Misteri Di balik Bulan Sura

MISTERI BULAN SURA
Bulan Sura adalah bulan pertama dalam kalender Jawa. Tanggal 1 Sura akan jatuh pada hari Senin tanggal 29 Desember 2008. Secara lugas maknanya adalah merupakan tahun baru menurut penanggalan Jawa. Bagi pemegang tradisi Jawa hingga kini masih memiliki pandangan bahwa bulan Sura merupakan bulan sakral. Berikut ini saya paparkan arti bulan Sura secara maknawi dan dimanakah letak kesakralannya.
MELURUSKAN BERITA “burung”
Tradisi dan kepercayaan Jawa melihat bulan Sura sebagai bulan sakral. Bagi yang memiliki talenta sensitifitas indera keenam (batin) sepanjang bulan Sura aura mistis dari alam gaib begitu kental melebihi bulan-bulan lainnya. Tetapi sangat tidak bijaksana apabila kita buru-buru menganggapnya sebagai bentuk paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya. Musrik atau syirik berkaitan erat dengan cara pandang batiniah dan suara hati, jadi sulit menilai hanya dengan melihat manifestasi perbuatannya saja. Jika musrik dan syirik diartikan sebagai bentuk penyekutuan Tuhan, maka punishment terhadap tradisi bulan Sura itu jauh dari kebenaran, alias tuduhan tanpa didasari pemahaman yang jelas dan beresiko tindakan pemfitnahan. Biasanya anggapan musrik dan sirik muncul karena mengikuti trend atau ikut-ikutan pada perkataan seseorang yang dinilai secara dangkal layak menjadi panutan. Padahal tuduhan itu jelas merupakan kesimpulan yang bersifat subyektif dan mengandung stigma, dan sikap menghakimi secara sepihak.
Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos, bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Seluruh penghuni masing-masing dimensi mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang bersimbiosis mutual, saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta sebagai upaya memanifestasikan rasa sukur akan karunia terindah dari Tuhan YME. Sehingga manusia bukanlah segalanya di hadapan Tuhan, dan dibanding mahluk Tuhan lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Selain kesadaran makrokosmos, sebaliknya di sisi lain kesadaran mikrokosmos Javanisme bahwa akal-budi ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat memuliakan manusia tetapi di sisi lain justru sebaliknya akan menghinakan manusia, bahkan lebih hina dari binatang, maupun mahluk gaib jahat sekalipun.
Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan bumi ini berikut seluruh isinya untuk dimanfaatkan umat manusia.
Dalam tradisi Jawa sekalipun yang dianggap paling klenik sekalipun, prinsip dasar yang sesungguhnya tetaplah PERCAYA KEPADA TUHAN YME. Di awal atau di akhir setiap kalimat doa dan mantra selalu diikuti kalimat; saka kersaning Gusti, saka kersaning Allah. Semua media dalam ritual, hanya sebatas dipahami sebagai media dan kristalisasi dari simbol-simbol doa semata. Doa yang ditujukan hanya kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Prinsip tersebut memproyeksikan bahwa kaidah dan prinsip religiusitas ajaran Jawa tetap jauh dari kemusrikan maupun syirik yang menyekutukan Tuhan.
Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tipikal tradisi Jawa kental akan penjelajahan wilayah gaib sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia terhadap lingkungan alam dan seluruh isinya. Lingkungan alam dilihat memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik. Lingkungan alam tidak sebatas apa yang tampak oleh mata, melainkan meliputi pula lingkungan yang tidak tampak oleh mata (gaib). Boleh dikatakan pemahaman masyarakat Jawa akan lingkungan atau dimensi gaib sebagai bentuk “keimanan“ (percaya) kepada yang gaib. Bahkan oleh sebagian masyarakat Jawa, unsur kegaiban tidak hanya sebatas diyakini atau diimani saja, tetapi lebih dari itu seseorang dapat membuktikannya dengan bersinggungan atau berinteraksi secara langsung dengan yang gaib sebagai bentuk pengalaman gaib. Oleh karena itu, bagi masyarakat Jawa dimensi gaib merupakan sebuah realitas konkrit. Hanya saja konkrit dalam arti tidak selalu dilihat oleh mata kasar, melainkan konkrit dalam arti Jawa yakni termasuk hal-hal yang dapat dibuktikan melalui indera penglihatan maupun indera batiniah. Meskipun demikian penjelasan ini mungkin masih sulit dipahami bagi pihak-pihak yang belum pernah samasekali bersinggungan dengan hal-hal gaib. Sehingga cerita-cerita maupun kisah-kisah gaib dirasakan menjadi tidak masuk akal, sebagai hal yang mustahal, dan menganggap pepesan kosong belaka. Pendapat demikian sah-sah saja, sebab tataran pemahaman gaib memang tidak semua orang dapat mencapainya. Yang merasa mampu memahamipun belum tentu tapat dengan realitas gaib yang sesungguhnya. Sedangkan agama sebatas memaparkan yang bersifat universal, garis besar, dan tidak secara rinci. Perincian mendetail tentang eksistensi alam gaib merupakan rahasia ilmu Tuhan Yang Maha Luas, tetapi Tuhan Maha Adil tetap memberikan kesempatan kepada umat manusia untuk mengetahuinya walaupun sedikit namun dengan sarat-sarat yang berat dan tataran yang tidak mudah dicapai.
MISTERI BULAN SURA
Bulan Sura adalah bulan baru yang digunakan dalam tradisi penanggalan Jawa. Di samping itu bagi masyarakat Jawa adalah realitas pengalaman gaib bahwa dalam jagad makhluk halus pun mengikuti sistem penanggalan sedemikian rupa. Sehingga bulan Sura juga merupakan bulan baru yang berlaku di jagad gaib. Alam gaib yang dimaksudkan adalah; jagad makhluk halus ; jin, setan (dalam konotasi Jawa; hantu), siluman, benatang gaib, serta jagad leluhur ; alam arwah, dan bidadari. Antara jagad fana manusia (Jawa), jagad leluhur, dan jagad mahluk halus berbeda-beda dimensinya. Tetapi dalam berinteraksi antara jagad leluhur dan jagad mahluk halus di satu sisi, dengan jagad manusia di sisi lain, selalu menggunakan penghitungan waktu penanggalan Jawa. Misalnya; malam Jum’at Kliwon (Jawa; Jemuah) dilihat sebagai malam suci paling agung yang biasa digunakan para leluhur “turun ke bumi” untuk njangkung dan njampangai (membimbing) bagi anak turunnya yang menghargai dan menjaga hubungan dengan para leluhurnya. Demikian pula, dalam bulan Sura juga merupakan bulan paling sakral bagi jagad makhluk halus. Mereka bahkan mendapat “dispensasi” untuk melakukan seleksi alam. Bagi siapapun yang hidupnya tidak eling dan waspada, dapat terkena dampaknya.
Dalam siklus hitungan waktu tertentu yang merupakan rahasia besar Tuhan, terdapat suatu bulan Sura yang bernama Sura Duraka. Disebut sebagai bulan Sura Duraka karena merupakan bulan di mana terjadi tundan dhemit. Tundan dhemit maksudnya adalah suatu waktu di mana terjadi akumulasi para dedemit yang mencari “korban” para manusia yang tidak eling dan waspadha. Karena pada bulan-bulan Sura biasa para dedhemit yang keluar tidak sebanyak pada saat bulan Sura Duraka. Sehingga pada bulan Sura Duraka biasanya ditandai banyak sekali musibah dan bencana melanda jagad manusia. Bulan Sura Duraka ini pernah terjadi sepanjang bulan Januari s/d Februari 2007. Musibah banyak terjadi di seantero negeri ini. 1) Di awali tenggelamnya KM Senopati di laut Banda yang terkenal sebagai palung laut terdalam di wilayah perairan Indonesia. Kecelakaan ini memakan korban ratusan jiwa. 2) Kecelakaan Pesawat Adam Air hilang tertelan di palung laut dekat teluk Mandar, posisi di 40 mil barat laut Majene. 3) Kereta api mengalami anjlok dan terguling sampai 3 kali kasus selama sebulan. 4) Tabrakan bus di pantura, bus menyeruduk rumah penduduk. 5) Kecelakaan pesawat garuda di Yogyakarta. 6) Beberapa maskapai penerbangan mengalami gagal take off, gagal landing, mesin error dsb. 7) Jakarta dilanda banjir terbesar sepanjang masa. 8) Kapal terbakar di Sulawesi dan maluku. 9) Kapal laut di selat Karimun terbakar lalu tenggelam memakan ratusan korban berikut wartawan TV peliput berita. 10) Banjir besar di Jawa Tengah, Angin puting beliung sepanjang Pulau Jawa-Sumatra. Dan masih banyak lagi kecelakaan pribadi yang waktu itu Kapolri sempat menyatakan sebagai bulan kecelakaan terbanyak meliputi darat, laut dan udara.
Atas beberapa uraian pandangan masyarakat Jawa tersebut kemudian muncul kearifan yang kemudian mengkristal menjadi tradisi masyarakat Jawa selama bulan Sura. Sedikitnya ada 5 macam ritual yang dilakukan menjelang dan selama bulan Sura seperti berikut ini;
1. Siraman malam 1 Sura; mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Sebagai bentuk “sembah raga” (sariat) dengan tujuan mensucikan badan, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Sura; lantara lain lebih ketat dalam menjaga dan mensucikan hati, fikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat dilakukan siraman diharuskan sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan YME agar senantiasa menjaga kita dari segala bencana, musibah, kecelakaan. Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Doa tersirat dalam setiap langkah ritual mandi. Misalnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 dalam bahasa Jawa; pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan). Atau 11 kali (11 dalam bahasa Jawa; sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikan kawelasan; belaskasih). Atau 17 kali (17 dalam bahasa Jawa; pitulas; agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah; langsung “beratap langit”; maksudnya adalah kita secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta.
2. Tapa Mbisu (membisu); tirakat sepanjang bulan Sura berupa sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Sebab dalam bulan Sura yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud. Bahkan ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud. Sehingga ucapan buruk dapat benar-benar mencelakai diri sendiri maupun orang lain.
3. Lebih Menggiatkan Ziarah; pada bulan Sura masyarakat Jawa lebih menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa untuk kita, bagi masyarakat, bangsa, sehingga negeri nusantara ini ada. Selain mendoakan, ziarah sebagai tindakan konkrit generasi penerus untuk menghormati para leluhurnya (menjadi pepunden). Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam beliau. Sebab makam merupakan monumen sejarah yang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur; mengenang dan mencontoh amal kebaikan beliau semasa hidupnya. Di samping itu kita akan selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Asal-usul kita ada di dunia ini adalah dari turunan beliau-beliau. Dan suatu saat nanti kita semua pasti akan berpulang ke haribaan Tuhan Yang maha Kuasa. Mengapa harus datang ke makam, tentunya atas kesadaran bahwa semua warisan para leluhur baik berupa ilmu, kebahagiannya, tanah kemerdekaan, maupun hartanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan dinikmati oleh semua anak turunnya hingga kini. Apakah sebagai keturunannya kita masih tega hanya dengan mendoakan saja dari rumah ? Jika direnungkan secara mendalam menggunakan hati nurani, sikap demikian tidak lebih dari sekedar menuruti egoisme pribadi (hawa nafsu negatif) saja. Anak turun yang mau enaknya sendiri enggan datang susah-payah ke makam para leluhurnya, apalagi terpencil nun jauh harus pergi ke pelosok desa mendoakan dan merawat seonggok makam yang sudah tertimbun semak belukar. Betapa teganya hati kita, bahkan dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk kemalasannya sendiri, bisa saja menggunakan alasan supaya menjauhi kemusyrikan. Padahal kita semua tahu, kemusyrikan bukan lah berhubungan dengan perbuatan, tetapi berkaitan erat dengan hati. Jangan-jangan sudah menjadi prinsip bawah sadar sebagian masyarakat kita, bahwa lebih enak menjadi orang bodoh, ketimbang menjadi orang winasis dan prayitna tetapi konsekuensinya tidak ringan.
4. Menyiapkan sesaji bunga setaman dalam wadah berisi air bening. Diletakkan di dalam rumah. Selain sebagai sikap menghargai para leluhur yang njangkung dan njampangi anak turun, ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam uborampe. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga. Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan YME yang tersirat di dalamnya (silahkan dibaca dalam forum tanya jawab). Bunga-bungaan juga ditaburkan ke pusara para leluhur, agar supaya terdapat perbedaan antara makam seseorang yang kita hargai dan hormati, dengan kuburan seekor kucing yang berupa gundukan tanah tak berarti dan tidak pernah ditaburi bunga, serta-merta dilupakan begitu saja oleh pemiliknya berikut anak turunnya si kucing.
5. Jamasan pusaka; tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam. Karya seni yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu pusaka menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berimpati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu. Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawannya, dan para perintisnya. Karena mereka semua menjadi sumber inspirasi, motivasi dan tolok ukur atas apa yang telah kita perbuat dan kita gapai sekarang ini. Dengan demikian generasi penerus bangsa tidak akan mudah tercerabut (disembeded) dari “akarnya”. Tumbuh berkembang menjadi bangsa yang kokoh, tidak menjadi kacung dan bulan-bulanan budaya, tradisi, ekonomi, dan politik bangsa asing. Kita sadari atau tidak, tampaknya telah lahir megatrend terbaru abad ini, sekaligus paling berbahaya, yakni merebaknya bentuk the newest imperialism melalui cara-cara politisasi agama.
6. Larung sesaji; larung sesaji merupakan ritual sedekah alam. Uborampe ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musrik. Betapa tidak, jikalau kita hanya melihat apa yang tampak oleh mata saja tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji. Baiklah, berikut saya tulis tentang konsep pemahaman atau prinsip hati maupun pola fikir mengenai tradisi ini. Pertama; dalam melaksanakan ritual hati kita tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat. Kedua; adalah nilai filosofi, bahwa ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia, sehingga untuk melangsungkan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan alam. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Ketiga; selain kedua hal di atas, larung sesaji merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan bersifat kasat mata atau jagad fisik, maupun gaib atau jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.
Sugeng warsa enggal
Senin Legi, 1 Sura 1942 taun je
(29 Desember 2008)
KITA adalah 1 bangsa,
dalam 1 bangsa tidak berlaku; pihakmu,
pihakku, dan pihak mereka
Dalam rasa kebersamaan ini semoga Tuhan melimpahkan berkah, rahmat, anugrah, dan kemuliaan bagi kita semua, untuk menggapai kehidupan sejati yang lebih baik. Kita jaga toleransi, redamkan hawa nafsu angkara, endapkan segala ke-aku-an, kita tundukkan sikap narsis; egosentris; egois; bengis. Bahu-membahu, menciptakan negeri yang indah, sejuk, tenteram. Kita buang benih-benih kebencian, dan taburkan benih-benih kedamaian. Kita semai rasa kasih sayang. Kita wujudkan negeri yang penuh kebahagiaan, untuk saat ini dan selamanya. Amin
Salam Taklim
Wilujeng Rahayu
sabdalangit















115 tanggapan kepada “Misteri Di balik Bulan Sura”
bagus satrio
Desember 24th, 2009 pada 15:40
sy adalah orang jawa…yang saat ini tengah belajar tentang kejawen….di tahun ini sy ngaturaken “sugeng warso enggal” kepada semua blogger mania yang singgah di blognya kang mas sabdolangit
eha
Februari 23rd, 2010 pada 10:54
aduuuuuuuuuuuuh malunya!!!!!!!, aku kok ga bisa bahasa jawa…. jadi banyak yang ga di mengerti nih!!!
orang biasa
Februari 28th, 2010 pada 09:33
ALLAH MAHA MAHA MENGETAHUI
wahyu mk
Maret 15th, 2010 pada 22:13
Salam kenal Buat mas Sabdo langit.
saya orang jawa tulen setelah membaca tulisan2 anda di website ini saya merasakan bahwa anda bukan orang sembarangan maksud saya anda orang yang mendalam dalam ilmu spiritual bukan hanya teori tapi juga praktis karena kalau orang yang dangkal tidak mungkin bisa menulis secara mendalam dan bijaksana seperti anda. Pertanyaan saya anda belajar dari mana mendapat ilmu seperti ini jujur saya tertarik.
trimakasih atas perhatiannya.
salam hormat
wahyu
SABDå
Maret 16th, 2010 pada 02:21
Mas Wahyu MK Yth
Ngelmu iku kalakone kanthi laku, maka org Jawa bilang jowo kuwi jawabe !!. Maksudnya, yg penting adalah tindakan nyata, implementasi nilai-nilai luhur, bukan hanya sekedar teori dan banyak tahu tentang konsep ilmu maupun keyakinan yg hanya jarena. Semua itu yg terpenting adl utk dihayati dlm kehidupan sehari2.
salam sih katresnan
alfaqirtop
Desember 1st, 2010 pada 11:13
mas sabdo yg saya hormati dulu di kluargaku ada ajaran sperti itu .tapi stelah sepeninggal kakek dan pakde saya kami merasa kehilangan obor untuk masuk k jalan itu ‘dari mana saya mulai .dan mo nanya di tahun 2010ni malam 1suranya di hari apa . nwn sewu ngrepoti;[ mtr nwn]
wahyu
Maret 16th, 2010 pada 07:37
Betul kata sampeyan semua yang terpenting dihayati tetapi kalau seseorang ingin mendapatkan ilmu, apalagi ilmu yang luhur apa mungkin tanpa seorang guru yang membimbing orang tsb tiba2 orang itu tau dg sendirinya itulah pertanyaan saya mas, nah kalau demikian adanya . Bagaimana kita ingin mendapatkan guru sejati yang benar2 membimbing kita di jalan kebenaran karena sekarang ini banyak guru gadungan menyamar sebagai guru sejati. trimakasih perhatiannya
salam damai
wahyu
wongalus
Maret 16th, 2010 pada 11:36
Yth Ki sabda dan poro sedulur semua; Hati saya selalu tenang berada di gubuk sejuk ini. Gubuk yang memancarkan ilmu-ilmu mulia yang disinari cahaya kebijaksanaan dari pemangkungya. Menurut saya, untuk mendapatkan guru sejati dan bisa memilih antara guru sejati dan guru gadungan kuncinya adalah menuruti suara perintah hati nurani. Kalau suatu ketika saya bertemu duri di jalan, hati nurani mengatakan “ambil karena membahayakan orang lain”. Bila kita menuruti suara hati nurani inilah maka kita sudah memilih guru sejati yang benar. Matur nuwun ki sabda dan para sedulur semua. Mohon pangapunten alias mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan. Salam sih katresnan.
Priyo budiutomo
April 2nd, 2010 pada 20:46
Ki..sabdo langit engkang minulyo ngaturaken sungkem bekti kulo saking tanah pajajaran…setelah mampir diblog panjenengan hati dn pikiran saya menjadi lebih terbuka ..tulisan2 panjenengan sungguh menujkan seorang pribadi yg agung yg bisa jd panutan dn tuntunan..sy orang jawa tp blm pernah mendapat wejangan2 spt tulisan2 panjenengan diblog ini,walopun dgn peralatn yg minim (cm pake hp) sy dpt blajar byk..matur smbah nuwun mugiyo sget dadosaken kasaean engkang kathah amin..
subki
Mei 27th, 2010 pada 12:11
maaf buat semuanya bukan berarti mengganggu ketenangan dan kesejukan di sini, jujur saya akui ada beberapa yang saya suka tapi ada beberapa yang saya merasa kurang pas disini mengenai bulan suran.. kebiasaan suran. setahu saya bulan sura ataupun semua kegiatan dibulan sura memang seperti yang diatas dijelaskan tapi setahu saya tujuan sebenarnya bukanlah seperti itu… seperti kita ketahui di jawa dahulu budaya hindu yang ada dan para wali agama islam mencoba untuk memasukkan unsur islam ke dalamnya bukan berarti mencampur tapi merubah secara tidak langsung termasuk mengenai bulan suran ini, bubur suran dan sebagainya. ada banyak makna terkandung didalamnya.
vendi
Oktober 22nd, 2010 pada 17:14
sebenarnya bulan sura sebagai tahun baru, barulah ada pada jaman sultan agung, sebagai upaya untuk menarik kembali dukungan para wali yang mulai meninggalkannya,
sultan agung mengubah surya sengkala menjadi candra sengkala yang disesuaikan dengan penanggalan arab dengan bulan sura sebagai bulan pertama
severuss
November 30th, 2010 pada 10:28
Ritual ritual itu bukan aseli jawa. Itu adalah tinggalan adat & ritual hindu yg notabene hindu itu sendiri asalnya dari India. Lalu penaggalan jawa itu sendiri ciptaan Sultan Agung, dari Kerajaan Mataram Islam, yg diadopsi dari kalender Hirjia yg digunakan orang islam di semenanjung arab. Itulah kenyataannya, ritual & adat yg dipake orang-orang jawa asalnya bukan dari orang jawa sendiri.
Soal tundhan dhemit, ini berlangsung sepanjang taun. Tidak hanya di bulan sura. Buktinya banyak kecelakaan & bencana tidak hanya terjadi di bulan Sura.
'siti nurhaliza
November 30th, 2010 pada 12:35
tiap bulan sura sambutlah kumara yang menebus dosa..
sumber : jayabaya siliwangi kitab musarar..
gini yah hehehe…
dulu Iblis pernah minta ijin buat menggoda nabi Ayyub…dan diberikan ijin ALlah untuk mengerahkan pasukan syetan mencelakai nabi ayyub dengan berbagai penyakit,,,
yang jelas neh yah….kesakitan kecelakaan adakalanya ada peran pasukan syetan yang ikut minta ‘tumbal’ hahahaha…
ini sisi spiritualnya….kan ada sumbernya dari Qur’an..
yah sayang sih tidak melihat apa yang saya lihat…….
gimana ga heboh yah….hahaha…kalau ada pasukan banaspati ketika lapar selalu saja menarik-narik tangan saya…
saya bilang ngapain sih kalian ini, kalau kalian lapar kenapa minta makanan dariku…
minta saja kepada Tuhan…
ya habis gimana boz….raja kami meminta kami untuk mendatangi anda entah apa maksudnya…padahal kami tahu boz ini sudah menghajar raja kami sehingga tidak bisa bicara lagi….
ah terserahlah kalian lah, yang jelas aku adalah aku,,..dan aku tidak bisa didikte oleh kalian wahai legiun banaspati tapi kalau kau mau tunduk kepadaku atas ijin Tuhan maka patuhlah sampai Tuhan memberi ijin kalian untuk mencari ‘tumbal’ hahaha…
Abu Nawas
Desember 1st, 2010 pada 11:25
@Siti Nurhaliza
lau ada pasukan banaspati ketika lapar selalu saja menarik-narik tangan saya..saya bilang ngapain sih kalian ini, kalau kalian lapar kenapa minta makanan dariku…
—
kasian neh neng siti.. jgn sampe mo dimakan banaspati ya?
jadi ingat pesan bung karno: ayo ganyang malaysia..selamat siti nurhaliza!!
edy
Desember 6th, 2010 pada 23:29
SUGENG WARSA ENGGAL ( 7 Desember 2010)
Mudah-mudahan kita masih bisa mempersembahkan rasa syukur kita yang tertinggi, dengan terus meningkatkan kesadaran untuk senantiasa menjaga dan melestarikan alam semesta agar tetap terjaga sepanjang masa.
Terima kasihku tak terhingga kepada segenap makluk hidup panjaga dan pemelihara alam semesta. Mohon maaf sebesar-besarnya, atas kekhilapan begitu banyak manusia di bumi(khususnya aku dewe) yang kerap kali lupa keberadaanya dan ada untuk apa, yang bahkan gak pernah tahu mau ke mana.
JAGAD SASMITOJATI
Desember 7th, 2010 pada 21:45
muji rahayu..
sugeng ambal warsa 1 sura 1944 tahun Be, rebo Kliwon.. mugya sedayanipun tansah rahayu .. ngawiti dan memunculkan kembali keluhuran JAWA ..
Nuwun
Rahayu..
gus bagong
Desember 15th, 2010 pada 11:20
terasa maknyus di hati smoga tulisan di gubuk yg sejuk ini selalu diperbaruhi agar lebih sejuk dan nyaman
gus bagong
Desember 15th, 2010 pada 11:22
mantap, Sip, Enak, Nyaman dan Teduh
suro gento
Januari 11th, 2011 pada 14:17
kang sabda langit terima kasih telah mengembangkan kabudayaan kita semua
marmut
Mei 28th, 2011 pada 18:46
salut kepada pendiri blog ini,orang pandai yg masih memperhatikan sesamanya sperti anda….ternyata njenengan sudah sejauh itu memahami sejatining urip dan mau berbagi kawruh pada sesamanya….makna yg dalam dan pengetahuan tinggi akan pengalaman batin yg tingkatnya jauh diatas kemampuan normal…keselarasan mikrocosmos dan makrocosmos yg bagus mas…dgn blog ini smoga akan timbul akan adanya rasa mawas diri,olah roso,eling lan waspodo…aku yakin enoul yakin….
dewi
Mei 29th, 2011 pada 15:57
@ Ki Sabda,
sugeng sore Ki, saya sangat terharu, ternyata bahwa memang ada tahun baru asli jawa itu (versi kejawen). selama ini kita hanya mengenal tahun baru islam 1433 hijriah, tahun baru hindu 1933 saka, tahun baru budha 2555 waisak. dan sekarang, nanti ada tahun baru kejawen yang ke-1945 di akhir tahun 2011.
izinkanlah saya yang bonek ini (‘bodoh’ tapi ‘nekat’ juga bertanya)…, ingin tahu cara menghitungnya itu bagaimana dan darimana Ki sabda tahu kalau kejawen sekarang sudah berumur 1945 tahun? berarti peradapan budha lebih tua, sekarang 2555 tahun. dan bagaimana kita bisa tahu peradapan jawa tidak lebih tua dari budha?
salam tresno kejawen,
dewi
SABDå
Mei 30th, 2011 pada 11:19
Mbak Dewi Yth
Soal kalender, memang dapat digunakan sebagai parameter usia suatu budaya. Tapi hal itu tidaklah mutlak. Contoh sederhananya misalnya, apakah zaman palaeolitiku, kemudian dilanjutkan zaman mezolitikum, hingga neozoikum sdh ada kalender. Padahal pada zaman tersebut terutama mezo dan neolitikum masy sudah mengenal peradaban dan budaya. Bahkan team peneliti the lost world menemukan bukti pernah ada kelender tertua yg pernah ditemukan yakni berusia kurang lebih 15.000 tahun yll. Bukti bukti yg mendukung disekitarnya menunjukkan kalender tersebut lebih cenderung memiliki keselarasan dengan budaya nusantara. Sebagaimana benua atlantik yg hilang, peneliti Brazil berani menyimpulkan 80-90% adalah nusantara. Walau penelitian belum tuntas, setidaknya bisa digunakan sebagai bahan kajian ilmiah secara lebih dalam lagi. Kalau memang benar tesis tsb, tentu negara negara Barat yg menganggap diri mereks sbg pusat kemajuan dan pemandu kemajuan peradaban manusia di bumi ini akan serta merta menolak. Itulah status quo, dimanapun orang akan cenderung mempertahankan status quo walaupun terbukti keliru, salah, dan tdk layak lagi dipertahankan.
Salam karaharjan
TemanKusuma
Juni 15th, 2011 pada 03:01
Guru zohir saya pernah bilang, Jawa adalah yang tertua, lalu mesir. Saya yakin seyakin yakinnya, ucapan beliau itu bukan asal “njiplak” dari sembarang orang. Lalu ternyata di internet akhir-akhir ini saya menemukan sedikit benang merah tentang apa yang diucpakan beliau tsb. Bila dilihat kembali, padahal, guru saya tsb sepertinya jarang sekali membaca buku-buku, atau artikel seperti ini, ya wong rumahnya aja gubuk nan terpencil. hihi.. Apalagi membaca penelitian ini dan itu. Ternyata…
herkris
Juni 8th, 2011 pada 10:46
Ki Sabdo Yth
Saya dulu hidup dikeluarga Kristen, yang njawani. Tapi saya sendiri sekarang beragama Islam.
Saya sangat menjunjung tinggi leluhur, tapi dalam hal ini. Bolehkah saya mendoakan orang yang telah berjasa ketika semasa hidupnya sangat perhatian pada saya meski beliau bukan beragama Islam.
Salam
herkris
dewi
Juni 20th, 2011 pada 10:31
Dear Mr. Sabda
I was so fascinated about the new javanesse new year. Finally, here we are, that we have our own dignity in many aspect : culture,spiritual and a way of life. Sooner or later our heritage legacy just right come out to the surface.
Back to the status quo statement, that it was only some people alleged. But in my point of you, our prodecessor are beyond older than any civilitation in asia continent, indeed we can only comepare it with maya tribes. Only we`re not explore it more deeper , we haven`t reach to the core yet.
I`m not trying to be a smarter, but something is bothering me, something is missing here. If i`m not mistaken, according to the ancient javanesse book said, when Brawijaya was companied by sabdopalon (the last majapahit king advisor), the king asked “who are you really?”, the advisor said “ your highness, I`m older thank you think, I was live for 2000 years before you, and my duty is companied all the java king for spirituality…”. derived from this history, we shall calculate, that Brawijaya lived on the year of 1500 + sabdopalon existed for 2000 years + 500 years for now = that would be 4000 years of age. Then why the nominal of javanesse new year only under 2000 years ???…
Therefore, our geniousity, critical and wisdom are needed here. I`ll be more happier to hear that the ‘suro’ new year are approximately between 3500-4000 years of age. Then we all should be more content.
I thank you very much for your concern.
Trully yours,
Dewi
Jagad Sasmito Jati
November 12th, 2011 pada 13:48
Ki Sabda..
terima kasih .. sudah saya temukan.. nuwun Ki .
salam asah asih asuh.
rahayu sagung dumadi.
nuwun.
aswin 1903
November 23rd, 2011 pada 23:55
GUSTI MOHO AGUNG engkang maringi petunjuk sedoyo dateng umate ALLOH AKBAR Alloh Maha Besar
Marsid
November 27th, 2011 pada 22:53
Saya orang jawa tulen, saya sangat meyakini istiadat jawa.
soerya
Desember 11th, 2011 pada 20:13
Yth, ki sabda dan poro sedulur, permisi numpang neduh. Soalnya setiap saya berteduh ngopi ke tempat ini hati ini jadi adem tenanggggggg, bahagia membaca hidangan yang disajikan ki sabda.
Rahayu
denjaka
Februari 18th, 2012 pada 02:53
saya orang Islam Kejawen. Awalnya Islam saya abangan, aslinya saya orang SUBUD. setelah saya mendalami Kejawen, banyak baca referensi suluk dan wirid dari buku post kolonialisme-nya Nancy K Florida. Saya akhirnya tahu bahwa kearifan Kejawen itu berasal dari Islam. Tepatnya kebatinan Islam.
Karenanya saya kemudian belajat Islam. Setelah saya belajar secukupnya saya kemudian menyimpulkan bahwa sedikit sekali persamaan antara Islam dengan Kejawen. Saya mulai mencari-cari lagi dan belajar terus tentang islam dan Kejawen secara bersamaan.
Kemudian pada tahun 2005 saya mendapatkan buku tentang tasawuf dan Irfan. Terutama buku-buku sufi dan buku-buku Syiah. Setelah saya pelajari secara kontinyu dan melakukan penelitian sendiri, saya akhirnya temukan bahwa Kejawen ternyata identik dengan paham Irfan pada tradisi Syiah. Paham Pandangan Dunia Ilahiah-nya Syiah identik dengan Paham Manunggaling Kawulo Gustinya Spiritual Kejawen. Apalagi banyak simbol-simbol Kejawen dan Syiah yang juga identik. Salah satunya ya mitos bulan Syuro. Tradisi Kejawen menganggap bulan Syuro harus ditempuh dengan hati-hati, kita dilarang pengadakan perayaan. Ternyata kaum Syiah juga menilai Bulan Muharram, yang mereka menyebut Bulan Muharram dengan nama bulan Asyuro sebagai bulan kesedihan karena mengacu pada pembantaian Al-Husein.
Selain itu banyak lagi. Diantaranya adalah Mahdiisme Kejawen sama dengan Mahdiisme Syiah. Berbeda dengan Islam lain, Islam Syiah menganggap bahwa Imam Mahdi atau Ratu Adil itu sudah dilahirkan. Akan tetapi beliau digaibkan oleh Allah dari pandangan umat manusia. Ini sama dengan Orang Kejawen yang menganggap bahwa Ratu Adil sudah dilahirkan. itulah sebabnya orang Kejawen juga menjuluki Ratu Adil dengan sebutan Satrio Piningit. Piningit identik dengan kegaiban.
Untuk lebih detailnya lihat saja blog ini:
http://maulanusantara.wordpress.com/2012/01/12/sejarah-islam-di-nusantara-membuka-hijab-sejarah/#comment-5380
Rantam
Februari 18th, 2012 pada 04:38
Maula(nusantara) : Ini yang pernah menulis, di salah satu threadnya – mengenai Barrack Obama itu Yahudi, dengan nada sepertinya Obama itu setan … Obama yang setengah …Nusantara . Blog amatir.
denjaka
Februari 18th, 2012 pada 15:56
liat isinya donk jangan liat orangnya, tapi lihat apa yg ia katakan.
denjaka
Februari 18th, 2012 pada 03:08
itu juga akhirnya menjawab misteri, kenapa Kejawen dan Islam syariat seperti susah untuk nyambung. Karena sepertinya Kejawen itu berasal dari Syiah. Pada awalnya Syiah dimanapun memang selalu dikejar-kejar oleh Islam yang berhaluan syariat.
Adapun jika misalnya timbul pertanyaan yaitu : “kenapa Syiah sampai bisa menjadi Kejawen?”
Jawabannya adalah:
Sebenarnya hal tersebut adalah sebuah kewajaran. Jika kita mempelajari Syiah secara detail, Hal tersebut tidaklah mengherankan. Apabila kita belajar Syiah secara detail, maka akan kita dapat temukan bahwa pada ajaran Syiah terdapat konsep yang disebut taqiyah. Konsep tersebut bertujuan menyelamatkan kelangsungan diri yang berarti juga keselamatan akidah dengan cara menyembunyikan keimanan. Nah inilah yang terjadi.
Untuk lebih menguatkan bahwa Kejawen adalah Syiah yang bermetamorfosis, ini ada wasiat jihad Kyai Maja yang diambil dari babad prang dipanegara karya pujangga Kraton Surakarta Yasadipura II : http://www.muhsinlabib.com/sejarah/wasiat-kyai-maja-ttg-ahlulbait
pada babad yang mengungkap wasiat jihad tersebut terdapat jelas ungkapan tentang para Imam Syiah sekaligus peristiwa Syuro atau Karbala yang disebut oleh Kyai Maja sebagai “Nainawa”. Pada ajaran Islam mainstream, walaupun memang ada riwayat tentang Imam Syiah akan tetapi peristiwa Karbala yang berkaitan dengan bulan Syuro tidaklah menjadi fragmen sejarah yang penting.
denjaka
Februari 18th, 2012 pada 03:24
ada dhandhanggula gubahan Pangeran Diponegoro yang mana beliau membuat buku babad yang disebut dengan babad Diponegoro karya beliau sendiri. di dalamnya terdapat dialog antara Ratu Adil / Imam Mahdi dengan Pangeran Diponegoro yang intinya Ratu Adil memerintahkan Pangeran Diponegoro untuk berperang melawan Belanda. dialog Ini suatu tanda bahwa di Kejawen, Imam Mahdi sudah ada ( sudah dilahirkan ). Hal ini sama dengan Syiah
disini:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=215965621832626&set=a.134073563355166.28581.100002575705033&type=1
milono
April 27th, 2012 pada 16:48
APAPUN TEMPATMU ISINYA SAMA .
TS
Desember 15th, 2010 pada 13:04
mungkin maksudnya ‘dingin’ selamanya…h h h