Setelah Ratusan Tahun Menjadi Misteri, Kini Saatnya Mulai Terungkap

Terungkapnya asal usul nama Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah selama ratusan tahun menjadi teka-teki yang tak terjawab secara pasti.

___________________________________

Membahas tentang asal-usul nama kota Yogyakarta, terdapat beberapa hipotesa dari para ahli sastra Jawa tentang asal-usul nama Yogyakarta. Artikel Prof. Dr. Peter Carey yang dimuat dalam jurnal ilmiah berbahasa Perancis yang berisi kajian tentang Jawa dan Indonesia, Archipel.

Kemudian artikel Dr. Jacobus (Koos) Noorduyn pada jurnal yang sama, serta tanggapan atas kedua artikel di atas dari Prof. Dr. M.C Rickfles yang pernah diterbitkan oleh Komunitas Bambu tahun 2015.

Meskipun demikian, hingga menginjak usia 262 tahun belum juga ditemukan bukti sejarah eksplisit yang dapat menjelaskan asal-usul dan arti nama Yogyakarta dalam peninggalan tertulis di era yang sejaman dengan pendirian kota Yogyakarta yaitu pertengahan abad ke-18.

Saya pribadi sependapat dengan Sejarawan Darmosugito, dalam buku “Sedjarah Kota Jogjakarta” yang diterbitkan tahun 1956. Ia berpendapat bahwa asal-usul nama kota ini masih diselimuti misteri.

Meskipun etimologi kata Yogya masih simpang siur dan belum bisa dipastikan kronologis sejarahnya, setidaknya dalam bahasa Jawa baru dan bahasa Indonesia kata ‘Yogya’ sudah mendapatkan terjemahannya yaitu yang “sesuai, layak, pantas, pas’.
Barangkali tidak lah berlebihan jika sementara ini kita sepakat mengartikan Yogyakarta sebagai ‘kota yang penuh kedamaian, kenyamanan, dan sejahtera bagi warga masyarakat yang tinggal di kota ini.

Sosok Mesterius Kyai Yoja
Sejarah yang masih penuh dengan misteri. Justru hal itu lah yang membuat kami penasaran. Kami berusaha mendapatkan semua referensi tentang asal-usul nama kota Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat. Semua referensi yang ada ternyata masih simpang siur dan penuh penafsiran.

Hingga suatu ketika, tepatnya pada tahun 2009 lalu, datanglah sosok leluhur, jika melihat tanda-tanda dan cirinya, saya yakin beliau adalah leluhur yang sudah wafat ratusan tahun silam. Karena hanya tampak kilat cahaya atau cahyo sejati dan suaranya saja, sedangkan badan halusnya sudah tidak tampak lagi. Mata wadag dan batin kami tidak mampu lagi mengenali siapakah beliau.

Mungkin beliau mengerti apa yang kami pikirkan. Kemudian beliau memperkenalkan dirinya sebagai leluhur bernama Kyai Yoja, orang yang mempunyai tanah yang luas berupa rawa lumpur atau dikiaskan “segoro umbel”. Tanah berwujud hamparan lumpur itu, kemudian diberikan secara cuma-cuma untuk didirikan Keraton Mataram. Semua itu terjadi setelah era Mataram awal di bawah pimpinan Kanjeng Panembahan Senopati. Di mana kerajaan Mataram masih berada di alas Mentaok yang saat ini menjadi wilayah kecamatan Kotagede, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Peran Ki Penjawi
Selanjutnya, atas jasa saudara sepupu Ki Ageng Giring yang bernama Ki Penjawi, beliau berkenan melemparkan keris pusaka ke dalam tanah yang masih berupa hamparan lumpur itu. Anehnya, setelah pusaka milik Ki Penjawi dilemparkan, tanah lumpur itu kemudian menjadi kering dan padat. Selanjutnya kerajaan Mataram didirikan di atas tanah bekas rawa lumpur itu, yang kemudian dikenal sebagai Keraton Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat.

Setelah Kyai Yoja menjelaskan sekelumit tentang sejarah Jogjakarta yang mungkin belum pernah terungkap dan tercatat di era modern ini, kemudian beliau memberi tahu kami di manakah gerangan makam beliau berada. Kyai Yoja menyebut sebuah makam di daerah Kintelan, Kota Yogyakarta.

Kemudian kami berusaha mencari makam sesuai petunjuk yang telah diberikan oleh sosok leluhur yang menyebut dirinya sebagai Kyai Yoja, dan sungguh… akhirnya pasarean beliau berhasil kami temukan.
Di samping batu nisan yang sudah tampak sangat tua itu, terdapat keterangan dengan tulisan yang menggunakan huruf ejaan lama, Kyai Jodjo (Yoja), soho garwo-putro.

Tidak berlebihan kiranya jika kami berharap informasi ini ada gunanya. Setidaknya untuk menambah referensi yang ada atau dapat menjadi barometer bagi semua orang yang masih tertarik untuk menyingkap tabir misteri asal-usul nama kota Yogyakarta. Agar supaya generasi penerus tidak buta sejarah, kemudian kehilangan mata rantai sangkan paraning dumadi yang dapat mengakibatkan krisis identitas kebangsaan. Bermula dari krisis identitas kebangsaan itulah, suatu bangsa berada di depan gerbang kehancuran. Maka, jika anda merasa malu mempunyai leluhur Jawa, malu sebagai keturunan karuhun Sunda, atau tidak percaya diri menjadi orang Bali, Baduy, Dayak, Ambon, Papua. Malu menyandang identitas sebagai warga negara Indonesia. Sadarilah hal itu sebagai awal kegagalan bahkan kehancuran hidup anda pribadi.

Jika tidak satupun warga yang tinggal di Jogjakarta menyadari siapa leluhur yang sangat berjasa atas berdirinya Daerah Istimewa Yogyakarta, itu sungguh keterlaluan. Mungkin saja menjadi walat (faktor kualat) yang bisa mengakibatkan kesengsaraan hidup karena tak ubahnya anak yang durhaka kepada orang tua dan nenek moyangnya, atau generasi bangsa yang durhaka kepada leluhurnya yang telah merintis bangsa besar ini.

Kyai Yoja Membuktikan
Pada waktu itu, Kyai Yoja pernah memerintahkan kami untuk marak sowan (nyekar) ke makam beliau selama 7 kali berturut-turut setiap Kamis Wage atau malam Jumat Kliwon, atau Jumat Kliwon di siang hari. Pada saat kami datang untuk yang keduakalinya, beliau berkenan memberikan doa restu. Bahkan beliau berjanji akan memberi kami sebidang tanah di sekitar Yogyakarta. Benar saja, bahkan belum genap 7 kali kami marak sowan ke pasarean beliau, kami mendapatkan pekerjaan besar dan hasilnya pas untuk membeli sebidang tanah seluas 824 meter
². Antara hasil pekerjaan dengan harga tanah benar-benar di angka yang sama. Mungkin begitulah cara leluhur membuka mata kami, agar kami sadar bahwa leluhur pun masih bisa memberikan andil positif bagi siapapun yang setyo tuhu dan menghargainya.

Semoga tulisan ini berguna

Rahayu sagung titah dumadi, jaya-jaya wijayanti, jayalah Nusantara !

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 1, 2018, in SEJARAH LELUHUR, Setelah Ratusan Tahun Menjadi Misteri, Kini Saatnya Mulai Terungkap and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Alhamdulilah .. Selamat sore eyang sabdo langit,asa post lagi dari eyang ..
    Eyang saya mau tanya OOT dari bahasan eyang boleh ya eyang ..
    Eyang saya bnyk mengalami pristiwa spritual dan supranatural padahal saya org yg logic sekali awalnya ( saya skrg mengerti hal goib saya anggap tdk logic karena saya belom sampe pemikiran nya)
    Eyang,saya merasa jalan hidup saya banyak ngenes nya dari kecil, mungkin saya memang harus menjalani nya karena saya terpilih untuk itu .. Namun ada hal yang menggangu pemikiran saya,saya pernah sangat salah mengambil keputusan skrg saya menyesal ,sangat menyesal sekali .. Apa yg harus saya lakukan ut menebus nya eyang?
    Saya sudah mencoba ut laku prihatin
    Maksud saya supaya bisa bersih jiwa raga dan bisa komunikasi dengan leluhur,meminta maaf langsung ..
    Terimakasih eyang bimbingan nya …

  2. Salam Rahayu… Ki Sabda. Ngapunten…

    Tidak ada jalan lain selain taubat dengan Iman ( Wahyu panca ghaib & Wahyu panca laku ) – Sateriya 55

    LAKU MURNI MENUJU SUCI

    WAHYU PANCA GHA’IB

    1. Kunci.
    2. Paweling.
    3. Asmo.
    4. Mijil.
    5. Singkir.

    WAHYU PANCA LAKU:

    1. Manembahing Kawula Gusti.
    2. Manunggaling Kawula Gusti.
    3. Leburing Kawula Gusti.
    4. Sampurnaning Kawula Gusti.
    5. Sampurnaning Pati lan Urip.

    “HAKIKAT HIDUP”

    GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. KARENA DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU

    Ttd: Wong Edan Bagu ( Rm. Toso Widjaya Diningrat )
    Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

    Duh Gusti maffkan saya jika saya telah mencampuri urusanmu.

  3. Semoga sehat dan Sukses selalu Ki Sabdo..
    Salam Hormatku Dari Makassar,
    Berkah Dalem Gusti.

  4. Sugeng rahayu ..
    sekedar bertanya kang Sab da

    yang jadi wall paper tulisan kang sabda adalah perawan atau gadis suku dayak Kalimantan … terlihat dari baju yang dipakainya..

    di lihat di kiri dan kanan tulisan ini >>
    Mengapa dan ada apa dengan perawan/ gadis dayak Kalimantan ????
    Mohon di balas….
    sugeng Rahayu

    • Transjuwononugroho Yth
      Pertama, supaya orang berfikir lebih objektif. Bahwa kecantikan dan keindahan tidak identik dengan nilai modernitas. Kedua, mereka merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia. Ketiga, itu cerminan semangat para remaja nguri-uri kebudayaan dan tradisi.
      Rahayu sagung dumadi

      • Setuju dengan Ki Sabda
        remaja desa yang masih “orisinil” (sederhana dengan keterbatasannya) lebih cantik dan indah dipandang
        daripada gadis sekarang banyak yang make up, money, and gadget.

  5. Oh..saya kira nama Yogyakarta itu terkait dengan nama pesanggrahan yg ada di didaerah itu sebelum di bangun kraton kalau nggak salah namanya Pesanggrahan Ayodya..

  6. Salam pagi. Gimana caranya komunikasi dengan sampeyan via telpon atau yg lainnya. Matur nuwun.

  7. Sehat selalu ki sabdo langit….
    Rahayu

  8. Ki sabda,, moga tetep eksis nggihhh…
    Pandonganipun saking poro sdulur kulo nyuwun . . .
    Gemah Ripah Repeh Rapih
    Wilujeung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: