Kunci Merubah “Kodrat”

“KASIH SAYANG DAN KETULUSAN”

KUNCI MENDAPATKAN WIRADAT

 

 

Sekelumit kisah yang ingin saya share kepada semua rekan-rekan ku di sini. Tujuannya ujub, sombong, dan takabur ? TIDAK samasekali ! Semata-mata pengalaman ini saya tulis sebagai wujud rasa syukur saya kepada Tuhan YME, di mana kami bersama istri diberi kesempatan emas untuk menyaksikan dan mengalami langsung betapa Tuhan itu benar-benar Maha Welas Asih, Maha Penyayang dan Mahakuasa. Saya juga berharap, mudah-mudahan kisah ini bisa menggugah semangat bagi siapapun yang sedang mengalami penderitaan, dan “nompo ganjaran” sakit berat dari Gusti Allah. Semangat hidup dan semangat untuk sembuh harus tetap ditumbuhkan dari dalam diri, karena dengan bekal semangat itulah menjadi obat paling mujarab, sedangkan obat-obat medis dan alternatif sebatas mensupport kesembuhan. Dengan semangat itu pula, mukjizat Tuhan dapat kita raih. Mukjizat Tuhan hanya untuk orang-orang yang percaya saja. Selain dari itu, saya mendapatkan pelajaran berharga sekaligus membuktikan apa yang pernah diucapkan oleh leluhur saya sewaktu masih hidup, beliau mengatakan bahwa kodrat kuwi isih bisa disuwunake wiradat ngger…carane krana welas asih lan sakbener-benere tulusing ati ! artinya “kodrat itu masih bisa dimohonkan untuk wiradat, caranya dengan sarana kasih sayang dan ketulusan hati !”  Dalam konteks ini leluhur saya yang culun dan ndeso, memahami kodrat dengan maksud  menunjuk ketentuan Tuhan yang telah berlangsung, dan wiradat diartikan sebagai dispensasi atau bahkan Tuhan berkenan mengubah apa yang telah menjadi kodrat tadi.

 

Bertahun-tahun lamanya saya berusaha mencerna nasehat itu, namun terasa bebal otak saya untuk menelaahnya, karena bagi saya sangat sulit untuk memahami kalimat yang terlalu sederhana di atas. Memang kalimatnya terpampang seculun itu namun menyisakan pertanyaan mendasar di benak ini, lantas kasih sayang yang seperti apa yang mampu menjadi sarat agar mendapatkan wiradat dari Tuhan Yang Mahakuasa ?Nah, kalau kodrat itu bisa dirubah jangan-jangan kodrat tersebut hanyalah kehendak yang belum tuntas jalan ceritanya ? Entahlah, terus terang saya makin mumet dibuatnya. Dan saya tidak akan membahas sistem bekerjanya kodrat Tuhan karena hal itu sama halnya memahami “jalan pikir” Tuhan. Jika membayangkan “jalan fikir” Tuhan terus terang ciut nyaliku, karena sama halnya  memberhalakan Tuhan, menganggap Tuhan bagaikan manusia saja yang musti menggunakan jalan fikir. Makin jauh dan mbulet lah !

 

Diagnosa Yang Mengejutkan

Peristiwa ini terjadi belum lama kira-kira  sejak 1 tahun yll. Saat kami dikejutkan oleh hasil diagnosa dokter yang sedang melakukan USG pada kandungan istri saya. Waktu itu saya antar isteri ke dokter RS Pantirapih Jogja untuk melakukan cek up routin setahun sekali. Cek up jantung, paru-paru, hati, pankreas, liver. Semua hasilnya baik, matur sembah nuwun duh Gusti…!  Lantas saya minta dokter memeriksa bagian organ ginjal, dokter mulai mengarahkan ujung sensor USG ke bagian ginjal. Lalu dokter bilang,” ginjal kiri dan kanan semuanya baik …tak ada masalah ! Loh..?? Saya seketika meminta pak dokter mengulangi diagnosa ginjal,” coba dokter, saya minta diulangi lagi, saya ingin melihat mana dan seperti apa ginjal sebelah kiri, dan yang sebelah kanan !? Dokter menuruti kembali mengarahkan alatnya untuk mengecek ginjal kanan, ya terlihat jelas dan bagus ! Sebentar kemudian istri saya meminta dokter segera mengecek ginjal kirinya sembari layar USG diarahkan lebih jelas ke hadapan istri saya yang saking penasarannya. Istri saya terperanjat, “dokter…itu benar ginjal kiri saya ? Dokter menyahut, “ya benar, memang kenapa bu…? Saya dan istri hanya diam namun saling bertatapan mata beribu makna karena terkesima. Saya menyahut, “nggak apa-apa kok dok…makasih dok !

 

Satu Ginjal, Menjadi Utuh Kembali

Sepulang dari USG, saya dan istri masih tercengang atas apa yang tampak oleh hasil diagnosa USG tadi. Ginjal kiri kanan utuh ??!! Mungkin bagi orang yang tak pernah menghibahkan satu ginjalnya ke orang lain, bukanlah hal yang mengejutkan. Namun karena istri saya 20 tahun yll pernah menghibahkan ginjal sebelah kirinya kepada Ibu angkatnya. Awal dari kisah ini, pada waktu istri saya duduk di bangku SLTA, diangkat anak oleh keluarga petinggi AD di Jakarta. Beberapa tahun setelah diangkat anak, Ibu angkat istri saya mengalami gagal ginjal kedua-duanya (kiri-kanan). Waktu itu satu persatu anak-anak kandung diperiksa ginjalnya apakah cocok dan memenuhi syarat medikal untuk ditransplantasi ke Ibu kandungnya. Aneh, tak satupun yang cocok dan memenuhi sarat medis. Sebaliknya hanya ginjal milik anak angkatnya saja yang cocok dan memenuhi sarat medis, alias ginjal milik (calon) istri saya.  Transplantasi dilaksanakan di RSAD Gatot Subroto Jakarta, sejak itu sekian puluh tahun istri saya hidup dengan satu ginjal saja. Efeknya hanyalah agak cepat merasa lelah.

 

Waktu itu Ibu angkatnya (calon) isteri saya sudah berumur sekitar 60 tahun sewaktu ginjalnya ditransplantasi. Pada usia sekitar 75 tahun Ibu angkat meninggal dunia dengan tenang dan sakit karena tua. Berarti ginjal istri saya dipakai selama kira-kira 15 tahun lamanya. Lalu, pada suatu siang hari (calon) istri saya yang waktu itu sudah tinggal lagi di Jogja, tiba-tiba dipanggil Ibu angkat yang sedang opname di RSAD Jakarta. Sesampainya di Jakarta langsung menuju RS membesuk Ibu angkat. Lantas beliau berkata pada (calon) istri saya,” Hyas…aku matur nuwun banget yo wis mbok silihi ginjelmu seprana-seprene, saiki aku wis ora butuh meneh….nyoh tampanen ginjelmu saiki tak balekke nyang nggonmu yo. (Hyas, aku berterimakasih sekali ya, sudah kamu pinjemi ginjalmu selama ini, sekarang aku sudah tidak perlu lagi, nih..terimalah ginjalmu sekarang aku kembalikan padamu ! Ibu angkat berucap demikian dengan penuh ketulusan berterimakasih, sembari tangannya seolah-olah memungut ginjalnya di perutnya sendiri lalu ditempelkan ke perut (calon) istriku. Malamnya Ibu angkat meninggal dunia dengan tenang, pulang ke haribaan Tuhan YME.

 

Pada Tahun 2005 akhir, saya pernah bermimpi namun sulit membedakan apakah tadi itu mimpi atau memang dalam keadaan setengah sadar saya melihat ada seorang berpakaian layaknya Raja, diiringi beberapa orang berpakaian Jawa kuno membawa semacam bokor kencana (cupu besar terbuat dari emas). Setelah dibuka, bokor kencana tersebut berisi ginjal dan dengan sekejap kurang dari 5 detik, rombongan tadi seperti “memasang” ginjal yang dibawanya ke dalam perut istri saya. Sewaktu saya sadar betul, dalam posisi sedang terduduk di atas amben, samping istri saya yang sedang tertidur seperti orang dibius. Saya bangunkan istri dan saya tanya apa yang dirasakan, katanya tidak merasakan apa-apa. Saya menceritakan apa yang barusaja terjadi di alam mimpi entah noumena gaib kali ini saya tak bisa membedakannya. Setelah kejadian itu, kami tak pernah membahas lagi, namun istri saya merasakan badannya tidak seperti dulu karena terasa lebih fit dan tak mudah lelah. Barulah pada awal 2008 ketika kami pergi ke dokter melakukan cek up routin, semua misteri itu terkuak. Sampai-sampai kami berdua ragu atas hasil diagnosa dokter, hingga akhirnya kami berkunjung ke tempat saudara yang buka RS di Majenang, untuk bersilaturahmi dan sekalian melakukan USG lagi. Hasilnya sama, ginjal istri saya benar-benar telah pulih, kembali menjadi dua lagi setelah sekian puluh tahun dihibahkan  kepada Ibu angkatnya.

 

Mukjizat Menakjubkan

Dari kisah di atas ada suatu pelajaran berharga untuk hidup kami berdua khususnya,  bahwa segala sesuatu yang mustahil hanyalah karena keterbatasan kekuasaan manusia semata, sementara itu tak ada yang mustahil bagi Hyang Mahawisesa, Tuhan Yang Mahakuasa. Apapun bisa terjadi. Selain itu, segenap pertanyaan yang ada dalam benak selama ini terjawab sudah. Benar apa yang dinasehatkan oleh leluhur waktu itu, bahwa kodrat dapat diwiradat melalui kasih sayang dan ketulusan yang luar biasa. Tanpa ada contoh atau pengalaman hidup yang dapat dijadikan sebagai indikator mengukur ketulusan dan kasih sayang yang seperti apa sehingga dapat menjadi syarat terjadinya wiradat, tampaknya saya tak akan mampu memahami kalimat tersebut. Di satu sisi Ibu angkat istri saya telah mencurahkan kasih sayang yang tulus pada istri saya selayaknya anak kandung sendiri. Sementara itu istri saya memberikan ginjalnya kepada ibu angkatnya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan pula tanpa berharap imbalan apapun. Masing-masing melakukannya secara tulus dan penuh kasih. Bahkan saat dibagikan warisan berupa sebidang tanah dan bangunan di Cipayung Bogor, istri saya tetap menolak, alasannya justru karena pernah memberikan sesuatu yang sangat berharga pada Ibu angkatnya. Takut bila akan mencemari atau menggugurkan ketulusan yang pernah ia berikan pada sang Ibu (angkat).  Dan selama puluhan tahun hanya dengan satu ginjal harus bekerja berat agar dapat menanggung banyak kehidupan. Selama itu tak pernah ia mengeluh dan merasa menyesal, bahkan pada suatu waktu saat kena marah ibu angkat, tak pernah pula istri saya mengungkit-ungkit jasa baiknya. Yah, saya banyak belajar tentang budi pekerti yang luhur (akhlakul karim), ketulusan, keikhlasan, dan ketabahan yang ada pada istri saya tercinta.  Dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa kekuasaan Tuhan sungguh sangat dekat dengan diri manusia. Tuhan…Gusti Allah, Gusti kang Akaryo Jagad, jauh tidak ada jarak, dekat tak bersentuhan. Matur sembah nuwun duh Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, sebagai wujud terimakasihku, aku harus selalu belajar tulus, ikhlas, sabar, dan tabah. Jangan enggan membantu sesama, berbuat baiklah pada orang lain tanpa pamrih, tak perlu berharap-harap pahala, tak suka membangun permusuhan, hanya kinarya karyenak ing tyas sesama. Kembali pada kodrating manungsa, duwe rasa, ora duwe rasa duwe.  Sebagai wujud netepi kodrat Ilahi Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berbuat baik pada orang lain itu  sesungguhnya berbuat baik untuk diri kita sendiri. Dan satu lagi ; mukjizat Tuhan hanya bagi orang yang percaya saja. sabdalangit

 

  1. Itu Komen dari bikku dan sejenisnya bukan orang sakti tapi SAKIT! Ciehh komen sampah macam apa semoga banyak org yg skip kyk sy, buat apa di baca komen norak penuh hina kyk gitu? Buang2 energi saja, ayo skip skip komen ga penting

  2. hebaat ada yg ngaku jadi Yesus tapi kelakuan kok gak Sama ky Yesus di PB. Ap krn skrng jaman edan trus ‘Yesus’ nya ikut edan? semprul

  1. Ping-balik: Ilmu Spiritual yang Metodis dan Ilmiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: