Selamat Datang Sura Binuka

Bulan Sura kali ini adalah Sura Binuka jatuh pada 1 Sura hari Kemis Pon tahun 1954 tahun Jimakir. Kamis Pon mempunyai jumlah neptu 15 dalam hitungan Saptawara (jumlah hari berdasarkan sistem penanggalan Masehi) dan Pancawara (jumlah hari dalam penanggalan Jawa) maka hitungannya jatuh pati. Sedangkan tahun 1954 dalam hitungan siklus windu atau 8 tahunan, jatuhnya pada tahun Jimakir atau Wasana artinya suwung (kosong). Bulan sura kali ini bertepatan juga dengan kalender Hijriyah 1 Muharam 1442 H. Biasanya sistem penanggalan Jawa terdapat selisih 1 atau 2 hari dengan sistem penanggalan Hijriyah. Namun demikian sistem kalender Jawa usianya sudah lebih tua selama 512 tahun jika dibandingkan dengan kalender Hijriyah. Artinya pada saat kalender Hijriyah mulai dibuat, saat itu sistem kalender Jawa sudah mencatat waktu selama 512 tahun.

Sura Binuka, seperti siklus bulan Sura sebelumnya, kita kenal antara lain dengan istilah Sura Duraka, Sura Moncer, Sura WIradat. Masing-masing mempunya makna secara khusus yang menggambarkan bagaimana keadaan yang akan terjadi selama kurun waktu satu tahun ke depan di mulai sejak tanggal 1 Sura. Misalnya tahun 2019 lalu, bulan Sura dimulai pada 1 September 2019 neptu Minggu Wage jumlah 9 atau jatuhnya sakit, tahun Wawu. Artinya selama setahun ke depan yang dimulai pada tanggal 1 September 2019 memasuki fase kelara-lara, banyak penyakit dan tahun wawu sendiri mempunyai karakter kering banyak debu atau banyak abu akibat dari letusan-letusan gunung api. Seperti kita sudah saksikan sendiri, memang selama fase Sura Wiradat jatuh sakit dan tahun wawu, banyak terjadi gunung api meletus disertai dengan akeh lelara atau banyak penyakit tentu saja seperti kita saksikan sendiri dengan adanya wabah penyakit.

Nah, bulan Sura yang akan datang merupakan Sura Binuka, artinya terbuka. Apanya yang terbuka ? Dalam pandangan mata batin saya, yang terbuka meliputi berbagai sektor kehidupan. Di antaranya adalah sektor ekonomi, sektor sosial dan budaya, bahkan sektor spiritual masyarakat. Itu artinya akan ada perubahan besar pada tatanan kehidupan manusia. Bukan saja terjadi pada lingkup Nusantara namun juga meliputi masyarakat seluruh dunia. Perubahan besar ini secara ekstrim dapat disebut sebagai era wolak-waliking zaman. Zaman yang akan serba terbalik. Namun demikian terbaliknya zaman ini bukan dari sesuatu yang baik menjadi kehancuran atau kejahatan. Saya melihat yang akan terjadi justru sebaliknya. Yakni fase zaman edan atau zaman kegelapan seperti yang saat ini masih berlangsung yang akan berangsur sirna. Selanjutnya akan berganti denga fase menuju pada zaman pencerahan. Kita melihat bagaimana sepak terjang zaman edan selama ini, di mana kebenaran dianggap kesesatan, kegelapan dianggap cahaya petunjuk, kencono katon wingko atau emas dianggap pecahan genteng atau sesuatu yang tidak ada harganya. Masih sebagai tanda-tanda zaman edan di mana para penjahat disangka sebagai orang suci, tuhan yang sesungguhnay dianggap berhala, sedangkan berhala justru dianggap tuhan sejati. Sumber-sumber kebenaran justru dianggap sebagai kesesatan. Tuan rumah dianggap tamu, sedangkan tamu malah menjadi penjarah tuan rumahnya. Banyak orang mengidap mental 3G (golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe). Banyak orang saling berebut mau menangnya sendiri, banyak orang mau benarnya sendiri, serta egoisme oportunisme menjadi prinsip dasar dalam menjali kehidupan sehari-hari. Akibatnya, suasana tatanan kehidupan manusia menjadi sangat runyam. Perang atas nama kebenaran menurut kelompok dan golongan terjadi di mana-mana, kerusakan alam begitu masif dan merajalela, kebinasaan manusia sekala besar terjadi oleh karena sebab-sebab yang sangat konyol.
Namun memasuki era Sura Binuka, artinya kekuatan alam melakukan koreksi dalam sekala besar atas kekeliruan bangsa manusia dalam memandang kehidupan ini. Sehingga Sura Binuka merupakan babak baru, dimulainya zaman pencerahan Nusantara maupun dunia. Sesuatu yang tadinya dianggap tidak mungkin terjadi, namun ternyata benar-benar terjadi. Dalam serat Jongko Joyoboyo dikiaskan dalam bentuk kalimat kumambange watu item, sileme prahu gabus.

Sura Binuka Neptu Jatuh Pati
Itulah secercah harapan yang akan dan sedang terjadi dalam tatanan kehidupan bangsa manusia, di Nusantara maupun dunia. Namun demikian, saya himbau kepada seluruh pemirsa yang budiman, yang kebetulan menonton video atau membaca konten ini jangan sampai lengah. Karena untuk mencapai fase itu, ada perjuangan berat, yang bisa diumpamakan antara hidup atau mati, mati atau mukti. Perjuangan antara hidup dan mati, antara mati atau mukti, termasuk pada saat ini warga dunia termasuk Indonesia sedang melewati masa pandemi atau pagebluk. Meskipun pagebluk kali ini tidak seganas pagebluk yang pernah terjadi melanda dunia misalnya wabah black dead, flu spanyol, yang telah membunuh antara 50 juta hingga 500 juta umat manusia penduduk planet bumi, atau pagebluk penyakit pes yang pernah terjadi di awal abad 19 melanda Nusantara. Saking ganasnya pagebluk hingga dikiaskan isuk lara sore mati, sore lara isuk mati. Namun pagebluk kali ini meskipun tidak seganas pagebluk zaman dahulu, ada hal yang tak kalah mematikan yakni matinya sektor ekonomi dunia. Sehingga dunia saat ini terancam mengalami resesi ekonomi. Selain pagebluk, kita harus mewaspadai fator gejolak alam yang sangat potensial akan terjadi mulai dari letusan gunung api, gempa bumi, banjir, angin dan lainnya. Selain resiko secara langsung, berbagai fenomena di atas juga dapat menimbulkan efek sekunder berupa penyakit, kemiskinan dan kelaparan. Ujung-ujungnya juga berupa kematian secara perlahan.
Di sini saya hanya akan menyampaikan bahwa, meskipun secercah harapan baik sudah mulai muncul, namun perjuangan belum selesai. Justru kewaspadaan harus ditingkatkan agar kita semua mampu melewati segala resiko terburuk berupa kematian seperti tersirat dalam karakter Sura Binuka tibo pati.

Bagaimana Cara Menghindari Resiko Sura Binuka Tiba Pati
Untuk meminimalisir segala resiko dan sebaliknya dapat meraih kesuksesan dan kemuliaan hidup, hendaklah kita selalu eling dan waspada. Jangan mengumbar nafsu angkara murka baik dalam bentuk tindakan maupun ucapan yang dilakukan dalam dunia nyata maupun dunia maya. Tibo pati atu jatuhnya pati atau kepati-pati artinya hidup dalam penderitaan yang berat hingga tertimpa kematian. Itu bukanlah harga mati. Saya ulangi lagi, hidup terlunta hingga kebinasaan itu bukanlah harga mati, melainkan sesuatu yang bisa kita hindari dengan cara sikap eling dan waspada. Perbanyaklah berdharma, tebarkan rasa welas asih kepada seluruh makhluk hidup, rapatkan diri Anda kepada leluhur.
Kemudian bukalah pikiran dan wawasan Anda seluas-luasnya. Bukalah mata, bukalah hati, jelajahilah ilmu pengetahuan seluas jagad raya ini agar mengetahu apa sejatinya hidup ini. Buanglah pola pikir puritan, pola pikir primordial, pola pikir yang dipenuhi fanatisme dan sentimen SARA. Karena pola pikir demikian itu hanya akan menjadi penjara yang mengurung kesadaran spiritual Anda. jika Anda terus memeliharanya, maka Anda akan menjalani hidup ini seperti di dalam goa. Anda menyangka semua yang ada di dalam goa itulah sejatinya hidup. Pada saat Anda berhasil keluar goa, betapa kagetnya menerima kenyataan bahwa sesungguhnya hidup ini jauh lebih indah dari yang anda sangka dan duga sebelumnya.

Tahun 1954 Jimakir atau Wasana (Kosong)
Untuk memaknai Bulan Sura yang jatuhnya pada siklus Windu Jimakir ini, saya melihat dari makna Jimakir itu sendiri yang artinya Wasana atau kosong. Apanya yang kosong ? Dalam padangan spiritual saya kosong ini saya artikan sebagai makna kekosongan atau suwung atau tidak ada apa-apa. Namun dalam spiritual Jawa, justru sajroning suwung itu kita dapat menemukan kesejatian hidup. Hal ini sebagaimana dalam konteks meditasi atau olah semedi cara Jawa yang berdasarkan prinsip duwe rasa ora duwe rasa duwe. Atau punya rasa, tidak punya rasa punya. Dalam makna yang lebih dalam lagi, artinya tidak berbeda dengan babahan hawa sanga, atau kosongkan sembilan lubang hawa nafsu. Kendalikan dan hanya berikan porsi yang proporsional, artinya Anda memenuhi suatu keinginan dan kebutuhan secara proporsional atau tidak berlebihan. Dalam falsafah Jawa ditamsilkan dengan kalimat “ngono yo ngono ning ojo ngono”. Jangan melebihi porsi yang seharusnya, karena justru akan menumbangkan pola keseimbangan hidup. Artinya Anda justru akan merusak tata hukum keseimbangan alam. Makan, minum, sex, hiburan lainnya jangan lah dilakukan secara berlebihan, karena akan merusak diri Anda. Seperti halnya yang terjadi dengan dunia saat ini. Kekuatan alam sedang memaksa umat manusia apapun suka bangsa dan agamanya untuk mengosongkan diri. Untuk refleksi dan evaluasi diri kekeliruan apa yang telah dilakukan selama ini. Manusia dipaksa oleh wabah, agar menyadari apa sesungguhnya ritual agama, bagaimana sesungguh berdarma atau beramal kebaikan itu dilakukan. Hanya orang-orang yang eling dan waspada, serta berhasil memahami Wasana atau kekosongan ini yang akan berhasil meminimalisir resiko Sura Binuka Tibo Pati, dan kemudian meraih anugerah yang agung.
Demikian dapat yang saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman

Rahayu sagung titah dumadi, jaya-jaya wijayanti

Bulan Sura kali ini adalah Sura Binuka jatuh pada 1 Sura hari Kemis Pon tahun 1954 tahun Jimakir. Kamis Pon mempunyai jumlah neptu 15 dalam hitungan Saptawara (jumlah hari berdasarkan sistem penanggalan Masehi) dan Pancawara (jumlah hari dalam penanggalan Jawa) maka hitungannya jatuh pati. Sedangkan tahun 1954 dalam hitungan siklus windu atau 8 tahunan, jatuhnya pada tahun Jimakir atau Wasana artinya suwung (kosong). Bulan sura kali ini bertepatan juga dengan kalender Hijriyah 1 Muharam 1442 H. Biasanya sistem penanggalan Jawa terdapat selisih 1 atau 2 hari dengan sistem penanggalan Hijriyah. Namun demikian sistem kalender Jawa usianya sudah lebih tua selama 512 tahun jika dibandingkan dengan kalender Hijriyah. Artinya pada saat kalender Hijriyah mulai dibuat, saat itu sistem kalender Jawa sudah mencatat waktu selama 512 tahun.

Sura Binuka, seperti siklus bulan Sura sebelumnya, kita kenal antara lain dengan istilah Sura Duraka, Sura Moncer, Sura WIradat. Masing-masing mempunya makna secara khusus yang menggambarkan bagaimana keadaan yang akan terjadi selama kurun waktu satu tahun ke depan di mulai sejak tanggal 1 Sura. Misalnya tahun 2019 lalu, bulan Sura dimulai pada 1 September 2019 neptu Minggu Wage jumlah 9 atau jatuhnya sakit, tahun Wawu. Artinya selama setahun ke depan yang dimulai pada tanggal 1 September 2019 memasuki fase kelara-lara, banyak penyakit dan tahun wawu sendiri mempunyai karakter kering banyak debu atau banyak abu akibat dari letusan-letusan gunung api. Seperti kita sudah saksikan sendiri, memang selama fase Sura Wiradat jatuh sakit dan tahun wawu, banyak terjadi gunung api meletus disertai dengan akeh lelara atau banyak penyakit tentu saja seperti kita saksikan sendiri dengan adanya wabah penyakit.

Nah, bulan Sura yang akan datang merupakan Sura Binuka, artinya terbuka. Apanya yang terbuka ? Dalam pandangan mata batin saya, yang terbuka meliputi berbagai sektor kehidupan. Di antaranya adalah sektor ekonomi, sektor sosial dan budaya, bahkan sektor spiritual masyarakat. Itu artinya akan ada perubahan besar pada tatanan kehidupan manusia. Bukan saja terjadi pada lingkup Nusantara namun juga meliputi masyarakat seluruh dunia. Perubahan besar ini secara ekstrim dapat disebut sebagai era wolak-waliking zaman. Zaman yang akan serba terbalik. Namun demikian terbaliknya zaman ini bukan dari sesuatu yang baik menjadi kehancuran atau kejahatan. Saya melihat yang akan terjadi justru sebaliknya. Yakni fase zaman edan atau zaman kegelapan seperti yang saat ini masih berlangsung yang akan berangsur sirna. Selanjutnya akan berganti denga fase menuju pada zaman pencerahan. Kita melihat bagaimana sepak terjang zaman edan selama ini, di mana kebenaran dianggap kesesatan, kegelapan dianggap cahaya petunjuk, kencono katon wingko atau emas dianggap pecahan genteng atau sesuatu yang tidak ada harganya. Masih sebagai tanda-tanda zaman edan di mana para penjahat disangka sebagai orang suci, tuhan yang sesungguhnay dianggap berhala, sedangkan berhala justru dianggap tuhan sejati. Sumber-sumber kebenaran justru dianggap sebagai kesesatan. Tuan rumah dianggap tamu, sedangkan tamu malah menjadi penjarah tuan rumahnya. Banyak orang mengidap mental 3G (golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe). Banyak orang saling berebut mau menangnya sendiri, banyak orang mau benarnya sendiri, serta egoisme oportunisme menjadi prinsip dasar dalam menjali kehidupan sehari-hari. Akibatnya, suasana tatanan kehidupan manusia menjadi sangat runyam. Perang atas nama kebenaran menurut kelompok dan golongan terjadi di mana-mana, kerusakan alam begitu masif dan merajalela, kebinasaan manusia sekala besar terjadi oleh karena sebab-sebab yang sangat konyol.
Namun memasuki era Sura Binuka, artinya kekuatan alam melakukan koreksi dalam sekala besar atas kekeliruan bangsa manusia dalam memandang kehidupan ini. Sehingga Sura Binuka merupakan babak baru, dimulainya zaman pencerahan Nusantara maupun dunia. Sesuatu yang tadinya dianggap tidak mungkin terjadi, namun ternyata benar-benar terjadi. Dalam serat Jongko Joyoboyo dikiaskan dalam bentuk kalimat kumambange watu item, sileme prahu gabus.

Sura Binuka Neptu Jatuh Pati
Itulah secercah harapan yang akan dan sedang terjadi dalam tatanan kehidupan bangsa manusia, di Nusantara maupun dunia. Namun demikian, saya himbau kepada seluruh pemirsa yang budiman, yang kebetulan menonton video atau membaca konten ini jangan sampai lengah. Karena untuk mencapai fase itu, ada perjuangan berat, yang bisa diumpamakan antara hidup atau mati, mati atau mukti. Perjuangan antara hidup dan mati, antara mati atau mukti, termasuk pada saat ini warga dunia termasuk Indonesia sedang melewati masa pandemi atau pagebluk. Meskipun pagebluk kali ini tidak seganas pagebluk yang pernah terjadi melanda dunia misalnya wabah black dead, flu spanyol, yang telah membunuh antara 50 juta hingga 500 juta umat manusia penduduk planet bumi, atau pagebluk penyakit pes yang pernah terjadi di awal abad 19 melanda Nusantara. Saking ganasnya pagebluk hingga dikiaskan isuk lara sore mati, sore lara isuk mati. Namun pagebluk kali ini meskipun tidak seganas pagebluk zaman dahulu, ada hal yang tak kalah mematikan yakni matinya sektor ekonomi dunia. Sehingga dunia saat ini terancam mengalami resesi ekonomi. Selain pagebluk, kita harus mewaspadai fator gejolak alam yang sangat potensial akan terjadi mulai dari letusan gunung api, gempa bumi, banjir, angin dan lainnya. Selain resiko secara langsung, berbagai fenomena di atas juga dapat menimbulkan efek sekunder berupa penyakit, kemiskinan dan kelaparan. Ujung-ujungnya juga berupa kematian secara perlahan.
Di sini saya hanya akan menyampaikan bahwa, meskipun secercah harapan baik sudah mulai muncul, namun perjuangan belum selesai. Justru kewaspadaan harus ditingkatkan agar kita semua mampu melewati segala resiko terburuk berupa kematian seperti tersirat dalam karakter Sura Binuka tibo pati.

Bagaimana Cara Menghindari Resiko Sura Binuka Tiba Pati
Untuk meminimalisir segala resiko dan sebaliknya dapat meraih kesuksesan dan kemuliaan hidup, hendaklah kita selalu eling dan waspada. Jangan mengumbar nafsu angkara murka baik dalam bentuk tindakan maupun ucapan yang dilakukan dalam dunia nyata maupun dunia maya. Tibo pati atu jatuhnya pati atau kepati-pati artinya hidup dalam penderitaan yang berat hingga tertimpa kematian. Itu bukanlah harga mati. Saya ulangi lagi, hidup terlunta hingga kebinasaan itu bukanlah harga mati, melainkan sesuatu yang bisa kita hindari dengan cara sikap eling dan waspada. Perbanyaklah berdharma, tebarkan rasa welas asih kepada seluruh makhluk hidup, rapatkan diri Anda kepada leluhur.
Kemudian bukalah pikiran dan wawasan Anda seluas-luasnya. Bukalah mata, bukalah hati, jelajahilah ilmu pengetahuan seluas jagad raya ini agar mengetahu apa sejatinya hidup ini. Buanglah pola pikir puritan, pola pikir primordial, pola pikir yang dipenuhi fanatisme dan sentimen SARA. Karena pola pikir demikian itu hanya akan menjadi penjara yang mengurung kesadaran spiritual Anda. jika Anda terus memeliharanya, maka Anda akan menjalani hidup ini seperti di dalam goa. Anda menyangka semua yang ada di dalam goa itulah sejatinya hidup. Pada saat Anda berhasil keluar goa, betapa kagetnya menerima kenyataan bahwa sesungguhnya hidup ini jauh lebih indah dari yang anda sangka dan duga sebelumnya.

Tahun 1954 Jimakir atau Wasana (Kosong)
Untuk memaknai Bulan Sura yang jatuhnya pada siklus Windu Jimakir ini, saya melihat dari makna Jimakir itu sendiri yang artinya Wasana atau kosong. Apanya yang kosong ? Dalam padangan spiritual saya kosong ini saya artikan sebagai makna kekosongan atau suwung atau tidak ada apa-apa. Namun dalam spiritual Jawa, justru sajroning suwung itu kita dapat menemukan kesejatian hidup. Hal ini sebagaimana dalam konteks meditasi atau olah semedi cara Jawa yang berdasarkan prinsip duwe rasa ora duwe rasa duwe. Atau punya rasa, tidak punya rasa punya. Dalam makna yang lebih dalam lagi, artinya tidak berbeda dengan babahan hawa sanga, atau kosongkan sembilan lubang hawa nafsu. Kendalikan dan hanya berikan porsi yang proporsional, artinya Anda memenuhi suatu keinginan dan kebutuhan secara proporsional atau tidak berlebihan. Dalam falsafah Jawa ditamsilkan dengan kalimat “ngono yo ngono ning ojo ngono”. Jangan melebihi porsi yang seharusnya, karena justru akan menumbangkan pola keseimbangan hidup. Artinya Anda justru akan merusak tata hukum keseimbangan alam. Makan, minum, sex, hiburan lainnya jangan lah dilakukan secara berlebihan, karena akan merusak diri Anda. Seperti halnya yang terjadi dengan dunia saat ini. Kekuatan alam sedang memaksa umat manusia apapun suka bangsa dan agamanya untuk mengosongkan diri. Untuk refleksi dan evaluasi diri kekeliruan apa yang telah dilakukan selama ini. Manusia dipaksa oleh wabah, agar menyadari apa sesungguhnya ritual agama, bagaimana sesungguh berdarma atau beramal kebaikan itu dilakukan. Hanya orang-orang yang eling dan waspada, serta berhasil memahami Wasana atau kekosongan ini yang akan berhasil meminimalisir resiko Sura Binuka Tibo Pati, dan kemudian meraih anugerah yang agung.
Demikian dapat yang saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman

Rahayu sagung titah dumadi Jaya-jaya Wijayanti

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Agustus 10, 2020, in JAVANESE TRADITION, Selamat Datang Sura Binuka 2020 and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. Maturnuwun ki, selalu memberi wejangan kepada kami yang awam, mugi2 kito tansah pinaringan wilujeng rahayu ingkang tinemu bondo lan bejo kang teko saking kersaning gusti rahayu rahayu rahayu

  2. Maturnuwun Mas…

  3. Matur nuwun Ki… rahayu

  4. Maturnuwun ki Sabda…
    Rahayu sagung titah dumadi

  5. Kepareng ngaturaken agunging panuhun ki sabda… Rahayu kang sumanding kersaning gusti 🙏🙏🙏🙏

  6. Ki sabda….apa saja tata cara yg hrs dijalani di malam suro,matur nuwun

  7. Peringatan Suran desa (bersih desa) kami tahun ini di mulai malam tanggal 1 Muharram dengan berdoa bersama dalam istighotsah, pemberian santunan anak-anak yatim dan pengajian umum. Pagi harinya dilakukan upacara tasyakuran di balai desa dengan menggelar sedekahan.
    Yang menarik adalah ketika sang pengabul hajat menyampaikan filosofi tentang istilah-istilah seperti suro, kenduri, sajen, tumpeng, ingkung dll. Penjelasannya juga menarik dengan penterjemahan ke-jawa-an yang kental. Padahal kami di luar jawa yaitu Sumatra, tepatnya di provinsi Lampung.
    Berikut beberapa istilah yang ternyata adalah sebuah akronim;
    Suro= sumeneping roso.
    Kenduri=kendali dunyo riyoyo
    Sajen= Sastro Jendro
    Tumpeng=nyebut sing kenceng.
    Ingkung= ingkang linangkung
    Pisang=pituduhe sing gawe gesang

  8. Filsafat jawa itu ternyata luas sekali ya. Luar biasa.

  9. Yunnie Wongsohadiprodjo

    Rahayu,
    Eyang, Saya Yunnie Wongsohadiprodjo
    Berkenaan dengan penanggalan jawa.
    Saya ingin mendapatkan pencerahan,
    Sebelumnya saya telah menonton beberapa Video eyang di Youtube.
    dan menyadarkan saya bahwa selama ini saya dan kebanyakan teman teman saya yang terlahir di Jawa oleh orang tua yang berdarah jawa juga, yang telah dengan sistematis di buat untuk melupakan ajaran leluhur, mulai dari tidaklagi mengunjungi pesarehan, pakaian, terutama para perempuan yang sudah tidak lagi mengenakan kebaya dan jarik. doa doa yang tidak lagi menggunakan Bahasa jawa, bahkan keseharian kami lebih banyak menggunakan Bukan Bahasa Jawa.

    Maka, mulaiah saya secara pribadi, dan mengajak saudara-saudara dan teman teman saya, untuk sedikit demi sedikit menghidupkan lagi kabudayan dan kawruh Budhi Jawa.

    Namun demikian, ada kegundahan dalam benak saya sehubungan dengan Kalender Jawa.

    pada saat ini kita menggunakan Kalender Jawa yang sudah di convert dan di sejajarkan dengan Kalender hijriyah oleh Kanjeng Sultan Agung. yang sekaligus dimasukkan juga nama namanya di dekatkan ke Bahasa Arab. sehingga saya dan teman teman juga merasa kurang berkenan dengannya.
    namun kalau kita kembali Kalender Sakapun, menggunakan Kalender India. dengan Nama nama yang didekatkan dengan Bahasa India kuno.

    lalu kami merasa bahwa, Lah kenapa kita tidak membuat Kalender yang benar benar versi Jawa dengan Bahasa yang murni Jawa. tanpa berniat untuk tidak menghargai leluhur seperti Kanjeng Sultan Agung.

    atau mungkin pengetahuan kami yang masih sangat sedikit, karenya, kami mohon dengan sangat pencerahannya dari Eyang.

    Dengan segala kerendahan hati dan niat yang baik, kami memohon Eyang untuk menyampaikan penjelasannya dan apa yang sebaiknya kami lakukan sebagai generasi yang sangat dalam kebingungan harus bagaimana?

    Mator sebah nuwon, ugi ngaturaken sedanten kalepatan.

    Yuni kalihan Rencang-rencang.

  10. Siap-2 sedoyo
    Wes wayaeh lur wes wayaeh
    ✊💪🙏

    #nusajaya

  11. Matur Suwun Ki….

  12. Matur suwun Romo semoga artikel meniko saget dados pengeti eti kulo sak keluarga dalam menjalani hidup ini. Mugi kito sedoyo tansah pinaringan wilujeng rahayu ingkang tinemu bondho lan begjo saking ngasaning gusti ingkang moho dumadi. Amiin rahayu rahayu rahayu

  13. Perkenalkan Romo, saya rohmat nurianto. Saya tinggal di Jogja. Puji syukur saya kemarin dipertemukan dengan Romo Sabda waktu sowan ke Sinuwun Sultan Agung di makam raja pajimatan imogiri. Saya seperti dibimbing dan dituntun sehingga bisa menemukan wordpress milik Romo Sabdalangit dan youtube Surya KKS. Setelah saya membaca dan menonton video dari Romo saya merasakan ketenangan hati dan jauh lebih baik dari sebelumnya, maturnuwun Romo.

    Saya mengirim email ini dengan tujuan untuk memohon nasihat dan bimbingan dari Romo, agar hidup saya menjadi lebih baik dan berguna bagi sesama makhluk Tuhan. Sebelumnya saya mohon maaf Romo, apabila saya dalam bercerita saya terlalu panjang. Saya mengalami banyak kesulitan hidup Romo, hal ini terjadi setahun sebelum saya menikah (2018) hingga sampai sekarang ini. Kurang lebih sudah 2 tahun ini hidup saya dalam kondisi yang kurang baik. Saya menikah sudah setahun yang lalu (Juni 2019) dengan istri saya berasal dari tanah Sunda tepatnya di Sukabumi. Ketika sebelum menjelang pernikahan istri saya mengalami bermacam-macam sakit, tubuhnya dan matanya berubah kuning dan ditambah lagi terjadi selisih faham antar dua keluarga, keluarga saya dan keluarga calon istri. Sehingga kami nyaris gagal menikah. Kami menikah dengan dua adat Romo, untuk ngunduh mantu kami memakai adat pernikahan Yogyakarta. Saya berusaha untuk memenuhi uborampe, kembar mayang dan bermacam macam sesaji sesuai bimbingan sesepuh kampung.

    Sehari setelah acara ngunduh mantu istri saya drop dan tubuhnya tambah kuning dan lemas tak berdaya, lalu saya bawa ke RS untuk dilakukan tindakan. Ternyata istri saya divonis menderita sakit batu empedu, tetapi batu empedu tersebut masih kecil dan belum akan dilakukan operasi. Sebulan kemudian istri saya kembali drop dan saya bawa ke RS, dan dokter memutuskan untuk dilakukan operasi esok harinya. Selama 1 minggu istri saya opname dan membutuhkan pemulihan selama beberapa bulan. Setelah dilakukan operasi ternyata tubuh istri saya tetap saja kuning. Kemudian saya bawa lagi ke dokter spesialis penyakit dalam, spesialis bedah, spesialis darah, dll akan tetapi hasilnya nihil. Penyakit istri saya belum juga di diagnosa. Selama 1 tahun ini kami kami sudah bolak balik kerumah sakit dan sudah konsultasi ke 9 dokter spesialis tapi belum ada diagnosa penyakitnya. Saat ini istri saya masih berobat rutin ke RS. Sardjito, kami juga pernah dirujuk ke luar kota ke RS. Hasan Sadikin Bandung. Karena bolak balik ke rumah sakit dan harus merawat istri saya, terpaksa saya harus kehilangan pekerjaan. Disitulah kami juga mendapatkan ujian finansial. Selama setahun menikah kami belum bisa mendapatkan keturunan karena kondisi istri saya yang seperti itu. Untuk weton istri saya Selasa Kliwon dan weton saya Minggu Wage. Istri saya memiliki emosi yang naik turun, terkadang berkata dengan nada keras ke saya Romo. Tetapi saya tidak pernah berbalik emosi, cuma saya beri nasihat karena saya berfikir positif mungkin efek dari sakitnya dan psikilogisnya tertekan karena belum bisa mengandung. Istri saya juga setiap malam susah sekali tidur. Kami sudah menempuh pengobatan medis dan alternatif Romo, tapi belum ada hasilnya. Saya pernah membawa istri saya ke Sukabumi, ke pengobatan nonmedis (paranormal). Kata beliau penyebabnya karena karma, dulu bapak mertua saya pernah mencari semacam pesugihan ke daerah Wonosobo dan disuruh melaksanakan syarat-syaratnya. Tetapi bapak mertua saya diberi kertas tulisan arab untuk ditempel dirumah. Tetapi untuk syarat-syaratnya terlalu berat dan akhirnya tidak dilaksanakan. Akhirnya keluarga istri saya juga mengalami kesulitan hidup (ekonomi) dan kesehatan yang buruk. Apakah benar demikian Romo yang terjadi di istri saya sehingga istri saya sakit-sakitan?

    Saya juga ikut sakit-sakitan Romo, selama sebelum dan sesudah menikah kurang lebih 3 tahunan dari tahun 2017 saya juga sering sakit. Saya sering sakit sesak nafas dan demam, saya sudah 2 kali opname. Penyakit ini pernah saya derita sejak kecil akan tetapi sekitar 12 tahun yang lalu penyakit ini tiba-tiba sembuh. Dahulu 12 tahun yang lalu ketika saya tidur malam saya bermimpi didatangi seseorang dengan postur tubuh dan wajahnya seperti eyang “Semar” waktu itu beliau tidak memperkenalkan diri dan didalam mimpi beliau berkata “koe kenapa ngger, uwes ben tak gowone eyang” lalu menghilang. Suasana didalam mimpi itu sangat damai dan sejuk diatas bukit ada pohon rindang seperti pohon asem jawa. Semenjak mimpi itu saya jadi sehat dan jarang sakit. Awalnya saya hanya berfikir itu hanyalah sebuah mimpi dan halusinasi belaka, tetapi beberapa hari semenjak mimpi itu saya membuktikan ternyata benar yang dimaksud “tak gowone” itu yang dibawa penyakit saya. Semenjak itu saya jadi percaya akan leluhur. Sampai sekarang setiap jumat kliwon saya selalu mengingatkan dan mengajak orangtua untuk sowan ke makam simbah kakung, putri, dan simbah buyut walaupun hanya leluhur terdekat saja, saya berusaha untuk tetap berbakti ke leluhur. Dengan saya membaca wordpress dan menonton video dari Romo, sekarang saya bertambah cara berbakti saya dengan luluhur yaitu dengan menyediakan pisungsung dirumah. Sakit saya kambuh lagi saya rasakan semenjak saya menjadi pribadi yang kurang baik (nakal) salah pergaulan, saya pernah minum miras dan lalai dalam beribadah. Apakah sakit saya ini ada hubungannya dengan kenakalan saya dulu Romo dan saya sudah ditinggalkan oleh leluhur? Ataukah saya ikut menanggung dosa masa lalu keluarga istri?

    Mohon nasihat dan bimbinganya Romo, apa penyebab datangnya cobaan diperrnikahan kami ini dan apa yang harus kami lakukan? Apabila berkenan dan diperbolehkan untuk sowan ke rumah Romo Sabda, saya ingin sowan silaturahmi dan ngangsu kawruh kerumah. Maturnuwun Romo Sabda, Rahayu..Rahayu.

  14. Salam🙏🙏🙏 Wilujeng Dalu Ki Sabda,

    Menawi mboten ganggu wekdalipun Kula Mas Agus saking Pati(jawatengah) Bade nyuwun nomor telepon Ki Sabda/rencang-rencangipun. Saperlu menawi wonten wekdalipun Kula gadhahi pamanggih marak sowan Dalem griyanipun. Semanten atur kawula Menawi katah salahipun Nyuwun samudra pangaksama.

    #Nuwun….Rahayu🙏

    Pada tanggal 10 Agt 2020 9.02 PM, “sabdalangit’s web: Membangun Bumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: