KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan

KEJAWEN

“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai

Dan Dikambinghitamkan

 

 

Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai

 

Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing (Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan “kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini.

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai yang menghamili santrinya, dst.

 Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa (Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut “di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dst. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang sangat religius sbb;

 

Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.

Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf.

Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta.  Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam.

Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja,  sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst.

Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane, justru mempuyai andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta kerajaan.

 

 

Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati

 

Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, serat, babad, yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau penulisnya, mewarnai seluruh isi teks.

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk segala sesuatu, tata krama, atau aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat.

Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat menambah jelas  pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup manusia.

 

Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen

 

Dalam ajaran kejawen, terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih. Manusia harus mampu meredam hawa nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas pamrihnya.

Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan

 

NAFSU

 

Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima; madat, madon, maling, mangan, main; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam nafsu malima, manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.

Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, supiyah.

Tapa ngrame; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe.

Tapa mendhem; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yg pernah dilakukannya. 

Tapa ngeli, yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”.

 

PAMRIH

 

     Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.  Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti.

     Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam perspektif KEJAWEN :

  1. Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange dhewe; selalu ingin menangnya sendiri.
  2. Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe.
  3. Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung. Misalnya mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang lain yang tertindas.

 

Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama, perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan tertinggi, yakni catur sembah; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti. Apabila seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi manusia linuwih, atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung apa agamanya.

 

sabdalangit

  1. karena lahir di tanah Jawa disebutlah Kejawen , kejawen adalah NALURI KAWERUH DIRI orang Jawa ( penghuni tanah jawa dari ujung barat s/d ujung timur ) sumber para leluhur bahwa : Kejawen bagaikan Kampus sedangkan fakultasnya berbagai Agama Samawi, ciri penghayat kejawen TIDAK PERNAH menempatkan diri terdepan tetapi bisa menerima menghormati dan mengayomi semua orang yang berkeyakinan agama Samawi yang dimaksud , penghayat kejawen sejati tidak mudah tersinggung tidak menunjukkan sikap marah , jika berselisih hanya diam dan diam penghayat kejawen mengutamakan perilaku sifat mulia , tidak suka konflik,
    seklumit uraian ini fakta bagi yang memahami , sebagai bahan RENUNGAN DASAR bagi yang ingin belajar ,bagi yang berkeyakinan berbeda mohon bijak saling menghormati , seperti pesan Beliau Eyang Brawijaya V pada zamanya sbb : kelak anak cucu keyakinan baru akan berdatangan dan boleh hidup di tanah Jawa / Nusantara ASAL jangan merusak Panatagama .

    Demikian kurang lebihnya mohon maaf jika ada yang tersinggung berharap Kejawen dan Agama samawi sebagai teladan kebersamaan Bhineka Tunggal Ika

    salam hormat nan kinasih untuk pengasuh blog ini dan semua pengunjung disini

  2. Muhammad Al-Gazali

    Negeri Nenek Moyang Segala Bangsa

    Memahami sejarah bangsa sangat penting agar diperoleh gambaran tentang perkembangan evolusi kecerdasan kehidupan sosial suatu bangsa dari aspek spiritual budaya, kelembagaan maupun keorganisasiannya beserta karakteristik keperilakuan masyarakat dan elit pemimpinnya termasuk berbagai penyebab penyakit ataupun krisis sosial bahkan tragedi yang pernah melanda, sehingga bisa memahami kekuatan dan kelemahan bangsa guna menciptakan sejarah yang lebih baik atas dasar nilai nila keleluhuran kejayaannya masa lampau untuk ditranformsi dan diadabtasikan sesuai alam jaman kekinian, patut disayangkan sejarah negeri ini seolah olah diawali tatkala wilayah negeri ini gung lewang lewung menjadi ribuan pulau setelah terjadi bencana alam yang sangat dasyat hanya dihuni oleh sisa sisa penduduk pribumi yang selamat dengan kategori rakyat biasa yang tidak memiliki intelektual maupun peninggalan kitab Iptek, hanya tinggal memiliki sistem spiritual jatidiri kemanusian serta kitab mintaraga ( laku spiritual mesu barata / bertapa ) yang selanjutnya berdatanglah kaum imigran dari negeri India, Cina dll serta beralkuturasi budaya. Sejarah Purwa Kawitannya hingga kini belum terlacak secara jelas meski ada catatan sejarah tentang negeri Atlantis yang hilang dan Bangsa Limuria dan diperkirakan berada diwilayah negeri ini, namun melalui sistem spiritual jatidiri kemanusiaan yang murni kedepan akan mampu menguak sejarah bahwa wilayah negeri ini benar benar merupakan asal mulanya generasi manusia Adam – Hawa / Negeri Nenek Moyang segala bangsa bahkan pernah menjadi bangsa atau negeri yang berjaya dengan sistem spiritual dan Ipteknya yang tercanggih diseluruh dunia hingga menyebar keseluruh belahan dunia termasuk derivatif sistem spiritualnya, namun kini tinggal kenangan bahkan menjadi generasi konsumeris yang rela hanya sebagai pengekor dan mengkonsumsi Iptek produk manca negara bahkan termasuk dalam hal sistem syariat spiritualnya.
    Bangsa Indonesia jangan sekali kali melupakan sejarah dan harus memahami kembali warisan nilai nilai luhur batin asli nenek moyang bangsa Indonesia yang sesungguhnya yakni jiwa luhur dan budi pakerti luhur yang sudah terkristalisasi menjadi Pancasila yang sila silanya termuat dalam Pembukaan UUD 1945 alenia ke 4 sebagai dasar dan ideologi Negara Republik Indonesia dengan sesungguhnya benar benar merupakan 5 (lima) inti etika dasar moral sejati kemanusiaan dalam satu kesatuan etis guna membentuk karakter jatidiri kemanusiaan bangsa Indonesia seutuhnya, dengan sesungguhnya bisa dikata kesejatian sila sila dalam Pancasila merupakan derivatif dari ajaran Sang Hyang Kalimasada pandulu dan sabda pangandikan bersumber dari 5 (lima) Sang Mustika Danyang Jagad / Penghuni Jagad Alam Semesta ( Sang Hyang Ismayajati, Sang Hyang Manik Maya, Sang Hyang Gurujati, Sang Hyang Among Raga dan Sang Badranaya ). Sang Hyang Kalimasada telah menjelma menjadi Sang Hyang Pancasila juga sebagai Sang Pandulu dan Sabda Pangandikan ( penuntun dan kesantunan komunikasi dalam berkehidupan sosial ) bagi seluruh bangsa Indonesia bahkan akan mendunia, Pancasila benar benar memiliki Ruh berdaya rasa cipta karsa holistik humanistik serta ada Sang Hyang Ruhnya (Sang Hyang Pancasila/Sang Hyang Kalimasada) sebagai pemegang legitimasi original sistem software spiritual untuk diinstall atau download kedalam sistem kedirian manusia melalui ritus spiritual humanika / jatidiri kemanusiaan agar daya rasa kemurnian kesejatian Pancasila teraktivasi dan berkembang menjadi karakter kepribadian jatidiri setiap manusia. Sang Hyang Pancasila / Sang Hyang Kalimasada atau para Sang Hyang Mustikanya Danyang Jagad tersebut benar benar ada dan abadi serta bisa dilacak melalui kedalaman ritus sistem spiritual humanika/kesejatian kemanusiaan yang sejak jaman purwa kawitan telah membentuk kemurnian karakter keluhuran jiwa Nenek Moyang Nusantara / Indonesia yang asli. Oleh karenanya dalam mengembangkan sistem spiritual humanika / jatidiri kemanusiaan serta berbagai varian derivatif spiritual budaya nasional bagi bangsa Indonesia password / sesandi nama Sang Hyang Pancasila/ Sang Hyang Kalimasada harus diakses hal ini sangat penting berkaitan dengan Ketahanan Budaya Nasional Jatidiri Bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

    Mitologi Sila Sila Dalam Pancasila :
    1. Ketuhanan yang Maha Esa, merupakan unsur karakter kesejatian yang berdaya rasa kesucian bagi manusia bisa merupakan daya rasa kekosongan/kenetralan/kesucian yang berfungsi agar manusia bisa memuat berbagai daya rasa apapun yang telah berada dalam sistem kediriannya sehingga diperoleh rasa kedamaian ketentraman ketulusan dengan apa adanya serta melahirkan etika moral kesopanan kesantunan yang lembah manah dan narima ing pandum (tidak serakah) sesuai dengan kreativitasnya, manusia telah meyakini ruh kesucian tersebut merupakan ruh esensial berasal dari Sang Maha Suci Alam Semesta / Tuhan yang Maha Esa yang telah mendasari seluruh keberadaan alam perujudan ( Kosong & Isi / Tiada & Ada ). Dalam upaya aktivasi agar spektrum esensi ruh tersebut senantiasa mengembang dan menggebyar kedalam kedirian, maka setiap pribadi manusia Indonesia diberi kebebasan menggunakan berbagai sistem spiritual yang dikehendakinya. Berdasarkan mitologi ajaran purwa kawitan “Sang Hyang Ismayajati” adalah Mustikanya Penghuni/Danyang Jagad sebagai pemegang legitimasi sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh kesucian keseluruh tatanan kehidupan alam semesta yang dalam perkembangannya telah melahirkan berbagai ajaran sistem spiritual/keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diseluruh penjuru dunia yang diadabtasikan sesuai situasi kondisi kehidupan sosial pada setiap alam jaman, sistem spiritual keyakinan dalam kehidupan sosial tidak boleh monopolis dan stagnan akan tetapi harus universal serta mendinamisir untuk menyehatkan mencerdaskan mensejahterakan dan mendamaikan dalam hidup dan berkehidupan sesama hidup penghuni alam semesta.

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, merupakan unsur karakter kesejatian berdaya rasa cipta karsa berwawasan konprenhensip holistik humanistik yang senantiasa beradabtasi berbasis Sang Maha Suci / Tuhan Yang Maha Esa, bila diaktivasikan akan memberikan daya rasa cipta karsa kecerdasan yang akan melahirkan berbagai kreativitas untuk berkarya dengan lebih mengutamakan untuk memperoleh kebahagiaan kreatif dibanding kebahagian konsumtif sehingga melahirkan etika moral welas asih / cinta kasih serta kesemangatan dalam kebersamaan hidup (gotong royong) penuh toleransi untuk menjaga ketertiban kedamaian yang berkeadilan. Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Hyang Manikmaya dengan wawasan kesemesta alam / menggelar jagad serta mendalangkan seluruh lakon berbagai penciptaan agar jagad senantiasa mengembang serta dipenuhi berbagai kreativitas dan aktivitas kehidupan pada seluruh dimensi kehidupan sosial secara adil dan merata, bila manusia dalam spiritual humanika melalui tatanan gurujatinya memori hidupnya bisa mendapat sinergitasnya secara langsung boleh jadi manusia tersebut akan mencapai optimalisasi kecerdasan akal budi pekerti serta sangat bermanfaat dalam upaya mencerdasan kehidupan bangsa, bila dikaitkan ilmu pengetahuan sosial atau teknologi yang telah ada akan memberikan daya ungkit yang signifikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang super kreatif dan inovatif.

    3. Persatuan Indonesia, merupakan unsur karakter kesejatian yang berdaya rasa integralistis komprenhensip berbasis rasa sejati kemanusian yang holistik humanistik (Kemanusiaan yang adil dan beradab) yang senantiasa berkecenderungan bersosialisasi agar saling kenal mengenal untuk bersinergis dengan ikatan tali persatuan dalam kesatuan ( Bhinneka Tunggal Ika ) persaudaraan yang kokoh saling kait mengait dalam jalinan tatanan kehidupan sosial masyarakat agung dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harmonis. Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Hyang Gurujati, dalam sistem kediriannya memuat rasa keinginan seluruh makhluk hidup semesta alam dalam rasa satu kesatuan yang etis, daya rasa kesatuan keinginan seluruh makhluk hidup oleh manusia sangat dibutuhkan untuk terjaganya keseimbangan ekosistem kehidupan demi kesejahteraan kedamaian dan keadilan sosial bagi manusia itu sendiri. Ruh yang telah berdaya rasa kesatuan yang etis dari Sang Gurujati sangat diperlukan untuk tercerap dalam karakter jiwa setiap pribadi manusia Indonesia dalam upaya memperkokoh rasa kesatuan dan persatuan bangsa.
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, merupakan unsur karakter kesejatian berdaya rasa pamomong, pengayom, pemimpin demi tetap terjaganya persatuan dalam kesatuan yang etis ( Persatuan Indonesia ) untuk selalu mengakomodasikan keseluruhan kepentingan hidup dalam berkehidupan sosial dengan lebih mengutamakan kepentingan umum/nasional dibanding kepentingan pribadi atau golongan. Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Hyang Among Raga selaku pemegang legitimasi penjaga / pemelihara / pamomong terhadap perujudan alam semesta beserta penghuninya demi untuk pertumbuhan, ketertiban, kesejahteraan, kedamaian dan kelestariannya. Manusia Indonesia harus memiliki unsur karakter tersebut demi eksistensinya bagi dirinya sendiri, berkeluarga, bermasyarakat atau apapun yang telah menjadi tanggung jawab amanat yang diembannya dengan penuh rasa hikmah dan kebijaksanaan.
    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan unsur karakter berdaya rasa idealisme disertai perjuangan lahir dan batin dalam upaya mewujudkan kesejahteraan sosial yang adil dan makmur pada setiap berkehidupan dengan didasari budi pakerti luhur hingga merata dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Dalam mitologi purwa kawitan sebagai pemegang sistem kendali dan transformasi terhadap esensi ruh tersebut adalah Sang Badranaya, Sang Idealis dan Sang Pejuang agar bumi ini tetap langgeng bagi manusia untuk beranak pinak serta mengembangkan evolusi kecerdasan sosial guna meraih kebahagian lahiriah, batiniah yang berkeadilan sosial. Manusia Indonesia harus memiliki karakter idealis disertai daya juang lahir dan batin untuk meraih kesejahteraan sosial dan peduli terhadap kebersamaan hidup dan kegotong royongan demi terwujudnya rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    Dengan mitologi tersebut diatas bisa dikatakan Pancasila telah memiliki mitologi yang sangat kokoh dan mendasar hingga bertumpu pada inti sari jagad alam semesta (inti sari bawana langgeng) sebagai Sang Causa Prima, mitologi sila sila dalam Pancasila merupakan paradogma holistis sebagai pentas psikologis bagi setiap manusia Indonesia sebagai tempat untuk memelihara dogmatika sebagai prinsip dasar yang memiliki landasan aksiomatika dan keabsahan kadar kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi guna melahirkan berbagai rumusan etika keperilakuan berkehidupan sosial sekaligus sebagai landasan ontologi dan epistemologi guna mengembangkan spiritual humanika Pancasila dan ilmu humanika Pancasila untuk mewujudkan tatanan dunia baru menuju tegaknya tatanan berwawasan gotong royong dalam berkehidupan masyarakat agung yang saling mensejahterakan mendamaikan serta berkeadilan sosial universal.

  3. apa arti “caos daur luhur”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.093 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: