Malam Satu Sura 2018

Sura Pinunjul

Pada Rabu Kliwon 12 September 2018 akan memasuki fase Sura Pinunjul. Punjul artinya lebih, pinunjul artinya banyak kelebihannya. Tapi jatuhnya pada hari Rabu (7) Kliwon (8) dengan jumlah Neptu 15 yang berarti tibo pati. Sejauh yang bisa saya lihat, tahun 2018-2019 akan diwarnai pertaruhan dan pertarungan antara hidup dan mati, pada aras kehidupan pribadi orang per orang maupun dunia politik. Ada dua pilihan, mau memilih mukti atau memilih mati. Mukti memiliki makna sebagai suatu kehormatan, kemuliaan, kesuksesan, keselamatan dan kesejahteraan. Mati sebagai bentuk kiasan dari nasib buruk, kegagalan, celaka, kesengsaraan, bahkan benar-benar kematian secara fisik.

Namun bagi siapapun yang selalu eling dan waspada, serta teguh (temen) atau konsisten pada paugeran bakal tinemu mukti lan wibawa. Lantas yang dimaksud dengan temen, atau konsisten pada paugeran yang mana? Sejauh yang saya bisa ketahui dalam hal ini adalah kearifan lokal masing-masing suku bangsa. Seperti kata para pepatah atau ajaran (pitutur luhur) yang sering disampaikan oleh para sepuh, pinisepuh, sesepuh, orang tua dan leluhur.
Kenapa saya katakan memilih? Jawabannya jelas, bahwa mukti atau mati merupakan pilihan hidup. Artinya semua tergantung apa yang Anda lakukan sebelumnya. Anda ingin mukti atau mati tergantung pola pikir Anda sendiri, dan tergantung bagaimana Anda memahami sejatinya hidup ini, karena keduanya akan menentukan apa yang kemudian Anda lakukan. Jika pola pikir Anda keliru, atau jika pemahaman Anda salah kaprah konsekuensinya adalah tindakan yang dilakukan tentu akan salah kaprah juga. Di situ lah proses “kematian” atau sebaliknya, kamukten akan dimulai.
Sura Pinunjul masih berada pada fase besar “zaman pembersihan” Nusantara dari kebobrokan dan kotoran. Maka yang terjadi masih hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana “apa yang tampak tidak seperti yang sesungguhnya terjadi” dan semua yang bobrok dan kotor dipaksa oleh keadaan agar keluar dari tempat persembunyiannya. Selanjutnya orang-orang pembuat kebobrokan dan kotoran di Nusantara yang telah muncul di “permukaan tanah” akan digilas dan dihancurkan oleh mekanisme seleksi alam. Anda harus jeli, teliti, dan hati-hati ketika hendak menilai seseorang, dan pada saat membaca situasi. Karena orang yang meraih mukti tidak harus terlihat sebagai pemenang dari suatu pertandingan. Penguasa panggung politik bisa jadi adalah bromocorah perusak bangsa dan negara. Apa yang tampak mengagumkan di depan mata tidak seperti fakta yang sesungguhnya terjadi. Maka jangan gumunan atau mudah heran dan jangan kagetan atau mudah terkejut. Keep calm and alert dalam menghadapi segala situasi yang berubah-ubah. Pihak yang keluar sebagai pemenang belum tentu mereka yang meraih mukti, karena di belakangnya bisa jadi barisan angkara murka. Orang yang bersuara lantang, bisa jadi mereka adalah pembuat keonaran bagi NKRI. Dan ada gejala yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak orang membungkus nafsu angkara murka dibalik simbol-simbol kesucian dan agama. Bedanya, kali ini dilakukan dengan cara lebih kasar dan brutal. Karena di satu sisi nafsu angkaranya semakin membara sementara mereka merasa menyadari kuantitas pengikutnya semakin sedikit. Rasa frustasi dan kecemasan tidak berasalan membuatnya menjadi brutal dan kasar. Hal itu dapat analogikan seperti fenomena lonjakan sisa-sisa energi sebelum ajal merenggut jiwa. Sekali lagi, eling dan waspada, teliti, hati-hati, cermat dan jeli melihat dan membaca situasi agar Anda selamat dan dapat meraih mukti. Ibarat emas terlihat seperti selaka (besi), besi berkarat tampak seperti emas. Untuk itu pada 2018-2019 masih akan banyak orang menjadi korban tipu muslihat. Banyak konflik akibat salah paham, kekecewaan akibat salah tafsir dan prediksi. Kegagalan akibat keliru membaca data dan fakta. Maka berhati-hati lah. Tapi jangan pesimis, sekali lagi sing sopo temen bakal tinemu. Seleksi alam begitu ketat, para pecundang dan politisi kotor pun makin sulit menyembunyikan diri. Akan semakin banyak para pemain politik yang ditelanjangi di depan khalayak. Semakin banyak orang-orang berbalut simbol kesucian yang terbongkar kedok dan kebobrokannya. Para oportunis yang berlagak humanis, orang-orang bengis berlagak agamis, separatis berkedok nasionalis, politik praktis bergaya Pancasilais, jangan harap kalian bisa menyembunyikan diri lagi. Karena radar kekuatan alam yang sangat dahsyat akan menandainya, kemudian menelanjangi kedoknya, selanjutnya menenggelamkannya dalam kuburan sampah. Jangan pernah membayangkan Nusantara seperti anak kecil telanjang bulat yang mudah kalian perlakukan semaunya. Percaya atau tidak, suatu waktu Anda akan membuktikan bahwa Nusantara ini berselimutkan hawa mistis dan kekuatan besar tak kasat mata yang selalu mengawasi dan menjaganya dari gangguan-gangguan yang sudah dinilai kelewat batas. Berperan seperti tembok raksasa yang tak bisa ditembus oleh semua kekuatan yang ingin menghancurkan Nusantara. Wus ginaris Hyang Jagadnata, semua ekstrimis akan sirna dari Nusantara, ekstrimis kiri maupun kanan akan runtuh dengan sendirinya. Banyak pertanda alam yang mudah dibaca bagi yang tidak terlena dan lupa. Mari kita meraih kamukten bersama-sama. Bukan hanya untuk diri kita saja, tetapi generasi penerus bangsa yang tidak lain adalah darah daging kita.

Apa yang perlu dilakukan?

Pada malam pergantian 1 Sura banyak warga masyarakat yang memanfaatkan untuk bertirakat, atau laku prihatin sebagai sarana untuk mawas diri, atau mengevaluasi diri, agar menjadi pribadi yang lebih baik di waktu yang akan datang. Selain itu memungkinkan untuk menyerap energi kabegjan atau keberuntungan yang di saat seperti itu biasanya akan berlimpah. Dalam spiritual Jawa disebut Wahyuning Dyatmika, Wahyu Agung Sang Hyang Jagadnata.
Malam 1 Sura jatuh pada hari Rabu Kliwon, tanggal 12 September tahun 2018. Keraton Yogyakarta mengadakan acara seperti biasanya yakni Lampahan Topo Bisu mubeng benteng yang akan dilaksanakan pada hari Selasa 11 September 2018. Acara dimulai pada pukul 22.00 WIB atau malam Rabu Kliwon. Lampahan Tapa Bisu biasanya akan diawali dengan upacara di dalem keben Keraton dan diikuti oleh ribuan masyarakat dari berbagai wilayah. Selanjutnya Lampahan Topo Bisu akan diberangkatkan dari Keraton menjelang pukul 00.00 WIB. Ribuan orang berjalan kaki mengitari benteng Keraton Jogjakarta, dengan jarak tempuh sekitar 6 km. Lampahan Tapa Bisu lebih sempurna jika dilakukan tanpa bersuara dan tanpa menggunakan alas kaki (bagi yang kuat). Ribuan orang berjalan dalam keheningan, dalam batin mereka semuanya memanjatkan doa untuk keselamatan diri masing-masing, keselamatan keluarga, orang-orang terdekat, serta untuk keselamatan negara dan bangsa.
Bagi Anda yang rumahnya jauh dari Keraton bisa melakukan mandi wuwungan atau mandi beratapkan langit. Atau mandi di alam terbuka. Bisa juga melakukan tapa kungkum yakni rendaman dilakukan di lokasi yang tepat atau tempat yang berenergi bagus misalnya sendang, muara sungai, pertemuan dia aliran air, air terjun, telaga atau mata air. Tidak hanya ritual mandi, Anda juga bisa melakukan tirakat di tempat-tempat yang Anda anggap sakral atau berenergi besar. Tujuannya sama yakni untuk mengevaluasi diri sambil menyerap energi positif yang ada di lokasi itu.
Dari semua bentuk laku tirakat itu ada satu pakem yang sudah umum dilakukan yakni lek-lekan atau cegah nendra, maksudnya tirakat sambil menahan diri agar tidak tidur atau tetap terjaga sampai melewati jam 00.00 tengah malam. Dari semua bentuk tirakat itu tujuan utamanya adalah sebagai sarana mawas diri atau evaluasi diri. Caranya mudah, Anda berusaha sejujurnya mengenali apa saja yang menjadi kekurangan dan kelemahan diri sendiri. Jika perlu mintalah teman-teman Anda untuk menilai secara obyektif. Kenalilah apa saja sifat buruk diri kita sendiri. Ingatlah baik-baik kalau perlu dicatat apa saja kesalahan dan kejahatan yang pernah kita lakukan. Setelah itu berusahalah membuang semua elemen negatif dalam diri kita. Kita ganti dengan karakter atau sifat positif. Lebih penting lagi harus diaplikasikan dengan tindakan nyata atau darma yang baik. Standar baik itu bukan menurut prasangka diri sendiri. Lebih mudahnya memahami kebaikan itu adalah segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan seluruh makhluk hidup dan bermanfaat untuk kelestarian lingkungan alam. Termasuk tidak merugikan dan mencelakai orang lain atau golongan dan kelompok lainnya. Jangan merasa diri paling benar, jangan mencari menangnya sendiri, dan jangan melakukan sesuatu hanya karena demi kepentingannya sendiri.

Semoga berguna, Rahayu Sagung Titah Dumadi

Kirab Lampahan Tapa Bisu tahun lalu

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on September 9, 2018, in Sura Pinunjul 2018 and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 16 Komentar.

  1. Nderek nyimak Den Mas.
    Rahayu rahayu rahayu

  2. Siap Mas….sayang tidak bisa balik Jogja…nanti cari tempat lain saja…

  3. Nderek nyimak Ki..🙏

  4. Nderek nyimak Ki..🙏

  5. Nderek nyimak Ki..🙏

  6. matur suwun Ki Sabda…
    Rahayu…

  7. percaya kang sabda
    rahayu jaya wijayanti Nusantara…
    Avatarnya umur sekitar 26….
    bicaranya ceplas ceplos mantap,tampan,full energi,
    apa benar pakunya yang digunung tidar sudah dicabut

  8. yulianus edy sutanto

    Kepareng Matur:

    Hamungkasi purnaning warsa 1439H
    Hangruwat jiwo rogo, winoyo ing lekasing batos suci kinanthi lumintiring nugroho jatining sedyo, hanetepi dhawuhing Gusti mugi-mugi sadoyo kalepatan tansah pinaringan ampunan, rahayu widada kalis ing sambekolo.
    Simpuhing panyuwun, sumeleh ikhlasing manah, hamemayu purwaning warsa 1439H, nyuwun agenging sih samodra pangaksami lahir trusing batos sadoyo lepat kawulo, mugi sageto lebur dening pangastuti ing warsa “1440H”

    “SUGENG WARSA ENGGAL”1440H”.

    Nuwun .

  9. yulianus edy sutanto

    🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
    Saking telenging kalbu , sedaya icaling tata ugi lepating pitutur kawula nyuwun agenging sih samodraning pangaksami, mugi kita sedaya ing warsa enggal meniko tansah pinanggih:

    💐🌷🌹🌺🌸🌼🌸🌺🌹🌷💐

    *”Wilujeng Rahayu Kang Tinemu, Bandha & Begja Kang Teka Saking Kersaning Gusti Sang Hyang Jagadnata, Kalis Ing Rubeda, Nir Ing Sambikala. Surodiro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti. Jaya Jaya Wijayanti”* Amin3x🙏🙏🙏

    💐🌷🌹🌺🌸🌼🌸🌺🌹🌷💐

  10. Rahayu.. 3X.
    ijin copas kang mas.

  11. izin ki sabda langit..
    Rahayu rahayu..

  12. Sambutlah dibulan suro
    Kumara sepertinya akan menebua dosa
    Tunjungputih semune pundak kesungsang…

  13. Bapak .. Saya pengen bertemu bapak lamgsung bisa kah? Banyak hal supranatural dan spritual yg terjadi dgn saya
    Yang akan saya ceritakan dan mohon petunjuk ,terimakasih bapak

  14. Asalamualaikum.. izin share ki🙏

  15. Tahun 2018 tanggal 1 suro BeMisGi, tahun BÈ jatuh pada hari Kamis Legi, meniko etangane kepripun mas sabda. Nuwun rahayu sagunging titah gusti…

Tinggalkan Balasan ke sutrisno Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: