Kejadian ini saya alami tahun 2007. Pada saat itu saya tinggal di Jakarta, –sekalipun saya bukan nasrani, tetapi karena sikap saya yang menghargai sesama tanpa membedakan agama–, saya mendapat undangan hadir dalam acara selamatan 40 hari yang diisi dengan doa missa arwah dari keluarga rekan yang beragama Katolik. Tepatnya di daerah Ciputat, Kab Tangerang. Yang meninggal sebut saja namanya Bapak P  dan saya belum pernah kenal dan bertemu sebelumnya dengan beliau. Acara dimulai pukul 19.00 sampai 21.00 saya berangkat dari rumah jam 19 malam. Pada saat itu saya melintasi jalan potong di daerah Bintaro sektor 3, tiba-tiba dari dalam mobil saya bersama istri melihat ada sosok laki-laki. Saya tahu persis bahwa laki-laki setengah baya itu adalah arwah seseorang. Ia mengikuti di samping mobil yang saya kendarai. Saya bertanya,”anda siapa dan mau ke mana ? Jawab arwah laki-laki itu,”Saya (pak) P, saya akan menunjukkan jalan menuju ke rumah saya. Rupanya arwah Pak P tahu jika saya diundang ntuk missa arwah dirinya dan saya juga belum pernah berkunjung ke rumahnya. Sehingga harus nanya-nanya jalan menuju alamat rumahnya. Lantas saya ikuti arwah saja Pak P ke mana dia arahnya. Selanjutnya saya mengikuti di belakangnya menyusuri Jalan Deplu, terus melintas perempatan Jln Fatmawati ke timur arah kompleks Pndok Indah. Sesampainya di perempatan bunderan kecil saya belok ke selatan atau ke kiri terus ke timur. Saya pikir kenapa tidak melewati jalan besar saja melewati depan RS Pondok Indah ? Belum selesai saya bertanya-tanya dalam batin, tiba-tiba pak P berhenti sambil menunjukkan sesuatu. Tepatnya di sebelah barat lapangan tenis ada pertigaan terdapat pohon besar tepat di depan kios kaki lima. Saya melihat di dekat pohon itu ada sosok makhluk berbulu pendek seperti lumut hijau baunya anyir dan busuk sekali, makhluk itu di daerah Jawa biasanya disebut “Buto Ijo” yakni sejenis siluman yang dipiara orang untuk mencari jalan pintas meraih kekayaan harta benda. Pak P menjelaskan secara singkat bahwa dia meninggal tepat di dekat pohon itu sewaktu akan berangkat ke kantor kira-kira jan 09.00 sampailah pak P di lokasi ini, tiba-tiba lehernya dicekik makhluk itu hingga menemui ajal.

Langkah pertama, saya turun dari mobil dan berusaha untuk “melenyapkan” makhluk itu sebisa yang saya lakukan, tidak dengan doa melainkan harus dengan “cara khusus” barulah makhluk itu dapat diatasi. Doa itu untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, dan Tuhan tidak serta merta melenyapkan makhluk itu, namun tetap butuh usaha kita sendiri yakni perlu tindakan konkrit untuk menaklukkan. Jika saya berhasil menundukkan, hal itu tidak lepas dari anugrah Tuhan yang telah berikan kepadaku. Ini sama halnya dengan aksi menangkap koruptor, tidak bisa dengan berdoa saja, tetapi butuh tindakan konkrit berupa penyergapan atau penyadapan suara si koruptor itu sewaktu menjalankan aksi jahatnya.

Perjalanan menuju rumah pak P saya lanjutkan, karena atas petunjuk pak P saya segera sampai rumahnya tanpa harus tanya-tanya alamat di jalan. Pukul 21.00 acara missa arwah selesai. Saya bertemu dengan istri pak P dan menanyakan untuk kroscek dengan kejadian tadi, “apakah suami ibu meninggalnya di dalam mobil dan di daerah kompleks Pondok Indah dekat pohon besar ? dan meninggal dengan posisi ke dua tangan memegang lehernya sendiri seperti orang sesak nafas ? Ibu P membenarkan semua. Agar supaya tidak banyak tanda tanya, saya mengaku sudah mendapat cerita dari teman yang lain sebelumnya. Saya melihat foto almarhum pak P ternyata persis seperti yang saya temui sepanjang perjalanan tadi. Hanya saja wujud arwah atau ruh ternyata selalu tampak lebih muda, lebih segar bugar, lebih ganteng ketimbang raganya sewaktu hidup.

Sepulang dari undangan, sesampai saya di rumah, pak P ternyata menyusul saya. Kira-kira selama 2 jam arwah pak P berkunjung di rumah saya dari jam 23.00 hingga 01.00 wib. Pak P banyak menceritakan kisahnya sewaktu beliau masih hidup dari A sampai Z. Arwah pak P menitipkan pesan kepada saya agar disampaikan kepada istrinya yang masih hidup. Pesan-pesannya sbb; pertama, mohon disampaikan maaf kepada istrinya karena dulu pak P mempunyai WIL dan istrinya tak pernah tahu. Pak P merasa sangat menyesal karena telah membagi “jatah” tidak secara adil kepada keluarga, istri dan anak-anak. Kedua, pak P memberi tahu bahwa dia punya rekening di salah satu bank di Jakarta, sedangkan keluarganya tidak ada yang mengetahui rekening pak P tersebut. Pak P minta supaya istri dan anak-anaknya diberitahu soal rekening dan jumlah tabungannya agar supaya dimanfaatkan untuk melanjutkan hidup keluarga yang ditinggalkan. Ketiga, pak P memberitahukan bahwa dia punya kerjasama bisnis dengan menyebut nama seseorang, dan pak P belum pernah menerima jatah dari pembagian hasilnya. Pak P minta supaya disampaikan kepada istri dan anak-anaknya agar supaya dapat diurus hak-haknya dalam kerjasama dengan rekannya tersebut. Semua pesan itu saya catat satu persatu (kecuali soal WIL pak P) di atas kertas agar tidak lupa, dan paginya saya serahkan kepada istri dan anak-anak yang ditinggalkan. Alangkah terkejutnya istri dan anak-anak pak P karena selama ini tak pernah mengetahui hal itu. Saya merahasiakan kejadian semalam di depan bu P agar tidak menjadi panjang lebar dan penuh tanda-tanya. Saya bilang bahwa kemarin sepulang dari rumah ibu saya bertemu seseorang yang tidaksaya kenal, orang itu memberikan secarik kertas catatan yang berisi pesan-pesan tadi.

Besok paginya bu P dan anak-anak melakukan pengecekan di bank dan melacak rekanan yang namanya saya catat di kertas. Sangat mengejutkan ternyata semua benar adanya, baik nomer rekening, jumlah uang yang ditabung, maupun nama seseorang tercantum dalam kerjasama dengan almarhum pak P.

Seminggu setelah peristiwa itu, arwah pak P kembali datang ke rumah saya, kali ini pak P hanya mengucapkan,”…terimakasih atas segala bantuannya, Tuhan yang akan membalas kebaikan anda ! pak P juga berpamitan bahwa dia akan melanjutkan “perjalanan”nya setelah 40 hari kematiannya itu. Selamat jalan pak P, terusno lakumu, ojo parang tumuleh, lepaso parane, jembaro kubure, semoga amal kebaikanmu diterima disisinya, dan segala kesalahan diampuni Tuhan.