Author Archives: SABDå

Enam Tahun Setelah Upacara Adat

Sejak 2013, sudah puluhan situs baru di wilayah bekas kekuasan Majapahit telah ditemukan…

Para pemirsa yang budiman, sejenak saya ajak menjelajah waktu enam tahun ke belakang. Di mana kami bersama berbagai eleman masyarakat, dan sedulur-sedulur dari berbagai wilayah. Ki Camat, Ki Wongalus (Kampus Wong Alus), Mas Kumitir (Alang-alang Kumitir), KKS (Kadang Kadean Sabdalangit), dan sedulur-sedulur yang tergabung dalam solidaritas Save Trowulan. Berkumpul di kompleks Candi Brahu, Trowulan, Jawa Timur untuk melaksanakan upacara adat.

Selama tahun 2013, Trowulan sempat dibuat geger karena adanya rencana pembangunan pabrik baja PT MBS di atas tanah situs Trowulan, tepatnya berada di Jati Pasar dan sekitarnya. Pada waktu itu, solidaritas Save Trowulan mendapatkan intimidasi dari berbagai pihak, karena mereka bersama warga setempat menentang pembangunan pabrik baja yang telah direstui Bupati Mojokerto pada waktu itu Kemal Pasa. Intimidasi semakin intens terhadap warga yang menentang. Hukumpun seolah telah loyo menjadi pengadil. Sementara para pemegang otoritas daerah seperti lebih memilih bersekongkol dengan pemilik modal. Berbagai cara yang konstitusional telah dilakukan, melalui mekanisme menyuarakan aspirasi kepada DPRD, surat dan penytaraan keberatan dari warga, negosiasi antara warga dengan pejabat dan investor pun mengaami jalan buntu. Rencana tetap jalan terus. Tidak hanya warga masyarakat sekitar yang gelisah, namun kami-kami generasi penerus bangsa mulai terusik dan gemas melihat ulah orang-orang yang tidak mau memahami apa arti pentingnya sebuah situs sejarah dan artefak. Kami pun penasaran, apa gerangan yang membuat Bupati dan PT MBS ngotot mendirikan pabrik baja di lokasi kompleks situs budaya. Kami sempat curiga mungkin ada sesuatu rahasia yang sengaja disembunyikan. Bukan hanya soal uang dan persekongkolan, lebih dari itu kami mulai curiga, ada sesuatu yang tertimbun di dalam tanah rencana pendirian baja.

Bagi orang Jawa, melihat jika hukum sudah tak berdaya menjadi sistem pengadil, jika ruh-ruh kebenaran sudah meninggalkan raga keadilan dan kemanusiaan, maka upacara adat NAS TALI PATI, menajdi jalan terakhir yang layak dilakukan. Nas tali Pati, sing sopo gawe bakal nganggo. Hukum alam akan berlangsung secara spontan dan kontan. Tak perlu menunggu lama, tak butuh, sepekan, sebulan bahkan setahun. Pagi harinya setelah usasi upacara adat, kita bisa menyaksikan mekanisme hukum alam bekerja dengan sangat cepat dan tentu saja efektif. Kami percaya hukum alam tak pernah menyisakan secuilpun ketidakadilan. Maka, siapa yang melanggar garis “NAS” mereka akan menerima akibatnya, sesuai berat ringan pelanggaran yang dilakukan.

Read the rest of this entry

Di Balik Fenomena Awan Caping Gunung (Lenticular)

Apa Itu Awan Caping Gunung ?

Akhir-akhir ini begitu sering dan marak, soal fenomena awan lenticular yang lebih sering disebut sebagai awan caping gunung, karena memang menyerupai caping yakni tutup kepala atau topi yang sering digunakan oleh para petani yang sedang bekerja di sawah ladang. Awan lenticular berada di pucuk gunung, seperti sedang memayungi gunung, sehingga jika dilihat dari kejauhan terkesan seolah-olah gunung sedang mengenakan tudung caping.

Penjelasan Ilmiah

BMKG berpendapat bahwa awan lenticular merupakan fenomena biasa atau lazim terjadi pada saat terjadi badai di puncak gunung. Penilaian sebagian orang senada dengan penilaian ilmiah yang disampaikan oleh BMKG. Memang demikian adanya seperti yang pernah saya saksikan secara langsung saat berada di puncak gunung Lawu dan kemudian terjadi fenomena awan lenticular belum lama ini terjadi. Namun entah faktor peyebabnya lebih dahulu mana ? Apakah badai yang menerpa badan gunung kemudian menimbulkan pusaran angin dan selanjutnya membentuk awan lenticular, atau justru sebaliknya awan lenticular terlebih dahulu muncul kemudian mengakibatkan tekanan udara yang berbeda. Perbedaan tekanan udara itu kemudian menimbulkan daya gerak udara yang menjadi bibit pusaran angin.

Rasionalkah Penjelasan Spiritual ?

Penilaian spiriual soal fenomena alam berupa awan lenticular atau caping gunung tentunya berbeda dengan apa yang disampaikan oleh BMKG. Tetapi bukan serta-merta lantas disimpulkan bahwa penilaian dari perspektif spiritual merupakan penilaian tidak masuk akal, alogis atau tidak ilmiah. Jangan buru-buru menyimpulkan, karena tidak lantas demikian logikanya ! Para pembaca yang budiman, silahkan luangkan waktu sejenak mengikuti apa yang hendak saya uraikan berikut ini.

Read the rest of this entry

SELAMAT DATANG SURA WIRADAT

Sugeng Warsa Enggal Tahun 1 Suro 1953 Taun Wawu

Bubur Suran

Bubur Suran

Bulan Sura tahun 1953 wawu ini secara kebetulan siklusnya berbarengan dengan tahun baru Hijriyah (1441 H), yakni tanggal 1 September 2019, neptu Minggu Wage (jumlah 9 jatuhnya lara atau sakit).
Seperti biasa, Ki Ageng Mangir Selalu memberikan petunjuk setiap datangnya bulan Sura. Kali ini, bulan Sura-nya adalah Sura Wiradat. Sekalipun bulan Sura tahun ini secara kodrat jatuh pada Minggu Wage, jika dihitung neptu hari jatuhnya kelara-lara atau (sakit/sakit-sakitan) tetapi semua itu masih diberikan kesempatan besar bagi siapapun untuk mewiradat, yakni memohon dispensasi atau keringanan, bahkan merubah kodrat yang kurang baik menjadi baik, atau yang berat menjadi ringan.

Tiba Lara & Tahun Wawu
Sura dengan neptu tiba lara, yang dimulai pada 1 September 2019, masih banyak orang yang akan merasakan kelara-lara. Kelara-lara hatinya, perasaannya atau fisiknya. Sedangkan Tahun Wawu, artinya tahun yang banyak abu. Abu bisa disebabkan oleh dua hal. Yakni karena kekeringan atau kemarau panjang. Atau disebabkan oleh banyaknya gunung api yang meletus. Tahun 1953 warsa wawu ini, bisa jadi Gunung Merapi dan Gunung Agung meletus dalam waktu yang hampir bersamaan. Tetapi saya yakin letusannya tidak akan sangat dahsyat seperti letusan Merapi pada tahun 2010 atau letusan Gunung Agung tahun 1963. Karena saya menyaksikan sendiri banyak leluhur bersama para Dewa Jawata sering melakukan ritual di Gunung Agung dan Gunung Merapi. Sehingga Gunung Agung yang sempat berada pada status awas, sebelum berakhir dengan letusan besar seperti perhitungan ilmiah, yang terjadi justru sebaliknya status Gunung Agung makin menurun hingga ke level II (waspada) dan berubah menjadi letusan sporadik, terjadi secara berkala namun dengan skala letusan yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Begitupun dengan Gunung Merapi yang tadinya Desember 2018 dapat meletus dahsyat sekali setelah siklus 4-5 tahunan nihil letusan. Terhitung sudah satu tahun lebih, hingga saat ini Merapi berada pada status level II atau Waspada (note ; level I aktif normal, level II waspada, level III siaga, level IV awas). Namun Merapi selalu mengeluarkan lelehan lava pijar dengan intensitas guguran lava pijar yang cukup, sehingga jika suatu waktu benar-benar meletus, kemungkinan besar tidak akan seperti letusan Merapi tahun 2010.

Bagaimana Cara Mewiradat Sura Kelara-Lara ?

(lebih…)

Tanggap Ing Sasmita Gelagat Politik & Gejolak Alam

Jangan ketawain jika ada orang Jakarta yang belanja perahu karet. Jangan ejek jika temanmu tiba-tiba menarik diri dari dunia politik. Jangan buru-buru menuduh sebagai penyebar hoax jika ada orang yang gundah gulana di medsos merasakan sesuatu akan terjadi dengan alam dan politik. Bisa jadi kalian yang kurang peka. Bisa jadi mereka itu lah orang yang sedang melakukan suatu yang paling bijaksana dalam hidupnya. Supaya tidak mudah terhasut hoax, Dadi uwong ojo kagetan, ojo gumunan !! Gunakan lah akal sehat. Tetap tenang, jangan reaksioner, jangan terlalu spaneng dan serius tapi tetap waspada, dan saring lah semua informasi secara bijaksana dan seimbang.

Panyondro
Candraning goro-goro bumi gonjang-ganjing langit gumarang, tangising bumi kelawan langit. Tangising bumi ketiga dawa lemah bengkah, lindu kang tanpa sangkan sedina kaping pitu mangambal-ambal, kluwung pating palengkung teja mangkara-kara, nganti kontrang-kantringan para kawula, awit akeh sato tan antuk boga, mina kesatan warih, anom tuwa kang sirna kapenthang teluh, gagrak roning mandura. Tangising langit udan barat salah mongso banjir bandang kang tanpa sangkan. Gunung longsor kawur pada dene gunung, bleduk mangampak panjering sapi gumarang, guro gurnita jagad kagiri-giri, tempuhing goro-goro akeh para pandita kang sami ngeningaken cipta nenuwun marang Jawata, ratu-ratu kang samiya jegreg ing penggalih. Genging panuwun murih tata tentreming jagad raya prandene datan katarima, mulat bumi kalawan langit kaya katangkep-tangkepa lintang lir rinanta-ranta lidat thatit pating klawer claret taut pating clorot. Mbaleduk swaraning kawah candra, tirta kang kinebur-kebur kinoclak-kocla lir gambiralaya. Pintu séla matangkeb kaya bujat-bujato mèncèng woting ogal-agil, ngakak tutuking sang hyang ananta, boga kopat-kapit tan pethite lir pecut penjalin tingal, nganti akeh para widadara widadari kang sami anjeli kepati, gunung jamur dipa kaya ambruk-ambruka, rikala semana sang paramesthi prisa kawontenaning goro-goro enggal ngasta tirta kamandanu, katetesake sirep pada sanalika. Sireping goro-goro ana swara kang tanpa sangkan, jumleguring angkasa pinda gundala sasra, gundala sewu gelap byar padang terawang jagad sumilak gumelaring jagad anyar.

Kalibrasi Sistem Keseimbangan Alam
Panyondro atau paparan situasi dan kondisi yang menggambarkan suatu fase goro-goro atau geger, yakni situasi kehidupan manusia yang sedang dilanda ontran-ontran, musibah dan bencana alam. Saya kira candraning goro-goro buka hanya dalam cerita pewayangan saja. Tetapi bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Disebut fase goro-goro apabila hampir seluruh elemen alam terjadi pergolakan yang mengarah pada terjadinya suatu bencana alam maupun musibah kemanusiaan. Sebut saja misalnya elemen air, elemen api, elemen udara dan elemen tanah. Akibat pergolakan elemen air memungkinkan terjadi berbagai macam bencana alam seperti misalnya tsunami, banjir bandang, hujan lebat. Pergolakan elemen api memungkinkan terjadi berbagai macam bencana alam seperti gunung meletus, kebakaran hutan, kebakaran rumah-rumah penduduk, hawa yang sangat panas, badai halilintar. Pergolakan elemen udara dapat menimbulkan bencana berupa badai, tornado atau puting beliung, perubahan cuaca ekstrem. Sedangkan pergolakan elemen tanah dapat mengakibatkan suatu bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, likuifaksi, kekeringan dan sebagainya. Biasanya bencana alam terjadi secara pergantian untuk masing-masing elemen alam itu. Disebut goro-goro apabila bencana alam yang terjadi merupakan pergolakan dari keempat elemen alam itu secara bersama-sama pada waktu yang sama pula.
Saya melihat fase goro-goro bukan sebagai bentuk hukuman Tuhan, apalagi dikait-kaitkan dengan perilaku yang dianggap dosa menurut pandangan religi. Saya melihatnya secara holistik, universal dan ilmiah, fase goro-goro sebagai siklus yang bersifat alamiah. Setiap siklus merupakan akhir suatu putaran orde sengkala atau waktu dan sekaligus merupakan awal suatu orde sengkala yang baru. Artinya setiap siklus tentu akan membawa suatu perubahan. Itu terjadi dan berlangsung terus-menerus, sebagai sebuah dinamika kehidupan di planet bumi ini. Memahami datangnya fase goro-goro, artinya suatu perubahan akan atau sedang terjadi. Perubahan yang berhubungan dengan tatanan kehidupan manusia. Sedangkan pemicunya adalah adanya mekanisme alam untuk mengkoreksi tata keseimbangan kosmos yang telah mengalami pergeseran karena perjalanan waktu maupun rusaknya tata keseimbangan alam akibat ulah manusia, misalnya kerusakan lingkungan alam. Jika alam semesta ini diumpamakan sebagai seismograf, neraca atau kompas, maka secara berkala perlu dilakukan kalibrasi ulang agar dapat bekerja secara akurat lagi. Demikian pula dengan adanya sistem tata hukum keseimbangan alam ini, maka goro-goro merupakan siklus alamiah yang terjadi secara periodik guna mengkalibrasi sistem keseimbangan alam. Untuk itu, setiap fase goro-goro di dalamnya terjadi mekanisme seleksi alam. Semua hal yang tidak selaras dan harmonis dengan ritme dan tata hukum keseimbangan alam akan tergulung dan tergilas oleh kekuatan alam. Secara awam orang pada umumnya merasakan dan melihat hukum karma berlangsung secara cepat dan spontan. Atau populer disebut sebagai karma yang terjadi secara instan (instant karma). Kebobrokan akan menuai kehancuran, kebohongan dan tipu daya segera terbongkar. Kepalsuan menuai penderitaan dan kesengsaraan. Orang-orang oportunis akan berbalik menjadi pengemis. Tukang fitnah dan suka memutar balik fakta akan terjungkal oleh ulahnya sendiri. Sing salah, seleh..! Semua pihak, perseorangan maupun organisasi yang secara terang-terangan maupun terselubung hendak merusak integritas NKRI pasti terhempas oleh ulahnya sendiri. Karena mereka bukan sekedar berhadapan dengan hukum positif produk manusia, lebih dari itu, tindakannya berseberangan dengan hukum alam.

Tanggap Ing Sasmita

<!–more–>

Situasi dan kondisi alam pada tahun 2018, dapat dicatat beberapa hal yang sifatnya utama di antaranya adalah kemarau yang panjang hingga akhir Oktober. Tercatat ribuan kali gempa bumi di wilayah Indonesia. Tsunami Palu, ombak besar laut Selatan Jawa, hujan deras, banjir bandang, tanah longsor. Dari 127 gunung api yang ada di Nusantara, saat ini tercatat setidaknya 19 gunung api status level 2 atau waspada, satu gunung api level 4 atau awas, dua gunung status level 3 atau siaga. Bahkan pada musim penghujan yang biasanya aktivitas tektonik minim sekali, tetapi kali ini, intensitas tektonik tetap menunjukkan soal intensitas tinggi di wilayah barat pulau Sumatera, selatan Jawa, Sulawesi, Maluku, Lombok, Mataram, NTB, NTT, Flores, Papua. Cuaca terasa semakin ekstrim, ketika musim penghujan telah datang, diselingi hari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi sangat panas dan gempa kembali mengguncang berbagai wilayah secara beruntun dengan magnitudo ≥ 2 hingga ≥ 6 SR dengan kedalaman yang variatif. Memasuki bulan Desember 2018 yang merupakan fase puncak musim penghujan, tetapi gelagatnya mulai tampak bahwa hujan justru berkurang dan berganti dengan hawa panas. Tercatat ratusan gempa terjadi di Sulawesi, Maluku, Ambon, Lombok Barat, Sumbawa, NTB NTT, Flores, Situbondo, Madura, beberapa wilayah bagian barat Pulau Sumatera hingga selatan pulau Jawa dengan intensitas yang tampak semakin meningkat dan dengan skala magnitudo yang relatif besar antara 4 sampai dengan 5.6 SR. Di Jawa musim penghujan terlambat datang, Nopember pertengahan baru mulai hujan. Hujan es, angin ribut, puting beliung, sungai-sungai banjir. Di antara cuaca extreme musim hujan muncul pula semacam anomali cuaca berupa cuaca yang tiba-tiba panas dan kering dan hujan beberapa hari menghilang. Disusul kemudian terjadi gempa di berbagai wilayah Sumatera Jawa Sulawesi Maluku Bali Lombok NTB NTT hingga Flores dan Papua. Sementara itu keadaan Gunung Agung masih penuh misterius. Sehingga PVMBG belum berani mengubah status Gunung Agung yang saat ini masih berada pada level 3 atau siaga. Demikian pula aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menunjukkan intensitas tinggi. Selama 2 bulan telah terjadi ratusan bahkan ribuan kali letusan anak Gunung Krakatau. Seolah tidak mau ketinggalan gunung Sangeang Api, Gunung Gamalama, gunung Dukono juga telah menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan. Gunung Sinabung rupanya lebih misterius lag, hingga kini PVMBG masih menetapkan statusnya berada pada level 4 atau awas. Artinya sekalipun saat ini tampak diam tetapi sewaktu-waktu bisa terjadi letusan yang cukup besar dan dahsyat. Gunung Merapi, saat ini kondisinya semakin menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Setiap hari Merapi membangun kubah lava dan BPPTKG DIY mencatat adanya aktivitas vulkanik yang semakin intens.

Ada Gelagat yang Membuat Khawatir
Secepatnya Saya ingin melakukan sedikit ritual dengan tujuan untuk keselamatan. Ini adalah upaya, jauh lebih baik daripada hanya tinggal diam. Dengan harapan semoga berguna untuk semua orang terutama keluarga, kerabat, teman-teman, dan untuk siapa saja yang bisa memahami dan masih percaya pada kearifan lokal. Anda bisa melakukan hal yang sama sebagaimana yang bisa anda sendiri lakukan. Sesuai dengan kearifan lokal yang anda percaya atau tradisi yang anda pegang. Bahkan sekalipun hanya dengan model ucapan berupa doa. Yang penting semua itu dilakukan dengan setulus hati. Tidak perlu meremehkan cara yang di diyakini oleh orang lain. Tidak perlu merasa apa yang diyakini adalah paling benar. Karena sikap itu hanya akan membuat Anda tergelincir dalam sikap pongah dan takabur. Ujung-ujungnya anda tidak mendapatkan apa-apa atau hanya sia-sia. Bahkan kepongahan dan ketakaburan hanya akan mencelakai diri Anda sendiri. Please don’t do it.

Ada gelagat buruk yang dapat dibaca pada saat ini. Baik dari sisi gejolak politik maupun gejolak alam. Saya pribadi sungkan sekali untuk menggambarkan secara vulgar keadaan seperti apa yang mungkin terjadi. Yang jelas sungguh sangat mengkhawatirkan. Jika pada bulan Februari 2019 yang akan datang Jakarta terendam oleh banjir skala besar mungkin itu bukan hal yang mengejutkan. Kalau saat ini Anda melihat ada orang Jakarta beli perahu karet jangan ditertawakan.
Dari sisi politik, dapat diumpamakan situasi politik ibarat menjelang titik didih. Jika titik didih tercapai biasanya ada yang bergolak-golak. Api bisa merebus air hingga mencapai titik didih. Sedangkan kehidupan politik dapat mencapai titik didih jika direbus oleh api angkara murka. Jika kekuasaan menjadi tujuan utama, kebencian menjadi bahan bakar, dan uang menjadi dasar loyalitas dan kepatuhan, maka alamat kehancuran nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan. Ketika hawa nafsu dan angkara murka sudah sangat menggebu, bahkan bagaikan air bah yang tidak bisa dibendung lagi, maka tidak akan ada yang namanya kompromi, konsensus dan toleransi. Menghalalkan segala cara menjadi jalan terbaik untuk mewujudkan semua keinginan. Tetapi kebanyakan orang saat ini tidak mampu melihat gelagat baik yang sedang terjadi dengan hukum sebab akibat, atau hukum kausalitas yang sedang dijalankan oleh sistem keseimbangan alam. Apakah para pembaca yang budiman menyadari bahwa saat ini sering terjadi instant karma? Atau karma buruk yang seketika dialami oleh seseorang yang sedang melakukan suatu kesalahan. Ingat pepatah Jawa yang mengatakan sing sopo salah bakal seleh. Sing nganiaya bakal nemahi pati. Untuk saat ini Anda begitu mudah melihat contoh di percaturan politik nasional. Lantas apa yang terjadi jika seorang penjahat telah terdesak dan mengalami keputusasaan? Setidaknya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Iya akan menyerahkan diri kepada aparat keamanan, atau justru sebaliknya ia akan mengamuk sejadi-jadinya. Dalam percaturan politik nasional yang saat ini sedang berlangsung, kemungkinan kedua itulah yang sungguh sangat menghawatirkan akan terjadi. Saya tidak menunjuk salah satu kubu atau poros kekuatan politik, apalagi menunjuk pribadi seorang aktor politik. Karena semuanya mempunyai probabilitasnya masing-masing dengan kadar yang berbeda. Tulisan ini pun bukan untuk memberi dukungan politik tertentu pada salah satu pihak. Melainkan dengan harapan dapat menjadi titik tolak kesadaran berpolitik, bahwa kekuasaan bukanlah segalanya. Masih ada nilai yang lebih tinggi daripada kekuasaan yang sedang diperebutkan itu, yakni nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Apabila ada yang meletakkan pencapaian kekuasaan di atas nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan, maka ia sesungguhnya adalah pecundang sejati. Karena demi sebuah kekuasaan, ia akan berani menghancurkan integritas NKRI dan menggilas nilai-nilai kemanusiaan.

Saya melihat, masih banyak orang yang belum siap menghadapi suatu kenyataan bahwa sistem keseimbangan alam sedang menjalankan hukum sebab akibat secara ketat. Bagi orang-orang yang mampu menyelaraskan dan mengharmonisasikan diri dengan hukum alam tentu hal itu bukanlah persoalan serius, justru sebaliknya akan sangat menguntungkan karena segala anugerah alam menjadi semakin dekat dengan dirinya. Namun keadaannya sangat berbeda bagi orang yang tidak mampu menyelaraskan dan mengharmonisasikan diri dengan hukum alam. Keadaan ini akan membuatnya semakin temperamental, mentalnya menjadi semakin labil, tidak mampu berpikir jernih, gagal memahami sesuatu, sikapnya jauh dari bijaksana, dan pada akhirnya ia akan mengalami frustasi. Saat ini adalah surganya bagi semua orang yang mampu menyelaraskan diri dengan hukum alam tetapi menjadi neraka bagi orang-orang yang kelakuannya merusak tata keseimbangan alam. Maka musti waspada dan hati-hati lah, karena bukan saja elemen-elemen alam makro yang akan bergolak, tetapi elemen-elemen alam mikro yang ada dalam diri manusia juga akan mengalami pergolakan yang dahsyat. Siapa yang lengah akan binasa, sing sopo leno bakal keno. Marilah kita sama-sama saling mengingatkan, kita sama-sama terus belajar untuk menyeimbangkan ke empat elemen itu di dalam diri kita agar tidak ada yang menonjol dan dominan menguasai elemen-elemen lainnya. Biarkan pergolakan itu terjadi sebagai bagian dari mekanisme hukum alam untuk mengkalibrasi neraca keseimbangan alam. Kekuatan alam akan menunjukkan siapa yang penjahat dan siapa yang baik, becik ketitik olo ketoro.

Bosah-Baseh
Dene wonten-e dahuru, sasampune hardi Merapi. Gung kobar saking dahara, Sigar tengah ira kaki, lepen mili toya lahar, ngidul ngetan njog pesisir…

Mungkin letusan Merapi akan menjadi suatu pertanda bahwa goro-goro segera dimulai. Jika Anda jengah dengan kalimat uthak-athik-gathuk di atas, maka anggap saja sebagai sesuatu yang hanya bersifat kebetulan. Tak perlu teriak-teriak. Kalaupun itu benar terjadi bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi setiap orang yang telah memahami apa yang disebut pralampita. Saya pribadi pun tidak tertarik berbicara asal-asalan atau tanpa dasar. Semua ini sekedar membaca apa yang dapat dibaca, yang tersirat maupun yang tersurat. Yang mudah dilihat secara visual maupun yang bersifat wingit. Bagi orang yang hanya terbiasa membaca kalimat otentik tentu akan sulit memahami. Tetapi bagi para pembaca yang budiman, yang tidak hanya membaca kalimat otentik namun juga suka membaca isyarat atau bahasa alam akan mudah sekali memahami apa yang saya sampaikan.

Sesuatu yang mungkin tidak pernah Anda bayangkan akan terjadi. Kita akan melewati saat-saat yang cukup riskan dan berat. Baik yang tinggal di pedesaan apalagi di perkotaan. Tidak menghitung tahun melainkan hanya menghitung bulan bahkan menghitung pekan. Mungkin akhir tahun 2018, dan awal tahun 2019 akan menjadi tahun yang berat. Januari, Februari, Maret. Apa pun yang terjadi semoga kita selamat dari berbagai macam pergolakan alam dan politik.
Saya pernah mengharapkan orang yang dapat dipercaya menjadi pemimpin yang diberkahi oleh alam. Tetapi di tengah jalan mereka gagal menjaga diri agar senantiasa berada di dalam koridor sebagai calon pemimpin yang diberkahi alam. Mereka gagal nggenepi laku. Mereka lalai akan perintah dan petunjuk luhur dari para leluhur besar bangsa ini. Bahkan salah dalam pergaulan dan langkahnya semakin salah kaprah. Semakin tinggi jalan yang dapat didaki, tetapi membuatnya lupa diri. Dan akhirnya Wahyu yang pernah diberikan padanya dicabut lagi (dijugar) oleh yang punya otoritas. Sehinggaa dalam prosesnya ia gagal mendapatkan wahyu kepemimpinan dari alam semesta. Ibarat kesempatan telah diberikan, tetapi tidak semua orang akan mampu dan sukses memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Biar lah semua itu menjadi lakon kehidupan manusia dan bagian dari perjalanan sejarah NKRI menjadi bangsa yang semakin matang dan dewasa. Tentu mereka akan membuktikan (lagi), jika TIDAK berpasangan, maka tidak akan jadi.
Para pembaca yang budiman. Biar lah buih-buih sering memenuhi permukaan gelombang laut. Toh orang akan menjadi tahu, bahwa buih tidak sebanding dengan jumlah air laut. Dan sampai kapan pun jumlahnya tidak akan melebihi air laut. Buih tak perlu dibersihkan, karena buih akan “membersihkan” dirinya sendiri dengan aksi-reaksinya sendiri. Itu sudah menjadi hukum alam tidak tertulis, juga tidak bisa dielakkan. Saya mengharapkan Pilpres 2019 dapat melahirkan seorang pemimpin yang tidak hanya diidamkan oleh mayoritas rakyat Indonesia tetapi juga seorang pemimpin yang diberkahi oleh alam. Pemimpin yang dapat membawa kemakmuran bagi bangsa, pemimpin yang jujur, tidak temperamental, pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyat, dan pemimpin yang bisa menjaga integritas NKRI.

Ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Ketika pertarungan politik tidak seimbang, yang kemungkinan terjadi adalah beramai-ramainya para pecundang membelot pada yang lebih kuat dan dianggap akan memenangkan percaturan politik. Karena tidak ada pecundang yang idealis. Cara berfikir pecundang adalah oportunis dan pragmatis. Maka siapa pun nanti pemimpinnya hendaklah bijaksana, waspada dan permana. Asah asih asuh jauh lebih baik dari pada pembasmian. Karena semua adalah warga negara yang sama. Kecuali yang jelas-jelas menantang kedaulatan dan dasar konstitusi Negara.

Rahayu Sagung Titah Dumadi
Salam Nusantara Jaya !!

Sedulur-sedulur, para pembaca blog, di manapun berada, mengingat cuaca tampak semakin memburuk, berikut ini saya bagikan tip sederhana untuk mengurangi atau meminimalisir resiko bilamana terjadi suatu bencana alam berupa badai, angin ribut, puting beliung, topan dan sejenisnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi harinya sejak posting ini tayang ada sesuatu fenomena alam yang terjadi di Gunung Semeru, Jawa Timur. Tampak awan seperti caping (topi petani) yang berbentuk bundar kerucut yang menutupi puncak Mahameru. Mungkin bagi orang awam merupakan sekedar peristiwa alam dengan sisi keindahan yang luar biasa, karena memang benar-benar kejadian sangat langka dan menakjubkan. Bagi orang yang berkecimpung pada bidang meteorologi dan geofisika akan mengatakan sebagai fenomena alam biasa. Seperti apa yang disampaikan oleh kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho, ia juga berbicara sesuai kapasitasnya.

Berikut ini gambar yang dapat diambil oleh saudara-saudara di Lumajang dan warga sekitar Semeru pada tanggal 10 Desember 2018.

Tidak perlu melarang orang menyatakan pendapatnya sesuai dengan keahliannya masing-masing. Biarkan menjadi kekayaan khasanah pengetahuan dan beragam opini tentu lebih baik dari pada miskin opini.

Demikian juga pendapat dari sisi spiritual. Namun dalam perspektif spiritual tentu berbeda sudut pandangnya dari disiplin ilmu lainnya. Spiritual menilai fenomena alam di puncak Gunung Semeru bukan tanpa makna sama sekali. Fenomena alam itu mempunyai makna sebagai gambaran dari apa yang sering disebut sebagai pusaka Songsong Tunggul Nogo. Songsong artinya payung. Payung bermakna perlindungan dari Tuhan. Dalam hal ini berupa tugas mulia yang diperankan oleh entitas kadewatan-kawidodaren, termasuk para leluhur agung. Karena fenomena ini terjadi di Indonesia, tentu saja leluhur yang peduli adalah leluhur pribumi, bumi Pertiwi yang mempunyai tanggung jawab menjaga eksistensi Nusantara. Oleh karena itu pusaka Songsong Tunggul Nogo merupakan pusaka berupa Wahyuning alam. Wahyu dengan derajat keluhuran pada level kahyangan atau entitas kadewatan-kawidodaren. Pertanyaannya, mengapa fenomena itu terjadi? Tentu ada sesuatu yang bersifat urgent, wingit, atau gawat. Yang akan terjadi di Indonesia. Entah bencana alam, bencana politik, yang jelas sesuatu yang dapat menimbulkan dampak kerusakan pada tatanan sosial, kehidupan berbangsa dan bernegosiasi serta lingkungan alam. Karena masih banyak orang-orang yang selalu peduli akan nasib NKRI, sering melakukan ritual untuk tulak-balak atau keselamatan seluruh makhluk hidup, dan orang-orang yang masih menghargai kearifan lokal. Realitas itu lah yang mempunyai kekuatan dan daya tarik bagi entitas super natural power yang selalu menjaga Nusantara untuk turun tangan guna menyelamatkan Nusantara, dan semua orang yang memenuhi syarat serta pantas untuk diselamatkan.

Mati Raga : Melek Sajroning Turu

Belajar Mati Raga Atau Melek Sajroning Turu

Meditasi dalam tradisi Jawa memiliki beragam cara maupun teknik yang berbeda-beda. Tetapi perbedaan itu bukanlah sesuatu yang saling bertentangan melainkan saling melengkapi dan memperkaya khazanah ilmu Jawa. Seperti pada beberapa artikel yang telah saya posting sebelumnya. Namun kali ini saya ingin berbagi tips, kiat mengenai teknis yang simpel atau sederhana tentang meditasi. Karena banyaknya pertanyaan dari para pembaca melalui email mengenai apa itu mati raga atau turu sajroning melek atau melek sajroning turu. Banyak di antara para pembaca blog ini yang masih kesulitan untuk membayangkan atau mendapatkan deskripsi lebih jelas mengenai kondisi mati raga atau melek sajroning turu. Baiklah, saya akan jelaskan secara sederhana dan singkat supaya lebih mudah dipahami oleh seluruh pembaca yang budiman dari segala usia, tingkat pendidikan, ataupun kelas sosial.

Apakah perbedaan meditasi dengan melamun?

Meditasi adalah Mengheningkan Cipta, dengan diawali upaya memusatkan fokus pikiran dan perasaan. Dalam pikiran anda biasanya banyak yang diperhatikan hingga memenuhi alam pikiran anda. Dalam meditasi, dari banyaknya fokus itu kemudian satu-persatu dikurangi hingga tersisa menjadi satu objek fokus saja. Sedangkan melamun adalah kondisi di mana seseorang sedang tidak mempunyai fokus perhatian yang jelas dengan kata lain fokusnya kosong atau pikirannya blank.

Read the rest of this entry