Arsip Blog

Tanggap Ing Sasmita Gelagat Politik & Gejolak Alam

Jangan ketawain jika ada orang Jakarta yang belanja perahu karet. Jangan ejek jika temanmu tiba-tiba menarik diri dari dunia politik. Jangan buru-buru menuduh sebagai penyebar hoax jika ada orang yang gundah gulana di medsos merasakan sesuatu akan terjadi dengan alam dan politik. Bisa jadi kalian yang kurang peka. Bisa jadi mereka itu lah orang yang sedang melakukan suatu yang paling bijaksana dalam hidupnya. Supaya tidak mudah terhasut hoax, Dadi uwong ojo kagetan, ojo gumunan !! Gunakan lah akal sehat. Tetap tenang, jangan reaksioner, jangan terlalu spaneng dan serius tapi tetap waspada, dan saring lah semua informasi secara bijaksana dan seimbang.

Panyondro
Candraning goro-goro bumi gonjang-ganjing langit gumarang, tangising bumi kelawan langit. Tangising bumi ketiga dawa lemah bengkah, lindu kang tanpa sangkan sedina kaping pitu mangambal-ambal, kluwung pating palengkung teja mangkara-kara, nganti kontrang-kantringan para kawula, awit akeh sato tan antuk boga, mina kesatan warih, anom tuwa kang sirna kapenthang teluh, gagrak roning mandura. Tangising langit udan barat salah mongso banjir bandang kang tanpa sangkan. Gunung longsor kawur pada dene gunung, bleduk mangampak panjering sapi gumarang, guro gurnita jagad kagiri-giri, tempuhing goro-goro akeh para pandita kang sami ngeningaken cipta nenuwun marang Jawata, ratu-ratu kang samiya jegreg ing penggalih. Genging panuwun murih tata tentreming jagad raya prandene datan katarima, mulat bumi kalawan langit kaya katangkep-tangkepa lintang lir rinanta-ranta lidat thatit pating klawer claret taut pating clorot. Mbaleduk swaraning kawah candra, tirta kang kinebur-kebur kinoclak-kocla lir gambiralaya. Pintu séla matangkeb kaya bujat-bujato mèncèng woting ogal-agil, ngakak tutuking sang hyang ananta, boga kopat-kapit tan pethite lir pecut penjalin tingal, nganti akeh para widadara widadari kang sami anjeli kepati, gunung jamur dipa kaya ambruk-ambruka, rikala semana sang paramesthi prisa kawontenaning goro-goro enggal ngasta tirta kamandanu, katetesake sirep pada sanalika. Sireping goro-goro ana swara kang tanpa sangkan, jumleguring angkasa pinda gundala sasra, gundala sewu gelap byar padang terawang jagad sumilak gumelaring jagad anyar.

Kalibrasi Sistem Keseimbangan Alam
Panyondro atau paparan situasi dan kondisi yang menggambarkan suatu fase goro-goro atau geger, yakni situasi kehidupan manusia yang sedang dilanda ontran-ontran, musibah dan bencana alam. Saya kira candraning goro-goro buka hanya dalam cerita pewayangan saja. Tetapi bisa terjadi dalam kehidupan nyata. Disebut fase goro-goro apabila hampir seluruh elemen alam terjadi pergolakan yang mengarah pada terjadinya suatu bencana alam maupun musibah kemanusiaan. Sebut saja misalnya elemen air, elemen api, elemen udara dan elemen tanah. Akibat pergolakan elemen air memungkinkan terjadi berbagai macam bencana alam seperti misalnya tsunami, banjir bandang, hujan lebat. Pergolakan elemen api memungkinkan terjadi berbagai macam bencana alam seperti gunung meletus, kebakaran hutan, kebakaran rumah-rumah penduduk, hawa yang sangat panas, badai halilintar. Pergolakan elemen udara dapat menimbulkan bencana berupa badai, tornado atau puting beliung, perubahan cuaca ekstrem. Sedangkan pergolakan elemen tanah dapat mengakibatkan suatu bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, likuifaksi, kekeringan dan sebagainya. Biasanya bencana alam terjadi secara pergantian untuk masing-masing elemen alam itu. Disebut goro-goro apabila bencana alam yang terjadi merupakan pergolakan dari keempat elemen alam itu secara bersama-sama pada waktu yang sama pula.
Saya melihat fase goro-goro bukan sebagai bentuk hukuman Tuhan, apalagi dikait-kaitkan dengan perilaku yang dianggap dosa menurut pandangan religi. Saya melihatnya secara holistik, universal dan ilmiah, fase goro-goro sebagai siklus yang bersifat alamiah. Setiap siklus merupakan akhir suatu putaran orde sengkala atau waktu dan sekaligus merupakan awal suatu orde sengkala yang baru. Artinya setiap siklus tentu akan membawa suatu perubahan. Itu terjadi dan berlangsung terus-menerus, sebagai sebuah dinamika kehidupan di planet bumi ini. Memahami datangnya fase goro-goro, artinya suatu perubahan akan atau sedang terjadi. Perubahan yang berhubungan dengan tatanan kehidupan manusia. Sedangkan pemicunya adalah adanya mekanisme alam untuk mengkoreksi tata keseimbangan kosmos yang telah mengalami pergeseran karena perjalanan waktu maupun rusaknya tata keseimbangan alam akibat ulah manusia, misalnya kerusakan lingkungan alam. Jika alam semesta ini diumpamakan sebagai seismograf, neraca atau kompas, maka secara berkala perlu dilakukan kalibrasi ulang agar dapat bekerja secara akurat lagi. Demikian pula dengan adanya sistem tata hukum keseimbangan alam ini, maka goro-goro merupakan siklus alamiah yang terjadi secara periodik guna mengkalibrasi sistem keseimbangan alam. Untuk itu, setiap fase goro-goro di dalamnya terjadi mekanisme seleksi alam. Semua hal yang tidak selaras dan harmonis dengan ritme dan tata hukum keseimbangan alam akan tergulung dan tergilas oleh kekuatan alam. Secara awam orang pada umumnya merasakan dan melihat hukum karma berlangsung secara cepat dan spontan. Atau populer disebut sebagai karma yang terjadi secara instan (instant karma). Kebobrokan akan menuai kehancuran, kebohongan dan tipu daya segera terbongkar. Kepalsuan menuai penderitaan dan kesengsaraan. Orang-orang oportunis akan berbalik menjadi pengemis. Tukang fitnah dan suka memutar balik fakta akan terjungkal oleh ulahnya sendiri. Sing salah, seleh..! Semua pihak, perseorangan maupun organisasi yang secara terang-terangan maupun terselubung hendak merusak integritas NKRI pasti terhempas oleh ulahnya sendiri. Karena mereka bukan sekedar berhadapan dengan hukum positif produk manusia, lebih dari itu, tindakannya berseberangan dengan hukum alam.

Tanggap Ing Sasmita

<!–more–>

Situasi dan kondisi alam pada tahun 2018, dapat dicatat beberapa hal yang sifatnya utama di antaranya adalah kemarau yang panjang hingga akhir Oktober. Tercatat ribuan kali gempa bumi di wilayah Indonesia. Tsunami Palu, ombak besar laut Selatan Jawa, hujan deras, banjir bandang, tanah longsor. Dari 127 gunung api yang ada di Nusantara, saat ini tercatat setidaknya 19 gunung api status level 2 atau waspada, satu gunung api level 4 atau awas, dua gunung status level 3 atau siaga. Bahkan pada musim penghujan yang biasanya aktivitas tektonik minim sekali, tetapi kali ini, intensitas tektonik tetap menunjukkan soal intensitas tinggi di wilayah barat pulau Sumatera, selatan Jawa, Sulawesi, Maluku, Lombok, Mataram, NTB, NTT, Flores, Papua. Cuaca terasa semakin ekstrim, ketika musim penghujan telah datang, diselingi hari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi sangat panas dan gempa kembali mengguncang berbagai wilayah secara beruntun dengan magnitudo ≥ 2 hingga ≥ 6 SR dengan kedalaman yang variatif. Memasuki bulan Desember 2018 yang merupakan fase puncak musim penghujan, tetapi gelagatnya mulai tampak bahwa hujan justru berkurang dan berganti dengan hawa panas. Tercatat ratusan gempa terjadi di Sulawesi, Maluku, Ambon, Lombok Barat, Sumbawa, NTB NTT, Flores, Situbondo, Madura, beberapa wilayah bagian barat Pulau Sumatera hingga selatan pulau Jawa dengan intensitas yang tampak semakin meningkat dan dengan skala magnitudo yang relatif besar antara 4 sampai dengan 5.6 SR. Di Jawa musim penghujan terlambat datang, Nopember pertengahan baru mulai hujan. Hujan es, angin ribut, puting beliung, sungai-sungai banjir. Di antara cuaca extreme musim hujan muncul pula semacam anomali cuaca berupa cuaca yang tiba-tiba panas dan kering dan hujan beberapa hari menghilang. Disusul kemudian terjadi gempa di berbagai wilayah Sumatera Jawa Sulawesi Maluku Bali Lombok NTB NTT hingga Flores dan Papua. Sementara itu keadaan Gunung Agung masih penuh misterius. Sehingga PVMBG belum berani mengubah status Gunung Agung yang saat ini masih berada pada level 3 atau siaga. Demikian pula aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menunjukkan intensitas tinggi. Selama 2 bulan telah terjadi ratusan bahkan ribuan kali letusan anak Gunung Krakatau. Seolah tidak mau ketinggalan gunung Sangeang Api, Gunung Gamalama, gunung Dukono juga telah menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan. Gunung Sinabung rupanya lebih misterius lag, hingga kini PVMBG masih menetapkan statusnya berada pada level 4 atau awas. Artinya sekalipun saat ini tampak diam tetapi sewaktu-waktu bisa terjadi letusan yang cukup besar dan dahsyat. Gunung Merapi, saat ini kondisinya semakin menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Setiap hari Merapi membangun kubah lava dan BPPTKG DIY mencatat adanya aktivitas vulkanik yang semakin intens.

Ada Gelagat yang Membuat Khawatir
Secepatnya Saya ingin melakukan sedikit ritual dengan tujuan untuk keselamatan. Ini adalah upaya, jauh lebih baik daripada hanya tinggal diam. Dengan harapan semoga berguna untuk semua orang terutama keluarga, kerabat, teman-teman, dan untuk siapa saja yang bisa memahami dan masih percaya pada kearifan lokal. Anda bisa melakukan hal yang sama sebagaimana yang bisa anda sendiri lakukan. Sesuai dengan kearifan lokal yang anda percaya atau tradisi yang anda pegang. Bahkan sekalipun hanya dengan model ucapan berupa doa. Yang penting semua itu dilakukan dengan setulus hati. Tidak perlu meremehkan cara yang di diyakini oleh orang lain. Tidak perlu merasa apa yang diyakini adalah paling benar. Karena sikap itu hanya akan membuat Anda tergelincir dalam sikap pongah dan takabur. Ujung-ujungnya anda tidak mendapatkan apa-apa atau hanya sia-sia. Bahkan kepongahan dan ketakaburan hanya akan mencelakai diri Anda sendiri. Please don’t do it.

Ada gelagat buruk yang dapat dibaca pada saat ini. Baik dari sisi gejolak politik maupun gejolak alam. Saya pribadi sungkan sekali untuk menggambarkan secara vulgar keadaan seperti apa yang mungkin terjadi. Yang jelas sungguh sangat mengkhawatirkan. Jika pada bulan Februari 2019 yang akan datang Jakarta terendam oleh banjir skala besar mungkin itu bukan hal yang mengejutkan. Kalau saat ini Anda melihat ada orang Jakarta beli perahu karet jangan ditertawakan.
Dari sisi politik, dapat diumpamakan situasi politik ibarat menjelang titik didih. Jika titik didih tercapai biasanya ada yang bergolak-golak. Api bisa merebus air hingga mencapai titik didih. Sedangkan kehidupan politik dapat mencapai titik didih jika direbus oleh api angkara murka. Jika kekuasaan menjadi tujuan utama, kebencian menjadi bahan bakar, dan uang menjadi dasar loyalitas dan kepatuhan, maka alamat kehancuran nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan. Ketika hawa nafsu dan angkara murka sudah sangat menggebu, bahkan bagaikan air bah yang tidak bisa dibendung lagi, maka tidak akan ada yang namanya kompromi, konsensus dan toleransi. Menghalalkan segala cara menjadi jalan terbaik untuk mewujudkan semua keinginan. Tetapi kebanyakan orang saat ini tidak mampu melihat gelagat baik yang sedang terjadi dengan hukum sebab akibat, atau hukum kausalitas yang sedang dijalankan oleh sistem keseimbangan alam. Apakah para pembaca yang budiman menyadari bahwa saat ini sering terjadi instant karma? Atau karma buruk yang seketika dialami oleh seseorang yang sedang melakukan suatu kesalahan. Ingat pepatah Jawa yang mengatakan sing sopo salah bakal seleh. Sing nganiaya bakal nemahi pati. Untuk saat ini Anda begitu mudah melihat contoh di percaturan politik nasional. Lantas apa yang terjadi jika seorang penjahat telah terdesak dan mengalami keputusasaan? Setidaknya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Iya akan menyerahkan diri kepada aparat keamanan, atau justru sebaliknya ia akan mengamuk sejadi-jadinya. Dalam percaturan politik nasional yang saat ini sedang berlangsung, kemungkinan kedua itulah yang sungguh sangat menghawatirkan akan terjadi. Saya tidak menunjuk salah satu kubu atau poros kekuatan politik, apalagi menunjuk pribadi seorang aktor politik. Karena semuanya mempunyai probabilitasnya masing-masing dengan kadar yang berbeda. Tulisan ini pun bukan untuk memberi dukungan politik tertentu pada salah satu pihak. Melainkan dengan harapan dapat menjadi titik tolak kesadaran berpolitik, bahwa kekuasaan bukanlah segalanya. Masih ada nilai yang lebih tinggi daripada kekuasaan yang sedang diperebutkan itu, yakni nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Apabila ada yang meletakkan pencapaian kekuasaan di atas nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan, maka ia sesungguhnya adalah pecundang sejati. Karena demi sebuah kekuasaan, ia akan berani menghancurkan integritas NKRI dan menggilas nilai-nilai kemanusiaan.

Saya melihat, masih banyak orang yang belum siap menghadapi suatu kenyataan bahwa sistem keseimbangan alam sedang menjalankan hukum sebab akibat secara ketat. Bagi orang-orang yang mampu menyelaraskan dan mengharmonisasikan diri dengan hukum alam tentu hal itu bukanlah persoalan serius, justru sebaliknya akan sangat menguntungkan karena segala anugerah alam menjadi semakin dekat dengan dirinya. Namun keadaannya sangat berbeda bagi orang yang tidak mampu menyelaraskan dan mengharmonisasikan diri dengan hukum alam. Keadaan ini akan membuatnya semakin temperamental, mentalnya menjadi semakin labil, tidak mampu berpikir jernih, gagal memahami sesuatu, sikapnya jauh dari bijaksana, dan pada akhirnya ia akan mengalami frustasi. Saat ini adalah surganya bagi semua orang yang mampu menyelaraskan diri dengan hukum alam tetapi menjadi neraka bagi orang-orang yang kelakuannya merusak tata keseimbangan alam. Maka musti waspada dan hati-hati lah, karena bukan saja elemen-elemen alam makro yang akan bergolak, tetapi elemen-elemen alam mikro yang ada dalam diri manusia juga akan mengalami pergolakan yang dahsyat. Siapa yang lengah akan binasa, sing sopo leno bakal keno. Marilah kita sama-sama saling mengingatkan, kita sama-sama terus belajar untuk menyeimbangkan ke empat elemen itu di dalam diri kita agar tidak ada yang menonjol dan dominan menguasai elemen-elemen lainnya. Biarkan pergolakan itu terjadi sebagai bagian dari mekanisme hukum alam untuk mengkalibrasi neraca keseimbangan alam. Kekuatan alam akan menunjukkan siapa yang penjahat dan siapa yang baik, becik ketitik olo ketoro.

Bosah-Baseh
Dene wonten-e dahuru, sasampune hardi Merapi. Gung kobar saking dahara, Sigar tengah ira kaki, lepen mili toya lahar, ngidul ngetan njog pesisir…

Mungkin letusan Merapi akan menjadi suatu pertanda bahwa goro-goro segera dimulai. Jika Anda jengah dengan kalimat uthak-athik-gathuk di atas, maka anggap saja sebagai sesuatu yang hanya bersifat kebetulan. Tak perlu teriak-teriak. Kalaupun itu benar terjadi bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi setiap orang yang telah memahami apa yang disebut pralampita. Saya pribadi pun tidak tertarik berbicara asal-asalan atau tanpa dasar. Semua ini sekedar membaca apa yang dapat dibaca, yang tersirat maupun yang tersurat. Yang mudah dilihat secara visual maupun yang bersifat wingit. Bagi orang yang hanya terbiasa membaca kalimat otentik tentu akan sulit memahami. Tetapi bagi para pembaca yang budiman, yang tidak hanya membaca kalimat otentik namun juga suka membaca isyarat atau bahasa alam akan mudah sekali memahami apa yang saya sampaikan.

Sesuatu yang mungkin tidak pernah Anda bayangkan akan terjadi. Kita akan melewati saat-saat yang cukup riskan dan berat. Baik yang tinggal di pedesaan apalagi di perkotaan. Tidak menghitung tahun melainkan hanya menghitung bulan bahkan menghitung pekan. Mungkin akhir tahun 2018, dan awal tahun 2019 akan menjadi tahun yang berat. Januari, Februari, Maret. Apa pun yang terjadi semoga kita selamat dari berbagai macam pergolakan alam dan politik.
Saya pernah mengharapkan orang yang dapat dipercaya menjadi pemimpin yang diberkahi oleh alam. Tetapi di tengah jalan mereka gagal menjaga diri agar senantiasa berada di dalam koridor sebagai calon pemimpin yang diberkahi alam. Mereka gagal nggenepi laku. Mereka lalai akan perintah dan petunjuk luhur dari para leluhur besar bangsa ini. Bahkan salah dalam pergaulan dan langkahnya semakin salah kaprah. Semakin tinggi jalan yang dapat didaki, tetapi membuatnya lupa diri. Dan akhirnya Wahyu yang pernah diberikan padanya dicabut lagi (dijugar) oleh yang punya otoritas. Sehinggaa dalam prosesnya ia gagal mendapatkan wahyu kepemimpinan dari alam semesta. Ibarat kesempatan telah diberikan, tetapi tidak semua orang akan mampu dan sukses memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Biar lah semua itu menjadi lakon kehidupan manusia dan bagian dari perjalanan sejarah NKRI menjadi bangsa yang semakin matang dan dewasa. Tentu mereka akan membuktikan (lagi), jika TIDAK berpasangan, maka tidak akan jadi.
Para pembaca yang budiman. Biar lah buih-buih sering memenuhi permukaan gelombang laut. Toh orang akan menjadi tahu, bahwa buih tidak sebanding dengan jumlah air laut. Dan sampai kapan pun jumlahnya tidak akan melebihi air laut. Buih tak perlu dibersihkan, karena buih akan “membersihkan” dirinya sendiri dengan aksi-reaksinya sendiri. Itu sudah menjadi hukum alam tidak tertulis, juga tidak bisa dielakkan. Saya mengharapkan Pilpres 2019 dapat melahirkan seorang pemimpin yang tidak hanya diidamkan oleh mayoritas rakyat Indonesia tetapi juga seorang pemimpin yang diberkahi oleh alam. Pemimpin yang dapat membawa kemakmuran bagi bangsa, pemimpin yang jujur, tidak temperamental, pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyat, dan pemimpin yang bisa menjaga integritas NKRI.

Ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Ketika pertarungan politik tidak seimbang, yang kemungkinan terjadi adalah beramai-ramainya para pecundang membelot pada yang lebih kuat dan dianggap akan memenangkan percaturan politik. Karena tidak ada pecundang yang idealis. Cara berfikir pecundang adalah oportunis dan pragmatis. Maka siapa pun nanti pemimpinnya hendaklah bijaksana, waspada dan permana. Asah asih asuh jauh lebih baik dari pada pembasmian. Karena semua adalah warga negara yang sama. Kecuali yang jelas-jelas menantang kedaulatan dan dasar konstitusi Negara.

Rahayu Sagung Titah Dumadi
Salam Nusantara Jaya !!

Sedulur-sedulur, para pembaca blog, di manapun berada, mengingat cuaca tampak semakin memburuk, berikut ini saya bagikan tip sederhana untuk mengurangi atau meminimalisir resiko bilamana terjadi suatu bencana alam berupa badai, angin ribut, puting beliung, topan dan sejenisnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi harinya sejak posting ini tayang ada sesuatu fenomena alam yang terjadi di Gunung Semeru, Jawa Timur. Tampak awan seperti caping (topi petani) yang berbentuk bundar kerucut yang menutupi puncak Mahameru. Mungkin bagi orang awam merupakan sekedar peristiwa alam dengan sisi keindahan yang luar biasa, karena memang benar-benar kejadian sangat langka dan menakjubkan. Bagi orang yang berkecimpung pada bidang meteorologi dan geofisika akan mengatakan sebagai fenomena alam biasa. Seperti apa yang disampaikan oleh kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho, ia juga berbicara sesuai kapasitasnya.

Berikut ini gambar yang dapat diambil oleh saudara-saudara di Lumajang dan warga sekitar Semeru pada tanggal 10 Desember 2018.

Tidak perlu melarang orang menyatakan pendapatnya sesuai dengan keahliannya masing-masing. Biarkan menjadi kekayaan khasanah pengetahuan dan beragam opini tentu lebih baik dari pada miskin opini.

Demikian juga pendapat dari sisi spiritual. Namun dalam perspektif spiritual tentu berbeda sudut pandangnya dari disiplin ilmu lainnya. Spiritual menilai fenomena alam di puncak Gunung Semeru bukan tanpa makna sama sekali. Fenomena alam itu mempunyai makna sebagai gambaran dari apa yang sering disebut sebagai pusaka Songsong Tunggul Nogo. Songsong artinya payung. Payung bermakna perlindungan dari Tuhan. Dalam hal ini berupa tugas mulia yang diperankan oleh entitas kadewatan-kawidodaren, termasuk para leluhur agung. Karena fenomena ini terjadi di Indonesia, tentu saja leluhur yang peduli adalah leluhur pribumi, bumi Pertiwi yang mempunyai tanggung jawab menjaga eksistensi Nusantara. Oleh karena itu pusaka Songsong Tunggul Nogo merupakan pusaka berupa Wahyuning alam. Wahyu dengan derajat keluhuran pada level kahyangan atau entitas kadewatan-kawidodaren. Pertanyaannya, mengapa fenomena itu terjadi? Tentu ada sesuatu yang bersifat urgent, wingit, atau gawat. Yang akan terjadi di Indonesia. Entah bencana alam, bencana politik, yang jelas sesuatu yang dapat menimbulkan dampak kerusakan pada tatanan sosial, kehidupan berbangsa dan bernegosiasi serta lingkungan alam. Karena masih banyak orang-orang yang selalu peduli akan nasib NKRI, sering melakukan ritual untuk tulak-balak atau keselamatan seluruh makhluk hidup, dan orang-orang yang masih menghargai kearifan lokal. Realitas itu lah yang mempunyai kekuatan dan daya tarik bagi entitas super natural power yang selalu menjaga Nusantara untuk turun tangan guna menyelamatkan Nusantara, dan semua orang yang memenuhi syarat serta pantas untuk diselamatkan.

Perspektif Ilmiah Topo Kungkum

Yeh Ho Waterfall Mt Batu Karu

Pada saat alam sedang dilanda hawa panas, akibat induksi gempa bumi gunung meletus pemanasan global, salah musim, dan berbagai faktor lainnya, maka induksi hawa panas yang berasal dari elemen api atau “dewa agni” menjadi dominan menerpa kehidupan manusia di planet bumi.

Read the rest of this entry

Gègèring Nuswantårå Nagri

Dèn Samyå Waspådå

Pêpéling puniki kaunggah ing dintên Kêmis Wagé 17-11-2011
(suryå kaping pitulas, wulan sêwêlas, warså sêwêlas)
Mugyå pårå dulur kulå sagung pôrô maôs blog tansah
pikantuk pitulungan tuwin kawêlasaning Gusti Hyang Jagadnåtå

Bethara Kala

Bethara Kala

Nuswantårå nandhang tyas duhkitå
Keh janmå agawé pôpô-cintråkå
Tumrap sarirå jiwå lan raganirå
Langit datan jinunjung bumi datan kapidak
Pribadi murkå angkårå kang dadi panguwåså
Lakunirå daksiyå lan cidrô mring nuså lan bångså
Nora éling sangkaning dumadi

Anging kabèh titah alûs wus cancut taliwåndå
Hamêmayu hayuning nuså kalawan bångså
Ajejuluk pêngawal jêjêging såkåguru
Kang dadi patrap paugêraning bangså Nuswåntårå
Rawé-rawé rantas malang-malang putûng
Gawé horèg asumurup ing jêroning rågå janmå saksêrik lan sulåyå
Tan ånå pitulung ingkang martani
Kajåbå éling mulihå mring mulåbukaning dumadi

Dipun éling kalawan waspadèng
Sêmuning kahanan bångså lan nagri
Sakèhing pratanda wus katon cêthå
Tansåyå cêdak dungkaping sapût dêndå
Méh tintrim kinobar prahårå gung gôrô-gôrô
Kabeh iku datan kénging dèn owahi

Read the rest of this entry

WAHYU KEPRABON & GORO-GORO 2011

Indonesia 06-06-11

Paling tidak semenjak akhir periode kekuasaan ORDE BARU kita seringkali mendengar istilah wahyu keprabon. Namun kiranya sedikit saja orang yang betul-betul mengetahui seluk beluk apa itu wahyu keprabon. Sepadan dengan wahyu keprabon adalah wahyu yang begitu kental dalam cerita pewayangan dan dalam tradisi kesusasteraan Jawa. Sebut saja misalnya “wahyu makutharama” yang diberikan kepada para kesatria Pendawa Lima. Bagi siapa yang memegang wahyu makutharama, dialah akan menjadi pemimpin, menjadi kesatria yang membawa berkah agung bagi rakyat yang dipimpinnya. Demikian halnya dengan wahyu keprabon. Siapa yang kesinungan memiliki wahyu keprabon, dialah orang yang kuat “nyunggi drajat” kepemimpinan tertinggi di negara Republik Indonesia. Dan ada semacam jaminan dari kekuatan supra satria tersebut akan menjadi pemimpin yang membawa berkah kemakmuran bagi rakyat yang dipimpinnya. Membawa berkah agung bagi bangsa yang dikelolanya.

Apa yang dimaksud dengan wahyu? Dalam terminologi Jawa, wahyu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu berkah Jawatagung atau Tuhan. Lebih konkritnya adalah berkah yang berasal dari mekanisme kebijaksanaan universe yang diperoleh manusia dengan cara gaib. Datangnya wahyu tidak dapat dipaksakan, tetapi hanya diperoleh melalui berbagai media, dan hanya kepada seseorang yang pinilih dan terpilih. Yakni orang-orang yang kuat memikul derajat tinggi, orang yang memenuhi syarat dalam hal budi pekerti dan tindak perbuatannya selalu hamemayu hayuning bawana terhadap alam semesta seluruh seluruh isi penghuninya. Kepada sesama manusia, mahluk halus, binatang, dan tumbuhan, sebagai refleksi di mana kesadaran spiritualnya telah berada pada level sejati ning jalma, manusia sejati. Orang-orang demikian itu yang sikap perbuatannya selalu selaras dan harmonis dengan hukum keadilan dan keseimbangan alam. Disebut sebagai manusia berkesadaran kosmologis. Bagi yang memenuhi persyaratan di atas, seseorang dapat melengkapi daya upaya untuk meraih wahyu keprabon dengan mesu raga dan mesu jiwa melalui berbagai tradisi seperti bersemadi, bertapa, tirakan, atau berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku atau perbuatan batin. Tapi tidak setiap kegiatan “laku batin” itu akan mendapatkan wahyu keprabon karena persyaratan untuk memangku wahyu keprabon tidaklah mudah. Perlu menata solah dan bowo, serta melalui liku-liku perjalanan hidup yang berat. Dari berbagai peristiwa yang menimbulkan suatu penderitaan hendaknya dijadikan sebagai bentuk laku prihatin yakni dijadikan wahana penggemblengan hidup. Dengan demikian seseorang dimungkinkan untuk mencapai tataran kesadaran spiritual dengan predikat tinggi. Berkat kesadaran spiritual yang memadai tersebut, akan terbentuk budi pekerti (bowo) yang luhur. Budi pekerti luhur bukan sekedar jargon yang bersifat pedagogik, namun senantiasa disertai dengan sikap dan perbuatan (solah) yang benar-benar konkrit. Apabila seseorang dapat memiliki prestasi spiritual sedemikian rupa berarti ia telah menjadikan dirinya sebagai “media tanam” yang layak bagi bersemainya “benih” wahyu keprabon.

PUSAKA KEPEMIMPINAN TERTINGGI

Keprabon berasal dari suku kata praba yang berarti sorot cahaya. Dapat bermakna pula aura yang memancar di seputar kepala. Keprabon merupakan sorot aura yang menandakan tingkat keluhuran dan kemuliaan seseorang. Makna khusus keprabon berarti tahta atau kekuasaan. Bagi seorang yang memiliki kemampuan melihat gaib atau melihat benda-benda metafisika, tentu akan mampu melihat pancaran cahaya keprabon yang menyelimuti kepala seseorang pemangku wahyu keprabon. Namun berbeda dengan aura pada umumnya, karena wahyu keprabon ini merupakan ajimat pusaka. Dari warna pancaran cahaya dan terutama getaran energinya dapat dibedakan mana wahyu keprabon mana pula yang bukan wahyu keprabon. Perbedaan paling esensial adalah wahyu keprabon merupakan ajimat pusaka yang memiliki efek terbukanya jalan bagi seseorang untuk memperoleh tahta kekuasaan (baca; kedudukan luhur).  Namun bukanlah sembarang kedudukan sebagai pemimpin, karena pusaka wahyu keprabon dikhususkan untuk memperoleh kedudukan sebagai orang nomer satu alias Presiden di negeri ini. Barang siapa yang mampu atau kuat memikul derajat tinggi, serta kesinungan (terpilih) memperoleh wahyu keprabon, itu artinya ia memiliki kesempatan besar menjadi penguasa atau Presiden RI.  Read the rest of this entry

KIRAB AGUNG TAPA mBISU Mubeng Benteng

KIRAB AGUNG TAPA mBISU
Adakah sebuah skenario besar ?

SUGENG MAHARGYO WARSO ENGGAL

Rebo Kliwon, 1 Sura 1944 Bé
Kurup Asapon (1936 – 2052 M)
Windu Kuntara
Lambang Windu Kulawu
Tahun
Lambang Tahun Buda Mahésa (Kerbau)
Kumarané rupa Mina Lodan

Paarasan Lakuning Srengéngé
Pancasuda Lebu Katiyub Angin
Kamarokam Kala Tinantang
Watak Sasi Sasi Rahayu
Watak DinaSarik Agung (Tumuruning Kuthilapas)

Mangsa Kanem (VI, Maya) 9 November – 21 Desember
Wuku Galungan
Lintang Jun
Padangon Nohan
Padéwan Éndra
Dina Buda (Rabu)
Paringkelan Aryang
Pasaran Kliwon
Lambang Dina Jaran

Wening ing cipta, pasrah ing rasa, kanthi sumunaring budhi. Mugya kita sami tansah manggih ing karaharjan. Hamemayu hayuning bawana, suradira jayaningrat lebur dening pangastuti. Wilujeng rahayu kang tinemu banda lan beja kang teka.

KIRAB AGUNG TAPA MBISU

Sudah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta Hadiningrat sejak ratusan tahun silam, bahwa setiap malam 1 Suro (tahun baru Jawa) masyarakat melaksanakan tradisi kirab mubeng benteng mengitari Kraton. Kirab agun adalah malam hening cipta, atau  mesu budi, bertujuan untuk maneges keselamatan lahir dan batin kepada Sang Hyang Jagad Nata.  Acara mesu budi dimulai tepat pukul 00.00 wib berangkat dari alun-alun utara Kraton dengan dipandu oleh para abdi dalem kraton yang mengusung pusaka Tumbak Kyai Slamet dan pusaka pendampingnya. Kirab agung ditempuh dengan berjalan tanpa alas kaki mengitari benteng Kraton sembari tapa mbisu alias diam seribu bahasa (tidak berbicara apapun). Kirab agung adalah bentuk meditasi atau semedi sambil berjalan. Eneng ening sinambi mlampah. Ngalap berkah tumurune wahyu dyatmika. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk keselamatan bumi seisinya meliputi binatang, tumbuhan, dan mahluk halus.

Sepuluh tahun lalu, acara ini sempat meredup diakibatkan oleh adanya upaya penggusuran tradisi secara sistematis antara lain dengan cara menempelkan stigma negatif pada acara tersebut.  Namun sejak gempa besar di Jogja pada 27 Mei 2006 lalu, masyarakat seolah seperti terbangun kesadarannya, bahwa selama ini telah melupakan nilai-nilai luhur warisan para pendahulu bangsa. Sejak itu peserta Kirab Agung kian ramai lagi. Dua hari sebelum malam 1 Suro, Jogja dan wilayah sekitarnya dalam seharian siang dan malam selalu diguyur hujan sangat lebat sesekali disertai guntur menyambar-nyambar. Namun rupanya berkah alam gayung bersambut. Malam 1 Sura ini langit bersih terang benderang, hawa tidak gerah, terasa lebih sejuk dari biasanya,  malam pun terasa begitu hening seolah-olah alam semesta sedang melaksakanan meditasi. Ada suatu fenomena yang fantastis, malam ini malam 1 Suro 1944 (malam 8 Desember 2010) kirab Agung yang dimulai dari pukul 00.00 hingga 03.00 wib diikuti sekitar 5000 perserta, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa bahkan anak-anak dengan latar belakang beragam etnis dan agama.

Sebagaimana prinsip dalam pandangan hidup Jawa, Kirab Agung memiliki nilai universal, tidak sektarian dan primordial. Hal ini sebagai refleksi akan pemahaman spiritual Javaisme yang anti sektarianisme dan primordialisme, karena bagi pemahaman Javaisme, kedua mazab pikir tersebut justru mencerminkan level kesadaran seseorang masih sangat rendah. Setelah gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu, kini masyarakat Jogjakarta seolah dibangunkan kesadaran spiritualnya yang kedua kali dengan peristiwa letusan gunung Merapi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi lebih menyadari pentingnya keharmonisan dan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Kesadaran spiritual yang tergugah itu telah memberikan impilkasi dengan melonjaknya jumlah peserta Kirab Agung secara signifikan. Yah, terlepas dari ada tidaknya “skenario” besar Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong, yang jelas lingkungan alam di sekitar kita telah mengajarkan kepada manusia supaya hidup lebih arif dan bijaksana dengan memahami dan menghayati gamabudi; budi pekerti luhur. Read the rest of this entry