Category Archives: FAQ; Membangun Laku Prihatin

PANTANGAN DAN RINTANGAN DALAM MENJALANI LAKU PRIHATIN

Melengkapi tulisan saya terdahulu, dengan judul “FAQ : Membangun Laku Prihatin yang Pas dan Pener”. Tujuan dari penulisan ini sebagai harapan saya siapa tahu bermanfaat bagi siapapun dan seluruh sedulurku yang sering mampir di sini khususnya yang saat ini sedang berjuang  meraih kesejahteraan bagi keluarganya. Ada berbagai gejala yang perlu diperhatikan dan penting diketahui agar supaya siapapun berhasil dalam menjalani laku prihatin yang pas dan pener. Jika gejala-gejala di bawah ini kurang diperhatikan akan menjadi halangan atau rintangan dalam meraih kesuksesan dan menggapai anugrah yang akan datang pada diri anda. Tekad bulat, niat, harapan, serta kemantaban hati kita akan melalui semacam “uji nyali”. Jika lolos, anugrah akan kita dapatkan. Jika tidak lolos, berarti kita batal mendapat anugrah yang sudah disiapkan. Untuk itu, berbagai macam gejala berikut ini perlu saya ungkapkan dengan harapan dapat menambah dan menumbuhkan sikap eling dan waspada bagi seluruh sedulurku yang sedang menjalani “laku prihatin”.

SAAT HARI WETON TIBA

Dalam rentang waktu selapan hari (35 hari) siklus weton akan berlangsung sekali. Artinya, jika weton anda Senin Pon, maka weton Senin Pon berikutnya akan datang lagi setelah putaran waktu 35 hari. Ada beberapa gejala paling umum saat hari weton kita tiba. Gejala-gejala tersebut antara lain :

  1. Perasaan gundah, resah, dan perasaan tidak enak seperti ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tidak mengetahui sesuatu apa yang sedang tidak beres.
  2. Tubuh terasa capai, merasa lelah, lemas, jika bekerja mudah lelah, otot-otot terasa ngilu, pegal-pegal dan rasa tak enak badan yang tidak karuan dirasakan. Suhu badan agak naik, bahkan badan terasa seperti akan terserang flu atau demam.

Setelah hari weton berlalu semua gejala di atas akan sirna dengan sendirinya. Bagi yang sudah memahami gejala tersebut, biasanya lantas teringat jika hari tersebut adalah hari wetonnya. Pertanyaannya, kenapa gejala tersebut muncul saat weton anda tiba ? Hal itu  disebabkan oleh banyaknya sengkolo dan sukerto yang ada dalam diri kita. Sementara itu sudah lama sekali tidak dilakukan bancakan weton. Bagi yang sering melakukan bancakan weton (paling tidak setahun 1 kali), gejala saat hari weton tersebut tidak lagi terasa.

SAAT BERZIARAH

Ziarah bukan saja bertujuan untuk mendoakan dan merawat makam para leluhur yang kita kunjungi. Lebih dari itu, kedatangan kita ke makam leluhur tak ubahnya kita menghadap kepada sesepuh yang kita hormati untuk menghaturkan sembah bakti kita kepada beliau-beliau yang telah hidup di dalam kehidupan sejati. Serta untuk mendapatkan bimbingan, arahan dan doa restunya. Pergi berziarah seperti halnya kita menuju suatu tempat untuk menjemput anugrah. Bahkan anugrah yang besar, minimal anugrah doa restu dari orang-orang yang sudah pindah dalam kehidupan yang sejati.

Hal-hal Yang Perlu Dihindari

Apabila anda pergi berziarah ke pasarean agung, makam raja-raja besar, makam para  ratugung binatara, atau makam orang-orang yang dianggap suci dan mulia sewaktu hidupnya hendaknya menghindari hal-hal berikut : Read the rest of this entry

Iklan

FAQ : MEMBANGUN “LAKU” PRIHATIN

MEMBANGUN “ LAKU PRIHATIN” YANG PENER & PAS
Menggapai Sukses Lahir dan Batin

Pertanyaan ;

Mas Sabdo, bagaimana saya harus memulai “laku” prihatin agar supaya saya bisa keluar dari keadaan hidup saya yang selama ini banyak terbentur kesulitan, masalah, salah langkah, dan mengalami berbagai penderitaan yang tak kunjung selesai ?

Jawab :

  1. Jadilah seorang yang berbakti kepada orang tua. Saya sudah buktikan sendiri, dan menyaksikan apa yang saya alami dan dialami oleh rekan-rekan, para sahabat saya yang kehidupannya mapan, yang sukses lahir batin. Pastilah mereka adalah anak paling berbakti kepada kedua orang tuanya.
  2. Jangan sampai panjenengan menjadi generasi penerus yang durhaka kepada para leluhur yang menurunkan anda.
  3. Rubahlah prinsip menjalani kehidupan ini untuk menjadi berkah bagi sesama manusia, makhluk gaib, hewan, lingkungan alam. Dengan dasar rasa welas asih.
  4. Lakukan donodriyah.
  5. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, hidup musti selalu hati-hati, jangan sampai kita menyakiti hati orang lain. Usahakan sebisa mungkin dan lakukan setiap saat di manapun anda berada.

Terimakasih tak terhingga atas kiat-kiat suksesnya, mohon maaf saya selama ini selalu banyak bertanya kepada Mas Sabdo, yang tidak bosan-bosannya membimbing dan mengarahkan saya, hingga masalah demi masalah yang saya hadapi bisa selesai. Hidup saya sekeluarga menjadi selamat, tenteram, kecukupan, bahagia. Mohon kiranya Mas Sabdo berkenan menjabarkan ke lima point di atas ? Agar saya tidak keliru memahami. Sebelumnya terimakasih, semoga mas Sabdo sekeluarga selalu dalam anugerah Ilahi.

Jawab :

POINT SATU

“Berbakti kepada kedua orang tua merupakan pintu gerbang mencapai kesuksesan hidup di dunia maupun kehidupan setelah ajal.”

Kita harus selalu lapang hati untuk berbagi rejeki kepada orang tua. Jangan pelit, jangan terlalu perhitungan materi dengan ortu. Jangan sampai kita dalam gelimang harta sementara ortu kita dalam gelimang derita. Bahkan jika anda harus memberikan seluruh penghasilan anda sebulan, atau beberapa bulan demi menyelamatkan jiwa ortu. Jangan pernah berpamrih bila memberikan sesuatu kepada ortu, apalagi hanya sekedar uang banyak. Jangan pernah mentang-mentang pula hanya karena anda sudah mampu memberi banyak sekali pada kedua ortu. Kita musti sadar diri, setiap anak pasti “berhutang” kepada ortunya, adalah hutang yang tak pernah bisa kita lunasi sampai kapanpun, sekalipun dengan ratusan milyar atau trilyun rupiah. Karena hutang kita berupa hutang darah, dan hutang, nyawa.

Jalan untuk berbakti kepada ortu ada banyak cara, misalnya dengan bersikap persuasif, sopan santun, menentramkan hati, sekalipun anda tidak setuju dengan saran dan permintaan ortu yang keliru atau tidak tepat. Bila ortu kita keliru, ingatkan dan luruskan dengan cara-cara yang jauh lebih arif dan bijaksana, melebihi kearifan sikap ortu terhadap anak. Ini sangat tidak mudah, namun seorang anak teladan dan berbakti dituntut bisa melakukannya.

Namun demikian, pengorbanan material anda demi keselamatan jiwa raga orang tua, merupakan “project” paling besar efeknya pada kesuksesan hidup anda sendiri. Karena sedekah harta dengan setulus hati merupakan perbuatan yang relatif paling sulit dilakukan manusia di bumi ini.  Karena harta adalah barang yang selalu dicari setiap orang, bahkan tidak dengan cara yang mudah. Setelah dengan susah-payah mendapatkan uang, pada akhirnya digunakan untuk menutup kebutuhan darurat ortu. Walau anak kandung sendiri, kenyataannya banyak sekali yang tanpa sadar, sikap perbuatannya sangat tega kepada ortu. Inilah wujud anak durhaka secara terselubung. Anak demikian, pasti tidak akan luput dari kesialan dirinya sendiri. Laku perbuatannya sendirilah yang mendatangkan sebel sial.

Kuncinya : Seberapapun harta/uang yang anda berikan untuk menyelamatkan jiwa raga ortu anda, harta anda justru tidak akan habis. Bahkan harta anda akan berlipat ganda melalui berbagai pintu-pintu rejeki.”

Contoh ; Setelah anda menyelamatkan jiwa, mengobati, mengobatkan, atau membayar seluruh beaya berobat ortu tanpa berkeluh kesah, dilakukan setulus hati, sepenuh jiwa raga, dan tanpa ada rasa khawatir hidup anda menjadi melarat, maka setelah itu pintu rejeki anda seperti terbuka. Berbagai urusan menjadi mudah. Kran-kran rejeki seperti dibuka bersamaan. Lakukan saja dengan tulus tanpa perasaan takut uang anda habis, dan saksikan sendiri mujizat di balik itu.

POINT DUA ;

“Berbakti kepada kedua orang tua merupakan pintu gerbang mencapai kesuksesan hidup. Sedangkan berbakti kepada para leluhur merupakan pintu gerbang meraih kesuksesan hidup, dan pintu gerbang paling mudah ke dalam interaksi dengan rahasia gaib”.

Jika anda percaya dan menghargai prinsip anak yang harus berbakti kepada ortu, maka tidak akan lepas dari prinsip kita musti berbakti kepada orang-orang yang menurunkan kita. Leluhur adalah para pendahulu kita yang sudah hidup di alam kehidupan sejati tanpa ragawi. Leluhur dekat adalah orang-orang yang menurunkan kita sebagai generasi penerus kehidupan ini. Apabila ortu sudah meninggal dunia, ortu disebut pula sebagai leluhur paling dekat. Cara-cara berbakti kepada leluhur, pada hakekatnya sama dengan berbakti kepada ortu. Hanya saja, teknis dan medianya yang berbeda. Karena leluhur sudah tidak mengurusi urusan duniawi kecuali untuk urusan yang darurat. Read the rest of this entry