Category Archives: OPINI BEBAS

Sura Nyalawadi

Tapa Kungkum

Satu Sura tahun ini menurut kalender Nasional jatuh pada hari Kamis Paing tanggal 15  Oktober 2015 atau 1 Sura 1949 Jimawal. Menurut kalender yang dikeluarkan oleh Kraton Pura Mangkunegaran Solo, serta kalender Çaka atau tahun Saka yang digunakan oleh masyarakat Bali, satu Sura jatuh pada hari Selasa Kliwon tanggal 13 Oktober 2015. Bertepatan dengan satu Sura, Ki Ageng Mangir Wonoboyo memerintahkan untuk tapa kungkum (berendam) di muara sungai yang bertemu dengan laut kidul. Perintah itu untuk dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon tanggal 12 Oktober 2015 (malam satu Sura versi leluhur).  Dawuh dilanjutkan oleh Kanjeng Panembahan Senopati untuk melaksanakan pisowanan agung saat wilujengan malem Jumat Pon di Pasarean Agung Raja-Raja Mataram Kotagede.

            Setelah kami awali dengan menempa fisik dengan berlari menyusuri tepi pantai di siang hari yang panas terik, kondisi pasir yang panas setelah disangrai matahari, dan keadaan pasir yang labil terasa berat untuk menapakkan telapak kaki saat berlari. Itu tempat yang ideal untuk menempa fisik. Namun yang lebih penting pada agenda kali ini, tapa kungkum kami gunakan sebagai sarana untuk mendinginkan lahir dan batin, menggembleng diri, serta mengolah nafas di dalam air dengan beberapa jurus dasar, dilanjutkan dengan olah semedi. Dalam keheningan olah pasamaden kita bersukur kepada Sang Hyang Jagadnata atas segala berkah dan anugrah selama ini. Dan mohon agar senantiasa mampu menjadi manusia yang bèrbudi bawa leksana (sugih ati/murah hati, santun kepada alam dan sesama), menjadi pribadi yang sugih ngelmu, dan tentu saja sugih banda. Dengan sugih banda anda dapat melakoni prihatin level tinggi, yakni dapat beramal (dengan harta) kepada orang-orang yang tepat untuk ditolong.

Philosopy of Tapa Kungkum

Tapa KungkumTapa kungkum dalam tradisi Jawa sebagai upaya menyelaraskan diri dengan beberapa elemen alam yakni elemen air yang terdiri dari air tawar sungai, air asin laut (baruna). Menyelaraskan dengan elemen bumi (bantala), dan elemen udara (bayu/maruta). Pada saat alam sedang mengalami kekeringan dengan tebaran hawa panas dan elemen api (agni) yang sedang mengamuk membakar hutan di berbagai wilayah Nusantara ini sangat tepat dilakukan tapa kungkum. Seiring dengan itu, pengaruhnya pada jagad alit (mikrokosmos) sangat terasa. Elemen api (hawa nafsu/setan) dalam diri manusia saat ini sedang bergolak hebat. Implikasinya terjadi amarah, emosi, kebencian, dan keserakahan sedang membakar elemen-elemen “dingin” dalam diri manusia. Itulah sebabnya, tapa kungkum juga bermakna sebagai salah satu teknik untuk mengevaluasi diri, untuk lebih mawas diri, lebih menyeimbangan empat elemen alam (air, udara, tanah, api) dalam diri manusia. Pengendalian elemen api yang mendorong rahsaning karep (hawa nafsu) menjadi fokus dalam attunment dulur-dulur KKS kali ini. Itu penting dilakukan agar kita selalu bersikap eling dan waspada terutama pada saat memasuki fase Sura Nyalawadi selama satu tahun pada tahun 1949 Jimawal ini.
Read the rest of this entry

Selamat Datang Sura Pinunjul

Rembulan malamSebentar lagi tahun Jawa 1947 Alip gunung dengan sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad akan segera berlalu. Sebelum meninggalkan tahun 1947 saya coba sampaikan sedikit ulasan sebagai evaluasi. Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai peristiwa dan fenomena alam yang telah terjadi selama tahun 1947 Alip  atau 5 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Sebelum mengulas Sura Pinunjul yang akan datang saya perlu flashback karena di antara kedua fase yang sedang berlangsung dan yang akan datang saling berkaitan erat secara runtut. Sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad mempunyai makna ganda yang meliputi dimensi makrokosmos dan mikrokosmos. Yakni makna yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada alam semesta dan pada individu manusia. Panca agni dalam dimensi mikrokosmos atau diri manusia mempunyai makna bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi kobaran “api” atau hawa nafsu angkara dari dalam diri manusia. Bergolaknya kobaran “api” itu telah membakar emosi dan hawa nafsu manusia. Kobaran itu lebih dirasakan dalam kancah politik makro. Di mana dinamika politik diwarnai dengan gejolak manusia untuk berkuasa dan saling memukul lawan, maupun “kawan”. Dalam scope yang lebih luas, “api” hawa nafsu telah “menembus bumi”, menyeruak sendi-sendi kehidupan sosial dan politik masyarakat. Hilangnya rasa malu dan takut dosa atau karma menjadi gambaran (sebagian)  manusia masa kini. Bahkan sangat ironis lambaian tangan dan senyum manis seolah menjadi ikon para pejabat koruptor yang sedang ditangkap KPK. Seolah mereka ingin membuat kesan dan pencitraan bahwa dirinya tetap pede karena menganggap penangkapan KPK sebagai hal yang lucu karena telah salah menangkap orang.

Sangat ironis, sepertinya orang sudah tidak ada lagi yang  merasa telah melakukan kesalahan besar atas bangsa dan negara ini. Dalih yang lazim dilakukan oleh para tersangka kejahatan penyalahgunaan wewenang adalah kata-kata bernada menyalahkan orang lain, misalnya akibat difitnah, dijebak atau terjebak. Tapi rakyat yang tak berdaya secara politik, tetap semakin pandai menilai keadaan sesungguhnya.

Bulan Sura tahun 1947 Alip atau 2014 masehi yang masih berjalan, masuk dalam siklus Sura Moncer, akan tetapi hari pertamanya jatuh pada weton tiba pati. Itu yang menjadi terasa berat sekali dalam meraih kehidupan “moncer” (sukses atau mukti). Bahkan bagi yang lengah, bukannya kamukten dan moncer yang didapat sebaliknya mendapatkan pati. Pati nasibnya, atau pati kesehatannya.

Itu menandakan, sesungguhnya selama tahun 1947 Alip, Nusantara dan setiap pribadi sedang berproses meraih kehidupan yang “moncer” atau sukses. Akan tetapi untuk mencapai tataran “moncer” orang harus melewati rintangan berat dan mematikan. Mati artinya bisa mati fisiknya atau mati non-fisiknya. Mati fisiknya adalah kematian raga. Mati non fisik di antaranya kematian nasib, kematian pola pikir, kematian jiwanya.  Sebagaimana telah saya posting setahun yang lalu dengan judul Sura Moncer 2014: Mukti Opo Mati. Kiprah manusia dalam kancah sosial, ekonomi, dan politik, didominasi oleh unsur api dari dalam diri atau hawa nafsu dan angkara murka. Dan api dari alam semesta, berupa sinar matahari yang terasa sangat panas, gunung berapi, semburan api dari dalam tanah, kebakaran hutan, hawa panas, terjadi silih berganti dengan banjir besar dan hujan salah musim. Selama fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad pada kenyataannya telah makan banyak korban. Sing sapa lena bakal kena, siapa yang kendor untuk bersikap eling dan waspada akan menerima akibatnya. Banyak politisi dan pejabat tumbang oleh kasus dan karena tidak mampu meredam sikap temperamennya sendiri. Bahkan dalam menjalankan kehidupan politik bernegara, Indonesia boleh dikatakan kurang sukses melaksanakan suksesi dengan menuai berbagai sikap pro-kontra yang cukup tajam.

Fase saat ini adalah fase jagad sedang bersih-bersih diri. Banyak tokoh-tokoh “hitam” yang dominan muncul meramaikan panggung politik Nasional. Kualitas legislatif dan eksekutif yang baru terpilih sangat beresiko lebih buruk dari sebelumnya. Hal itu wajar karena memang fase sinengkalan tahun sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad ini merupakan fase untuk bersih-bersih dari yang kotor-kotor. Barulah kemudian akan tampil sang SP sejati. Apapun yang terjadi nanti, sebentar lagi siklus tahun Jawa akan berganti. Yakni warsa 1948 Ehe yang akan dimulai pada Sabtu Pahing 25 Oktober 2014. Diawali dengan bulan Sura Pinunjul yang jatuh pada hari Sabtu Pahing (18) atau tiba gedhong (kesinungan sugih dan kuat nyunggi drajat) merupakan momentum perubahan lebih baik lagi untuk kita semua.

Bethara Antaga jadi Ratu

Read the rest of this entry

Semoga Negeriku Dinaungi dari Marabahaya Besar

Selamat pagi sedulur pembaca blog seluruh Nusantara apapun agama, suku, sesembahan dan pandangan politiknya. Berikut ini saya persembahkan instrumen dan Jawa. Dengan harapan semoga berguna untuk coolingdown, bikin hati ayem tentrem, batin jenjem jinem. Yang penting kita selalu ingat, kita semua masih satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Ada yang lebih utama dalam kehidupan ini ketimbang seorang presiden. Yakni jatidiri sebagai berkah agung yang ada di Nusantara. Marilah terutama saat ini kita perbanyak berkarya seni, berapresiasi seni, dan berbudaya adiluhung Nusantara agar tercipta situasi dan kondisi yang tata titi tentrem kerta raharja. Semakin sering kita alunkan musik tradisional masing-masing daerah dan kidung-kidung mantera, agar energinya selaras dengan spesifikasi karakter alam Nusantara. Supaya alam selalu berpihak kepada kita semua generasi bangsa. Setidaknya hal itu akan mengurangi beboyogung soko alam opodene jalma manungsa kang wus katon ing pralampita. Panca agni (5 hawa napsu angkara) sudah mulai berkobar, selalu disusul Sapta Tirta, saling bergantian. Sapta Tirta pada saat ini pun sedang menembus bumi Nusantara. Mugi-mugi sedulur sedaya, ugi sagung titah dumadi tansah pinaringan karahayon dan kabegjan.

Berikut ini Palaran Asmaradana pelog 6
http://www.4shared.com/mp3/PLWi7oALba/Instrumen_palaran_asmaradana_s.html

Berikut Kidung Mantera Jatimulyo.
http://www.4shared.com/mp3/3hK8BEADba/Kidung_Mantra_JatimulyoKi_Sabd.html

Ana kidung sun angidung wengi
Bebaratan duk amrem winaca
Sang Hyang Guru pangadeke
Lumaku Sang Hyang Bayu
Alambeyan asmara ening
Ngadek pangawak teja
Kang angidung iku
Yen kinarya angawula
Myang lelungan Gusti

Gething dadi asih
Setan sato sumimpang

Kegunaan kidung jatimulya ini antara lain :
1. Untuk tolak balak, termasuk niat jahat dari orang lain.
2. Untuk pengobatan yang sedang menderita sakit.
3. Bila melakukan slametan, upacara diawali atau dibuka dengan mantera kidung Jatimulya ini akan mendapat kemuliaan dalam hal derajat pangkat. Monggo untuk yang percaya saja. Yang tidak percaya tidak perlu membuat olok-olok. Cukup diam saja, itu akan lebih menunjukkan budi pekerti luhur Anda.

Dan satu lagi tembang cuplikan Serat Wedatama pupuh Pangkur podo kaping 12 :

Sapantuk wahyuning Alah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil

Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Manunggal kalawan Gustinira (menyatunya roh jagad alit dengan Roh Jagad Agung)

http://www.4shared.com/mp3/Vo345h20ba/Tembang_pangkur_wanaran_pl_6_s.html

Eling Lan Waspadha Agar Meraih Moncer 2014

Sesuai dengan sinengkalan tahun 2014 ini : “sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad“. Tujuh arah/sumber adanya air akan menembus bumi, membenamkan daratan. Dan Lima sumber api dari dalam bumi, udara maupun matahari, akan mengularkan semburan panas menerpa permukaan bumi, daratan Nusantara. Banjir, panas, gunung meletus, tanah longsor, dan air laut. Samudra lir kinebur kinoclak-koclak. Bumi gonjang-ganjing, kilat thatit mangampar. Cleret taun udan barat makempra. Itu bukan sekedar latah dan ada dalam suluk pedhalangan mengawali suatu fase perubahan (goro-goro). Kedua unsur alam yg bertolak-belakang sifat akan bersama-sama meruwat atau membersihkan bumi (Nusantara) agar Nusantara pantas menerima anugrah MONCER di tahun 2014. Jika melihat tanda-tandanya yang tersirat dalam bahasa alam, banjir di Jakarta dan berbagai wilayah Indonesia saat ini, barulah PERMULAAN saja. Alangkah baiknya BMKG tidak meremehkan dan menganggap peringatan dan prediksi situasi bahaya sebagai hoax saja. Lebih baik cermati dan bersikaplah hati-hati, sebab hal itu jauh lebih baik daripada sedikit-sedikit menghubungkannya dengan klenik dan selalu menganggap sepele sesuatu yang dianggap tidak masuk akal. Cobalah instropeksi, siapa tahu nalar Anda yang tidak cukup bekal untuk menganalisa situasi dan kondisi secara logis dan ilmiah. Monggo samya eling lan waspada murih nemu begja, mulya, lan rahayu. Hanggayuh moncer ing taun 2014.

Hari ini Senin Wage 20 Januari 2014 (11:07)
Pralampita Eyang Sinuhun HB II
Kepada sedulur semua, para putraputri kinasih, sedulur kadangkadeyan di manapun berada. Mohon untuk menyiapkan garam kasar (uyah grasak/krokos) dicampur beras. Kedua bahan dicampur dengan perbandingan 1:1 misalnya 1 sendok makan garam dicampur 1 sendok makan beras putih, dimasukkan ke dalam satu bungkus kantong plastik kecil. Buatlah persediaan yg banyak. Masukkan bingkisan-bingkisan kecil itu ke dalam tas, letakkan di dalam mobil, di bawah jok sepeda motor, letakkan juga di teras atau dalam rumah. Bekali diri, anak-anak, cucu, seluruh anggota keluarga ke manapun sedang pergi. Keadaan akan sangat berat dan bahaya. Sampun kepareng lirwo, poro putra putri sadarum. Khususipun kagem sedaya kadangkadeyan, putra putri ing wilayah Jakarta dan sekitarnya ojo nganti ono sing ora percoyo lan ngremehake.
Wilujeng rahayu kang tinemu, bandha lan begja kang teka saking kersaning Gusti Hyang
Jagadnata.

Poro Sedulur khususnya yang tinggal di Jakarta, Pati, Kudus, Jepara, Manado, Indramayu dll. Biarpun banjir khususnya di Jakarta disebabkan karena ulah para pengelola negeri. Dan banjir ini sebagai hukuman buat keserakahan manusia pengelola negeri yang sungguh tidak memahami sejatining urip. Tapi kita sadar dampaknya melanda semua pihak yang bersalah maupun tidak bersalah.

Pesan saya bagi poro sedulur tetaplah sabar, tulus, teguh hati berkorban, nglakoni lelakon prihatin walau sedulur-sedulur bukanlah pelaku kejahatan terhadap negeri tercinta ini. Ketulusan, ketabahan dan kesabaran itu akan menjadi sebuah pengorbanan laku prihatin yang berarti. Dengan pengorbanan itu alam semesta, Roh Jagad Agung tidak akan menyia-nyiakan. Pasti hukum alam semesta akan memberikan hukum timbal balik dengan seadil-adilnya. Setiap pengorbanan laku prihatin pasti akan ada dampak positif utk kelangsungsn hidup yang lebih baik dan mulya di hari berikutnya. Sedulur-sedulur pembaca yang budiman di manapun berada akan selalu mendampingi dengan kekuatan energi rahsa sejati dari manapun berada, dari tempat-tempat, wilayah, dan daerah yang aman.
Pandito kinaryo wangsit, sebdane pujonggo, dadi gapuraning warana Sang Hyang Jagadnata. Mugya dadosaken Idayah Sengoro.

20140120-123204.jpg

Semoga Keselamatan Menaungi Seluruh Mahluk

Menghimbau kepada seluruh SEDULURKU SEMUA di Jawa khususnya,
dan di Nusantara pada umumnya. Agar lebih waspada dan hati-hati, sampai tanggal
30 Desember 2012. Agar kita semua terhindar dari segala macam bencana
dan malapetaka darimanapun datangnya yang tidak menutup kemungkinan bisa terjadi.
Bagi masyarakat Jawa di pulau jawa dan di manapun berada, usahakan sesegera mungkin membuat SAYUR LODEH dengan menggunakan bahan-bahan 7 macam sayuran kemudian dimakan seluruh anggota keluarga. Jika tidak sempat usahakan membuat teh dan kopi tubruk, kembang setaman atau seadanya paling tidak 3 macam bunga. Kemudian disajikan di meja makan atau ruang tamu. Untuk masyarakat suku bangsa lainnya bisa melakukan uapacara atau tradisi selamatan alam sesuai budaya dan tradisi masing-masing suku bangsa.

Seyogyanya kita semua tak perlu berkacak pinggang, tak perlu berebut merasa paling benar, tak perlu lagi saling menyalahkan, marilah kita semua sebagai sama-sama mahluk Tuhan, selalu bersikap rendah hati, tundukkan kepala dalam hening cipta dan karsa. Untuk selalu melantunkan ucapan doa, mantra, maneges puji-pujian kepada alam semesta Sang Hyang Jagadnata semampu kita masing-masing. Satukan dalam hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Semoga seluruh mahluk dalam naungan berkah dan keselamatan Sang Jagadnata. Harapan kami semuanya akan berlangsung baik-baik saja, selamat tak kurang suatu apapun juga.

Doa kami untuk semua, untuk seluruh pembaca yang budiman, untuk bangsa Indonesia dan seluruh mahluk, WILUJENG RAHAYU KANG TINEMU, BONDO LAN BEJA KANG TEKO, SAKING KERSANING SANG HYANG JAGADNOTO.