Mitigasi Bencana Dari Selatan

DSC01972Pemerintah dan masyarakat hendaknya bisa lebih bersikap bijaksana. Tidak perlu menanggapi frontal, atau bersikap antipati dan menyepelekan terhadap setiap kabar tentang suatu bencana alam terutama yang tidak menutup kemungkinan bisa terjadi. Namun juga sebaliknya, bagi yang mempedulikan juga jangan terlampau peduli kemudian membuat resah berlebihan. Kedua sikap itu over acting. Akibat dari sifat buruk dari kagetan dan gumunan. Itu cermin ketidakdewasaan sikap. Hindari kedua sikap extrim itu.
Read the rest of this entry

Iklan

Sura Nyalawadi

Tapa Kungkum

Satu Sura tahun ini menurut kalender Nasional jatuh pada hari Kamis Paing tanggal 15 Oktober 2015 atau 1 Sura 1949 Jimawal. Menurut kalender yang dikeluarkan oleh Kraton Pura Mangkunegaran Solo, serta kalender Çaka atau tahun Saka yang digunakan oleh masyarakat Bali, satu Sura jatuh pada hari Selasa Kliwon tanggal 13 Oktober 2015. Bertepatan dengan satu Sura, Ki Ageng Mangir Wonoboyo memerintahkan untuk tapa kungkum (berendam) di muara sungai yang bertemu dengan laut kidul. Perintah itu untuk dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon tanggal 12 Oktober 2015 (malam satu Sura versi leluhur). Dawuh dilanjutkan oleh Kanjeng Panembahan Senopati untuk melaksanakan pisowanan agung saat wilujengan malem Jumat Pon di Pasarean Agung Raja-Raja Mataram Kotagede.

Setelah kami awali dengan menempa fisik dengan berlari menyusuri tepi pantai di siang hari yang panas terik, kondisi pasir yang panas setelah disangrai matahari, dan keadaan pasir yang labil terasa berat untuk menapakkan telapak kaki saat berlari. Itu tempat yang ideal untuk menempa fisik. Namun yang lebih penting pada agenda kali ini, tapa kungkum kami gunakan sebagai sarana untuk mendinginkan lahir dan batin, menggembleng diri, serta mengolah nafas di dalam air dengan beberapa jurus dasar, dilanjutkan dengan olah semedi. Dalam keheningan olah pasamaden kita bersukur kepada Sang Hyang Jagadnata atas segala berkah dan anugrah selama ini. Dan mohon agar senantiasa mampu menjadi manusia yang bèrbudi bawa leksana (sugih ati/murah hati, santun kepada alam dan sesama), menjadi pribadi yang sugih ngelmu, dan tentu saja sugih banda. Dengan sugih banda anda dapat melakoni prihatin level tinggi, yakni dapat beramal (dengan harta) kepada orang-orang yang tepat untuk ditolong.

Philosopy of Tapa Kungkum

Tapa Kungkum

Tapa kungkum dalam tradisi Jawa sebagai upaya menyelaraskan diri dengan beberapa elemen alam yakni elemen air yang terdiri dari air tawar sungai, air asin laut (baruna). Menyelaraskan dengan elemen bumi (bantala), dan elemen udara (bayu/maruta). Pada saat alam sedang mengalami kekeringan dengan tebaran hawa panas dan elemen api (agni) yang sedang mengamuk membakar hutan di berbagai wilayah Nusantara ini sangat tepat dilakukan tapa kungkum. Seiring dengan itu, pengaruhnya pada jagad alit (mikrokosmos) sangat terasa. Elemen api (hawa nafsu/setan) dalam diri manusia saat ini sedang bergolak hebat. Implikasinya terjadi amarah, emosi, kebencian, dan keserakahan sedang membakar elemen-elemen “dingin” dalam diri manusia. Itulah sebabnya, tapa kungkum juga bermakna sebagai salah satu teknik untuk mengevaluasi diri, untuk lebih mawas diri, lebih menyeimbangan empat elemen alam (air, udara, tanah, api) dalam diri manusia. Pengendalian elemen api yang mendorong rahsaning karep (hawa nafsu) menjadi fokus dalam attunment dulur-dulur KKS kali ini. Itu penting dilakukan agar kita selalu bersikap eling dan waspada terutama pada saat memasuki fase Sura Nyalawadi selama satu tahun pada tahun 1949 Jimawal ini.

Read the rest of this entry

Peta Kegagalan (map of failure)

“Sing sopo tansah setya-tuhu marang para leluhure, yekti  sak tiba-tibane bakal nemu kabegjan, senajan ta aneng ngendi papan dununge”

Serat Wedatama Pupuh Gambuh Podo 57
Nanging ta paksa tutur | Rehne tuwa tuwase mung catur | Bok lumuntur lantaraning reh utami | Sing sapa temen tinemu | Nugraha geming kaprabon |

Namun terpaksa memberi nasehat | Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah | Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama | Barang siapa bersungguh-sungguh berusaha pasti akan berhasil | Mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan | Read the rest of this entry

Hidup Di Rumah Paling Berhantu

Prawicara

Rumah hantu 6Tulisan ini bukan bertujuan untuk menciptakan suasana permusuhan dan membuat kegaduhan suasana. Semata~mata ini sebagai bentuk kepedulian kami sebagai rakyat jelata yang mencintai NKRI. Apa yang saya tulis, apa yang saya lihat dan pahami. Marilah kita semua rakyat Indonesia baik kalangan pejabat, birokrat, penguasa, kelompok kepentingan, golongan, maupun rakyat jelata untuk berani jujur, bersikap netral, dan berfikir jernih. Yang sedang memegang kekuasaan jangan asal emosi, tapi berbesar hati dan oba koreksi diri. Kekuatan oposisi jangan asal ngomong, dan mengumbar kebencian. Yang sedang tidak berkuasa atau sudah pensiun juga jangan suka menyalah-nyalahkan, sebaiknya sebelum bicara terlebih dulu mengevaluasi apa yang dulu bisa sampean kerjakan untuk rakyat dan negara ini. Semua pihak hendaknya tetap bersikap kritis, bijak, bersikap dewasa dan cool. Jangan utamakan emosi dan kepentingan pribadi atau kelompok. Kami tidak rela NKRI dijadikan seperti hidangan di meja makan. Yang diacak~acak oleh orang~orang penuh nafsu keserakahan dan pola hidup hedonisme. Setelah “hidangan” dihabiskan, bekasnya berserakan dan meninggalkan gelas piring yang kotor dan pecah. Tak ingat lagi kepada anak cucu yang kelak giliran butuh makan dan ruang bersih untuk hidup di Nusantara. Mari kita semua instropeksi diri, terutama para pribadi yang berkuasa dan bertugas mengelola negera. Baik yang ada pada lembaga Yudikatif, Eksekutif, lebih~lebih Legislatif. Kaum pengusaha, wiraswasta, pegawai negeri sipil, militer, aparat penegak hukum, pengayom rakyat. Serta untuk rakyat Indonesia, maupun semua warga yang hidup dan mencari makan di Indonesia. Kita junjung tinggi kedaulatan hukum, kedaulatan rakyat dan kedaulatan negara. Demi terwujudnya negeri yang gemah ripah loh jinawi, adil makmur, tata~titi tentrem kerta raharja.



Semar Mbangun Kahyangan

SBKLakon Semar mBangun Kahyangan, selanjutnya saya singkat menjadi SBK. Merupakan lakon kategori carangan, artinya merupakan gubahan dari lakon-lakon pakem atau yang diambil dari kitab-kitab kuna seperti Kakawin Mahabarata, Kakawin Ramayana, Pustaka Raja Purwa dan Serat Purwakandha yang sudah menjadi pakem utama dalam dunia pedalangan. Lakon carangan itu mengambil dari lakon pakem yang mendapat tambahan cerita lainnya. Dari lakon carangan itu selanjutnya melahirkan berbagai macam gagrag yang selalu berbeda pada setiap dalang. Peragaan wayang juga menjadi semakin beragam. Namun adakalanya membuat bingung, karena bisa jadi lakon yang sama tetapi jalan ceritanya berbeda. Sedangkan lakon sempalan berbeda lagi, karena sudah menjadi lakon hasil gubahan dari carangan, karena dhalang bebas melakukan improvisasi dengan gagrag yang baru sesuai selera dan kreativitas masing-masing dhalang. Di situlah apa yang dimaksud dengan kalimat ; dhalang ora kurang lakon, yakni dhalang mempunyai kebebasan untuk membuat carangan baru, serta sempalan maupun gagrag yang baru.

Sebagai contoh, lakon SBK versi gagrak Ki Hadi Sugito memperagakan tiga macam pusaka yakni tumbak korowelang, payung songsong tunggul nogo, dan serat jamus kalimosodo. Sedangkan gagrak Ki Seno Nugroho memperagakan satu pusaka yakni serat jamus kalimosodo. Pada diri dhalang futurolog, atau dhalang yang memiliki kemampuan melihat masa depan atau prediksi futuristik, seringkali melahirkan lakon sempalan dan gagrak baru, karena lakon yang dibawakan merupakan gambaran dari dinamika sosial-politik yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Dalang futurolog memainkan lakon di sekitar carangan, sempalan dan gagrak. Justru di situlah daya tariknya, sebab terkadang lakon yang sama tetapi pada saat dipentaskan muncul sempalan maupun gagrak baru. Itu yang harus dicermati oleh penonton yang hendak mengetahui kabar masa depan, melalui berbagai kalimat-kalimat dan kata-kata spontan yang terucapkan oleh dhalang. Anehnya seringkali dhalang tidak menyadari apa yang telah diucapkannya tadi. Itu sekaligus menjadi indikasi di mana saat-saat wingit dan sakral tengah berlangsung.

Pusaka

Dalam lakon atau lampahan SBK terdapat tiga macam pusaka yang menjadi fokus cerita yakni tumbak korowelang, payung songsong tunggul nogo, dan serat jamus kalimosodo. Masing-masing pusaka mempunyai nilai intrinsik sebagai kristalisasi filsafat Jawa tentang perilaku dan sikap hidup manusia Jawa.
Read the rest of this entry

Loro Blonyo : Rahasia Kesuksesan Orang Zaman Dulu

Apabila Anda jalan-jalan ke Jogjakarta, kemungkinan di suatu rumah akan melihat  sosok patung sepasang pengantin mengenakan pakaian adat Jawa dengan posisi duduk bertimpuh berdampingan. Patung laki-laki berada di sebelah kanan dan patung perempuan berada di sebalah  kiri. Itulah patung Loro-Blonyo. Dalam filosofi masyarakat Jawa dan Sunda, patung perempuan untuk menggambarkan Dewi Sri atau Dewi Shri (bahasa Jawa), atau Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, dewi padi dan sawah, atau melambangkannya sebagi dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali.

Penggambaran Sosok Nyi Pohaci & Raden Sedhana

Loro BlonyoDalam mitologi Jawa Nyi Pohaci atau Dewi Sri adalah putri Bethara Antaboga atau Dewa Ular. Dewi Sri merupakan gambaran seorang gadis yang cantik luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun manusia, segera jatuh hati pada sang dewi.  Dewi Sri selalu digambarkan sebagai gadis muda yang cantik, ramping tapi bertubuh sintal dan berisi, dengan wajah khas kecantikan alami gadis asli Nusantara. Mewujudkan perempuan di usia puncak kecantikan, kewanitaan, dan kesuburannya. Kebudayaan adiluhung Jawa dengan selera estetika tinggi menggambarkan Dewi Sri seperti penggambaran dewi dan putri ningrat dalam pewayangan. Wajah putih bersih dengan mata tipis menatap ke bawah dengan raut wajah yang anggun dan tenang. Serupa dengan penggambaran kecantikan dewi Sinta dari kisah Ramayana. Pasangannya adalah Raden Sedhana juga digambarkan sebagai sosok laki-laki gagah dengan tampang rupawan seperti Rama. Patung Loro-Blonyo menggambarkan sepasang lelaki dan perempuan, juga diibaratkan sebagai pasangan Dewi Sri dan Raden Sedhana.

Pemuliaan dan pemujaan terhadap sang dewi sudah berlangsung sejak masa pra  Hindu di pulau Jawa. Konon Dewi Sri yang diangkat anak oleh Bethara Guru, karena kecantikannya setelah beranjak dewasa diam-diam dicintainya. Namun Dewi Sri atau Nyi Pohaci memilih meninggalkan Kahyangan turun ke bumi tepatnya di sepanjang tanah Jawa-Bali yang waktu itu masih menyambung. Di dimensi bumi, Dewi Sri memilih hidup tanpa raga. Karena raganya dipersembahkan kepada bumi pertiwi untuk memberikan kesuburan di tanah Jawa. Singkat cerita, semua tanaman yang berguna bagi manusia tumbuh dari tubuh Dewi Sri Pohaci. Sejak saat itu umat manusia di pulau Jawa memuja, memuliakan, dan mencintai sang dewi yang baik hati, karena dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia.

Pada sistem kepercayaan Kerajaan Sunda kuna, Nyi Pohaci Sanghyang Sri dianggap sebagai dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Sebagai tokoh agung yang sangat dimuliakan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri –ada yang menyebutnya sebagai Dewi Asri, dan saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dari Kerajaan Medangkamulan.

Simbolisasi Dewi Sri dan Raden Sedhana dalam hubungannya dengan ritual kesuburan bagi masyarakat Jawa, mempunyai makna kesadaran kosmologis. Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Raden Sadhana dengan burung sriti (walet). Antara ular sawah dikaitkan dengan sang dewi dan oleh petani cenderung dihormati. Antara Dewi Sri, ular sawah, dan burung sriti dapat dilihat adanya pola hubungan yang saling menguntungkan, terutama terhadap petani. Itu yang maksud sebagai hukum tata kesimbangan alam. Kearifan lokal dan kesadaran ekologi purba memahami bahwa ular sawah memangsa tikus yang menjadi hama tanaman padi. Burung sriti memakan serangga yang menjadi hama padi juga. Berbeda dengan burung emprit kaji (warna bulunya merah, dan putih di bagian kepala) yang justru menjadi hama karena memakan padi. Dan Dewi Sri yang memberikan pupuk untuk tanaman padi. Di banyak negara Asia lain seperti di India dan Thailand, berbagai jenis ular terutama ular kobra pun dihubungkan dengan mitos kesuburan sebagai pelindung sawah.

Hakekat Ritual Read the rest of this entry