(Satria Piningit) Pambukaning Gapura

 Kisah Perjalanan Wahyu Keprabon Mencari Satria Piningit Sejati

Lampah             :              (SATRIO PININGIT) PAMBUKANING GAPURA
Dhalang             :              KI SENO NUGROHO
Waktu                :              Minggu, 18 Mei 2014 (Malam Senin Pon)
Tempat             :              Halaman Makam Raja-raja Mataram di Kotagedhe Yogyakarta

Pasewakan Agung

Jika TIDAK, Nusantara akan kalah !!

Sesuai pralampita yang diberikan oleh Ki Dalang Panjangmas, seorang dalang yang mempunyai kekuatan idu geni (apa yang diucap akan terjadi) hidup pada masa kerajaan Mataram, pada masa kepemimpinan Gusti Hamangku Rat Agung lokasi di seputar wilayah Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.  Untuk menuntaskan lakon terdahulu Satria Piningit yang telah digelar pada Minggu Pon 4 Mei 2014 di Galur, Kulonprogo, DIY.  Jika lakon tidak dilanjutkan, bukan SP maupun kamu yang akan kalah, tetapi Nusantara. Kalah dari kekuatan jahat yang akan merusak dan merampok kekayaan alam Indonesia. Kekuatan jahat yang akan menjajah pola pikir generasi bangsa Indonesia. Mirip seperti pepeling Bung Karno, “kelak penjajahan yang kamu hadapi jauh lebih berat, karena yang menjajah adalah bangsamu sendiri. Apa yang dikatakan BK saat ini telah menjadi kenyataan, sebagian warga bangsa kita sendiri, yang menjadi  antek (kepanjangan tangan) kepentingan asing, dan agen-agen konspirasi yang melibatkan kekuatan transnasional. Kekejaman yang dilakukan oleh sebagian warga bangsa sendiri terhadap WNI yang lain tidak kalah kejam dibanding kolonialisme yang dilakukan oleh Negara asing terhadap bangsa Indonesia. Nasionalisme, atau sikap kecintaan terhadap tanah air kadang sengaja dirusak dengan dalih nilai-nilai ketuhanan. Padahal nasionalisme itu sendiri merupakan wujud manusia menghormati Tuhannya, seperti yang termaktub dalam ungkapan “hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawana, hamemayu hayuning diri. Sebuah nilai spiritual yang meliputi dimensi  triloka. Sebagian warga bangsa Indonesia jatuh cinta secara buta kepada bangsa lain, sampai-sampai terhadap bangsanya sendiri pun bersikap setengah hati. Sungguh luar biasa kekuatan yang merusak Nusantara ini. Karena Nusantara bagaikan gadis cantik idaman, setiap pria ingin meminangnya. Nusantara adalah syurga yang nyata, sumber berkah alam bagi kehidupan seluruh mahluk. Itulah sebabnya Nusantara menjadi incaran kepentingan ekonomi dan politik internasional. Jika sulit dikuasai melalui siasat kolonialisasi, maka penjajahan dilakukan memalui siasat imperialisme ekonomi, budaya dan spiritual. Yang pertama-tama dilakukan adalah merusak pola pikir (mind set) generasi penerus bangsa agar hilang rasa cinta tanah air dan tidak kenal akan jati diri bangsanya. Sebab keduanya merupakan “nyawa”, sumber kekuatan dan energy hidup yang menghidupkan setiap bangsa-bangsa di dunia ini tak terkecuali bangsa Indonesia. Jika keduanya hilang, Nusantara ini bagaikan bangsa ayam sayur, bangsa krupuk mlempem. Tinggal kentutnya doang yang bau. NKRI dijadikan bancakan oleh negara-negara asing, bagaikan  tubuh seekor rusa yang gemuk dikoyak oleh gerombolan serigala yang rakus. Jika kita tidak peduli semua persoalan kebangsaan itu, apalagi turut merusak nilai-nilai kebangsaan, sebagai generasi penerus bangsa mengambil peran sebagai babagian dari gerombolan serigala. Jika kita tidak menyadari,  peranan kita ibarat menjadi rusanya. Marilah kawan, bangkit dan bangunlah, jangan asik masyuk mendem lan mabok donga, jangan sampai hidup kita tak berguna, sia-sia dan membuat celaka anak turun kita kelak. Jangan sampai keberadaan kita di permukaan bumi Nusantara ini sekedar menyisakan ampas beracun kepada anak cucu kita yang akan hidup di masa yang akan datang. Itu dosa besar yang tiada ampun.

Kekuatan spirit pagelaran wayang kulit sudah saya singgung pada tulisan terdahulu dalam review pagelaran wayang dengan lakon Satria Piningit. Ending lakon SP berakhir dengan kalimat yang keluar dari sebdaning Ki Dalang Panjangmas,”Pujadewa, pekenira mung sawijining satria kang pantes kesinungan wahyu keprabon, sanajan pakenira wus kesinungan WK, nanging pekenira isih timur, kudu nunggu ing titiwancine dewasa kanggo jumeneng nata. (Pujadewa, kamu seseorang yang paling pantas menerima wahyu keprabon, walaupun kamu sudah terpilih oleh alam menerima Wahyu Keprabon, tetapi kamu masih muda, tunggu hingga saat dewasa nanti untuk menjadi ratu di kerajaan Hastina). Dan ternyata teka-teki siapa SP masih berlanjut, pada lakon lanjutan ternyata bukan Pujadewa (Raden Abimanyu), melainkan putranda Raden Abimanyu dengan Dewi Utari, yakni Raden Parikesit yang akhirnya kesinungan WK dari ayahandanya, dan bisa duduk di tahta kerajaan Hastinapura. Karena Raden Abimanyu gugur di medan laga, setelah melindungi pakdenya Prabu Puntadewa dari jebakan dan kepungan ribuan tentara Kurawa. Dan pada saat itu Raden Parikesit masih di dalam kandungan ibunda Dewi Utari.

Lakon terdahulu ternyata belum tuntas menceritakan siapa yang berhak pemegang WK hingga duduk di tahta kerajaan. Sesuai wangsit, lakon SP harus dituntaskan, jika tidak, maka yang kalah bukan SP tapi Nusantara. Lakon lanjutan mendapat titel dari Ki Dalang Panjangmas “Pambukaning Gapura”.  Jika disambung dengan lakon terdahulu menjadi satu kalimat penuh makna yakni, “Satria Piningit Pambukaning Gapura”. Masih dengan dalang yang sama, Ki Seno Nugroho. Kata Ki Dalang Panjangmas, “Dalang- é sing kae wingi wae…sing wis bisa manjing. Tak ada kata lain selain, injih sendika dawuh !!. Berapapun banyaknya beaya tidak masalah, ini untuk kepentingan orang banyak, kepentingan bangsa, ya Nusantara ini, bukan sekedar untuk kepuasan dan kepentingan pribadi. Maka seperti biasanya, uangnya yang akan menyesuaikan kebutuhan. Ada saja jalannya. Terimakasih kepada semua pihak yang membantu, dan khususnya sedulur-sedulur KKS senusantara atas kepedulian terhadap nasib bangsa ini.

Begitu dadakan menelpon Ki Seno Nugroho, tapi masih beruntung karena Ki Dalang Seno juga langsung menjawab, sendika dawuh Ki..! Padahal kalau mau nanggap Ki Seno biasanya harus jauh-jauh hari sebelumnya karena padatnya jadwal pentas pagelaran. Siangnya, setelah pagelaran wayang Satria Piningit Pambukaning Gapura, Ki Seno dan tim langsung berangkat ke Polandia karena kedubes RI Polandia ditanggap wayang oleh orang bule sana. Entah lakonnya apa lupa menanyakan. Mungkin juga lakone “jumenengan Andrew Sletzianowzky”…hehe.

Perjalanan WK mencari sang Negarawan Sejati

Atas saran gurunya Prabu Kresna, Raden Pujadewa yang sudah kesinungan WK, masih harus menunggu dewasa dan matang untuk menduduki dampar keprabon di kerajaan Hastinapura. Dan hukum tata keseimbangan alam masih berlanjut untuk menata keadaan mercapadha yang sudah terlampau mosak-masik akibat kekacauan dan kerusakan yang dibuat oleh trah Kurawa. Perjalanan WK untuk mencari siapa yang paling pantas dan berhak menyandang WK masih berlanjut. Hingga tiba saatnya, di mana terjadi suatu kisah yang terjadi kurang lebih 15 tahun setelah usainya Perang Bharatayudha, perang besar-besaran selama 18 hari antara pihak Pandawa dan Kurawa yang pada akhirnya dimenangkan oleh Pandawa. Tak berapa lama setelah itu, Prabu Yudhistira yang mempunyai nama lain Puntadewa, sebagai putra sulung dari Pandawa Lima bersaudara kemudian dinobatkan sebagai Raja di Hastinapura bergelar Prabu Kalimataya. Hingga pada suatu ketika Sang Prabu merasa usianya sudah tua, kemudian memutuskan untuk ‘lengser keprabon’ bukan karena terpaksa apalagi kudeta, melainkan mengikuti panggilan hati hendak madeg pandita’.

Pralampita gaib maupun kabarsecara cepat tersebar luas, dan nama Raden Parikesit sebagai calon pengganti yang akan meneruskan tahta Hastinapura juga sudah ditetapkan. Karena dialah yang telah dipilih oleh alam menyandang wahyu keprabon. Seperti biasanya, setiap kali ada peristiwa suksesi atau pergantian pimpinan di sebuah kerajaan/negara manapun akan selalu menjadi berita yang sangat menarik perhatian bagi siapapun, lebih-lebih bagi pihak yang berkepentingan. Sekalipun Raden Parikesit telah dipilih oleh alam sebagai seorang yang berhak duduk di tahta kerajaan Hastinapura, suksesi tidak berjalan dengan mudah karena mendapatkan gangguan dan upaya menggagalkan dari pihak anak turun Kurawa yang masih mewarisi sifat licik dan tamak kekuasaan. Di sinilah pasang surut perjalanan dan perjuangan sang SP pemegang WK sesungguhnya baru dimulai. Raden Parikesit akan mengalami berbagai upaya pembunuhan, dan penjegalan untuk menghalangi proses diwisudanya Raden Parikesit.

Pralampita gaib dan kabar yang tersiar hingga menyentuh pihak-pihak yang tidak menghendaki Raden Parikesit jumeneng nata. Kekuatan-kekuatan jahat yang menjadi lawan sang SP pun melakukan konsolidasi, saling bahu-membahu disatukan oleh kesamaan kepentingan dan niat jahat untuk menjegal Raden Parikesit diwisuda sebagai Raja di kerajaan Hastina. Walaupun Prabu Duryudana sebagai raja di trah Kurawa, sudah tewas di tangan Raden Werkudara. Sengkuni, Dorna juga telah tewas, dalam perang Baratayudha tetapi sisa-sisa kekuatan jahat itu masih ada dan diteruskan oleh anak-turun trah Korawa itu yang memiliki tabiat licik, julig, curang, dan serakah. Anak turun Kurawa tidak bekerja sendiri, mereka dibantu oleh kerajaan-kerajaan luar (negeri) yang memiliki kepentingan untuk menguasai asset-aset kerajaan Hastinapura. Itulah gambaran musuh-musuh kerajaan Hastinapura (Nusantara).

Refleksi Politik Makro

Dalam konstelasi politik nasional. Nusantara mengalami kerusakan akibat ulah para durjana yang merasuk ke dalam sendi-sendi kehiduan berbangsa dan bernegara. Seperti lakon terdahulu, di mana tahta kerajaan Hastinapura sedang diduduki prabu Duryudana (Duryudayana?) yang dianggap sebagai raja palsu karena tidak kesinungan WK maka tebusan korban jiwa dan harta yang dialami rakyat Hastinapura selama kepemimpinannya pun sangat besar. Hingga pada akhirnya, para kesatria Pandawa dalam penyamarannya dipimpin oleh Prabu Rengganisura, yang aslinya adalah Bimasena atau Wrekudara, demi menyudahi gonjang-ganjing di kerajaan Hastinapura, bermaksud untuk mencari di mana gerangan WK berada dan siapa sejatinya yang paling berhak menduduki tahta kerajaan Hastinapura. Nusantara mirip sebagai kerajaan Hastinapura. Rajanya raja palsu, tidak memiliki WK namun memaksa diri menduduki tahta kerajaan Hastinapura dengan kekuasaan uang dan politik tidak bersih. Maka di masa kepemimpinannya itulah hukum alam memberikan pengadilan. Kerajaan Hastina mengalami masa goro-goro, wolak-waliking zaman. Negara dirusak para durjana. Banyak musibah dan bencana di kerajaan Hastinapura selama dipimpin oleh sang Raja palsu trah Kurawa Duryudana.

Dalam lakon “Satria Piningit Pambukaning Gapura”, dikisahkan Prabu Duryudana telah tewas dalam perang Baratayudha. Partainya kalah, kemudian terkucil karena gagal menjalin koalisi dengan parpol manapun. Rengganisura dalam perjuangannya menegakkan hukum dan keadilan di negara Hastinapura, sudah tahu siapa kesatria bangsa yang kesinungan WK. Dan cerita perjuangan pun masih berlanjut. Kali ini bukan fokus pada perjuangan Prabu Rengganisura (Bima/Werkudara) tetapi alur kisah lebih fokus pada perjuangan sang SP sejati yakni “Raden Parikesit”. “Raden Parikesit” sebagai Satria Piningit sejati karena telah kesinungan WK masih saja mendapat serangan bertubi dari pihak anak tutun trah Kurawa, anak turunnya Sengkuni, Duryudana, Dorna, Aswatama, Dursasana. Serangan itu berupa fitnah, pengucilan, merusak kendaraannya, dan melucuti senjatanya, serta berbagai upaya meredam gerakan bawah tanah sang SP sejati. Dan saat ini perang yang sesungguhnya sedang dimulai antara “anak turun” Kurawa dengan sang SP sejati.

Para sesepuh “Pandawa”, para Begawan Junggring Saloka, Ki Lurah Semar Badranaya, para Bathara dan Sang Hyang Wenang telah memberikan restu kepada sang SP sejati. Sambil menunggu kematangan sang SP, hukum alam saat ini sedang menuntaskan tugasnya membersihkan segala yang kotor. Inilah saat penghabisan dari yang kotor-kotor sebelum orde Pambukaning Gapura dimulai. Sementara itu dipanggung politik Nasional, yang hebat, yang tampil gemilang, tetapi ingatlah, itu hanya di permukaan saja, hanya di atas panggung sandiwara politik. Dan adegan-adegan politik saat ini bukanlah diperankan oleh sang SP sejati. Kita musti eling dan waspada bahwa Nusantara sedang melakukan detoksifikasi, menguras racun dari dalam tubuh “makhluk besar” bernama Nusantara. Biarlah semua yang kotor dikeluarkan dari kolong tempat tidur agar mudah dibersihkan oleh hukum tata keseimbangan alam. Sekalipun rakyat Hastinapura sedikit kecewa tetapi kekecewaaan itu tidak akan berlangsung lama, hingga tiba saat yang tepat tampilnya sang SP sejati menyelamatkan Nusantara dari jurang kehancuran.

Bahkan sepertinya para “sesepuh” Hastina, Prabu Baladewa, Bima dll sengaja memingit sang SP dari panggung sandiwara politik untuk sementara waktu saja, agar tidak ikut tersapu oleh alam yang sedang bersih-bersih diri. Biarkan saat ini semua orang berpaling dari keberadaan sang SP sejati, dan semua orang asik mengarahkan andangannya pada hingar-bingar panggung politik untuk menikmati pertunjukan yang digelar saat ini. Tapi hanya sedikit orang yang sadar jika di atas panggung politik itulah kekuatan alam akan melakukan pembersihan untuk memungkasi kerusakan Nusantara. Setelah panggung politik benar-benar bersih dari manuver-manuver anak keturunan Kurawa, para “sesepuh” kerajaan Hastina akan mengeluarkan sang Satria Piningit sejati, dari tempat pingitannya untuk kemudian jumeneng nata di kerajaan Nuswantara.

Munculnya “gerakan bawah tanah”  dari keturunan Kurawa

Melanjutkan sinopsis pagelaran wayang Satria Piningit Pambukaning Gapura. Siang hari itu, jauh di sebuah tempat di perbatasan kerajaan Hastinapura telah terjadi pembicaraan yang sangat serius diantara tiga manusia. Meskipun tidak semua ketiganya mempunyai hubungan sebagai saudara tetapi mereka disatukan oleh ‘warisan’ dendam dan niat busuk yang samadari orangtua mereka masing-masing yang telah kalah dalam perang Baratayudha beberapa waktu sebelumnya. Mereka bertiga adalah generasi  penerus wangsa Kurawa yang masih tersisa setelah perang Bharatayuda selesai, yaitu : Kertiwindu, Danyang Suwela dan Dursasubala.

Kertiwindu adalah anak dari Patih Sengkuni , pada saat perang Bharatayudha ayahnya Sengkuni mati di tangan Bima Sena nama lain dari Werkudara.  Sementara ituDanyang Suwela adalah anak Aswatamayang tewas tertancap keris Pulanggeni yang tidak sengaja ditendang seorang bayi bernama Raden Parikesit sewaktu Aswatama mengendap-endap pada waktu dini hari hendak menghabisi Pandawa.Danyang Suwela adalah cucu dari Pendeta Durna. Dalam perang Bharatayudha, kakeknya Durna tewas di tangan Drestajumna dalam keadaan lengah dan kalut karena terkecoh oleh siasat Pandawa atas ide Prabu Kresna bahwa  anak satu-satunya dengan Dewi Wilutama yang bernama Aswatama  mati di medan laga.Padahal sebenarnya anak itu masih segar bugar sedangkan yang sebenarnya mati adalah Hestitama, nama seekor gajah perang yang terbunuh pada saat itu. Orang tuanya sendiri, Aswatama tewas oleh keris Pulanggeni yang ‘tertendang’ kaki mungil bayi Raden Parikesit setelah sebelumnya ia sudahberhasil menyusup ke Hastinapura dan membunuh banyak keluarga Pandawa, yaitu : Pancawala, Drestajumna, Srikandi, Sembadra, Niken Larasati, Sulasti juga Banowati. Sial baginya sewaktu hendak membunuh Drupadi, tiba-tiba bayi Parikesit menangis dan ia membelokkan pikirannya bermaksud ‘menyelesaikan’ bayi Parikesit dulu. Tapi siapa nyana, di bawah kaki Parikesit terdapat keris Pulanggeni dan entah siapa yang menggerakkannya, keris itu seperti di tendang kaki mungil Parikesit, melesat menancap tepat di jantung Aswatama, hingga tewaslah dirinya.SedangkanDursasubala adalah anak dari Raden Dursasana, seperti halnya dengan Sengkuni, Raden Dursasana dalam perang Bharatayudha tewassetelah dikalahkan oleh Raden Werkudara (Bima Sena).

Demikianlah, dalam perjumpaan itu akhirnya diputuskan karena menyadari bahwa mereka pasti akan kalah jika berhadapan langsung dengan para Pandawa, maka akan digunakan strategi adu domba, hasut sana sini, agar terjadi pertumpahan darah, perang dan perebutan tahta Hastinapura di antara keturunan para Pandawa sendiri.

Yang paling mudah untuk dihasut terlebih dahulu adalah Raja kerajaan Trajutrisna yang bernama Prabu Sawarka,  ia anak dari Boma Narakasura atau nama lainnya Suteja, dan merupakan cucu dari Kresna. Selanjutnya adalah Prabu Pancakusuma, ia anak  dari Prabu Pancawala yang berarti adalah cucu dari Puntadewa atau Yudistira atau Prabu Kalimataya itu sendiri.  Untuk lebih mengacaukan suasana menjelang jumenengan Raden Parikesit, Kertiwindu juga akan “gawe urup-urup” kepada kedua cucu Arjuna yang bernama Raden Wiratmaka (putera Raden Bambang Irawan dengan Dewi Titisari) yang berdiam di Pertapaan Yasaratadan Raden Wisantara (putera Raden Wisanggeni dengan Dewi Kencanaresmi) yang tinggal di pertapaan Cakrawala.

Rencana membuat kekacauan dan menggagalkan wisuda jumenengan Raden Parikesit menjadi Raja di Hastinapura sudah disusun rencana licik dan jahat,dipersiapkan dengan matang dan segera mereka berangkat untuk melaksanakan semua rencana ‘gerakan bawah tanah’ itu.

Pasewakan Agung Kerajaan Hastinapura  
“ Rembug Persiapan Wisuda Jumenengan Nata Raden Parikesit”

Hadir di Pasewakan Agung Hastinapura pada waktu itu : Prabu Kalimataya (Puntadewa), Prabu Baladewa, Prabu Kresna, Raden Werkudara, Raden Arjuna, Raden Nakula dan Sadewa juga hadir Jaya Sanga atau Sanga-Sanga (anak Setyaki), Sasikirana (anak Gatotkaca), Danurwendo (anak Antareja) dan Jayasena (anak Antasena).

Mereka semua diundang oleh Prabu Kalimataya (Puntadewa) yang sudah menyatakan diri  ‘lengser kepabron’ dan akan hidup ‘mandita’.  Estafet tahta kerajaan  Hastinapura selanjutnya sudah ditetapkan akan diserahkan kepada Raden Parikesit, anak dari Raden Abimanyu dan cucu dari Raden  Janaka/Arjuna. Mereka diundang untuk keperluan persiapan acara “Pahargyan Jumenengan Nata ‘Raden Parikesit’ menjadi Raja di Kerjaaan Hastinapura” yang akan segera diselenggarakan dalam waktu tidak lama lagi.

Undangan sudah disebarkan, waktu Wisuda Jumenengan Nata juga sudah ditentukan. Tapi sampai saat ini masih menyisakan beberapa hal yang perlu dipikirkan bersama. Pertama, Raden Parikesit sendiri sampai dengan saat ini belum mengetahui bahwa ia, oleh Prabu Kalimataya setelah berkonsultasi dengan para sesepuhdi Hastinapura telah ditetapkan sebagai penggantinya,maka kepada Sri Kresna di utus untuk menjemput Raden Parikesit di Pertapaan Sapta Argo. Kedua, masih perlu di bahas bersama siapa yang nantinya akan menjadi ‘warangka’ (pendamping/patih) dari Raden Parikesit setelah jumeneng nata di Hastinapura. Ketiga, menjelang  acara ‘Wisuda Jumenengan Nata Raden Parikesit sebagai Raja Hastinapura’ diharapkan dan diminta semua saling bahu-membahu mempersiapkan acara tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga pada hari yang sudah ditentukan dapat dilaksanakan dengan selamat, lancar dan tiada aral sesuatu apapun. Lebih-lebih karena disadari bahwa kesepakatan atau pengambilan keputusan terhadap Raden Parikesit sebagaiRaja Hastinapura pasti juga belum tentu dapat diterima semua pihak atau menimbulkan pendapat yang pro maupun kontra. Tapi bahwa keputusan tersebut telah disepakati tentu karena alasan yang jelas dan masuk akal.

Prabu Kresna menjelaskan : Mengapa estafet Hastinapura setelah Prabu Kalimatayamenghendaki ‘lengser keprabon’ tidak jatuh ke cucu Puntadewa sendiri?

Jawabannya adalah karena latar belakang sejarah yang terkait masalah penetapan calon Raja Hastinapura di masa depan. Yaitu pada saat sebelum perang Bharatayudha ada penetapan dari para Dewa di kahyangan yang menurunkan “Wahyu Keprabon” ke bumi. Siapa saja yang dapat menerima wahyu itu di kemudian hari akan berhak atas tahta bumi’kerajaan Hastinapura.

Kebetulan Wahyu Keprabon jatuh kepada Raden Abimanyu putra Arjuna. Namun kemudian Abimanyu gugur dalam perang Bharatayudha karena harus melindungi Puntadewa yang diserang oleh pasukan Kurawa, maka hak akan tahta untuknya itu beralih ke puteranya, yang kebetulan lahir tepat pada saat usainya perang Bharatayudha. Karena Raden Parikesit masih bayi, maka untuk sementara tampuk pimpinan kerajaan Hastinapura dipegang oleh Anak tertua Pandawa, yaitu Puntadewa, hingga nanti pada saatnya akan diserahkan kepada putra mahkota Raden Parikesit sesudah ia dewasa dan dinilai sudah siap menjadi Raja di Hastinapura.

Bagi yang sudah mengetahui latarbelakang dan alasan penetapan Raden Parikesit menjadi Raja Hastinapura menggantikan Prabu Kalimataya, pasti akan maklum dan dengan mudah menyetujui keputusan tersebut.Persoalan pertama, di serahkan kepada Sri Kresna untuk menuntaskannya. Masalah kedua, akan dibicarakan di antara para sesepuh saja. Untuk persoalan ketiga, agar jalannya acara ‘jumenengan’ nantinya dapat terlaksana sesuai rencana, maka kepada : Jaya Sanga atau Sanga-Sanga (anak Setyaki), Sasikirana (anak Gatotkaca), Danurwendo (anak Antareja) dan Jayasena (anak Antasena), mereka ditugasi untuk menjadi “telik sandi” mengamankan situasi dan kondisi dari segala gangguan dan bahaya yang dapat menyebabkan gangguan terhadap acara besar dan agung yang akan berlangsung.

Segera mereka keluar dari Pasewakan Agung, melaksanakan ‘dhawuh’ sebagai tim pengaman dan penyapu segala gangguan menjelang akan diwisudanya Raden Parikesit penerus WK, sebagai Raja Hastinapura.

Pasewakan Ageng di Kerajaan Trajutrisno

“Prabu Sawarka ‘malik tingal’ dan membawa pasukan segelar papan untuk menyerang Hastinapura karena kena kompor/hasutan Kertiwindu”

Hari itu diadakan pasewakan agung di bangsal Kerajaan Trajutrisno, telah menghadap Sang Patih Dirgobahu dan Senopati Tumenggung  Surosekti serta para pembesar kerajaan lainnya  ke hadapan Raja Trajutrisno yang bernama Prabu Sawarka, beliau adalah anak dari Raden Sutejo atau Bomanarakasura dan cucu dari Sri Kresna.Di Pasewakan itu, Prabu Sawarka menyampaikan bahwa beliau mendapat undangan untuk menghadiri acara ‘Jumenengan/Penobatan Raden Parikesit’ menjadi Raja di Hastinapura. Sebagai saudara, maka Sang Raja dengan senang hati akan menghadiri undangan tersebut dan kepada Patih juga para punggawa kerajaan lainnya,  diperintahkan untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya termasuk membawa beraneka ragam  ‘ulu bekti’ (kado, oleh-oleh/buah tangan) untuk mahargya acara penobatan itu.

Setelah semuanya disiapkan dan rombongan ‘panyengkuyung pahargyan’ dari Kerajaan Trajutrisno itu hendak berangkat ke kerajaan Hastinapura, tiba-tiba di depan pintu gerbang istanamereka dihadang oleh  tiga orang yang mengaku warga dari kerajaan Trajutrisno. Mereka bertiga adalah: Kertiwindu, Danyang Suwela dan Dursasubala. Mereka menanyakan maksud dan tujuan rombongan itu hendak pergi kemana. Raja Sarwaka sempat marah karena ada tiga orang yang dianggap ‘kurang ajar’ yang telah berani menghadang/menghentikan jalannya rombongan itu. Tapi sebelum kemarahan Raja Sawarka semakin memuncak, Kertiwindu dengan kelicikan dan kepandaiannya bersilat lidah,  berhasil meredam kemarahan Sang Raja.

Kesempatan yang baik itu lantas dimanfaatkan oleh Kertiwindu untuk menebar beberapa fitnah keji dengan tujuan untuk menyulut emosi Raja Sawarka. Kertiwindu mengatakan bahwa kematian dari ayah Prabu Sawarka sebenarnya adalah karena dibunuh oleh Prabu Kresna. Semula Prabu Sawarka tidak percaya karena Prabu Kresna adalah kakek yang selalu dipujanya. Namun Kertiwindu kemudian membeber cerita masa lalu (flashback), ketika suatu kali ada peristiwa di mana Dewi Hagnyanawati (istri Prabu Bomanarakasura) serong dengan adik tirinya yang bernama Raden Samba Wisnubrata. Tapi Raden Samba yang salah malah dibela oleh pamannya Raden Arjuna. Peristiwa itu menyebabkan Raden Suteja marah lalu menyerang Mandura dan dalam suatu kesempatan berhasil membunuh Raden Samba dengan cara dicincang atau ‘dijuwing-juwing’. Rupanya kematian Raden Samba itu menyebabkan kemarahan Prabu Kresna, kemudian Raden Suteja pun akhirnya juga dibunuh oleh Prabu Kresna dengan bantuan Gatutkaca. Maka, jika Prabu Sawarka tidak dapat menuntut balas atas kematian ayahnya kepada keturunan Kresna, Janaka  dan Gatutkaca, ia dikatakan sebagai anak yang tidak tahu diri, bodoh, pengecut, dan tidak berbakti. Demikian hasutan Kertiwindu yang merupakan anak dari Sengkuni.

Mendengar cerita yang disampaikan Kertiwindu itu, lalu segera berkobarlah amarah dan timbul dendam yang membara dalam diri Prabu Sawarka. Kepergian mereka yang sedianya akan turut “mahargya” penobatan Raden Parikesit menjadi Raja kerajaan Hastinapura berubah arah dan berbalik tujuan menjadi keinginan utuk menyerang, menggempur  dan menghancurkan Hastinapura guna menuntut balas atas kematian ayahandanya Prabu Bomanarakasura (Suteja), yang mati karena dibunuh oleh kakeknya sendiri Prabu Kresna di bantu oleh para Pandawa. Seluruh kekuatan pasukan kerajaan Trajutrisno segera disiap-siagakan dan diberangkatkan untuk menghancurleburkan kerajaan Hastinapura yang dianggap harus bertanggungjawab atas kematian ayahandanya. Turut dalam rombongan ini  dua orang punakawan, Togog dan Mbilung yang sebenarnya sudah mengetahui kelicikan Kertiwindu yang sudah mengadu domba antara Trajutrisna dengan Hastinapura dengan cerita karangannya. Berulangkali mereka berdua memberi nasehat dan memperingatkan kepada Sang Prabu Sarwaka maupun Sang Patih  Dirgobahu bahwa tindakan mereka ini salah. Tapi apa boleh dikata, mereka berdua hanyalah punakawan dan kawula alit yang tanpa daya.Pergerakan pasukan Trajutrisna yang ‘tanpa tedheng aling-aling’ dengan puluhan ribu wadyabalanya, dengan mudah dipantau dan diketahui oleh para telik sandhi Hastinapura yang bertugas untuk mengamankan Hastinapura dari segala macam ancaman maupun gangguan yang dapat  menghancurkan rencana  penobatan/diwisudanya Raden parikesit sebagai Raja Hastinapura.

Adalah Raden Jayasanga atau Sangasanga, mengetahui ada pasukan segelarpapan yangbergerak hendak memasuki wilayah kerajaan Hastinapura dan sangat mencurigakan itu, segera menghadang dan menghentikanmereka semua. Senopati Agung Trajutrisno, Tumenggung Surosekti pun langsung menghadapi Raden Jayasanga, terjadi pertempuran yang sengit, namun akhirnya Tumenggung Surasekti dapat dikalahkan oleh Raden Sanga-sanga.Lalu bersama dengan Raden Jayaseno, mereka berua menghadapi Patih Dirgobahu.Dalam pertempuran inipun Patih Dirgobahu sangat kuwalahan menghadapi duet maut Jayasanga & Jayaseno dan berhasil ditaklukkan oleh anak dari Raden Setyaki dan anak Raden Antasena ini.

Di sisi yang lain, akibat firnah dari anak turun Kurawa pula, terjadilah perang tanding yang seimbang dan sengit antara Prabu Sawarka dengan Raden Danurwendo anak dari Raden Antareja. Ketika meraka masing saling mengadu kesaktian, segera pergilah Raden Jayasanga ke Istana Hastinapura, melaporkan semua kejadian itu kepada Prabu Baladewa, bahwa ada musuh yang menyerang kerajaan Hastinapura di bawah pimpinan Prabu Sarwaka dari kerajaan Trajutrisna.  Demi mendengar nama itu, sebagai uwa/pakdhe dari Prabu Sarwaka, ia pun segera menuju ke medan peperangan dan mencari Prabu Sawarka.Singkat cerita, lalu terjadi pertempuran antara Prabu Mandura (Baladewa) denga Prabu Sawarka keponakannya. Karena kesaktian dari Prabu Baladewa walaupun sudah tua renta namun masih tak tertandingi, maka Prabu Sawarka berhasil dikalahkan, namun tidak dibunuh.  Kemudian Prabu Sawarka di’rangket’ untuk diadili dan dibawake Hastinapura. Pada saat itulah Prabu Kresna juga datang di tempat itu, namun semuanya sudah terlanjur terjadi. Tahulah Prabu Kresna bahwa kejadian ini adalah akibat Prabu Sawarka sudah dapat diperdaya oleh cerita fitnah Kertiwindu, Danyang Suwela dan Dursasubala. Sehingga Prabu Sawarka menjadi marah dan dendam kepada dirinya serta berusaha menuntut balas kematian ayahandanya Prabu Bomanarakasura kepadanya dan seluruh keturunan Pandawa. Bersama-sama dengan Prabu Baladewa mereka segera membawa (menawan) Prabu Sawarka ke Hastinapura.

Di Pertapaan Sapta Argo

“Raden Parikesit di jemput Prabu Kresna untuk di nobatkan menjadi Raja Hastinapura”.

Siang itu di Pertapaan Sapto Argo, Raden Parikesit sedang ‘sambat’ dengan ibunya Dewi Utari dan Kakeknya Panembahan Matswapati. Hadir di situ pula para punakawan : Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Panembahan Matswapati adalah mantan raja negara Wirata yang dulu bergelar Prabu Matswapati/Durgandana, beliau adalah ayahanda dari Dewi Utari istri Raden Abimanyu, dengan demikian beliau adalah “besan” dari Raden Janaka atau Arjuna.

Raden Parikesit tampak sedih hatinya karena ia banyak dicemooh dan disindir-sindir oleh kawan-kawannya sepermainannya bahkan ia merasa disingkirkan dari mereka. “Malu sekali rasanya saya ibunda, karena kawan-kawan sepermainan saya juga warga yang tinggal sekitar padepokan ini sering mengolok-olok saya. ‘Ojo kumpul karo Parikesit amarga deweke iku bocah sukerto. Ora cetho sopo bapakne !’ Sebetulnya siapakah ramandaku, duh ibu? Bukankah aku saat ini  sudah cukup dewasa untuk boleh mengetahui siapakah ayahku karena semenjak kecil sampai dengan saat ini aku belum pernah bertemu dengan beliau? Apakah aku memang ‘bocah lembu peteng’ seperti kata banyak orang di sekitar sini, yang tidak jelas siapa bapaknya?”

Sebagai ibu yang amat sangat mengasihi anak satu-satunya, Dewi Utari juga menjadi sangat berduka mendengar ‘sambat sebut’ Raden Parikesit yang begitu ‘memelas’.  Ditahan semampunya agar air mata yang sudah mengumpul dipelupuk matanya tidak jatuh berderai membasahi pipinya.

Namun sekuat apapun ia adalah wanita yang sangat peka dalam hal rasa, ia juga ibunya,  yang mengandung, melahirkan dan membesarkannya. Dalam segala keterbatasan dan ketidakberdayaannya  sebagai ibu dan seorang wanita, ia mampukan untuk berkata meski dengan terbata-bata : “ Duh cah bagus, anakku wong sigit Parikesit. Demikian nelangsanya ‘lelakon’ hidupmu, anakku. Tidak seperti kawan-kawanmu yang masih ditunggui dan didampingi oleh bapak dan ibunya, memang engkau sudah tak punya bapak sejak usiamu masih sembilan bulan dalam kandungan ibumu ini, sehingga sewaktu engkau lahirpun tiada ayahandamu di sampingmu, nak.”

 “Anakku, cah bagus Parikesit. Kamu bukan  anak ‘lembu peteng’. Cobalah kau tanyakan kepada kakekmu dan para punakawan yang mengetahui secara pasti sejarah dan latar belakang hidupmu. Ayahandamu itu seorang Ksatria anakku. Beliau wafat di medan perang Bharatayudha ketika engkau masih berusia sembilan bulan dalam kandungan ibumu ini. Nama ayahandamu adalah Raden Abimayu ya Raden Angkawijaya.”

 Suasana menjadi hening … (flashback)

Yah, di hari ke-13 perang Bharatayudha itulah bisikan takdir untuk Abimanyu datang.  Meski sudah dihalang-halangi sang ibu (Dewi Subadra) dan isterinya Dewi Utari yang tengah hamil tua, namun sebagai ksatria sejati, Abimanyu tidak goyah untuk menjalani mimpinya.   Namun sebenarnya, Abimanyu  juga sudah termakan dusta yang ia lakukan terhadap Dewi Utari bahwa ia belum punya istri dan bersedia mati tercabik-cabik senjata musuh di perang Bharatayudha jika berbohong.

“Sudahlah,  semua itu adalah kesalahanku. Aku masih mengingatnya namun aku sengaja untuk melupakannya karena aku tidak mau langkahku terputus. Semua akan aku lalui dengan langkah pasti karena memang demikian hakekat kehidupan,” begitu kata Abimanyu kepada Dewi Utari.

Di saat adegan yang sangat menyentuh kalbu, antara Abimanyu, Dewi Subadra dan Dewi Utari itu, datanglah Raden Sumitra memberi tahu Abimanyu bahwa pasukan Pandawa kehilangan senopati perang mereka, Werkudara dan Arjuna telah berhasil dijebak dua senopati perang Kurawa, Jayadentha dan Kartamarma untuk berperang di pinggir selatan dan utara padang Kurusetra. Abimanyu mengerti jika dia harus berhadapan dengan Durna, Karna, Duryudana, Adipati Sindu dan para senopati besar Kurawa lainnya. Tekadnya sudah bulat menyelamatkan Prabu Puntadewa dari kepungan musuh dan itu harus dibayar mahal dengan keberaniannya. Gelar papan pasukan Kurawa dengan formasi Cakra Byuha telah mengepung Abimanyu yang terlepas dari pengawalan prajurit Pandawa dan sendirian menghadapi kepungan para Prajurit Kurawa. Abimanyu akhirnya gugur dalam formasi Cakra Byuha yang dibuat pasukan Kurawa.

Ketika mereka yang  berada di situ sedang ngungun (suasana haru)dan hening  memasuki  suasana pikiran dan hati mereka masing-masing. Tiba-tiba datanglah Prabu Kresna di pertapaan Sapta Argo. Setelah menghaturkan sembah kepada Panembahan Matswapati dan menyapa Dewi Utari, Raden Parikesit serta para punakawan. Prabu Kresna menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke pertapaan itu.

“Perkenankanlah saya menyampaikan kabar berita ini. Beberapa waktu lalu, Prabu Kalimataya telah menyatakan diri untuk ‘lengser keprabon’ sebagai Raja di Hastinapura karena sudah sepuh dan akan ‘madeg pandita’. Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, bahwa sebenarnya yang berhak atas tahta Hastinapura adalah Raden Abimanyu. Nah, karena Raden Abimanyu telah tiada, kita semua sudah sepakat bahwa sebagai yang menjadi Raja Hastinapura adalah Raden Parikesit anak dari Raden Abimanyu. Hanya karena waktu itu ia masih kecil maka untuk sementara putra tertua Pandawa,  Raden Puntadewa yang sementara mengisi tahta yang kosong menjadi raja di Hastinapura lalu bergelar Prabu Kalimataya. Mengingat bahwa Parikesit dinilai sudah cukup dewasa. Maka, ijinkanlah saya saat ini ‘mboyong’ Raden Parikesit untuk saya ajak ke Hastinapura, untuk ‘sinengkakaken’ jumeneng nata/raja di kerajaan Hastinapura!”

Mendengar kabar gembira  itu, semua yang hadir, terutama Dewi Utari merasa sangat bersyukur bahwa anaknya satu-satunya memperoleh anugerah dari dewata dipercaya untuk menjadi raja di Hastinapura. “Cucuku Parkesit, segeralah minta ‘pangestu’ dari ibundamu Utari dan kakekmu Panembahan Matswapati, ajaklah para punakawan bersamamu. Ayo, waktunya sudah cukup mendesak, segeralah ikut aku ke Hastinapura”, kata Prabu Kresna.

Demikianlah, setelah mendapat ‘pangestu’ dari ibunda dan kakeknya. Prabu Kresna, Raden Parikesit dan para punakawan segera pamit dari pertapaan Saptoargo berangkat menuju kerajaan Hastinapura.

Cara Kotor Untuk Menghentikan Langkah SP

Di Kadipaten Ngamarta

“Prabu Pancakusuma (cucu Puntadewa),  berhasil dihasut oleh Kertiwindu untuk minta hak tahta Hastinapura setelah Kakeknya Prabu Kalimataya lengser kepabron”

Sesuai dengan yang sudah direncanakan semenjak awal, aksi ‘obong-obong’ atau ‘gawe urup-urup’ oleh Kertiwindu, Danyang Suwela dan Dursasubala  ditujukan ke Kadipaten (kerajaan kecil) Ngamarta yang dipimpin oleh Raja  Prabu Pancakusuma,  beliau adalah  anak  dari Prabu Pancawala. Prabu Pancawala adalah anak dari Puntadewa atau Yudistira atau Prabu Kalimataya dengan Dewi Drupadi. Prabu Pancawala lalu menikah dengan sepupunya, puteri dari Arjuna yang bernama Dewi Pregiwati dan mempunyai anak bernama Pancakusuma. Sedang Dewi Pregiwati itu sendiri adalah adaik dari Dewi Pregiwa, istri dari Raden Gatotkaca, anak Werkudara.

Setelah berhasil bertemu dengan Prabu Pancakusuma, maka segera Kertiwindu melancarkan hasutannya, dimulai dari hak waris negeri Hastina yang menurut sejarah dan latar belakang darah/waris keluarga maka yang paling berhak adalah Prabu Pancakusuma sebagai pewaris tahta Prabu Kalimataya. Karena ia adalah cucu dari Prabu Kalimataya dan sekaligus cucu dari Raden Janaka. Kalau sampai Raden Janaka memaksakan kehendaknya agar Raden Parikesit yang menggantikan Prabu Kalimataya itu menyalahi sejarah dan paugeran kerajaan. Apalagi Raden Parikesit itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Prabu Pancakusuma sehingga tidak kompeten untuk memimpin negara.

Dasar kloning Sengkuni yang sangat licik dan pandai bersilat lidah, singkat cerita, hati cucu Prabu Yudistira itu terbakar. Dengan pasukan segelar sepapan, dia ‘nglurug’ ke Hastinapura hendak protes karena ia merasa lebih berhak dan pantas daripada Raden Parikesit untuk menjadi raja menggantikan kakeknya Prabu Kalimataya.  Melihat ‘mangsa’nya sudah terbakar hatinya dan segera akan menyerang Hastinapura, dengan tertawa riang Kertiwindu cs pergi melanjutkan rencananya yang lain.

Di tengah perjalan menuju Hastinapura, pasukan dibawah pimpinan Prabu Pancakusuma itu berjumpa dengan Raden Arjuna/Janaka. “kebetulan sekali aku bertemu denganmu Eyang Arjuna, aku tidak terima jika saudaraku Raden Parikesit yang akan jumeneng nata di Hastinapura. Meskipun aku dan Parikesit sama-sama adalah cucumu, namun aku merasa lebih berhak atas tahta Hastinapura, karena aku juga cucu dari Prabu Kalimataya sedangkan Parikesit bukan cucu Prabu Kalimataya. Eyang Arjuna telah pilih kasih dan salah jika ikut menyetujui acara penobatan Parikesit menjadi raja Hastinapura.”

“Dengarlah dengan baik-baik cucuku Pancakusuma. Bukannya kakekmu ini pilih kasih atau mau merebut hak pewaris Hastinapura dan memberikan kepada Raden Parikesit, adikmu. Namun memang sudah menjadi ketetapan para dewata maupun alam semesta raya, bahwa yang berhak atas tahta Hastinapura adalah ia yang kasinungan “Wahyu Keprabon”. Wahyu Keprabon itu dimiliki oleh pamanmu Abimanyu dan setelah ia gugur di medan perang Bharatayudha, WK itu lalu dimiliki oleh Raden Parikesit. Namun karena waktu itu Parikesit masih kecil maka tahta Hastinapura untuk sementara dijalankan oleh Putera tertua Pandawa, kakekmu Prabu Yudistira. Karena Kakanda Prabu Kalimataya sudah merasa tua dan dipandang Parikesit sudah cukup dewasa maka tahta Hastinapura dilimpahkan kepada yang berhak yaitu  Raden Parikesit. Atas dasar hal itulah maka Raden Parikesit ditetapkan sebagai pengganti Prabu Kalimataya untuk menjadi raja di Hastinapura, cucuku Pancakusuma.”

“Aku tidak percaya dan tidak sependapat dengan apa yang disampaikan kakek Arjuna. Bagaimanpun dari silsilah dan menurut garis keturunan, aku merasa lebih berhak tinimbang Parikesit. Siapapun yang  menghalangi kemauanku menutut hak atas tahta Hastinapura akan kulawan, tak peduli siapapun dia, termasuk jika Eyang Arjuna juga akan menghalangiku maka akan aku lawan”

Merah padam muka Raden Harjuna mendengar kata-kata cucunya Prabu Pancakusuma yang sangat tidak sopan dan mau melawan kehendak Sang Hyang Wenang.  Singkat cerita, terjadi pertempuran yang sengit antara Prabu Pancakusuma dengan Prabu Arjuna. Tapi kesaktian dan kemampuan Prabu Pancakusuma masih sangat jauh dibandingkan dengan kesaktian dari kakeknya Raden Janaka. Dengan mudah Prabu Pancakusuma dapat ditaklukkan dan pada suatu kesempatan  Prabu Pancakusuma mau dibunuh oleh Raden Arjuna, tiba-tiba muncul Kyai Semar yang mencegah maksud Raden Arjuna itu.

“Kakang Semar, mengapa engkau mencegahku menghabisi Pancakusuma, cucuku? Luwih becik aku kelangan endog siji, putuku Pancakusuma iki tinimbang hamung gawe wirang !”

“Byiuuuung .. lhadalah, sabar nggih den. Itu semua bukan salah dari Prabu Pancakusuma. Ia hanya menjadi korban ‘obong-obong’ yang dilakukan oleh anaknya Sengkuni, si Kertiwindu. Maafkanlah dia dan ajaklah dia ke Hastinapura dengan baik-baik untuk ikut hadir dalam acara penobatan Raden Parikesit besok.  Saya nanti yang akan menuturkan cerita yang sebenar-benarnya kepada Prabu Pancakusuma dan meluruskan cerita yang telah dibelokkan oleh Kertiwindu, karena saya adalah pamomong para Pandawa dan keturunannya sehingga saya lebih akan dipercaya menyampaikannya kepada Prabu Pancakusuma.”

Di Pertapaan Cakrawala & Pertapaan Yasarata

“Kertiwindu mengaku dirinya adalah Raden Arjuna di hadapan Raden Wiratmaka dan Raden Wisantara yang belum pernah berjumpa dengan kakeknya Raden Arjuna”

Kertiwindu cs juga melaksanakan apa yang sudah direncanakan mereka yaitu menghasut kedua cucu Arjuna yang bernama Raden Wiratmaka (putera Raden Bambang Irawan dengan Dewi Titisari) yang berdiam di Pertapaan ‘Yasarata’ dan Raden Wisantara (putera Raden Wisanggeni dengan Dewi Kencanaresmi) yang tinggal di pertapaan ‘Cakrawala’.

Pada suatu saat, Raden Wiratmaka menyampaikan maksudnya kepada kedua orangtuanya hendak melihat acara penobatan Raden Parikesit menjadi Raja di Hastinapura menggantikan Prabu Kalimataya, ngiras pantes dia ingin mencari kakeknya Raden Arjuna yang belum pernah dijumpainya semenjak lahir sampai dengan sekarang.  Hal serupa juga disampaikan kepada sahabatnya Raden Wisantara bahwa ia hendak ke Hastinapura melihat acara penobatan sekaligus ingin mencari dan menjumpai kakeknya Raden Arjuna. Betapa terkejutnya Raden Wisantara ketika Raden Wiratmaka mengatakan bahwa Raden Arjuna adalah kakeknya, karena berdasarkan cerita kedua orangtuanya, ia juga mempunyai kakek yang bernama Raden Arjuna. Mengetahui bahwa sebenarnya mereka berdua bukan hanya sekedar sahabat melainkan juga saudara, maka berpelukanlah mereka berdua dan bersama-sama pergi menuju Hastinapura.

Di tengah jalan mereka dihadang Kertiwindu. Setelah terjadi pembicaraan di antara mereka bertiga dan diketahui bahwa mereka hendak ke Hastinapura mencari kakeknya Raden Arjuna, maka dengan cepat dipeluknya kedua anak itu dan mengatakan bahwa Raden Arjuna yang mereka cari itu sudah berada di depan mata. Tidak perlu di cari kemana-mana, demikian Kertiwindu mengaku dirinya sebagai Raden Arjuna. Meski sebenarnya kedua anak itu agak ragu tapi karena memang belum pernah berjumpa dengan kakeknya dan ada orang yang mengaku-aku kakeknya dan juga mengenal seluruh keluarganya, maka mereka pun menjadi percaya juga.  Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Kertiwindu yang mengaku sebagai Raden Janaka, bahwa ia sampai terlunta-lunta seperti ini karena di usir oleh Raden Parikesit dari Hastinapura. Maka mereka berdua dimintai tolong untuk membalaskan sakit hatinya kepada Raden Parikesit.

Segera mereka berdua berangkat menuju ke Hastinapura.  Ketika mereka sampai di Hastinapura, mereka bertemu dengan Raden Janaka. Terjadi perbincangan di antara mereka, ketika di tanya maksud kedatangannya ke Hastinapura, mereka menjawab akan mencari Prabu Parikesit dan akan membalaskan sakit hati kakeknya Raden Arjuna yang telah diusir Parikesit dari Hastinapura. Oleh Raden Arjuna mereka ditanya latarbelakangnya. Setelah tahu bahwa mereka berdua adalah anak dari Bambang Irawan dan Wisanggeni, maka segera dipeluklah mereka berdua oleh Raden Janaka. Dalam situasi bingung karena tadi juga berjumpa dengan orang yang mengaku Raden Arjuna, mereka bertanya siapakah yang sebenarnya kakeknya itu.  Tetapi akhirnya mereka mengetahui bahwa kakeknya yang asli adalah orang yang mereka temui terakhir, sedang yang pertama ditemui tadi adalah gadungan. “Sebenarnya kami sudah ragu dengan orang pertama yang mengaku sebagai kakek tadi, karena menurut cerita kakek itu tampan, tetapi orang tadi itu tampangnya jelek dan sama sekali tidak tampan …”. Demikianlah akhirnya mereka berjumpa dengan kakek aslinya.

Menjelang jumenengan Raden Prikesit, Punakawan Petruk melaporkan bahwa di lereng bukit sana ada anak turun Sengkuni, Dursasana, Duryudana, Durna bersama Kertiwindu tengah asik jejogetan, bersukacita melihat negara Hastina dikacau oleh orang-orang yang berhasil dihasutnya. Maka sang Kakek Baladewa segera menghampirinya. Ditumpaslah anak turun Kurawa yang selalu menjadi biang kerok kekacauan dan kerusuhan politik.

Setelah para telik sandi dan Tim Pangaman yang bertugas melenyapkan segala gangguan menjelang akan diwisudanya Raden parikesit sebagai Raja Hastinapura mengetahui siapa biang keladi semua kekacauan itu, maka segera dicarilah para tokoh penyebab keonaran itu. Tanpa banyak kesulitan maka Kertiwindu, Danyang suwela dan Dursasubala dapat di temukan. Tanpa ampun segera di tangkap dan dibinasakanlah mereka bertiga. Kertiwindu mati di tangan Prabu Baladewa, Danyang Suwela berhasi dibunuh oleh Raden Arjuna dan Dursasubala akhirnya meninggal diinjak-injak oleh Raden Harya Werkudara.

Semua para pengacau dan biang keladi yang sudah menghasut, ‘obong-obong’ dan ‘ngompori’  Prabu Sarwaka, Prabu Pancakusuma, Raden Wiratmaka dan Raden Wisantara untuk menjegal dan mengacaukan jumenengan nata Raden Parikesit menjadi raja Hastinapura sudah binasa.

Di Pasewakan Hastinapura

“Penobatan Raden Parikesit menjadi Raja Hastinapura dan bergelar PRABU PARIKESIT PARIPURNA PUNTADEWA”

Hari itu di kerajaan Hastinapura telah hadir dan berkumpul para sesepuh dari Pandawa  maupun para tamu undangan dari kerajaan-kerajaan bawahan Hastinapura maupun kerajaan sahabat. Para sesepuh yang hadir di antaranya : Prabu Baladewa, Prabu Kresna dan seluruh Pandawa lima.  Suasana acara “Wisudan Jumeneng Nata (Penobatan) Raden Parikesit” menjadi Raja di Hastinapura menggantikan Eyang Agengnya Prabu Kalimataya digambarkan sangat sakral dan agung.  Sesepuh yang ditunjuk untuk memimpin dan me-legitimasi acara ‘penobatan’ itu adalah Prabu Baladewa dan Prabu Kresna.

Demikianlah, setelah Prabu Kalimataya/Puntadewa menyatakan ‘lengser keprabon’ karena sudah sepuh, Prabu Kalimataya dan adik-adiknya : Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa telah mengambil keputusan bersama untuk  ‘madeg pandito’  yaitu pergi mengembara untuk mendalami hidup spiritual sebagai pendeta. Bagi seorang pimpinan tertinggi menyerahkan kekuasaan kepada seseorang dengan damai dan ikhlas kepada penggantinya diperlukan kualitas sifat kepemimpinan Prabu kalimataya/Puntadewa yang mempunyai sifat introspeksi yang sangat mendalam terhadap kemampuan dirinya sendiri dan kepercayaan yang besar pada pihak yang akan menggantikan. Dan Raden Parikesit sebenarnya telah “terpilih” untuk menerima tanggung jawab estafet kepemimpinan di Hastinapura itu semenjak ia belum dilahirkan serta masih dalam kandungan ibunya Dewi Utari.

Semestinya peristiwa suksesi itu berjalan dengan mulus karena jauh sebelumnya sudah terpilih dengan pasti siapa yang berhak atas kepemimpinan di kerajaan Hastinapura itu selanjutnya, apalagi proses suksesi itu ditempuh dengan cara damai dan ikhlas. Gangguan-gangguan yang terjadi menjelang suksesi  dapat dilihat sebagai bentuk ‘kewajaran’ wujud atau ungkapan dari ketidakpuasan atau ketidaksetujuan seseorang atau kelompok tertentu terhadap sebuah keputusan kenegaraan yang telah ditetapkan pada waktu itu. Hal itu dapat terjadi manakala mereka kurang atau belum dapat memahami dan mengerti apa yang yang menjadi landasan, dasar dan pijakan pembuatan keputusan kenegaraan itu. Celah-celah itulah yang dimanfaatkan oleh segelintir orang dengan sengaja membuat kekacauan, gangguan bahkan kalau bisa menggagalkan peristiwa suksesi yang semestinya dapat berlangsung dengan damai dan mudah itu. Namun, tak ada manusia yang bisa melawan takdir. Sudah menjadi kehendak alam semesta dan para dewata bahwa hukum karma dan hukum tata keseimbangan alam selalu berlangsung tanpa menyisakan sedikitpun ketidakadilan. Yang harus terjadi musti terjadi.

Hari itu, Raden Parikesit  dinobatkan menjadi raja dan pemimpin yang baru di kerajaan Hastinapura. Disaksikan dan direstui oleh semua yang hadir Raden Parikesit secara resmi dan sah menjadi raja baru di kerajaan Hastinapura dan bergelar  “PRABU PARIKESIT PARIPURNA PUNTADEWA”. Ditetapkan pula oleh Prabu Kresna pada saat itu yang akan menjadi “warangka/pendamping/patih” sang raja adalah : Raden Danurwendo (anak Antareja) sebagai Patih Luar dan Harya Dwara, cucu dari Prabu Kresna, putera pasangan Samba dan Dewi Hagnyanawati sebagai Patih Dalam. (THE END)

*Catatan :

Dalam beberapa versi pewayangan gelar Raden Parikesit setelah menjadi Raja Hastinapura adalah “PRABU KRESNADIPAYANA”.

Jagad “Hastinapura” (Nusantara)

Dua penggal lakon wayang Satria Piningit & Pambukaning Gapura menggambarkan dinamika politik kerajaan “Hastinapura” (sebut saja Nusantara) dengan fokus cerita pada siapa yang paling berhak duduk di singgasana kerajaan “Hastinapura”.  Sequel cerita dimulai dari lakon Satria Piningit yang digelar pada 4 Mei 2014, merupakan peristiwa perjalanan WK pada masa sebelum terjadi perang  Baratayudha, kemudian dilanjutkan dengan sequel pasca perang Baratayudha dengan lakon Pambukaning Gapura. Konflik atas dasar  perebutan kekuasaan dan diperankan oleh dua kubu kontrapolitik, yakni antara pihak antagonis Kurawa Seratus dan protagonis Pandawa Lima. Keduanya masih satu garis keturunan dari Begawan Abyasa dengan Dewi Ambalika. Namun perang Baratayudha merupakan perang pembersihan, perang untuk membela hak dan kebenaran sesuai hukum alam, tanpa pandang bulu dan pilih-pilih mana saudara mana bukan. Nyali dan perasaan dalam kapasitas sebagai saudara dan dalam tanggungjawabnya sebagai kesatria  benar-benar diuji. Masing-masing tokoh diuji komitmennya, diuji sikap kesatrianya, dites perasaan sebagai saudara dan dari peristiwa itu lahirlah nilai-nilai kebijaksanaan hidup bagaimana harus bersikap, bertidnak dan menentukan pilihan yang sulit. Kesatria sejati tidak pilih tanding dan tidak pilih kasih. Karena ia bertindak dengan dasar membela hak dan kebenaran. Sekalipun saudara jika yang dihadapinya adalah orang yang melanggar hukum alam, keadilan harus ditegakkan. Perang bukan dengan emosi, tetap dengan nalar sehat, dan dengan segenap peraturan (etika) perang yang tidak boleh dilanggar.

Dalam lakon perang Baratayudha versi yang orisinil atau belum dicampuri kreatifitas dan improvisasi masing-masing orang yang men-dalang, di dalamnya mengandung nilai kebijaksanaan hidup yang adiluhung namun  untuk memahami makna tersirat butuh kecermatan batin dan skal pikiran. Bila dimaknai secara mentah-mentah setiap peristiwa yang terjadi justru akan menimbulkan prasangka negatif. Perang baratayudha menceritakan bagaimana seseorang harus bersikap bijaksana dan adil, tegas dan penuh kasih. Di sinilah kita bisa belajar tentang suatu nilai yang sakral, bagaimana sikap welas asih dan bijaksana benar-benar diuji dalan situasi yang sangat sulit. Dalam perang Baratayudha terdapat dua nilai yang saling bergesekan, yakni antara tanggungjawab sebagai sesama saudara, dan di sisi lain adalah tanggungjawab sebagai kesatria. Sekali lagi, lakon perang Baratayudha kaya akan nilai-nilai kebijaksanaan, kemanusiaan, dan kehidupan manusia secara apa adanya, asalkan kita secara teliti memahami alur cerita dan cermat mengambil kesimpulan dari alur cerita.

Alur cerita di jagad pakeliran, similar dengan yang terjadi pada jagad politik Nusantara satu decade ini. Perjalanan Wahyu Keprabon mencari siapa SP sejati, benar-benar wingit namun seru, melalui lika-liku lakon kehidupan. Sayangnya tidak mudah dicermati dengan mata wadag oleh setiap orang. Semenjak WK berada di tangan Ibu Tien Soeharto, WK tidak pernah turun kepada siapapun termasuk Habibi, Gusdur, Mega dan SBY. Dalam perjalanannya WK melewati fase goro-goro dan jaman edan. Yang ditandai dengan berbagai fenomena alam. Bumi gonjang-ganjing. Jalanidi warih lir kinebur-kebur kinoclak-koclak. Langit kelap-kelip, cleret taun, udan barat, kilat thathit, bledek mangampar-ampar. Fase jaman-edan, dikombinasi dengan wolak-waliking jaman (zaman serba terbalik). Keadaan ini yang memotifasi Pandawa Lima yang menyamar dengan merubah ujud dan penampilannya untuk mencari jawaban di manakah gerangan WK berada. Dipimpin oleh “Prabu Rengganisura” (Raden Werkudara) takon ing ngendi dununge wahyu keprabon, lan sapa sejatine satria piningit kang kesinungan wahyu keprabon?. Sebab raja yang duduk di tahta kerajaan saat ini raja tanpa WK  adalah raja palsu, raja yang tidak direstui oleh sang Jagadnata dan para leluhur agung bumiputra Nusantara. Raja yang tidak akan menciptakan kemakmuran, ketentraman, kedamaian, dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sebaliknya negara akan mengalami kebangkrutan, karena begitu banyak bromocorah yang menjadi pejabat dan mentarget merampok aset negara. Bencana, musibah, wabah penyakit, pagebluk, terjadi silih berganti melanda seluruh wilayah negeri. Paceklik, mahal papan, sandang dan pangan, pelanggaran hukum berupa tindak criminal, terror, melanda seantero jagad pakeliran Nusantara. Nasib rakyat kadya gabah den interi. Tatanan lan paugeran rusak, margo akeh “setan riwa-riwa” pindha manungsa anggowo agama.

Usaha “Prabu Rengganisura”dan bala tentaranya tidaklah sia-sia. Saat itu mulai menampakkan hasilnya. Akhirnya dapat diketahuilah siapa sesungguhnya yang kesinungan WK, ialah orang yang telah banyak berjasa dan berkarya untuk Nusantara, jujur, adil, lilo-legowo, tegas, berwibawa, serta selalu berbakti kepada para leluhur bumiputra bangsa, sehingga ia mendapatkan restu para leluhur dan Roh Jagad Agung untuk menyelamatkan Nusantara.

Sang Satria Piningit

Dalam jagad pakeliran, menggambarkan jalan berliku Raden Parikesit yang kesinungan WK, hingga jumeneng ratu di Hastinapura. Raden Parikesit paling tidak mengalami 3 kali kendala besar, tantangan dan hambatan yang berat, bahkan sampai bertaruh nyawa hingga pada saatnya jumeneng nata di kerajaan Hastinapura. Hubungannya denga realitas politik tanah air saat ini benar-benar klop. Di mana sang Satria Piningit sejati putra Nusantara hanya fokus giat bekerja dan berkarya dalam scope besar, mengabdikan sisa hidupnya untuk nusa dan bangsa. Meskipun sudah sedemikian besar jasanya untuk NKRI, ia seringkali difitnah, ditipu, diperdaya oleh kelompok “Kurawa dan keturunannya”. Walaupun sadar SP jika dirinya ditipu tetapi ia menerapkan ngelmu sebagai satria utama (satriatama) “Tanah Jawa” (nusantara), yang harus memiliki hati seluas samudra, sugih ati, sugih ngelmu, sugih bandha, sugih kuwasa. Baginya, ditipu para durjana tidak akan membuatnya sengsara dan melarat. Sebaliknya, para durjana itu akan menjadi “batu” loncatan menuju tataran kemuliaan yang lebih tinggi. SP sejati Tidak sakit hati bila dihina, tidak sedih jika kehilangan, dan tetap tersenyum dalam keadaan duka-lara. Itulah alasan kenapa SP sejati dikatakan bagaikan manusia “setengah dewa”.

Hiruk-pikuk eskalasi makro politik menjelang suksesi kepemimpinan Nasional diwarnai dengan persaingan memperebutkan kekuasaan. Meskipun demikian justru situasi dan kondisi ini, membuat sang SP sejati harus menghentikan langkahnya sendiri untuk sementara waktu. SP sejati tidak ikut campur di dalam hiruk-pikuk politik itu. SP sejati menunda langkahnya dari panggung politik Nasional hanya  untuk sementara waktu saja. Karena SP sejati sadar saat ini bukan timing untuk tampil di hadapan rakyat Nusantara. Saat ini alam masih akan melangsungkan pembersihan bumi Nusantara dari segala yang kotor.  Sinengkalan  “Sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad” siklusnya masih berlanjut. Semua kotoran yang tersembunyi di dalam kolong akan keluar dengan sendirinya, dan sebagian yang lain akan dikeluarkan secara paksa oleh kekuatan alam.  Suksesi bagaikan umpan agar sasaran pembersihan alam keluar dari sarangnya. Sementara bagi yang tidak merasa kotor tidak perlu khawatir karena hukum alam tidak pernah menyisakan sedikitpun ketidakadilan. Panggung politik nasional akan menjadi arena akrobat maut para politisi, sebelum kekuatan hukum alam melakukan “pembersihan”. Setelah itu SP akan tampil pada timing yang tepat untuk memimpin tindakan penyelamatan Nusantara bersama sebagian besar rakyat Indonesia. SP sejati tidak akan menggunakan kekuatannya sekedar untuk segera tampil di kancah politik pada saat ini. Sebaliknya SP sejati tetap melakukan tapa ngeli, menyerahkan dinamika politik kepada hukum tata keseimbangan alam yang saat ini akan segera menuntaskan segala yang kotor, terutama ulah “anak-keturunan” tokoh-tokoh “kurawa” yang sedang mengguncang panggung sandiwara politik Nasional saat ini.

Siapa SP Sejati ?

Siapa SP sejati, ia akan tampil di depan publik pada waktu yang tepat. Sembari menunggu kekuatan alam usai melakukan pembersihan. Setelah itu SP sejati keluar dari tempat “pengasingannya”. Perlu saya garisbawahi, bahwa SP sejati tidak berada di dalam komposisi capres-cawapres saat ini. Namun demikian tidak ada larangan bagi siapapun, boleh-boleh saja orang menganggap, menilai, mengira dengan penuh yakin, di antara capres-cawapres yang ada saat ini adalah SP. Monggo, tetapi fakta noumena-nya tidak lah demikian !

Seperti yang disampaikan oleh Ki Juru Martani, ahli strategi dan penasehat  politik Kanjeng Panembahan Senopati Mataram. Bahwa Satria Piningit saat ini walau belum tampil di panggung politik, tetapi bukan berarti SP kalah. Jika SP kalah bukanlah ia pribadi yang kalah, itu artinya Nusantara yang kalah melawan para durjana perusak bangsa. SP sejati tidak hanya merupakan figur seseorang, namun ia merepresentasikan sistem, atau tatanan di Nusantara yang sedang dan akan terjadi di waktu yang akan datang.  Sampai saat ini WK yang berujud sinar kuning keemasan tetap berada menyelimuti wajah dan cakra mahkota sang SP sejati, yakni “Raden Parikesit” dari timur. Bagi para ancesters sebagai kekuatan supernatural power, bukanlah pekerjaan sulit membuang para durjana di Nusantara ini. Tetapi leluhur sebagai kekuatan supernatural power sudah mengetahui sebagian besar rahasia kehidupan ini. Tetapi mereka tidak akan menuruti kehendak sendiri dan tergesa-gesa, sebaliknya tindakan para super natural power sangat bijaksana dan patuh dengan hukum tata keseimbangan alam. Karena pemaksaan kehendak akan membawa konsekuensi minus juga, atau tebusan. Dan akan mepengaruhi kualitas berkah yang akan diperoleh rakyat Nusantara.

Para keturunan / sisa-sisa generasi penerus “Kurawa” boleh-boleh saja merasa sudah berhasil memenangkan pertarungan. Biarkan para keturunan Kurawa memuaskan hatinya dengan “jejogetan” menari di atas lereng bukit sana. Tapi jika berlebihan bisa-bisa nanti mati konyol dihajar Eyang Baladewa atau hidup sulit karena digilas nasib buruk. “Anak turun kurawa” yang kelakuannya antagonis, atau  bertentangan, tidak selaras dan tidak harmonis dengan hukum tata keseimbangan alam, musti menyadari bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang pribadi SP melainkan kekuatan alam yang sedang menjalankan pembersihan Nusantara dari segala yang kotor dan merusak bangsa. Secara akal sehat dan logika mungkinkah pihak “kurawa” akan berhasil menggulung kerajaan “Hastina” Nusantara di dalam fase Tinarbukaning Gerbang untuk Kejayaan Nusantara ini ?

Dengan alasan apapun, kekuatan supernatural power tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dinamika hukum tata keseimbangan alam yang begitu dahsyat juga tidak bisa dilawan. Apa yang terjadi saat ini hanyalah masa di mana kekuatan alam hendak menghabiskan yang kotor. Sebab Nusantara harus relatif bersih pada saat SP sejati tiba saatnya menjalankan tugas untuk membuka “gerbang bagi kejayaan Nusantara”. SP sejati juga tidak boleh dicampur dengan “SP palsu” dan orang-orang yang dinilai tidak selaras dengan  hukum alam. SP tidak kalah! Hanya menunggu waktu saja.

Sasmita Gaib

Di pasarean Agung Imogiri terdapat dua gentong (tempayan air) pusaka dengan ukuran besar, namanya Kyai Megamendung dan Kyai Ngerum. Dua gentong itu menjadi kaca-benggala, terutama saat menjelang suksesi kepemimpinan Nasional. Kedua gentong itu bisa untuk mengetahui siapa sosok yang bakal menjadi presiden dan wakilnya. Sosok yang akan tampil sebagai pemenang pilpres, wajahnya akan muncul di permukaan air gentong pusaka itu. Sudah 5 tahun terakhir ini Kyai Megamendung memunculkan wajah SP sejati.  Tetapi selama itu pula wajah pasangannya tidak kunjung muncul juga.

Dahulu PS diharapkan dapat “menggenapi laku” untuk menebus segala “dosa” politik agar kuat lahir batinnya menjadi tandem bagi sang SP sejati pemegang WK.  Tetapi rupanya hal itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik sampai detik-detik terakhir. Maka kesempatan itu telah tertutup. Berhasil nyapres bukanlah indicator derajat  kamulyan dan kesuksesan hidup. Apalagi tolok ukur dirinya sebagai SP. Tidak… kawan…!

Serba Kuwalik

Dalam gentong pusaka, wajah yang muncul tetap SP sejati. Tetapi sejak 1 bulan sebelum pendaftaran capres-cawapres ditutup di dalam gentong pusaka satunya malah muncul gambar PS membawa cangkul sementara Jkw membawa bedil. Para pembaca yang budiman pun, bebas untuk mengartikannya. Jika diwedar gambar itu menjadi perlambang masing-masing pihak telah salah pilih dan salah langkah. Bisa jadi salah pilih pasangan cawapres, atau salah langkah dalam mengambil tindakan politik. Realitas politik saat ini potensial membuat bingung rakyat. Di satu sisi, pasangan PS-H dan Jkw-JK keduanya memiliki nilai plus. Tapi masing-masing memiliki beberapa “kartu mati”. Pasangannya bukan memperkuat integritas  sebagai capres-cawapres, sebaliknya malah melemahkan dan membuat ganjalan di hati rakyat yang akan memilihnya. Belum lagi jika bicara soal kekurangannya. Dalam perebutan kekuasan pun semakin hari diwarnai kompetisi tidak sehat.  Saya melihat ada kecenderungan, pasangan capres-cawapres bukan berfokus pada upaya meraih dukungan rakyat untuk mengalahkan rivalnya. Tetapi membongkar  “kartu mati” yang dimiliki oleh rival politik. Kecenderungan itu tidak terlepas dari masalah pribadi yang ada di antara kedua rival pasangan itu.

“Kawin Paksa”

Wajah SP sejati yang muncul di gentong pusaka Kyai Megamendung, bukanlah salah satu atau dua, di antara ke empat figur capres-cawapres saat ini yang sudah mendaftar resmi di KPU.  Sementara itu gambar “PS membawa cangkul” dan “Jkw membawa senapan” memang tidak lazim. Lazimnya PS membawa senapan, dan Jkw membawa cangkul. Jkw memiliki kekuatan yakni pada sisi innocent-nya. Beliau mirip bayi lahir belum punya dosa politik. Tetapi bayi yang baru lahir tanpa dosa juga belum berprestasi untuk nusa dan bangsanya. Sementara itu, Nusantara tidak cukup dipimpin oleh orang yang jujur dan bersih. Lebih dari itu butuh Negarawan sejati yang sudah membuktikan diri mampu berdiri di atas semua golongan dan kelompok kepentingan. Negarawan sejati memiliki sikap nasionalisme dan patriotisme yang sudah teruji. Mandiri, cakap, tegas, berwibawa, dan memiliki integritas yang tinggi, teguh memegang prinsip visi misi kebangsaan, dan sukses dalam menjalankan tugasnya menegakkan keadilan, keamanan dan ketentraman bagi rakyatnya. Dahulu mungkin rakyat memandang syarat-syarat itu ada dalam diri PS. Tetapi semua gejala itu sekarang rasanya telah pudar. Gaya bicara PS berupa kata-kata keras dan lantang namun tindakannya belum selaras dengan gaya bicaranya. Hal ini tampak pada saat para mempelai capres-cawapres yang ada selalu berubah-ubah sikap menjelang ditutupnya pendaftaran oleh KPU, bahkan dalam sehari bisa 3 kali berubah sikap politik secara kontradiktif. Itu terjadi pula di kubu Jkw, Arb, Hatta dll sungguh mengesankan sikap plin-plan, mengesankan tidak ada rencana matang yang jauh-jauh hari sudah disusun.  Isuk kedelai, sore tempe. Malam ke utara, pagi ke selatan, siang ke timur. Mbingungi mencari-cari posisi dan biyayakan mencari jodoh. Bagaikan perawan tua yang belum punya calon pasangan, tapi dipaksa harus segera menikah, karena hari resepsi pernikahan sudah dijadwalkan, dan undangan juga sudah terlanjur disebar. Tetapi celakanya, calon mempelai yang akan mengawini belum ketemu juga. Karena orang yang mau kawin berarti harus ada pasangan, dan dalam waktu singkat semua harus menemukan pasangan hidup. Akhir cerita, pasangan dapat ditemukan dengan mudah tetapi dengan menanggalkan segala kriteria yang esensial yang penting segera punya pasangan untuk dikawini pada hari H. Asal ketemu jodoh karena mereka diburu deadline hari H perkawinan. Sementara dalam mencari jodoh mereka melakukan persaingan tidak sehat, jegal menjegal dan banyak yang kecewa. Kemarin dilamar, paginya dibatalkan. Kemarin malam “loyang” pada sore harinya “besi”. Dulu ditolak dan dibenci sekarang dicintai. Besoknya menghianati. Lantas balik lagi ke pacar lama, ternyata sudah menjanda, akhirnya cari saja di pasar “bubrah” yang penting banyak kerumunan hantu. Pihak yang kecewa memilih melakukan tindakan pengecut. Sampai-sampai rela hati gantian membela orang yang sebelumnya dimusuhinya. Mirip dengan siasat yang dipake para pecundang pribumi dengan memihak kepada penjajah Belanda di masa lalu. Al hasil, sobat karib jadi musuh, musuh jadi sobat karib. Begitulah faktanya, dalam politik tidak ada yang namanya musuh maupun kawan sejati. Yang ada adalah kepentingan sejati.

Drama sebabak ini ditutup dengan kisah tragis, pada akhirnya walau para mempelai capres-cawapres itu menemukan pasangannya, tapi pasangan itu bukan lah jodoh. Hanya sekedar pasangan yang didapat saat perasaan terburu-buru yang penting bisa kawin di hari yang sudah ditentukan. Begitulah akibatnya jika para politisi asik bermimpi mendadak jadi negarawan sejati. Apakah rakyat Indonesia layak berharap angin kebahagiaan dari mempelai macam itu? Terlebih lagi syarat-syarat mendasar untuk “menikah” sudah tidak dihiraukan lagi. Semoga saja masih ada secercah harapan mentari akan bersinar, walau mendung tebal tampak menggelayut di depan sana, di langit Nusantara. Kita sementara menjadi penonton kedua pasang mempelai saat ini semakin sengit bersaing, semoga tidak didasari rasa dendam pribadi kedua kubu. Agar rakyat Indonesia yang tak berdosa tidak ikut terkena dampak “pembersihan alam”. Kita rakyat Indonesia masih harus lebih bersikap eling dan waspada.

Fenomena pembersihan yang dilakukan oleh kekuatan alam bukanlah bencana melainkan dinamika alam yang wajar. Semua terjadi demi memperbaiki sistem tata keseimbangan alam yang telah goyah. Manfaatnya demi kehidupan seluruh makhluk yang lebih baik di hari esok. Tetapi fenomena alam itu bisa berubah menjadi malapetaka bagi siapapun yang melawannya, dan bagi yang tidak waspada. Mencangkul bukanlah bencana, tetapi berguna untuk menyuburkan tanah. Sebaliknya mencangkul bisa berubah menjadi malapetaka jika kita tidak waspada dan berada dekat-dekat orang yang mencangkul. Bangunlah rakyat Indonesia..!

Cermat dan Cerdas Melihat Permainan

Saya pribadi memandang, saat ini bukanlah saat perang Baratayudha. Karena perang itu sudah usai dan saat ini merupakan fase pasca perang Baratayudha. Al kisah, sang Duryudana sudah gugur di medan perang.  Partainya sudah kalah dan gagal berkoalisi dengan parpol manapun. Gegap gempita konvensi capres yang digadang-gadang bakal  melahirkan capres hebat pun hasilnya nihil. Para punggawanya banyak yang diringkus karena terjerat kasus besar. Tetapi segala upaya tetap dilakukan untuk menggagalkan “Raden Parikesit” jumeneng ratu di Hastinapura. Apalagi jika “Raden Parikesit” berpasangan dengan PS. Pasangan itu sangat ditakuti pihak Duryudana dan penerusnya.  Segala upaya dilakukan untuk menceraikan PS dengan “Raden Parikesit” yang sempat hampir berjodoh. Tetapi gagalnya PS menggenapi laku, hal itu sudah merupakan keuntungan tersendiri bagi penerus “Duryudana” dan kerugian besar di pihak PS.

Bila Nusantara berada di bawah kepemimpinan “Raden Parikesit” yang merupakan tokoh bersih, jujur dan tegas apalagi urat-syaraf takutnya sudah tidak difungsikan lagi.  Maka jumenengan  “Raden Parikesit” menjadi raja di Nusantara sangat menciutkan nyali para generasi penerus Kurawa, karena kasus-kasus besar akan diungkap dan diadilinya. Termasuk akan membongkar habis PT Freeport dengan antek-antek pejabat Indonesia. Tidak main-main karena persiapan amunisinya benar-benar matang. Sebagai kesatria utama, tak ada yang ditakutinya demi menegakkan keadilan Hastinapura. Karakter “Raden Parikesit” yang sangat mencintai negara dan rakyatnya, sangat sulit ditaklukkan oleh kekuatan asing, ia tidak mau dijadikan boneka permainan oleh negara-negara asing yang akan memperdaya NKRI. Sehingga pantas digambarkan pada saat itu kegigihan Duryudana dan penerusnya untuk mencerai-beraikan “PS dengan Raden Parikesit” bagaikan api dendam yang keluar dari kawah kejahatan, maka kedekatan PS dengan “Raden Parikesit” harus dihancurkan, dan PS harus direbut. Mirip pula dengan lakon “Hanoman Obong”,  yang menceritakan Dewi Shinta direnggut oleh Rahwana.  Seperti yang sering disampaikan para leluhur agung, jika tidak bersama SP sejati, maka PS akan mati-kutu dan tidak akan menjadi baik. Dan pada saat ini dengan melihat “pasukan” ekstrim yang berada di belakang PS memang membuat harapan semakin tipis. Keblate kuwalik, wus kakeyan madhep ngulon. Padahal dinamika hukum alam sedang mengarahkan wajahnya ke timur. Itu artinya tanpa disadarinya ia sedang melawan dinamika kekuatan alam yang sedang berlangsung. Monggo jika merasa kuat.

Tinarbukaning Gerbang Kejayaan Nusantara Adalah Kepastian

Begitu SP sejati “Raden Parikesit” usai dinobatkan sebagai raja di kerajaan Hastinapura, Ki Dalang Panjangmas paring sabda-pandita ratu, mengucapkan kalimat,”wiwit esuk iki, Nuswantara bakal ayom ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi sak teruse !”.

DSC_1822

Sedikit flashback. Meskipun “Kurawa” telah kalah, tetapi dengan sisa-sisa kekuatannya masih berusaha dengan segala cara untuk menggagalkan “Raden Parikesit” menjadi raja di kerajaan Hastinapura. Disodorkanlah tokoh-tokoh yang masih berpihak kepada “trah Kurawa” agar menjadi raja di kerajaan “Hastinapura”,   dengan harapan kasus-kasus besar yang melanda pemerintah RI bisa terbang kebawa angin seiring pergantian musim kepemimpinan nasional. Tetapi babak pertarungan baru saat ini sedang dimulai antara keturunan “Pendawa” yang berada di belakang “Raden Parikesit” dengan keturunan “Kurawa” yang  dikomando oleh “Kertiwindu”. Antara kesatria-kesatria utama generasi bangsa yang benar-benar paham dan sadar duduk persoalan kebangsaan saat ini, vis a vis semua pihak yang sengaja maupun tidak sadar tindakan politiknya membawa Nusantara pada keadaan semakin terpuruk.

Melihat ending lakon SPPG, setelah kerajaan Hastinapura mengalami  sedikit kekacauan di tingkat elit politik –karena sudah kehendak Sang Hyang Jagadnata– pada akhirnya sang Satria Piningit sejati yang tidak lain “Raden Parikesit”  berhasil jumeneng raja di kerajaan Hastinapura. Setelah upaya “Kertiwindu” dan kroninya digilas oleh kekuatan alam dan para sesepuh kerajaan Hastinapura turun tangan membantu menyelamatkan kerajaan Hastinapura. “Raden Parikesit” menjadi raja, melalui cara yang bersih, dan direstui oleh para sesepuh Hastinapura, serta didukung oleh kekuatan alam. Kertiwindu dan para keturunan Kurawa telah kalah, tak berkutik dan tampilnya Raden Parikesit , ia diterima oleh semua pihak. Pihak Kurawa yang tidak terkontaminasi hasutan Kertiwindu pun menerimanya. Pandawa dan Kurawa bersatu lagi sebagai saudara. Kurawa sadar akan kekeliruannya selama ini dan selanjutnya mereka menjadi orang baik dan bijaksana sebagai bentuk laku karmayoga atau penebus kesalahan yang dilakukan oleh para pendahulunya.

Sekali lagi, sang SP “Raden Parikesit” bukanlah yang saat ini tiap hari kita tonton di media televisi. SP sejati justru dalam “masa tenang”, untuk menghormati sekaligus menyelaraskan diri dan berharmonisasi dengan hukum tata keseimbangan alam sebelum datang hari H untuk menjalankan tugasnya. SP memahami kapan ia harus turun tangan tampil sebagai pusering adil, menciptakan ketentraman dan diterima oleh pihak yang bertikai. Tampilnya SP “membuka gerbang” untuk kejayaan Nusantara sekaligus merupakan sebuah momentum sumingkir-nya angkara-murka dari Nusantara. Dan pada akhirnya kekuatan alam lah yang menjalankan tugas untuk  membersihkannya. Tinarbukaning gerbang kejayaan nusantara, bukan utopia, dan bukan latah. Itu ada dan nyata.

Kita tunggu saja datangnya momentum yang dinanti rakyat Indonesia itu. Walau datangnya momentum bahagia itu Nusantara masih harus melewati saat-saat kelam dalam bayang-bayang “raja palsu”. Namun gangguan keturunan Kurawa itu tidak akan berlangsung lama sebab jika diuthak-athik dengan sudut pandang manapun tidak akan gathuk. Segenap fakta dan tanda-tanda alam, menjadi data penguat bahwa saat ini memasuki fase tinarbukaning gerbang kejayaan nuswantara, bertepatan pula dengan siklus tahun moncer. Fase ini bukanlah suro duroko, bukan pula fase kolobendu, melainkan fase moncer dan turunnya wahyu dyatmika atau anugrah agung kehidupan untuk Nusantara. Jadi bukan merupakan momentum kemenangan keturunan maupun kepanjangan tangan Kurawa, namun justru sebaliknya masa penghabisan generasi Kurawa. Dalam fase ini  kekuatan alam tidak akan mengijinkan “kerajaan Hastinapura” dipimpin oleh orang yang tidak kesinungan WK. idak akan Tetapi realitas di lapangan saat ini seolah negara akan dipimpin Nusantara sedang dijadikan bancakan kekuatan asing, dan diporak-porandakan oleh londo iket-iketan, WNI yang menjadi penjajah bagi bangsanya sendiri. Meskipun demikian suram situasi dan kondisi Nusantara, bukan berarti rakyat hanya diam berpangku tangan. Lihat saja, akan ada kekuatan besar yang akan membersihkan semua yang mengotori Nusantara. Awake dewe trimo, sing momong ora trimo. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti. Jaya-jaya wijayanti ing sakabehing titah gesang.

Review            : Ki JSP
Analisa            : Ki Sabdalangit

Tonton cuplikan video lakon SPPG yang di gelar oleh http://www.kadangkadeyan.sabdalangit.net (KKS) :

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Mei 29, 2014, in (Satria Piningit) Pambukaning Gapura, ACARA KKS (Kadang Kadeyan Sabdalangit) and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 125 Komentar.

  1. NEGERI SANG RATU ADIL

    Kesejatian Sang Ratu Adil
    Mendasarkan pengalaman subyektivitas Spiritual Humanika ajaran tatanan Sang Gurujati dengan sesungguhnya Sang Ratu Adil adalah Sang Hyang Ruh Ratu yang meratui seluruh makhluk alam semesta atas legitimasi dari Sang Maha Suci Kesemestaan Alam guna mengendalikan serta meratakan tatanan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup dengan berkeadilan universal, dalam menjalankan visi dan misinya didukung penuh oleh para Sang Hyang Kaki/Nyai Ruh Alam Semesta ( Penguasa tatanan kehidupan semesta alam, Penguasa angin, Penguasa Air, Penguasa Api, Penguasa Bumi, dll ).
    Turunnya Sang Ratu Adil di bumi manusia selalu didasari oleh gugatan dari batin suci luhur manusia karena perilaku kehidupan sosial situasi alam Jaman telah melampui ambang batas rasa keadilan alam semesta yang ditandai dengan berbagai keangkuhan serta tindakan sewenang wenang terhadap sesama makhluk hingga kerusakan terhadap keseimbangan alam melampui ambang batas dengan kata lain terjadi krisis jatidiri kemanusiaan / krisis sosial diberbagai dimensi kehidupan masyarakat manusia sehingga memunculkan berbagai bencana alam yang dasyat, dalam sejarah peradaban manusia bumi Sang Ratu Adil telah beberapa kali turun di bumi untuk menjalankan visi dan misinya antara lain telah berdampak hingga punahnya masyarakat/makhluk Purba hingga muncul dan berkembangnya masyarakat manusia, berdampak tenggelamnya Negeri Atlantis, pada jaman Maja Pahit di era Ratu Kencana Wungu hingga terwujud kejayaan Maja Pahit dengan Maha Patih Gajah Mada. Batin suci luhur manusia yang mampu melakukan gugatan untuk turunnya Sang Ratu Adil adalah manusia yang dalam spiritual humanikanya telah mampu mengakses dan memperoleh secara langsung sinergitas para Sang Hyang Kaki/Nyai Ruh jagad alam semesta selaku Sang Perekayasa genetika kemahlukan penghuni seluruh alam semesta yang akan memberi petunjuk demi turunnya dan jumenengnya Sang Ratu Adil pada singgasana pada dimensi suatu bangunan spiritual yang memang dipersiapkan untuk Sang Ratu Adil, Sang Ratu Adil akan disertai oleh Sang Ruhul Kudus juga akan dikerumuni oleh ruh para Asma Langgeng mantan manusia dari daratan lautan pegunungan dan langitan demi sukses visi misi yang diemban Sang Ratu Adil.
    Mendasarkan subyektivitas spiritual gugatan batin suci oleh para pelaku spiritual humanika keleluhuran tatanan Sang Gurujati Amongraga demi jumenengnya Sang Ratu Adil di Bumi Pertiwi Indonesia mutlak diperlukan kawasan dan bangunan spiritual dengan desain serta sarana yang telah ditentukan, Sang Ratu Adil akan memberikan sinergitasnya secara umum bagi siapa saja yang ingin meraih kamulyaning jagad ( kebahagiaan duniawi ) dengan spiritual humanika secara konsisten mengaksesNya, bila spiritualnya dilandasi dan divalidasi dengan Sang Hyang Maha Sucinya tentunya juga akan mendapat kamulyaning jati ( kebahagiaan ruhani ) adapun secara khusus akan bersinergitas mendidik dan memingit para Kesatria Agung / Pejabat Negeri / Tokoh Masyarakat atau siapa saja yang berspiritual humanika serta berani menjalani lakon Topeng Emas ( memahami tatanan pengayoman bagi masyarakatnya ) guna menuntaskan ajaran tatanan gurujati amongraganya sehingga mampu memahami sistem kediriannya / tatanan kehidupan ruh yang hidup dalam perujudan ragawinya serta mampu mengaktivasikan Ruh Suci Sejati Kemanusiaannya / Sang Gurujatinya sebagai Sang Pengendali keseluruhan sistem kediriaannya sebagai manusia seutuhnya dalam upaya optimalisasi peningkatan memori kecerdasan sosial guna meraih derajat keagungan pada stratifikasi sosial bermasyarakat agung didunia empirik yang dibatasi dengan kematian, maupun derajat keagungan pada stratifikasi sosial bermasyarakat agung di alam keabadian ruh melalui kedalaman ritus kekiniannya bersama Sang Tunggalnya, Sang Wenangnya, Sang Weningnya, Sang Agungnya, Sang Kalimasodo / Sang Pancasilanya dan lainnya dalam pengembaraan didunia transendental melampui dasarnya alam keperiadaan yang terbebas dari kemelekatan akal keinginan hidup ragawi kekiniannya.
    Visi Dan Misi Sang Ratu Adil
    Atas legitimasi Tuhan yang Maha Esa/Sang Maha Penguasa segala alam perujudan Sang Ratu Adil sebagai Sang Penguasa / Sang Pengendali tatanan esensi ruh kehidupan untuk kesejahteraan ketentraman kedamaian dan keadilan di bumi manusia bisa dikata membawa Visi : “ Meratakan Tatanan Kehidupan Damai Sejahtera Berkeadilan Universal Keseluruh Dunia”, dengan Misi : “ Transformasi Sistem Kendali Tatanan Ruh Kehidupan Kedalam Sistem Kedirian Manusia “. Krisis sosial diberbagai dimensi kehidupan masyarakat disebabkan para pemegang legitimasi kekuasaan tatanan kehidupan sosial masyarakat lemah dalam aktivasi Ruh Suci Sejati Kemanusiaannya dan telah menimbulkan dampak menurunnya kualitas kontrol dan penegakan tatanan kehidupan sosial berkeadilan universal bahkan banyak produk hukum dan berbagai peraturan terlalu kental dimuati oleh kepentingan ambisi kekuasaan, kelompok atau sektarian sehingga kurang memenuhi standar kualitas untuk kesejahteraan kedamaian yang berkeadilan sosial universal bagi seluruh masyarakat, hal ini juga terkait dengan evolusi kecerdasan sosial keiblisan/kebinatangan yang semakin canggih yang terasup dalam diri manusia yang tidak mudah ditaklukkan / dihumanisasikan dengan hanya mengandalkan sistem spiritual umum untuk mengasup clusters ruh kemanusiaan untuk pensuciannya, akan tetapi masih dibutuhkan sistem spiritual khusus ( Thoriqoh ) untuk mengasup clusters ruh yang disuci murnikan sangat berkualitas untuk pensucian atau menaklukan virus kontra humanika yang semakin cerdas juga untuk mengimbangi dampak perkembangan kecanggihan ilmu dan teknologi serta evolusi kecerdasan sosial yang juga telah melahirkan berbagai memori kecerdasan ruh yang berkarakter buruk / keiblisan yang semakin kuat dan canggih bertebaran diberbagai dimensi kehidupan di bumi ini.
    Para Kesatria Agung / Pemimpin masa depan harus berusaha memiliki kecerdasan sosial menyatukan inti daya rasa pengendali tatanan ruh kehidupan masyarakat seluruh alam semesta hingga kemurnian sinergitasnya sangat terasa dalam batin dan jiwa yang terhubung dengan random akses memori koloida otak hingga menjadi daya rasa cipta karsa demi optimalisasi kecerdasan yang melahirkan kreativitas inovatif untuk mengemban amanat sebagai Sang Penguasa, Sang Kholifah, Sang Pemimpin, Sang Pengayom, Sang Pujangga atau Sang Tokoh Masyarakat guna menciptakan dan mengendalikan tatanan kehidupan sosial masyarakat yang saling mendamaikan mensejahterakan dan berkeadilan dengan senantiasa mengakses untuk mendapat legitimasi dari Sang Maha Penguasa / Sang Kreator Alam Semesta dalam mengaktivasikan Sang Kewenangannya. Para Kesatria Agung ( Satria Piningit ) secara spiritual dalam batas batas tertentu diberi kewenangan ikut mengendalikan laju gerakan ruh alam sehingga sengkala kala bendu dan bencana alam berdampak kerusakan dan kematian secara masif tidak menimpa pada masyarakatnya. Para Kesatria / Pemimpin Agung bisa mengambil hikmah atas keberhasilan dan kelemahan berbagai tokoh masa lalu seperti Raja/Nabi Sulaiman telah meraih kejayaan namun patut disayangkan pada ujung puncak kejayaanya masih terselip rasa keangkuhan dan kesombongan dalam pengelolaan energi Indrawinya / Manikmayanya / Brahmannya ( daya rasa cipta karsa akal hidup ragawinya kurang waspada ) hingga harus berhadapan dengan kekuatan yang tidak mampu terdeteksi olehnya yakni energi Kesucian Ismayajati / Siwa / Sang Maha Suci ( daya kesucian penetral dan pelebur ) yang digerakkan oleh orang yang memiliki batin suci yang menggeroti inti kekuatannya Sang Raja Sulaiman hingga berakibat menderita depresi yang hebat duduk termenung disinggasana kekuasaannya hingga pada saatnya tersungkur meninggal dunia dengan menggemgam tongkatnya yang patah, Raja Rahwana Negeri Alengka / Sri Langka juga terjebak dalam keangkuhan dan kesombongan yang sama walaupun pernah menjadi murid teladan Sang Maha Dewa yang ditaklukan oleh Hanoman dari Gunung Kendalisodo atas perintah Sri Rama Wijaya, secara teosofis Rahwana atau keserakahan harus ditaklukan dengan Kendalisodo yakni rasa sejati kemanusiaan sebagai sang kendali dalam mewujudkan nafsu berbagai keinginan hidup dan masih banyak contoh lainnya yang memiliki nama besar yang proses kematiannya harus mengalami penderitaan gara gara kurang waspada dan bijaksana termasuk dalam memenuhi kebutuhan nafsu libido sexualnya. Para penguasa masa depan harus mampu membebaskan diri dari rasa keangkuhan kesombongan atas kekuasaan kewenangan dan kekuatan yang ada padanya serta memiliki kemampuan berfikir integralistik holistik humanistis guna mengambil peran penting yang strategis terhadap perkembangan humanisasi pada seluruh dimensi kehidupan sosial masyarakatnya, kesejatiaannya Sang Ratu Adil akan menjalankan visi dan misinya di bumi ini relatif cukup lama diperkirakan hingga tahun 5007 M dan kembali pada dimensi asalnya.
    Pada periode jumenengnya kembali Sang Ratu Adil di daratan bumi manusia Spiritual Jatidiri Kemanusiaan / Spiritual Humanika akan semakin tumbuh subur dan berkembang dengan berbagai varian sistem spiritualnya serta berkontribusi sangat signifikan dalam perubahan perilaku sosial yang berhumaniora, berhumanika dan berhumanistis serta dalam membangun etika sosial internasional universal. Spiritual Humanika adalah suatu sistem spiritual untuk memahami sistem kedirian manusia guna mengoptimalisasikan fungsi sistem kediriannya yang dikendalikan oleh Ruh Suci Sejati Kemanusiaannya, Spiritual Humanika dilaksanakan dengan sistem meditatif / kultivatif / keweningan diawali menyatukan keseluruhan ruh rasa kehidupan ragawi yang ada dalam sistem kedirian untuk manunggal rasa dengan ruh sejati kemanusiaannya selanjutnya membangun aksesibilitas dan berinteraksi sosial dengan berbagai tatanan komunitas ruh dari stratifikasi sosial terendah sampai tertinggi diberbagai dimensional kehidupan kesemestaan alam yang tervalidasi oleh kesucian Sang Maha Sucinya sehingga diperoleh cerapan inti kemurnian daya aribawa sinar sorot teja cahaya dari clusters ruh yang terasup dan tersimpan dalam jiwa serta terhubung dengan random akses memori batin dan koloida otak guna meningkatkan kualitas daya rasa cipta karsa yang melahirkan kreativitas inovatif kompetitif demi eksistensi dan meraih derajat keagungan. Spiritual Humanika bersifat universal terbebas dari rasa sektarian serta tidak melahirkan keangkuhan moralitas spiritual / bangsawan spiritual ataupun umat/budak spiritual, dari spiritual humanika akan terlahir berbagai derivatif spiritual yang canggih pula berkaitan dengan stabilitas politik, ekonomi, sosial budaya sehingga akan semakin meningkatkan kualitas kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Jumenengnya Sang Ratu Adil akan terlahir paradigma baru yang berpengaruh positif terhadap perubahan serta pengembangan epistimologi ilmu pengetahuan dan teknologi yang holistik dan humanistis hal tersebut disebabkan akan banyak kaum intelektual / ilmuwan lebih tercerahkan oleh ruh suci jatidiri kemanusiaanya serta meningkatkan kualitas daya fikir dan kesadaran meta rasional pada pusat titik gravitasi emosionalnya hingga diperoleh loncatan energi super kuantum sebagai daya rasa cipta karsa super kreatif guna melahirkan kreativitas berbagai karya nyata yang lebih inovatif serta lebih mengutamakan mencapai kebahagian kreatif dibanding kebahagian konsumtifnya.

  2. Mekipun sudah cukup lama, baru kali ini saya membaca tulisan anda. Sungguh lakon dan uraian yang amat bagus, tidak salah anda mengulasnya bahwa saat ini rajanya masih palsu bukan yang sejati, raja yang sejati masih digembleng untuk memahami ilmu langit dan bumi serta memadukanya, raja itu titisan dewa wisnu/cahaya diatas cahaya dan diiringi oleh ke 3 istrinya yaitu roro ningrum/dewi laksmita, roro kidul/dewi laksmi, roro blorong/dewi pertiwi, mudah-mudahan tidak lama lagi ia selesai dalam gemblengan. Sang raja sejati diiringi pula oleh malaikat, nabi-nabi, dewa-dewa, 9 wali, jin, iblis/setan, dan para leluhur negeri, maka bersabarlah kalian dalam menanti dan tonton/lihat apa yang terjadi di negeri nusantara ini

  3. enggak mau banyak2..
    cuman 1 aja beiybi2na musti digedong..biar engga bengkong2..
    hiks

  4. To Suara dan bakiak rombeng paling bs dipercaya. Hahaha tapi apapun. Sudah bangun bangun semua jangan kebanyak ngayal. Kalo mau negara kita jd negara maju makmur sentosa spt negara2 asia yg sudah jauh melesat ke depan ya harus kerja keras, SDM harus mumpuni. Jangan buang bnyk wkt di jalan spt bermacet2an krn gengsi pribadi pake mobil motor untuk unjuk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: