Di Penghujung Lorong Yang Kotor dan Rusak

Menukik ke dasar jurang

Dahulu kala, Nusantara diumpamakan sebagai negeri tempatnya para Dewa bersemayam. Negeri nan indah, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata-titi tentrem kertaraharja.  Samudra dan daratan yang luas, gunung berapi, lembah nan hijau, hutan belantara. Negeri yang kaya mineral dan hangat dalam rengkuhan sinar matahari. Semua itu menjadikan Nusantara bagaikan gudang kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan makhluk di planet bumi. Dan tidaklah berlebihan Nusantara kemudian mendapat julukan sebagai surganya dunia.  Koes Plus menggambarkan Nusantara bagaikan “kolam susu”, saking suburnya bumi Nusantara, dikiaskan tongkat dan kayu jikalaupun dilempar akan bersemi menjadi tanaman yang menghidupi makhluk hidup.

Namun di balik cerita tentang surga dunia itu, konsekuensinya  Nusantara bagaikan gula-gula yang menjadi incaran para semut yang datang dari berbagai belahan dunia. Terutama “semut-semut” yang berasal dari wilayah gersang dan miskin sumber daya alam. Nusantara kemudian menghadapi resiko besar. Karena menjadi bahan rebutan para “semut” kelaparan dan bernafsu melakukan invasi dan kolonialisasi. Dengan menghalalkan segala cara, membabi-buta, dan gelap mata, para “semut” dari berbagai belahan dunia saling memperebutkan Nusantara yang dianggapnya hidangan nan lezat.

Ya, Nusantara adalah negeri impian dan harapan bagi sebagian bangsa-bangsa dari berbagai belahan planet bumi. Itu bisa dilihat dalam kronologi sejarah, terutama semenjak abad ke 11 Nusantara mulai menjadi sasaran “serbuan” bangsa-bangsa asing untuk tumpuan harapan merubah nasib yang lebih baik. Exodus diawali dari bangsa yang berasal dari benua Asia, di antaranya bangsa Gujarat hingga daratan China. Menyusul kemudian masyarakat dari wilayah Timur Tengah yang saat itu dirundung pertikaian antar suku hingga saling bunuh untuk memperebutkan resources economy yang sangat terbatas, sementara mereka belum mampu mengeksplorasi minyak bumi dan belum ada devisa Negara yang bersumber dari ritual agama. Derita Nusantara tak kunjung usai, manakala bangsa-bangsa berkulit putih ikut-ikutan tergiur oleh “surga” Nusantara. Portugis, Belanda, Inggris, untuk mengadu nasib yang lebih baik. Mereka saling berebut menjadikan Nusantara sebagai sasaran tembak. Saat itu Nusantara menjadi sasaran pembegalan dan perampokan dengan modus invasi dan kolonialisme. Derita tak kunjung usai, setelah pada abad 19 hingga era modern ini, bangsa Paklik Sam di benua Amerika tak mau ketinggalan mengadu nasib di Nusantara.  Berkaca dari modus-modus sebelumnya yang terkesan sadis dan kasar, maka Paklik Sam mengubah modus dengan taktik yang lebih halus dengan siasat imperialisme ekonomi dan politik. Di era tatanan globalisasi dunia, bukannya  membuat Nusantara mampu mengambil untung beliung. Sebaliknya, Nusantara dirundung nasib tak beruntung dan buntung, bagaikan sudah jatuh masih tertimpa tangga pula. Politik globalisasi yang sarat dengan kepentingan Negara-negara maju, Nusantara pun tidak mampu memanfaatkannya untuk gantian “balas menjajah” bangsa-bangsa kurang ajar. Bahkan bukan rahasia lagi jika pesta demokrasi dan wacana politik Nasional sudah menjadi ajang obok-obokan invisible-hand kekuatan asing.

Sebagai contoh pada Pemilu tahun lalu layaknya ajang pertarungan antara partai Demokrat versus Rebublik AS saja. Melalui kepanjangan tangannya, kekuatan asing dengan mudah menjadikan tokoh-tokoh politik kita sebagai “boneka” kepentingan asing. Memang tidak lah semua tokoh politik melakukan demikian. Namun kita akan kesulitan mencarinya orangnya. Rakyat bukannya tak mampu menyaksikan kebrutalan itu, tetapi apa daya rakyat sepertinya telah kehabisan energi untuk melawan dan tak mampu lagi untuk bersikap, kecuali bungkam seribu basa sambil mengurut dada. Kita menyaksikan perlahan-lahan Nusantara sedang menuju jurang kehancuran. Pemerintahan yang semakin tak jelas juntrungnya. Perekonomian yang semakin memupus harapan sebagian besar rakyat Indonesia. Panggung politik dipenuhi oleh aktor-aktris yang telah dibelenggu oleh nafsu 3~G : golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe. Iki bongso yok opo rek…? Hingga terjadi kiasan “tamu mbagekake sing duwe omah”, para pendatang berani menguasai dan mengatur yang punya rumah.

Era Wolak-waliking Jaman Masih Berlangsung

Ya, pagelaran wayang kulit dengan lakon Satria Piningit Pambukaning Gapura yang kita langsungkan pada Mei 2014 lalu, jauh-jauh hari telah mengingatkan semua orang akan situasi dan kondisi politik Nasional seperti saat ini. Eyang Dalang Panjang Mas telah menggambarkan apa yang akan terjadi pada konstelasi politik Nasional. Sebelum sang Satria Piningit Pambukaning Gapura duduk di tahta kerajaan untuk mengemban amanat membuka harapan baru, Nusantara akan  melewati masa bersih-bersih diri, di mana semua yang kotor dan rusak akan menggelontor keluar dari mulut got mengotori panggung politik. Sudah selayaknya pada fase ini yang menjadi ratu adalah si Togog (Saraita), dan mBilung menjadi wakilnya. Pasangan pemimpin yang tidak pernah kompak, selalu  menuruti kemauannya masing-masing. Tetapi keduanya berfungsi untuk duduk-duduk santai sambil menunggui Nusantara yang tengah berproses menghabiskan residu yang kotor dan rusak.

Kita tak perlu lagi kaget, sebab jauh-jauh hari warning telah disampaikan, agar kita melakukan antisipasi dan mempersiapkan mental lahir dan batin untuk melewati saat-saat berat, di mana yang rusak dan kotor akan keluar semua memenuhi konstelasi politik Nasional. Bersama-sama, bahu-membahu, saling dukung, saling doa, kita melewati fase di mana kekuatan alam sedang menghabiskan semua yang rusak dan kotor. Di penghujung era kerusakan ini, di mana-mana sering terdengar rintihan orang-orang yang ditelantarkan oleh penguasa. Di mana-mana sering terdengar keluhan orang-orang yang merasakan semakin sulit mencari uang. Hanya yang eling dan waspada yang akan beruntung dan selamat.

Hidup di daerah kaya-raya itu sulit !

Hidup di daerah yang kaya raya akan sumber daya alam dan bergelimang sumber kehidupan memang  mudah. Yang sulit adalah menjaganya agar tidak dirampok para begal. Selama ini Nusantara begitu empuk menjadi sasaran rampok. Untuk itu warga bangsanya harus digembleng lahir batinnya dengan ilmu pengetahuan dan spiritualitas agar menjadi tuan rumah yang penuh integritas, kuat, berwibawa dan jika perlu sakti mandraguna. Kecerdasan berfikir harus diutamakan. Dan yang tak kalah penting adalah bangga serta menghargai akan jatidiri bangsanya sendiri. Sederhananya, jika anda sudah tidak menghargai jiwa raga  sendiri, itu pertanda perbuatan menganiaya diri sendiri. Anda sedang memproses jiwa raga menuju kehancuran dan kematian.

Kebaikan yang disalahgunakan

Telah disematkan label bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter ramah, santun, dan memiliki sikap toleransi tinggi. Keramahan, kesantunan, dan toleransi merupakan sikap positif yang diidealkan banyak orang. Namun demikian, ketiga label karakter positif itu bisa saja menjadi boomerang.

Keramahan tanpa disertai ketenangan batin dan kedewasaan sikap akan menjadikan pribadi yang latah dan tak punya wibawa, sering dianggap sepele dan cenderung dipermainkan. Kesantunan tanpa disertai kecerdasan fikir dan kebijaksanaan akan dianggap bodoh dan penakut serta cenderung dijajah. Sikap toleransi tanpa disertai kewaspadaan dan sikap tegas akan menjadi pribadi yang gampang  terlena, mudah kecolongan dan cenderung terkena tipu-muslihat.

Ketiga label karakter positif itu tampaknya telah sirna. Keramahan berubah menjadi kebengisan, kesantunan berubah menjadi kebrutalan, dan toleransi berubah menjadi anti-toleran, atau sikap fanatik yang fundamental. Bahkan terhadap Sang Saka Merah Putih bangsanya sendiri bersikap setengah hati. Kini telah lahir generasi destroyer, yang tega menyakiti bahkan menghancurkan sesama  warga bangsa demi sebuah ideologi dan keyakinan (impor). Yang berani menghina kearifan local. Yang  tega menginjak-injak harga diri bangsanya. Yang buta akan jatidiri bangsanya sendiri. Bahkan dengan banggnya berkhianat terhadap nenek moyang leluhurnya sendiri. Sejarah kelam Nusantara hendaknya jangan sampai terulang. Generasi bangsa musti cerdas dan bijaksana untuk mengevaluasi diri dengan belajar pada setiap preseden buruk. Melalui forum ini marilah kita bersama-sama melakukan evaluasi. Barangkali perlu saya bantu memberikan beberapa evaluasi secara jelas dan ringkas apa sebabnya hingga Nusantara mengalami nasib sedemikian buruknya ? Silahkan simak posting berikutnya yang akan segera tayang dengan titel : Siasat jitu meruntuhkan Nusantara.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juni 5, 2015, in Di Penghujung Lorong Yang Kotor dan Rusak, SEJARAH LELUHUR and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 41 Komentar.

  1. Setuju pendapat Panjenegan, negeri nusantara yg makmur dan gemah ripah long jinawi saat ini telah dijajah oleh neo imperialis baru dari negeri gersang..yang menjual dengan propaganda Rumah Tuhan dan pahala – pahala kepada siapapun yang mengunjungi negeri gersang tersebut. Orang Kaya , orang miskin di negeri nusantara ini bekerja keras , banting tulang, mengumpulkan rupiah demi rupiah ,bahkan sampai menjual harta benda untuk mebeli propaganda Rumah Tuhan dan Pahala yang ada di negeri nan gersang..oohh malangnya nasib bangsaku,,

    • saya kok tergelitik dengan pemaparan Mas Satrrio, kok ya ada benarnya juga. Saat ini negeri gersang nan tandus itu memperluas daya tampungnya di tempat yang mereka sebut dengan Rumah Tuhan, mereka sudah tahu jika minyak bumi yg dipunyai kalau diexplorasi terus menerus pasti akan habis,. Dengan cara sangat halus yaitu memakai ideologi agama yaitu propaganda Rumah Tuhan dan pahala , mereka menjajah bangsa kita ini. Semoga rakyat nusantara bisa segera menyadari imperialime bergaya agama ini.. salam buat Mas Sabdo , salam buat Mas Satrio

      • Setuju dg pemaparan mas joko, mari kita semua bergerak untuk menjunjung tinggi budaya asli Nusantara, sing Jawa bali ning jawa, sing dayak bali ning dayak lan sak teruse..biar kejayaan nusantara bangkit kembali.
        Salam karahayon kagem panjenengan semua pencinta blog-nya Kang Sabda.

  2. satriapinandhitasinisihanwahyu.blogspot.com/2015/06/tiga-energy-pemusnah-vs-lampah-lumpuh.html

  3. Kang Sabda ..saya sebagai keturunan asli orang jawa sangat menunggu kembalinya Jati Diri Nusantara yg sangat adi luhung, jika ada gerakan untuk mengembalikan Jati Diri Nusantara aku sangat mendukung…salam karahayon….

    • MAturnuwun bagi yg tidak menyukai koment saya, Gusti Kang Maha Welas lan Maha Samudayanipun. Jadikan saya untuk bisa menerima “apapun” yg telah Engkau berikan dan Paringano pangapunten dhumateng sedulur ingkang mboten ngremeni koment kula.
      Salam karahayon dhumateng sagung titah Dumadi

  4. rakyat nusantara

    ikut membaca dan prihatin, semoga segera bangkit. menunggu artikel lanjutan “siasat jitu runtuhkan Nusantara” dek-dekan menunggunya

  5. saya berharap semua orang pada sadar ,bahwa selama ini kita di jajah oleh bangsa yg mengaku paling suci.

  6. hm satriapinandhitasinisihanwahyu.blogspot.com/2015/07/silkroad-1-ulat-sutra-langit-vs-bokator.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: