Puncak Ilmu Kejawen
Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.
Asal-usul Sastra Jendra dan Filosofinya
Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno. Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26;
Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia…
Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;
Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi yang syaratnya sangat berat, yakni;
- Bisa mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang sangat sakti.
- Bisa menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”
Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.
Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa.
“Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang.
Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;
- Dosomuko
- Kumbokarno
- Sarpokenoko
- Gunawan Wibisono
Setelah anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Syariat, Tarikat, Hakekat, Makrifat.
Lakon ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus melalui tahap atau tataran-tataran yakni;
1. Syariat; dalam falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.
2. Tarikat; dalam falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.
3. Hakikat; dimaknai sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).
4. Makrifat; merupakan tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).
Pun diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan) untuk mendapatkan “ngelmu”.
Bima yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.
Atas petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.
Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.
Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.
Lalu Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.
Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.
Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.
Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.
Bila seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga innalillahi wainna illaihi rojiuun, kembali ke sisi Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.
Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.
Bagi mereka yang mengamalkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” yang berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, yang nilainya sama dengan sejatinya Dzat YME dan bersifat gaib. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Dzat Yang Maha Kuasa. Ini diistilahkan sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.
Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;
Begawan Wisrawa menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya sebagai penjelmaan Wisnu (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.
- Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.
- Kumbakarna (raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.
- Sarpokenoko (raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.
- Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.
Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.
Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).
Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.
Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.
Sifat Manusia Terpilih
Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.
Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.
“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.
Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga bermanfaat.
Semoga para pembaca yang budiman diantara orang-orang yang terpilih dan pinilih untuk meraih ilmu sejatinya hidup.
Salam
Sabdalangit















188 tanggapan kepada “PUNCAK ILMU KEJAWEN”
budaya kejawen
Februari 11th, 2012 pada 07:07
puncak ilmu kejawen seharusnya mampu memberikan hasil!
sampai sejauh ini belum ada hasilnya, terbukti memang hanya sekedar budaya.
kejawen bukan menyan
Februari 11th, 2012 pada 07:11
benar sekali….
penggunaan menyan bertahun-tahun???????
Dewi
Februari 11th, 2012 pada 11:51
@ BIMA TS,
Kalau memang tidak mebuahkan hasil kenapa loe bolak-balik kesini?… h h h…
Salam budaya bangsa,
Dewi
rere
Februari 26th, 2012 pada 22:27
Kejawen emang budaya yang ber esensi falsafah hidup keluhuran budi pekerti, merupakan gambaran jiwa orang jawa, rukun, selaras, tentrem, ayem.
tidak ada rumusan untuk pertengkaran, pertikaian, perdebatan, pecah belah, kelompok, golongan, ceremonial only, gromyang gramyeng, merusak, membantai membunuh, dan mengebom,……….semua nonsen.
itulah ciri falsafah luhur bangsa sendiri, dan gak perlu mengadopsi budaya luar yang brangasan , penuh dg mulut berbusa, lidah mbulet, gigi menyeringai, banyak omomg, iklan tanpa bukti, polusi, opini. dll seabrek kemorosotan moral yang di bungkus dengan berbagai patokan yang membutakan, pembuat dan pencipta kekacauan dimana-mana. Termasuk yang hoby nya banyak membuat kekacauan disini, dengan sinis, sirik-iri-dengki tanda tak mampu, iklan tuhan tanpa bukti, ect…ect ect ~………
pokro
Februari 12th, 2012 pada 18:28
like it
narimo
Februari 14th, 2012 pada 16:20
Yang penting isinya dan cara memakna i tulisan diatas , jangan dimakan mentah mentah dipelajari isinya dalam cerita diatas
salam sukses
Agus suryaatmaja
Februari 16th, 2012 pada 18:24
Atur puji syukur sa restune Gusti Allah. Itulah manusia yg dicipta untuk selalu merasa kurang. Yg didhlukan pasti ucapan tanpa telaah apa arti sesuatu. Ampun kawulo alit ngeh.
KSP
Februari 25th, 2012 pada 16:55
Yth. Ki Sabda
Bagi saya panjenengan itu bukan ALLAH melainkan kaki tangan ALLAH mungkin tepat bagi para sahabat dan kerabat yang sedang tersentuh, tetapi bagi saya pribadi akan lebih spesifik kalau saya bilang panjenengan itu adalah Ki Comblang yang the best karena baru kali ini saya merasakan dahsyatnya kemesraan denganNYA (saya blm kenal ALLAH meskipun saya sering baca syahadat/kesaksian pada momen ritual islam tertentu,malu rasanya bersaksi tapi belum kenal).
Karena kuatnya medan magnet ILLAHI yg mengandung pencerahan powerfull dari KI Sabda membuat saya terseret keruang pencerahan ini dan bahkan secara otomatis menjauhi brosing dari situs situs komersil ,situs syahwat dan situs aneh aneh lainya tapi justru lebih semangat untuk menyimak dan menindak lanjuti karya Ki Sabda.
Sampai hari ini adalah hari ke 8 saya menikmati diruang KI Sabda, saya telusuri semua tulisan termasuk komen komen yang pro itu pasti menambah power tapi untuk yang kontra belum saya temukan sensasi kedahsyatan yang mampu meragukan dan mambatalkan niat saya untuk menolak berbuat baik,kebajikan,dan berbudi pekerti tinggi, apalagi niatan untuk belajar mati seblum mati, huh ruarr .. biasa!!!
Saya merasa sangat berterima kasih kepada Ki Sabda yang berhasil menjadikan saya cengeng dengan linangan air mata saat menghayati tulisan Ki Sabda, moga dilain kesempatan saya bisa bertemu 4 mata sekalian juga semua para sahabat dan kerabat setia di ruang pencerahan ini.
Matur nuwun
KSP
Baladewa
Februari 26th, 2012 pada 03:36
Sampai hari ini adalah hari ke 8 saya menikmati diruang KI Sabda, saya telusuri semua tulisan termasuk komen komen yang pro itu pasti menambah power tapi untuk yang kontra belum saya temukan sensasi kedahsyatan yang mampu meragukan dan mambatalkan niat saya untuk menolak berbuat baik,kebajikan,dan berbudi pekerti tinggi, apalagi niatan untuk belajar mati seblum mati, huh ruarr .. biasa!!! (KSP)
—————————-
@ KSP,
Re komentar2 yg pro dan kontra : Biasa dan mungkin lebih baik begitu. Biar ada keseimbangan. Kalau semua …. pro, mungkin malah akan … membosankan. Saya yakin kalau ada nabi, atau mungkin …. Gusti sendiri yang mau bikin blog seperti ini, ya pasti akan ada komentar2 yang , itu tadi, pro dan kontra.
Yang sering komentar disini ya yang umumnya tertarik pada kejawen. Tapi ada juga yang kontra, yang mau blog ini gulung tikar bin bubar.
Disamping Mas Sabda yg membaureksa blog ini, ada banyak nama yang ikut membuat blog ini lebih … dahsyat lagi : Ngglosor Madhep Wetan, Wongsorejo, ¥Hredaya,Dewi , Cah Pathi, Bratayuda,O’on,Baok.Gamalpra,Gus Supri,Jagad SJ, Mahatma,Dalbo,Tembayat,RD, dan masih banyak lagi . Kebanyakan yang saya sebut itu masih aktif komentar di sini, tapi ada juga yang seperti Ontorejo, ambles bumi, menghilang , menyepi sambil memantau blog ini .
(Niat) berbuat baik, kebajikan, dan berbudi pekerti tinggi : Ini semua mungkin yang pokok, kalau bukan yang paling pokok dalam hidup yang pendek ini, dan ini ada dalam semua ajaran agama maupun kepercayaan – Islam,Kristen,Buddha,Hindu,Bahai, Jain,Konghucu, Tao,Kejawen,dll. (Belajar) mati sebelum benar2 mati, mati dalam hidup : disamping ada dalam kejawen, ajaran ini juga ada dalam ajaran lain, misalnya ajaran Buddha.
Di dunia dan hidup ini ada banyak perbedaan : pendapat, agama, kepercayaan, minat,hobbi, ras, warna kulit,dll. Tapi, pelangi itu indah karena warna2 yang ada di dalamnya … Pernah lihat pelangi yang warnanya cuma hijau saja ? Atau merah saja ? Kalaupun ada, ya tak seindah pelangi yang biasa muncul ….
Salam Bhinneka Tunggal Ika : satu dalam perbedaan, seia sekata dalam berbuat kebajikan dan … katresnan ….
KSP
Februari 26th, 2012 pada 11:10
@Baladewa
Salam kenal mas, sy dari sby tapi asli jowo sing ilang jowone, saya merasa senang sekali mendapat sapaan dari anda karena sesungguhnya saya juga butuh orang orang seperti anda yang bisa mengisi celah kosong pemahaman saya untuk terus ikut mendalami ilmu kejawen asuhan Ki Sabda. Moga temen teman yg lain juga sama sama tangkas seperti mas baladewa yg begitu cepat menemani saya yg sedang sendiriian masuk keranah kesunyian.
Salam rahayu
KSP
Baladewa
Februari 26th, 2012 pada 16:34
@ KSP,
Diantara yang paling gesit berkomentar dan berbagi disini adalah jeng Dewi (Murni) – konon berkembenkan sutra ungu, arek Suroboyo juga. Ada lagi tokoh2 ampuh dari Surabaya, tapi mereka agak rajin … men – delik , sembunyi, akhir2 ini : Mas JS/WM, Mas Eddy.
Rajin2 saja menyimak tulisan2 disini. Banyak yang mencerahkan, tapi jangan kecil hati kalau misalnya ada nada yang … (agak,sangat) sumbang. Mas Jayadi di thread 2014 itu termasuk orang yang harus kita simak. Jalan ke ‘Roma’ tidak selalu … mulus, kadang2 naik turun, ber-kelok2,licin,dsb, kalau gak hati2 kita bisa kepleset ! …
Saya juga dalam taraf belajar, ngangsu kawruh dari Mas Sabda dan orang2 ampuh yang lain disini.
Selamat datang – lagi, salam rujak cingur, gudeg ding …(-:
KSP
Februari 26th, 2012 pada 17:43
@Baladewa
Komen anda bikin saya tambah gragas aja he he he…
salam gudeg ..
Dewi
Februari 26th, 2012 pada 21:24
@ KSP,
Salam kenal mas ksp, yo` opo kabare peno cak?… he he he…
Selamat datang di blog ini ya mas, saya juga masih baru di sini, baru setahun yg lalu kesasar di blog ini, trus atiku kesemsem/ kepincut… he he he…
Di sini banyak ruang2 yang bisa kita pelajari dan kita kommentari, untuk saat ini yang ramai adalah ruang2 terbaru, seperti: 2012 (4), hikmah pertemuan dengan Gus Dur, dsb.
Selamat bergabung, selamat mengangsu kaweruh di kahyangan sabdalangit, asyiknya di sini, masnya bisa berbagi cerita atau pengalaman apa saja, monggo di babar yen kerso. Anyway, saya di sini juga masih TK, walau kadang super cerewet dan ceriwis, maklum sekolah playgroup di kahyangan kadang banyak berantem dan bercandanya melulu… he he he….
@ Baladewa,
Niki rujak nopo paklek?… uuueenak`e, njaluk thithik nggih…. musim panas gini pancen enak`e nggado rujak, cocok gawe wong ngidam…
… yen ngrujak, ngrujak`o nanas, ojo di tambahi kweni… wis watak`e prio… jare ngaku setio… jebul lali wekasane… e ya`e… ya`e… ya`e…. jangkrik genggong… jaaangggkriiiikkkk genggoooongggg…wani nglirik sepi uwong….
We lha da lah… kok jebul tekan lagune Nyimas Waljinah… he he he…, yo wis aku tak ning ruang sebelah dhisik, arep ngobrol karo kangmas Yhredaya, Jayadi, Cah Pathi, lan liyo liyane…. monggo mas KSP di sekecak`aken rujak cingur kirimane paklek Baladewa….
Salam teh tubruk,
Dewi
Baladewa
Februari 27th, 2012 pada 10:21
@ KSP,
Lha, itu njenengan sudah disapa satu … arek Sby sing , kata dia sendiri, super ceriwis . Dari sini diskusi bisa dilanjutkan … Mungkin bikin group Srimulat 2, atau apa itu, ludruk … ? (-:
@ Jeng Dewi,
Lirik-melirik itu nampaknya sudah … gawan – bawaan – semua orang. Gak laki2, gak perempuan. Mbak2/ibu2 juga suka nglirik, ya nglirik mbak2/ibu2 yang lain, membandingkan apa dia lebih langsing atau lemu dibanding awakku,plus nglirik laki2 yang mungkin serupa dengan George Clooney ….
@ Mas Bratayuda,
Nuwun atas respon njenengan yang ces pleng. Saya optimis, selama orang2 sekaliber njenengan tetap mau menulis di sini, blog ini akan selalu berbobot dan ngangeni … Terima kasih telah mengingatkan saya, kami untuk selalu di jalan yang …baik.
Kalau boleh saya minta ijin untuk copy/paste tulisan njenengan untuk bahan diskusi dengan teman2 yang lain. (Tentu saja saya akan menyebut nara sumber, njenengan. ) Nuwun sebelum dan sesudahnya .
Pun pareng rumiyen, ini saya mau cari makan,kerja dulu.
Bratayuda
Februari 27th, 2012 pada 00:07
Baladewa memang pass……………
semoga kesemangatan anda menjadikan kami bolo-bolo nya para dewa mampu menuju jiwa ilahi nafs muthma’inah.
tak aneh menuju jalan lurus Shirat Al-Mustaqim banyak spleteran dari buih-buih Doroona(dorna), yang akan merebut ageman diri jamuskalimusodo(jimat kalimah syahadat), dari kalangan as-syaitoona yang selalu giat meng-advertising konsep tuhan-tuhan yang lahir dari fikiran sampah. ,……kita tonton saja dengan tenang kiprah mereka, walaupun sesekali kita harus menutup hidung karena bau busuk dari dalam dadanya yang penuh belatung. Dengan pelan dan pasti tentu mereka sedang menuju 100% musnah permanen.
Falsafah hidup bangsa jawa memang menguatkan keyakinan masing-masing untuk menemukan Tuhan yang Sejati dalam diri( bukan sekedar katanya nama pada tulisan), dan itu telah dibuktikan oleh leluhur kita semua. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasl menempuh jalan itu, yang selalu membimbing dengan berbabagai cara kepada gen anak cucu nya smp akhir jaman
Semua itu tentu untuk kemaslahatan diri, dan kejayaan bangsa di NKRI, bahwa dimana bumi di pijak langit dijunjung tinggi. Itulah….bangsa yang tau diri, yang tak perlu mengagungkan bangsa dan budaya lain.
Untuk semua yang ber hati baik ,……..Jaya NKRI, !!!
Salam baik dan sukes selalu……….
KSP
Februari 27th, 2012 pada 12:03
@Baladewa
Ruang ini memang luar biasa.. pingin apa , cari apa dan mau apa semuanya serba ada seperti masuk ke gudang anugrah . Niat awal mau nyelami lautane Ki Sabda eh malah dapat bala bantuan para Dewa dan Dewi (anda boleh lerak lirik krn sama sama level Dewa.
@Jeng Dewi
Saya masih duduk di klas paud dlm ruang ini,itupun blm tentu di verified oleh Ki Sabda , kalau anda tidak keberatan tolong bantu percepat verifiednya ya… dan jangan lupa kalau sudah turun restunya Ki Sabda mohon anda kasih privat saya ya jeng Dewi.. sy yakin anda pasti sdh linuweh
@Bratayuda
Salam kenal mas Bratayuda .. Saya bangga mendengar dari mas Baladewa kalau anda juga punya karya luar biasa tolong di japrikan ke ksp.trade@yahoo.com saya mau ikut nyimak sekusyuk kusyuknya.
@all
Salam kenal dari saya dan besar harapan saya kepada anda semua para senior dan para linuweh mau berbagi dan ngajari berlari untuk meninggalkan keburukan dan mengejar menggapai ilmu dan laku para leluhur.
nb.sakjane aq pingin nulis coro jowoan koyo’ poro dolor dolor senior tapi jek kekasaren kate tak amplas ,amplase gak ono seng dodol kecuali kudu belajar karo Ki Sabda, pending sek ae… (jek PAUD macem macem..)
Salam seduluran
Bratayuda
Februari 27th, 2012 pada 19:05
Salam Kang KSP,…..
Trims koreksinya,….
saya tak punya karya yang khusus,…cuma memang koment-koment saya bisa muncul seketika sesuai mood, bila itu ada lawan diskusi, atau ada semacam pengacau diskusi diblog ini yang melakukan pembenaran diri sambil menjelekan falsafah kejawen.
Sehingga karya hasil fikiran saya hanya bentuk koment-koment yang ada di beberapa thread di blog nya Mas Sabda. Mas KSP bisa brows pada komentar lama, dan banyak juga koment-koment lain yang lebih berbobot dan ber-esensi, saya juga banyak belajar serta perkembangan pengetahuan bersama mereka di Blog ini.
Demikan Mas KSP, semoga Tuhan tetap berikan taufik hidayah pd kita semua,…
salam baik dan sukses selalu
Dewi
Februari 27th, 2012 pada 20:28
@ KSP,
He he he… ngomongin les privat jadi ingat pak guru. akang Baok, where are you?… kumaha damang?… masuk dong, nih ada teman baru di kelas…
Mas KSP kita bisa les sama2 di sini, asyiknya sekolah di sini nggak mengenal siang ataupun malam, semuanya bisa jadi murid tanpa memandang bulu dan semuanya bisa jadi pembimbing bagi yang lainya.
Kebetulan para dosen tingkat tinggi, seperti pakpo Widji Midjil, om Gamalpra, paman Tembayat, kanjeng mas Dalbo, paman Jagad SJ, kang RD, bang RP, paklek Sen Karna, si Budak Angon, dll, masih pada sibuk dan sebagian lagi asyik cangkru`an di blog warung kopi sebelah, mereka intensive membahas dan nge-gossip si SP sang Ratu Adil… he he he…
Untungnya masih ada Dewa Dosen, kangmas Bratayuda yang masih rajin menyapa dan memberi pencerahan pada adik2 kelasnya, yang juga merangkap sebagai wali murid, jadi kalau ada murid yang urakan bin ke s`arab2an, ntar di jewer sama mas Bratayuda.. he he he…, maturnuwun kangmas, kami semua menunggu tulisan2 njenengan selanjutnya.
Oh ya ngomongin bahasa, ya nggak pa2 bhs suroboyoan yo apik tenan, bhs suroboyo itu kan terkenal karena ‘egaliter’ nya/ bersahabat, asal ojo boso sing koyok nang ‘pojok kampung’… , dan di sini orang mau pake bhs asing, allien, kalbu, cinta, indonesia, sunda, dsb terserah saja, sak iso`e, ini kan kelas universal, blog ini juga di baca orang seluruh jagad raya, jadi ini kayak sekolah kahyangan internasional di dunia maya… he he he…
Anyway, Saya pernah melihat berita pojok kampung di tv swasta jatim yang katanya kontroversi, setelah saya simak, ya memang bahasanya kasar dan tidak tepat kalau di masukkan dalam acara berita yang formal, terkesan tidak menghormati dan tidak mendidik, kalau mereka bikin acara talk show atau acara informal lainnya ya silahkan, sebagai sarana kekayaan budaya dialeg juga, bukannya tidak boleh melestarikan bhs apapun bentuknya, tetapi patut di sayangkan kalau di masukkan dalam acara formal/ pemberitaan suatu berita. Ini hanya masalah penempatan teknis saja.
Banyak bhs yang sangat kasar, tabu dan jorok, Salah satu contoh kecil saja: Untuk mengatakan orang yang meninggal, bhs jawa yg halus ‘sedho’, bhs ngoko ‘mati’, bhs kasar atau untuk hewan ‘matek’, lha bhs pojok kampung ini kalau menyebut orang yg meninggal dengan mengatakan ‘matek’ ini kan sama saja menyakiti perasaan keluarga yang di tinggalkannya, kesannya nyukurno dan sudah tak menghormati lagi. Nah bhs suroboyo ini kan terkenal karena egaliternya bukan bhs kisruhnya yang hanya mesah-mesoh, jadi minimal kan bisa di ambil kata ‘mati’ sebagai penengah/ netral, yang tidak terlalu halus juga tidak terlalu kasar.
Terus terang saya sendiri sebagai asli arek suroboyo sangat risih mendengar kata2 ‘matek’ ini, yang tidak nguwongke uwong/ tidak memanusiakan manusia. Di amerika, negara yang terkenal bebas dan liberal, sangat menjunjung tinggi kode etik linguistiknya, misal suatu acara yang mengandung kata2 mesoh/ prokem/ slank words itu tidak di tayangkan pada jam anak2 yang bisa menontonnya, alias tengah malam hari atau untuk dewasa saja, bedakan dengan acara pojok kampung yang tayang 3-4x sehari dan semuanya bisa menyimaknya…
Salam rahayu,
Dewi
KSP
Februari 27th, 2012 pada 21:50
Ngestoaken dawuh Jeng Dewi betul begitu ya…anda hebat baru ngaku TK saja sudah bisa nguliti macan apalagi kalo sudah punya “SIM” mengajar pasti mau menguliti langit ya…
Baiklah jangan bosan kasih privat saya ya…
Salam sakabehe
kicin
Februari 28th, 2012 pada 12:13
Saya masih awam soal kejawen,dengan masuk di blog ini saya harap para senior untuk memberikan wejangan.sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Dewi
Februari 28th, 2012 pada 19:20
@ KSP,
He he he… iso ae sampeyan iku cak, aku durung tahu nguliti macan opo maneh nyikati untune macan… hiiiihhh…serreemmm….
TK = tahap kenalan…
SIM = surat izin mencium…
KSP = ….??? …
@ Kicin, Agus, Pokro, Narimo and All,
Salam kenal mas Kicin, njenengan bisa mempelajari semua topik yang ada di blog ini, kebetulan di sini banyak ruang2/ thread2/ tulisan2 yang sarat akan pepeling, sosial, budaya, ajaran jawa dsb…
Saya di sini juga baru tahap belajar, jadi kita bisa belajar bersama-sama…, yang sabar dan tekun, dan kalau masnya nggak keberatan, masnya juga bisa sharing/ berbagi cerita atau pengalaman njenengan, sehingga kita di sini bisa membacanya atau saling bertukar pikiran…
Walaupun masih awam, kalau boleh tahu, menurut masnya kejawen itu apa sih?… apa yang pertama terlintas di benak njenengan tentang kejawen, dan mengapa masnya tertarik pada kejawen ini?… maturnuwun.
Salam manis,
Dewi
Dewi
Februari 28th, 2012 pada 19:29
@ Baladewa and All,
Paklik, niki enten crito ludruk, jare sampeyan seneng ludrukan, iki tak kirimi sinopsise sing tak copasno teko fb ne konco, lha niki monggo di pirsani…
Sore-sore jam 3 onok tamu teko nang omahe Cak No.
“Kulo nuwun. Aku Kusen ning. Cacakmu onok tah ?” jare tamune.
“Sik durung mulih.. diluk ngkas paling, pinarak sik cak..” jare bojone Cak No.
Mari ngono arek loro malih asik ngobrol ambek ngenteni Cak No mulih.
“Sik tah ning, lek tak sawang-sawang sampeyan iku ayu lho athik seksi
… pisan” Kusen mulai ngerayu.
“Peno jok macem-macem lho, tak kandakno bojoku tebhal sampeyan” jare bojone Cak No.
“Ngene lho ning, aku wis gak tahan maneh. Lek aku oleh sun pipi sampeyan pisan ae, dhuwik satus ewu iki jupuken” jare Kusen ambek ngetokno seket ewuan loro.
Pikire bojone Cak No, mek disun thok ae, gak bakal konangan, opomaneh jamane krismon lak lumayan tah.
“Yo wis, tapi diluk ae yo”. jare bojone Cak No. Mari ngesun, Kusen ngekekno dhuwike.
“Tapi ning, aku sik gak lego lek gak ngesun karo-karone. Lek oleh ngesun
sitoke, tak kei satus ewu maneh” jare Kusen.
Pikire bojone Cak No, yo gak opo-opo se, paling mek diluk koyok mau. Mari
ngesun, Kusen ngetokno satus ewu maneh.
Bojone Cak No sueneng gak karuan, “Sing iki pisan cak… gae bonus”, jarene.
Mari ngono Kusen terus pamitan alasane kesuwen ngenteni Cak No gak teko-teko soale katene arep onok urusan liyo.
Gak sui, Cak No mulih. “Cak mau onok konco sampeyan teko jenenge Kusen, wonge antik pol..” bojone cerito.
“Oh iyo pancen mbethik arek iku.. Jarene kate nyaur utang rongatus ewu, wis dibayar tah ?.”
Kwkwkwkwk…, lucu poll… apik gawe pentas ludrukan, sopo sing dadi cak No, cak Kusen, bojone cak No?… aku dadi penata rias ae, tim sukses yang ada di balik layar… he he he… kik kuk.
Salam ludrukan,
Dewi
WM
Februari 29th, 2012 pada 02:11
Salam JDD…….cerita ludrukkan…pancene lucu…..ayo ditulis maneh crito lucu liyane…..supoyo pikiran terhibur lan iso fresh….kik kuk…kik kuk….
kicin
Februari 29th, 2012 pada 03:08
@mbakyu dewi
menurut saya kejawen adalah suatu ajaran yang mengajarkan tentang etika(unggah ungguh,teposeliro),dan Budaya jawa.
Dewi
Maret 1st, 2012 pada 21:33
@ Kicin,
Maturnuwun mas, wah, hebat tenan masnya baru masuk sudah bisa mengartikan kejawen secara singkat padat dan jelas, beda dengan saya dulu pas pertama kali masuk, tulisanku muter-muter koyok kitiran, ora iso nemokno babone he he he…
Dan ini tandanya bahwa setiap individu itu udah di bekali ‘builth in’ spiritual masing2… tinggal kita apakah mau mengembangkannya atau mengasahnya atau bahkan memendamnya/ melupakannya…
Maturnuwun atas pencerahannya dan saya menunggu tulisan2 njenengan selanjutnya…
@ KSP,
Yo` opo khabare cak?…
Ksp = kesepian?… xixixixixi…
Ojo kesepian to, iki lho onok konco enyar mas kicin, ayo ndang podho kenalan lan nulis2 saling sharing dan berbagi pengetahuan/ pengalaman…
Aku tak nulis humor lan guyonan ae… he he he…
@ Widji Midjil,
Rahayu pakpo, senang sekali rasanya bisa bersua lagi dengan pakpo WM di sini… hmmuuaahh!!…
Njenengan seneng ludrukan tho?… hmmm, ini kebetulan ada percakapan dengan seorang teman di fb, orangnya kocak karena baru pertama kali belajar pake telepon BB = blackberry… sebut saja namanya cak Galih…
G : Hai
D : sugeng dalu mas Galih, lagi santai?..
G : Iya… Lagi utek2 bb He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº°
D : utek2 opo itik2… kwkwkwkwkwk….
G : He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº° ulek2 yo gak antes malah lembut kok He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº°
D : mmm-hmmm…
G : Myamti berguguran ta mbak yu kok hmmmmmmmmm mmmm mm..
D : hmmmm2x sampeyan ngoten lho… mosok ora rumongso… he he he…
G : He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº° babar pisan gak blas lha ⌣»̶ά̲̣̣̣̥KŨ .. Wong mumet kok kae kokon rumongso He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº°
D : kakeyen utek2 bb dadi mumet.. he he he… kik kuk… kik kuk…
G : Lhaaa mencari perhatian lain.. Mikiri kerjaan kok ra kelar2 ki piyeee, lha pean yo пg gelem di utek2 koyo hp iki He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº°
D : kwkwkwkwk… kayak radio aja di utek2… itu namanya ‘blow job’… kik kuk.
G : Lho yo kok yo blow job… Wah tambah ra mudeng… Blow job niku nopo to… Ngapunten bener2 takon ⌣»̶ά̲̣̣̣̥KŨ .. Geptek.. Sering mendengar tapi gak tau artine…
D : artine yo kiro2 blow= melayang job=pekerjaan, ya alias mikir kerjoan ra ketekan, mikir sesuk kejengkelan, leyeh2 penak tenan… assololeh…
G : He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº°. Mak swiippp ambek di sruut disek kopine sira e gela gelo… Lagi nyantai ta mbakyu…
D : nggih, mangke jam sedosoh mau off, di sini jam 10 di jawa mungkin jam 9, kacek sak jam… lha masnya masih leyeh2?…
G : He°º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº° dadi koyok surabaya honkong sama ya kacek 1jam
D : mosok seh cak?… sampeyan wis pernah nang hongkong ta?… he he he…
G : lek pernah yo durung °º:pђέ:Dº♣ђέ♣º:pђέ:Dº tapi jarene konco2ku sing nang hongkong jame kacek sak jam, Lagi leyeh2 ambek nyetel sera ngamen asselohee…
D : icik2… ehmmm… wah yo iki sing jenenge blow job tenan… he he he…
@ Sen karna, kang RD, Jagad SJ, Heri Kribo, Tembayat, ABR, Gamalpra, Bejo Banget and All,
Niki tak tambahi video ludrukan cak kartolo pas pentas nang planet Hollywood jakarta, lucu poll…. gawe kemekel, supoyo ati riang lan iso berba-hahahahaha-gia …kwkwkwkwkwk…
Salam ngguyu,
Dewi
KSP
Maret 2nd, 2012 pada 08:27
@Cak Ning karo dulur kuabeh
Sepurane kaet iso nyaut ,aku jek maruk karo tulisane Ki Sabda, kepingine njajal sing netep tapi jek poyang paying, aku tak melu pringisan disek karo pean kuabeh cek ora methentheng koyo odon kate njebrot… he he he…
@Dewi
TK = tahap kenalan…
SIM = surat izin mencium…
KSP = ….??? …
——————————–
KSP = Kulo Sir/Seneng Panjenengan !!! tit tut tit tut …
Kwkwkwkwk…, lucu poll… apik gawe pentas ludrukan, sopo sing dadi cak No, cak Kusen, bojone cak No?… aku dadi penata rias ae, tim sukses yang ada di balik layar… he he he… kik kuk.
————————————————————————————
Mumpung wis kepancing jowone wis ayok tandang ludrukane ,aku sing dodol wedake karo nyombe ae yo…
D : kwkwkwkwk… kayak radio aja di utek2… itu namanya ‘blow job’… kik kuk.
G : Lho yo kok yo blow job… Wah tambah ra mudeng… Blow job niku nopo to… Ngapunten bener2 takon ⌣»̶ά̲̣̣̣̥KŨ .. Geptek.. Sering mendengar tapi gak tau artine…
D : artine yo kiro2 blow= melayang job=pekerjaan, ya alias mikir kerjoan ra ketekan, mikir sesuk kejengkelan, leyeh2 penak tenan… assololeh…
———————————————————————————————
Pelajaran ning nduwur masuk privat opo ora Ning Dewi ? tit tut tit tut…
Ngomong jowoan yo wis podo ae karo melu nglestarekno budoyo jowo (tapi sing ndek ndek’an) he he he …
Salam ludrukan
KSP
kicin
Maret 2nd, 2012 pada 16:01
@Mbakyu dewi & para sederek sedanten
hanya itu yang saya tahu,untuk yang lebih dalam lagi saya harus banyak belajar dari njenengan sedanten.
Dewi
Maret 2nd, 2012 pada 21:32
@ WM,
Pancen nggih leres pakpo yen njennegan lan sedanten kangen ludruk, amergi ludruk jatiman lan boso suroboyan sing terkenal egaliter memang ngangenin. Ibarat lidah ini sering bercakap dengan bahasa apapun di dunia ini, ternyata tidak semerdu dan semeduk (senikmat) ketika berbahasa dengan logat suroboyoan yang memang mengandung aura bersahaja yang penuh spontanitas namun sarat akan makna sebuah nuansa persahabatan.
@ KSP,
Suwun yo Cak KSP, njenengan jian pancen pinter ngepek atine wong wedok, ngerti ae lek aku iki senengane di lem… he he he… tit… tut…tit..tut…
Pancen yo bener cak, boso jowo iki pancen maneko warno, ono boso kulonan, kidulan, suroboyoan, gombongan (ngapak2) lan liyo liyane, mulo ayo podho di lestarekno, kenek gawe tombo kangen barang, iku sing mesti.
Mboten nopo2 yen dereng saget/ sempet ten ‘diskotik’ mriki, menawi njenengan nggih tasih sibuk nyimak serius piwulangan2 ki sabda, ugi ilmune saget di serep amrih apik lan becik`e.
Yen pikiran tegang methentheng nggih ngasoh riyen, santai mawon, gegojekan karo kancane, sir podho senenge, saget di gugu yen purun private.. tit… tut…tit… tut…
@ Kicin,
Maturnuwun mas Kicin, kita bisa belajar sama2 di sini nggih, dan semoga masnya mendapatkan segala kebaikan dan manfaat dari ngangsu kaweruh di sekolah ‘diskotik’ kahyangan ini…. suasana diskotik memang full, rame dan meriah.. he he he…
@ Dalbo,
Mas Dalbo iki nangndi yo?.. kok suwe ora muncul2… aku kangen karo parikan jula-juline… hmmm, jan2ne sing ngangeni iku wonge ta parikane yo?… he he he… kik kuk… kik kuk…
@ Sedoyo,
Niki enten ketoprak humor dari lawakan Cak Bagio karo Cak Kirun cs… ning sing ati2 ae lek weteng kaku mergo kakeyen ngguyu… kwkwkwkwkwk….
salam budoyo,
dewi
WM
Maret 3rd, 2012 pada 01:46
Salam kagem JDD…Mas hredaya…Mas Cah Pathi…..semua poro sepuh…….
Mbak Dewi ini sekarang sedang bergembira ya….alhamdulillah…semoga Njenengan selalu bahagia dan bergembira…..
Tentang humor ludruk…..ha ha ha saya sangat senang dengan guyon ludrukan……Kartolo CS atau lawak Mas Kancil ludruk RRI Suroboyo….kita harus bisa bergembira…..sebagai pelepas beban pikiran karena ruwetnya hidup…..tertawa lepas dan keras…sampai seorang dipinggir saya kaget mendengar tertawa saya…saya sampai malu sendiri……..kik kuk kik kuk…..
Basiyo
Maret 3rd, 2012 pada 18:53
Salam para sesepuh lan sedherek,
Sumonggo ingkang kangen ludruk Kartolo CS, saged pinarak wonten mriki
http://pakdenono.com/kartolo/download-mp3-kartolo.htm
Berkah rahayu
Dewi
Maret 3rd, 2012 pada 22:05
@ Basiyo,
Maturnuwun lan salam kenal pak Basiyo, menopo niki dulure pak Baseman?… he he he… terima kasih link yang telah di berikan, semoga bisa mengobati rasa kangen penggemar dan pecinta ludrukane cak Kartolo cs….
@ WM,
He he he… nggih maturnuwun pakpo, saya memang suka kesenian sejak kecil, apapun bentuknya, baik lagu, musik, tari, teater dsb seperti tayuban, balet, salsa, film, lukis, drama, ludruk, ketoprak, wayang kulit, reog ponorogo, dsb. Dulu waktu masih kecil setiap 17 agustusan, di setiap balai RW selalu menanggap ludruk atau pelawak jula-juli, namun sekarang tergeser dengan hiburan musik dangdut yang mungkin di nilai agak praktis. Pernah juga lihat reog ponorogo keliling kampung, tetapi skg udah nggak ada lagi, terakhir di ganti kesenian barongsai tetapi tidak berkeliling kampung (hingga reog ponorogo di klaim negri tetangga, baru masyarakat indonesia tersadar he he he), Musik dangdut, keroncong, pop, campur sari dsb juga musik yang merakyat, hampir semua kesenian sebenarnya bisa di terima oleh penikmat seni dan itu adalah cerminan pluraritas warganya.
Wayang orang saya pernah melihatnya sekali waktu kecil di ajak tante ke THR, nonton film di bioskop dekat pasar waktu kecil kadang sama saudara dan ibu, tiketnya murah sekali Rp 250-400 perak, tetapi film2nya juga nggak ada yg baru, kursinya juga banyak karatan, tapi yang penting bisa lihat bioskop, ketoprak pernah sekali melihat secara live waktu ada saudara si nenek di desa yang punya hajat nikahan, saya waktu itu masih SD, tapi saya sangat senang, rasanya sangat mewah sekali dan nonton sampai shubuh. Dan waktu sepupu saya si kembar sunat, mereka nanggap wayang kulit di rumah. Selebihnya hingga kini banyak melihat kesenian2 di TV saja.
Tentu saja saya sangat gembira dan antusias jika menggossip kesenian, rasanya nggak cukup kalau hanya sehari semalam, musik seperti halnya nadi dalam kehidupan, ibarat makanan adalah nutrisi tubuh, maka kesenian adalah nutrisi jiwa… kesenian tidak memandang ras, suku, agama, kasta dan tingkat ekonomi seseorang, keluarga saya jauh dari berkecukupan sejak kecil, tetapi kami merasa sudah cukup ‘kaya’ (rasa dan hati) karena bisa menikmati suatu seni yang menurut kami sangat berharga karena ‘seni’ itu bernilai sangat tinggi.
Dan saya juga sangat senang jika apa yang saya postingkan bisa membuat pakpo dan poro pinisepuh terhibur, walaupun apa yang saya tulis bahannya dari comot sana comot sini…
Ok deh, tanpa ba bi bu lagi, niki kulo kirimin lagu yang terisnpirasi dari sebuah cerita legenda ‘sam pek eng tay’ trus di plesetkan jadi ‘padu sampek entek’… duet ‘mami Okta dan cak Tawar’…. kwkwkwkwkwk …. lihat namanya aja mau tertawa, lha gimana nggak geli, si mami Okta ternyata ‘lady boy’ itu lho alias laura= lanang ora, wadon ora…. xixixixixi… btw, dulu saya pernah ke taman remaja pas hari kamis malam jum`at sama saudara dan adik2, karena tiap hari kamis malam itu banyak deh mas2 yang berpenampilan sangat cuantik, sueksi, muenor lan kemuayu… he he he… menurut saya kehadiran mereka kok bisa membuat dunia ini tambah semarak, berwarna-warni dan tentunya selalu bisa bikin orang tertawa terhibur bahagia….
http://www.youtube.com/watch?v=VMIiLu975_Q
salam gembiro,
Dewi
Basiyo
Maret 5th, 2012 pada 02:51
@ Basiyo,
Maturnuwun lan salam kenal pak Basiyo, menopo niki dulure pak Baseman?… he he he… terima kasih link yang telah di berikan, semoga bisa mengobati rasa kangen penggemar dan pecinta ludrukane cak Kartolo cs….
————————————-
Dhawah sami – sami, Bu Dewi..
Pak Baseman punika sinten nggih? Kawula niki namung fans berat Dagelan Mataram. Menawi Jawa Timur gadhah ludruk Kartolo cs, Jawa Tengah/DIJ gadhah dagelan mataram Basiyo cs.. Lawakannya sama – sama orisinil, ngemot falsafah budaya lokal, ndak perlu pakai gebuk-gebukan kayak di tipi itu lho dan yang penting cocok untuk melepas stres selepas nyambut gawe…hehehehe
Bapak Sabdalangit yth,
Mohon izin numpang berbagi informasi disini
Para kadhang sedaya,
Berikut saya copas satu artikel dari harian jogja, salah satu surat kabar lokal di DIJ
WONOSARI—Dua aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa muncul di Kabupaten Gunungkidul sudah mengantongi ijin Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Kedua aliran kepercayaan tersebut mendapatkan kewenangan untuk menikahkan para pengikutnya dan sah diakui secara negara atau pemerintah.
Dua aliran kepercayaan tersebut adalah Palang Putih Nusantara Kejawen Hidup Sejati dan Sapta Darma yang berpusat di wilayah Kecamatan Gedangsari.
“Sudah turun ijinnya dari Menbudpar sehingga saat ini sudah bisa menikahkan umat pengikutnya,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Gunungkidul Tomy Harahap saat wawancara dengan Harian Jogja, kemarin.
Diakui Tomy sebenarnya masih banyak aliran kepercayaan yang muncul di Gunungkidul namun belum semua aliran kepercayaan memperoleh SK Menbudpar sehingga belum bisa menikahkan umat pengikutnya.
Tomy berharap, dua aliran kepercayaan memperoleh SK Menbudpar selalu melakukan koordinasi intensif dengan Pemkab Gunungkidul agar kebutuhan tata administrasi kependudukan dan pencatatan sipil lebih mudah dilakukan.
Terpisah, aktivis pemuda PCNU Gunungkidul Salafudin Suja tergabung dalam Forum Lintas Iman (FLI) menyatakan menyambut baik munculnya banyak aliran kepercayaan di Gunungkidul.
“Keyakinan umat kepercayaan tidak boleh tidak harus dihormati. Itu sebagai wujud dari pemberian kebebasan pemerintah terhadap seseorang yang hendak memeluk agama dan kepercayaaan sesuai keyakinannya masing-masing,” ungkap aktivis persaudaraan lintas agama di Gunungkidul. (HARIAN JOGJA/Endro Guntoro).
Berkah Rahayu,
Sen Karna
Maret 5th, 2012 pada 15:50
@Mas Basiyo,
O Allah, masih ada yang ingat (dagelan Mataram) Basiyo ! Lha,kok Basiyo, wong Pak Besut (alm) sing ngudar gagasan di RRI saja saya masih ingat je … (-:
Jeng Dewi Murni – berkembenkansutraungu – ya gak mudheng, lha wong disamping arek Suroboyo,jeng yang satu ini masih … yunior, mungkin belum … lahir waktu Basiyo masih ngetop … hehehe… Lha, ini rak jadul, zaman TV masih hitam putih dan tidak semua orang punya.
Salam sego gudeg dan matur nuwun untuk artikel aliran kepercayaan.
Basiyo
Maret 6th, 2012 pada 22:15
@ Bp Sen Karna yth,
Syukur pamuji dhumateng Gusti, lumantar blog niki kawula saged kepanggih sedherek ingkang sami remen midangetaken dagelan jadul..hehehehe
Gandheng kula sakniki tebih saking tlatah Ngayodya, lha nggih namung ngandelaken tlatah maya niki supados saged rengeng – rengeng pendhak sonten sinambi nyruput teh nasgitel..Pramila menika, agenging panuwun kula haturaken dhumateng kadhang ingkang purun utawi kersa ngunggah dagelan/wayang utawi kethoprakan wonten tlatah maya punika
Mbok menawi Bapak Sen Karna ngersaaken, monggo sami – sami nostalgia kaliyan Den bagus Basiyo (asli) wonten mriki…
http://www.4shared.com/folder/YK1x1aBn/_online.html
Berkah rahayu,
Dewi
Maret 7th, 2012 pada 21:57
@ Basiyo,
Nggih maturnuwun, almarhum pak Baseman meniko mertuane cak Kartolo yang juga pelawak dari jawa timur, waktu saya kecil/ remaja, saya sering terpingkal-pingkal kalau lihat pak Baseman di TV yang selalu memlesetkan namanya, dari Baseman menjadi Basekom… he he he…
Terima kasih atas info tentang perkawinan sipil bagi yang beraliran kepercayaan nusantara ini, saya surprised sekali, ini benar2 khabar yang menggembirakan bagi pluraritas kehidupan spiritual di nusantara atas kesempatan dan kepercayaan yang telah di berikan. bahwa semua bentuk perkawinan SARA sama derajat dan martabatnya di muka hukum dan negara.
Semoga langkah peran aktivis ini bisa mengispirasikan kepada masyarakat luas dan seluruh indonesia pada khususnya.
@ Sen Karna,
Maturnuwun paklik atas kiriman sego gudeg`e, senadayan kulo tasih junior, nanging seneng and enjoy gegojeg`an (bersenda gurau) kaliyan pinisepuh2, biar awet muda… he he he… kik kuk.
@ Sampar Angin, Manik Jati, salam kenal…
@ Sedoyo,
Niki enten video dagelane cak Kirun lan pak Marwoto, yang lagi tampil di suriname, apik tenan dadi kepengen dolan menyang suriname ketemu sedulur-sedulur jowo ning kono… he he he…
salam teh nasgitel (panas, legi, kentel),
dewi
sampar angin
Maret 5th, 2012 pada 01:05
sugeng tetepangan kulo lare ngarit nderek leren ngiyup.e gk taune sing duwe gubuk wong sing iso ngudarake wejangan.tak melu ngrungokne nek enek sing cocok ku suwun nggih ki.!
Manik jati
Maret 5th, 2012 pada 22:29
Rahayu kagem sedanten kemawon,,,
kulo namon badhe urun rembuk kalinyan tumut ngangsu kaweruh,,,
mugi putro wayah diparingi wekdal damel ngedal aken roso puniko injih puniko,
“sak umpami kito leres tyang kejawen,ayo sesarengan tumut nguri2 wejangan SABDO PALON NOYO GENGGONG” matur nuwun
Ratih
Maret 9th, 2012 pada 09:48
waduh senengnya saudara pada ketemu,tapi ngomong2 ,apa mungkin yang dimaksud untuk dapat menerima puncak ilmu kejawen adalah jenis manusia yang “murni hatinya,dan tidak macem macem,alias menerima segalanya sebagaimana adanya?”
kicin
Maret 9th, 2012 pada 19:38
@mbakyu ratih lan derek sedanten
menurut sepengetahuan saya,kita bisa memperoleh puncak ilmu kejawen tidak hanya hati kita suci/Bersih,tapi kita juga harus memahami apa arti hidup dan mengetahui jati diri kita.
sebagai contoh anak kecil,meskipun hatinya suci/Bersih tapi tidak bisa memahami arti hidup serta tidak mengetahui jati dirinya dia tidak bisa mencapai puncak.
pada intinya puncak dari segala ilmu bisa kita peroleh apabila kita bisa memahami arti hidup dan tahu siapa diri kita.
matur sembah nuwon.
Satra
Maret 16th, 2012 pada 10:03
Nuwun sewu
Satra
Maret 16th, 2012 pada 10:13
Sejatinya KEJWEN adalah pancer dari sgala ilmu keillahian yg tidak dimiliki pleh negara2 lain di dunia yang patut kita lestarikan Yg adiluhung demi tegaknya nusantara dan kembali gemah ripah loh jinawi.
kicin
Maret 18th, 2012 pada 04:02
yup……saya setuju dengan pendapat kangmas sastra.maka dari itu bersama sama kita jaga dan melestarikan kebudayaan kejawen.
jayadi
Maret 18th, 2012 pada 15:41
wilujeng rahayu kang sabda lan poro pinisepuh lan poro dulur kang isih ing padepokan sabdalangit..
bagi yang terbuka dan ingin membuka hati nurani tanpa ada keinginan untuk menilai dan memberi penilaian akan makna yang tersirat dalam tulisan ini niscaya setiap makna penting dari inti tulisan ini akan cepat menyerap ke dalam hati. bagi yang telah menyimak, akan trus merindukan untuk menyimak lagi berulang kali. menghilangkan dahaga kerinduan…
rahayu
machfud baidhowi
Mei 7th, 2012 pada 00:36
benar2 sempurna
prime santoso
Mei 18th, 2012 pada 19:46
mau tanya ki,sekrang ini siapa guru besar yang mengajarkan ilmu sastro jendro..nuwun.