Category Archives: Idealnya Rumah Besar Ini Memang (di) Roboh (kan)

Hidup Di Rumah Paling Berhantu

Prawicara

Rumah hantu 6Tulisan ini bukan bertujuan untuk menciptakan suasana permusuhan dan membuat kegaduhan suasana. Semata~mata ini sebagai bentuk kepedulian kami sebagai rakyat jelata yang mencintai NKRI. Apa yang saya tulis, apa yang saya lihat dan pahami. Marilah kita semua rakyat Indonesia baik kalangan pejabat, birokrat, penguasa, kelompok kepentingan, golongan, maupun rakyat jelata untuk berani jujur, bersikap netral, dan berfikir jernih. Yang sedang memegang kekuasaan jangan asal emosi, tapi berbesar hati dan oba koreksi diri. Kekuatan oposisi jangan asal ngomong, dan mengumbar kebencian. Yang sedang tidak berkuasa atau sudah pensiun juga jangan suka menyalah-nyalahkan, sebaiknya sebelum bicara terlebih dulu mengevaluasi apa yang dulu bisa sampean kerjakan untuk rakyat dan negara ini. Semua pihak hendaknya tetap bersikap kritis, bijak, bersikap dewasa dan cool. Jangan utamakan emosi dan kepentingan pribadi atau kelompok. Kami tidak rela NKRI dijadikan seperti hidangan di meja makan. Yang diacak~acak oleh orang~orang penuh nafsu keserakahan dan pola hidup hedonisme. Setelah “hidangan” dihabiskan, bekasnya berserakan dan meninggalkan gelas piring yang kotor dan pecah. Tak ingat lagi kepada anak cucu yang kelak giliran butuh makan dan ruang bersih untuk hidup di Nusantara. Mari kita semua instropeksi diri, terutama para pribadi yang berkuasa dan bertugas mengelola negera. Baik yang ada pada lembaga Yudikatif, Eksekutif, lebih~lebih Legislatif. Kaum pengusaha, wiraswasta, pegawai negeri sipil, militer, aparat penegak hukum, pengayom rakyat. Serta untuk rakyat Indonesia, maupun semua warga yang hidup dan mencari makan di Indonesia. Kita junjung tinggi kedaulatan hukum, kedaulatan rakyat dan kedaulatan negara. Demi terwujudnya negeri yang gemah ripah loh jinawi, adil makmur, tata~titi tentrem kerta raharja.



Semar Mbangun Kahyangan

SBKLakon Semar mBangun Kahyangan, selanjutnya saya singkat menjadi SBK. Merupakan lakon kategori carangan, artinya merupakan gubahan dari lakon-lakon pakem atau yang diambil dari kitab-kitab kuna seperti Kakawin Mahabarata, Kakawin Ramayana, Pustaka Raja Purwa dan Serat Purwakandha yang sudah menjadi pakem utama dalam dunia pedalangan. Lakon carangan itu mengambil dari lakon pakem yang mendapat tambahan cerita lainnya. Dari lakon carangan itu selanjutnya melahirkan berbagai macam gagrag yang selalu berbeda pada setiap dalang. Peragaan wayang juga menjadi semakin beragam. Namun adakalanya membuat bingung, karena bisa jadi lakon yang sama tetapi jalan ceritanya berbeda. Sedangkan lakon sempalan berbeda lagi, karena sudah menjadi lakon hasil gubahan dari carangan, karena dhalang bebas melakukan improvisasi dengan gagrag yang baru sesuai selera dan kreativitas masing-masing dhalang. Di situlah apa yang dimaksud dengan kalimat ; dhalang ora kurang lakon, yakni dhalang mempunyai kebebasan untuk membuat carangan baru, serta sempalan maupun gagrag yang baru.

Sebagai contoh, lakon SBK versi gagrak Ki Hadi Sugito memperagakan tiga macam pusaka yakni tumbak korowelang, payung songsong tunggul nogo, dan serat jamus kalimosodo. Sedangkan gagrak Ki Seno Nugroho memperagakan satu pusaka yakni serat jamus kalimosodo. Pada diri dhalang futurolog, atau dhalang yang memiliki kemampuan melihat masa depan atau prediksi futuristik, seringkali melahirkan lakon sempalan dan gagrak baru, karena lakon yang dibawakan merupakan gambaran dari dinamika sosial-politik yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Dalang futurolog memainkan lakon di sekitar carangan, sempalan dan gagrak. Justru di situlah daya tariknya, sebab terkadang lakon yang sama tetapi pada saat dipentaskan muncul sempalan maupun gagrak baru. Itu yang harus dicermati oleh penonton yang hendak mengetahui kabar masa depan, melalui berbagai kalimat-kalimat dan kata-kata spontan yang terucapkan oleh dhalang. Anehnya seringkali dhalang tidak menyadari apa yang telah diucapkannya tadi. Itu sekaligus menjadi indikasi di mana saat-saat wingit dan sakral tengah berlangsung.

Pusaka

Dalam lakon atau lampahan SBK terdapat tiga macam pusaka yang menjadi fokus cerita yakni tumbak korowelang, payung songsong tunggul nogo, dan serat jamus kalimosodo. Masing-masing pusaka mempunyai nilai intrinsik sebagai kristalisasi filsafat Jawa tentang perilaku dan sikap hidup manusia Jawa.
Read the rest of this entry