Category Archives: BAHASA ALAM (SASTRA JENDRA)

Pêpéling Ing Jaman Dahuru

PȆPÉLING ING JAMAN DAHURU

Sekedar pengingat di zaman huru-hara gejolak alam

Selaraskan & Harmoniskan diri Mikro-Makrokosmos
Eling dan Waspadha
Merubah Musibah & Bencana Menjadi Berkah & Anugrah

Jaman dahuru akèh hêra-hêru, bantala lir ginaru-garu, wong-wong padha mlayu, kadya gabah dèn intêri. Langit pêtêng ndhêdhêt lêlimêngan. Banjir bandhang, udan barat kilat thatit makêmpra lir cêmêthi-ning jagad, banyusêgara munggah daratan, daratan karoban toya darat, lindu sêdina kaping pitu, lêmah longsor lêmah padha mlaku. Gunung-gunung samya njêbluk, sawusé Sinabung lan Marapi ing tlatah kulon, Kelud ing wetan, banjur Mêrapi ing tlatah têngah, sanalika kairing panjêbluking 127 ardi gêni ing saindênging Nuswantara. Dénya samya diéling kalawan waspadha karêbèn lolos lulus sak sêla-sêlané waja garu. Sing jêjêg anggoné padha mlaku murih atêmahan wilujêng rahayu kang tinêmu, bandha lan bêgja kang têka. Jaya-jaya wijayanti. Kalis ing rubéda nir ing sambékala. Muriha bisa hanggayuh urip kang MONCÈR ing warsa moncèr iki.

Jika dikatakan prahara dan bencana tidaklah tepat. Jika dikatakan anugrah, belum tentu. Semua tergantung kepada diri kita masing-masing. Apakah mampu merubah musibah menjadi berkah ? Bagaimana cara kita merubah musibah dan bencana menjadi berkah dan anugrah ? Silahkan simak coretan berikut ini.

Read the rest of this entry

Kupu Kuning Pembawa Berita

PANCAROBA

???????????????????????????????Hamparan Indonesia atau Nusantara yang terdiri sebagian besar lautan dan sebagian lagi daratan dengan corak iklim tropis. Terdiri dua musim yakni kemarau dan musim penghujan. Masa peralihan musim di antara dua musim itu dikenal dengan pancaroba. Pada saat masa pancaroba terjadi, dapat dirasakan adanya perubahan cuaca alam secara ektrim yang terjadi setiap hari. Pada masa peralihan dari musim kemarau memasuki musim penghujan perubahan cuaca dirasakan lebih ekstrim. Terasa hawa sangat panas menyengat terasa membakar kulit dan udara terasa begitu kering. Debu-debu beterbangan sesekali disapu oleh hembusan angin. Pada masa peralihan dari musim penghujan menuju musim kemarau, perubahan cuaca juga dapat dirasakan. Namun tidak se-ekstrim peralihan musim penghujan menuju kemarau. Di situlah letak perbedaan yang dapat dirasakan.

Read the rest of this entry

Gunung & Kekuatan Supra

DSC06548

Sing sapa wae menawa tansah memetri paugeran, bakal terwaca, permana lan waskitha, temah suket godhong dadi rewang, ati sumeleh, seger bregas kuwarasan, ati bungah sumringah, cukup bondo dunya, sugih ngelmu lan wicaksana, wilujeng karahayon, ayem tentrem kerta raharja, idu geni yen paring dunga pengestu mesthi manjur lan temomo.

Kaitan Antara Karakter Alam dan Karakter Masyarakat

Nusantara tempat kita hidup ini merupakan teritorial yang memiliki keistimewaan luar biasa. Kekayaan alamnya, yang terkandung dalam bumi mulai dari kesuburan tanah, keragaman flora dan fauna, kontur tanah, struktur geologi, kualitas geodesi, dan kekayaan maritimnya. Terlebih lagi bila kita sejenak menoleh ke belakang, memahami dan melihat secara obyektif kondisi bumi pertiwi pada masa lalu. Bukan sekedar konon, namun jejak-jekan  kehebatan bumi pertiwi yang masih tersisa bisa kita lihat hingga sekarang ini.

Nusantara secara geologis merupakan “ring of fire” terdiri dari barisan bukit berderet dari wilayah Sabang sampai Merauke. Di antara barisan bukit-bukit itu terdapat ratusan gunung berapi aktif dan non-aktif. Gunung purba maupun yang baru lahir menunjukkan regenerasi dan dinamika alam yang luar biasa. Banyak pula deretan gunung api purba yang sampai sekarang masih aktif misalnya gunung Merapi di sebelah utara wilayah Jogjakarta. Ratusan gunung berapi itu masing-masing mempunya karakteristik dan pola letusan yang berbeda-beda, serta masing-masing memiliki kontur perbukitan yang berbeda-beda pula. Kondisi fisik alamiah itu menimbulkan cirikhas karakter penduduk Nusantara. Sedangkan perbedaan masing-masing wilayah Nusantara melahirkan beragam karakter sosial budaya berupa sub-kultur pada masyarakat yang ada di sekitar gunung maupun yang ada di wilayah daratan rendah. Read the rest of this entry

Kisah Pohon Beringin Roboh, Kembali Berdiri !

Lingkungan alam yang ada di sekitar kehidupan kita adalah guru yang paling jujur, selagi kita semua dengan jujur mengakuinya. Belajar dari kutulusan dan kejujuran nurani, agar supaya imajinasi dan ilusi tidak menguasai alam pikiran kita.

BERGURU KEPADA ALAM
Peristiwa robohnya pohon beringin berdiameter ±100-150 cm tidak menggemparkan warga dusun Celapar, Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Kokap, Kab Kulonprogo. Namun enam bulan kemudian barulah warga dibuat gempar manakala menyaksikan pohon beringin raksasa itu kembali berdiri tegak seperti sedia kala. Pada awalnya warga menyayangkan tumbangnya pohon itu karena di bawahnya terdapat sendang yang menjadi sumber mata air bagi warga desa di sekitarnya. Semenjak pohon beringin yang berdiri kokoh di samping sendang itu tumbang membuat air sendang menjadi surut dan hampir mengering. Sebelumnya air sendang itu tidak pernah surut walaupun melewati musim kemarau yang panjang.

Ketika pohon itu roboh warga belum sempat memotong akar dan ranting sementara sebagian besar batang dan dahan posisinya melintang di tengah jalan pengubung antar kelurahan. Kurang lebih selama 6 bulan pohon beringin itu tumbang dengan posisi masih melintang menutupi jalan aspal desa. Adalah Pak Mugi berdua bersama seorang anak laki-lakinya melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan beringin agar jalan desa itu bisa dilalui lagi. Pagi hari Pak Mugi dan putranya mulai melanjutkan pekerjaan yang sudah tertunda enam bulan. Mereka di pagi tidak melihat kejanggalan apapun, semua tampak wajar-wajar saja. Beranjak siang mereka mulai curiga mendapati batang pohon beringin yang semula rapat menempel ke permukaan jalan posisinya sudah mengambang setinggi lebih kurang 60 cm dari permukaan jalan. Pak Mugi akhirnya tidak menghiraukan kejanggalan itu dan mulai memotong batang pohon di bagian tengah menjadi dua bagian. Pekerjaan berlangsung hingga hari menjelang siang. Di tengah hari yang panas itu Pak Mugi sejenak beristirahat sambil menikmati teh panas dan makanan khas desa yang suguhkan penduduk setempat. Ia beristirahat tepat di rumah penduduk yang posisinya di atas jalan. Saat sedang menenggak teh ginastel itulah Pak Mugi menyaksikan pohon beringin mulai bergerak-gerak. Pak Mugi berteriak menyuruh anaknya yang berada di atas batang beringin supaya melompat turun. Spontan putra Pak Mugi melompat dan meninggalkan gergajinya di atas batang pohon. Pak Mugi terkesima melihat putranya melompat ke tanah hingga berguling. Hanya sekejap, pak Mugi menyaksikan pohon beringin itu posisinya sudah berdiri tegap seperti sedia kala. Bahkan akar yang tercerabut dari tanah, yang telah dipotong separoh ikut menancap ke tanah, kembali tegap berdiri kesannya pohon beringin itu tidak pernah tumbang hingga menyentuh tanah. Semenjak kejadian itu hanya beberapa pekan kemudian air sendang pun keluar lagi memenuhi sendang yang sudah lama surut.

Pohon beringin sudah berdiri lagi dalam posisi tegak vertikal. Hanya saja bagian atas yang terdiri dari dahan, ranting dan dedaunan sudah tidak tampak lagi karena batangnya tinggal separoh ke bawah. Seorang warga desa coba membuat asumsi untuk menerangkan kenapa pohon beringin dapat berdiri lagi setelah 6 bulan yang lalu tumbang. Ia mengasumsikan beban pada bagian atas pohon beringin setelah dipotong mengakibatkan bebannya pindah ke bagian akar bohon. Karena beringin itu masih memiliki akar yang kuat menancap di dalam tanah, sehingga akarnya kembali masuk ke tanah dan sampai menarik batang pohon hingga dalam posisi berdiri tegak. Asumsi tersebut mengimajinasikan akar pohon beringin itu bergerak seperti cacing menyusup kembali ke kedalaman tanah. Akar yang besar memiliki kekuatan besar pula sehingga mampu membuat batang pohon yang beratnya mencapai beberapa ton dapat kembali tegak seperti sedia kala. Sebagai asumsi sah-sah saja karena bagaimanapun juga untuk menjelaskan fenomena itu butuh suatu premis yang menggunakan nalar dan akal sehat. Namun bagaimana bisa terjadi bila akarnya sebagian besar sudah dipangkas? Read the rest of this entry

Air Mata Berlian ?

Kini memang sudah saatnya, penduduk bumi, khususnya bangsa Indonesia menyaksikan berbagai fenomena dan peristiwa yang dianggap aneh karena faktor kelangkaannya, juga karena keterbatasan sistem penalarnya untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Jujur saja, masyarakat kita terbiasa dengan kepasarahan total kepada tuhan. Segala sesuatu serta merta akan selesai dibahas dan dicari jawaban solusinya hanya dengan kalimat sederhana,”…..semua itu sudah menjadi kehendak dan bukti atas kebesaran Tuhan”. Di satu sisi kalimat itu memang ada efek positifnya manakala menghadapi situasi dan kondisi yang sangat berat. Namun di sini lain menimbulkan implikasi negatif. Yakni nalar dan pola pikir kita dibiasakan untuk tidak kreatif dan kritis menganalisa setiap peristiwa dan fenomena. Kita isadari atau tidak kalimat sederhana dan klise itu sangat berpotensi untuk mengkonstruksi kebodohan umat manusia.

Sebut saja misalnya, peristiwa AIR MATA BERLIAN yang terjadi pada seorang gadis asal Sumedang. Di mana matanya sudah mengeluarkan lebih dari seratus berlian antara 1/4 hingga 1/2 karat berwarna putih bening, kristal, bahkan beberapa di antaranya berwarna kebiruan, kehijauan dan merah muda transparan. Gadis itu sempat berkisah kepada salah satu tv swasta bahwa neneknya lah yang memberi berlian. Keterangan itu dia dapatkan melalui mimpi yang terjadi sebelum peristiwa itu terjadi.

Tujuan saya menulis di sini, tidak lain untuk menanggapi keterangan tersebut. Karena beberapa pihak masih penasaran dengan peristiwa yang terjadi pada gadis asal Sumedang itu. Tak perlu kagetan dan gumunan. Bisa pula dari peristiwa itu menjadikan pelajaran buat kita semua, jika memang benar dihadiri neneknya dalam mimpi, hal itu bisa menegaskan bahwa leluhur masih dapat melakukan banyak hal untuk berinteraksi dengan anak turunnya yang masih hidup dengan raganya di dimensi bumi. Dan peristiwa semacam ini sangatlah biasa dan wajar dialami banyak orang. Tentu saja leluhur yang mampu melakukannya termasuk leluhur yang sewaktu hidupnya mempunyai prestasi cukup bagus yakni hidupnya berguna untuk banyak orang, bahkan untuk makhluk lainnya seperti binatang, tumbuhan dan lingkungan alam. Dengan kata lain, orang-orang yang mampu memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk, welas asih dan sangat berhati-hati dalam berucap dan bertindak agar supaya tidak menyakiti hati orang lain. Lantas dari mana berlian itu berasal. Seeprti yang saya garisbawahi, berlian itu tidak lain adalah milik neneknya ata leluhurnya sendiri. Karena leluhur dapat menyimpan benda-benda berharga seperti benda pusaka, emas dan berlian, dengan tujuan kelak akan diwariskan atau diturunkan kepada anak cucu keturunannya yang terpilih dan pinilih. Maka tidaklah mengherankan jika di antara para Pembaca yang budiman pernah mengalami peristiwa yang hampir sama, dengan tulisan ini saya berharap dapat menambah luas wawasan dan pemahaman. Dengan suatu harapan kita semua jangan pernah mensia-siakan warisan benda-benda berharga (pusaka) dari para leluhur kita, termasuk bumi pertiwi, lingkungan alam, dan nusantara tercinta tempat di mana kita menyandarkan hidup.

Leluhur memiliki beragam cara untuk mewariskan benda-benda pusaka dan harta benda berharga yang diwariskan kepada anak cucu keturunannya. Ada yang melalui mimpi dituntun menemukan suatu tempat di mana benda itu disimpan. Ada pula yang diberikan secara langsung melalui media yang bersifat senyawa misalnya diberikan berlian melalui air mata, keris melalui tanah, kedigjayaan melalui air dan angin, kewaskitaan batin melalui getaran rasa, obat-obatan melalui tumbuhan, dan berbagai unsur bumi. Dari pemahaman yang tepat akan segala macam peristiwa dan fenomena alam itulah kita dapat benar-benar memahami keagungan Sang Jagadnata. Salam sih katresnan untuk seluruh pembaca yang budiman, dimanapun berada, apapun suku dan keyakinannya.

By Sabdalangit

sketsa : oil painting by sabdalangit

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 909 pengikut lainnya.