Monthly Archives: November 2019

Enam Tahun Setelah Upacara Adat

Sejak 2013, sudah puluhan situs baru di wilayah bekas kekuasan Majapahit telah ditemukan…

Para pemirsa yang budiman, sejenak saya ajak menjelajah waktu enam tahun ke belakang. Di mana kami bersama berbagai eleman masyarakat, dan sedulur-sedulur dari berbagai wilayah. Ki Camat, Ki Wongalus (Kampus Wong Alus), Mas Kumitir (Alang-alang Kumitir), KKS (Kadang Kadean Sabdalangit), dan sedulur-sedulur yang tergabung dalam solidaritas Save Trowulan. Berkumpul di kompleks Candi Brahu, Trowulan, Jawa Timur untuk melaksanakan upacara adat.

Selama tahun 2013, Trowulan sempat dibuat geger karena adanya rencana pembangunan pabrik baja PT MBS di atas tanah situs Trowulan, tepatnya berada di Jati Pasar dan sekitarnya. Pada waktu itu, solidaritas Save Trowulan mendapatkan intimidasi dari berbagai pihak, karena mereka bersama warga setempat menentang pembangunan pabrik baja yang telah direstui Bupati Mojokerto pada waktu itu Kemal Pasa. Intimidasi semakin intens terhadap warga yang menentang. Hukumpun seolah telah loyo menjadi pengadil. Sementara para pemegang otoritas daerah seperti lebih memilih bersekongkol dengan pemilik modal. Berbagai cara yang konstitusional telah dilakukan, melalui mekanisme menyuarakan aspirasi kepada DPRD, surat dan penytaraan keberatan dari warga, negosiasi antara warga dengan pejabat dan investor pun mengaami jalan buntu. Rencana tetap jalan terus. Tidak hanya warga masyarakat sekitar yang gelisah, namun kami-kami generasi penerus bangsa mulai terusik dan gemas melihat ulah orang-orang yang tidak mau memahami apa arti pentingnya sebuah situs sejarah dan artefak. Kami pun penasaran, apa gerangan yang membuat Bupati dan PT MBS ngotot mendirikan pabrik baja di lokasi kompleks situs budaya. Kami sempat curiga mungkin ada sesuatu rahasia yang sengaja disembunyikan. Bukan hanya soal uang dan persekongkolan, lebih dari itu kami mulai curiga, ada sesuatu yang tertimbun di dalam tanah rencana pendirian baja.

Bagi orang Jawa, melihat jika hukum sudah tak berdaya menjadi sistem pengadil, jika ruh-ruh kebenaran sudah meninggalkan raga keadilan dan kemanusiaan, maka upacara adat NAS TALI PATI, menajdi jalan terakhir yang layak dilakukan. Nas tali Pati, sing sopo gawe bakal nganggo. Hukum alam akan berlangsung secara spontan dan kontan. Tak perlu menunggu lama, tak butuh, sepekan, sebulan bahkan setahun. Pagi harinya setelah usasi upacara adat, kita bisa menyaksikan mekanisme hukum alam bekerja dengan sangat cepat dan tentu saja efektif. Kami percaya hukum alam tak pernah menyisakan secuilpun ketidakadilan. Maka, siapa yang melanggar garis “NAS” mereka akan menerima akibatnya, sesuai berat ringan pelanggaran yang dilakukan.

Read the rest of this entry