Category Archives: JAVANESE TRADITION

Bubur Sengkala Di Saat Berlangsungnya Pagebluk

Kamis Pahing 16 April 2020
Dawuh Kanjeng Ratu Kidul, untuk membuat bubur sengkala. Antara malam ini 16 April 2020 dan atau sebelum tanggal 21 April. Kanjeng Ratu Kidul adalah entitas bidadari yang menjadi ratu (beliau bukan bangsa jin), beliau mempunyai tugas atau peran yakni ikut serta menjaga tata keseimbangan alam khsususnya di wilayah Jawa dan Nusantara pada umumnya.
Dawuh atau perintah tersebut kemudian diperjelas dan dipertegas oleh Nyi Ageng Nis. Nyi Ageng Nis adalah garwa Ki Ageng Nis. Atau Ibu dari Ki Ageng Pemanahan, atau Eyang Putri Kanjeng Panembahan Senopati.
Perintah supaya membuat bubur sengkala. Cara membuatya pun sederhana sekali. Bubur putih (dengan ditambahkan santan kelapa) dan bubur merah selain santan kelapa ditambahkan juga gula merah atau gula jawa. Keduanya ditambahkan sedikit garam. Kemudian disajikan seperti dalam gambar.
Bubur sengkala ini tujuannya adalah ;

Read the rest of this entry

SELAMAT DATANG SURA WIRADAT

Sugeng Warsa Enggal Tahun 1 Suro 1953 Taun Wawu

Bubur Suran

Bubur Suran

Bulan Sura tahun 1953 wawu ini secara kebetulan siklusnya berbarengan dengan tahun baru Hijriyah (1441 H), yakni tanggal 1 September 2019, neptu Minggu Wage (jumlah 9 jatuhnya lara atau sakit).
Seperti biasa, Ki Ageng Mangir Selalu memberikan petunjuk setiap datangnya bulan Sura. Kali ini, bulan Sura-nya adalah Sura Wiradat. Sekalipun bulan Sura tahun ini secara kodrat jatuh pada Minggu Wage, jika dihitung neptu hari jatuhnya kelara-lara atau (sakit/sakit-sakitan) tetapi semua itu masih diberikan kesempatan besar bagi siapapun untuk mewiradat, yakni memohon dispensasi atau keringanan, bahkan merubah kodrat yang kurang baik menjadi baik, atau yang berat menjadi ringan.

Tiba Lara & Tahun Wawu
Sura dengan neptu tiba lara, yang dimulai pada 1 September 2019, masih banyak orang yang akan merasakan kelara-lara. Kelara-lara hatinya, perasaannya atau fisiknya. Sedangkan Tahun Wawu, artinya tahun yang banyak abu. Abu bisa disebabkan oleh dua hal. Yakni karena kekeringan atau kemarau panjang. Atau disebabkan oleh banyaknya gunung api yang meletus. Tahun 1953 warsa wawu ini, bisa jadi Gunung Merapi dan Gunung Agung meletus dalam waktu yang hampir bersamaan. Tetapi saya yakin letusannya tidak akan sangat dahsyat seperti letusan Merapi pada tahun 2010 atau letusan Gunung Agung tahun 1963. Karena saya menyaksikan sendiri banyak leluhur bersama para Dewa Jawata sering melakukan ritual di Gunung Agung dan Gunung Merapi. Sehingga Gunung Agung yang sempat berada pada status awas, sebelum berakhir dengan letusan besar seperti perhitungan ilmiah, yang terjadi justru sebaliknya status Gunung Agung makin menurun hingga ke level II (waspada) dan berubah menjadi letusan sporadik, terjadi secara berkala namun dengan skala letusan yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Begitupun dengan Gunung Merapi yang tadinya Desember 2018 dapat meletus dahsyat sekali setelah siklus 4-5 tahunan nihil letusan. Terhitung sudah satu tahun lebih, hingga saat ini Merapi berada pada status level II atau Waspada (note ; level I aktif normal, level II waspada, level III siaga, level IV awas). Namun Merapi selalu mengeluarkan lelehan lava pijar dengan intensitas guguran lava pijar yang cukup, sehingga jika suatu waktu benar-benar meletus, kemungkinan besar tidak akan seperti letusan Merapi tahun 2010.

Bagaimana Cara Mewiradat Sura Kelara-Lara ?

(lebih…)

Malam Satu Sura 2018

Sura Pinunjul

Pada Rabu Kliwon 12 September 2018 akan memasuki fase Sura Pinunjul. Punjul artinya lebih, pinunjul artinya banyak kelebihannya. Tapi jatuhnya pada hari Rabu (7) Kliwon (8) dengan jumlah Neptu 15 yang berarti tibo pati. Sejauh yang bisa saya lihat, tahun 2018-2019 akan diwarnai pertaruhan dan pertarungan antara hidup dan mati, pada aras kehidupan pribadi orang per orang maupun dunia politik. Ada dua pilihan, mau memilih mukti atau memilih mati. Mukti memiliki makna sebagai suatu kehormatan, kemuliaan, kesuksesan, keselamatan dan kesejahteraan. Mati sebagai bentuk kiasan dari nasib buruk, kegagalan, celaka, kesengsaraan, bahkan benar-benar kematian secara fisik.

Read the rest of this entry

Daya Kekuatan Sedulur Papat

Daya kekuatan yang berasal dari “sedulur papat” mempunyai semacam spesifikasi sumber daya untuk mendapatkan rejeki, sandang dan pangan. Karena sesungguhnya yang mempunyai kebutuhan sandang pangan itu “sedulur papat“ yang merupakan metafisik (sesuatu yang ada di balik fisik) dari unsur raga. Unsur air, api, tanah, dan udara yang terdapat di dalam tubuh kita itu masing-masing mempunyai energi yang HIDUP dan ke-ADA-anya bersifat metafisik. Kebutuhan sandang pangan bukanlah kebutuhan jiwa seseorang. Kebutuhan manusia akan sandang dan pangan itu merupakan rahsaning karep atau keinginan ragawi yang tidak lain adalah kebutuhan halus dari “sedulur papat”. Rahsaning karep bersemayam di dalam lima panca-indera pada tubuh kita. Untuk mengidentifikasi dan membedakan dengan kebutuhan ragawi, kebutuhan jiwa manusia bukanlah kebutuhan sandang dan pangan, tetapi kebutuhan yang lebih tinggi dan halus dari itu semua misalnya ; kebutuhan akan rahsa ketentraman dan kedamaian hati (batin) dan termasuk kebutuhan akan spiritual. Ini yang sering saya sebut sebagai kareping rahsa sejati. Dengan penjelasan di atas, Saya berharap para pembaca yang budiman dapat lebih mudah memahami tulisan saya ini.

Read the rest of this entry

Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajèn)

Mengungkap Rahasia Sesaji (Sajèn)

Junction Opinion

Ada satu lagi pemahaman salah kaprah yang terlanjur diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat kita. Akibatnya bisa fatal, apalagi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan gaib. Sebab dapat mendiskreditkan kelompok tertentu, atau bahasa kasarnya menimbulkan fitnah. Saya istilahkan sebagai persepsi “sampah”, atau junk opinion. Timbulnya junk opinion ini disebabkan oleh beberapa hal misalnya :

  1. Kurangnya ilmu pengetahuan dan informasi mengenai suatu hal sehingga menyebabkan penilaian yang salah.
  2. Tidak memahami secara obyektif, yang disebabkan oleh sikap tidak suka terhadap suatu hal, sehingga menimbulkan penilaian yang tendensius menyudutkan kelompok tertentu.
  3. Orang tidak mengalami, tidak melakukan, dan tidak memahami suatu hal. Melainkan hanya menerima apa adanya, taken for granted, tetapi buru-buru dianggap sebagai suatu informasi yang benar. Misalnya kita memahami suatu hal tetapi referensinya sangat lemah, hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Atau “katanya”, Jawa: ujare, Sunda : ceunah ceuk ceunah.

Opini “sampah” dapat berkembang pesat  menjadi opini masyarakat (public opinion) apabila didukung oleh kepentingan kelompok (vested interest), kekuatan dan kekuasaan politik melalui media massa menjadi “kampanye hitam” (black champagne) yang bersifat masif. Bentuk-bentuk “kampanye hitam”, entah disadari atau tidak seringkali dilakukan oleh media massa, media elektronik seperti tayangan hiburan dan misteri di beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia.

Satu contoh yang akan saya kemukakan pada kesempatan kali ini mengenai opini  “sampah” tentang sesaji. Memberikan sesaji dengan serta merta dianggap perbuatan hina, musrik, dosa dengan tuduhan memuja setan. Orang yang membuat sesaji dianggap sebagai orang yang tunduk, kalah, dan mau menjadi budak setan. Ini benar-benar opini “sampah” yang telah menyesatkan umat manusia selama puluhan tahun. Untuk itu masilah kita urai satu persatu tentang rahasia sesaji.

Nilai Esensial Sesaji Read the rest of this entry