MISTERI CUPU PANJALA

Dalam tradisi Jawa banyak dikenal berbagai pusaka warisan leluhur, di antaranya adalah berbentuk cupu, dinamakan Cupu Panjala. Pada masyarakat Yogyakarta sudah begitu populer mengenai pusaka ini karena tuahnya yang terkenal keramat. Dalam setahun sekali, kain pembungkus cupu dibuka dan muncul tanda-tanda zaman yang menjadi peringatan bagi anak turun dan masyarakat yang mempercayai. Ketenaran cupu tidak terlepas dari ketepatan prediksi atau ramalan sebagaimana terdapat dalam gambaran yang tertoreh di atas lembaran kain mori pembungkusnya.

Cupu Panjala berjumlah 3 buah, dimasukkan ke dalam satu peti kecil dan disimpan di dalam kamar yang sangat tertutup yang tidak sembarang orang bisa masuk atau membukanya. Peti dibalut dengan menggunakan kain mori yang hingga kini telah berjumlah ratusan helai. Karena setiap tahun bertambah satu demi satu helai kain mori. Setelah acara membuka lembaran kain pembungkus peti, keesokan harinya kain pembungkus  baru dibalutkan menambah kain yang lama.

Cupu Panjala dibuka hanya sekali dalam setahun menjelang musim hujan tiba. Acara pembukaan sangat menarik perhatian masyarakat karena di dalam lembaran kain pembalut peti akan tampak muncul gambar yang berbeda-beda setiap tahunnya. Gambar tersebut merupakan pralampita atau perlambang akan situasi dan kondisi zaman selama setahun kedepan. Perlambang bisa menggambarkan situasi politik, ekonomi, kemakmuran, dan siapa pemegang tampuk kekuasaan. Perlambang biasanya dalam bentuk beberapa gambar yang tidak sulit ditafsirkan.

Tiga buah cupu bertuah masing-masing memiliki nama sbb :

Ukuran besar     : semar kinando

Ukuran Sedang  : palang kinantar

Ukuran Kecil      : kenthiwiri

 

 

 

Serangkaian Cupu Panjala

Serangkaian Cupu Panjala

 

    Cupu Semar Kinando     Palang Kinantar    Cupu Ukuran Kecil

Cupu Panjala sudah mengalami perpindahan tempat sebanyak 3 kali. Dan diturunkan secara bergantian  dari trah tertua dari generasi ke generasi berikutnya. Sejak Mei tahun 1957 hingga saat ini cupu tersebut berada di dusun Colorejo, di rumah bapak Dwijo Sumarto, yang merupakan menantu dari generasi ke 7 dari trah Kyai Panjala.

Bagi yang antipati tidak perlu reaksioner menanggapi fenomena cupu tersebut. Sebab masing-masing desa akan berbeda cara, masing-masing negara akan berbeda tradisi dan tatatannya. Cupu merupakan media komunikasi antara anak turun dengan leluhurnya sendiri. Bagi leluhur yang sudah berada di alam kamulyan tak ada lagi realitas kehidupan yang tertutup tabir rahasia. Sehingga dengan mudah mengetahui apa yang bakal terjadi dialami oleh anak turun generasi penerusnya. Bukan hal yang sulit untuk menyampaikan tanda-tanda peringatan, pepeling, nasehat kepada yang masih hidup di dunia.  Salah satu caranya melalui penyampaian tanda-tanda zaman seperti dalam perlambang dalam kain pembungkus Cupu Panjala. Betul dan benar bahwa Tuhan Mahakuasa, namun Tuhan menyampaikan petunjuk tidak selalu secara langsung kepada umat manusia. Terkadang melalui leluhur, melalui orang yang masih hidup, atau famili, teman, bahkan bisa juga dari musuh anda sendiri. 

sabdalangit

 

 

 

 

About these ads