Category Archives: (Satria Piningit) Pambukaning Gapura

(Satria Piningit) Pambukaning Gapura

 Kisah Perjalanan Wahyu Keprabon Mencari Satria Piningit Sejati

Lampah             :              (SATRIO PININGIT) PAMBUKANING GAPURA
Dhalang             :              KI SENO NUGROHO
Waktu                :              Minggu, 18 Mei 2014 (Malam Senin Pon)
Tempat             :              Halaman Makam Raja-raja Mataram di Kotagedhe Yogyakarta

Pasewakan Agung

Jika TIDAK, Nusantara akan kalah !!

Sesuai pralampita yang diberikan oleh Ki Dalang Panjangmas, seorang dalang yang mempunyai kekuatan idu geni (apa yang diucap akan terjadi) hidup pada masa kerajaan Mataram, pada masa kepemimpinan Gusti Hamangku Rat Agung lokasi di seputar wilayah Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.  Untuk menuntaskan lakon terdahulu Satria Piningit yang telah digelar pada Minggu Pon 4 Mei 2014 di Galur, Kulonprogo, DIY.  Jika lakon tidak dilanjutkan, bukan SP maupun kamu yang akan kalah, tetapi Nusantara. Kalah dari kekuatan jahat yang akan merusak dan merampok kekayaan alam Indonesia. Kekuatan jahat yang akan menjajah pola pikir generasi bangsa Indonesia. Mirip seperti pepeling Bung Karno, “kelak penjajahan yang kamu hadapi jauh lebih berat, karena yang menjajah adalah bangsamu sendiri. Apa yang dikatakan BK saat ini telah menjadi kenyataan, sebagian warga bangsa kita sendiri, yang menjadi  antek (kepanjangan tangan) kepentingan asing, dan agen-agen konspirasi yang melibatkan kekuatan transnasional. Kekejaman yang dilakukan oleh sebagian warga bangsa sendiri terhadap WNI yang lain tidak kalah kejam dibanding kolonialisme yang dilakukan oleh Negara asing terhadap bangsa Indonesia. Nasionalisme, atau sikap kecintaan terhadap tanah air kadang sengaja dirusak dengan dalih nilai-nilai ketuhanan. Padahal nasionalisme itu sendiri merupakan wujud manusia menghormati Tuhannya, seperti yang termaktub dalam ungkapan “hamemayu hayuning Rat, hamemayu hayuning bawana, hamemayu hayuning diri. Sebuah nilai spiritual yang meliputi dimensi  triloka. Sebagian warga bangsa Indonesia jatuh cinta secara buta kepada bangsa lain, sampai-sampai terhadap bangsanya sendiri pun bersikap setengah hati. Sungguh luar biasa kekuatan yang merusak Nusantara ini. Karena Nusantara bagaikan gadis cantik idaman, setiap pria ingin meminangnya. Nusantara adalah syurga yang nyata, sumber berkah alam bagi kehidupan seluruh mahluk. Itulah sebabnya Nusantara menjadi incaran kepentingan ekonomi dan politik internasional. Jika sulit dikuasai melalui siasat kolonialisasi, maka penjajahan dilakukan memalui siasat imperialisme ekonomi, budaya dan spiritual. Yang pertama-tama dilakukan adalah merusak pola pikir (mind set) generasi penerus bangsa agar hilang rasa cinta tanah air dan tidak kenal akan jati diri bangsanya. Sebab keduanya merupakan “nyawa”, sumber kekuatan dan energy hidup yang menghidupkan setiap bangsa-bangsa di dunia ini tak terkecuali bangsa Indonesia. Jika keduanya hilang, Nusantara ini bagaikan bangsa ayam sayur, bangsa krupuk mlempem. Tinggal kentutnya doang yang bau. NKRI dijadikan bancakan oleh negara-negara asing, bagaikan  tubuh seekor rusa yang gemuk dikoyak oleh gerombolan serigala yang rakus. Jika kita tidak peduli semua persoalan kebangsaan itu, apalagi turut merusak nilai-nilai kebangsaan, sebagai generasi penerus bangsa mengambil peran sebagai babagian dari gerombolan serigala. Jika kita tidak menyadari,  peranan kita ibarat menjadi rusanya. Marilah kawan, bangkit dan bangunlah, jangan asik masyuk mendem lan mabok donga, jangan sampai hidup kita tak berguna, sia-sia dan membuat celaka anak turun kita kelak. Jangan sampai keberadaan kita di permukaan bumi Nusantara ini sekedar menyisakan ampas beracun kepada anak cucu kita yang akan hidup di masa yang akan datang. Itu dosa besar yang tiada ampun.

Kekuatan spirit pagelaran wayang kulit sudah saya singgung pada tulisan terdahulu dalam review pagelaran wayang dengan lakon Satria Piningit. Ending lakon SP berakhir dengan kalimat yang keluar dari sebdaning Ki Dalang Panjangmas,”Pujadewa, pekenira mung sawijining satria kang pantes kesinungan wahyu keprabon, sanajan pakenira wus kesinungan WK, nanging pekenira isih timur, kudu nunggu ing titiwancine dewasa kanggo jumeneng nata. (Pujadewa, kamu seseorang yang paling pantas menerima wahyu keprabon, walaupun kamu sudah terpilih oleh alam menerima Wahyu Keprabon, tetapi kamu masih muda, tunggu hingga saat dewasa nanti untuk menjadi ratu di kerajaan Hastina). Dan ternyata teka-teki siapa SP masih berlanjut, pada lakon lanjutan ternyata bukan Pujadewa (Raden Abimanyu), melainkan putranda Raden Abimanyu dengan Dewi Utari, yakni Raden Parikesit yang akhirnya kesinungan WK dari ayahandanya, dan bisa duduk di tahta kerajaan Hastinapura. Karena Raden Abimanyu gugur di medan laga, setelah melindungi pakdenya Prabu Puntadewa dari jebakan dan kepungan ribuan tentara Kurawa. Dan pada saat itu Raden Parikesit masih di dalam kandungan ibunda Dewi Utari.

Lakon terdahulu ternyata belum tuntas menceritakan siapa yang berhak pemegang WK hingga duduk di tahta kerajaan. Sesuai wangsit, lakon SP harus dituntaskan, jika tidak, maka yang kalah bukan SP tapi Nusantara. Lakon lanjutan mendapat titel dari Ki Dalang Panjangmas “Pambukaning Gapura”.  Jika disambung dengan lakon terdahulu menjadi satu kalimat penuh makna yakni, “Satria Piningit Pambukaning Gapura”. Masih dengan dalang yang sama, Ki Seno Nugroho. Kata Ki Dalang Panjangmas, “Dalang- é sing kae wingi wae…sing wis bisa manjing. Tak ada kata lain selain, injih sendika dawuh !!. Berapapun banyaknya beaya tidak masalah, ini untuk kepentingan orang banyak, kepentingan bangsa, ya Nusantara ini, bukan sekedar untuk kepuasan dan kepentingan pribadi. Maka seperti biasanya, uangnya yang akan menyesuaikan kebutuhan. Ada saja jalannya. Terimakasih kepada semua pihak yang membantu, dan khususnya sedulur-sedulur KKS senusantara atas kepedulian terhadap nasib bangsa ini.

Begitu dadakan menelpon Ki Seno Nugroho, tapi masih beruntung karena Ki Dalang Seno juga langsung menjawab, sendika dawuh Ki..! Padahal kalau mau nanggap Ki Seno biasanya harus jauh-jauh hari sebelumnya karena padatnya jadwal pentas pagelaran. Siangnya, setelah pagelaran wayang Satria Piningit Pambukaning Gapura, Ki Seno dan tim langsung berangkat ke Polandia karena kedubes RI Polandia ditanggap wayang oleh orang bule sana. Entah lakonnya apa lupa menanyakan. Mungkin juga lakone “jumenengan Andrew Sletzianowzky”…hehe.

Perjalanan WK mencari sang Negarawan Sejati

Atas saran gurunya Prabu Kresna, Raden Pujadewa yang sudah kesinungan WK, masih harus menunggu dewasa dan matang untuk menduduki dampar keprabon di kerajaan Hastinapura. Dan hukum tata keseimbangan alam masih berlanjut untuk menata keadaan mercapadha yang sudah terlampau mosak-masik akibat kekacauan dan kerusakan yang dibuat oleh trah Kurawa. Perjalanan WK untuk mencari siapa yang paling pantas dan berhak menyandang WK masih berlanjut. Hingga tiba saatnya, di mana terjadi suatu kisah yang terjadi kurang lebih 15 tahun setelah usainya Perang Bharatayudha, perang besar-besaran selama 18 hari antara pihak Pandawa dan Kurawa yang pada akhirnya dimenangkan oleh Pandawa. Tak berapa lama setelah itu, Prabu Yudhistira yang mempunyai nama lain Puntadewa, sebagai putra sulung dari Pandawa Lima bersaudara kemudian dinobatkan sebagai Raja di Hastinapura bergelar Prabu Kalimataya. Hingga pada suatu ketika Sang Prabu merasa usianya sudah tua, kemudian memutuskan untuk ‘lengser keprabon’ bukan karena terpaksa apalagi kudeta, melainkan mengikuti panggilan hati hendak madeg pandita’. Read the rest of this entry