Thank’s for all !!

Lanjutan Posting Mitigasi Bencana Dari Selatan

Senin Legi 1 Februari 2016

Ketika pagi-pagi Ki Ageng Mangir tiba-tiba sudah di depan mata, serta-merta menyampaikan pesan,”…..ngger, para leluhur anggone ngupayani supaya aja nganti ana bebaya gede saka segara kidul bisa kasil nanging amung sithik. Tetep kudu waspada marang polahing ngalam. Dan seterusnya….

Pada intinya, Ki Ageng Mangir Wanabaya menyampaikan pesan bahwa peringatan marabahaya besar sebagian bisa diantisipasi. Tetapi masyarakat haruslah tetap waspada, karena sebagai “substitusi”nya tetap akan ada marabahaya yang ditimbulkan oleh beberapa faktor di antaranya hembusan kuat angin besar yang bertiup dari benua Australia akan menerpa wilayah Indonesia terutama di bagian selatan dan wilayah yang mempunyai garis pantai menghadap ke selatan. Tentu saja masyarakat yang tinggal di sepanjang wilayah pesisir selatan Pulau Jawa harus lebih waspada. Sebab tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Angin besar dan hangat dapat menimbulkan efek gelombang besar disertai penguapan air laut. Sehingga sepanjang wilayah itu akan didera hujan besar disertai angin dan ombak besar yang menerjang daratan. Beberapa akibat yang ditimbulkan mulai dari abrasi daratan tepi pantai yang berakibat cukup parah, hingga gelombang besar yang menghantam wilayah tepi pantai secara kontinyu juga akan menimbulkan kerusakan dahsyat yang tidak kalah  dibandingkan dengan akibat yang ditimbulkan oleh tsunami.

Apapun yang akan terjadi dan resikonya, semua itu patut kita syukuri. Kita tidak akan cukup bersyukur kepada Tuhan saja. Lebih utama berterimakasihlah kepada semua pihak yang turut andil dalam menjaga keselamatan bangsa manusia. Baik itu upaya pihak-pihak tertentu untuk melestarikan lingkungan hidup di kawasan pantai selatan Jawa maupun entitas lainnya.

Esensi Ucapan Terimakasih

               Ucapan terimakasih adalah kata-kata sederhana. Tetapi terkadang orang lupa bahkan merasa congkak diri hingga enggan mengucapkannya kepada pihak-pihak yang telah membantu dan menolongnya.  Kata-kata “terimakasih” merupakan ungkapan dari rasa dan kesadaran kita akan hakikat kehidupan ini untuk saling mengisi, saling melengkapi, saling membantu di antara sesame manusia maupun di antara seluruh makhluk hidup penghuni planet bumi. Oleh sebab itu ungkapan terimakasih selain mencerminkan kesadaran kita atas hakekat kehidupan ini, juga mencerminkan kesantunan sikap kita. Ungkapan terimakasih akan muncul dengan sendirinya ketika pribadi seseorang menyadari bahwa kita hidup ini selalu membutuhkan bantuan orang atau pihak lain. Kita sadar bahwa menjalani hidup ini tak bisa ditempuh seorang diri, melainkan harus ada peranserta dari orang lain, maupun makhluk hidup lainnya. Saya katakan, orang yang tidak tahu berterimakasih adalah orang sombong, dungu dan tidak menyadari sejatining urip, hakekat kehidupan ini.

               Kecongkakan itu akan mencelakai dirinya sendiri, dan suatu ketika pasti akan menjadi sumber malapetaka dan penderitaan bagi si congkak. Itu hukum alam yang sudah pasti. Sebaliknya, kesantunan dan kesadaran akan sejatining urip justru akan membuat kebahagiaan dan kemuliaan untuk dirinya sendiri.

Terimakasih Yang Salah Kaprah

               Seringkali kita mendengar seseorang mengajarkan agar supaya selalu berterimakasih (bersyukur) kepada Tuhan. Sebaliknya ia melarang seseorang untuk berterimakasih kepada makhluk halus. Serta melarang menghormatinya dengan alasan dosa dst. Tampak jelaslah bahwa larangan itu disampaikan karena seseorang tidak mengetahui fakta yang sesungguhnya. Bersyukur atau berterimakasih kepada Tuhan merupakan sesuatu yang sudah lazim atau wajar di lakukan setiap orang. Setiap hari juga kita sering mendengar orang menghimbau agar selalu berterimakasih kepada Tuhan. Ucapan syukur kepada Tuhan bahkan telah menjadi kalimat seru, dan bahkan kalimat latah hingga kehilangan maknanya. Saya pribadipun enggan menyarankan seseorang untuk mengucapkan kalimat syukur kepada Tuhan karena saya menganggap semua orang sudah paham. Bisa jadi saking fokusnya orang bersyukur kepada Tuhan kadang hingga lupa diri merasa tidak perlu lagi mengucapkan kalimat syukur atau terimakasih kepada pihak-pihak yang telah menolong dan membantunya. Padahal dalam pergaulan dan kemanusiaan hal itu justru jauh lebih penting dilakukan untuk membina dan membangun keharmonisan hidup bermasyarakat. Orang yang tidak tahu berterimakasih akan dicap sebagai orang sombong dan tidak tahu diri, tak mau diuntung. Rumangsa bisa, nanging ora bisa ngrumangsani. Suatu ketika jika ia mengalami kesulitan, akan semakin sulit mendapatkan bantuan dan pertolongan dari pihak lain.

Bisa Ngrumangsani

Sikap bisa ngrumangsani artinya sikap seseorang yang tahu diri. Sikap itu menyangkut kesantunan seseorang dalam pergaulan maupun kesantunan kepada lingkungan alam. Berterimakasihlah kepada orang yang membantu dan menolong dirimu. Berterimakasihlah kepada binatang yang telah membantu pekerjaanmu dan memberimu kehidupan. Berterimakasihlah kepada tumbuhan yang telah memberimu nafas, kehidupan, sandang, papan dan pangan pada dirimu. Berterimakasihlah kepada bangsa makhluk halus yang telah membantu dan menolong dirimu, yang telah turut menjaga sistem keseimbangan alam ini walaupun dirimu tidak pernah menyadarinya. Sikap seperti ini mengindikasikan level kesadaran kosmologis yang telah dicapai oleh seseorang. Orang yang bisa ngrumangsani, otomatis di dalam dirinya akan tertanam sikap menghormati dan welas asih kepada seluruh makhluk. Tidak menjadi orang congkak, dumeh atau mentang-mentang. Mentang-mentang sebagai manusia lantas menghina bangsa binatang, tumbuhan dan makhluk halus. Padahal siapapun, asalkan masih bangsa manusia, maka ia tidak akan pernah bisa menyamai kepatuhan atau ketakwaan para makhluk tersebut kepada Sang Hyang Roh Jagad Agung (Tuhan). Mereka lebih suci ketimbang bangsa manusia, mereka menjalani hidup dengan cara yang teramat jujur, selalu selaras dengan sistem (hukum/tata) kesimbangan alam.  Sebaliknya sebagian bangsa manusia seringkali bertindak kontradiktif, suka berbohong dan berkhayal, bahkan menerjang sistem  keseimbangan alam, dengan dalih kepatuhan atau ketakwaan kepada Tuhan. Tuhan yang mana ??

Pesan Ki Ageng Mangir

               Di akhir kalimat Ki Ageng Mangir Wanabaya hanya memberikan saran sederhana,”…kapan-kapan yen wis ana wektu, ya labuha ngger (di laut selatan) kanggo KRK, raketang ming sak anane. Matur nuwuna marang Kanjeng Ratu Kidul !   Saya paham, apa yang tersirat di dalam saran Ki Ageng Mangir. Tentu saja KRK turut andil dalam meminimalisir marabahaya besar yang bakal terjadi. Itu pun beliau lakukan karena banyak sedulur-sedulur di wilayah pantai selatan yang melakukan berbagai upacara tulak balak, dan berbagai upacara dengan tujuan untuk penyelarasan dengan alam. Maka gayung pun bersambut. Leluhur dan KRK maupun sedulur-sedulur bangsa halus, sebagai kekuatan supra atau supernatural power menyambut segala upaya yang dilakukan oleh bangsa manusia untuk meminimalisir bahaya besar. Meskipun demikian bukan berarti kita menolak hukum alam, toh ombak besar tetap ada dan terjadi. Hanya saja tidak terjadi dalam waktu yang sama dengan kekuatan besar. Konsentrasi kekuatan dipecah. Kekuatan alam yang siap meledak, dirilis secara perlahan. Seumpama bom waktu, agar tidak meledak kuat secara mendadak,  maka caranya displit, atau dilemahkan terlebih dahulu sumber ledakannya agar menjadi ledakan-ledakan kecil yang tidak mengancam keselamatan jiwa.

Fakta Kekuatan Supernatural Being

Tulisan ini sekaligus sebagai kelanjutan tulisan terdahulu yang berjudul Mitigasi Bencana Dari Selatan yang saya terbitkan pada 5 November 2015. Enam hari berikutnya yakni pada pada tanggal 11 November 2015 saya pergi menepi di wilayah pantai selatan DIY untuk menyaksikan suatu peristiwa dahsyat. Ki Ageng Mangir mengatakan bahwa malam itu para leluhur berusaha agar tidak terjadi bencana besar di wilayah pantai selatan. Sesampainya di pantai saya melihat suatu pemandangan luar biasa, selanjutnya saya infokan kepada dulur-dulur di FB sebagai berikut : ,”Malam ini (pukul 00.11 WIB) air segoro kidul mulai menyurut sekitar 8 meter dari level normal, jika kebetulan berada di pinggir laut selatan, (di angkasa) akan terlihat banyak cahaya hijau kebiruan, ada yg putih perak, melesat ke selatan. Tapi bukan hujan meteor… !

               Pada tanggal 11 Nopember 2016 sore harinya terjadi peristiwa berikut : Info Gempa Magnitude 5.6 SR, 11-Nov-15 18:45:25 WIB, Lokasi : 8.97 LS,110.19 BT (120 km Barat Daya BANTUL-DIY), Kedalaman : 93 Km : BMKG. Gempa terasa hingga di wilayah Jawa Barat, Jepara, G Lawu, Blitar. Bahkan pada saat itu kami sedang pisowanan agung di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar, berada di kaki Gunung Lawu. Turut merasakan gempa yang cukup kuat. Kami yakin barangkali terjadi gempa jauh lebih besar dan bisa saja menimbulkan efek gelombang besar yang menerjang daratan apabila semalam tidak dilakukan suatu upaya oleh para leluhur sebagaimana terjadi fenomena cahaya yang sempat disaksikan dulur-dulur dari Tangerang, Pantai Ngobaran Gunung Kidul dan wilayah selatan DIY. Mungkin para pembaca yang budiman penasaran apakah sesungguhnya cahaya itu ? Cahaya itu merupakan wujud pusaka-pusaka yang milik para leluhur sejak waktu masih hidup dengan raga. Pusaka-pusaka dilemparkan ke suatu titik koordinat di mana menyimpan potensi besar sebagai episentrum gempa besar. Dalam kasus ini adalah cesar indoaustralia yang melintas di bawah laut selatan Jawa pada kedalaman > 40 km. Patahan yang terdapat pada lempeng raksasa antar benua itu sangat berpotensi menimbulkan kekuatan megatrust, menjadi bencana besar. Mampu menggoyang planet bumi dengan kekuatan hingga lebih dari 9 SR. Leluhur menggunakan berbagai pusaka itu untuk melepas sebagian energi, agar supaya jika terjadi pelepasan energinya akan menjadi berkurang banyak.

Dari semua peristiwa itu terdapat kronologi atau alur kisah yang sistematis yang runtut dan konsisten. Sehingga kita tak perlu kesulitan uthak-athik agar gathuk. Kita bisa mengevaluasi bagaimana peran leluhur sebagai salah satu supernatural being, itu merupakan sesuatu yang bersifat faktual (benar adanya) dan nyata (bisa disaksikan secara awam). Untuk itu, tulisan ini juga saya tujukan sebagai wujud terimakasih, pertama-tama saya sampaikan kepada seluruh supernatural being yang andil dalam mengantisipasi bahaya besar itu, kedua, kepada dulur-dulur yang secara serempak melakukan berbagai upaya mengantisipasi bahaya besar dengan cara dan teknis beragam, ketiga kepada makhluk apapun yang turut andil pula dalam menjaga tata keseimbangan alam, serta mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi.

Ini Fakta

Jika anda adalah pribadi yang pandai bersyukur kepada Tuhan, maka Anda adalah pribadi yang selalu berterimakasih kepada kepada nenek moyang, kepada leluhur, kepada sesama manusia, kepada bangsa tumbuhan, bangsa binatang dan menghargai bangsa makhluk halus. Jangan pernah kita melupakan awal mula atau asal-usul kesuksesan hidup kita. Kacang jangan pernah melupakan kulitnya. Setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang lain kepada diri kita hendaknya diukir di atas batu. Agar tak lekang oleh usia dan waktu.  Sebaliknya, jika anda hanya mau berterimakasih kepada Tuhan saja, maka orang lain akan meludah saat melihatmu. Dan suatu ketika anda akan ditinggalkan semua orang, anda akan benar-benar berjuang sendiri untuk mempertahankan hidup anda. Bahkan alam semesta ini tak peduli lagi dengan hidup anda. Alam semesta tidak akan berpihak pada orang-orang yang congkak, dan orang-orang yang tak tahu diri. Semoga kita semua bukan termasuk si congkak.

Rahayu sagung titah dumadi
Sabdalangit

Iklan

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Februari 3, 2016, in Thank’s for all !!. Bookmark the permalink. 48 Komentar.

  1. pundi artikel é enggal mas….

  2. Di Tunggu Lagi Mas Artikel-Artikelnya Sip Mantap

  3. Dipun tenggo artikel enggalipun mas…..

  4. thanks for all
    sayonara ?
    selamat tinggal ?

    mugi sehat selalu.
    tiap raga ada debu.
    tiap laku ada keliru.
    tiap keliru adalah guru.
    tiap guru tetaplah guru.
    guru .. teguh rahayu kagem panjenengan .

  5. Wilujeng rahayu kang tinemu bondo lan bejo kang teko soko kersone gusti kang akaryo jagad.
    Matur sembah nuwun ki sabdalangit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: