Asap Hitam Itu Akan Segera Bergeser Ke Barat

28 MEI 2020 Eyang Panembahan Bodo, belum mengizinkan ke luar kota Yogyakarta… Siapa Eyang PAnembahan Bodo ? Pasarean beliau ada di Makam Sewu, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta. Eyang Panembahan Bodo merupakan leluhur agung di zaman Majapahit akhir. Beliau dipanggil Bodo karena beliau tidak memilih memnjadi Raja di dalam Kerajaan, walaupun beliau memiliki hak untuk duduk di tahta kerajaan. Namun beliau lebih memilih untuk topo ngrame, berkelanan di antara warga masyarakat, berbuat apa saja yang berguna untuk menolong banyak orang di level grass root. Eyang Panembahan Bodo memiliki kesaktian yang sangat mumpuni, salah satu keahlian beliau adalah bidang pengobatan. Maka sangat cocok bagi orang-orang yang memohon obat untuk pergi mengunjungi atau marak sowan ke Pasarean beliau. Cukup bawa air bening, letakkan di atas pusara beliau dan mintalah sawab, untuk kemudian diminumkan kepada orang yang sakit. Namun jangan lupa nyekar ke sana dengan memperhatikan etika seperti saat kita marak sowan kepada eyang-eyang para sepuh yang masih hidup dengan raga. Sangat lah pantas jika kita membawa oleh-oleh, buah tangan a la kadarnya. Buah tangan untuk leluhur tentu lebih sederhana, cukup membawa bunga setaman, dan ganten atau kinang, jika tidak sulit dibeli. Selebihnya, jika Anda sedang punya uang cukup, bawalah serta pisang raja setangkap atau 2 sisir, tentu saja pilih yang bagus, supaya pantas. Anda menghargai diri sendiri, serta menghargai leluhur. Eyang Panembahan Bodo memiliki kesaktian lainya yang menakjubkan. Tangan kiri beliau selalu menyilang di dada, telapak tangan kiri menempel di pundak kanan. Jika tangan kiri di buka, seketika terjadilah badai dan hujan sangat besar, dengan disertai badai halilintar yang mengerikan.

Ada yang perlu saya sampaikan kepada sedulur semua, bahwa apa yang disebut-sebut sebagai keadaan new normal yang saat ini sedang ramai dibahas oleh berbagai kalangan. New normal adalah keadaan baru, yang memberikan kelonggaran pada warga masyarakat untuk beraktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah secara hati-hati dan terbatas. Tentu saja dengan suatu adaptasi terhadap kondisi baru. Pola pikir dan tindakan, serta cara bekerja harus diubah dengan cara baru, dengan pertimbangan agar jangan sampai terjangkit virus corona. Tak dipungkiri, setelah 3 bulan aktivitas perekonomian relatif beku, banyak orang mulai cemas, tekanan dan kesulitan hidup semakin terasa. Itu sangat wajar. Maka Pemerintah merancang sebuah solusi, dalam bentuk pemberlakukan keadaan baru yang disebut new normal. Tapi itu masih wacana, dan masih dilakukan penggodokan. Artinya, belum ditetapkan secara resmi, mengingat wabah masih berkembang secara brutal di beberapa wilayah. Saat new normal diberlakukan, maka setiap individu dituntut menjadi orang yang cepat adaptasi, cerdas dan kreatif. Jika gagal, bisa saja tergulung oleh dinamika zaman.

Situasi dan kondisi Yogyakarta dan Bali sebagai pusat tujuan wisata nasional dan dunia menjadikannya sangat rentan sebagai pusat penyebaran virus. Tetapi perkembangan wabah di dua Propinsi ini memang sangat berbeda. Wabah tampak sangat terkendali, bahkan seolah virus menjadi lembek ketika memasuki dua wilayah ini. Semua itu tak luput dari kesadaran spiritual masyarakat di dua wilayah Propinsi itu. Semakin tinggi kesadaran spiritual, semakin tinggi pula kemampuan untuk mengendalikan wabah. Jawa Barat beruntung memiliki pemimpin yang disiplin. Jatim, warga masyarakat relatif memiliki kesadaran spiritual yang cukup bagus, namun Pemerintah Propinsi kiranya perlu mengevaluasi efektivitas kebijakannya soal penanganan wabah di lapangan. Apakah sudah berjalan secara efektif ? Lalu, Jakarta, Banten…? Saya kira hanya menunggu waktu… Gelombang ke dua bisa terjadi jauh lebih parah. Begitupun Jawa Barat, sedikit lengah bisa ambiiyyarrr. Jateng harus tetap konsisten dan mencari solusi terbaik agar warga masyarakat tetap bisa mencari makan. Saya melihat “asap hitam” itu, akan segera bergeser dari wilayah timur menuju barat. Itu saja. Monggo silahkan di artikan sendiri.

Saat ini JATIM sedang terpukul telak, namun pukulan itu selanjutnya akan bikin kapok. Artinya, JATIM akan belajar, dan menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Kewaspadaan JATIM akan meningkat tajam beberapa hari ke depan. Pada saat JATIM pasang kuda-kuda, dalam posisi siaga penuh, maka pagebluk bisa saja dalam sekejap mabur ke JKT dan Propinsi sekitarnya. Ini sesuatu yang sangat menakutkan. Anda coba bayangkan, ketika harus melanjutkan pertempuran di saat amunisi telah menipis, dan saat Anda mengalami kelelahan. Anda bisa berimajinasi seperti apa akibatnya. Lantas siapa yang pantas disalahkan ? Jika kita berfikir obyektif, bukan omongan bermuatan politis, maka akan sulit untuk mencari kambing hitam. Karena virus ini memang seperti siluman. Apa yang kita hadapi adalah makhluk yang jauh lebih pandai dan cerdas dari yang Anda bayangkan. Kekuatanya jauh dari apa yang Anda perkirakan. Tapi…setidaknya Bali dan Yogya dapat menjadi pembanding (jika belum pantas disebut sebagai contoh), keadaan PSIKO-SPIRITUAL SOSIO-SPIRITUAL warga masyarakat dan pemimpinnya. Kiranya saya tidak berlebihan jika mengatakan, bahwa kearifan lokal memang lebih arif (cermat dan pandai) dalam mengelola perilaku dalam menghadapi pandemi ini. Karena kearifan lokal selalu sinergis dan harmonis dengan irama alam yang ada di sekelilingnya. Di manapun Anda berada, jangan berkecil hati, karena setiap wilayah atau daerah, adalah gudangnya kearifak lokal. Gudang itu selama ini mungkin sudah dianggap menjadi bangunan rongsok berupa gudang kuno sarang hantu. Tapi cobalah membuka…bukalah gemboknya, jika perlu dobrak pintunya…maka Anda akan menemukan segudang alat, segudang ilmu urip, bagaimana menghadapi pagebluk saat ini, bagaimana melumpuhkan wabah yang menjangkit saat ini.

Kesimpulannya, saya pun akhirnya mengurungkan rencana sekedar untuk ke perbatasan kota….! Karena perintah Eyang Panembahan Bodo pasti dengan alasan sangat kuat. Kula namung saget, tansah nyenyuwun, sagung para sedulur yang kebetulan membaca tulisan ini, selalu berada dalam naungan energi keselamatan. Mugya tansah manggih begja mulya. Nir sambekala, kalis ing rubeda. Rahayu sagung titah dumadi. Jaya-jaya wijayanti, sluman slumun…SLAMET !!

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Mei 28, 2020, in Asap Hitam Itu Akan Segera Bergeser Ke Barat. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Nyuwun sawab doa pangestu ne Ki, Kulo sekeluarga mentaati pemerintah mboten saged mudik tasih teng Jakarta🙏🙏🙏

  2. Ngaturaken agunging panuwun ki… Lan kagem sedoyo titah luhur bumi nuswantoro kang tasih paring pitedah lan pitulungan dateng kito sedoyo… Matur sembah nuwun…

  3. Matur sembah nuwun Ki wejangan kaliyan pandonganipun 🙏. Mugi Ki Sabdalangit ugi tansah pinaringan begja mulya 🙏. Matur sembah nuwun. Rahayu…

  4. sedanten puji kaunjuk dateng Gusti.. selami niki kulo namung mireng mireng sinten kang asma Eyang Panembahan Bodo.. meniko ingkang dipun ngendikaaken ki Sabdo Langit ..matur sembah nuwun Ki.. mugi saget marak sowan.. beliau

  5. Benar…sy pun merasakan sesuatu disini ( Bandar Lampung ) kl sy bilang akan terjadi sesuatu ” bs runyam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: