Category Archives: HIKMAH SPIRITUAL

WASPADA GELOMBANG KEDUA ; Ini Dawuh Leluhur

01 Juni 2020, Jam 13.00 WIB
Dawuh saking Eyang Ageng Nis Putri (Eyang Putri dari Kanjeng Panembahan Senopati Raja Mataram pertama). Memberikan arahan supaya membuat sayur lodeh dengan bahan utama berupa ubi jalar (telo pendem). Usahakan ubi yang putih atau kuning saja, jangan yang warna ungu. Bisa ditambah dengan sayur lainnya (tidak harus 7 macam). Misal ditambah daun melinjo, kulit melinjo, kacang panjang, labu siam, terong dan lainnya yang sekiranya mudah didapatkan. Setelah sayur lodeh dibuat, kemudian siapkan satu mangkuk kecil atau sedang untuk dihaturkan kepada para leluhur agung Nusantara, dan leluhur-leluhur yang menurunkan kita. Sajikan di meja akan atau ruang tengah, ditambah teh dan kopi tubruk, serta air bening. Gunakan cangkir atau gelas tanpa penutup, biarkan terbuka. Haturkan dengan bahasa masing-masing daerah, usahakan menggunakan bahasa yang santun. Intinya memohon seluruh entitas hidup terutama para leluhur untuk turun tangan langsung meredam pagebluk. Semakin banyak orang melakukan tentu saja akan semakin besar efektifitas dan kekuatannya.

FILOSOFINYA

Ubi Jalar atau Telo Pendhem

Telo pendhem, merupakan lambang atau simbol doa kepada Tuhan. Bisa dikatakan sebagai doa yang tak terucap, melainkan doa yang diwujudkan. Inti dari doa itu adalah memohon supaya wabah saat ini diPENDHEM, artinya dikubur, ditimbun, atau ditutup menggunakan tanah. Apa maksud yang ditimbun atau dikubur ? Tentu saja wabah penyakit saat ini, berupa virus. Virus ini termasuk elemen udara, biar diatasi oleh elemen tanah. Mumpung elemen tanah sedang lebih panas oleh karena adanya aktivitas elemen api yang lebih giat. Sehingga lebih cepat memusnahkan wabah itu.


Sayur Lodeh

Selain itu sayur lodeh ini menjadi bahasa isyarat, berupa “SOS” atau mohon pertolongan karena keadaan darurat. Leluhur sebagai entitas hidup yang telah berada di alam kelanggengan dan alam kamulyan, memiliki kemampuan lebih baik untuk memberi pangestu dan mendoakan anak keturunannya. Bahkan leluhur yang memiliki kemampuan lebih besar dapat andil lebih efektif. Leluhur yang mempunyai keahlian spesifik dalam bidang mengatasi wabah, tentu akan lebih intens turun tangan. Prosedur mohon pertolongan ini sama halnya Anda minta pertolongan pada ahli kesehatan, tim medis, atau dokter untuk melindungi diri Anda dari wabah. Mereka semua masih hidup, bedanya, tim medis masih menggunakan raga dan leluhur sudah tidak menggunakan raga. Simpel saja, jangan diperumit, nanti ndak malah bludrek njih.
Dawuh ini tidak khusus hanya untuk warga Jogjakarta saja, melainkan siapapun yang terketuk hati untuk membuatnya, di manapun panjenengan berada. Membuat sayur lodeh telo pendem, itu artinya Anda sudah menyalakan lampu SOS. Tentu akan menjadi prioritas untuk dilindungi dan diselamatkan. Semoga dulur-dulur terutama di wilayah yang sangat rawan penyebaran virus dapat melaksanakannya. Minimal akan berguna untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat.

Read the rest of this entry

Asap Hitam Itu Akan Segera Bergeser Ke Barat

28 MEI 2020 Eyang Panembahan Bodo, belum mengizinkan ke luar kota Yogyakarta… Siapa Eyang PAnembahan Bodo ? Pasarean beliau ada di Makam Sewu, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta. Eyang Panembahan Bodo merupakan leluhur agung di zaman Majapahit akhir. Beliau dipanggil Bodo karena beliau tidak memilih memnjadi Raja di dalam Kerajaan, walaupun beliau memiliki hak untuk duduk di tahta kerajaan. Namun beliau lebih memilih untuk topo ngrame, berkelanan di antara warga masyarakat, berbuat apa saja yang berguna untuk menolong banyak orang di level grass root. Eyang Panembahan Bodo memiliki kesaktian yang sangat mumpuni, salah satu keahlian beliau adalah bidang pengobatan. Maka sangat cocok bagi orang-orang yang memohon obat untuk pergi mengunjungi atau marak sowan ke Pasarean beliau. Cukup bawa air bening, letakkan di atas pusara beliau dan mintalah sawab, untuk kemudian diminumkan kepada orang yang sakit. Namun jangan lupa nyekar ke sana dengan memperhatikan etika seperti saat kita marak sowan kepada eyang-eyang para sepuh yang masih hidup dengan raga. Sangat lah pantas jika kita membawa oleh-oleh, buah tangan a la kadarnya. Buah tangan untuk leluhur tentu lebih sederhana, cukup membawa bunga setaman, dan ganten atau kinang, jika tidak sulit dibeli. Selebihnya, jika Anda sedang punya uang cukup, bawalah serta pisang raja setangkap atau 2 sisir, tentu saja pilih yang bagus, supaya pantas. Anda menghargai diri sendiri, serta menghargai leluhur. Eyang Panembahan Bodo memiliki kesaktian lainya yang menakjubkan. Tangan kiri beliau selalu menyilang di dada, telapak tangan kiri menempel di pundak kanan. Jika tangan kiri di buka, seketika terjadilah badai dan hujan sangat besar, dengan disertai badai halilintar yang mengerikan.

Ada yang perlu saya sampaikan kepada sedulur semua, bahwa apa yang disebut-sebut sebagai keadaan new normal yang saat ini sedang ramai dibahas oleh berbagai kalangan. New normal adalah keadaan baru, yang memberikan kelonggaran pada warga masyarakat untuk beraktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah secara hati-hati dan terbatas. Tentu saja dengan suatu adaptasi terhadap kondisi baru. Pola pikir dan tindakan, serta cara bekerja harus diubah dengan cara baru, dengan pertimbangan agar jangan sampai terjangkit virus corona. Tak dipungkiri, setelah 3 bulan aktivitas perekonomian relatif beku, banyak orang mulai cemas, tekanan dan kesulitan hidup semakin terasa. Itu sangat wajar. Maka Pemerintah merancang sebuah solusi, dalam bentuk pemberlakukan keadaan baru yang disebut new normal. Tapi itu masih wacana, dan masih dilakukan penggodokan. Artinya, belum ditetapkan secara resmi, mengingat wabah masih berkembang secara brutal di beberapa wilayah. Saat new normal diberlakukan, maka setiap individu dituntut menjadi orang yang cepat adaptasi, cerdas dan kreatif. Jika gagal, bisa saja tergulung oleh dinamika zaman.

Situasi dan kondisi Yogyakarta dan Bali sebagai pusat tujuan wisata nasional dan dunia menjadikannya sangat rentan sebagai pusat penyebaran virus. Tetapi perkembangan wabah di dua Propinsi ini memang sangat berbeda. Wabah tampak sangat terkendali, bahkan seolah virus menjadi lembek ketika memasuki dua wilayah ini. Semua itu tak luput dari kesadaran spiritual masyarakat di dua wilayah Propinsi itu. Semakin tinggi kesadaran spiritual, semakin tinggi pula kemampuan untuk mengendalikan wabah. Jawa Barat beruntung memiliki pemimpin yang disiplin. Jatim, warga masyarakat relatif memiliki kesadaran spiritual yang cukup bagus, namun Pemerintah Propinsi kiranya perlu mengevaluasi efektivitas kebijakannya soal penanganan wabah di lapangan. Apakah sudah berjalan secara efektif ? Lalu, Jakarta, Banten…? Saya kira hanya menunggu waktu… Gelombang ke dua bisa terjadi jauh lebih parah. Begitupun Jawa Barat, sedikit lengah bisa ambiiyyarrr. Jateng harus tetap konsisten dan mencari solusi terbaik agar warga masyarakat tetap bisa mencari makan. Saya melihat “asap hitam” itu, akan segera bergeser dari wilayah timur menuju barat. Itu saja. Monggo silahkan di artikan sendiri.

Saat ini JATIM sedang terpukul telak, namun pukulan itu selanjutnya akan bikin kapok. Artinya, JATIM akan belajar, dan menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Kewaspadaan JATIM akan meningkat tajam beberapa hari ke depan. Pada saat JATIM pasang kuda-kuda, dalam posisi siaga penuh, maka pagebluk bisa saja dalam sekejap mabur ke JKT dan Propinsi sekitarnya. Ini sesuatu yang sangat menakutkan. Anda coba bayangkan, ketika harus melanjutkan pertempuran di saat amunisi telah menipis, dan saat Anda mengalami kelelahan. Anda bisa berimajinasi seperti apa akibatnya. Lantas siapa yang pantas disalahkan ? Jika kita berfikir obyektif, bukan omongan bermuatan politis, maka akan sulit untuk mencari kambing hitam. Karena virus ini memang seperti siluman. Apa yang kita hadapi adalah makhluk yang jauh lebih pandai dan cerdas dari yang Anda bayangkan. Kekuatanya jauh dari apa yang Anda perkirakan. Tapi…setidaknya Bali dan Yogya dapat menjadi pembanding (jika belum pantas disebut sebagai contoh), keadaan PSIKO-SPIRITUAL SOSIO-SPIRITUAL warga masyarakat dan pemimpinnya. Kiranya saya tidak berlebihan jika mengatakan, bahwa kearifan lokal memang lebih arif (cermat dan pandai) dalam mengelola perilaku dalam menghadapi pandemi ini. Karena kearifan lokal selalu sinergis dan harmonis dengan irama alam yang ada di sekelilingnya. Di manapun Anda berada, jangan berkecil hati, karena setiap wilayah atau daerah, adalah gudangnya kearifak lokal. Gudang itu selama ini mungkin sudah dianggap menjadi bangunan rongsok berupa gudang kuno sarang hantu. Tapi cobalah membuka…bukalah gemboknya, jika perlu dobrak pintunya…maka Anda akan menemukan segudang alat, segudang ilmu urip, bagaimana menghadapi pagebluk saat ini, bagaimana melumpuhkan wabah yang menjangkit saat ini.

Kesimpulannya, saya pun akhirnya mengurungkan rencana sekedar untuk ke perbatasan kota….! Karena perintah Eyang Panembahan Bodo pasti dengan alasan sangat kuat. Kula namung saget, tansah nyenyuwun, sagung para sedulur yang kebetulan membaca tulisan ini, selalu berada dalam naungan energi keselamatan. Mugya tansah manggih begja mulya. Nir sambekala, kalis ing rubeda. Rahayu sagung titah dumadi. Jaya-jaya wijayanti, sluman slumun…SLAMET !!

Kekuatan Gaib Yang Melindungi Yogya & Bali Dari Pagebluk Yang Brutal

BALI DAN JOGJA YANG FENOMENAL DALAM MENGHADAPI WABAH

Pada saat tulisan ini saya buat, Yogyakarta mencatat ada 226 orang kasus positif Covid-19, dengan 122 orang sembuh dan 8 meninggal. Sedangkan di Bali lebih bagus lagi, tercatat 394 kasus positif, 293 orang sembuh, dan hanya 4 orang yang meninggal, salah satunya adalah WNA. Tingkat kesembuhan di Yogyakarta sampai dengan tanggal 24 Mei 2020 mencapai angka 55% sedangkan kematian sekitar 3.5 %. Sedangkan di Propinsi Bali sampai dengan tanggal 24 Mei 2020 mencapai 74 %, sedangkan kematian atau fataliti hanya 1 % saja. Satu hal yang penting kita catat bahwa kedua kota itu, yakni Yogyakarta dan Bali belum pernah menerapkan PSBB untuk menghambat laju penyebaran wabah ini. Jika kita bandingkan dengan kasus yang terjadi di propinsi atau kota-kota besar lainnya, Yogyakarta dan Bali bahkan direkomendasikan sebagai percontohan dalam keberhasilannya menangani wabah.
Bagi Anda yang tinggal di kota lain, mungkin membayangkan situasi Yogyakarta sama seperti kota-kota besar lainnya yang menerapkan PSBB atau “lokdon” a la Indonesia. Namun demikian, Anda dapat menyaksikan sendiri, situasi jalanan di kota yang sunyi, pusat-pusat belanja yang sepi, itu hampir tidak pernah terjadi. Di awal bulan April memang sempat terjadi suasana yang sepi, tapi hanya berlangsung 2 pekan saja. Setelah itu seperti kembali normal, namun tidak sepadat dan macet seperti sebelum pagebluk berlangsung. Yang membedakan dengan situasi sebelum wabah adalah tempat anak-anak muda nongkrong, dan tempat-tempat pariwisata serta hiburan tampak sepi tak ada pengunjung. Itu artinya warga masyarakat Yogyakarta tetap mengindahkan himbauan Pemerintah untuk tidak melakukan kegiatan yang sifatnya tidak urgen, tidak penting. Hanya kegiatan penting dan darurat saja yang boleh dilakukan. Meskipun demikian, saya melihat beberapa tempat kuliner masih dijejali anak-anak muda yang menikmati kuliner di tempat, artinya tidak take away atau dibungkus saja. Bahkan menjelang lebaran, toko-toko bahan roti, pasar tradisional dan mall diserbu pengunjung. Namun sampai tanggal 24 Mei, belum tampak ada peningkatan kasus secara signifikan. Pada tanggal 24 Mei 2020 hanya tercatat ada 1 penambahan kasus positif Covid-19, dan zero fatality.

Saya melihat faktor utama yang menentukan keberhasilan dua Propinsi itu berhasil menanggulangi penyebaran wabah dan menekan angka kematian adalah berupa kesadaran spiritual warga masyarakatnya. Kesadaran spiritual ini akan menentukan pola pikir dan tindakan konkrit apa yang mesti dilakukan. Saya melihat dan menyaksikan sendiri sekaligus juga sebagai pelaku dalam proses itu. Sehingga saya bisa menjadi saksi mata, serta melihat lebih cermat lagi apa yang sesungguhnya terjadi apa Propinsi Yogyakarta dan Bali. Kesadaran spiritual dapat dengan mudah kita lihat dalam beberapa hal berikut ini yang secara signifikan menentukan keadaan wabah di Yogya dan Bali yang kurvanya relatif landai dan tingkat fataliti yang rendah sekali. Read the rest of this entry

Enam Tahun Setelah Upacara Adat

Sejak 2013, sudah puluhan situs baru di wilayah bekas kekuasan Majapahit telah ditemukan…

Para pemirsa yang budiman, sejenak saya ajak menjelajah waktu enam tahun ke belakang. Di mana kami bersama berbagai eleman masyarakat, dan sedulur-sedulur dari berbagai wilayah. Ki Camat, Ki Wongalus (Kampus Wong Alus), Mas Kumitir (Alang-alang Kumitir), KKS (Kadang Kadean Sabdalangit), dan sedulur-sedulur yang tergabung dalam solidaritas Save Trowulan. Berkumpul di kompleks Candi Brahu, Trowulan, Jawa Timur untuk melaksanakan upacara adat.

Selama tahun 2013, Trowulan sempat dibuat geger karena adanya rencana pembangunan pabrik baja PT MBS di atas tanah situs Trowulan, tepatnya berada di Jati Pasar dan sekitarnya. Pada waktu itu, solidaritas Save Trowulan mendapatkan intimidasi dari berbagai pihak, karena mereka bersama warga setempat menentang pembangunan pabrik baja yang telah direstui Bupati Mojokerto pada waktu itu Kemal Pasa. Intimidasi semakin intens terhadap warga yang menentang. Hukumpun seolah telah loyo menjadi pengadil. Sementara para pemegang otoritas daerah seperti lebih memilih bersekongkol dengan pemilik modal. Berbagai cara yang konstitusional telah dilakukan, melalui mekanisme menyuarakan aspirasi kepada DPRD, surat dan penytaraan keberatan dari warga, negosiasi antara warga dengan pejabat dan investor pun mengaami jalan buntu. Rencana tetap jalan terus. Tidak hanya warga masyarakat sekitar yang gelisah, namun kami-kami generasi penerus bangsa mulai terusik dan gemas melihat ulah orang-orang yang tidak mau memahami apa arti pentingnya sebuah situs sejarah dan artefak. Kami pun penasaran, apa gerangan yang membuat Bupati dan PT MBS ngotot mendirikan pabrik baja di lokasi kompleks situs budaya. Kami sempat curiga mungkin ada sesuatu rahasia yang sengaja disembunyikan. Bukan hanya soal uang dan persekongkolan, lebih dari itu kami mulai curiga, ada sesuatu yang tertimbun di dalam tanah rencana pendirian baja.

Bagi orang Jawa, melihat jika hukum sudah tak berdaya menjadi sistem pengadil, jika ruh-ruh kebenaran sudah meninggalkan raga keadilan dan kemanusiaan, maka upacara adat NAS TALI PATI, menajdi jalan terakhir yang layak dilakukan. Nas tali Pati, sing sopo gawe bakal nganggo. Hukum alam akan berlangsung secara spontan dan kontan. Tak perlu menunggu lama, tak butuh, sepekan, sebulan bahkan setahun. Pagi harinya setelah usasi upacara adat, kita bisa menyaksikan mekanisme hukum alam bekerja dengan sangat cepat dan tentu saja efektif. Kami percaya hukum alam tak pernah menyisakan secuilpun ketidakadilan. Maka, siapa yang melanggar garis “NAS” mereka akan menerima akibatnya, sesuai berat ringan pelanggaran yang dilakukan.

Read the rest of this entry

Halimun

Lokasi jatuhnya pesawat Lion JT 610 itu mengindikasikan bahwa pesawat dalam keadaan hancur berkeping-keping karena terdapat serpihan-serpihan badan pesawat di perairan Tanjung Karawang Jawa Barat.

Pagi-pagi jam 6.30 wib Dimas Danurdoro pamit katanya hendak pergi diajak bersama Ki Ageng Mangir untuk mencari pesawat yang hilang. Saya belum sadar apa yang terjadi dan yang dimaksudkan pesawat hilang. Setelah menghidupkan televisi ternyata ada berita pesawat Lion Air JT 610 kehilangan kontak dengan ATC. Berita masih simpang siur, bahkan ada kabar katanya pesawat sudah balik ke bandara Halim Perdanakusuma atau Soetta di Cengkareng.
Read the rest of this entry