora ngerti apa kang diomongake, bejane kang ora kelu, cilakane kang mangeran kumandhang. Wong nganggur jinagur, wong ladak kecandhak, wong wani gelis mati, wong kendel kecekel, kang temen lumuh,marga ora kapaelu, kang blilu dilulu, kang slingkuh kukuh, wong pinter di ingel2, kang bodho di kono2, kang mbodho bejo, wong tani setengah mati, botoh padha butuh ,kang kalah ngrayah. Wong sugih dadi nistha,donya dadi memala,wong cidra mubra mubru,buruh angkuh,sing pasrah kelumah,kang ikhtiyar bubar,kang nrima sengsara,kang DOSA NDADRA ANGRODAPEKSA KALIS ING SAMBEKALA,Akeh wong mendem donya lan pangkat,rebut lungguh angangsa angsa,gegamane adol wicara,gembar gembor ora ngerti wicarane dhewe,wong dora ura2 tinarima,wong mlincur dadi lancur,akeh wong sesongaran, agama dadi padudon, rebut balung tanpa isi, temah mas picis padha larut ora wruh paranira. Wong sugih jirih, wong bingung linglung, womg medhit etung dhuwit padha kecepit, wong samar kesasar,arang kang percaya ukume kodrat. Wong lanang jemah lanang, wong wadon kumpul wadon, wong lumuh bebojoan,kang bebojoan njaluk pisah. Akeh donya padha muspra, golek mulya tambel jiwa, tata krama sirna, agama kanggo kekudhung, anuruti hawa nafsu, ora ana ngelmu warta bener, medhar ngelmu gethok tular, medhar sabda lelamisan, kang cilik di ithik ithik,kang gedhe mecece, adol gawe lumuh dhewe, kang sedhih saya perih, kang numpuk kejupuk, kang sregep kerungkep, kang pasrah kelumah, kang nyorok ketabok, golek butuh ketutuh tutuh, timah ngaku slaka, slaka ngaku mas, mas tulen di anggep tembaga, sesotya mawa retna di anggep beling, kere munggah mbale, lan sak lajengipun …… mugi Ki Sabda kersa Mbabar , Amargi namung Paduka ingkang saget,lan pitoyo bab menika ! sungkem kawula …..

  13. artikel yang bermanfaat. Alhamdulilllah dapat pencerahan. Maturnuwun sanget …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: