Pagelaran Wayang Kulit “Negarané Wis Suméndé”

“Bingung dan pengap merasakan situasi ekonomi dan politik Nasional? Ketika orang-orang seperti tampak lesu, ketika banyak orang sedang merasa gusar dan jengah, mari kita bersama-sama mengais setiap jengkal realita untuk menemukan yang namanya Keberuntungan dan Keselamatan. Melihat perekonomian tidak kunjung ada kemajuan berarti. Ketika harapan-harapan akan datangnya era baru yang akan membawa angin segar, pada kenyataannya angin yang berhembus bau kentut dan comberan. Haruskah semangat hidup, semangat berdemokrasi, semangat meraih sukses pupus oleh kalabendu yang terjadi perlahan, seolah diam, tetapi membuat banyak orang tak berkutik”.

Dalam rangka memperingati 70 TAHUN kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2015 ini keluarga besar generasi penerus bangsa yang berada dalam wadah Kadangkadeyan Sabdalangit (KKS) telah mempersiapkan rancangan acara perayaan secara khusus. Hal itu untuk memperingati dan memaknai kemerdekaan sekaligus merupakan format untuk menyikapi perkembangan dinamika politik nasional yang berkembang saat ini.

Perayaan ini merupakan momentum istimewa, dilandaskan pada pertimbangan esensial terhadap dinamika politik kontemporer yang semakin terasa adanya ketidakpastian. Apakah negara nantinya mampu menjamin kesejahteraan rakyat? Apakah para pimpinan nasional akan mampu menegakkan hukum, keadilan, menjamin berlangsungnya pemerintah yang bersih ? Apakah Pemerintah akan mampu menciptakan atmosfir perekonomian yang kondusif? Semua pertanyaan itu sungguh sulit dijawab, apalagi dengan kepastian. Tak ada yang berani menjamin NKRI bakal semakin baik. Bahkan untuk sekedar memprediksi saja, komentar-komentar para pengamat ekonomi politik hampir semuanya pesimistis. Tak ada jaminan nasib rakyat akan membaik, sekalipun oleh wakil rakyat yang dipilihnya sendiri maupun pemerintah pilihan rakyat yang punya otoritas penuh mengendalikan ekonomi dan politik. Hanya sesekali kadang kita mendengar celoteh yang menghibur, katanya perekonomian tumbuh sekian persen, pemberantasan korupsi sudah berjalan. Kapal-kapal perompak telah diledakkan, kebijakan Pemerintah  melindungi dan berpihak pada rakyat kecil. Tapi apa yang kita semua rasakan hingga hari ini ? Kebanyakan orang menyeru….semakin pengap..! Pengap mencari uang, pengap membeli kebutuhan dasar, pengap melihat orang-orang di parlemen menghamburkan anggaran, pengap melihat uang negara yang diperoleh dari pajak rakyat telah dijarah tikus-tikus berdasi. Bahkan udara di muka bumi kian terasa pengap, oleh induksi energi gempa yang tiap hari semakin intens terjadi. Hanya orang-orang yang kesinungan kabegjan (mendapat keberuntungan) yang tidak merasakan pengapnya situasi dan kondisi saat ini.

Menyerahkan semua problem Negara dan bangsa kepada Tuhan tanpa ada usaha konkrit, itu sikap kurang bijak, itu namanya putus asa dan fatalistis. Tak ada gunanya, selain sekedar untuk “meninabobo” diri sendiri.

Atas kesadaran kondisi itulah KKS memanfaatkan acara peringatan 70 TAHUN Kemerdekaan RI sebagai ‘milestone’  yang amat sakral dari segi makna sejarah masa lalu sebagai momen transformasi politik dari masa penjajahan, keterbelengguan, menuju kemerdekaan, pembebasan NKRI. Ketetapan KKS dilandasi oleh kesadaran betapa penting menggelar acara ini karena pertimbangan pada dua dimensi :

(1)  Dimensi Spiritual :

Dengan adanya petunjuk langsung berupa perintah (dawuh) dari leluhur untuk menyambung dua lakon wayang kulit yang telah digelar sebelumnya pada tanggal 4 dan 18 Mei 2014, yaitu secquel Satria Piningit (SP), dan dilanjutkan lakon Satria Piningit Pambukaning Gapura (SPPG), di mana sang Satria Piningit yang akan membawa NKRI pada perubahan positif secara signifikan, diperankan sebagai Raden Parikesit, yakni putra Raden Abimanyu dengan Dewi Utari. Raden Parikesit adalah Satria Piningit, pemimpin di masa depan yang akan menjadi Raja di Negara Hastinapura (Nusantara). Dalam dua lakon sebelumnya, Raden Parikesit digambarkan masih muda belia sehingga belum layak jumeneng-nata. Selama menunggu Raden Parikesit muda menjadi dewasa dan siap duduk di singgasana raja, situasi dan kondisi Negara Hastina (Nusantara) akan melewati siklus madya zaman kalabendu (banyak kesengsaraan dan penderitaan sebagai akibat hukuman Tuhan). Situasi dan kondisi politik dan perekonomian Nasional digambarkan akan penuh dengan kebobrokan, kerusakan, dan panggung politik didominasi oleh tokoh-tokoh yang “kotor & rusak”. Hampir tak ada kesempatan bagi orang baik untuk naik ke atas podium politik tata Negara dan pemerintahan. Dalam siklus madya kalabendu, yang menjadi “raja sementara” justru si Togog dengan wakilnya mBilung (Saraita). Dua tokoh yang selalu bersama namun juga selalu terjadi kontra dalam sikap dan kebijakan itu berpasangan dalam mengisi kepemimpinan di zaman kalabendu. Al hasil, pemerintahan yang dihasilkan serba membingungkan rakyat dan tidak ada kepastian, tidak ada harapan baik. Dapat diibaratkan Si Togog maunya jalan ke utara, sebaliknya si Mbilung justru mengajak ke selatan. Intisari dan alur lakon wayang sebagai kaca-benggala merefleksikan  realitas politik yang akan terjadi di masa datang (saat ini). Dari sudut pandang prediksi futuristik, lakon SPPG yang 14 bulan lalu digelar ternyata akurasinya sangat tinggi, bisa dikatakan 99% tepat dengan realitas politik saat ini. Mengutip kalimat yang disampaikan oleh Ki Dalang Panjang Mas setelah pisowanan di Gunung Sentono, Gunungkelir, Pleret Bantul pada beberapa waktu lalu,”…ngger, negarane wis suméndé, suméndé kuwi katon isih ngadek nanging sejatine wis ambruk, amarga ora duwe daya kekuwatan kanggo nyangga awak. Arep nganggo lakon becik apa wae tetep ora bisa mbengkas karya mergo durung titi wancine dadi becik. Kahanan saiki isih ngentekake wong sing elek-elek lan reget. Jamane isih jaman kalabendungger !” (Nak, negaramu sudah bersandar, bersandar itu seolah-olah berdiri tetapi sesungguhnya sudah roboh, karena tidak punya daya kekuatan untuk menyangga dirinya sendiri. Mau pake judul cerita yang bagus apa saja tetap tidak bisa menyelesaikan masalah karena belum waktunya (Indonesia) menjadi baik. Kondisi sekarang ini masih menghabiskan orang-orang (pejabat-pemerintah-politisi) yang kotor dan rusak (moralnya). Saat ini masih berada di zaman kesengsaraan).

Itu sebabnya, mengapa momen pagelaran wayang kulit yang akan digelar pada hari Minggu Pahing 16 Agustus atau malam 17 (Senin Pon) 2015 nanti, akan menjawab semua kegamangan dan ketidakpastian yang terjadi sekarang ini. Sekaligus menggambarkan nasib bangsa di esok hari. Jawaban itu akan tergambar dalam lakon (judul cerita) yang akan digelar. Hingga tulisan ini dibuat, lakon apa yang bakal digelar masih bersifat tersembunyi. Untuk memperoleh lakon tidak mudah, perlu sebuah laku spiritual yang tidak ringan agar mendapatkan petunjuk akurat dari supernatural-power. Bagi masyarakat Jawa terutama yang memiliki pandangan spiritual lebih luas akan menanti dengan sunguh-sungguh apa lakon yang akan muncul dan digelar nanti.

Lakon apa yang akan muncul, menggambarkan situasi dan kondisi ekonomi dan politik NKRI yang sedang berlangsung dan yang akan terjadi setelah acara pagelaran wayang kulit berlangsung terhitung mulai 17 Agustus 2015. Melihat tanda-tanda yang ada, sepertinya bakal terjadi perubahan besar dan cenderung memburuk. Kita memang musti lebih sabar lagi sembari menghabiskan siklus madya kalabendu. Setidaknya jawaban yang ada pada lakon nantinya dapat menjadi sumber referensi apa yang akan kita lakukan kemudian. Itu akan berguna untuk menyusun suatu rencana secara tepat dan akurat agar meraih kesuksesan hidup sekalipun di masa sulit zaman kalabendu. Lakon wayang biasanya menjadi doa dan harapan bagi rakyat Indonesia untuk menjadi lebih baik. Toh seburuk apapun kondisi, alam semesta masih bijak dan adil, karena pada siklus tahun ini terdapat bulan Suro Pinunjul, artinya orang yang mampu melakoni ngesthi budi rahayu bakal bisa menyongsong tinarbukaning jagad anyar. Saya berharap para pembaca yang budiman, apapun suku dan agamanya, menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung saat melewati masa berat ini. Mugya Gusti ngabulna.

2)  Dimensi Aktual :

Menjadi timing yang tepat untuk starting point atau memulai “babak baru”, yaitu menjadikan hari peringatan kemerdekaan RI sebagai momentum penting perubahan. Raden Parikesit atau Satria Piningit Pambukaning Gapura (untuk sementara saya tidak akan menyebutkan namanya), akan mulai menata, menyusun, mewarnai kancah perpolitikan Nusantara. Perayaan “70 TAHUN” Kemerdekaan RI sebagai starting perubahan Nasional, akan menjadi momentum yang sangat tepat untuk memulai suatu perubahan menuju yang lebih baik. Era kebangkitan Nasional ke dua harus segera dimulai, dipimpin oleh SPPG.

Harapan kami, dengan perayaan ini semoga dapat menjadi momentum sejarah, sebagai titik awal sekaligus titik balik untuk bisa keluar dari kondisi kurang baik saat ini menuju NKRI yang adil, sejahtera, dan penuh integritas di bawah pemimpin besar SPPG.

Malam Tirakatan Hari Kemerdekaan ke 70 :

Acara : Pagelaran wayang kulit sedalu natas Waktu : Minggu Pahing 16 Agustus 2015 Jam 21.00 wib ~ selesai Dalang : Ki Seno Nugroho, kanthi kairingan imbal tuwin tintingan “begawan gender” dalang Ki Geter Pramuji Widodo Lokasi : Lapangan (Stadion) Banaran, Jalan Pantai Trisik km 1.5, Kec Galur Kab Kulonprogo, DIY Lakon : Masih off the record EO : KKS~EO

Saya ucapkan terimakasih tiada terhingga kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pagelaran wayang kulit ini secara langsung maupun tidak langsung : kepada sedulur-sedulur KKS di seluruh wilayah dan manca negara, warga masyarakat setempat, para pembaca blog, dan semua pihak yang terlewatkan belum saya sebutkan di sini, semoga support berupa tenaga, waktu, pikiran, dan material mendapatkan resonansi kebaikan dari alam semesta. Anugrah dan keberuntungan selalu mengiringi langkah panjenengan semua. Para leluhur selalu membimbing dan mengarahkan meraih kesuksesan hidup panjenengan semua.

Marilah dulur-dulur generasi penerus bangsa di manapun berada, bersama-sama kita teguh mencintai Negara dan bangsa Indonesia, semampu dan sebisa kita lakukan untuk berpartisipasi njejegake Negoro sing wus suméndé. Mana jatidirimu? Mana sikap kesatriamu? Mana Nusantaramu? Apa yang kalian berikan kepada Indonesiamu? Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

Semoga suguhan tembang berikut ini dapat sedikit menjadi pengobat rasa gerah dan dahaga di tengah gersangnya kemarau yang mengeringkan bumi. Yang ingin mendownload dipersilahkan dengan senang hati.

Tembang pupuh Gambuh Serat Wedatama Ki Sabdalangit

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Juli 28, 2015, in ACARA KKS (Kadang Kadeyan Sabdalangit), Pagelaran Wayang Kulit "Negarané Wis Suméndé" and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. semoga hrpan dan cita2 luhur nusantara segera terkabul . . . . jauh sekali dri sya dilampng,klau deket mngkin bsa hadir . . . .
    kapan diadakan SO lgi Mas Sabda?????

  2. rahayu rahayu….

  3. Semoga harapan dan cita2 leluhur bagi Nusantara segera terkabul dan segera bangkit dari keterpurukan ini..mugi Gusti enggal nyembadani ..

  4. Keren nih. Harusnya pertunjukan seni budaya Indonesia diadakan lebih sering.

  5. satriapinandhitasinisihanwahyu.blogspot.com/2015/07/new-world-order-2-tinju-pengubah-bentuk.html

  6. semoga nusantara cepat kembali jaya

  7. para leluhur nusantara masih mencari hari dan waktu yang tepat, semoga nusantara jaya . salam rahayu

  8. jaya jaya wijayanti , jaya negriku jaya hatiku

  9. sukses untuk acaranya Pak…Wilujeng Rahayu

  10. Waduh pagelaran wayangnya tanggal 16 Agustus, bentrok dengan agenda 17 Agustus di kotaku, pengin hadir menikmati pentas wayang kulit tsb, tapi bagaimana ya ? Siang masih acara di RT/RW, lalu ke jakarta, ke cengkareng, lalu ke yogya, lalu ke Kab Kulon progo ? Kalau bisa nginap dulu di Yogya sebelum pentas enak sekali, masih dipikirkan, salam, mohajito

  11. Mantab,, kepingin ningali nanging kok nggih kahanan dereng ngijinaken,, mboten di abadike ten kaset ugi nggih pak??
    Hayu hayu rahayu,,

  12. Selamat malam Mas Sabda
    Salam sejahtera,
    Maaf sebelumnya, apakah nama Indonesia memang sebaiknya di ganti dengan nama Nusantara, seperti yg dikatakan Dr. Arkand Bodhana Zeshaprajna, dan apakah dengan nama Nusantara akan membawa kejayaan bangsa ini.

    • Sugeng Yayah titiyoni mas Androids
      Saya pribadi memang lebih sreg menyebut nama NKRI ini Nusantara, Nuswantara. Secara historis lebih kuat akarnya. Sebelum kemerdekaan lebih familiar disebut Nusantara, bahkan lebih dikenal di dunia Internasional. Apa yg dikatakan oleh Dr Arkand memang tepat. Tapi, untuk saat ini jangan dulu. Kasihan nama Nusantara yg begitu agungnya. Timing nya blm tepat. Banyak org kurang menyadari jika perubahan besar secara fundamental sedang terjadi di Indonesia saat ini. Menuju ke arah yg lebih Nusantara. Dan perubahan itu tak ada yg bs mencegah, kabeh wus karseng Hyang Jagadnata.
      Rahayu sagung dumadi

  13. Ki Sabda…kami menunggu pembabaran pagelaran wayang kulitnya? ……..

  14. Komplek permasalahan Indonesia,Sebenarnya indonesia kaya,seandainya kita mampu mengolah Sumber daya alam dan SDM tanpa tergantung negara lain.Apapun yg ada dibumi tak lbh dr 109 unsur Atom dan saya yakin sumber daya alam/ mineral indonesia mampu menyediaknnya,seandainya kita mampu memperoleh 109 unsur atom dan mnjd senyawa2 kimia yg brmanfaat dan mampu mengolahnya utk kebutuhan sehari hari saya yakin Indonesia jaya,berdiri kokoh makmur sejahtera tnpa bergantung pd negara lain yg pd dasarnya mengeruk kekayaan indonesia yg sebsr2 nya.smw ini butuh pemimpin yg memiliki kecerdasan spirtual dan intelektual tinggi utk mengarahkn ngemong rakyat indonesia,lah wong rakyat indonesia akeh sing ,”Salah ngawulo.tdk tau pd siapa hrs mengabdi ,bodoh dlm spritual,seneng dadi jongos buruh investor asing tdk taunya malah mencekik,durung iso milih presiden krn bodoh dlm spirtual,jane gampang krm aj uang ke nomer rekeningku utk mendanai progam diatas,tp kulo isin gk tego dgn rakyat indonesia,ancen durung titi wancine,sw butuh proses,

  15. Ngger,negarane tambah bonyok
    xixixi

  16. slamat sore saya tertarik sekali dengan artikel semua yang ada di blok anda jika berkenan saya ingin bertanya bagaimana caranya bisa bergabung ikut ngangsu kawruh tentang rahasia kehidupan trimakasih tolong sekali jawabannya dari bima di sleman

  17. Banyak yg saya temukan dr artikel Panjenengan. Ap yg slama ini saya cr sedikit demi sedikit mulai terurai. Maturnuwon mas Sabda.

  1. Ping-balik: » Review Semar Mbangun Kahyangan - sabdalangit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: