Mitigasi Bencana Dari Selatan

DSC01972Pemerintah dan masyarakat hendaknya bisa lebih bersikap bijaksana. Tidak perlu menanggapi frontal, atau bersikap antipati dan menyepelekan terhadap setiap kabar tentang suatu bencana alam terutama yang tidak menutup kemungkinan bisa terjadi. Namun juga sebaliknya, bagi yang mempedulikan juga jangan terlampau peduli kemudian membuat resah berlebihan. Kedua sikap itu over acting. Akibat dari sifat buruk dari kagetan dan gumunan. Itu cermin ketidakdewasaan sikap. Hindari kedua sikap extrim itu.

Idealnya semua kabar dan berita (jika ada) tentang kemungkinan bencana alam disikapi secara cermat dan jeli. Apakah memungkinkan terjadi atau tidak, apakah mustahil atau tidak. Dengan demikian, semua pihak bisa menanamkan sikap matang tidak kekanakan dengan menepis begitu saja semua kabar-berita. Kita adalah masyarakat yang hidup tida saja berada di dalam ring of fire tetapi jangan lupa kita juga hidup di dalam ring of water, ring of ground, bahkan ring of wind. Artinya keempat elemen alam di Indonesia mempunyai potensi menjadi suatu bencana besar. Sudah seharusnya penduduk Indonesia lebih pandai dalam menghadapi dan menyikapi bencana alam. Karena Indonesia sangat berlimpah catatan sejarah terjadinya fenomena alam yang mampu menggetarkan seantero planet bumi ini. Di antaranya adalah letusan gunung Tambora, letusan anak Krakatau, letusan Merapi di zaman dulu, yang terakhir tsunami Aceh. Semua itu dapat menjadi bahan pelajaran untuk menjadikan penduduk Indonesia lebih bijaksana dan jagoan (ahli) dalam menghadapi marabahaya dari elemen alam.

Alam semesta sangat bijaksana, tidak pernah ujug-ujug terjadi bencana alam dan melibas mayoritas penduduknya. Sebaliknya alam selalu bertindak secara fairplay sesuai prinsip keadilan dan keseimbangan tata kosmos. Universe selalu memberi kabar sebelum melakukan mekanisme hukum alam untuk menata pola keseimbangannya sendiri. Untuk itu ilmu membaca bahasa alam wajib dikuasai oleh penduduk Indonesia khususnya. Jika anda mencari ilmu itu di dalam kitab suci maupun referensi ilmiah tentu akan kecewa karena memang minim sekali. Sebaliknya jika anda mencarinya di dalam “kitab teles” atau  jagad-gumelar yang tidak lain adalah kitab suci asli dan tak pernah terkena distorsi pemahaman subyektif manusia, dijamin ilmunya selalu jujur dan berkembang secara dinamis. Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia semua mempunyai ilmu titèn atau ilmu penanda akan terjadinya fenomena alam serta ilmu tentang cara membaca bahasa alam. Masyarakat Aceh dan Jawa sejauh yang saya tahu lebih familiar dan cermat dalam ilmu titen. Akan tetapi ilmu itu sekarang hampir punah karena orang lebih suka ilmu yang kerèn seperti ; disiplin ilmu terapan, sains dan teknologi barat, atau bahkan lebih suka dengan doktrin agama.  Itu hak para pembaca mau pakai ilmu yang mana, tetapi akan berpengaruh pada kualitas pribadi masing-masing orang. Nemaun idealnya manusia mau menggunakan semua ilmu tanpa embel-embel surga-neraka, itu justru akan membangun pribadi cerdas, pribadi yang bijaksana dan hebat yang akan memenangkan setiap kompetisi. Sikap menutup diri atau fanatic pada satu ilmu saja akan membentuk mental kebodohan. Pada gilirannya hanya akan membuat kesengsaraan pada diri sendiri maupun orang lain. Apalagi tidak cermat membaca fenomena alam, atau sikap suka menghina dan meremehkan bahasa alam yang kadang disebutnya sebagai musrik, gugon tuhon, tahyul dst. Sikap mbesi-wit (keras hati pada sesuatu yang tidak jelas) tidak akan menolong pada saat alam sedang bergolak hebat. Itulah salah satu factor kenapa penduduk Indonesia banyak mati dipukul telak oleh peristiwa fenomena alam. Fenomena alam seperti gunung meletus, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, itu seharusnya dinilai secara positif, bahwa alam sedang menata pola keseimbang baru, alam sedang membengkel tata keseimbangnnya sendiri yang sudah mulai njomplang gara-gara tatanan dirusak oleh manusia. Harusnya kita tetap mensyukuri saja. Fenomena alam itu justru merupakan berkah alam, berkah dari Sang Hyang Jagadnata agar supaya dikemudian hari menjadi “negeri taman surgawi” bagi generasi penerusnya. Fenomena alam itu kemudian berubah menjadi bencana besar bagi manusia, jika bangsa manusia tidak searif dan sebijaksana bangsa binatang yang cermat dan santun membaca bahasa isyarat yang disampaikan oleh alam semesta.

Bangsa binatang, bangsa lelembut, bangsa tumbuhan pada kenyataannya merupakan makhluk hidup yang paling saleh tidak pernah melakukan kejahatan, mereka mahluk hidup yang paling takwa kepada hukum Tuhan yang terwujud dalam hukum tata keadilan dan keseimbangan kosmos. Oleh sebab itu bangsa manusia jangan suka ge-e r..!

Pesan Dari Alam Semesta

            Ramai sekali orang membicarakan kebakaran, kekeringan, gunung meletus, dan musim penghujan yang tidak kunjung datang. Semua analisa menggunakan pendekatan geografis yakni, kekeringan sebagai efek gelombang panas atau sering disebut El-nino. Secara politik disebut-sebut ada oknum yang sengaja membakar hutan. Pada galibnya  perilaku dan pola hidup manusia modern secara langsung maupun tidak sangat besar dalam menyumbang munculnya gelombang panas di antaranya adalah efek rumah kaca, polusi dan industri. Kali ini, Indonesia turut berduka-cita setelah dilanda gelombang panas yang menyapu bersih awan-awan pembuat hujan. Segala daya upaya dilakukan untuk mendatangkan hujan di antaranya dengan ritual salat istiskhoq, ribuan kali dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Walau dengan prosentase keberhasilannya sangat tidak signifikan, di antara ribuan kali ritual itu, mungkin satu dua tiga terjadi hujan. Saya mafhum dan sangat menghargai karena ritual itu merupakan salah satu daya upaya manusia dan bentuk kepedulian manusia. Saya juga tidak heran, kita berfikir realistis saja toh di negara Arab tempat asal muasal ritual minta hujan itu, pada kenyataannya selamanya tetap kekeringan terus. Cara lain yang ditempuh dengan membuat hujan buatan, hasilnya nihil. Tak ketinggalan pula pemerintah minta bantuan luar negeri untuk mengerahkan pesawat pemadam kebakaran dan hasilnya belum bisa dirasakan langsung oleh penduduk sekitar bencana asap. Seolah manusia dipaksa untuk tunduk pada hukum alam. Biarlah alam semesta dengan hukum tata keseimbangannya yang akan menata dirinya sendiri. Manusia kadang sok tau juga sih. Apakah manusia tidak mencoba berfikir positif atas kekeringan dan kebakaran hutan yang melanda secara sporadic di berbagai wilayah seluruh Indonesia ini?

            Sebulan sebelum kebakaran hebat melanda hutan gunung Lawu, ada leluhur Majapahit sesudah Raden Wijaya dan sebelum Tri Buana Tungga Dewi yang datang memberikan kabar bahwa di Gunung Lawu akan berkobar api yang sangat besar. Karena keterbatasan bahasa, Ki Ageng Mangir membantu menterjemahkan bahwa akan muncul api dari dalam tanah yang membakar hutan-hutan di sekitar Gunung Lawu. Setelah Lawu benar-benar terbakar, leluhur misterius itu kembali datang mengabarkan dengan penuh antusias bahwa nantinya Gunung Lawu akan menjadi subur, lebih hijau dan para binatangnya pun akan hidup lebih senang dan kecukupan. Lawu akan memberikan lebih banyak manfaat untuk semua makhluk hidup. Itu sebagai berkah alam yang sudah dipersiapkan dari sekarang. Oleh sebab itu alam menata dirinya sendiri terlebih dahulu  guna menyongsong lahirnya tiga orang putra-putri sang generasi penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin besar di masa yang akan datang. Menjelang kelahiran mereka, alam semesta sibuk menata diri. Tak satupun kekuatan yang mampu menghalangi kelahirannya. Kabeh wis karseng Hyang Widhi. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Rawuhe dikantheni mayuta leluhur kang njangkung njampangi. Sing sapa tut wuri bakal temah begja lan mulya. Golekana, yaiku kang aran Herucakra Si Tunjung Putih semune pudak sinupet. Agegaman “trisula” wedhatama, pedange pedang welas asih kang mingis-mingis. Aja nganti katilapan, sebab akeh wong pada atesmak bathok, sanajan mripate mlorok nanging ora bisa ndelok. Mula den awas den eling, akeh uga ratu kang palsu, ngaku-aku ratu sejatine dudu. Rawuhe wus cedak, alam aweh pratanda menawa sakehe alas gung kobar, banyu segara munggah daratan, gunung Merapi sigar tengahe, glacap gunung Merapi ambrol (geger boyo hilang karena tersapu erupsi besar), Surabaya gathuk (menyambung) lan Madura, Kraton Jogja ilang ratune (habisnya gabungan keturunan dari Ki Ageng Mataram dengan Ki Ageng Giring). Kraton Solo karoban toya (dilanda konflik).

Pralampita tidak berhenti sampai di situ, karena entitas gaib mengabarkan suatu peristiwa tsunami di laut selatan Jawa, waktunya tidak akan lama lagi. Tetapi kami tidak perlu menuntut supaya tahu kapan kejadian pastinya. Itu tidak etis. Biarlah tetap menjadi rahasia alam dan membuat kita selalu bersikap bijaksana, eling dan waspada. Tentu saja kami tetap mengkhawatirkan sodara, kerabat, teman yang tinggal di tepi pantai selatan Jawa. Kami hanya bisa maneges agar supaya mendapatkan pertanda jika peristiwa alam itu benar-benar akan terjadi.

Hawa Panas Pelebur Kutub

Ombak besarPujisukur, sedikit gambaran dapat kami peroleh. Sebelum tsunami melanda garis pantai selatan Pulau Jawa, akan didahului peristiwa surutnya air laut selama tiga hari berturut-turut. Sehingga garis pantai tampak menjorok bergeser ke selatan. Saya berfikir, ini berbeda dengan tanda-tanda sebelum tsunami sebagai trigger effect dari adanya gempa bumi. Tsunami yang dihasilkan dari adanya gempa bumi biasanya ditandai surutnya air laut dan tidak akan lebih lama dari 30 menit. Sedangkan kali ini, surutnya air laut terjadi selama tiga hari berturut-turut. Saya hanya bisa berfikir bahwa factor penyebab tsunami selain gempa bumi adalah gunung meletus dan runtuhnya gunung yang berada di tengah atau di dalam samudra. Akan tetapi di samudera Hindia selatan pulau Jawa tidak terdapat gunung berapi yang berada di dalam samudera. Adanya di sebalah barat Bengkulu yang diperkirakan tingginya 4000 meter dari dasar laut dan 1000 meter di bawah permukaan laut. Jika gunung itu meletus besar, tidak hanya pesisir barat Pulau Sumatera saja yang bisa diterjang tsunami bahkan jika letusannya dahsyat melebihi 5.5 skala VEI (Volcanic Explosivity Index) tentu saja tsunami akan mampu menjangkau sepanjang pesisir pulau Jawa, Bali, Lombok bahkan bisa mencapai Australia.  Factor lainnya adalah dinding-dinding raksasa kutub utara atau kutub selatan yang runtuh secara tiba-tiba sebagai akibat gelombang panas El Nino yang belakangan ini menyelimuti seluruh wilayah Indonesia, bahkan saat ini pulau-pulau yang berada di wilayah selatan Indonesia lebih intensif dilanda gelombang panas akibat el-Nino dan bergesernya Matahari ke selatan garis khatulistiwa. Kedua factor ini sangat signifikan menciptakan hawa panas melebihi rata-rata. Itu belum lagi bila hawa panas dari kedua factor itu masih diakumulasi lagi dengan induksi panas bumi (dari dalam tanah) akibat adanya pergerakan lempeng raksasa indoaustralia di bawah Samudera Hindia selatan Pulau Jawa. Indoaustralia Plate merupakan pondasi dua benua besar yakni sebagian wilayah Indonesia (Asia) dan Australia. Megatrust yang dibarengi dengan mencairnya kutub selatan bukan hal yang mustahil. Tetapi setidaknya longsornya 10% bagian Antartica sudah cukup untuk membuat gelombang besar dan permukaan laut di planet bumi ini bisa mengalami elevasi antara 1-2 meter. Itu artinya cukup dengan peristiwa di atas akan mampu menenggelamkan beberapa wilayah Negara di planet bumi ini. Beberapa Negara siap kehilangan sebagian wilayahnya.  Ini yang disebut dalam serat Jongko-Joyoboyo sebagai tirta munggah daratan.

Semua itu akan menjadikan ponang goro-goro ingkang langkung ageng. Candraning goro-goro bumi gonjang-ganjing langit gumarang, tangising bumi kelawan langit. Tangising bumi ketiga dawa lemah bengkah, lindu kang tanpa sangkan sedina kaping pitu mangambal-ambal, kluwung pating palengkung teja mangkara-kara, nganti kontrang-kantringan para kawula, awit akeh sato tan antuk boga, mina kesatan warih, anom tuwa kang sirna kapenthang teluh, gagrak roning mandura. Tangising langit udan barat salah mongso banjir bandang kang tanpa sangkan,. Gunung longsor kawur pada dene gunung, bleduk mangampak panjering sapi gumarang, guro gurnita jagad kagiri-giri, tempuhing goro-goro akeh para pandita kang sami ngeningaken cipta nenuwun marang Jawata, ratu-ratu kang samiya jegreg ing penggalih. Genging panuwun murih tata tentreming jagad raya prandene datan katarima, mulat bumi kalawan langit kaya katangkep-tangkepa lintang lir rinanta-ranta lidat thatit pating klawer claret taut pating clorot. Mbaleduk swaraning kawah candra, tirta kang kinebur-kebur kinoclak-kocla lir gambiralaya. Pintu séla matangkeb  kaya bujat-bujato mèncèng woting ogal-agil, ngakak tutuking sang hyang ananta, boga kopat-kapit tan pethite lir pecut penjalin tingal, nganti akeh para widadara widadari kang sami anjeli kepati, gunung jamur dipa kaya ambruk-ambruka, rikala semana sang paramesthi prisa kawontenaning goro-goro enggal ngasta tirta kamandanu, katetesake sirep pada sanalika. Sireping goro-goro ana swara kang tanpa sangkan, jumleguring angkasa pinda gundala sasra, gundala sewu gelap  byar padang terawang jagad sumilak gumelaring jagad anyar.

Well Prepare

            Sebagai penduduk di wilayah ring of disaster hendaknya sudah terbiasa hidup disiplin dan well prepare atau melakukan persiapan yang baik, sebagai langkah mitigasi terhadap bencana alam yang mungkin terjadi tiba-tiba. Masyarakat harus terlatih untuk kemungkinan paling buruk. Jelaskan kepada anggota keluarga bahwa kita tinggal di daerah yang memiliki potensi bencana alam demikian. Apa yang perlu diketahui dan dilakukan. Termasuk menyimpan surat-surat berharga pada tempat yang aman, terlebih lagi dalam situasi dan kondisi alam seperti ini. Kadang anteng, tenang, tapi tiba-tiba ada peristiwa alam yang cukup membuat terhenyak semua orang. Ingatlah fase Sura Nyalawadi dulur-dukurku semua. Apa yang kita lihat tidak seperti apa yang sesungguhnya terjadi.

Demikian pula Pemerintah harus mempunyai juklak, juknis, bagaimana dan tindakan apa yang harus dilakukan pada saat menghadapi berbagai macam bencana alam. Bayangkan saja seandainya benar-benar terjadi air laut selatan tiba-tiba surut, seberapa ribu penduduk yang harus siaga bahkan jika perlu dilakukan langkah evakuasi sebagai upaya tanggap darurat bencana. Untuk membangun kesiap-siagaan masyarakat hendaknya Pemerintah memantau sejauh mana sosialisasi dapat berjalan efektif dan benar-benar dipahami oleh masyarakat. Sangat penting melakukan gladi resik secara berala agar supaya pada saat bencana alam benar-benar terjadi masyarakat sudah sadar apa yang harus dilakukan. Itu akan meminimalisir korban jiwa dan harta. Di wilayah Sumatera Barat sudah cukup baik melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan paling buruk. Tetapi daerah lain, sekitar pantai selatan Jawa, sekitar gunung berapi intensitas sosialisasinya tidak seperti di Sumatera Barat.

            Penting untuk dilakukan pemerintah adalah membaca peta demografi. Apa mayoritas mata pencaharian penduduk di sana. Apakah petani, nelayan, industry dll. Untuk masyarakat petani perlu dipikirkan evakuasi binatang ternak. Terutama yang bernilai di atas 1 juta rupiah. Misalnya kerbau, sapi, kambing. Kita harus mengambil pelajaran dari kasus erupsi Gunung Merapi. Di mana Merapi justru meletus besar pada saat penduduk kembali ke kampung untuk memberi makan binatang ternaknya. Bisa dikatakan evakuasi tidak berhasil karena banyak warga masyaraat yang enggan meninggalkan kampungnya karena satu-satunya property yang mereka miliki tidak diberikan fasilitas evakuasi.  Logikanya, orang akan rela meninggalkan rumah kosong. Tetapi tidak akan rela meninggalkan kekayaan satu-satunya. Sebaliknya, apabila yang dilakukan Pemerintah adalah evakuasi binatang ternak dan benda-benda berharga milik warga, otomatis warga akan mengikutinya. Itu sebabnya perlu dipertimbangkan untuk menyiapkan lokasi evakuasi binatang ternak. Saya yakin bantuan yang datang bukan hanya untuk manusia tetapi untuk binatang ternak juga akan mengalir.

            Sementara itu penduduk yang tinggal di garis pantai selatan jauh lebih besar jumlahnya. Artinya jika terjadi kemungkinan terburuk akan sangat menyibukkan Pemerintah dan semua kekuatan masyarakat. Nah, apakah semua fasilitas yang dibutuhkan saat evakuasi manusia dan hewan ternak sudah memadai? Karena melibatkan transportasi, tim pemandu, ketua kelompok, pusat komando, dan posko-posko pembantu.

Persiapan Non Teknis

            Selain persiapan secara teknis yang baik, tidak kalah penting dilakukan adalah persiapan non-teknis. Maksud saya adalah segala daya upaya mitigasi bencana yang dilakukan secara spiritual. Meliputi doa bersama, doa tulak balak, ritual, upacara adat dan sejenisnya. Semakin banyak orang melakukan upaya non-teknis seperti ini pasti akan ada pengaruhnya. Untuk membatalkan fenomena alam mungkin sesuatu yang sangat berat. Tetapi setidaknya dapat meminimalisir korban, mengurangi dampak, atau bahkan mengurangi kekuatan fenomena alam yang akan terjadi. Monggo bagi siapapun yang peduli bisa melakukan upaya non-teknis ini dari berbagai wilayahnya sendiri-sendiri. Baik yang dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok. Setiap pribadi bisa juga melakukan panekung, meditasi dengan tujuan untuk manages (minta petunjuk) dan nyenyuwun (berdoa) keselamatan. Siapa tahu ketulusan Anda akan tembus dan direspon oleh kekuatan gaib secara positif.

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on November 5, 2015, in Mitigasi Bencana Dari Selatan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 73 Komentar.

  1. Sudah menjadi suratan, yg seharusnya terjadi biarlah terjadi.lebih cepat,lebih baik. Semua harus bergantian, tdk bisa dihalangi2. Kalau msih bisa diperbaiki ya diperbaiki. Seperti makna “sastra jendra jayuningrat pangruwating diyu”. Kalau pun sudah tdk bisa diperbaiki ,dihancur leburkan saja.

    Rahayu…

    • Mas Abimanyu yth
      Ya, tepat…..mmg begitulah. Seperti saya tulis pada posting Negarane Wis Sumende dan Hidup di rumah paling berhantu.
      Rahayu sagung dumadi

      • Yth. Ki sabdalangit,
        Ki sabda,di jaman kalabendu ini. apa mungkin sp mendapatkan mukjizat dr para dewa/ Tuhan sang penguasa alam?

        Sugeng rahayu…

      • Anoman Obong yth
        Zaman tinarbukaning gerbang kejayaan Nusantara akan dpimpin Oleh SPPG. Itu artinya pertanda berakhirnya zaman kalabendu. Monggo di buka lagi posting sebelumnya : ”pagelaran wayang kulit kanthi Lakon SPPG” . Semua persis dengan apa yg terjadi pada saat ini.
        Rahayu sagung Titah Dumadi

  2. Mau dipimpin pak sby, prabowo , megawati , maupun pak.jokowi. tanpa adanya ” wahyu/ restu Tuhan, hasilnya akan sama saja. Semua terlalu memaksakan diri utk jadi pemimpin,cuma pencitraan saja.
    Nusantara bs mnjadi negara besar karena adanya “wahyu/ restu leluhur , dewa , dan Tuhan.
    Suatu saat nanti, kalau sudah tiba waktunya. Sesuai yg disampaikan para leluhur, dan sudah menjadi ketetapan “Shang hyang widhi/Tuhan sang penguasa alam, hilangnya kutukkan bumi dan langit, nusantara akan kembali berjaya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, seperti yg disampaikan ki sabdalangit , lebih cepat lebih baik. Baru bisa terwujudnya toto , titi , tentrem kerto raharjo.

    Joyo , joyo , joyo wijayanti…
    Sugeng rahayu

  3. Yth.ki sabda
    Matur suwun sanget atas pencerahanipun. Ki sabda, saat ini sp sudah di dampingi “sabda palon nayagenggong” atau belum? pengejwantahan dari dewa semar sbg sosok pemomong sp , atau masih menunggu waktu saat kemuncunya?

    Sekare jagad…
    Sugeng rahayu…

    • Mas Wijaya Kusuma yth

      Ki Sabdapalon & Ki Nayagenggong sudah manjalma sejak Maret 2014. Manjalma Pada 2 orang bocah kembar nama Garujito & Garumurti. Ada di Bang Wetan dekat G Raung. Jika meragukan apa yg saya sampaikan, monggo.. boleh dibuktikan. Meskipun beliau berdua sudah manjalma tetapi yang akan diemong belum lahir. Dan kemungkinan besar thn 2017, sekaligus menjadi tahun istimewa utk Indonesia, bahkan dunia.
      Rahayu

  4. Kemungkinan , saat ini sp saat msih nggenepi laku/digembleng oleh para leluhurnya yg mungkin jg selalu tersembunyi. Sementara alampun bergejolak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan beliau. Oh ya ki sabda, jika ditarik kesimpulan, tahun 2017 merupakan tahun keramat. Apa kemungkinan tahun 2017 merupakan tahun dipertemukanya pengejwantahan dewa “semar” yg menjelma ke dunia sbg sosok pemomong dg SP sbg sosok yg d emong?

    Sekare jagad…
    Sugeng rahayu…

  5. Mahendra Jaya Wisesha

    Yth Kakang Sabda,
    Biarkan seperti itu,karena sudah saatnya terjadi,tinggal menunggu waktu,waktu tuk kembali dan mengambil apa yg menjadi hak, eleng lan waspada…

    Sugeng rahayu

  6. Yth. Ki sabdalangit

    Mau tanya ki sabda, menurut penerawangan ki sabda, sp mempunyai tetenger apa? Sbg analisa untuk membedakan sp yang asli dg yang palsu.

    Sugeng rahayu…

    • Kang Wiro Sableng Yth
      SP PG ?! tingginya tdk lebih dari 165 cm. Rambut sdh ubanan. Usia nantinya sekitar 64 thn. Tegas, jujur, berwibawa. Dan kesinungan wahyu keprabon. Berasal dari pulau semar madep wetan.
      Sedangkan SP RA masih lama.
      Rahayu sagung titah dumadi.

  7. Yth. Ki sabda

    Ki sabda, mungkinkah bencana dari selatan memicu aktifitas gunung merapi untuk meletus kembali?

    Sugeng rahayu…

  8. Yth ki sabda..
    Apakah smua musibah yang akan terjadi nanti ada hubungannya dengan matahari. Mungkinkah saat terjadi nanti keadaan akan menjadi gelap gulita.
    Terima kasih

  9. Yth . ki sabda,
    Pulau semar d daerah mana ki ? Wahyu keprabon apa sama dengan wahyu Tohjali ?

    Sugeng rahayu

  10. yth. ki sabda
    gimana ki tanggapan ibu rau kidul… akan hal ini ?
    apa beliau ikut mengamini akan peristiwa yg akan ter jadi ?

    • Banyulumut Yth
      Sampai hari ini warning belum dicabut. Kata beliau, semua masih mengupayakana..! Jika pada akhirnya tetap terjadi, paling tidak skalanya berkurang dan minim kerugian dan korban jiwa.
      Rahayu Sagung titah dumadi

  11. Yth. Ki sabda,
    Ki sabda SPPG dengan SP apa ada ikatan keluarga ? atau merupakan sosok yang berbeda?

    Eling lan waspada
    Sugeng rahayu

    • Joko Tingkir Yth
      SP tidak hanya 1 Orang atau satu periode kepemimpinan Nasional. Melainkan beberapa orang dan beberapa periode kepemimpinan. SPPG adalah salah satu dari SP. SP yg satu dengan yg lain tidak ada hubungan keluarga. SP bukanlah oligarkhi, bukan pula monarkhi. Dan tidak bersifat feodal juga.
      Rahayu Sagung titah dumadi

  12. numpang nanya kang sabda, SP PG dan SP RA jadi beda ya, lalu di postingan wayang sblmnya ttg SP PG, kalau tidak salah membicarakan Parikesit yang naik tahta, jadi parikesit = SP PG, dikatakan Parikesit belum naik tahta karena usia yang terlalu muda, lalu kang mas sendiri mengatakan SP PG sudah berusia cukup tua. lalu mana lakon SP RA sendiri dalam perwayangan tsb atau yg mana mengatakan ttg calon SP PG yang kang mas sabda katakan berusia lanjut tsb

  13. Gunung kidul wonten lindu dalu wingi

  14. Yth. Ki sabda,

    Tahun 2016 apa sudah ada perubahan menuju lebih baik? Rakyat kecil seperti saya ini sudah amat sangat menderita?

    Sugeng rahayu

  15. asmane pun pedange pedang sukoyono

  16. Pertobatan menghapus banyak sekali bencana.

  17. Maaf saya mau bertanya…mengenai penanggalan jawa….apakah ada referensi yg asli nya? krn kan kalo saya baca di beberapa ada tahun JID Jawa Ingsun Dumadi) , tahun Mpu Hubayun, tahun Saka, dan tahun yg dibuat oleh Sultan Agung (sekarang digunakan)..mgkn ada yg tahu mengenai sistem kalender yg aslinya..
    terimakasi..

  18. kidul
    iki dulur
    daya dayaning kidul
    munculing watu ireng kambang

    munculnya kesadaran yg lama hilang
    :
    muncul kesadaran kemuliaan identitas harga diri negeri sendiri
    munculnya cinta tuntunan hidup negeri sendiri.
    yang selama ini tertutup tuntunan takabur,
    tuntunan yg merasa paling benar.
    sejatinipun tuntunan pangrusaking tuntunan luhur kang lembah manah.
    memayu hayuning rasa, rukun guyub khormat marang leluhur lan allam semesta.

    muncul rasa satu saudara sebangsa.
    satu bangsa yg luhur , Indonesia.

  19. Terimakasih Ki sabdo,yang selama ini telah memberikan pencerahan terhadap generasi muda…mohon petunjuk ki saya pernah mimpi dudukin kawan gunung merapi…(pada waktu itu badan saya terasa besar dan tinggi melebihi gunung merapi dan tiba2 ada ke inginan untuk menduduki kawah gunung berapi tersebut).Kira kira apa maksud mimpi saya tersebut Ki….mohon pencerahan…

  20. Sang Ratu Adil sudah hadir di tengah manusia KI Sabda, sedang menjalani Topo ing Rame…kemunculannya tinggal menunggu kehendak Nya…yang belum muncul anaknya yang kelak menjadi penerusnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: