Halimun

Lokasi jatuhnya pesawat Lion JT 610 itu mengindikasikan bahwa pesawat dalam keadaan hancur berkeping-keping karena terdapat serpihan-serpihan badan pesawat di perairan Tanjung Karawang Jawa Barat.

Pagi-pagi jam 6.30 wib Dimas Danurdoro pamit katanya hendak pergi diajak bersama Ki Ageng Mangir untuk mencari pesawat yang hilang. Saya belum sadar apa yang terjadi dan yang dimaksudkan pesawat hilang. Setelah menghidupkan televisi ternyata ada berita pesawat Lion Air JT 610 kehilangan kontak dengan ATC. Berita masih simpang siur, bahkan ada kabar katanya pesawat sudah balik ke bandara Halim Perdanakusuma atau Soetta di Cengkareng.

Jam 08.00 wib Dimas sudah kembali, namun ia melihat justru pesawat menabrak “tembok halimun” di atas Pantura dan tepian Laut Jawa. “Tembok halimun” yang sifatnya metafisik. Begitu pesawat menabrak “halimun” itu, pesawat terpental naik, kemudian menukik ke laut Jawa.

Malam hari saya dapatkan gambar ini dari situs Flightradar24. Coba anda perhatikan jejak pesawat pada detik-detik terakhir, di mana altitude menurun drastis tapi sebaliknya speed meningkat tajam.

Itu menggambarkan pesawat menukik tajam dengan laju kecepatan tinggi, setelah menabrak sesuatu yang mungkin tak tampak oleh mata pilot, dan tidak terdeteksi oleh radar pesawat maupun radar cuaca. Menurut Dimas Danurdoro kemudi pesawat saat itu justru dalam status auto-pilot. Tapi mungkin karena Pilot dan Co Pilot belum senyawa dengan sistem komputer yang ada di pesawat Boeing 737 Max 8, yang masih baru itu. Sehingga pada saat terjadi peristiwa genting secara mendadak mengakibatkan pilot mengalami kepanikan. Sementara itu gerakan reflek pilot belum bekerja optimal. Seandainya sistem kemudi sempat dipindah ke manual, tidak menutup kemungkinan pilot bisa mengembalikan pesawat pada posisi stabil dan aman. Dimas menekankan perlunya meditasi agar batin dan lahir selalu fokus dan tenang. Bagi penumpang juga sangat berguna agar mampu menangkap sinyal yang diberikan oleh sukma sejatinya (guru sejati) kita manakala ia mencegah kita agar tidak menaiki pesawat yang sedang terkena sial. Dimas Danurdoro juga heran, kenapa pejabat dan pegawai negeri baru pulang dari Jakarta hari Senin pagi? Kenapa tidak Minggu sore ? Namun menurut Dimas lokasi jatuhnya pesawat itu tempat berkumpul banyak ikan-ikan yang besar dan ganas, mungkin Basarnas akan kesulitan menemukan semuanya.

Force Majouer Halimun

Halimun yang saya maksudkan adalah tabir gaib yang merupakan sekat pembatas antara dimensi fisik dan gaib. Halimun biasanya tidak terdeteksi oleh radar pesawat maupun radar cuaca di bandara. Dan lokasi yang dimungkinkan pesawat Lion JT 610 itu jatuh ke laut, sejauh yang saya ketahui memang salah satu daerah yang wingit atau saya sebut sebagai SEGI TIGA SELAT KARIMATA yang berada di Laut Jawa. Jika ditarik garis lurus ke Utara akan sampai ke wilayah perairan timur pulau Belitung di mana terdapat lokasi jatuhnya pesawat Air Asia beberapa waktu lalu. Dan di sana merupakan jalur padat lalu lintas udara. Tembok halimun ada di mana-mana, bahkan setiap saya naik pesawat saya selalu melihat tembok halimun yang bisa disaksikan melalui jendela pesawat. Kadang ada yang tampak seperti gapura atau gerbang raksasa. Ada yang mirip pintu goa, bahkan ada yang tampak seperti tumpukan batu bata. Tetapi tidak semua pesawat yang menabrak akan celaka, sebab banyak faktor yang menentukan. Halimun juga ada di gunung-gunung , terlebih lagi gunung yang wingit. Seperti di gunung Lawu di Jateng-Jatim, gunung Semeru, Jawa Timur, gunung Salak, atau gunung Halimun di Jawa Barat. Gunung Agung di Bali dan Rinjani di Lombok. Bahkan hampir setiap gunung api di Indonesia.

Jangan Takut Naik Pesawat, Ini Kiatnya !

Jika saya naik pesawat, apalagi tahu akan melintas wilayah-wilayah wingit, setidaknya 3 kali saya ucapkan kalimat positif penyelarasan. Yakni pada saat hendak take off, saat sudah berada di ketinggian, dan saat menjelang landing. Kalimat penyelarasan itu isinya hanyalah kalimat menyapa pertanda persahabatan dan rasa saling menghormati antar semua makhluk. Misalnya, marang kabeh sedulur ku agal lan alus (kepada seluruh saudara/sahabatku yang di dimensi fisik dan gaib) permisi saya akan lewat, semoga kita semua selamat dan sejahtera. Sederhana dan egaliter kan!! Bukan sikap menyembah-nyembah (baca ; mengemis) cukup menghormati dan lakukan dengan penuh kesantunan. Tanggalkan perasaan arogan dan mentang-mentang menyangka diri sebagai manusia paling sempurna. Ingat, kalimat itu tujuannya untuk menyapa sesama entitas penghuni bumi yang tampak mata maupun tidak. Jangan merasa pongah ingin menundukkan mereka. Itu khayalan konyol saja dan akan menjadi senjata makan tuan. Sebaliknya tebarkan energi positif berupa welas asih dan rasa menghargai antar sesama makhluk Tuhan. Saya percaya, cara itu sangat efektif karena beberapa pengalaman terjadi berulang kali menjadi bukti nyata.

Jika melihat fakta di lapangan, tampaknya pesawat hancur berkeping, mungkin pesawat pecah saat menghantam permukaan air laut. Namun demikian saya melihat pesawat dan korban tampak masih dalam sekapan kekuatan “halimun” itu, sehingga kemungkinan Basarnas akan kesulitan menemukan dan mengevakuasi korban maupun bangkai pesawat.

Sedikit Upaya

Rasanya tidak tega jika hanya diam saja, sementara kita mengetahui ada sesuatu yang bisa dilakukan dan mungkin berguna untuk membantu keluarga korban yang sedang tertimpa musibah. Maka kami melakukan suatu usaha sederhana dan yang bisa kami lakukan, karena untuk mendatangi lokasi jatuhnya pesawat rasanya tidak memungkinkan untuk saat ini. Selanjutnya kami mencoba meminta bantuan kepada KRK. Sebagai bentuk etika, terlebih dahulu kami bawakan “oleh-oleh” sederhana, kemudian meminta beliau siapa tahu berkenan. Yang intinya menegosiasi ke entitas gaib yang menjaga Laut Jawa agar melepaskan. Selasa Pon pagi kami lakukan. Dan segera mendapatkan jawaban beliau. Hari Kamis Kliwon 1 Nopember 2018 pesawat & banyak korban sudah bisa dievakuasi. Harapan kami mudahan para korban juga bisa segera dievakuasi walau mungkin tidak bisa 100%.

Saya lihat apa yang saya lakukan ini oleh sebagian orang sedang dipelintir seolah menjadi penyebab tsunami. Jelas itu pola pikir yang keliru fatal atau memang sengaja dipelintir untuk menghancurkan akar budaya dan spiritual Nusantara. Sebaliknya saya menyadari apa yang kami lakukan adalah bentuk kasih sayang dan rasa menghormati kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Dan sudah menjadi hukum alam yang nyata dan faktual, bahwa cepat atau lambat akan menimbulkan respon positif berupa rengkuhan kasih sayang dari Tuhan melalui anugerah yang ada di seluruh tata ruang jagad raya ini.
Jika anda ingin membantu segeralah lakukan, jangan menunda-nunda. Jangan menunggu hingga ada pihak yang terkena musibah meminta bantuan kepada Anda. Ini menyangkut level kesadaran kosmos anda. Kebaikan yang Anda lakukan akan kembali pada diri sendiri. Akan menjadi pagar gaib yang menyelimuti diri Anda. Ini yang dimaksud dengan tapa ngrame. Giat melakukan kebaikan tetapi sepi dari rasa pamrih. Kualitas dan entitas tapa ngrame yang anda lakukan, akan menentukan seberapa tijab doa dan ucapan anda. Mungkin anda pernah mendengar seseorang yang mempunyai kekuatan sabda pandita ratu, atau idu geni (ludah api) maksudnya apa yang diucapkan akan terjadi. Semua itu tidak muncul dengan tiba-tiba melainkan harus diraih melalui jalan spiritual, sampai anda memperoleh predikat yang tinggi. Dengan kata lain, semakin tinggi kualitas dan kuantitas tapa ngrame yang anda lakukan, akan menentukan pula kekuatan sabda pandita ratu atau kekuatan idu geni yang ada pada diri anda sendiri. Dan kekuatan itu akan sangat berguna untuk mengatasi persoalan besar dan berat, serta membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan tingkat tinggi.

Kearifan Lokal Yang Ditinggalkan
Ada dua kutub ektrim kecenderungan orang zaman sekarang. Di satu sisi, ada orang yang merasa cukup mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk mengatasi berbagai kemungkinan resiko. Bahkan sebagian orang hanya fokus pada resiko yang berasal dari kendala teknis. Sedangkan faktanya, kendala non teknis sering kali muncul dan bisa menjadi tragedi memilukan. Seperti kasus Adam Air yang jatuh di lautan Majene, dan beberapa kasus lainnya. Kutub yang lain, adalah sebagian orang yang mabuk doa. Disangkanya hanya dengan doa di mulut saja sudah cukup untuk mengatasi segala macam problematika kehidupan. Anggapan demikian tentu resikonya sangat besar karena bisa membuat orang terlena, malas dan lebih suka berpangku tangan menunggu mukjizat. Doa itu harus melibatkan 4 unsur bro. Hati, ucapan, pikiran dan tindakan sebagai usaha nyata. Bagi yang mabuk doa, ia akan cenderung mengabaikan masalah teknis, apalagi persoalan non teknis terutama yang berhubungan dengan kesantunan manusia terhadap alam. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini pasca tsunami Palu. Dipelintir oleh orang-orang yang memang sedari awal membenci kearifan lokal dengan cara mengkambinghitamkan acara Nomoni. Padahal yang namanya tsunami dan gempa sudah ada sejak zaman purba, zaman pra sejarah, sebelum ada manusia di muka bumi ini. Apalagi Indonesia berada di dalam wilayah cincin api, yang dihimpit oleh 3 megatrus yakni Indo-australia, Pasific, dan Eurasia. Sehingga gempa bumi, gunung meletus, maupun tsunami merupakan bencana alam yang cukup intensif terjadi. Dari pada berkhayal yang bukan-bukan lebih baik melakukan mitigasi bencana sebaik mungkin agar kita mengenali potensi bencana wilayah yang kita tempati, dan paham apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir resiko. Setiap bencana dikaitkan dengan hukuman tuhan, kesannya jadi konyol sekali. Sebagian besar orang Indonesia tentu bukan orang bodoh yang mudah menerima begitu saja segala sesuatu yang berisi manipulasi penafsiran yang hanya berdasarkan keyakinan. Hanya saja mereka merupakan silent majority. Ogah komentar di media sosial yang ujung-ujungnya debat kusir dan cenderung dilandasi rasa kebencian dan permusuhan. Beda pendapat bukan hal yang dilarang dan najis. Tapi kebencian dan permusuhan itulah yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Atau memang saat ini ada kekuatan asing yang sedang mentargetkan Indonesia bubar? Dengan cara selalu melakukan propaganda sentimen SARA. Mari kita sadari semua ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Selanjutnya kita harus selalu sadar untuk menjaga diri agar tidak membuat kegaduhan di media sosial. Kegaduhan hanya akan menggembirakan para penjajah.

Apa yang harus dilakukan ?
Jangan mudah “menyalahkan” Tuhan, dengan gampang mengatakan suatu musibah sudah dikehendaki Tuhan. Pola pikir seperti itu ada sisi negatifnya. Karena manusia menjadi terlena, lupa tidak melakukan evaluasi atas semua kesalahan dirinya. Manusia kemudian mudah melakukan cuci tangan, atau lari dari tanggung jawabnya. Coba Anda bayangkan, seandainya anda merupakan keluarga korban jatuhnya pesawat, kemudian pihak maskapai berdalih, kami minta maaf dan mohon ikhlaskan saja anggota keluarga anda yang tewas, toh semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Tentu hati nurani Anda tidak akan terima, kemudian menuntut supaya maskapai menjelaskan apa penyebab kecelakaan itu. Dan merupakan hak keluarga korban untuk mendapatkan kejelasan mengenai apa yang menjadi penyebab suatu kecelakaan bisa terjadi. Karena semua itu ada kaitannya dengan tanggung jawab kemanusiaan.

Di akhir catatan ini saya hanya ingin mengetuk hati para generasi bangsa, maupun orang-orang yang numpang hidup di Indonesia, yang numpang mencari makan di Indonesia, agar lebih santun kepada alam, bumi Pertiwi kami. Hormatilah seluruh entitas yang tinggal di Nusantara, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Lakukan sesuatu sebagai wujud rasa menghormati pada seluruh entitas yang hidup di bumi Indonesia. Jangan menginjak-injak martabat mereka. Seluruh entitas yang hidup itu juga makhluk ciptaan Tuhan. Sedangkan Tuhan memelihara setiap makhluk, bahkan kecoa dan dedemit sekalipun, Tuhan menjaga setiap helai daun dan embun yang menetes membasahi bumi. Tetapi manusia bersikap congkak, bahkan mereka tidak sadar telah jumawa melampaui otoritas Tuhan. Orang jaman sekarang tidak menyadari jika dirinya telah menciptakan malapetaka buat dirinya sendiri dan bahkan orang lain. Jika ada bencana alam, buru-buru Tuhan yang dijadikan kambing hitam. Lempar batu sembunyi tangan. Simbol-simbol kesucian telah dijadikan sebagai alat untuk menyembunyikan tangan yang berlumuran darah. Bagaimana Anda menjelaskan banjir besar yang disebabkan oleh penggundulan hutan yang dilakukan pembalak liar dan pengusaha yang tidak bertanggung jawab, sebagai kehendak Tuhan. Benarkah Tuhan mengutus pembalak hutan agar terjadi banjir besar? Konyol sekali pola pikir seperti itu.
Terlepas dari semua itu, menyusul peristiwa jatuhnya pesawat terbang biasanya akan ada perdebatan sengit antara pihak perusahaan maskapai vs pabrik pesawat dalam kasus ini adalah Boeing. Tentu masing-masing mempunyai argumentasi dan data. Masing-masing ingin menjaga nama baik perusahaannya. Jadi masyarakat hendaknya lebih bijaksana, lebih cerdas dan hati-hati jika ingin menilai siapa yang salah dan perlu berbenah.

Sebagai penutup, saya masih berharap para korban segera ditemukan dalam keadaan masih hidup dan semua baik-baik saja. Mungkin harapan itu sesuatu yang dirasa nonsense, tapi saya ingin berempati, saya berharap dan berdoa dari kacamata keluarga korban. Kurang dari itu, saya berdoa untuk seluruh penumpang dan awak pesawat, tali wangke Sampar wangke, lepaso parane jembaro kubure, aja parangtumulih, terusna lakumu, sing ninggal slamet, sing ditinggal slamet.

Rahayu Sagung Titah dumadi

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 31, 2018, in -, Halimun, HIKMAH SPIRITUAL and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: