Tulisan dari ‘BAHASA ALAM (SASTRA JENDRA)’ Kategori

Kisah Pohon Beringin Roboh, Kembali Berdiri !

Lingkungan alam yang ada di sekitar kehidupan kita adalah guru yang paling jujur, selagi kita semua dengan jujur mengakuinya. Belajar dari kutulusan dan kejujuran nurani, agar supaya imajinasi dan ilusi tidak menguasai alam pikiran kita.

BERGURU KEPADA ALAM
Peristiwa robohnya pohon beringin berdiameter ±100-150 cm tidak menggemparkan warga dusun Celapar, Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Kokap, Kab Kulonprogo. Namun enam bulan kemudian barulah warga dibuat gempar manakala menyaksikan pohon beringin raksasa itu kembali berdiri tegak seperti sedia kala. Pada awalnya warga menyayangkan tumbangnya pohon itu karena di bawahnya terdapat sendang yang menjadi sumber mata air bagi warga desa di sekitarnya. Semenjak pohon beringin yang berdiri kokoh di samping sendang itu tumbang membuat air sendang menjadi surut dan hampir mengering. Sebelumnya air sendang itu tidak pernah surut walaupun melewati musim kemarau yang panjang.

Ketika pohon itu roboh warga belum sempat memotong akar dan ranting sementara sebagian besar batang dan dahan posisinya melintang di tengah jalan pengubung antar kelurahan. Kurang lebih selama 6 bulan pohon beringin itu tumbang dengan posisi masih melintang menutupi jalan aspal desa. Adalah Pak Mugi berdua bersama seorang anak laki-lakinya melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan beringin agar jalan desa itu bisa dilalui lagi. Pagi hari Pak Mugi dan putranya mulai melanjutkan pekerjaan yang sudah tertunda enam bulan. Mereka di pagi tidak melihat kejanggalan apapun, semua tampak wajar-wajar saja. Beranjak siang mereka mulai curiga mendapati batang pohon beringin yang semula rapat menempel ke permukaan jalan posisinya sudah mengambang setinggi lebih kurang 60 cm dari permukaan jalan. Pak Mugi akhirnya tidak menghiraukan kejanggalan itu dan mulai memotong batang pohon di bagian tengah menjadi dua bagian. Pekerjaan berlangsung hingga hari menjelang siang. Di tengah hari yang panas itu Pak Mugi sejenak beristirahat sambil menikmati teh panas dan makanan khas desa yang suguhkan penduduk setempat. Ia beristirahat tepat di rumah penduduk yang posisinya di atas jalan. Saat sedang menenggak teh ginastel itulah Pak Mugi menyaksikan pohon beringin mulai bergerak-gerak. Pak Mugi berteriak menyuruh anaknya yang berada di atas batang beringin supaya melompat turun. Spontan putra Pak Mugi melompat dan meninggalkan gergajinya di atas batang pohon. Pak Mugi terkesima melihat putranya melompat ke tanah hingga berguling. Hanya sekejap, pak Mugi menyaksikan pohon beringin itu posisinya sudah berdiri tegap seperti sedia kala. Bahkan akar yang tercerabut dari tanah, yang telah dipotong separoh ikut menancap ke tanah, kembali tegap berdiri kesannya pohon beringin itu tidak pernah tumbang hingga menyentuh tanah. Semenjak kejadian itu hanya beberapa pekan kemudian air sendang pun keluar lagi memenuhi sendang yang sudah lama surut.

Pohon beringin sudah berdiri lagi dalam posisi tegak vertikal. Hanya saja bagian atas yang terdiri dari dahan, ranting dan dedaunan sudah tidak tampak lagi karena batangnya tinggal separoh ke bawah. Seorang warga desa coba membuat asumsi untuk menerangkan kenapa pohon beringin dapat berdiri lagi setelah 6 bulan yang lalu tumbang. Ia mengasumsikan beban pada bagian atas pohon beringin setelah dipotong mengakibatkan bebannya pindah ke bagian akar bohon. Karena beringin itu masih memiliki akar yang kuat menancap di dalam tanah, sehingga akarnya kembali masuk ke tanah dan sampai menarik batang pohon hingga dalam posisi berdiri tegak. Asumsi tersebut mengimajinasikan akar pohon beringin itu bergerak seperti cacing menyusup kembali ke kedalaman tanah. Akar yang besar memiliki kekuatan besar pula sehingga mampu membuat batang pohon yang beratnya mencapai beberapa ton dapat kembali tegak seperti sedia kala. Sebagai asumsi sah-sah saja karena bagaimanapun juga untuk menjelaskan fenomena itu butuh suatu premis yang menggunakan nalar dan akal sehat. Namun bagaimana bisa terjadi bila akarnya sebagian besar sudah dipangkas? Read more…

Air Mata Berlian ?

Kini memang sudah saatnya, penduduk bumi, khususnya bangsa Indonesia menyaksikan berbagai fenomena dan peristiwa yang dianggap aneh karena faktor kelangkaannya, juga karena keterbatasan sistem penalarnya untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Jujur saja, masyarakat kita terbiasa dengan kepasarahan total kepada tuhan. Segala sesuatu serta merta akan selesai dibahas dan dicari jawaban solusinya hanya dengan kalimat sederhana,”…..semua itu sudah menjadi kehendak dan bukti atas kebesaran Tuhan”. Di satu sisi kalimat itu memang ada efek positifnya manakala menghadapi situasi dan kondisi yang sangat berat. Namun di sini lain menimbulkan implikasi negatif. Yakni nalar dan pola pikir kita dibiasakan untuk tidak kreatif dan kritis menganalisa setiap peristiwa dan fenomena. Kita isadari atau tidak kalimat sederhana dan klise itu sangat berpotensi untuk mengkonstruksi kebodohan umat manusia.

Sebut saja misalnya, peristiwa AIR MATA BERLIAN yang terjadi pada seorang gadis asal Sumedang. Di mana matanya sudah mengeluarkan lebih dari seratus berlian antara 1/4 hingga 1/2 karat berwarna putih bening, kristal, bahkan beberapa di antaranya berwarna kebiruan, kehijauan dan merah muda transparan. Gadis itu sempat berkisah kepada salah satu tv swasta bahwa neneknya lah yang memberi berlian. Keterangan itu dia dapatkan melalui mimpi yang terjadi sebelum peristiwa itu terjadi.

Tujuan saya menulis di sini, tidak lain untuk menanggapi keterangan tersebut. Karena beberapa pihak masih penasaran dengan peristiwa yang terjadi pada gadis asal Sumedang itu. Tak perlu kagetan dan gumunan. Bisa pula dari peristiwa itu menjadikan pelajaran buat kita semua, jika memang benar dihadiri neneknya dalam mimpi, hal itu bisa menegaskan bahwa leluhur masih dapat melakukan banyak hal untuk berinteraksi dengan anak turunnya yang masih hidup dengan raganya di dimensi bumi. Dan peristiwa semacam ini sangatlah biasa dan wajar dialami banyak orang. Tentu saja leluhur yang mampu melakukannya termasuk leluhur yang sewaktu hidupnya mempunyai prestasi cukup bagus yakni hidupnya berguna untuk banyak orang, bahkan untuk makhluk lainnya seperti binatang, tumbuhan dan lingkungan alam. Dengan kata lain, orang-orang yang mampu memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk, welas asih dan sangat berhati-hati dalam berucap dan bertindak agar supaya tidak menyakiti hati orang lain. Lantas dari mana berlian itu berasal. Seeprti yang saya garisbawahi, berlian itu tidak lain adalah milik neneknya ata leluhurnya sendiri. Karena leluhur dapat menyimpan benda-benda berharga seperti benda pusaka, emas dan berlian, dengan tujuan kelak akan diwariskan atau diturunkan kepada anak cucu keturunannya yang terpilih dan pinilih. Maka tidaklah mengherankan jika di antara para Pembaca yang budiman pernah mengalami peristiwa yang hampir sama, dengan tulisan ini saya berharap dapat menambah luas wawasan dan pemahaman. Dengan suatu harapan kita semua jangan pernah mensia-siakan warisan benda-benda berharga (pusaka) dari para leluhur kita, termasuk bumi pertiwi, lingkungan alam, dan nusantara tercinta tempat di mana kita menyandarkan hidup.

Leluhur memiliki beragam cara untuk mewariskan benda-benda pusaka dan harta benda berharga yang diwariskan kepada anak cucu keturunannya. Ada yang melalui mimpi dituntun menemukan suatu tempat di mana benda itu disimpan. Ada pula yang diberikan secara langsung melalui media yang bersifat senyawa misalnya diberikan berlian melalui air mata, keris melalui tanah, kedigjayaan melalui air dan angin, kewaskitaan batin melalui getaran rasa, obat-obatan melalui tumbuhan, dan berbagai unsur bumi. Dari pemahaman yang tepat akan segala macam peristiwa dan fenomena alam itulah kita dapat benar-benar memahami keagungan Sang Jagadnata. Salam sih katresnan untuk seluruh pembaca yang budiman, dimanapun berada, apapun suku dan keyakinannya.

By Sabdalangit

sketsa : oil painting by sabdalangit

Ragam Kayu Bertuah

Pohon Nogosari

RAGAM KAYU BERTUAH

Tidaklah bijak apabila benda bertuah dengan serta merta diartikan sebagai benda yang dihuni makhluk halus. Sebagian masyarakat kita memang memiliki pemahaman demikian. Hal yang perlu dliuruskan dengan menjawab pertanyaan,”dari manakah asal muasal kekuatan yang ada di balik benda bertuah ? Secara awam kita bisa saja menjawab sumber kekuatan itu dari tuhan. Namun jawaban demikian tentunya sangat klise apalagi bagi siapapun yang selalu menjunjung tinggi tradisi ilmiah. Wajar lah kiranya, karena kita memilikii otak dengan kapasitas lebih besar agar dapat berguna untuk berfikir ilmiah dan bijaksana.

ASAL KEKUATAN BENDA BERTUAH

Benda bertuah khususnya ragam kayu bertuah, biasanya kuantitasnya sangat terbatas. Sesuai dengan hukum keseimbangan alam, semakin tinggi kualitas makhluk, sebaliknha kuantitasnya semakin kecil. Seperti halnya binatang buas semakin buas jenis binatang, semakin kecil pula kuantitasnya. Walau tampak kontradiktif, hal itu sebenarnya merupakan mekanisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup kayu atau binatang itu sendiri maupun kayu dan binatang lainnya. Misalnya jika jumlah harimau melebihi jumlah hewan yang menjadi pakannya, maka lama-kelamaan akan banyak harimau yang mati kelaparan dan bisa mengakibatkan kepunahan. Demikian pula misalnya pohon beringin, semakin banyak pohon beringin tumbuh di suatu tempat justru akan membuat kepunahan pepohonan lainnya karena pakan dan energinya mendominasi tumbuhan lainnya. Kepunahannya bisa diakibatkan oleh evolusi alam maupun ulah manusia. Namun lebih sering ulah manusia lah yang menyebabkan jenis-jenis tumbuhan dan binatang menjadi punah. Oleh sebab itu pemanfaatan kayu yang sulit dibudidaya atau rentan tejadi kepunahan harus patuh kepada hukum keseimbangan alam. Pada bagian akhir akan saya jelaskan mengenai hal ini.

Setiap jenis kayu memiliki karakter serat dan sel kayu yang berbeda-beda. Membuat sifat masing-masing jenis kayu juga berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi pula oleh karakter iklim dan geologi di mana jenis kayu tersebut dapat tumbuh dengan kualitas paling baik. Sehingga setiap jenis kayu memiliki kegunaan, khasiat, kelebihan, maupun terdapat kekurangan yang berbeda-beda pula. Sedikit telah saya singgung di atas soal faktor yang mempengaruhi dayaguna, sifat, karakter dan kekurangan setiap jenis kayu. Namun semua itu masih dalam dimensi fisik. Selanjutnya dalam dimensi metafisik atau sesuatu yang ada di balik benda fisik, yakni dari mana asal-muasal adanya tuah atau daya kekuatan dari berbagai jenis kayu ? Berikut faktor-faktor yang dapat saya identifikasikan, paling tidak berguna untuk memberikan penjelasan dari sudut pandang ilmiah.

Faktor Usia : Berpulang pada rumus bumi bahwa energi bersifat abadi (selama bumi masih eksis), kehilangan energi hanyalah karena adanya perpindahan materi energi ke obyek dan mungkin dimensi lainnya saja. Sebaliknya segala macam benda fisik tidak bersifat abadi, melainkan mengalami kerusakan dan kehancuran. Ada jenis benda yang cepat rusak dan ada pula yang berusia sangat lama hingga memakan waktu jutaan bahkan milyaran tahun. Benda-benda seperti kaca butuh waktu antara 100 hingga 1000 tahun lebih untuk membusuk hingga dikatakan tidak bisa membusuk. Demikian pula makhluk hidup ada yang berumur sangat pendek hingga berumur ribuan tahun, termasuk di dalamnya ragam jenis tetumbuhan. Apapun benda dan tumbuhan yang ada di planet bumi ini, bersifat menyerap dan memancarkan energi. Penyerapan energi sebagai in-put dan pemancaran energi sebagai out-put. Antara in-put dan out-put menjadi mekanisme yang selaras dan seimbang. Terkurasnya energi hingga terasa lemah dan lemas merupakan peristiwa ketidakseimbangan antara in-put dengan out-put energi ke dalam tubuh atau tumbuhan. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor di antaranya penyakit yang menimbulkan gangguan metabolisme dan gangguan asupan makanan sebagai sumber energi. Secara umum suatu benda hidup selalu surplus dalam mekanisme in-put dan out-put energi. Pada tumbuhan, kelebihan energi akan disimpan dan menyatu dengan batang terutama pada inti batang (Jawa: galih) pohon yang biasanya berwarna lebih tua dan terletak di lingkaran paling dalam batang pohon. Bagian luar kayu terlebih bagian kulit terdiri dari sel-sel muda, sementara itu bagian dalam merupakan pemadatan dari sel-sel yang lebih tua. Semakin tua umur pohon, semakin besar lingkaran galih pohon. Semakin besar pula mengakumulasi energi alam. Akumulasi energi inilah yang mempengaruhi besar-kecilnya tuah suatu pohon.

Faktor Karakter Sel. Selain faktor usia, kayu bertuah disebabkan oleh unsur yang terkandung dalam zat serta sifat-sifat sel pohon. Spesifikasi unsur zat dan sifat suatu pohon akan menentukan dari mana asal unsur energi yang diserapnya. Misalnya pohon yang banyak menyerap energi tanah, akan menjadikan pohon tersebut dapat berfungsi sebagai ground atau bermanfaat sebagai penetralisir daya listrik positif. Peristiwa ini terjadi misalnya pada pohon Nagasari. Hal yang sama terjadi pada ragam jenis bebatuan alam. Sehingga kita dapat memahami bagaimana batu akik dapat memiliki energi yang spesifik dan mempunyai khasiat yang khusus pula.

Faktor Lokasi. Pada jenis pohon yang sama, tetapi tumbuh di lokasi yang berbeda akan dapat menentukan pula perbedaan serapan energi. Hal itu menentukan besar kecilnya khasiat atau daya kekuatan kayu walaupun ia masih dalam satu jenis. Bereda lokasi alam tentu berbeda pula pusaran energinya. Lokasi alam yang lebih besar memancarkan energi memungkinkan untuk menambah besarnya energi yang terserap pohon yang tumbuh di tempat itu.

Faktor Spesifik. Faktor ini lebih sulit diidentifikasi karena untuk pembuktian juga jauh lebih sulit. Yakni karakter pohon yang banyak menyerap energi alam dan mampu mengikat energi itu dalam waktu yang tidak diketahui batas waktunya atau relatif permanen. Bahkan pohon yang sudah ditebang pun kayunya masih mampu menyerap energi alam. Karakternya hampir menyerupai batu alam hanya bedanya benda ini pernah tumbuh dan hidup dalam waktu yang panjang.

Dapat disimpulkan bahwa kayu yang memenuhi keempat faktor di atas, yakni berasal dari pohon yang banyak menyerap energi alam, yang tumbuh di lokasi alam berenergi besar dan berusia sangat tua, tetapi mampu mengikat energi relatif permanen. Akan menjadikannya kayu yang berkhasiat super istimewa atau kayu sangat bertuah, powerfull. Bagi seseorang yang kurang memahami hakekat alam, bisa saja dengan gegabah menyimpulkan kayu tersebut dihuni oleh jin atau makhluk halus. Ini pendapat yang konyil sekali. Biasanya pendapat demikian dari orang yang justru tidak ada kemampuan melihat dan mendeteksi secara metafisis sebuah kayu. Yang lebih parah pendapat gegabah tersebut diikuti oleh seseroang yang kemudian dijadikannya sebagai sarana propaganda agama untuk mendiskreditkan orang lain. Dari berbagai uraian di atas adalah berbagai ragam jenis kayu bertuah yang berasal dari tanah Nusantara ini. Di antaranya berikut ini ;

Read more…

INDIKATOR INTERAKSI dengan SUPERNATURAL BEING

 Supernatural, magical, occult, magic, invisible, hidden, mysterious, mystical, uncanny, mystic, fairy, inscrutable, faerie, fey, preternatural, orphic, cryptic, superlunary, fairytale, astral.

Supernatural being, dapat saya artikan secara lazim sebagai ke-ada-an yang bersifat non-alami, tidak bersifat fisik. Sementara yang lain menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, misteri, penuh teka-teki, tidak dapat diselidiki, atau tidak dapat dipahami. Benarkah supernatural being tidak dapat dijelaskan secara ilmiah ? Dalam konteks ini apakah gaib itu nyata ?

Barangkali jawaban yang saya berikan terkesan unik, aneh dan berbeda dari kebiasaan umum.  Nyata atau tidak nyata tergantung siapa yang menjawabnya. Jika jawaban keluar dari seseorang yang mempunyai kemampuan indigo, atau orang-orang yang sering mengalami interaksi dengan mahluk halus dan berbagai hal gaib, atau orang yang indera penglihatannya sering menangkap obyek metafisik (supernatural being), tentu gaib tidak lagi bersifat invisible, maupun inscrutable.  Sebaliknya menjadi tampak nyata, maka boleh-boleh saja disebut sebagai kasunyatan atau kenyataan. Lain halnya bagi seseorang yang samasekali tidak pernah melihat gaib, apalagi menyangkal terhadap sesuatu yang gaib, tentu saja gaib menjadi sesuatu yang sama sekali tidak nyata (preternatural).

Dapat dimaklumi, harapan untuk dapat MELIHAT atau menyaksikan “kasunyatan” gaib bukanlah hal mudah. Meskipun demikian bukan berarti bahwa seseorang lantas samasekali tidak pernah berinteraksi dengan supernatural being. Untuk itu setidaknya perlu dipahami beberapa faktor berikut : Read more…

SELUK BELUK HUKUM KARMA

             Para pembaca yang budiman, tulisan ini merupakan rangkuman dari rangkaian pengalaman lahir maupun batin. Serta hasil asah asih asuh dalam setiap kesempatan diskusi di berbagai acara, misalnya kumpul-kumpul bersama di manapun berada. Perdebatan tentang hukum karma sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Antara yang mempercayainya ada, yang meragukannya, yang belum paham samasekali, maupun yang tidak mempercayai. Sebelum melanjutkan tulisan berikut, seyogyanya kita berusaha memahami terlebih dahulu apa itu hukum karma. Dari berbagai keterangan yang ada, setidaknya dapat disimpulkan bahwa hukum karma atau karma sepadan dengan apa yang di maksud hukum timbal balik. Dalam falsafah Jawa senada pula dengan apa yang dimaksud hukum sebab akibat. Dalam literatur Barat, dikenal dengan istilah hukum kausalitas. Apakah hukum karma yang sedemikian menghebohkan dunia spiritual, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi ini kemudian layak dianggap tidak ada sama sekali ? Saya tidak ingin tergesa dalam menjawab pertanyaan tersebut, sebelum saya pribadi dapat membuktikannya sendiri, baik secara langsung, tak langsung, secara logika maupun pengalaman lahir dan batin.

Secara sederhana hukum karma atau sebab akibat dapat dipahami dengan logika sederhana pula. Sebagaimana dalam rumus yang mempunyai dalil “ada asap, berarti ada api”. Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan “ada akibat, tentu ada penyebabnya pula”.  Yang jelas di dalam hukum karma terdapat pola hubungan erat antara penyebab dan akibatnya. Rumus ini dapat diterapkan untuk memahami setiap kejadian atau peristiwa dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan demikian, hukum karma dapat didefinisikan sebagai hubungan sebab-akibat atas perbuatan yang pernah kita lakukan (sebagai sebab) dan apa yang akan kita alami kemudian (sebagai akibatnya). Dengan demikian di dalam hukum karma terdapat pola hubungan yang bersifat positif atau baik, maupun negatif atau buruk. Hukum karma yang memiliki pola sederhana akan mudah dibaca, misalnya setelah kita berbuat jahat atau membuat masalah, selanjutnya kita akan tertimpa masalah atau balik dijahati orang lainnya. Misalnya, kita melakukan penganiayaan terhadap seseorang, maka akibatnya kita akan dimusuhi keluarganya, teman-teman dari seorang yang dianiaya tadi. Bahkan kelak anak turun seseorang yang dianiaya akan memusuhi anak turun kita sendiri.  Sebaliknya, setelah kita berbuat kebaikan, selanjutnya kita akan menerima kebaikan pula.  Kita menolong seseorang, maka ia atau keluarga yang kita tolong suatu waktu ingin gantian menolong kita di saat kita mendapat kesulitan. Bahkan anak turun yang kita tolong akan mengenang kebaikan yang pernah kita lakukan, dan ingin sekali mereka membalas budi-kebaik kita di waktu selanjutnya. Pola hubungan dalam hukum  karma atau hukum sebab-akibat dapat kita uji coba pula keberadaannya. Misalnya, para pembaca yang budiman gemar sekali membantu dan menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Maka, Anda akan selalu mendapat kemudahan dalam setiap urusan. Sekalipun pernah terpentok saat-saat di mana Anda merasa tidak ada lagi jalan keluar, di saat Anda betul-betul sedang dalam keadaan yang sangat genting dan darurat  pada akhirnya datang lah “the last minute man” atau “dewa penolong”. Jika anda mereview perjalanan hidup anda ke belakang, disadari atau tidak Anda pernah  berperan menjadi “the last minute man” atau berperan sebagai “dewa penolong” disaat seseorang sedang dalam keputus-asaan.

“MISSING LINK” dalam KARMA

Dibutuhkan kecermatan dalam membaca “benang” yang menghubungkan antara suatu kejadian (sebagai akibat) dari kejadian sebelumnya (penyebab). Terkadang dalam hukum karma terdapat pola hubungan sebab-akibat yang sangat sulit dilacak bagaimana pola hubungan itu terjalin. Seolah tak ada hubungannya sama sekali. Sebagai contoh, seseorang tewas akibat bencana alam, misalnya diterjang gelombang tsunami. Jika tewasnya seseorang itu dikaitkan dengan hukum karma, tentu akan sulit sekali dilacak. Benarkah seseorang yang diterjang tsunami hingga tewas sedang menjalani karma? Jika tanpa pemahaman yang mendalam pada saat kita menelusuri pola-pola hubungan dalam hukum karma, kesimpulan yang mengkaitkan di antara dua kejadian tersebut (bencana alam dengan korban bencana) menjadi terasa janggal, seolah terlalu memaksakan diri menghubung-hubungkan dua hal yang tak ada hubungannya sama sekali. Seolah terdapat missing link, atau mata rantai hubungan sebab akibat yang terputus alias tak nyambung. Read more…

SECERCAH HARAPAN MERAPI

SECERCAH HARAPAN MERAPI

Hari ini (Jumat Legi tanggal 19 Nopember 2010) adalah hari ke 35 atau tepat selapan hari sejak  acara labuh ke Merapi pada Jumat legi tanggal 15 Oktober 2010. Kali ini kami kembali melaksanakan ritual agung multi etnis dan multi kepercayaan yang kami pusatkan di dua tempat, Pasarean Agung Agung Kotagede di mana sumare para ratugung binatara, paranata, putra wayah dan sahandap sentono dalem. Ki Ageng Pemanahan, Nyi Ageng Enis, Panembahan Senopati, Kanjeng Ratu Kalinyakmat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Sultan Hadiwijaya (Ki Jaka Tingkir),  Pangeran Jayaprana, Ki Juru Martani, Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Sinuhun Sampeyan nDalem Sri Sultan Hamengku Buwono II. Dan di Pasarean agung Imogiri di mana sumare sapanghandap sampeyan ndalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrawati, Kanjeng Ratu Batang, Gusti Hamangkurat Jawi, Sri Sultan HB III s/d IX, Sinuhun Kanjeng Sunan Pakubuwono I s/d IX dan masih banyak lagi.

Acara diikuti oleh sekitar 250 orang terdiri dari para abdi dalem Kraton Solo dan Jogja, juga masyarakat umum dari berbagai daerah. Dengan fokus tujuan yakni harapan dan upaya agar seluruh makhluk yang ada di bumi ini terutama di daerah-daerah rawan bencana di manapun berada, apapun suku dan agamanya di wilayah nusantara ini mendapatkan berkah keselamatan dan kesejahteraan jiwa-raganya, lair dan batinnya. Selain itu ada adalah harapan besar untuk kesuksesan suatu kepemimpinan di wilayah paling utara batas zona nusantara di mana pada zaman dahulu sebelum Masehi sebagai starting point cikal bakal lahirnya bangsa besar yang kini disebut bangsa Indonesia di kepulauan nusantara.

Malam itu sungguh istimewa, acara dipusatkan di dalam pelataran pasir pasarean agung Kotagede Panembahan Senopati dengan menggelar tikar dan ubo rampe sesajian lengkap juga gelar tumpeng nasi kuning komplit dan tumpeng nasi putih sebagai simbol penghormatan kepada leluhur di tlatah Kutai dan Mataram. Tak kurang nasi dus untuk semua peserta yang hadir. Acara dimulai pada jam 21.11 wib. Pranata adicara (mc) adalah abdi dalem pasarean wakil dari Solo segera membuka acara dengan sambutan singkat dan padat. Dalam membuka sambutan, berkali-kali MC megatakan “sugeng rawuh katuraken dumateng panjenenganipun Raden Mas Sabdopalon ingkang paring dawuh ngleksanaaken adicara malem tirakatan punika…” dan MC menyebut pula nama-nama para leluhur agung yang sumare di Pasarean Agung Kota Gedhe dan Imogiri. Banyak perserta tirakatan agak bingung kenapa MC menyebut Sabdopalon dari awal acara hingga penutup dan kenapa pula tidak ada yang meralatnya. Tampak beberapa peserta agak bingung dan menyangka MC telah melakukan kesalahan dalam menyebut nama. Tapi sebagian besar lainnya tampak tetap tenang seperti tak ada yang salah.

Sugeng Rawuh Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong

Beberapa di antara kami, rekan-rekan yang memiliki bakat bawaan lahir bisa melihat dan berinteraksi dengan titah gaib. Tak mengherankan jika malam itu banyak yang menyaksikan sebagai acara yang istimewa karena benar-benar dihadiri oleh banyak leluhur besar nusantara terutama yang sumare di dua pasarean agung tersebut. Read more…

MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI

MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI
Prediksi bukan untuk menakut-nakuti
Tetapi supaya kita lebih hati-hati

Anugerah Vulkanik

Terimakasih tak terhingga kepada Merapi. Ia telah menaburkan ratusan juta meter kubik pupuk organik super istimewa kualitas tinggi. Walau ulahmu membuat jutaan mata terpana ngeri. Namun ia sedang mengembalikan tanah Jawa supaya kembali menjadi gemah ripah loh jinawi. Setelah sekian lamanya cuaca, iklim, dan musim menjadi kacau balau, adalah harapan suatu hari nanti kembali menjadi negeri yang subur makmur indah tiada terperi. Merapi adalah anugerah vulkanik. Suatu bencana alam tidak akan menjadi musibah bilamana seluruh manusia selamat dari musibah. Bahkan di balik setiap musibah bencana, selalu disertai oleh berkah. Tergantung manusianya apakah mau merubah musibah menjadi berkah dan anugrah, ataukah tetap membiarkannya menjadi musibah yang berbuah derita ? Semua itu adalah pilihan manusia. Lihatlah gempa besar yang menghancurkan Bantul, Jogja, Klaten dan sekitarnya, kini telah berubah menjadi ANUGRAH TEKTONIK. Bantul menjadi daerah yang subur makmur, pembangunan begitu pesat, prasarana fisik fasilitas masyarakat seperti pasar, jalan raya, bagunan pemerintah semua tampak baru dan kokoh. Mayoritas rumah penduduk dalam kondisi baru dengan struktur bangunan yang memenuhi standar kelayakan. Tampak aktivitas ekonomi begitu bersemangat dan dinamis. Read more…

MISTERI DI BALIK MERAPI

Pada hari Rabu tanggal 13 Oktober 2010, YM Sultan Adji Sulaiman Raja Kutai Kertanegara ke 18 memerintah pada pertengahan abad 18, mengingatkan supaya segera melaksanakan perintah untuk ritual labuh ke puncak Gunung Merapi.  Tak boleh mundur lagi. Batas akhir yang ditentukan adalah hari Jumat Legi, tanggal 15 Oktober 2010. Secara logika, pada tanggal 13 Oktober 2010 saat itu status Gunung Merapi sudah berada pada status siaga (satu tingkat di atas status waspada, satu tingkat di bawah status tertinggi awas), tak ada orang yang bersedia naik ke Merapi jika tak ingin mati konyol. Namun apa boleh buat, sudah merupakan dawuh (perintah) dari para leluhur agung, saya percaya 100% leluhur, tak ada perintah leluhur yang membuat celaka diri kita. Gaib pun tak pernah bohong. YM Sultan Sulaiman berkata,”laksanakan segera nak, tidak baik menunda perintah, karena akan melawan kodrat, jika Merapi kelamaan menahan letusan akan sangat berbahaya!. Apa yang kamu lakukan bukan untuk kepentingan dirimu sendiri, melainkan untuk kepentingan orang banyak, bangsa ini di waktu yad. Sendiko dawuh Yang Mulia, siap laksanakan segera pada hari Jumat Legi besok, demi lahirnya Satriyo Pambukaning Gapura. Kasihan rakyat sudah banyak yang menjadi korban.

Tampilnya satriyo baru, tentu membawa konsekuensi turunnya “satriyo” lama “di tengah jalan”. Musti bagaimana lagi, jika seorang “satriyo” sudah tidak disengkuyung oleh para leluhur besar dan para gaib bangsa ini, karena tiada menghargai kearifan lokal, tidak menghargai pusaka nusantara. Itu sama saja tidak berbakti kepada bangsa dan para leluhur besarnya sendiri. Alias menjadi generasi yang durhaka. Tentu saja akan selalu membawa musibah dan bencana berkepanjangan tiada berhenti. Ibarat seseorang yang sakit parah, sembuhnya kalau sudah mati. Maka, musibah dan bencana baru akan reda jika sang satriyo lama itu telah lengser keprabon. Dengan penuh maaf. Apa adanya terpaksa harus saya sampaikan.

Jumat Legi sore, ditemani 2 orang abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kami naik ke puncak Merapi dalam cuaca hujan sangat lebat dan berkabut.  Benar saja, gunung paling aktif di dunia itu seolah memberikan jeda tidak bergolak. Walau masih terasa saat tanah bergetar  akibat gerakan magma dari dalam perut bumi. Kabar dari posko Merapi saat itu statusnya pun ternyata turun menjadi waspada. Gunung Merapi mirip dengan makhluk hidup, kali ini bagaikan anak kecil sedang merengek lalu tiba-tiba diam karena mendapat makanan kesukaannya. Selesai acara labuh, hingga Sabtu siang tanggal 16 Oktober tiba-tiba Merapi seperti mendapat komando, mulai bergolak lagi dengan 246 kali gempa vulkanik. Hari minggu statusnya naik kembali menjadi siaga, lalu seminggu kemudian statusnya naik menjadi awas. Perubahan status Merapi yang sangat cepat dan belum pernah terjadi selama ini. Read more…

Benarkah Manusia Bisa Mendahului Kehendak Tuhan ??

Sebuah Refleksi Menjelang Hari Kemerdekaan
Benarkah Manusia Bisa Mendahului Kehendak Tuhan ??
HATI-HATI MEMASUKI KWARTAL BENCANA!!

Kyai Slamet Nyai Slamet, Kyai Among Nyai Among…Mugya kita sedaya tansah pinaringan wilujeng, rahayu, slamet, slamet…saka karseng Gusti.

Kini telah memasuki bulan Agustus, tahun 2010. Hati terasa resah-gelisah, gundah-gulana, tak kuasa hati untuk tetap berdiam diri. Diam bukan lagi emas, melainkan sikap tega hati karena enggan bersaksi. Bila memberanikan diri untuk bertutur kata, resikonya bisa-bisa dihujat dan dilaknat orang yang menganggap diri aparat tuhan. Jika diri menjadi takut lalu memilih bersikap pengecut, hal itu hanya menjadikan diri tak ada guna hidup di bumi ini. Membiarkan banyak orang menghadapi resiko mati. Tutup mulut hanya karena alasan takut dihujat orang yang tak mengerti hidup sejati, apalah arti. Maka tak ada pilihan lagi kecuali menoreh untaian kalimat, siapa tahu bermanfaat untuk bisa dimengerti, apa gerangan yang akan terjadi di kemudian hari. Walau dicap sebagai tindakan mendahului kehendak tuhan, apalah arti, sebab anggapan itu lahir dari logika pikir bagi yang malas berfikir.

Masih ingat dalam beberapa artikel yang pernah saya upload setahun yang lalu, secara tersirat dan tersurat pernah saya singgung, ketika terbersit gambaran bahwa nusantara akan melewati puncak bencana di tahun 2009, yang terjadi pada bulan September. Dan menimpa wilayah Jawa Barat dan Sumatra Barat. Sempat saya dicemooh sodara yang ada di Sumbar, dituduh mendahului kehendak tuhan, dibilang pula bualan omong kosong. Namun ketika bencana “pembuka”  benar-benar terjadi pada hari Rabu tanggal 1 September peristiwa gempa besar di seputar Jawa Barat, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan bencana “penutup” terjadi pada hari Rabu (pula) tanggal 30 September 2009 di wilayah Sumatra Barat, lantas apa mau dikata ? Salahkah saya, ketika mata tak sengaja melihat tanda-tanda akan terjadi bencana ? Salahkan bila diri mengerti apa yang akan terjadi? Padahal saya tak pernah berharap bisa menangkap bahasa isyarat, tak pernah berharap-harap bisa mengerti apa yang akan terjadi. Semua hanyalah faktor kebetulan saja. Mata ini kebetulan menatap bahasa isyarat yang berlangsung tak lebih dari 5 menit saja. Masihkah saya bersalah mendahului kehendak tuhan ? Tuhan mana yang kehendaknya bisa didahului manusia ? Ataukah tuhan sengaja menampakkan tanda-tanda itu agar banyak manusia berbuat “dosa” karena mendahului kehendakNya? Jika demikian halnya, adalah Tuhan yang bertabiat aneh ! Read more…

Bahasa Isyarat pada Kucing

Bahasa Isyarat dari Tingkah Laku Kucing dan Warna Bulunya

Kucing, bukan berarti binatang keramat. Namun pada diri setiap makhluk. serta gerak-geriknya tentu saja memiliki tanda-tanda kekuasaan tuhan yang terangkum dalam bahasa alam. Berikut ini dapat menjadi contoh tentang warna bulu dan perilaku kucing. Boleh percaya boleh juga tidak. Anggap saja sebagai intermezo. Walaupun tidak selalu salah, sebab nenek moyang kita mempunyai kebiasaan melihat, mencermati, lalu menafsirkan berbagai gejala alam (ngelmu titen). Nenek moyang kita sangat percaya bahwa berbagai gejala alam mengandung pelajaran (hikmah) yang berharga di baliknya. Sesuatu yang tampak (fisik) menyimpan makna secara metafisik.

1. Jika memandang tanpa berkedip kkepada si majikan, yang memelihara akan memperoleh rejeki.
2. Jika duduk tidak bergerak di hadapan majikan, maka yang memelihara akan memperoleh anugrah. Read more…

BINATANG REINKARNASI

Jujur saja saya pribadi kesulitan membahas kenyataan yang ada dalam reinkarnasi. Beragai referensi tak cukup menjelaskan dengan gambalng. Karena saya saksikan sendiri betapa rumit dan tidak sesederhana yang dibayangkan apa yang terjadi di alam gaib. Paling tidak secara garis besar saya hanya mengetahui adanya dua jenis reinkarnasi yang saya sebut sebagai reinkarnasi positif dan negatif. Reinkarnasi positif sama halnya kejadian roh menitis atau titisan. Sedangkan reinkarnasi negatif merupakan kejadian di mana roh tak bisa masuk ke alam keabadian tetapi nyasar ke dalam tubuh binatang, pohon, dan benda-benda tak hidup. Tetapi masih nyangkut di alam fisik dimensi bumi yakni masuk ke dalam tubuh binatang, tumbuhan bahkan menjadi penghuni benda-benda tak hidup seperti batu, jembatan, waduk, dan rumah kosong dst menjadi ujud demit, hantu, jurik dan setan bekasakan. Namun jenis reinkarnasi ini  berbeda dengan jenis mahluk gaib semacam siluman, jin, dan masih banyak lagi. Karena jin, siluman dan lainnya lagi,  merupakan entitas asli (bukan berasal dari reinkarnasi roh manusia). Seperti halnya widodari merupakan entitas tersendiri sebagaimana kanjeng Ratu Kidul sebagai entitas dari bidadari, bukan berasal dari roh manusia. Namun demikian roh wanita yang mencapai tataran kamulyan sejati bisa saja “manjalmo” menjadi sejajar dengan widodari. Sungguh sangat kompleks gaib itu, tak perlu kita merasa sok tahu, sebab yang kita tahu pun tak seberapanya dari realitas gaib (noumena) yang ada. Pengetahuan dimensi kesejatian itupun musti dijelajah dengan ketajaman indera rahsa sejati, tak mungkin hanya mengandalkan kemampuan visual, rasio saja, apalagi referensi statis yakni yang bersifat dogma-dogma anti kritik.

Terlepas dari berbagai referensi yang ada, percaya atau tidak, setuju atau tidak setuju reinkarnasi saya anggap benar-benar ada. Karena sudah puluhan kali saya menyaksikan suatu kenyataan metafisik (noumena) di balik realitas fisik (fenomena). Berikut ini contoh salah satu binatang yang merupakan wujud reinkarnasi alias  dulunya adalah manusia.  Binatang ini hanya mengenal siapa nama orang tuanya dulu dan apa saja kejahatan yang pernah ia lakukan semasa hidupnya, tetapi hewan reinkarnasi ini blank alias tak ingat siapa namanya, dan di mana ia dulu tinggal. Komunikasi terjadi saat sukma binatang ini manjalmo atau mewujud dalam bentuk aslinya yakni sukma laki-laki dengan wujud tegap dan cukup ganteng. Lucu bin aneh memang, tapi inilah kenyataan hidup. Adapun bagi yang percaya reinkarnasi, anda bisa saja membedakan mana binatang biasa mana yang merupakan kejadian reinkarnasi negatif. Silahkan  melanjutkan membaca beberapa gejala atau cirikhas seperti yang terjadi pada seekor kucing yang saya pelihara seperti dalam gambar di atas. Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 664 pengikut lainnya.