Category Archives: SPIRITUAL JAWA

Jiwa Kesatria Tanah Jawa

image

Jiwa kesatria Jawa menurut Sinuhun Sri Sultan HB VIII ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

1. Sêwiji : menyatukan kebulatan tekad dan segenap potensi diri untuk satu tujuan.
2. Grêgêt : dinamika jiwa yg disalurkan dalam gerak, usaha, perjuangan meraih tujuan.
3. Sêngguh : percaya pada kekuatan diri sendiri, dilandasi jatidiri yang kokoh, mampu mengendalikan dan memenej kekuatan dan potensi diri dengan baik.
4. Ora mingkuh (mingkuh : tinggal glanggang glanggang colong playu). Artinya, tidak meninggalkan tanggungjawab dan tugas dalam meraih tujuan. Teguh hati dan kuat dalam menjaga prinsip. Sekalipun menghadapi tantangan berat.

Read the rest of this entry

Iklan

Berguru Kepada Alam Semesta

LAUNCHING BUKU EPISODE 1

Angkringan For The Soul
Tentang pengalaman spiritual, dan penjelajahan sukma sejati mengarungi luasnya samudra ilmu yang meliputi jagad besar (makrokosmos) dan jagad kecil (mikrokosmos). Dikemas dalam obrolan inspiratif a la kedai angkringan Jogjakarta

Prakata

Berguru Kepada Alam Semesta

cover buku ki sabdalangitPara pembaca yang budiman, sedulur semua di manapun berada, apapun suku, bangsa, ras, golongan, kepentingan politik, dan agamanya. Bukan maksud hendak menggurui karena saya tak pernah bercita-cita menjadi guru. Justru karena saya merasa selalu ingin menjadi murid dan kenyataannya sampai sekarang saya tetaplah murid yang selalu berguru kepada alam semesta dan segala isinya. Saya merasa mendapat keuntungan luarbiasa ketika sedang menjadi murid, namun bukannya saya pribadi mau golek butuhe dewe lantas enggan berbagi pengalaman. Biarpun begitu kalau saya dipaksa oleh keadaan untuk menjadi guru ya enggak apalah. Maksud penerbitan buku ini sekedar untuk berbagi pengalaman hidup dan saya gunakan sebagai sarana mensukuri berkah dan anugrah alam semesta, Tuhan, God, Gusti, Sang Hyang Widhi, Allah, Alloh, Brahman, Dei, Sang Jagadnata yang telah saya alami, saksikan, dan dapatkan selama diberi kesempatan untuk singgah di planet bumi ini. Terutama kepada para pembaca yang tidak dapat menjangkau internet. Saya sadari bersukur hanya menggunakan lisan saja tak ubahnya lips service, sekedar ngomong doang sangat tidak cukup dan tidak sebanding dengan berkah dan anugrah Tuhan yang telah saya dapatkan selama ini.

Jika Anda bertanya siapa gerangan guru saya ?

Read the rest of this entry

Mentalitas Kagetan & Gumunan

MENTALITAS KAGETAN DAN GUMUNAN
Kontraversi Sikap Eling dan Waspada

image

Teringat akan sebuah wanti-wanti yang keluar dari mulut para orang tua, yang sebagian besar kini sudah menjadi leluhur, dan sebagian lain sudah masuk ke fase nenek moyang. Wanti-wanti yang sangat sederhana dan sepele untuk sekedar diingat-ingat, karena hanya terdiri dari dua kata sifat. Ojo gumunan & ojo kagetan. Artinya hindarilah sifat mudah terheran-heran dan gampang terkaget-kaget. Pesan singkat itu dapat dimaknai dangkal, dapat pula dimaknai secara mendalam. Pesan itu hanya mengingatkan kita agar selalu menanamkan sifat yang tenang ke dalam diri. Pesan yang sederhana dan tidak berlebihan namun kegunaannya luar biasa. Pribadi yang memiliki ketenangan sifat dapat membangun sikap yang awas dan cermat. Ini sangat menentukan sebuah keberhasilan dan kesuksesan hidup seseorang. Mampu menentukan pilihan secara tepat, selanjutnya menetapkan perencanaan untuk meraih target secara akurat dan teliti. Berkat ketepatan dan ketelitian dalam usaha meraih target, apa yang dicita-citakan akan mudah diwujudkan sesuai harapan. Pribadi yang tidak kagetan dan gumunan, merupakan pribadi yang memiliki kematangan mental. Untuk membangun kematangan mental memerlukan kesadaran lahir dan batin yang memadai. Kita dapat bercermin pada orang-orang yang memiliki sikap sumeleh, sumarah dan legowo. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang powerfull, sudah mumpuni, mentalitasnya telah matang, sikapnya temuwo (lebih dari dewasa). Tenang dan menghanyutkan. Tidak mudah obral janji, keputusannya selalu tepat, sikapnya bijaksana dan pola pikirnya mencerminkan seseorang yang arif berilmu tinggi. Di wajahnya terpancar getaran energi kedamaian dan ketentraman. Getaran energi yang tumbuh dari rahsa sejati (nurani) merupakan bahasa universal yang dapat menembus lintas batas ruang dan dimensi. Tidaklah mengherankan bila pancaran energinya dapat menimbulkan efek ketenangan dan kenyamanan bagi yang memandanginya dan bagi orang-orang yang berada di dekatnya. Pancaran energi tidak hanya sebatas dapat dirasakan oleh sesama manusia, bahkan dapat dirasakan oleh entitas gaib, binatang dan tumbuhan. Kata-kata sederhana, ojo gumunan dan ojo kagetan, bila kita hayati dan implementasikan ternyata mampu membimbing diri kita untuk selalu selaras dan harmonis dengan sifat-sifat alam semesta. Kata-kata sederhana namun sungguh mendalam dan luas maknanya. Ngelmu iku yen ginulung amung sak mrico jinumput. Yen ginelar bakal ngebaki jagad.

Read the rest of this entry

Pasrah Atau Fatalis kah Diri Anda ??

Mengukur Kesadaran Diri

PASRAH

PASRAH, adalah kata-kata yang tak mudah dipahami. Banyak orang salah kaprah mengartikan makna pasrah yang dipahami sebagai sikap melenyapkan segala kemauan, keinginan, inisiatif, dan kehendak. Yang seperti ini sudah termasuk ke dalam terminologi FATALISME yang rentan sekali terhadap sikap putus asa. Tanpa disadari keputus-asaan akan mudah membuat siapapun mudah tergelincir pada sindrom radikalisme, ekstrimisme, dan ekslusivisme.

Pasrah berhubungan dengan penyelarasan sikap dan perbuatan diri dengan kehendak alam semesta alias kehendak tuhan. Pasrah bukan bermakna sikap pasif dan tanpa usaha. Justru pasrah di dalamnya termaktub suatu usaha sekuat tenaga, semaksimalnya agar supaya sikap dan perbuatan kita selaras dan sinergis dengan hukum alam. Sehingga di antara jagad kecil atau mikrokosmos dengan jagad besar atau makrokosmos tercipta hubungan yang harmonis. Dan begitulah hakekatnya orang yang disebut tunduk patuh kepada tuhan. Sebaliknya, radikalisme, ekstrimisme, mengarah pada kekerasan dan penghancuran antar sesama manusia, sudah termasuk ke dalam kategori bertentangan dengan hukum/kodrat alam yang bersifat sebaliknya, selalu harmonis berada dalam hukum keseimbangan alam semesta.

YANG HARUS DIBACA

Namun sebelum melanjutkan diskusi, alangkah idealnya jika para pembaca yang budiman mengklik kembali artikel terdahulu berjudul MENGENAL NGELMU SASTRA JENDRA, dan PUSAKA HASTA BRATA. Agar lebih gampang memahami serta mengikuti diskusi kali ini. Paling tidak lebih menselaraskan level pemahaman di antara kita semua.

FATALISME

Fatalisme Read the rest of this entry

JIWA, RAGA, SUKMA, NYAWA

Sejenak kita akan membahas (lagi) ilmu tentang jiwa, tetapi mungkin para pembaca yang budiman masih bertanya tanya apa perbedaan antara jiwa, jasad, dan sukma. Sebelum saya menjabarkan ketiganya, kiranya perlu saya tampilkan beberapa cuplikan pemahaman orang lain tentang jiwa sebagai upaya mencari komparasi dan menambah khasanah ilmu kejiwaan.

KERANCUAN MEMAKNAI JIWA, SUKMA, NYAWA, PSIKHIS

JIWA, di dalam Oxford Dictionary tertulis soul (roh), mind dan spirit. Sementara dalam bahasa Indonesia cukup dengan padanan yaitu jiwa. Yunani Psychê yang berarti jiwa dan logos yang berarti nalar, logika atau ilmu. Tubuh adalah bagian yang fenomenal, dapat ditangkap oleh pancaindera dan bersifat fana sedangkan jiwa menurut Plato (500 SM) merupakan bagian yang memiliki substansi tersendiri (terpisah dari jasad) dan bersifat abadi. Plato berargumen, bahwa jiwa menempati tempat yang lebih tinggi daripada tubuh, lebih jauh ia mengatakan bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa karena tubuh menghambat kebebasan jiwa. Bagi seorang murid Plato, yakni Aristoteles (400 SM), semua yang hidup mempunyai jiwa seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan tentu saja manusia. Bagi Plato jika seseorang mati, maka jiwanya akan tetap ada dan kembali kedunia Idea di mana di sana terdapat segala hal yang ideal (sempurna) untuk kemudian jiwa akan mereinkarnasi diri dan menubuh kembali pada saatnya. Di sisi lain Aristoteles muridnya, memiliki pandangan berbeda, ia tidak setuju keduaan ala gurunya. Bagi Aristoteles tubuh dan jiwa itu bukan keduaan melainkan kesatuan. Olehkarenanya jika seseorang mati, maka konsekuensinya jiwapun turut mati bersama tubuh. Mana yang benar, Plato atau Aristoteles ? Saya kira kedua-duanya konsep Plato dan Aristoteles tetap  mengandung kelemahan-kelemahan. Bahkan jika ditelaah lebih dalam, banyak ilmuwan kesulitan memetakan letak di mana jiwa (nafs, hawa, nafas, soul), roh (spirit) dan raga (body). Hal ini bukan berarti para filsuf pendahulu kita gegabah dalam memaknai tentang jiwa. Dapat dimaklumi sebab mempelajari tentang seluk beluk kejiwaan kita, musti menggunakan jiwa kita sendiri. Golek latu adadamar, atau mencari bara api dengan menggunakan obor sebagai penerang jalan. Sangatlah bisa dimaklumi sebab pembahasan jiwa sudah bersinggungan dengan ranah gaib yang tak tampak oleh mata wadag. Hanya saja, untuk melengkapi pembahasan terdahulu dalam posting  MENGENALI JATI DIRI kiranya perlu dilakukan komparasi terhadap khasanah ilmu jiwa yang telah disampaikan oleh para pendahulu kita agar jiwa kita menjadi jiwa yang betul-betul merdeka. Merdeka lahir dan merdeka batin.

JIWA MENURUT KI AGENG SURYO MENTARAM

Sejenak para pembaca yang budiman saya ajak mampir ke padepokan seorang filsuf Jawa dan kondang sebagai seorang yang linuwih dan sakti mandraguna. Beliau adalah Ki Ageng Suryo Mentaram (kebetulan dulu tinggalnya di belakang rumah kami). Ki Ageng Suryo Mentaram membahas ilmu jiwa yang dikemukakan seorang filsuf Jawa sekaligus penghayat kejawen yang pada waktu hidupnya beliau terkenal sebagai seseorang yang memiliki ilmu linuwih dan sakti mandraguna. Read the rest of this entry