Monthly Archives: Agustus 2018

Dewi Rinjani (Dewi Anjani)

Saat sedang mengamati video seorang remaja kesurupan yang mengaku sebagai Dewi Anjani, tiba-tiba Eyang Dewi Anjani hadir, tampaknya beliau mengetahui isi hati dan pikiran saya, mengenai peristiwa kesurupan yang menimpa banyak orang mulai dari usia remaja hingga ibu-ibu dan sejauh yang saya tahu mereka semua yang kesurupan adalah wanita. Melihat cara mereka kerasukan, ada yang histeris, teriak sambil menangis, ada yang terbaring lemas sambil mengeluarkan kata-kata dan kalimat yang intinya hampir sama, mereka mengaku sebagai Dewi Anjani, supernatural power yang menjaga atau bersemayam di Gunung Rinjani.

Cara Membedakan Leluhur Besar & Bukan

Walaupun saya belum pernah menjumpai mereka yang kerasukan secara langsung, saya merasa ragu karena secara logika, seorang Dewi Anjani yang agung dan suci tentu tidak akan menunjukkan perilaku demikian rupa. Saya hanya menduga kira, mungkin mereka kesambet bangsa jim pri perayangan atau makhluk halus bekasakan yakni sejenis makhluk halus level bawah misalnya bangsa dedemit dan sejenisnya. Karena sejauh yang saya ketahui, makhluk halus semacam itu karakternya ganas atau temperamental dan perilaku serta tutur katanya kasar. Bisa saja mereka mengklaim sebagai (utusan) Dewi Anjani. Tentu bagi orang yang tidak bisa melihat obyek metafisika akan kebingungan. Bahkan bisa menimbulkan stigma buruk kepada sosok Dewi Anjani sendiri. Kejadian itu menimbulkan kesan seolah-olah Dewi Anjani karakternya kasar seperti mereka yang kerasukan itu ? Bagi Anda yang percaya keberadaan Dewi Anjani jangan khawatir. Ada satu prinsip sederhana paling tidak bisa menjadi pedoman dan rambu-rambu untuk membedakan mana makhluk halus bekasakan mana pula entitas supernatural power yang mempunyai tingkat kesucian dan keagungan tinggi. Anda cukup memahami apa yang saya pikirkan di atas. Sikap dan tutur kata seorang leluhur besar tidak akan kasar dan tampak histeris. Para leluhur besar selalu menunjukkan sikap tenang, halus, santun, berbicara seperlunya dengan tutur kata yang ringkas padat, berisi serta penuh wibawa dan terasa sekali energi welas asihnya memancar. Dan ada satu prinsip paling penting harus Anda ketahui, bahwa leluhur besar tidak akan lenggah di badan sembarang orang. Alasannya, tidak setiap orang akan kuat tubuhnya ketika kelenggahan leluhur besar. Biasanya leluhur besar hanya akan lenggah ke dalam diri seseorang yang terpilih karena masih ada hubungan darah, atau seseorang yang benar-benar kuat dan suci lahir batinnya. Serta orang itu mempunyai kesadaran spiritual yang tinggi sehingga bisa memahami sejatinya kehidupan ini, baik yang wadak maupun gaib. Leluhur tidak akan menyentuh orang yang tidak percaya apalagi yang suka menghina dan menghujat entitas gaib. Karena orang semacam itu kadar kesadaran spiritualnya sangat rendah.

Read the rest of this entry

Mengungkap Teka-Teki Sedah Mirah

Asal Usul Eyang BRAy Adipati Sedah Mirah & Petilasan Kraton Surakarta

Amangkurat II tidak mau menempati keraton Mataram yang berada di Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta karena menurut kepercayaan Jawa, Kerajaan yang sudah pernah diduduki oleh musuh berarti telah ternoda. Sunan Amangkurat II kemudian memerintahkan Senopati Urawan untuk membangun Kraton baru di kawasan Pajang. Perintah ini dilaksanakan dan akhirnya Senopati Urawan dibantu oleh Nerang Kusuma berama rakyat berhasil mendirikan Keraton yang terletak di sebelah barat Pajang, yang kemudian dinamakan Keraton Wanakerta. Itulah asal usul situs Kraton (lama) Kartasura Hadiningrat. Keraton di Wanakerta secara resmi mulai ditempati pada tahun 1680 oleh Sunan Amangkurat II.

Read the rest of this entry

Ngelmu Titen

NGELMU TITEN

Ngelmu artinya ilmu, titen artinya cermat dalam menandai dan membaca makna di balik suatu peristiwa alam. Ngelmu Titen adalah keahlian dalam melihat hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan berbasis tradisi.
Ngelmu Titen merupakan kearifan lokal yang dapat dipelajari secara tradisional dan turun temurun dari nenek moyang bangsa kita. Tidak sedikit suku bangsa yang ada di Nusantara mempunyai kemampuan menonjol dalam hal penguasaan ngelmu titen. Sebut saja tradisi Ngelmu Titen yang dimiliki masyarakat Jawa dan Aceh terutama yang masih memegang teguh kearifan lokal. Maka tak heran jika tsunami Aceh 2004 sudah termaktub di dalam sastra kuno masyarakat Meulaboh, yang berusia lebih dari satu abad. Mungkin sebagian besar orang telah melupakan peringatan leluhurnya dari zaman dulu. Hingga tsunami benar-benar terjadi. Orang kemudian baru mengingat lagi pesan wingit itu.

Read the rest of this entry