Category Archives: OPINI BEBAS

WABAH BARU ; GAGAL PAHAM SECARA MASSAL

KALAU SEMUA ORANG MIKIRNYA SEPERTI INI TENTU TIDAK ADA LAGI POLEMIK MUDIK & PULANG KAMPUNG

Seharusnya sebagai manusia yang berfikir kita sudah paham apa sesungguhnya yang dimaksud oleh pemerintah dengan memilah dan membuat pemaknaan baru antara kosa kata mudik dan pulang kampung. Tapi saya melihat sebagian masyarakat kita kesulitan untuk menangkap apa yang dimaksud oleh pemerintah soal mudik dan pulkam. Bahkan sempat melihat kecenderungan adanya penggiringan opini publik yang mungkin targetnya adalah mencitrakan Pemerintah kita yang bodoh. Hingga tokoh publik sekelas sekelas Najwa Sihab saja tampak gemes ingin “menguliti” Pak Jokowi dengan adanya polemik soal mudik dan pulkam. Saya tegaskan ya, Anda jangan salah paham, saya menulis artikel ini bukan sedang membangun opini publik, atau sedang melakukan mobilisasi politik. Tapi saya terusik dengan adanya “wabah” lama berupa “virus” Brain Fog yang menggerogoti otak manusia. Brain Fog atau lebih familiar masyarakat menyebutnya TELMI atau telat mikir. Saya kira sudah sedemikian parah virus telmi menjangkiti sebagian warga negara Indonesia saat ini. Kalau ada yang tersinggung dengan ucapan saya, soal brain fog, jangan salahkan kalau kemudian orang mecurigai memang ada unsur kesengajaan untuk menggiring opini publik, dengan target mempermalukan pemerintah sebagai pemerintahan yang bodoh. Tapi pada tulisan ini saya tidak ingin melihat persoalan ini dengan perspektif politik. Saya konsisten melihatnya dari kacamata spiritual dan psikososial saja. Bahwa adanya reaksi masyarakat yang mendiskreditkan pemerintah, telah mengindikasikan bahwa di masyarakat kita sedang terjadi masalah yang kronis. Memahami sesuatu yang sederhana saja kesannya kesulitan sekali. Lantas seberapa mampu jika dihadapkan dengan masalah yang berat ?

PAGEBLUK DUNIA ; APA SESUNGGUHNYA YANG TERJADI ? (I)


Saudara-saudara sekalian di seluruh tanah air. Pada saat saya menulis artikel ini tanggal 5 April 2020, pandemic global mencatat 1.204.069 kasus, dengan 64.883 kematian dan pasien sembuh 250.066 orang. Wabah telah menyebar ke 202 teritorial di seluruh planet bumi ini. Di mana negara Amerika Serikat telah menjadi pusat penyebaran wabah Covid-19 atau dikenal dengan virus corona baru SARS-CoV 2. Terdapat 312.253 kasus di Amerika, disusul Spanyol dengan 126.168 kasus, kemudian Italy dengan 124.884, Jerman 96.109 kasus, Perancis 89.953 kasus. Dan China mencatat 81.669 kasus. Iran 55.743 kasus, Inggris 41.903 kasus, Turki 23.934 kasus. Sementara itu kasus di Indonesia telah mencapai 2.092 kasus, di bawah Malaysia dengan 3.483 kasus, Arab Saudi dengan 2.370 kasus dan Thailand 2.160 kasus. Dst. Daratan Eropa dan Amerika saat ini menjadi pusat pandemic, sedangkan negara-negara Asia dan Afrika terjadi penyebaran lebih lambat. Mungkin perbedaan ini disebabkan oleh faktor mobilitas penduduknya yang berbeda di bandingkan dengan mobilitas penduduk negara-negara berkembang dan negara miskin yang relatif lebih lambat. Namun kami di sini tidak akan membahas soal penyebaran wabah, tetapi akan memfokuskan pembahasan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan wabah yang ditanyakan oleh sedulur-sedulur dari berbagai penjuru wilayah melalui email saya. Berhubung saya tidak cukup waktu untuk membalas setiap email masuk yang jumlahnya puluhan kadang lebih dari seratus setiap 24 jam, maka saya perlu membuat posting ini sekaligus untuk merespon pertanyaan melalui email yang telah saya terima, yang kebanyakan bernada sama. Saya hanya akan akan menjawab pertanyaan yang bisa saya jawab dan yang memungkinkan saya memberikan jawaban secara publik atau terbuka.

Kita semua tahu pandemic global selain telah merenggut puluhan ribu jiwa, juga telah melumpuhkan sektor ekonomi dunia dan menimbulkan kerugian sangat besar dalam sistem keuangan negara maupun personal. Namun saya akan mencoba melihat dari sudut pandang positif. Saya melihat ada keuntungan sangat besar di balik wabah dunia di waktu sekarang dan mungkin pada waktu yang akan datang. Coba kita cermati di kota-kota besar dengan mudah kita menyaksikan udara yang relatif bersih dari polutan. Kita bisa memandang langit biru yang tampak bersih, tidak seperti hari-hari sebelum mayoritas orang mengisolasi diri di rumah masing-masing. Sebelum wabah merebak di Indonesia, kita mudah melihat polusi asap kendaraan dan pabrik membumbung ke angkasa dengan jumlah ratusan ton polutan setiap harinya. Bahkan telinga kita tak pernah mendapat jeda mendengarkan polusi suara yang berasal dari deru mesin di jalan raya. Saat berada di dalam gedung, sadar atau tidak telinga kita menerima getaran suara arus listrik yag berasal dari berbagai peralatan kantor maupun peralatan rumah tangga. Suasana seumpama jaringan listrik mandi mendadak. Dalam sekejap telinga kita merasakan keheningan luar biasa nyamannya.

MANUSIA HARUS KEMBALI MENJADI MANUSIA

 

Read the rest of this entry

Sura Nyalawadi

Tapa Kungkum

Satu Sura tahun ini menurut kalender Nasional jatuh pada hari Kamis Paing tanggal 15 Oktober 2015 atau 1 Sura 1949 Jimawal. Menurut kalender yang dikeluarkan oleh Kraton Pura Mangkunegaran Solo, serta kalender Çaka atau tahun Saka yang digunakan oleh masyarakat Bali, satu Sura jatuh pada hari Selasa Kliwon tanggal 13 Oktober 2015. Bertepatan dengan satu Sura, Ki Ageng Mangir Wonoboyo memerintahkan untuk tapa kungkum (berendam) di muara sungai yang bertemu dengan laut kidul. Perintah itu untuk dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon tanggal 12 Oktober 2015 (malam satu Sura versi leluhur). Dawuh dilanjutkan oleh Kanjeng Panembahan Senopati untuk melaksanakan pisowanan agung saat wilujengan malem Jumat Pon di Pasarean Agung Raja-Raja Mataram Kotagede.

Setelah kami awali dengan menempa fisik dengan berlari menyusuri tepi pantai di siang hari yang panas terik, kondisi pasir yang panas setelah disangrai matahari, dan keadaan pasir yang labil terasa berat untuk menapakkan telapak kaki saat berlari. Itu tempat yang ideal untuk menempa fisik. Namun yang lebih penting pada agenda kali ini, tapa kungkum kami gunakan sebagai sarana untuk mendinginkan lahir dan batin, menggembleng diri, serta mengolah nafas di dalam air dengan beberapa jurus dasar, dilanjutkan dengan olah semedi. Dalam keheningan olah pasamaden kita bersukur kepada Sang Hyang Jagadnata atas segala berkah dan anugrah selama ini. Dan mohon agar senantiasa mampu menjadi manusia yang bèrbudi bawa leksana (sugih ati/murah hati, santun kepada alam dan sesama), menjadi pribadi yang sugih ngelmu, dan tentu saja sugih banda. Dengan sugih banda anda dapat melakoni prihatin level tinggi, yakni dapat beramal (dengan harta) kepada orang-orang yang tepat untuk ditolong.

Philosopy of Tapa Kungkum

Tapa Kungkum

Tapa kungkum dalam tradisi Jawa sebagai upaya menyelaraskan diri dengan beberapa elemen alam yakni elemen air yang terdiri dari air tawar sungai, air asin laut (baruna). Menyelaraskan dengan elemen bumi (bantala), dan elemen udara (bayu/maruta). Pada saat alam sedang mengalami kekeringan dengan tebaran hawa panas dan elemen api (agni) yang sedang mengamuk membakar hutan di berbagai wilayah Nusantara ini sangat tepat dilakukan tapa kungkum. Seiring dengan itu, pengaruhnya pada jagad alit (mikrokosmos) sangat terasa. Elemen api (hawa nafsu/setan) dalam diri manusia saat ini sedang bergolak hebat. Implikasinya terjadi amarah, emosi, kebencian, dan keserakahan sedang membakar elemen-elemen “dingin” dalam diri manusia. Itulah sebabnya, tapa kungkum juga bermakna sebagai salah satu teknik untuk mengevaluasi diri, untuk lebih mawas diri, lebih menyeimbangan empat elemen alam (air, udara, tanah, api) dalam diri manusia. Pengendalian elemen api yang mendorong rahsaning karep (hawa nafsu) menjadi fokus dalam attunment dulur-dulur KKS kali ini. Itu penting dilakukan agar kita selalu bersikap eling dan waspada terutama pada saat memasuki fase Sura Nyalawadi selama satu tahun pada tahun 1949 Jimawal ini.

Read the rest of this entry

Selamat Datang Sura Pinunjul

Rembulan malamSebentar lagi tahun Jawa 1947 Alip gunung dengan sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad akan segera berlalu. Sebelum meninggalkan tahun 1947 saya coba sampaikan sedikit ulasan sebagai evaluasi. Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai peristiwa dan fenomena alam yang telah terjadi selama tahun 1947 Alip  atau 5 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Sebelum mengulas Sura Pinunjul yang akan datang saya perlu flashback karena di antara kedua fase yang sedang berlangsung dan yang akan datang saling berkaitan erat secara runtut. Sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad mempunyai makna ganda yang meliputi dimensi makrokosmos dan mikrokosmos. Yakni makna yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada alam semesta dan pada individu manusia. Panca agni dalam dimensi mikrokosmos atau diri manusia mempunyai makna bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi kobaran “api” atau hawa nafsu angkara dari dalam diri manusia. Bergolaknya kobaran “api” itu telah membakar emosi dan hawa nafsu manusia. Kobaran itu lebih dirasakan dalam kancah politik makro. Di mana dinamika politik diwarnai dengan gejolak manusia untuk berkuasa dan saling memukul lawan, maupun “kawan”. Dalam scope yang lebih luas, “api” hawa nafsu telah “menembus bumi”, menyeruak sendi-sendi kehidupan sosial dan politik masyarakat. Hilangnya rasa malu dan takut dosa atau karma menjadi gambaran (sebagian)  manusia masa kini. Bahkan sangat ironis lambaian tangan dan senyum manis seolah menjadi ikon para pejabat koruptor yang sedang ditangkap KPK. Seolah mereka ingin membuat kesan dan pencitraan bahwa dirinya tetap pede karena menganggap penangkapan KPK sebagai hal yang lucu karena telah salah menangkap orang.

Sangat ironis, sepertinya orang sudah tidak ada lagi yang  merasa telah melakukan kesalahan besar atas bangsa dan negara ini. Dalih yang lazim dilakukan oleh para tersangka kejahatan penyalahgunaan wewenang adalah kata-kata bernada menyalahkan orang lain, misalnya akibat difitnah, dijebak atau terjebak. Tapi rakyat yang tak berdaya secara politik, tetap semakin pandai menilai keadaan sesungguhnya.

Bulan Sura tahun 1947 Alip atau 2014 masehi yang masih berjalan, masuk dalam siklus Sura Moncer, akan tetapi hari pertamanya jatuh pada weton tiba pati. Itu yang menjadi terasa berat sekali dalam meraih kehidupan “moncer” (sukses atau mukti). Bahkan bagi yang lengah, bukannya kamukten dan moncer yang didapat sebaliknya mendapatkan pati. Pati nasibnya, atau pati kesehatannya.

Itu menandakan, sesungguhnya selama tahun 1947 Alip, Nusantara dan setiap pribadi sedang berproses meraih kehidupan yang “moncer” atau sukses. Akan tetapi untuk mencapai tataran “moncer” orang harus melewati rintangan berat dan mematikan. Mati artinya bisa mati fisiknya atau mati non-fisiknya. Mati fisiknya adalah kematian raga. Mati non fisik di antaranya kematian nasib, kematian pola pikir, kematian jiwanya.  Sebagaimana telah saya posting setahun yang lalu dengan judul Sura Moncer 2014: Mukti Opo Mati. Kiprah manusia dalam kancah sosial, ekonomi, dan politik, didominasi oleh unsur api dari dalam diri atau hawa nafsu dan angkara murka. Dan api dari alam semesta, berupa sinar matahari yang terasa sangat panas, gunung berapi, semburan api dari dalam tanah, kebakaran hutan, hawa panas, terjadi silih berganti dengan banjir besar dan hujan salah musim. Selama fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad pada kenyataannya telah makan banyak korban. Sing sapa lena bakal kena, siapa yang kendor untuk bersikap eling dan waspada akan menerima akibatnya. Banyak politisi dan pejabat tumbang oleh kasus dan karena tidak mampu meredam sikap temperamennya sendiri. Bahkan dalam menjalankan kehidupan politik bernegara, Indonesia boleh dikatakan kurang sukses melaksanakan suksesi dengan menuai berbagai sikap pro-kontra yang cukup tajam.

Fase saat ini adalah fase jagad sedang bersih-bersih diri. Banyak tokoh-tokoh “hitam” yang dominan muncul meramaikan panggung politik Nasional. Kualitas legislatif dan eksekutif yang baru terpilih sangat beresiko lebih buruk dari sebelumnya. Hal itu wajar karena memang fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad ini merupakan fase untuk bersih-bersih dari yang kotor-kotor. Barulah kemudian akan tampil sang SP sejati. Apapun yang terjadi nanti, sebentar lagi siklus tahun Jawa akan berganti. Yakni warsa 1948 Ehe yang akan dimulai pada Sabtu Pahing 25 Oktober 2014. Diawali dengan bulan Sura Pinunjul yang jatuh pada hari Sabtu Pahing (18) atau tiba gedhong (kesinungan sugih dan kuat nyunggi drajat) merupakan momentum perubahan lebih baik lagi untuk kita semua.

Bethara Antaga jadi Ratu

Read the rest of this entry

Semoga Negeriku Dinaungi dari Marabahaya Besar

Selamat pagi sedulur pembaca blog seluruh Nusantara apapun agama, suku, sesembahan dan pandangan politiknya. Berikut ini saya persembahkan instrumen dan Jawa. Dengan harapan semoga berguna untuk coolingdown, bikin hati ayem tentrem, batin jenjem jinem. Yang penting kita selalu ingat, kita semua masih satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Ada yang lebih utama dalam kehidupan ini ketimbang seorang presiden. Yakni jatidiri sebagai berkah agung yang ada di Nusantara. Marilah terutama saat ini kita perbanyak berkarya seni, berapresiasi seni, dan berbudaya adiluhung Nusantara agar tercipta situasi dan kondisi yang tata titi tentrem kerta raharja. Semakin sering kita alunkan musik tradisional masing-masing daerah dan kidung-kidung mantera, agar energinya selaras dengan spesifikasi karakter alam Nusantara. Supaya alam selalu berpihak kepada kita semua generasi bangsa. Setidaknya hal itu akan mengurangi beboyogung soko alam opodene jalma manungsa kang wus katon ing pralampita. Panca agni (5 hawa napsu angkara) sudah mulai berkobar, selalu disusul Sapta Tirta, saling bergantian. Sapta Tirta pada saat ini pun sedang menembus bumi Nusantara. Mugi-mugi sedulur sedaya, ugi sagung titah dumadi tansah pinaringan karahayon dan kabegjan.

Berikut ini Palaran Asmaradana pelog 6
http://www.4shared.com/mp3/PLWi7oALba/Instrumen_palaran_asmaradana_s.html

Berikut Kidung Mantera Jatimulyo.
http://www.4shared.com/mp3/3hK8BEADba/Kidung_Mantra_JatimulyoKi_Sabd.html

Ana kidung sun angidung wengi
Bebaratan duk amrem winaca
Sang Hyang Guru pangadeke
Lumaku Sang Hyang Bayu
Alambeyan asmara ening
Ngadek pangawak teja
Kang angidung iku
Yen kinarya angawula
Myang lelungan Gusti

Gething dadi asih
Setan sato sumimpang

Kegunaan kidung jatimulya ini antara lain :
1. Untuk tolak balak, termasuk niat jahat dari orang lain.
2. Untuk pengobatan yang sedang menderita sakit.
3. Bila melakukan slametan, upacara diawali atau dibuka dengan mantera kidung Jatimulya ini akan mendapat kemuliaan dalam hal derajat pangkat. Monggo untuk yang percaya saja. Yang tidak percaya tidak perlu membuat olok-olok. Cukup diam saja, itu akan lebih menunjukkan budi pekerti luhur Anda.

Dan satu lagi tembang cuplikan Serat Wedatama pupuh Pangkur podo kaping 12 :

Sapantuk wahyuning Alah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil

Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Manunggal kalawan Gustinira (menyatunya roh jagad alit dengan Roh Jagad Agung)

http://www.4shared.com/mp3/Vo345h20ba/Tembang_pangkur_wanaran_pl_6_s.html