Category Archives: Di Penghujung Lorong Yang Kotor dan Rusak

Di Penghujung Lorong Yang Kotor dan Rusak

Menukik ke dasar jurang

Dahulu kala, Nusantara diumpamakan sebagai negeri tempatnya para Dewa bersemayam. Negeri nan indah, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata-titi tentrem kertaraharja.  Samudra dan daratan yang luas, gunung berapi, lembah nan hijau, hutan belantara. Negeri yang kaya mineral dan hangat dalam rengkuhan sinar matahari. Semua itu menjadikan Nusantara bagaikan gudang kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan makhluk di planet bumi. Dan tidaklah berlebihan Nusantara kemudian mendapat julukan sebagai surganya dunia.  Koes Plus menggambarkan Nusantara bagaikan “kolam susu”, saking suburnya bumi Nusantara, dikiaskan tongkat dan kayu jikalaupun dilempar akan bersemi menjadi tanaman yang menghidupi makhluk hidup.

Namun di balik cerita tentang surga dunia itu, konsekuensinya  Nusantara bagaikan gula-gula yang menjadi incaran para semut yang datang dari berbagai belahan dunia. Terutama “semut-semut” yang berasal dari wilayah gersang dan miskin sumber daya alam. Nusantara kemudian menghadapi resiko besar. Karena menjadi bahan rebutan para “semut” kelaparan dan bernafsu melakukan invasi dan kolonialisasi. Dengan menghalalkan segala cara, membabi-buta, dan gelap mata, para “semut” dari berbagai belahan dunia saling memperebutkan Nusantara yang dianggapnya hidangan nan lezat. Read the rest of this entry