PUNCAK ILMU KEJAWEN

Puncak Ilmu Kejawen

Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

 

Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya

          Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno.  Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26;

        Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia…

        Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;

Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi yang syaratnya sangat berat, yakni;

  1. Bisa mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang sangat sakti.
  2. Bisa menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”

Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.

        Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa.

“Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang.

        Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;

  1. Dosomuko
  2. Kumbokarno
  3. Sarpokenoko
  4. Gunawan Wibisono

Setelah anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Syariat, Tarikat, Hakekat, Makrifat.

Lakon ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus melalui tahap atau tataran-tataran yakni;

1.            Syariat; dalam falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.

2.            Tarikat; dalam falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.

3.            Hakikat; dimaknai sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).

4.            Makrifat; merupakan tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).

 

Pun diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan) untuk mendapatkan “ngelmu”.

Bima yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.

Atas petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.

Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.

Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati. 

Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.

Lalu Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.

Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.

Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

Bila seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga innalillahi wainna illaihi rojiuun, kembali ke sisi Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.

Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.

Bagi mereka yang mengamalkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” yang berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, yang nilainya sama dengan sejatinya Dzat YME dan bersifat gaib. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Dzat Yang Maha Kuasa. Ini diistilahkan sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.

Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;

Begawan Wisrawa menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya sebagai penjelmaan Wisnu  (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.

 

  1. Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.
  2. Kumbakarna (raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.
  3. Sarpokenoko (raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.
  4. Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.

 

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat  Diyu.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih

Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

        Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga bermanfaat.

 

Semoga para pembaca yang budiman diantara orang-orang yang terpilih dan pinilih untuk meraih ilmu sejatinya hidup.

 

Salam

Sabdalangit

 

 

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on Oktober 12, 2008, in Puncak Ilmu Kejawen and tagged , , , . Bookmark the permalink. 257 Komentar.

  1. Ini wejangan bagus, jika bisa memahami. Biarlah semua akan terjadi seperti hukum alam. Tingkkatan syari’at, tarekat, hakekat dan makrfat ibarat sekolah berjenjang dari SD, SMP, SMA dan Universitas atau Elementary, Post Elementary, Intermediate, dan Advaced. Intinya bagus deh blog ini… Actually, I myself have written a book about KNOWING THE SELF, Sastrajendra Ilmu Pengendali and published 2008 by KISS… blog ini bagus SALAM BHINNEKA TUNGGAL IKA. untuk semua pembaca ..

    • Sastro jendra……………………………….. yang wujud nyata sluas mata memandang adalah bentuk suratan kitab yg jelas, jadi bumi langit seisinya itu kitab tuhanmu. Kalau kita bertuhan atau belum sempat tahu tuhanmu. Hanya satu cara utk mengenalnya….jaga, dan pelihara lah , hutanmu, sungaimu, mata airmu, tambangmu, samuderamu, jaga dan peliharalah bumi yg elok ini. Notabene bumimu yg elok inilah sumber penghidupan manusia dgn segala keyakinannya……

      Sastro jendro………………………………… Inilah pengertian jawa yg dulu disebarkan keseluruh nusa diantara samudera sedunia, yg tentunya diadaptasikan sesuai alam lingkungan masing masing. Karena sastro jendro hanya ditemukan dan dimengerti oleh manusia lama yg tinggal di bumi yg lengkap sumber hayatinya. Pelaku utama penyebar sastro jendro inilah yg memiliki dasar pembibitan, dasar cara menanam, sistem pengairan, dasar bermukim, tata bahasa yg elok susunan kosa katanya….
      Sun suminar ing tlatah gumantung tanpo cantelan, ilmu sun lumantar serat tanpa tulis, sun urip uripe sun ananing sun…..

      • akan saya babar, puncak sastra jendra hayu ningrat:

        mulanya Tuhan hanya menciptakan bumi ini dengan indah, belum ada Adam

        lalu Tuhan ciptakan manusia untuk LEBIH MEMPERINDAH BUMI.

        hanya orang yang berjiwa seni, berperasaan halus, berjiwa arsitektur yang dapat MEWUJUDKAN BUMI YANG TELAH INDAH MENJADI LEBIH INDAH,

  2. saya teringat pengajiannya pak kiyai mudhakir sama maslikan kediri dalam kitap nasoiqul ibat dia menerangkan didalam hati ada 4 nafsu yg seperti ki sabda sebut , dan dia menerangkan dan mengartikan ada 4 lubang nafsu, hanya satu yg lubangnya kecil yg ngajak kebaikan, sama yg ki sabda sebut yg no 4 yg bongsu itu. Saya berminat kali untuk mengatahui sejarah jagat dan mengenali sejatinya diri saya ucapkan terimakasih saya akan terus menggali apa yg tersirat didalamnya.

  3. salah satu budaya yang bernilai harganya terutama suku jawa,yang harus kita jaga dan lestarikan.

  4. Kulo Nuwun….
    Salam kenal,untuk para sepuh dan semua nya…saya asli orang jawa,neng klahiran sumatra,jadi ilang jawane..niki tembe ajeng blajar kejawen,,,mohon bantuan nya..
    Mas,kulo saget nyuwun artikel tentang “Ilmu Roso” mboten nggeh…??
    Matur nuwun sak dereng ee pun…

    • Manusia senantiasa lupa akan jati diri dan asalnya tidak berterimaksih kepada semuanya. misalnya bila kita dikasih hadiah sedikit aja pasti kita berucap terimakasih kepada yg memberi maka dikala berdoa dan mengheningkan cipta dengan konsentrasi pada gelenjar pineal kita dan tentunya pada sang pencipta
      Marilah kita mancoba berterimakasih dengan berucap;
      Matur nuwun duh Guti Alloh ingkang murbeng dumadi
      Maturnuwun sukmo sejati (nyawa dan jiwa kita)
      Matur nuwun rogo sejati ( raga tubuh kita)
      Matur nuwun rasa sejati (yang menghubungkan kita dengan yang ghoib)
      Matur nuwun sedulur papat kalimo pancer getih lan puser (yang menyertai kita pada saat lahir)
      Matur nuwun wahyo moyo inkang penguoso ponco indro ( yang menghubungkan rogo dengan alam)
      Matur nuwun bapa biyung ( orang tua kita)
      Matur nuwun poro eyang ( leluhur kita yang kita ketahui)
      Matur nuwun poro leluhur (leluhur kita yang tidak kita ketahuai)
      Matur nuwun nini among kaki among tanah jowo (yang melahirkan leluhur kita krn kita orang jawa)
      Matur nuwun adam lan hawa ( orang pertama di alam semesta)
      Matur nuwun Dan Hyang tanah jowo ( yang penguasa alam ghoib di lingkungan jin dan sekitarnya ditanah jowo)
      Matur nuwun Dan Hyang Nuswantoro ( idem di seluruh indonesia)
      Matur nuwun Dan hyang bumi lan angkoso (idem seluruh alam semesta)
      Inggih Puniko inkang sampun kaajaraken dening kanjeng RM Bios Abiyoso cucunipun langsung eyang pakubuwono VI Kasunanan surokarto.
      didapat selama 3 tahun rutin setiap malam jumat kungkum di Bengawan Solo tanpa lewat seharipun. hanya untuk menyatukan jiwa dengan alam semesta. Sesuai dengan ajaran Sastro jendro hayuningrat panguwating diyu.
      Nuwun sewu kanjeng kulo nyuwun ijin hangaturaken dening ikwan kulo tiyang alit.
      (yg dalm kurung tidak usah dibaca hanya untuk menambahkan pengertian saja)
      Rahayu rahayu rahayu

  5. inilah sejatining urib ya urib sejati, ya hayyu, ya hayyu 100x. ngaturaken smbh nuwun. salam rahayu.

  6. Aamiin

  7. serat ing ngandap puniko becik lan bener,,,
    sir olah
    dat olah
    sipat olah

  8. matur nuwun wejangan kawruh jawa budi pekerti luhur.

    memang ada ajaran kejawen itu.dan artilel yang di maksud diatas sebagian besar merupakan serat/kitab yang sudah di bukukan dan sebenarnya dapat dipelajari.namun di negri ini,semua rakyatnya munafik.
    gemar membanggakan ajaran dari luar.memang ajaran
    kejawen banyak mengajarkan sangkan paran,kasunyatan,kasampurnan.namun perlu diketahui,
    bahwa,kalau ajaran ini diUndang Undang kan oleh Ri
    sebagai salah satu ajaran (kepercayaan/agama,pasti bayak penolakan).karena kita wong cilik nggur isone bisik bisik…masih takut berdeebat karo ulama islam .
    masalah ilmu kejawen,perlu kita ketahui…kapan lahi…r,untuk siapa,tujuanya apa,siapa yang memnebarkan,bagaimana caranya,dlll.
    didalam menuju ajaran kejawen,masih saya liat terlalu bayak cara/amalan yg di lakukan,kenapa?pernah saya ikut ilmu budi pekerti ini,tapi kalo dipakai jaman sekarang,jadi kaya orang bego…gampang diapusi,walau sebenarnya saya tau,kalo saya mau diapusi.dlll.tapi sebagai orang jawa,aku bangga kalo di tanah jawa ada ajaran mulia,kalo saya ukur,,,,ajaran kejawen ini ajaran paling tinggi tingkatanya dibanding agama2 yang ada di bumi ini.anda bisa buktikan.
    kenapa….?.yg sdikit saya tau….semua agama…..baik bagi penganutnya…..tapi ajaran kejawen ini tak mengenal you nganut agama apa…bagsamana…dll.
    ajaranya masuk diakal.cuma aja…..kitab yang dipakai
    ada 2 jenis…kitap teles(basah)=berjalan sesuai jaman,dan kitab kering(garing)=kitab yg diyakini dan boleh danbisa di cetak untuk digandakan.
    perbedaan…kejawen dan agama agama yang ada didunia ini.seolah memang ada penjamin kekekalan di masing2 agama…kelak.namun….sepengetahuanku….
    agama dari luar sana turun temurun,melalui nabi mengalami penyempurnaan…mengapa?tujuanya karena terlanjur manusialah yg menyanggupi menerima akal pikiran….
    menjaga merawat langit dan bumi.dan mempelajari jagad raya ini….untuk anak cucu semua.
    pesan saya..ajaran kejawen masih ada,penuntunnya yaitu melalui pewirit,lalu di kenalkan kepada sinuwun.kemudian shinuwun kasih wejangan ajaran kejawen langsung,kemudian kalo se ia? sepaham,mau mengamalkan dan mau mempelajari serius,baru ada semacam ritual kejawen,kalo lulus,maka anda akan di perkenalkan dengan sedulur sejati/guru sejati,kalo bisa bertemu/komunikasi baru kamu dituntun menuju ajaran kejawen murni.dan perlu andaketahui,ajaran kejawen di bagi bermacam2 tingkatan.setiap dipadang mampu,nanti anda akan di kasih lelaku untuk menerima wahyu…(perintah tertentu),kalo berhasil sempurna,anda wajib mengamalkanya…jika berhasil,anda akan menerima wahyu selanjutnya sampai beberapa tingakatan.dan prosesnya panjang.
    yang maana tujuan kesempurnaan hidup di kejawen tak lain manusia yang mulia seolah mewakili sifat dan hak +kewajiban tuhan.
    makanya…didunia ini bayak agama..=..banyak tuhan.
    banyak dewa..dll.
    namun keutamaan ke esaan yang sudah dimiliki seorang kejawen…sangatlah mulia…karena kelak hidup mulia sempurna di sisiNya……
    pengen share aja:
    saya pernah ikut kejawen ini,tapi belum tuntas,karena banyak hal.
    kehebatan….ilmu kejawen…….luar biasa.alus koyo ra iso di cekel.nanging kelihatan.
    tiada yg tak bohong,kecuali “ilmu rasa”
    sedulur….sepurone bahasaku susah kalian pahami
    tapi….pernahkah anda punya guru ilmu?(orang)?
    dulu ada orang jawa asli kediri,yang menerima wahyu untuk mengajarkan kejawen ini.beliau bertapa 2tahun di kaki gunung lawu.beliau menjadi penuntun ilmu kejawen swapai saat ini walau sudah meninggal.
    eyang sarmo kagungan asmo.
    kanjeng sunan kalijogo.dlll
    adalah satu team penyebar ajaran kejawen semi islami.sampai sekarang.

    sumrambah manenbah telenging manah,sesidem jeroning lemah….rahayu..rahayu…rahayuuu

    suwun….

  9. Senang membaca dan menelaah ttg pengajaran Kejawen wl saya seorang Muslim sejati,,,krn dalam agama tidak ada yg mengajarkan hal negatif,,hanya manusialah yg gagal dalam meng aplikasikan ajaran agama nya dalam penerapan kesehariannya tsb.
    Dan sy sepakat kl ajaran Islam ada tahapan2 nya seperti yg di ajarkan para kiyai2 di kampung berachir di Marifat.
    Hingga sekarang banyak orang rajin sholat,ngaji,naik haji ,,namun kebathilan juga ttp semakin menjadi-jadi.

  10. Terima kasih,.Uraian diatas,.. Sayang,.Nilai-nilai Beghawan Whisrawa yg mantan Raja & sebagai Pertapa yg telah dipilih oleh para Dewa, dianggap mampu menerima amanah “Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”,…Ternyata KORUP !,… sebagai anak (rakyatnya) tentu betapa sakitnya mengetahui kelakuan ayahnya (wakil rakyatnya),..yg pergi berniat melamarkan anak kandungnya (Prabu Donorojo-rakyatnya) ke gadis yg dicintainya (Dewi Sukesi),…Dalam perjalanan pulang membawa Dewi Sukesi yg akan di jodohkan dg Prabu Donorojo (pemberi amanah),…E e eee,…Ilmu yg konon sanggup mendukung penjagaan diri,.. Ternyata Menjerumuskan diri,..Maka Lahirlah Kejahatan- Kejahatan dimuka bumi yg disimbulkan dg lahirnya Rahwono (Sakti. Raja, Serakah), Kumbo Karno (Sakti, Makan tidur, tapi punya Setia pada tanah airnya bukan setia pd niat jahat & rakus kakaknya (Rahwono) inilah yg bikin watak Ksatria) – “Right or Wrong is my Country” = cocok utk serdadu, Sarpokenoko (senang dg segala yg asyik-asyik tapi senang juga bertapa) & Gunawan Wibisono, fase yg terakhir yaitu sbg manusia utuh, baik, benar, Indah & bermanfaat utk orang lain, meski harus perang tanding dg kakak dg kandungnya sendiri (perang dg Diri Sendiri),…..Sebuah Warisan Pelajaran dari Leluhur yg sangat Bernilai !,….. Salam Budaya !,..

  11. ass,wr,wb..slm sejahtera bwt ki sabda n dulur semua.
    sy mau nanya ne,klw yg non jawa boleh nggak ikut gabung n mendalami kejawen dengan ki sabda beserta dulur semua d blog ini..????
    klw ada yg bermurah hati tolong sapa sy ya d eddy_ridwan@ymail.com
    salam kenal dr kalimantan
    wss,wr,wb..

  12. Mantab Gan infonya… salut saya… karena masih ada orang yang membahas perjalanan menuju Tuhan. btw dapet infonya darimana..???

  13. Tumut nyimak ki,mugi dados tambahe ilmu.

  14. kosong kosong isi isi, sate kupang baru isi, opo kono ora isin due sedulur sing nggawe isin? mangan kupang lan sop konro neng makassar, sing kate tuku wong dodol pitik california fried chicken. Lah kok sedulur seneng mangan urip soko rekosone bangsane dhewe?

  15. pati sejatining lahir

  16. sy baru tau klo d google tu trnyata byk yg posting ilmu kjawen,,,pdhl dulu untuk mperdalam ilmu ini aja ga boleh smbarang ngmong,,,katanya klo mulut kita ember ilmu yg kita pljari tu ga mempan alias ngabar ngambuse gur tkn lambe,,,
    O,,,yo bpk2 ibu2 mbah2 kiro2 ana sg ngerti dongane nabi sulaiman ugax yo???coz jare ki dongo ora saben ustad/kyai ki ngerti…
    Cukup smene wae komentku mugo2 ana jawabane???
    Ngapunten spurane bhsaku uelik tmenan,,,coz aku lali boso kromo alus,,,,

    • Mb Elis Yth
      Lihat konteksnya dulu. Kalau jaman dulu (pada saat ada larangan itu) tentunya hanya sampai di mulut saja karena pada saat itu sistem keyakinan baru yg sedang trend mempunyai kekuatan hegemoni yg cukup besar. Lain lagi zaman sekarang kekuatan internet sepertinya tak bisa dibendung lagi ? Yg dulunya ditabukan sekaraang tidak lagi. Yang dulunya dikekang dipenjarakan dibatasi, dieliminasi, dirahasiakan, ditutup-tutupi, maka sekarang tak bisa lagi. Internet bagai pisau bermata dua. Bisa berguna secara positif maupun negatif tergantung siapa yg menggunakan dengan tujuan apa. Termasuk jika ada suatu sistem keyakinan yg berusaha menutupi kekurangan dan kelemahan, maka melalui internet orang akan mudah sekali membongkar habis, menelanjangi sampai ke isi perutnya. Tidak selalu negatif, internet juga sangat positif. Nyatanya ilmu Jawa tidak ada lagi yang bisa menyembunyikan, mengasingkan, atau memusnahkan. Karena ia akan ada selama manusia Jawa ada di planet bumi ini. Soal dongane nabi suleman saya pernah tau tapi lupa. Prinsip saya sederhana mawon, pake yg simpel2 dan pake bahasane dewe yg lbh saya pahami makna kias dan lugasnya termasuk juga bahasa rasa. Dengan begitu kok jadi lebih mitayani.
      Rahayu

  17. Jum’at kemarin tanggal 13 Desember 2013 jam 18’15 telah berpulang ke rahmatullah KRTH Imam Sukardi/ Eyang Suro Gimbal salah satu guru besar Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu. Beliau banyak memberi pencerahan kepada kami, semoga arwah beliau diberi tempat yang layak di sisi NYA

  18. nyuwun nyimak pak

  19. Sungguh beruntung sekali bisa menemukan bacaan seperti ini…mungkin dg bacaan ini saya bisa memahami hal hal yg tak bisa dipahami dengan pikiran…mungkin banyak sekali misteri kehidupan di jagat raya ini yang belum terjawab dengan pikiran…Lucid Dream…Astral Projection…Membangunkan Cakra ke-7..dan lain sebagainya mungkin ada kaitanya dengan bacaan ini

  20. Prakteny gimana kang…. bisa nulis apa sudah berani mengajarkan?

  21. IKUT NYIMAK MAWON SYUKUR DADOS TAMBAHEN ILMU

  22. Ngglosor Madhep Wetan

    Alangkah baik jika kita melihat suatu kegiatan atau pikiran dg pertimbangan : ini bakal nyakiti atau melukai orang lain ndak ? Kalau mau minum, main, madon yooo mbok yaoo ditimbang lagiii ada yg akan terluka (hatinya) ndaaak… ? Kalo mau minum, yooo minum di rumah saja tapi ndak pake ngamuk, ngawur, gumoh :D… Kalo mau main yaa pake uang extra jangan sampai mengganggu kas dapur & tabungan, apalagi sampai ngrusuhi jatah anak… ckckckckck… Nhaaaaa…. Kalo mau madon yaaa sama istrinya sendiri laaaahhh… Kalo maunya sama istri orang, kok dulu mau nikahi perempuan yg sekarang jadi istri ? Jadi laki2 ndak lanang itu namanyaa… hehehehehe…

    Aja ana sing kelaran ati yaaakkk… iki mung sak dermi geguyon lhoooo…. hehehehe…

    Rahayu

  23. Puncak ilmu menurut njenengan menapa
    Diskusi sendiri wae, yg empunya blog kemana ya..
    Sederek pecinta tanah air mangga sareng2 rerembagan
    Bagaimana olah jiwa raga hati bisa seperti leluhur dulu
    Semua utk bela tanah air
    Ora digawe golek duwit
    Oleh yen kepeksa kagem kleuwargo

  24. maturnuwun sedulurq……… Sugeng ndaluuu sesami gesang mugio angsal pinaringan wilujeng rahyuuuuu sedoyoooo ( mugio dados kawulo ingkang saget migunani mareng sakpodo”) amiiin netepi 1 7an lelakuning orip …!

  25. Manunhsa diciptakan ing allam ndunya iki ya ” blunder kok ”
    He he he

  26. Gank Gang
    Oktober 8th, 2011 pada 11:10
    mas bima dah lama ga muncul nih…
    pertanyaan beliau banyak yang tak terjawab..mungkin loooh…
    —————————-
    Tanwaskita
    Oktober 10th, 2011 pada 11:48
    @Gank Gang,

    Yang lama ga muncul itu kan Mas Bima namanya saja. Orangnya tetap aktif disini kok …. ( Who do you think you’re fooling ? Bahasa Latinnya : Rumangsamu sing tok apusi ki sopo ?) Salah satu bukti blog ini selalu ….menarik ! Orang2 yg tidak suka,anti,kejawenpun ….tertarik . Apakah arti sebuah nama ?

    Salam katresnan,
    ————————————-

    Om Bima : Om yang satu ini muncul lagi kah ? Atau cuma orang yang kurang kerjaan, yang tidak suka kejawen ? Blog Sabdalangit : menarik minat berbagai kalangan !

  27. BOLEH2 AJA BERSYUKUR TAPI YG PAS dong. moso menang judi kok bersyukur. Kan Alloh SWT nanti bingung. Wong dilarang berjudi kok nekad nglanggar ga sendiko dawuh namanya, trus dapet TOGEL diumumkan di public lagi trus berterimakasih kepada yg nglarang weleh3 ck…ck…ck….
    anak ra manut bapa biyung wae doso opomeneh karo pengeran……

  28. Mulai pencilakan iki
    Komentar ini aku bertanggung jawab kang sabda

    RAMADHAN

    Ayo sareng2 berdoa
    Bumi ijo teles seger slamet bejo
    He he he

    Met puasa buat yg puasa
    Met lan bejo yg tdk atau blm berpuasa

    BUMIKU JENENGE YAVABHUMI, Jawadwipa, bumi Jawa,
    jowo swargo ndunyo, tlatah Jawi

    ELING ?
    He he he

  29. Puncak ilmu Jawa

    Gelar
    Hamengkubuwana
    Hamankurat
    Mangkunegara
    Sangga Buwana

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 928 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: