Category Archives: SUATU HIKMAH (saat pertemuan dengan Gusdur)

SUATU HIKMAH (SAAT PERTEMUAN DENGAN GUS DUR)

Pagi ini, Jumat Pon 24 Februari 2012 pukul 08.30 wib, dalam pandangan metafisis tiba-tiba datang lah di rumah seseorang mengenakan pecis warna hitam dan kain sarung motif kotak-kotak. Terenyata beliau adalah mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur (alm). Berbincang sejenak dalam bahasa Jawa ngoko alias kasar, beliau tetap dalam cirikhasnya suka berseloroh dan bercanda. Beliau meminta supaya rumah dibersihkan dari sampah dll, karena nanti malam akan hadir para leluhur di antaranya : Panembahan Senopati, Kanjeng Sultan Agung, Gusti MN IV, YM Sultan Aji M Sulaeman, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Sri Sultan HB VI dan IX, Bung Karno, Pak Harto,dan Gus Dur. Gusdur minta nanti malam dibuatkan wedang sereh pake gula batu. Saya tanya,”ngagem jahe mboten Gus? (Pake Jahe enggak Gus?) Beliau bilang dalam bahasa Jawa ngoko,”…iku lak senengane Mbah Mangir…sambil termehek, persis sebagaimana kebiasaan beliau sewaktu masih hidup dengan raganya. Para leluhur yang lain seperti biasa saja, air bening mateng, teh tubruk, kopi tubruk, jangan lupa wedang jahenya Mbah Mangir ya Le..! Dalam hati saya, gaib memang sangat jujur dan tak ada yang bohong, dan banyak hal rahasia dunia ini akan lebih mudah terungkap oleh para supernatural being. Kalau pun ada yang bilang gaib suka menipu, tentu saja hal itu disebabkan oleh terbatasnya kemampuan spirit kita dalam berinteraksi dengan gaib atau karena kekeliruan kita dalam memahami eksistensi supernatural being. Ya…memang benar, Ki Ageng Mangir Wonoboyo alias Mbah Mangir adalah leluhur penyuka wedang jahe pake gula jawa yang warnanya kuning. Bahkan beliau sering request jika malam Jumat Legi tiba.

Jika ada pertanyaan,”mengapa leluhur yang raganya sudah mati kok masih minum bahkan makan? Ya..memang demikian rumusnya, jika para leluhur masuk ke dalam dimensi bumi, maka akan terkena pemberlakuan rumus bumi atau jagad fisik, dimana semua yang hidup akan mengalami haus dan lapar, juga sakit. Hanya saja leluhur sudah tidak bisa mati, karena hukum kematian sebatas berlaku untuk “unsur bumi” yang ada dalam diri kita yakni jasad atau raga.

Gusdur bilang,”…aku teka mrene mergo bojomu njaluk aku supaya melu ndukung Pak Bupati…(IN) amargo deweke bisa njejegake soko guru bangsa. Yoh tak dukung Le… (panggil saya dengan sebutan Le..singkatan dari thole, merupakan sapaan untuk seorang anak muda atau anak kecil dalam konteks bahasa Jawa. Atau ujang dalam bahasa Sunda, Ucok dalam bahasa Batak). Gus Dur berseloroh,”…kenopo kok mengundang aku ? Saya jawab,”…Gus Dur kan salah satu guru bangsa, utawi sesepuh Nusantara yang memahami hakekat atau sejatine urip! Gus Dur cuma ketawa, lantas sambil berkata, iya, bangsane wis podo edan kabeh…hahaha koyo aku biyen…hahaha. Gus Dur berkelakar.

Sebelum pamit mau pulang, Gus Dur menyampaikan kalau pertemuan para leluhur besar nanti malam untuk membahas keadaan negara ini yang semakin genting. Saya sempat tanya,”..Gus…saya dapat info dari seorang sahabat, pimpinan redaksi media cetak di Jakarta katanya Pak SBY sakit tetapi masih selalu berusaha untuk tampil di depan publik. Esok harinya, atau kemarin siang (Kamis 23 Februari 2012) saya lihat Pak SBY pidato di TVRI. Jika penglihatan saya tidak salah, beliau memang tampak menderita gangguan jantung dan liver. Kasihan juga mungkin stress tidak kuat menghadapi situasi problem negara dan keluarga. Gus Dur hanya tampak mengangguk saja. Ya..sekali lagi pelajaran berharga dari semua peristiwa ini adalah, gaib dalam hal ini supernatural being, tak pernah bohong. Selain itu, dari peristiwa di atas kita jadi lebih memahami bahwa Tuhan ternyata memberikan ruang yang sangat luas bagi manusia dan roh (supernatural being) untuk berusaha.

Selanjutnya…semoga hasil dari pasewakan agung nanti malam, ada yang boleh dishare kepada dulur-dulur semua di sini. Ruang kosong di bawah ini akan kami lanjutkan untuk share hasil pertemuan nanti malam. Tentu saja jika beliau-beliau mengijinkan. Salam karaharjan