Lakon Lanjutan : Pambukaning Gapura

Lakon Lanjutan : Pambukaning Gapura

Satria Piningit

Sebelum kami memaparkan sedikit sinopsis tentang pagelaran kulit dengan lakon Pambukaning Gapura pada 18 Mei nanti, tulisan ini kami awali dengan review pagelaran wayang kulit dengan lakon Satria Piningit, yang telah berlangsung pada 4 Mei lalu.

Lakon                 :              PAMBUKANING GAPURA
Dhalang             :              Ki Seno Nugroho
Waktu                :              Minggu Pahing 18 Mei Jam 21.00 WIB sampai selesai
Tempat             :              Halaman Parkir Pasarean Agung Kotagede Mataram
               

Review lakon Satrio Piningi

Hukum Keadilan Alam

Di dunia pewayangan, raja bukan dipilih langsung oleh rakyat.Seorang calon raja akan menjadi raja pada waktunya jika sudah ada tanda-tanda “wahyu” yang  turun kepada calon raja tersebut. Di kalangan masyarakat Jawa kebanyakan, turunnya wahyu ditandai dengan meluncurnya “ndaru” (meteor) di langit pada waktu yang diharapkan. Sesaat kemudian biasanya calon raja yang telah menerima wahyu berupa “ndaru” akan menduduki tahta kerajaan, sampai pada suatu saat ada calon raja baru yang juga menerima wahyu untuk menduduki tahta kerajaan.

WAHYU KEPRABON (WK),  dipercaya sebagai restu dari Tuhan atau anugrah alam semesta untuk menjadi raja. WK tidak dapat dibeli dengan money politic dan tidak dapat dirampas dengan kekuatan dan kekuasaan. Karena WK adalah bentuk legitimasi kekuatan hukum alam semesta, di mana WK akan jatuh kepada seseorang yang memenuhi syarat laku. Ia adalah figure yang selaras dan harmonis dengan hukum alam. Jika alam semesta dalam hal ini Sang Jagadnata, atau Roh Jagad Agung  (Spirit Of The Universe),  menilai tidak ada figure seseorang yang memenuhi syarat, maka WK tidak akan muncul. Pemimpin yang ada adalah pemimpin (Presiden) palsu yang tidak memiliki legitimasi dari kekuatan hukum alam. Sebagai akibatnya, selama pemimpin tersebut berkuasa akan terjadi banyak bencana, dan malapetaka. Keadaan Negara akan jauh dari kemakmuran dan ketentraman.

Cerita tentang WK terbawa ke zaman kemerdekaan hingga sekarang. Pada zaman Orde Baru, mantan presiden Soeharto dalam wawancara dengan radio Belanda, secara jujur mengakui bahwa yang mendapat wahyu adalah ibu Tien Soeharto. Begitu Ibu Tien mendahului meninggal, ia sadar sepenuhnya bahwa tak lama lagi ia akan turun. Dan benar juga, tak lama kemudian presiden Soeharto turun dari tahta kepresidenan.

Wayang tidak saja hadir dalam dunia atau realitas politik. Akan tetapi, wayang juga  hadir dalam karya sastra untuk mengungkapkan masalah politik. Wayang menampilkan problematika kekuasaan yang kental, yang relevan dengan kondisi perpolitikan di Indonesia.  Dalam dunia pewayangan, kepala negara adalah raja, yang mengepalai sebuah Kerajaan.

WK, sangat melekat dengan konstelasi politik Nasional. Eksistensi WK sekaligus menunjukkan adanya peran Supernatural Power dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Nusantara adalah Negeri yang istimewa dengan segenap nilai plus-minus  yang saat ini terjadi. Segala permasalahan yang terjadi di Indonesia terutama disebabkan oleh sistem pengelolaan Negara yang tidak pas dan pener dengan karakter jatidiri Nusantara.

Kekuatan Pentas Wayang Kulit

Wayang Kulit bagi masyarakat Jawa merupakan seni budaya yang terdapat nilai sakral. Sang Dalang biasanya memiliki kekuatan spirit yang mumpuni. Sang Dalang yang tergolong istimewa ia memiliki kekuatan idu geni, apa yang diucap merupakan sesuatu yang bakal terjadi. Dan sang Dalang sejati juga memiliki kawaskitan atau ketajaman batin, yang mampu membaca suatu realitas tersembunyi mengenai apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Walaupun pada saat ini tidak semua dalang memiliki kekuatan tersebut.

Dalam pagelaran wayang kulit, adalah sebuah lakon atau judul cerita yang akan digelar. Lakon bisa bersifat biasa-biasa saja. Artinya lakon sengaja dipilih sesuai keinginan orang yang menanggap wayang. Lain halnya, untuk pagelaran wayang kulit yang tergolong istimewa, lakon diperoleh dengan cara tidak sembarangan. Karena lakon didapat melalui wangsit atau wisik, yakni petunjuk gaib. Pagelaran wayang kulit dengan lakon khusus, merupakan media informasi dan komunikasi yang sangat penting untuk diketahui masyarakat umum. Tak jarang, dalam pagelaran dengan lakon yang tergolong wangsit, sang Dalang menjadi media bagi ancient spirits untuk membabar apa yang sedang terjadi di tengah kehidupan politik, bahkan bersifat prediktif dengan membabar apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Situasi dan kondisi yang sedang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat disiratkan  dalam perjalanan cerita lakon wayang kulit. Begitu pula apa yang akan terjadi  dapat terbaca melalui lakon dan alur cerita pagelaran wayang kulit.

Lakon Satrio Piningit

               Satrio Piningit merupakan lakon yang tergolong istimewa karena sangat jarang terjadi, bahkan rasanya belum pernah ada sebelumnya. Lakon itu atas dawuh yang diberikan oleh Ki Juru Martani, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, dan Kanjeng Ratu Batang. Lakon itu muncul bertepatan dengan konstelasi politik Nasional menjelang suksesi 2014 ini di tengah menggantungnya kasus-kasus besar melanda negeri tercinta, yang terasa semakin tidak jelas juntrungnya. Lakon harus segera digelar pada Minggu Pon tanggal 4 Mei 2014. Dan dawuh tersebut sudah terlaksana dengan sukses dengan disaksikan sekitar 5000 orang yang menonton dengan hikmat semalam suntuk dan tidak beranjak dari tempat duduk lesehan hingga selesai.

Sumber Bencana Karena Pemimpin Yang “Tidak Sah”

Gelar Ringggit dengan lampah “Satrio Piningit” ini diawali dengan adanya pertemuan di Paseban Agung kerajaan Hastinapura. Di Paseban itu telah hadir Prabu Duryudana, Patih Harya Sengkuni, Resi Dorna, Adipati Karna, Dursasana dan sejumlah petinggi di kerajaan Hastinapura yang bersama-sama sedang membahas mengenai banyaknya kekacauan, bencana, pagebluk maupun malapetaka yang terus menerus terjadi di Negeri Hastinapura.

Tetapi memang sudah menjadi  watak dasarnya Sengkuni dan para Kurawa, selalu berusaha ‘menyenangkan hati’ rajanya dan mengatakan bahwa semua kekacauan pun malapetaka di negeri itu semata-mata hanyalah cobaan dari para dewata.

Meskipun sebenarnya mereka tahu bahwa  keadaan negara yang jauh dari “tata titi tentrem, gemah loh jinawi” itu disebabkan oleh ulah dari pribadi raja Duryudana  yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri atau keluarganya daripada memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Meskipun sebenarnya di dalam hati, mereka menyadari bahwa semua kekacauan, bencana, pagebluk maupun malapetaka yang terus menerus terjadi di Negeri Hastinapura itu terjadi karena dipimpin oleh Raja yang “tidak sah” karena tidak kasinungan “Wahyu Keprabon” yang cara memperoleh kekuasaannya dengan cara kotor merebut hak tahta para Pandawa saudaranya.

Selagi Raja Duryudana dan para Kurawa masih di Paseban Agung itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan hadirnya seorang ‘pekatik’ (pemelihara kuda dan tukang cari rumput untuk makan kuda) yang melaporkan bahwa diperbatasan  kerajaan Hastinapura telah datang puluhan ribu wadyabala buta yang kemudian diketahui dari ‘kerajaan Pagerulun’ siap memasuki dan menyerang wilayah kerajaan Hastinapura  di bawah pimpinan rajanya yang bernama ‘Prabu Rengganisura’.

Mendengar laporan itu, segera Prabu Duryudana memerintahkan semua yang hadir di PasebanAgung untuk menghadang dan memukul mundur lawan yang datang, kalau bisa dinego disuruh pulang kembali ke negaranya kalau tetap melawan agar dihancurkan. Komandan atau Senopati dari Hastinapura adalah Adipati Karna.

Singkat cerita terjadilah peperangan di perbatasan, tetapi karena kuat dan tangguhnya musuh yang datang, mereka juga merasa kewalahan. Di antara kedua belah pihak banyak jatuh korban. Berkat kesaktian para Kurawa di bawah pimpinan Karna, wadyabala buta yang jumlahnya tak terbilang dapat di libas dengan gampang. Tetapi ketika harus menghadapi Prabu Rengganisura, semua bala Kurawa kocar-kacir, tidak ada satupun dari wadyabala Kurawa termasuk Adipati Karna, Pendeta Dorna maupun Sengkuni yang mampu melawannya. Dalam keadaan terdesak seperti itu Prabu Duryudana lari meninggalkan Istana entah kemana untuk menyelamatkan diri.

Setelah Prabu Rengganisura berhasil menaklukkan Kurawa, ia kemudian mencari Sengkuni dan kepada Sengkuni dikatakan bahwa maksud kedatangannya ke Hastinapura bukannya untuk merebut tahta ataupun menjajah, tetapi untuk mencari tahu apakah Raja Hastina yang saat ini bertahta adalah Raja yang “Sah” atau bukan? Apakah Raja Hastinapura yang sekarang berkuasa adalah raja yang kasinungan “Wahyu Keprabon” atau bukan?

Sengkuni tidak mampu menjawab pertanyaan itu, tetapi ia dapat menunjukkan kepada siapa pertanyaan itu akan memperoleh jawabannya. Tak lain dan tak bukan hanya kepada seekor gajah yang saat ini ada di Hastinapura dalam keadaan dirantai kaki-kakinya. Gajah itu bernama “Gajah Antisura”. Ketika mereka sudah sampai di hadapan Gajah Antisura dan menanyakan tentang keabsahan raja Hastinapura yang saat ini berkuasa, tiba-tiba gajah tersebut mematahkan rantai-rantai yang mengikat kaki-kakinya, kemudian lari tunggang langgang meninggalkan Hastinapura masuk ke dalam hutan entah kemana…

Memang, sudah menjadi suatu tradisi jumenengan nata di Kerajaan Hastinapura bahwa dalam pengangkatan calon raja dilakukan oleh Gajah Antisura. Sang pewaris tahta dikatakan sah jika ia didudukkan di atas dampar pusaka oleh Gajah Antisura. Karena hanya orang yang diangkat dan didudukkan oleh Gajah Antisura yang kuat duduk di atas dampar pusaka. Para pengganti Palasara secara berurutan, yaitu Prabu Sentanu, Abiyasa dan Pandudewanata juga di dudukan oleh gajah Antisura. Hasti berarti gajah. Hastinapura dapat dimaknai dengan hadirnya kembali keratonnya Prabu Hasti, yang besar kuat laksana gajah. Demikianlah Gajah Antisura mempunyai peranan yang sangat sakral dan penting dalam pengangkatan setiap raja di Hastinapura dan tak bisa dilepaskan dari Hastinapura.

Wangsit Wahyu Keprabon

Beralih cerita ke suatu kerajaan kecil yang nun jauh yang bernama kerajaan Argapeni.  Arga artinya gunung, peni berarti indah, baik.  Sesuai dengan namanya digambarkan bahwa suasana di kerajaan Argapeni ini begitu tenang, adem, ayem dan asri. Raja yang  berkuasa di kerajaan ini masih muda dan belum beristri bernama Prabu Minangkuda. Ia mepunyai seorang adik yang elok dan cantik paras mukanya bernama Dewi Penatas.  Diceritakan bahwa dalam suatu kesempatan Prabu Minangkuda sedang ‘ngudarrasa’(curhat) dengan Dewi Penatas. Bahwasanya semalam, sesudah sekian lama  waktunya dalam usahanya mencari tahu di mana keberadaan ‘Wahyu Keprabon’, ia mendapat petunjuk atau wangsit bahwa ‘Wahyu Kepabron’ itu terdapat di dalam diri seekor burung yang bernama “Peksi Antakulan”. Kalau sudah menemukan burung itu, segera burung itu di masak yang enak lalu di makan “kepala-nya” karena barangsiapa yang memakan kepala burung Antakulan tersebut akankasinungan “Wahyu Keprabon” dan sebelum makan diharuskan melakukan ‘jamas dewasraya’ atau mandi sesuci dari 7 (tujuh) sumber mata air. Demikianlah Raja Minangkuda menceritakanmengenai wangsit yang diterimanya melalui mimpinya.

Ternyata sang adiknya Dewi Penatas juga bermimpi yang mirip. Dia pun juga mendapatkan petunjuk gaib yang diterimanya melalui mimpinya semalam. Dewi Penatas akan dapat menjadi “babon” ratu atau  yang menurunkan ratu-ratu yang akan menguasai tanah Jawi hanya jika setelah dia mampu menemukan seekor burung yang bernama “Peksi Antakulan”. Kalau sudah menemukan burung itu, segera burung itu di masak yang enak lalu di makan “jeroan-nya” karena barangsiapa yang memakan ‘jeroan’ burung Antakulan tersebut akankasinungan “Wahyu” yang membuat dirinya dapat menjadi “babon ratu” atau induk  yang menurunkan ratu-ratu yang akan menguasai tanah Jawi.

Tanpa banyak pembicaraan lagi, keduanya lalu sepakat untuk mencari kemana saja sampai menemukan burung yang bernama “Peksi Antakulan” itu. Siapa yang menemukan terlebih dahulu akan segera membagikan bagian dari burung itu, sesuai dengan petunjuk gaib/wangsit yang telah mereka peroleh melalui mimpi. Keduanya kemudian berpisah, pergi mencari keberadaan “Peksi Antakulan” ….

Berebut “Peksi Antakulan”

Berlatarbelakang suasana suatu pedusunan yang bernama Dukuh nDadapan. Di situ tinggal seorang janda dengan dua saudara perempuannya yang juga belum berumahtangga. Nama mbok randa itu adalan “Emban Sambego”. Janda ini  mempunyai dua orang anak laki-laki bernama Pujadewa dan Pujangkara. Emban Sambego sangat menyayangi dan mengasihi kedua anaknya tersebut. Demikian juga kedua anak itu sangat hormat dan berbakti kepada ibunya.

Diceritakan siang hari itu, Pujadewa dan Pujangkara menyampaikan rencananya akan menengok dan sowan gurunya yang bernama ‘Begawan Padmana Murti’ karena sudah cukup lama tidak menghadap beliau sehingga menumbuhkan kerinduan yang sangat kuat dalam batin keduanya untuk segera bisa berjumpa dengan gurunya yang tinggal di pertapaan ‘Argamanik’. Tetapi sebelum mereka berdua berangkat ke pertapaan tersebut, Pujadewa meminta tolong kepada ibundanya agar selama mereka berdua pergi, ibunya berkenan merawat, memberi makan dan memelihara burung kesayangan mereka yang bernama ‘Peksi Antakulan’ dengan penuh kasih.

‘Peksi Antakulan’ ini merupakan pemberian dari Sang Begawan Padmana Murti  kepada mereka berdua sebagai murid-murid yang kinasih. Dan kepada mereka juga telah dipesan agar selalu merawat, memelihara dan menjaga burung peliharaan itu dengan penuh kasih sayang karena suatu saat akan mendatangkan anugerah bagi mereka berdua.Demikianlah, setelah ibundanya menyatakan kesediaannya untuk merawat, memelihara dan menjaga burung ‘Peksi Antakulan’ tersebut, maka berpamitanlah mereka berdua kepada ibunya.

Waktu terus berlalu, hari berganti hari, sewaktu kedua anaknya Pujadewa dan Pujangkara tidak ada di rumah karena menghadap gurunya, Emban Sambego kedatangan tamu yang kemudian mengaku bernama Prabu Minangkuda. Perkenalan pun terjadi di antara kedua manusia beda kelamin ini. Pandang bertemu pandang, akhirnya Prabu Minangkuda tak dapat memungkiri bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Emban Sambego. Ia berkata terus terang menginginkan Emban Sambego agar mau menjadi istrinya. Ia tak peduli dengan status janda  dan status orang kebanyakan (rakyat biasa) yang di sandang Emban Sambego. Rayuan maut terus diumbar, bahkan Sang Prabu juga bersedia akan menyayangi dan memperlakukan kedua anak Emban Sambego seperti anak-anaknya sendiri. Asal Emban sambego mau diperistri olenya.

Karena rayuan maut dan janji manis yang diucapkan Prabu Minangkuda, akhirnya luluh lantak pula hatinya dan ia mau dipinang menjadi istri Sang Prabu.  Demikianlah, sewaktu Emban Sambego menuju ke dapur untuk membuatkan minum Sang Prabu, ia melihat di belakang rumah dekat dapur ada seekor burung yang elok di dalam sebuah kurungan. Ia menanyakan kepada EmbanSambego, burung apa itu gerangan? Oleh Emban Sambego dikatakan bahwa itu adalah burung kesayangan kedua anaknya Pujadewa dan Pujangkara, burung itu bernama ‘Peksi Antakulan’.  Mendengar jawaban itu bahwa burung itu benama ‘Peksi Antakulan’ menjadi sangat terkejutlah sang Prabu sekaligus sangat gembira, karena tanpa dinyana dan dikira ia telah dengan mudah menemukan burung yang selama ini dicarinya kemana-mana sesuai petunjuk gaib/wangsit yang diperoleh melalui mimpinya.“Sambego, apakah engkau memang sungguh-sungguh mau menjadi istriku? Dengan segenap hatimu, dengan seluruh dirimu, dengan segala ketulusan dan keikhlasanmu? Apakah engkau mau berbuat apapun yang kuperintahkan padamu? Apakah engkau merelakan segala sesuatu yang kuminta dan kuinginkan daripadamu? Sambego, jawab pertanyaanku, jika engkau memang mencintaiku …!!!”. “Mengapa kakanda menanyakan hal itu kepadaku. Apakah harus kuanggukkan kepalaku sekali lagi agar kakanda tak jadi ragu, haruskah kuulangi lagi semua kata dan janji yang pernah kuucapkan di hadapan sang Prabu.  Sudah sekian lama, aku hidup sendiri, tanpa kehangatan dan belaian seorang laki-laki di sampingku, hari-hariku terasa sunyi, malam-malamku terasa sepi, tiada kerinduan yang lebih tinggi selain tidur dalam pelukan belahan kalbu. Sudah sekian lama, hatiku meronta dan memendam rasa, ingin terhanyut merenangi lautan asmara bersamamu. O, kakanda … engkau datang penaka embun yang memberi kesejukan bagi hatiku. Kehadiranmu di sampingku melenyapkan semua haus dan dahaga asmara yang begitu menyiksaku. Pasti akan kulakukan apapun yang kubisa agar kakanda menjadi bahagia … !!!”. Duh, wong ayu, pujaan hatiku. Kalau begitu tolonglah kau penuhi permintaanku yang satu ini. Ijinkan kuminta ‘Antakulan’  untuk kujadikan lauk makan malamku hari ini. Masaklah dagingnya dengan seenak-enaknya agar menjadi lezat untuk dinikmati. Tapi sebelum aku santap malam nanti, aku akan akan pergi dulu melakukan ‘jamas dewasraya’, aku akan membersihkan diri mandi di tujuh sumber mata air untuk sesuci …”. “Duh, Sang Prabu, burung itu bukan kepunyaanku. Burung ini adalah milik anakku Pujadewa dan Pujangkara. Mereka amat menyayangi burung ini.  Aku telah sanggup untuk dititipi merawat dan menjaganya. Bagaimana jawabku nanti, jika mereka bertanya burung,kesayangannya telah tiada?  Duh, kakanda,mengapa demikian berat permintaanmu kepadaku. Duh, Gusti,lelakon apa lagi yang harus kuhadapi kali ini ?”

Sambego, buktikan padaku bahwa engkau mau menjadi sisihanku. Ingatlah akan segala keinginan dan kerinduan yang kau pendam selama ini. Aku hanya akan bersedia menjadi kekasihmu pabila kau luluskan permintaanku yang satu itu. Bukankah jika kamu telah menjadi istriku, mereka juga sebagai anak-anakku? Biarlah nanti akan kukatakan kepada mereka, bahwa aku yang kini telah menjadi bapak mereka, yang meminta dan memaksa melakukannya…”. “Duh, Kakanda gayutan cintaku. Kerinduanku untuk menikmati lautan asmara bersamamu, terasa lebih kuat tinimbang rasa sesalku yang tak mampu menolak semua keinginanmu. Biarlah nanti, aku saja yang menjelaskan semuanya ini kepada anak-anakku. Akan kupersiapkan hidangan burung goreng ‘Antakulan’ yang lezat dan nikmat untuk santap malammu, o… kekasihku”.

Sambego, dewi cintaku. Terima kasih atas pengertianmu kepadaku. Kini aku mesti sesuci dulu, mandi jinabat di sumber air tuk pitu. Aku pergi dulu wong ayu, tunggu aku dipembaringanmu malam nanti ..!!!”

Demikianlah, kekuatan asmara dan cinta telah merasuk dan berkobar liar di dalam diri Emban Sambego. Sampai iapun tak mampu mengendalikan apalgi memadamkannya. Gejolak asmaranya kepada Prabu Mingkuda, mampu mengalahkan segala yang ia punya. Termasuk cinta kepada kedua anaknya Pujadewa dan Pujangkara. Demi memenuhi permintaanPrabu Mingangkuda, diambilnya “Peksi Antakulan’ dari sangkarnya. Lalu dimasaknya burung itu, digoreng dan dibumbui agar dapat menjadi lauk yang lezat buat santapan malam Minangkuda.

Sementara itu di pertapaan ‘Argomanik’. Pujadewa dan Pujangkara telah beberapa waktu bertemu Sang Guru Begawan Padmana Murti, guna melepaskan rindu. Waktu itu kira-kira masih pagi menjelang siang. Di halaman pertapaan, telah berkumpul dan saling berkelakar antara guru dan murid. Menjadi lebih gayengkarena kehadiran para punakawan : Semar, Gareng, petruk dan Bagong di antara mereka.Entah kenapa, tiba-tiba  ada perasaan yang mengganjal dan tak nyaman di hati Sang Begawan. Beliau menanyakan kepada kedua muridnya, bagaimana keadaan  burung “Peksi Antakulan”  yang pernah beliau berikan  kepada Pujangdewa dan Pujangkara itu. Meskipun sudah dijawab bahwa keadaannya baik-baik saja dan selama pergi sudah dititipkan kepeda ibunya untuk menjaga dan merawatnya, namun sang begawan yang bening dan suci hatinya menangkap adanya firasat buruk telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap ‘Peksi Antakulan’.  Tak berlama-lama, kemudian ia meminta kepada kedua muridnya agar segera pulang. Setelah berpamitan, pulanglan mereka ke Dukuh Dadapan dengan ditemani oleh para punakawan. Sesampainya di rumah, bertemulah mereka dengan ibunya. Sejenak kemudian bertanyalah mereka kepada ibunya ‘Emban Sambego’ mengenai keadaan burung “Peksi Antakulan’ yang dititipkan kepada ibunya untuk dijaga, dirawat dan diberinya makan selama kepergian merekake pertapaan.

Duh, anakku Pujadewa dan Pujangkara. Ketiwasan nak, maafkanlah ibumu ini. Sewaktu ibu akan memberinya makan dan membuka sangkar, burung ‘Antakulan’ itu terlepas dan terbang masuk ke hutan. Maafkan, ibumu anak-anakku, karena ibu tak mampu melaksanakan permintaanmu dengan baik untuk menjaga dan merawat ‘Antakulan’ …”. “Duh, ibu. Burung itu sangat berharga dan berarti bagi kami. Kenapa ibu kurang hati-hati? Burung itu adalah pemberian dan hadiah guru kami. Burung itu adalah burung anugerah. Bagaimana kami harus menyampaikan kejadian ini kepada Sang Panembahan. Karena kami telah bersedia memelihara dan merawatnya dengan baik, akan kami lindungi dan jaga sepenuh hati. Alasan apa yang kami utarakan kepada Sang Begawan? Ibu, ijinkan kami pergi mencari ‘Antakulan’ sampai kami temukan …!!!

Demikian Pujadewa dan Pujangkara, lalu keluar rumah pergi mencari Sang ‘Antakulan’.  Karena rasa bersalah yang begitu mendalam dan tidak sampai hati mengingat kedua anaknya pergi tanpa bekal, maka kepada para punakawan yang tertinggal diminta untuk membawa bekal makanan.

Sudah menjadi kehendak dewata, sewaktu Petruk dan Gareng mempersiapkan bekal, mereka hanya menjumpai nasi saja. Karena tidak lengkap kalau tidak ada lauknya, mereka bermaksud mencarinya di almari makan. Tapi apa daya almari terkunci. Dasar punakawan, meski dikunci masih juga mencoba mengintip melalui sela-sela kayu yang tidak rapat. Di dalam almari dilihatlah oleh mereka ada seekor burung yang telah digoreng.  Tanpa banyak buang waktu, dirusaklah gembok almari itu dan diambillah burung goreng itu untuk dijadikan lauk bekal makanan bagi Pujadewa dan Pujangkara sesembahannya. Dan mereka pergi meyusul kedua ‘bendoro’nya masuk ke hutan …

Tak berapa lama setelah itu,Prabu Minangkuda yang telah menyelesaikan ‘jamas dewasraya’ pulang ke rumah Emban Sambego. Ia kemudian bertanya apakah pesanya sudah dilaksanakan. Kalau sudah ia akan segeramelakukan santap malam dengan lauk burung goreng ’Peksi Antakulan’. Tapi begitu Emban Sambego mau mempersiapkan santap malam buat Sang Prabu, betapa terkejutlah ia karena almari makansudah terbuka dan dirusak kuncinya. Lebih terkejut lagi karena burung goreng “Peksi Antakulan’ yang telah disimpannya di almari ternyata juga hilang. Segera ia lari menghadap Prabu Minangkuda dan menyampaikan kejadian itu. Emban Sambego sangat yakin yang mengambil adalah para punakawan dan akan diberikan sebagai bekal untuk anaknya Pujadewa dan Pujangkara yang saat ini sedang mencari burung’Peksi Antakulan’ yang dikatakannya terbang ke hutan sewaktu diberi makan …

Betapa marah hati Sang Prabu, segera ia hendak mencari Pujadewa dan Pujangkara. Namun karena ia belum pernah berjumpa dengan mereka berdua, pasti ia akan kesulitan mengenali keduanya. Dengan kesaktiannya Prabu Minangkuda pun “memasuki” ke raga Emban Sambego, meminjam wadag dan matanya, pergi terbang mencari Pujadewa dan Pujangkara untuk merebut burung goreng “Peksi Antakulan” sebelum terlanjur di makan mareka berdua.

Wahyu Keprabon Tidak Bisa Dirampas  Yang Tidak Berhak

Diceritakan, begitu mendapatkan penjelasan dari ibunya Emban Sambego bahwa ‘Peksi Antakulan’ lepas dari sangkarnya sewaktu mau diberi makan dan terbang menuju ke hutan, maka tanpa berpikir panjang, mengingat rasa  tanggung jawabnya yang sedemikian besar terhadap gurunya Resi Padmana Murti dan kesanggupannya untuk merawat, memelihara dan menjaganya, kalau perlu dengan toh nyawa sekalipun. Pergilah Pujadewa diikuti adiknya Pujangkara masuk ke hutan mencari dan berusaha menemukan burung kesayangan mereka ‘Peksi Antakulan’.  Tindakan itu dilakukan secara spontan, sehingga tak terpikirkan lagi oleh mereka harus mempersiapkan bekal makanan dan lain-lain karena bisa jadi waktu yang dibutuhkan dalam pencarian tersebut bisa cepat atau lama tergantung dari keberuntungan mereka melacak kemana terbangnya sang burung.

Para punakawan yang mendapat tugas dari Sang Begawan untuk selalu mendampingi kemanapun Pujadewa dan Pujangkara pergi telah dapat menyusul mereka berdua. Seperti yang telah disarankan oleh Emban Sambego, merekapun kemudian memberikan bekal makanan beserta lauknya yang diambil dari rumah di Dadapan kepada kedua ‘bendoronya’.  Sambil memberikanbekal makanan tersebut, Petruk menceritakan kejadian ini :“Ndoro, silakan istirahat dulu.  Kami membawakan bekal makanan dan lauknya atas perintah ibunda untuk ndoro berdua. Tatkala kami menyiapkan bekal makanan yang kami jumpai di dapur hanya nasi saja. Lantas kami mencari adakah lauk yang bisa kami bawa serta.  Di meja makanan tidak ada apa-apa, lantas kami menuju ke almari makan, tetapi almari tersebut terkunci dan digembok dari luar. Kami penasaran ada apakah sebenarnya yang tersimpan di almari makanan. Lalu, kami pun mengintip dari celah-celah kayu yang tidak rapat. Ternyata di dalam almari makanan ada seekor burung goreng yang diletakkan di atas piring. Setelah kami perhatikan dengan lebih seksama, melihat bentuk dan ukurannya, kami tidak merasa asing lagi, bahwa burung goreng itu adalah burung goreng dari ‘Peksi Antakulan’ pemberian Sang Begawan kepada ndoro berdua. Tanpa pikir panjang lagi, segera kami rusak gembok yang ada di almari makanan tersebut, lalu kami bawa pergi burung goreng itu untuk kami tunjukkan kepada ndoro berdua. Lihatlah ndoro, bukankah ini adalah burung goreng dari ‘Peksi Antakulan’ yang sedang ndoro cari itu …???

Seperti disambar geledeg, begitu terkejutnya Pujadewa dan Pujangkara, setelah melihat burung goreng  yang diberikan oleh Petruk kepada mereka.“Tidak disangsikan lagi, melihat bentuk, wujud dan ukurannya ini adalah burung goreng ‘Peksi Antakulan’. Merataplah Pujadewa dan Pujangkara,”Duh, ibu Sambego, mengapa engkau berkata tidak jujur kepada kami anak-anakmu. Mengapa engkau tega sekali membunuh burung kesayangan kami berdua dan menggorengnya untuk dijadikan lauk? Duh, ibu Sambego, mengapa engkau tega mendustai anak-anakmu?

Kehendak dewata sudah terucap dan tak ada titah yang sanggup merubahnya. Telah menjadi suratan takdir. Sak tiba-tibane tansah nemu begja. Pada saat Pujadewa ngungun memikirkan hal itu, teringatlah ia akan pesan Sang Begawan Padmana Murti bahwa ‘Peksi Antakulan’ tersebut adalah burung anugerah dari dewata. Anugerah dewata itu dapat mereka peroleh jika sudah pada waktu yang tepat mereka harus tega membunuh ‘Peksi Antakulan’ lalu memasak dan menggorengnya setelah diberi bumbu-bumbu agar sedap dan nikmat saat menyantapnya. Pujadewa diberi hak untuk memakan bagian “kepala’ dari burung tersebut, lalu adiknya Pujangkara mendapatkan hak untuk memakan  bagian “jeroan” dari burung ‘Peksi Antakulan’ itu.

Demikianlah, maka demi teringat pesan gurunya itu, segera Pujadewa menyantap bagian “kepala” dari burung itu dan terjadilah sesuatu yang amat sangat menakjubkan bagi yang melihatnya. Begitu selesai Pujangdewa memakan “kepala” burung tersebut, seketika itu pula muncullah “sinar yang menyilaukan dan gemerlapan” mengitari kepala dari Pujangdewa. Pada sat itulah sebenarnya “WAHYU KEPRABON” telah manjir ajur ajer, menyatu dalam diri Pujangdewa. Sedangkan bagian “jeroan” yang diterima Pujangkara tidak langsung disantap. Tetapi bahwa “jeroan” dari burung ‘Peksi Antakulan’ itu sendiripun juga memancarkan cahaya yang sangat kemilau dan menyilaukan mata bagi yang melihatnya. Belum lagi “jeroan” itu disantap oleh Pujangkara, kakaknya Pujadewa berkata :“Rasanya akau menjadi sangat haus, setelah menyantap kepala “Peksi Antakulan” ini, kerongkongankuterasa menjadi kering, tolong carikan aku air  untuk ku minum, aku haus…”. Mendengar ucapan kakaknya yang meminta tolong untuk dicarikan air minum, maka dengan segera Pujangkara pergi mencari sumber air yang terdekat untuk mencarikan minum kakaknya. Demikian sayang dan berbaktinya Pujangkara kepada Pujadewa kakaknya. Ditinggalkannya Pujadewa sendirian di tengah hutan itu. Ia bersama para punakawan pergi mencari sumber mata air. Pada saat Pujangkara mencari sumber mata air, dari angkasa Dewi Penatas melihat sinar cahaya kemilauan yang berada dalam genggaman seorang pemuda di dalam hutan itu. Tak asing lagi bagi penglihatan Dewi Penatas bahwa yang berada dalam genggaman sang pemuda tersebut tak lain tak bukan adalah sinar dan cahaya yang berasal dari “jeroan” Peksi Antakulan yang selama ini dia cari.  “Jeroan’ yang jika ia berhasil memakannya maka akan membuat dirinya  kasinungan “WAHYU BABON RATU”   yakni wahyu yang dapat membuat keturunan-keturunannya kelak menjadi  Ratu-ratu yang akan menguasai Tanah Jawi.  Maka dengan kesaktiannya, disambitlah pemuda itu dan tanpa disadari olehpemuda itu, “jeroan” Peksi Antakulan itu telah berhasil direbutnya.

Sebenarnya Pujangkara juga merasakan ada sesuatu yang ‘mengenai dan sedikit menyakiti dirinya’ belum sadra secara penuh akan apa yang terjadi, tahu-tahu “jeroan” Peksi Antakulan yang digenggamnya sudah raib dan hilang dari tangannya. Demikian cepatnya ibarat secepat kilat. Jeroan itu sudah tidak berada dalam genggamannya lagi.

Apa ini tadi  yang menyentuhku dan menyebabkan rasa agak sakit ditubuhku? Lalu kenapa tiba-tiba benda yang kubawa juga hilang dari genggamanku? Ya, sudah. Kalau memang harus hilang, biarlah hilang. Yang kupikirkan adalah segera menemukan mata air agar bisa kuambil airnya untuk pengobat dahaga yang dirasakan oleh kakakku Pujang dewa…”

Pada saat yang hampir bersamaan dengan kejadian di atas, di tempat mana Pujadewa yang sedang kehausan ditinggal sendirian. Tiba-tiba dari dalam hutan datanglah seekor gajah besar, Gajah ‘Antisura’. Dengan belalainya, dililit tubuh Pujadewa dan diculik dibawa masuk ke dalam hutan entah kemana. Diceritakan bahwa Pujangkara akhirnya dapat menemukan sumber mata air. Lalu diambillah air secukupnya unutk diberikan kepada kakaknya Pujadewa yang sangat kehausan setelah menelan bagian ‘kepala’ dari ‘Peksi Antakulan’ tadi. Segera ia menuju ke tempat di mana kakaknya ditinggalkan sendirian, sampai di tempat itu betapa terkejutnya Pujangkara karena di tempat itu tiada didapati kakaknya si Pujadewa.  Tapi di tempat itu terdapat bekas kaki gajah dan ada benda-benda terjatuh milik kakaknya. Rupanya Pujadewa meninggalkan barang yang dipakainya agar adapat dipakai oleh adiknya sebagai jejak untuk menemukannya. Maka segera diikutilah jejak-jejak yang ditinggalkan kakaknya itu masuk terus ke kedalamaan hutan belantara …

Di sisi lain, Dewi Penatas juga sudah bertemu dengan Prabu Minangkuda yang merasuk  dalam diri Emban Sambego. Lalu mereka berdua pergi bersama-sama mengejar mengikuti Pujangkara yang juga sedang berlarian mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkannya sebagai penunjuk jalan oleh Pujadewa yang dibawa lari dalam lilitan belalai Gajah ‘Antisura’.

Siapa Sang Satria Piningit ?

Gajah Antisura yang berlari tunggang langgang membawa dan membelit Pujadewa yang sudah kasinungan “WAHYU KEPRABON” dengan belalainya itu ternyata membawanya ke negeri Hastinapura. Demikian sampai di Hastinapura, segera Gajah Antisura ini menuju ke tempat di mana “Dhampar Hastinapura” berada. Segera diangkat tingi-tinggi tubuh Pujadewa lalu diletakkan dan didudukkannya Pujadewa di “Dhampar Hastinapura” tersebut.  Sesudah itu Gajah Antisura lalu membungkuk, bersujud dan memberi hormat kepada Pujadewa yang duduk di ‘Dhampar Hastinapura’ itu.  Dan setelah didudukkan di ‘Dhampar Hastinapura’ itu nama Pujadewa yang kasinungan “WAHYU KEPRABON” tersebut, kini telah berubah menjadi “PUJADEWA NEGARA”

Tak lama kemudian, sampailah ke tempat itu Pujangkara yang sejak dari hutan mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Pujadewa sewaktu dibawa lari Gajah Antisura. Disusul kemudian kedatangan Dewi Penatas dan Prabu Minangkuda yang masih memasuki raga Emban Sambego. Demi melihat “Wahyu Keprabon” yang telah manbjir dalam diri Pujangdewa Negara, keluarlah Prabu Minangkuda dari raga Emban Sambego dan bermaksud merebut “Wahyu Keprabon” dari Pujangdewa Negara.

Pada saat Prabu Minangkuda hendak merebut “Wahyu Keprabon” dari Pujangdewa Negara, tiba-tiba datanglah Prabu Rengganisura  menghadang dan menghalangi maksud buruk Prabu Minangkuda tersebut. Terjadilah pertempuran yang seru di antara keduanya. Tapi pada akhirnya Prabu Minangkuda berhasil “memanah”  tubug Prabu Rengganisura. Jatuh dan tumbanglah Prabu Rengganisura, namun seketika wujudnya berubah menjadi “Raden Harya Werkudara” . Tal berapa lama kemudian hadirlah di Hastinapura itu Sang Begawan Padmaranamurti.  Tanpa banyak bicara, ia segera meminta Prabu Minangkuda agar “salin salira” kembali ke wujud aslinya. Seketika itu pula Prabu Minangkuda lalu berubah ke wujud aslinya menjadi “Raden Harjuna”. Begawan Padmaranamurti pun “malik salira” menjadi “Prabu Kresna” lalu Emban Sembogo juga diminta berubah wujud aslinya menjadi “Dewi Sembadra”. Di susul berubah wujud ke aslinya dari Pujangdewa menjadi “Raden Abimanyu” dan Pujangkara menjadi “Raden Bambang Irawan”. Terakhir adalah berubahnya Dewi Penatas yang belum sempat memakan “Jeroan” dari ‘Peksi Antakulan” berubah menjadi “Dewi Srikandi”.

Misteri Masih Berlanjut

Prabu Bathara Kresna kemudian mengingatkan kepada Pujadewa Nagara dan kepada semua pihak, bahwa sekarang belum saatnya ‘Satrio Piningit” itu jumeneng nata di Hastinapura. Karena masih menunggu Pujadewa dinilai cukup dewasa. Akan tiba saatnya yang tepat sesudah selesainya Perang Baratayudha.Kisah ini di tutup dengan adegan peperangan Baratayudha yang terjadi di padang Kurusetra antara “Raden Werkudara dengan Prabu Duryudana”. Kapan waktunya sang Satria Piningit duduk di dampar keprabon atau tahta kerajaan Hastinapura ? Cerita masih akan berlanjut hingga titi-wancinya tiba sang Pujadewa sebagai Satria Piningit menduduki tahta kerajaan secara absah dan legitimet. Perang sesungguhnya baru akan dimulai.

Lakon Lanjutan SPPG

Lakon SP ternyata masih berlanjut sekali lagi. Tiga hari setelah pagelaran wayang kulit usai, Ki Dalang Panjang Mas yang ada di Gunung Sentono (abad 16) memerintahkan untuk sekali lagi menggelar wayang kulit dengan lakon Pambukaning Gapura. Jika disambung dengan lakon terdahulu, bunyinya menjadi Satria Piningit Pambukaning Gapura (SPPG). Dawuh pagelaran lakon tersebut harus dilaksanakan pada malam Senin Pon tanggal 18 Mei 2014. Kebetulan siang sebelumnya berlangsung acara Kirab Agung Budaya Mataram serta Nawu Jagang dan Sendang Seliran, yang diprakarsai oleh para Abdidalem Pasarean Agung Kotagede Mataram.  Sontak, pagelaran wayang kulit dijadwalkan sebagai penutup acara Kirab Agung Budaya Mataram tersebut. Ki Dalang Panjang Mas paring pangandikan,”tinggal selangkah lagi untuk meraih kemenangan. Laksanakan sekali lagi pagelaran wayang kulit dengan lakon Pambukaning Gapura. Sebab bila kalah, kekalahan bukanlah sekedar kekalahanmu, bukan pula kekalahan SP, melainkan kekalahan Nusantara dari para durjana dan perusak bangsa.

Hanya satu kata yang dapat terucap,”Sendika dawuh..!!. Kami sadari, ini bukan untuk kepentingan dan kepuasan pribadi, melainkan untuk kepentingan khalayak, persembahan yang bisa kita lakukan untuk bangsa besar ini. Demi masa depan NKRI, demi nasib generasi penerus Nusantara yang lebih baik. Asalkan tulus ikhlas, seberapapun beaya pasti ada, uang pasti menyesuaikan kebutuhan. Suket godong dadya rewang.

Kita lanjutkan pagelaran “Pambukaning Gapura” di panggung wayang. Di alam realitas, berlanjut pula “pagelaran” persaingan keras di panggung politik Nasional. Pertempuran Pandawa melawan Kurawa yang sesungguhnya segera dimulai. Permainan politik baru pun segera ditampilkan. Nnantikan saja di hari ke 18 saat gugurnya Prabu Duryudana pemimpin Kurawa yang melambangkan kekuatan jahat. Dalam perang Baratayuda, hari ke 11 merupakan saat gugurnya Pandita Durna sang senopati perang pasukan Kurawa. Dan tanggal 18 nanti merupakan angka yang selaras dengan hari ke 18 perang Baratayuda, di mana merupakan hari tali wangke bagi sang Prabu Duryudana.

Dalam dunia realitas, tanggal 11-12 ditandai dengan pengunduran diri salah seorang pejabat Negara karena akan menjadi cawapres. Sekalipun “sang Durna” telah meminta restu kepada “Prabu Dur-Yudana”. Tapi langkah itu bukanlah suatu keberuntungan, sebaliknya merupakan langkah “mati” bagi sang cawapres maupun capresnya.  Karena restu itu berasal dari pemimpin yang tidak absah di “mata” hukum alam, atau tidak memiliki WK.

Alur cerita selanjutnya harus berlangsung untuk menuntaskan lakon. Apakah kali ini pertarungan politik akan dimenangi oleh kelompok Kurawa di bawah pimpinan “Prabu Dur-Yudana” ataukah pihak Pandawa yang akan mampu memenangi pertarungan dan menumpas durangkara? Silahkan simak alur ceritanya nanti. Yang jelas, saat ini sedang berlangsung pertarungan sengit antara Prabu Rengganisura melawan Duryudana.

Review lakon SP oleh Ki JSP & Ki Sabdalangit

Dokumentasi Gelar Budaya Nusantara 4 Mei 2014

Untuk dokumen lainnya dapat klik di https://sabdalangit.wordpress.com/acara/cv-lakutama/gelar-budaya-nusantara-4-mei-2014/  https://sabdalangit.wordpress.com/acara/cv-lakutama/gelar-budaya-nusantara-4-mei-2014/

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

 

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Mei 15, 2014, in ACARA KKS (Kadang Kadeyan Sabdalangit), Lakon Lanjutan : Pambukaning Gapura and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 71 Komentar.

  1. “BERIKANLAH generasi bangsa ini kepercayaan, harapan dan kebanggaan, maka mereka akan memiliki gairah–antusiasme dan optimisme– tinggi dalam membangun negerinya menuju masa depan yang lebih baik.”

  2. Solopos.com, SOLO — Hari jadi Wayang Orang Sriwedari ke-104 tahun dirayakan dengan sederhana, Sabtu (19/7/2014). Gabungan seniman wayang orang di Solo menampilkan pertunjukan dengan lakon Gatotkaca Satria Pinilih di Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari, Solo. Pertunjukan itu juga menampilkan sejumah sosok asing di dunia wayang orang. Semua pihak berharap W.O. Sriwedari lestari

    Sebelum pentas digelar, terlebih dahulu diadakan upacara potong tumpeng. Pemotongan tumpeng dilakukan Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, dan diberikan kepada dua orang perwakilan pemain wayang orang, yakni pengrawit paling senior dan pemain wayang orang termuda.

    Sedangkan lakon Gatotkaca Satria Pinilih bercerita tentang Negeri Kayangan yang sedang dilanda horeg atau kerusuhan. Kerusuhan itu didalangi Kala Pracana dan anak buahnya. Singkat cerita, lantaran Kayangan porak poranda, para dewa pun bingung. Sejurus kemudian, mereka mencari kesatria yang bisa melindungi serta menjaga ketenteraman Kayangan.

    Para dewa pun bersepakat mengadakan sayembara untuk memilih kesatria pemberani. Kesatria tersebut akan ditugasi menumpas Kala Pracana beserta anak buahnya. Dalam sayembara itu, dewa mengetes kesaktian beberapa kesatria. Akhirnya terpilihlah Gatotkaca sebagai pemenang.

    Dengan kesaktian yang dimiiki, Gatotkaca mampu mengemban tugas menumpas Kala Pracana dan anak buahnya, serta mengembalikan ketenteraman dan kedamaian di negeri Kayangan. Karena prestasi dan keberhasilannya itu, Gatotkaca akhirnya diberi hadiah atau anugerah berupa Wahyu Widayat. Wahyu Widayat adalah wahyu bagi seorang senopati dan tidak sembarangan diberikan kepada setiap kesatria.

    Lakon Gatotkaca Satria Pinilih yang disutradarai oleh Prihat Natalis Nugroho itu turut menampilkan seniman campursari asal Solo, Endah Laras. Dalam rangka ultah ke-104 Wayang Orang Sriwedari, Endah kebagian peran sebagai penghibur yang mengeluarkan suara emasnya didampingi para punakawan.

    Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, dalam sambutannya mengatakan seni wayang orang Sriwedari harus lebih baik dibandingkan seni wayang orang di kota lainnya. Selain itu, kesenian wayang orang juga harus dicintai pula oleh para generasi muda.

  3. Hendra Gunawan, SS

    Selamat ya Satria Pinandita sudah terpilih karena menang pilpres 2014. Insya Allah Satria Piningit akan terpilih dari kalangan oposisi dimasa depan sebagai Presiden RI ke-8 setelah ibukotanya pindah dari Jakarta, mungkin ke daerah Kedu-Magelang seperti prediksi Syekh Subakir dari Gunung Tidar. Hidupnya sangat sederhana dan sanggup blusuan tanpa kawalan Paspanpres seperti Umar Bin Khotthob. Woullohua’lam.

  4. Arab maneh…” Nguyahi segara ing Nusantara ”
    Sing sak lor mbaliko …kabeh wae sing ngrusuhi Nusantoro balio nang asal usulmu..

  5. Apa a se mas kok gething karo Arap ? Lak padha menungsane. Jare wong jawa kuwi watake tepaslira marang sapadha kawulane Gusti ?

  6. Saling
    menghormati
    di saat saat rerakhir……
    Subhanallah……
    Puji Tuhan……
    Amitabha……
    Hoeng Wilaheng……
    Om Swastiastu……

  7. Nepangaken…
    Ngapunten…
    Gayeng sanget nggeh…
    Nderekaken kemawon sami…
    Mugi Rahayu Ingkang Pinanggih…
    Ngapunten lo

  8. Nuwun sewu Ki Sabdalangit kula nyuwun pirsa sejatosipun budaya asli jawi adiluhung ingkang kedah kita uri uri punika ingkang pundi ? Menawi kula maos piwucan panjenengan ingkang sampun kaserat inginggil kadosipun menawi pemanggih kula sedaya pikantuk pengaruh sangking manca, kados saking piwucal Hindu (hindia), piwucal Islam Tasawuf ( Arab/Persi) utawi campuran kekalihipun. Bokbilih kapitadosan jawi ingkang asli punika menggah pemanggih kula inggih animisme/dinamisme punika. Kapitadosan Ratu Adil Satria Piningit punika mila mundhut saking kapitadosanipun Islam Syiah inggih punika Imam Mahdi. Dene carios carios ringgit cucal punika saking Mahabharata Hindia ( Ramayana/Baratayuda). Dene lampahan Dewa Ruci, Bima Suci, Mustakaweni, Bangun candhi Sapta arga, bokbilih carios yasa para wali ingkang dipun selarasaken piwucal Islam Tasawuf. Dene lampahan Dewi Drupadi ingkang dipun sayembaraaken lajeng kadhaup sedaya paraga gangsal Pandhawa punika kula boten manggihaken dateng carios padhangan amargi punika ketingalipun boten selaras kalian syariat Islam (poliandri). Wonten pedhalangan ingkang kula mangertosi wonten lampahan Sayembara Gandamana, Bhima mimpang sayembara lajeng Dewi Drupadi namung kadhaup dening Yudistira selaras piwuca syariat Islam. Mila menggah pemanggih kula tiyang Jawi/ Nuswantara boten kedah kendel namung ngugemi piwical piwucal/budaya pinisepuh ingkang mila adiluhung, ananging boten wonten awonipun bilih mundut budaya enggal sangking manca pundi kemawon waton boten nalisir saking piwucal moral/ahlak utawi kapitadosa agami ingkang resmi menggahing nagari kita Indonesia. Wusana semanten jenang sela wader kalen sesondheran. Nuwun.

    • Sanggar pasinaon yth
      Bab cerita wayang menika sdh ada sejak lembah hindustan dari India-Nusantara-Australia sebelah utara masih tersambung daratan. Disinyalir pusat seni dan budaya wayang ada di lembah atlantis yg mulai terindikasi sbg wilayah Nusantara.
      Bab SP dan RA sdh ada sejak sblm Islam masuk ke Nusantara. Beda juga dgn konsep Imam mahdi. Itu versi nujum Timteng. SP RA bukan hanya diprediksi oleh masy Nusantara saja bahkan masy dunia juga meramalkannya.
      Wayang di wilayah Nusantara paling banyak jml dan tokohnya. Di India jg tdk ada punakawan. Bahkan nama2 wayang lebih identik dgn nama2 org di Jawa ketimbang India.
      Mugi migunani tumrap seserepan.
      Rahayu sagung dumadi

  9. Kabar baik Satrio pambukaning gapuro majapahit Sudah datang!apa yg di katakan sabda langit adlh benar,Misteri kolam segaran adalah Kearaton Majapahit.seprti yg dsbt dlm kitab negara kertagama,sebuah keajaiban kota,tembok batu merah tebal tinggi mengitari pura,pintu sebelah barat adlh pura waktra menghadap lapangan luas bersabuk parit,emg terjd kesalahan masa lalu sumpah palapa yg bertujuan menyatukan nusantara berubah mnjd keserakahan dan ketamakan,marilah kita perbaiki skrg!

  10. Gara gara ada kapeka sii…jaman doeloe kaga ada siii…cuman tinggal bancakan..eeh…bacaan wat sejarah kalo voc bangkrut gara gara corrupt!…
    orang java paleng ewuh pekewuh…monggoo…ampun ngantos keconangan nggeh…

  11. Itu mah sama juga nyalahin lantainya nyang kotor Oom…
    Sapu nyang kotor dibela belain sampe regez…
    Xi xi xi
    .
    .
    cape deh
    .
    .
    by sabinah_love_pyur

  12. Ki sabda jk keraton Majapahit udh di temukan maka kita bs mmetakn Istana timur Majapahit,Saya menduga istana inilah tempat menyimpan hasil upeti kerajaan bawahan,hasil rampasan perang,perdagangan dan Industri kerajinan Majapahit,jk istana ditemukan kita serahkn aj pada nusantara utk kesejahtaraan rakyat sbg penebusan dosa keserakahan masa lalu.
    Saya tdk senang kehadiran industri pengolahan baja dkt situs purbakala Majapahit,Saya kwatir akn ada kegiatan eksploitasi besar2 harta peninggalan majapahit atas dalih pengolahan baja dan peningkatan pendapatan daerah.

    • Mas Latif Caso Yth
      Tentu saja, nanti akan ada waktunya. Jika sdh ada pemimpin Nasional yg dipercaya para leluhur. Dan hal itu, belum utk periode skrg ini.
      Pabrik baja sdh berhasil dihentikan hanya 35 hari setelah upacara adat kita lakukan. Bahkan lgs mendapat dukungan internasional dari 135 negara yg mendukung Trowulan sbg situs budaya dan sejarah penting harus dilindungi. Pemerintah pun lgs keluarkan UU Cagar budaya hanya dalam waktu kurang dari 2 bln setelah UA.
      Rahayu sagung titah dumadi

  13. Dengan Menyebut Nama Tuhan Yang Maha Hidup Lagi Menghidupi…Kami Robohkan Sebatang Pohon Toewa Nan Rapuh Dengan Rame Rame Menariknya Dengan Seutas Tali Baja…Kearah Diri Kami Sendiri…
    .
    Satu…Dua…Tiga…
    .
    .
    blep
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    by : ar_boret_um

  14. Jane kulo cenderung Suka Prabowo, jokowi ini kelihatannya byk campur tangan asing kulo mboten seneng.tpi itu sudah pilihan rakyat kita hrs menghargainya jg,berpegang teguh pancasila,ajaran ini sllu di menangkn sejak dulu olh mpu prapanca, Pd masa keemasan Majapahit kerajaan ini sngt kuat dan tak tersentuh,jd tdk ada fitnah kerajaan lain atau Agama /kepercayaan lain yg mengalahkan/mengkianati Majapahit,kerajaan ini di musnahkn olh Tuhan dan kekuatan alam krn lalai,keji,serakah dan tamak, byk pejabat penjilat dan korup Kemampuan ki sabda luar biasa bs mengungkap misteri kolam segeran sbg keraton Majapahit kemungkinan terkubur akibat letusan gunung berapi di daerah jejawar yg memiliki dukuh kemalasana,di keraton inilah mpu pranpanca di hina diprmalukn dan ditertawakn shg beliau berusaha membalikan keadaan/ menguttuk Majapahit dgn membubuhkn caraka walik pupuh terakier,saya anggap mpu pranca ini org suci Toh akhirnya ajaran kasih sayang,welas asih jawa dan pancasila yg di menangkn sampai saat ini.inilah pelajaran Pambukaning Gapura”jgn sampai hal ini terulang kembali pada indonesia yg kita cintai dgn merebaknya para koruptor dan penjilat negara asing untuk mempermudah kebijakan mengeruk kekayaan Indonesia.

    • Mas Latif Caso Yth
      PS sebenarnya pernah diberi kesempatan oleh para lêluhur agar menggenapi laku. Tapi itu tidak dilaksanakan. Pepeling sdh kita sampaikan jadi Wus ora kainan. PS tdk akan mjd baik dan.tdk akan mjd presiden jika tdk berpasangan dgn IN.
      Skrg sudah terjadi. Yg terpilih pun tdk berbekal WK, dan salah jalur yg ditempuhnya, jadi ya akan banyak sandungan dan sgt beresiko gagal total. Biarlah mjd lakon penutup menjelang tinarbukaning gerbang Nuswantara.
      Rahayu sagung dumadi

  15. cen ra gedoek og
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    kik kik kik
    .
    .
    muaach….

  16. Pun di protes anggep mawon kulo rojone biyen, kemampuan ki sabda sungguh luarbiasa bs melihat masa lalu,saya yakin meditasi anda bkn ilusi ataau mimpi,monggo ritual teng mojokerto deneh kejelasan malih,rumah saya tidak jauh dr mojokerto,ngoro industri tepi sungai brantas.

    • Mas Latif Caso Yth
      Njih Ki. Saya memang sdh kepengin skli kr Trowulan lagi. Apalagi setelah têka-teki Raden Jaya Sentika terungkap, semenjak malam upacara adat itu krn dikasih tahu oleh KRK siapa sejatinya beliau. Raden Jayasentika tdk lain adl putra Prabu BW 5. Beliau telah menuntun saya hingga menemukan makam Kjg Ratu Kencono Wungu istri Prabu BW 5. Yg ada di Kebun Raya Bogor. Dekat makam Mbah Jepra (Prabu Siliwangi).
      Nyai Kentring Manik, Raden Surawisesa (Mbah Dalem) adl putra Prabu Siliwangi yg ada darah Jawanya. Itulah sesambungan erat antara Pajajaran dgn Majapahit. Perang Bubar akibat fitnah dari saudagar asing.
      Rahayu sagung dumadi

  17. Sal sel…sal sel…
    .
    .
    likilikilik
    .
    bleb i

  18. Saya percaya dgn kemampuan spiritual sabdalangit,utk tokoh prabu brawijaya 5 ini raja majapahit stlh periode terjd bencana besar,mgkin yg dsbt masa candra sengkala ilang sirna kertaning bumi.terjd kekosongan kekuasaan Majapahit lama.jgnkn ibu kota majapahit,desa y g di lereng gunung penangungan rata dgn tanah tingal pondasinya aj .nuansa baru bg Majapahit memulai peradaban baru tp kekuatannya mungkin haya 30% dr Majapahit lama entah dr generasi mn prabu brawijaya 5 banyak pergolakn politk saat itu tentunya kisabda yg tahu

  19. Latif Caso@ saya jg sependapat dgn panjenengan soal ki sabdalangit, saya dulu sampe geleng-geleng kepala lihat artikel di situs ini. saya hampir tak percaya ada org seperti ki sabdalangit.

    ternyata ada org yg punya kemampuan batin/rohani seperti ki sabdalangit,dan yg paling penting ki sabdalangit mau berbagi informasi ke semua org.

    maaf ki sabdalangit, saya memang hanya sebatas membaca semua informasi yg ada disini. itu pun klo hati lagi pengen mampir ke situs ini. saya aja kadang minder mau tanya ki sabdalangit, krn saya memang org yg gk tau apa” tentang alam dunia yg kita huni skrg

    maaf kepanjangan,malah jd curhat ^__^

  20. Udah rampung…biar pd rame berebut teruuss…tetep ribet bgts sii…enakan terbang…bebas…lepas…bersama sabina…aaahh…pyurr…sluuurp…seeeerrr…

  21. yey!
    kacian deh loe…
    xi xi xi

  22. Saya hanya mencoba mengkaji secara ilmiah kitab negara kertagama kebetulan kok sama dgn sabda langit,sblm tahu ki sabda langit melakukn ritual di trowulan,Saya sudah menduga keraton majapahit adlh kolam segaran.dinding kolam batu merah tebal tinggi mengitari pura,perundakan sebelah barat kolam pintu msk pura seblh barat yg dsbt pura waktra,sedgkn dua kolam kecil sblh selatan pintu bersekat kedua keluar pura menuju istana selatan wilwatikta,yg saya kagum dr ki sabda langit adlh kok tahu misteri kolam segaran itu keraton Majapahit cuma dgn ritual / meditasi,cuma mngkin kekurangnya pd wkt itu tdk terjd dialog ki sabda lgt dgn ruh leluhur,krn leluhur kita pd jamanya msh menggunakn bhs sankrit/sansekerta jawa kuno,klo gk salah tema nya pesan dr gerbang trinatar trowulan 2011.

  23. Nuwun Ki Sabda nyuwun pirsa, BW V punika punapa Damarwulan kok kagungan garwa Kencanawungu ? La BW V punika punapa boten Kertabumi ramanipun R. Patah ?. Lajeng kedadosan perang bubat atawisipun Majapahit kalian Pajajaran ingkang nate kula waos punika jamanipun Patih Gajahmada ingkang boten nyarujuki bilih wontenipun besanan nanging wujut boyongan minangka negari telukan. La ingkang dipun sebat campur tangan asing punika asing pundi, punapa Cina, Gujarat, Arab ? Matur nuwun.

  24. Pangeran Jawi Wetan

    sugeng pepanggeyan malih ki, mohon maaf sebelumnya ini saya hanya ingin mencocokkan saja, apa betul ratu kencono wungu itu sekarang mengikuti salah satu dari keturunannya yg sekarang ada di jakarta seorang wanita muda belum nikah ber inisial sk nuwun ki sugeng rahayu.

  25. Nderek mampir… Dumateng ki Sabda langit, matur nuwun review-nipun… Salam rahayu kagem sederek-sederek sutresno sedoyo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: