Arsip Blog

Suro Mênthêk (Senin 3 Oktober 2016)

Pesan Mbah Mangir (Ki Ageng Mangir Wonoboyo) Minggu Pon, 25 September 2016

Meskipun masih nglakoni tapa mbisu, namun perlu kiranya menyampaian sesuatu berikut ini. Semogaberguna untuk para pembaca yang budiman.

img-20161002-wa0016

Bulan Suro tahun 1950, taun Je yang akan jatuh pada hari Senin tanggal 3 Oktober 2016, atau Senin Legi. Senin nilainya 4, Legi nilainya 5 jika dijumlahkan 9 merupakan neptu tiba lara. Kalender Jawa kali ini selisih satu hari lebih lambat dibandingkan dengan kalender Arab 1 Muharam 1438 H yang jatuh pada hari Minggu tanggal 2 Oktober 2016.

Ki Ageng mangir hanya memberikan pesan singkat bahwa menjelang bulan Suro kali ini tidak ada perintah atau dawuh yang bersifat khusus. Disebabkan oleh situasi dan kondisi alam yang masih akan banyak marabahaya yang berasal dari elemen angin, air, dan tanah. Intinya mengurangi bepergian pada malam 1 Suro dan pas 1 Suronya. Untuk itu alangkah baiknya untuk menghindari bepergian jauh selain urusan dan pekerjaan yang bersifat darurat, terutama pada malam 1 Suro. Ki Ageng mangir menyampaikan pesan untuk melakukan mandi wuwung di rumahnya masing-masing tempat 00.00 pada malam satu Suro.

Mandi Wuwung
Read the rest of this entry

Satu Suro 1947 : Mukti opo Mati !?

MONCER ATAU MATI

Setelah kita dihantarkan oleh Suro Pambuka, pada 15 Nopember 2012 sampai dengan 4 Nopember 2013, tahun baru Jawa kali ini atau lebih populer 1 Suro, 1947 Taun Alip, Sengara Langkir, di tahun 2013 ini jatuh pada hari Selasa Pon tanggal 5 Nopember 2013. Tahun baru Jawa kali ini merupakan Suro Moncer. Moncer artinya bersinar terang, bisa diartikan pula makmur. Semoga tahun 2013-2014 menjadikan pondasi (starting point) untuk kemakmuran Nusantara diwaktu mendatang. Bulan Sura Moncer tahun 1947 mempunyai condrosengkoloSapta tirta nembus bumi, panca geni nyuceni jagad“. Namun demikian Tanggal 1 Sura Moncer ini jatuh pada hari Selasa Pon yang memiliki angka 10 atau tibo pati, jatuhnya mati. Mukti opo mati?! Artinya, untuk meraih kemakmuran masih terdapat satu rintangan pengapesan (sial) yang gawat. Yakni tepat pada tanggal 1 Sura hari Selasa Pon tibo pati. Siapa yang melakukan tindakan bertentangan dengan hukum alam, misalnya mencelakai orang, menyakiti hati, dan seterusnya, atau resikonya bisa gugur dalam meraih kemakmuran dalam tahun moncer alias mendapati “mati” (sengsara). Sebaliknya siapa yang selalu eling dan waspada, hingga selalu menjaga keselarasan dan harmonisasi dengan hukum alam tentu akan menjadi manusia yang bakal kebagian moncer-nya tahun Jawa 1947, alias “mukti” (urip mulya). Prinsip hukum keseimbangan alam yang serba balance, semakin besar anugrah yang akan diperoleh seseorang tentu tebusannya semakin berat pula.

Read the rest of this entry