Di Balik Fenomena Awan Caping Gunung (Lenticular)

Apa Itu Awan Caping Gunung ?

Akhir-akhir ini begitu sering dan marak, soal fenomena awan lenticular yang lebih sering disebut sebagai awan caping gunung, karena memang menyerupai caping yakni tutup kepala atau topi yang sering digunakan oleh para petani yang sedang bekerja di sawah ladang. Awan lenticular berada di pucuk gunung, seperti sedang memayungi gunung, sehingga jika dilihat dari kejauhan terkesan seolah-olah gunung sedang mengenakan tudung caping.

Penjelasan Ilmiah

BMKG berpendapat bahwa awan lenticular merupakan fenomena biasa atau lazim terjadi pada saat terjadi badai di puncak gunung. Penilaian sebagian orang senada dengan penilaian ilmiah yang disampaikan oleh BMKG. Memang demikian adanya seperti yang pernah saya saksikan secara langsung saat berada di puncak gunung Lawu dan kemudian terjadi fenomena awan lenticular belum lama ini terjadi. Namun entah faktor peyebabnya lebih dahulu mana ? Apakah badai yang menerpa badan gunung kemudian menimbulkan pusaran angin dan selanjutnya membentuk awan lenticular, atau justru sebaliknya awan lenticular terlebih dahulu muncul kemudian mengakibatkan tekanan udara yang berbeda. Perbedaan tekanan udara itu kemudian menimbulkan daya gerak udara yang menjadi bibit pusaran angin.

Rasionalkah Penjelasan Spiritual ?

Penilaian spiriual soal fenomena alam berupa awan lenticular atau caping gunung tentunya berbeda dengan apa yang disampaikan oleh BMKG. Tetapi bukan serta-merta lantas disimpulkan bahwa penilaian dari perspektif spiritual merupakan penilaian tidak masuk akal, alogis atau tidak ilmiah. Jangan buru-buru menyimpulkan, karena tidak lantas demikian logikanya ! Para pembaca yang budiman, silahkan luangkan waktu sejenak mengikuti apa yang hendak saya uraikan berikut ini.

Sekarang kita fokus pada adanya tekanan udara yang berbeda sehingga mampu menimbulkan pergeseran atau pergerakan udara yang kemudian disebut angin. Pertanyaan selanjutnya, apa saja yang merupakan faktor penyebab adanya perbedaan tekanan udara ? Saya berpendapat bahwa tekanan udara yang berbeda akan terjadi jika terdapat awan atau mendung di sebagian ruang angkasa. Sebagai contoh, jika di suatu wilayah terdapat mendung tebal, maka udara akan bergerak menuju ke wilayah yang tidak ada awan atau mendung. Dalam titik ekstrim akan menyebabkan terjadinya badai hingga putig beliung atau tornado. Selain faktor keberadaan awan atau mendung, panas bumi juga dapat menimbulkan tekanan udara yang berbeda. Sebagai contoh, udara di wilayah dingin cenderung bergeser ke wilayah-wilayah yang panas. Dalam skala luas, kita dapat mengambil contoh adalah pergerakan angin muson yang selalu mengarah pada garis khatulistiwa yang lebih panas. Dalam skala kecil, angin dingin dari benua Australia selalu menerpa sisi selatan wilayah Indonesia, khsusnya Pulau Jawa, Bali, dan wilayah Sumatera bagian selatan, sehingga di Jawa terjadi dengan apa yang familiar disebut “musim” bediding. Yakni cuaca yang sangat dingin terjadi pada musim kemarau yang berlangsung antara bulan Mei hingga September, Itu terjadi karena di wilayah Australia dan Samudera Hindia sedang berlangsung cuaca sangat dingin, sedangkan di Jawa tengah berlangsung musim kemarau yang begitu panas pada siang hari. Selain faktor keberadaan awan, panas bumi, saya menilai adanya energy of nature yang dapat menimbulkan intensitas tekanan pada udara. Pusaran angin yang ditimbulkan kemudian mampu membangun awan.

Sekarang kita fokus pada energy of nature. Sejauh yang bisa saya saksikan, energy of nature ini ada beberapa macam menurut faktor penyebab atau pemicunya. Di antaranya adalah terjadinya induksi energi tektonik yang belum terlepas menjadi gempa bumi. Namun induksi energi tektonik yang belum menjadi gempa ini sifatnya malah menganggu atau merusak proses terjadinya awan atau mendung. Sehingga beberapa hari sebelum terjadi gempa bumi, akan terasa hawa panas yang bersumber dari induksi energi tektonik maupun hawa panas karena terik matahari akibat tidak ada awan atau mendung yang menghalangi sinar matahari. Namun tulisan ini bukan untuk membahas fenomena induksi energi tektonik, karena saya sudah pernah membuat dua posting-an di sini. Saya mengajak para pembaca untuk mencermati faktor energy of nature selain dari induksi energi tektonik. Silahkan simak uraian dan penjelasan berkaitan apa yang bisa dan pernah kami saksikan sendiri.

Penilaian Batin Masyarakat Jawa

Dalam pandangan spiritual yang ada di masyarakat Jawa, fenomena awan caping gunung terutama jika terjadi di Gunung Lawu menjadi pertanda jika akan terjadi suatu goro-goro atau ontran-ontran (politik) di Indonesia. Namun demikian, sebagian masyarakat Jawa lainnya menilai fenomena awan caping gunung merupakan pertanda baik bahwa para Dewa sedang turun ke bumi, untuk memberikan perlindungan. Saya pribadi mudah sekali memahami kedua penilaian masyarakat Jawa tersebut. Menurut saya penilaian itu cukup beralasan. Namun bagi siapapun yang sudah terpatri menggunakan doktrin abrahamik tentu akan mengalami kesulitan memahami kedua macam pandangan tersebut. Sekedar untuk membantu memahaminya, jika Anda percaya adanya bidadari yang berjenis kelamin perempuan, maka dewa adalah entitas yang sama dengan bidadari namun berjenis kelamin pria.

Oke lah, mari kita kembali saja ke tema dalam posting ini, Menurut pandangan saya pribadi, dua macam penilaian masyarakat Jawa tersebut masing-masing sangat berbobot. Dan bukan lah penilaian yang berseberangan. Tetapi saling berkaitan erat. Hanya saja pendapat pertama melalui pola deduktif dan yang kedua pola induktif. Inti keduanya sama. Saya mempunyai penilaian demikian tentu saja saya hubungkan dengan pengetahuan saya pribadi terhadap apa yang bisa saya saksikan melalui mata spiritual maupun mata visual. Berikut ini akan saya uraikan.

Menyaksikan Sesuatu Di Balik Fenomena Awan Caping Gunung

Sejak pertama kali saya melihat foto beredar di media sosial tentang munculnya awan caping gunung di Gunung Semeru beberapa bulan lalu, beragam pandangan spiritual muncul di media sosial. Saya sendiri belum begitu paham ada apa di balik fenomena itu. Hingga suatu ketika saya maneges, dan mendapatkan jawaban bahwa fenomena awan caping gunung merupakan pertanda para dewa bathara sedang turun ke bumi (gunung) untuk memberikan perlindungan. Caping gunung menyerupai payung agung yang menaungi gunung. Payung dalam spiritual Jawa memiliki makna hamemayu atau memayungi, sehingga payung merupakan perlambang akan suatu perlindungan dan keselamatan.

Nah, ada apakah gerangan sehingga para dewa berkenan turun ke bumi memberikan payung agung ? Jawabannya bisa jadi seperti pendapat pertama, yakni akan terjadi goro-goro, entah goro-goro yang ditimbulkan oleh gejolak politik atau oleh gejolak alam.

Dalam hal pengetahuan spiritual, saya menghargai dan menghormati pendapat masing-masing orang. Akan tetapi saya tidak cukup nyali untuk mudah menerima, mengikuti atau menjadi makmum pendapat orang lain, sebelum saya dapat menyaksikan sendiri. Karena latar belakang dunia akademik saya lah yang membuat demikian. Bahkan gaib pun harus bisa dijelaskan secara rasional. Namun memahami apa yang terjadi dengan fenomena awan Caping Gunung, saya pribadi merasa sudah cukup tuntas. Tidak penasaran lagi, karena sudah cukup bukti dan fakta yang saya dapatkan secara langsung dan membuat saya semakin paham. Berikut ini saya akan berbagi pengalaman berhubungan dengan kedua pendapat masyarakat Jawa seperti di atas. Tak ada larangan apalagi paksaan bagi Anda jika hendak menerima apa yang saya pahami.

Bermula Dari Panggilan Nurani

Bulan September saya merasa sangat ingin naik ke Gunung Lawu melakukan ritual sebisa saya lakukan. Saya telah melakukan persiapan selama 2 pekan, setelah menetapkan tanggal keberangkatan ke summit pada pekan ke 3 bulan September, yang masih bertepatan dengan bulan Sura. Namun kemudian Ki Ageng Mangir Wanabaya mengingatkan jika bulan Sura ini adaah sura wiradat, saya dianjurkan supaya berangkat ke Gunung Lawu untuk melakukan ritual di Hargo Dalem setelah bulan Sapar dan bertepatan dengan hari neptu. Tangga 2 malam, atau malam Kamis kami berangkat ke Lawu. Personil kami terdiri enam orang. Karena tujuan kami antara lain untuk napak tilas Prabu Brawijaya V maka kami berangkat via Basecamp Cemorosewu. Pukul 23.00 kami awali dengan ritual kulo nuwun di Sanggar Pamelengan Bawarasa, pertapaan peninggalan KPH Condro Negoro di dalam kompleks pintu gerbang Cemorosewu.

Malam itu angin menderu-deru, angin kencang meniup pohon-pohon dan dedaunan wilayah hutan taman Nasional gunung Lawu menciptakan suara yang cukup nggegirisi membuat nyali banyak pendaki memilih untuk bertahan di basecamp. Mereka mengurungkan niat untuk memuncak malam itu juga. Namun kami telah berucap untuk sangguh menerima perintah Ki Ageng Mangir. Maka membatalkan apa yang telah kami sanggupi jauh lebih menakutkan dari pada kengerian melihat malam yang gemuruh mencekam. Kecuali memang Ki Ageng Mangir sendiri yang memerintahkan untuk menunda, tentu dengan hati sangat lega kami akan mematuhinya.

Setelah mendaftarkan diri dan membayar registrasi di loket, tepat pukul 00.00 wib, dengan tekad bulat kami meninggalkan basecamp Cemorosewu. Kami yakin jika perintah leluhur pasti tidak akan mencelakaan. Karena segala resiko pasti menjadi tanggungjawab leluhur yang memerintahkan. Hati makin merasa mantab untuk muncak malam itu juga menembus kegelapan malam, menyusuri jalan setapak yang terjal dan berbatu, serta berjuang melawan hempasan badai Gunung Lawu. Kami merasakan pendakian kali lebih berat dari pendakian-pendakian sebelumnya. Sepanjang jalan, kami berkali-kali harus berjuang agar tidak terhempas ke dalam jurang karena hempasan badai Gunung Lawu yang menghentak-hentak tubuh dan tas carrier kami. jalan setapak berbatu dan terjal, beberapa kali kami harus merangkak dan tiarap agar tubuh tidak limbung terbawa angin. Kadang harus berlindung di balik batu besar. Pergerakan badai tak menentu arah, kadang menghempas dari depan, dari samping atau dari arah belakang. Angin menderu-deru bagaikan mesin jet, berbaur dengan suara samar-samar auman harimau serta suara burung malam yang belum pernah kami dengar menambah suasana semakin mencekam. Malam semakin larut, menjelang dini hari, badai semakin kencang dan membuat suhu udara turun drastis hingga di bawah titik beku 1 ° celcius. Wajah terasa mulai membeku, mulut terasa alot sekali untuk bicara. Semua itu tidak akan mengendurkan tekad bulat kami untuk terus melaju menuju puncak Gunung Lawu.

Ketika pekatnya malam mulai memudar, sedikit demi sedikit alam mulai menerangi dirinya. Walau fajar urung menyingsing namun beberapa burung jalak Lawu menyambut dan bercanda bersama kami. Seolah ingin menghibur dan memberikan semangat baru kepada kami. Kami tahu bahwa mereka adalah pertanda yang dikirim oleh Kyai Jalak yang tidak lain adalah raden Wongso Menggolo, saudara Raden Dipo Menggolo (Mbah Lawu atau Sunan Lawu). Mereka berdua adalah abdi dalem Prabu Brawijaya V yang bertugas membukakan jalan (babad alas) bagi Prabu Brawijaya V yang sedang mendaki Gunung Lawu untuk menemukan tempat pamoksan. Demikian pula, kehadiran burung-burung jalak yang baik hati tidak lain ingin menyambut kedatangan para pendaki, serta memberikan petunjuk jalan bagi yang tersesat. Maka jangan coba-coba menganggu burung jalak Lawu, jika tidak ingin sesuatu yang menakutkan menimpa diri Anda.

Badai tak kunjung reda, bahkan pada pukul 07.00 wib tampak fenomena luar biasa. Pada saat kami menyusuri di Jalan Lakon Padang lan Peteng, kami menyaksikan secara langsung proses pembentukan konfigurasi awan Caping Gunung yang disertai badai besar dan suhu udara mencapai 1 derajat selsius. Indah sekali tetapi cukup menyeramkan juga. Kami menyadari Ki Ageng Mangir yang menyertai kami, melakukan sikap manembah. Padahal beliau leluhur besar dan sangat sakti. Saat itu kami menyimpulkan pastilah yang disembah oleh Ki Ageng Mangir bukanlah sesama leluhur, melainkan para dewa sedang turun ke Gunung Lawu. Apakah para Dewa tahu, kami akan melakukan ritual di Hago Dalem ? Apakah ini suatu kebetulan ataukah kedatangan kami memang sudah dinanti ? Entah lah…kami masih tetap menyadari bahwa kami ini hanyalah manusia biasa, kiranya tidak ada sesuatu yang istimewa di mata para Dewa dan Batara.

Nawa Dewa Jawata (9 Dewa) Tali Sentiko Bawana

Menyadari apa yang sedang terjadi di depan mata, lalu kami berfikir saat itu adalah momentum sangat istimewa di mana para dewata sedang tedak bumi. Hingga membuat kami ingin segera melaksanakan ritual di Hargo Dalem. Kami berfikir saat itu adalah momentum sangat istimewa di mana para dewata sedang tedak bumi. Semoga permohonan kami terkabulkan. Bukan sekedar berupa harapan pribadi, tapi harapan bagi banyak orang, dan harapan untuk Nusantara. Hari itu, Kamis 3 Oktober 2019, pagi hari, ternyata media sosial tengah dihebohkan oleh fenomena sangat langka, bukan saja awan lenticular, tetapi lenticular yang terjadi sekaligus di beberapa gunung dalam waktu yang bersamaan. Setidaknya ada 9 gunung ; Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Ciremai, Gunung Arjuno & Welirang serta beberapa gunung di Wilayah Indonesia Timur yang tidak sempat tertangkap kamera. Semoga itu menjadi pertanda bahwa Dewa Nawa Sanga sedang turun ke bumi guna memasang Tali Sentika Bawana, Saya yakin fenomena sangat langka itu merupakan pertanda positif bagi NKRI. Saat ritual, kami tidak melihat siapapun, kami hanyut dalam suasana haru dan sakral. Kami hanya merasakan ada energi sangat besar merasuk melalui ubun-ubun. Sempat membuat nafas tersengal, dada terasa sesak dan kepala terasa sempoyongan. Namun semua itu tidak berlangsung lama, kemudian semua kembali normal dan baik-baik saja.

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 7, 2019, in BAHASA ALAM (SASTRA JENDRA), Di Balik Fenomena Awan Caping Gunung (Lenticular) and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Terima kasih Ki Sabda atas berbagi cerita dan pengalamannya. Semoga NKRI tetap jaya, walau sedikit pilu kalo melihat apa yang ada diberita dan media masa sekarang ini, seperti jauh dari aman tata titi tentrem adil makmur kerta raharja.

    Rahayu sagung titah dumadi.

  2. Prayoga Dwipayana

    Terimakasih atas artikel terbarunya Ki Sabda. Cukup mengedukasi bagi generasi muda yang ingin belajar lebih jauh tentang ilmu pengetahuan spiritual nusantara, semoga bangsa kita senantiasa berada dalam naungan belas kasih sang Maha Kuasa serta penyertaan leluhur.

    Rahayu 🙏🏻

  3. syukron

    Pada tanggal Sen, 7 Okt 2019 pukul 01.20 sabdalangit’s web: Membangun Bumi

  4. Ki sabda mohon buat tulisan tata cara masuk rumah menurut kejawen di tunggu infonya, terimakasih

  5. Ki sabda mohon buat tulisan tata cara masuk rumah menurut kejawen di tunggu infonya, terimakasih

  6. pintoko nurlambang

    nyuwun ngapunten sakderengipun, menawi pangertosan kulo, Eyang/Mbah lawu ingkang sejatos meniko langkung inggil fasenipun/eranipun tinimbang kaliyan asmo ingkang sinebat ing nginggil. miturut kulo Eyang Lawu kangungan asmo Sapu Jagat, amargi menami tindak kados angin, jenggotipun panjang dumugi siti. Eyang sapu Jagat meniko ugi benten kaliyan sapu jagat ingkang sinebat dados panunggu redi merapi. nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: