Mengenal Ngelmu Sastra Jendra

Ilmu (kawruh) adalah pengetahuan nalar. Sedangkan ngelmu (angel anggone ketemu) adalah pengetahuan spiritual.

Prakata

Sebelum membahas tentang ngelmu sastra jendra saya bermaksud sedikit mengulas secara “ontologis dan epistemologis” agar supaya kita lebih mudah memahami apa sejatinya ngelmu sastra jendra. Di antara para pembaca yang budiman barangkali bertanya-tanya, apakah yang dimaksudkan dengan pendekatan rasionalisme dan apapula yang dimaksud dengan pendekatan emphirisisme dalam tradisi memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara kita untuk mengenali dan membedakan di antara keduanya?

Untuk membedakannya, kita bisa melihat apakah objek yang dibahas itu adalah sesuatu yang bisa dilihat ataukah sesuatu yang menjadi objek pembahasan itu tidak bisa terlihat. Jika objek dari pokok bahasan itu bisa dilihat seperti objek biologi, kimia, fisika dan lain-lain maka kita menyebutnya dengan ilmu emphirisme. Sementara jika objeknya tidak bisa terlihat seperti fildafat, bahasa, matematika, agama kita menyebutnya dengan ilmu rasionalisme. Jikalau kita sudah bisa mengenali mana persoalan ilmu yang disebut dengan emphirisisme dan mana yang disebut dengan rasionalisme maka apakah yang menjadi pembeda di antara keduanya ? Bagaimana persoalan pengetahuan dari sudut pandang orang-orang emphiris dan bagaimana pula dari sudut pandang orang-orang rasional? Jawaban sederhananya ; adalah terletak pada penekanan fungsi akal. Menurut orang-orang emphiris tidak ada satupun di alam semesta ini yang masuk akal kalau sesuatu itu tidak bisa dilihat dan dialami. Fungsi akal pada persoalan ini persis seperti fungsi cermin, yaitu hanya menerima bayangan yang masuk lalu kemudian memantulkannya lagi. Dengan memahami persoalan fungsi akal ini maka menurut kaum emphiris manusia itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang mereka usahakan dan karena itulah maka semua orang akhirnya memiliki takaran pengetahuan yang berbeda-beda karena berangkat dari pengalaman olah akal yang berbeda-beda pula. Sedangkan menurut kaum rasional justru sebaliknya. Menurut pendapat mereka fungsi akal justru untuk mengingat-ingat kembali (recalling) apa-apa yang sudah ada di dalam akal itu sendiri. Jadi tidak benar kalau akal mendapatkan pengetahuan dari indra dan pengalaman karena sesungguhnya pengetahuan manusia itu sudah melekat pada dirinya sendiri jauh-jauh hari sebelum mereka terlahir ke planet bumi ini. Karena fungsi akal adalah untuk recalling atau mengingat-ingat kembali, maka dengan sendirinya semua orang sesungguhnya mempunyai potensi pengetahuan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan recalling masing-masing individu.

Ilmu Spiritual yang Metodis dan Ilmiah

Sastra jendra, merupakan ngelmu yang diperoleh melalui perpaduan antara metode olah batin, pendekatan emphirisisme dan rasionalisme. Ketiga pendekatan tersebut harus matching, sinambung dan sepadan. Untuk itu sastra jendra bukanlah ngelmu yang hanya sekedar jarene atau katanya. Dapat dikatakan Ngelmu sastra jendra diperoleh sebagai hasil dari olah batin yang gentur dilakukan dalam waktu yang lama sehingga membuahkan hasil berupa pengalaman batin dan pengalaman lahir. Bahkan ngelmu sastra jendra merupakan ilmu rahasia “langit” yang berhasil diproses agar “membumi”. Dengan demikian dalam kawruh sastra jendra, tidak ada lagi kegaiban yang tidak masuk akal. Segala yang gaib justru sangat masuk akal, bisa diterima oleh logika penalaran. Artinya, otak kiri sudah berhubungan erat dengan otak kanan. Otak kanan sudah pernah menerima noumena (“fenomena gaib”) yang diterima oleh mata batin maupun wadag. Bagi yang belum bisa memahami gaib secara akal, atau masih menganggap gaib sebagai sesuatu yang irasional, hal itu menandakan ia belum berhasil melewati proses demi proses ngelmu Sastra Jendra secara tuntas.

Pada awalnya untuk mendapatkan ngelmu Sastra Jendra ditempuh melalui metode olah batin yang berat dan panjang. Untuk memperoleh Ngelmu sastra jendra, seseorang tidak hanya cukup yakin saja. Tetapi harus bisa membuktikan sendiri, dengan menyaksikan, mengalami dan merasakan sendiri fakta di balik rahasia alam wadag maupun di “alam” gaib. Dalam metode atau pendekatan ngelmu satra jendra, kebenaran bukanlah sekedar postulat, aksioma, argumentasi rasional, apalagi sekedar keyakinan saja. Kebenaran sekalipun bersifat gaib dan dalam ranah idealitas, tetap harus bisa dibuktikan secara “ontologis” dan “epistemologis” atau obyek dan subyek ilmu. Oleh sebab itu, dalam tradisi ngelmu sastra jendra pengalaman gaib bukan lagi pengalaman batin yang bersifat subyektif, melainkan pengalaman yang bersifat obyektif dapat dibuktikan oleh orang lain yang memiliki kemampuan olah batin yang sama. Apabila pengalaman gaib dikatakan subyektif hal itu karena kenyataan bahwa hanya sedikit orang-orang yang sungguh-sungguh bisa membuktikan dan mempunyai pengalaman gaib tersebut. Secara epistemologis, metode pembuktian dilakukan oleh beberapa orang yang sama-sama mampu merambah ke dalam dimensi gaib untuk melakukan pembuktian bahkan tidak menutup kemungkinan menemukan suatu “hipotesis” baru. Hasil dari pembuktian itu lalu diambil suatu kesimpulan yang dirumuskan sebagai sebuah rumus-rumus yang berlaku di alam kegaiban. Misalnya; seperti kisah keajaiban yang pernah saya posting dalam “Kunci Merubah Kodrat” bahwa organ tubuh manusia yang “disimpan” di dalam dimensi atau alam kehidupan sejati (alam kelanggengan) tidak akan rusak atau busuk, karena di sono tidak ada rumus kerusakan sebagaimana di mercapada atau bumi. Merca adalah panas atau rusak, pada adalah tempat atau papan. Segala sesuatu yang ada di mercapada berarti akan terkena rumus kerusakan. Rumus ini tidak berlaku di alam kelanggengan atau alam kehidupan sejati. Rumus ini dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa “aneh” (sebut saja mukjizat) di mana seorang anak angkat yang menghibahkan ginjalnya untuk ditransplantasi kepada ibu angkatnya selama lebih kurang 15 tahun lamanya hingga wafat dalam kondisi baik dan sehat. Setelah beberapa tahun sejak ibu angkatnya wafat, ginjal itu benar-benar kembali ke dalam perut anak angkat yang menghibahkannya dulu, dan tetap berfungsi secara normal lagi. Peristiwa mukjizat tersebut TIDAK terjadi sekonyong-konyong, ujug-ujug, dan bukannya peristiwa yang tidak bisa dijelaskan prosesnya. Melalui ngelmu sastra jendra, peristiwa itu dapat dijelaskan secara rasional oleh orang lain dan secara emphiris oleh ybs (anak angkat tersebut). Maka dari itu ngelmu sastra jendra bisa disebut sebagai ilmu spiritual (gaib) yang ilmiah. Dapat dilakukan verifikasi (uji kebenaran) atas hipotesa-hipotesanya oleh banyak orang terutama yang mampu membuktikan.  Hanya saja, kelemahan ngelmu sastra jendra yang memverifikasi hipotesis haruslah seseorang yang sudah berkompeten, mahir dalam berinteraksi dengan dimensi gaib. Tak cukup hanya melalui disiplin ilmu  pengetahuan saja. Kelemahan metode ini selain sangat terbatas orang yang bisa menguji atau memverifikasi kebenarannya, juga orang yang mengaku bisa menguji harus terseleksi hingga lulus uji terlebih dahulu. Sebab bukan tidak mungkin orang tersebut masih rancu dalam memahami gaib. Kerancuan yang disebabkan oleh adanya polutan yang bernama ilusi, imajinasi, dan fantasi hal-hal gaib atau dogma yang mengendap di alam bawah sadarnya yang sewaktu-waktu bisa muncul seolah gambaran gaib. Sebaliknya, yang menseleksi juga harus diseleksi terlebih dahulu. Hal itu dapat dilakukan apabila semakin banyak orang waskita yang mampu berinteraksi dengan gaib secara bersama-sama melakukan uji kebenaran dan dilakukan sejujur-jujurnya. Orang-orang seperti ini jarang kita temukan di zaman sekarang di mana kesadaran kosmos telah terampas oleh kesadaran semu dogma, termasuk pula yang semata-mata mengandalkan daya analisa otak kiri yang limited. Namun masih ada secercah harapan, dengan hadirnya anak-anak kristal, yang jauh lebih cermat dan matang dari anak-anak indigo serta kawula muda bangsa yang kini tampak semakin bersemangat untuk belajar mempertajam batin. Sedikit orang waskita yang memiliki ketajaman batin bukan berarti merupakan takdir atau garis hidup dan bakat alamiah. Bagi saya pribadi, setiap orang memiliki “software” yang kurang lebih sama, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mempertajam mata batinnya  asal saja mau mengolahnya dengan sungguh-sungguh.

Lebih lanjut tentang metode memperoleh ngelmu sastra jendra, secara ontologis ia memiliki obyek penelitian yang bersifat gaib maupun wadag (tanda-tanda/bahasa alam) tetapi apa sesungguhnya yang terjadi masih sangat rahasia. Namun sekali lagi, kegaiban bukan berarti tidak bisa dilihat dan dialami secara emphiris, tidak pula melulu hanya dibahas dengan pendekatan rasionalisme.  Hanya saja walaupun obyek gaib (noumena) benar-benar ada, namun belum tentu langsung bisa dilihat secara wadag oleh setiap orang. Bagi orang yang bisa melihat, menyaksikan dan merasakan sendiri obyek gaib, hal itu merupakan sebuah pengalaman emphiris yang biasa-biasa saja. Gaib bukan lagi sekedar bisa dijabarkan melalui pendekatan idealisme-rasionalisme, namun juga dengan mudah dapat diketahui dan dalami secara emphirisisme. Semua tergantung pribadi masing-masing apakah ada kemauan atau tidak. Dengan metode itulah Ngelmu sastra Jendra lahir dari orang-orang waskita di zaman dahulu. Ngelmu Sastra Jendra tak ubahnya “pisau analisa” yang mampu mengupas rahasia di dalam NOUMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi gaib, apalagi hakekat dan rahasia di balik FENOMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi wadag.

Antara Keyakinanisme dengan Spiritualisme

Lantas di mana posisi keyakinan dalam hal ini ? Tentu saja keyakinan tidak memiliki metode ilmiah sebagaimana Ngelmu Sastra Jendra. Keyakinan melimputi dua kutub yakni; yakin untuk meyakini adanya sesuatu atau pun yakin untuk meyakini tiadanya sesuatu. Kedua kutub keyakinan tersebut sama-sama hanya butuh pengakuan subyektif saja untuk sekedar meyakini saja! Asas utama kedua kutub keyakinan itu adalah sikap percaya tanpa perlu membuktikan melalui pengalaman batiniah, emphiris  dan rasional. Nah, ngelmu sastra jendra bisa digunakan untuk membuktikan sekaligus menguatkan dua macam kutub keyakinan dengan cara membuktikan apakah sesuatu yang diyakini atau tidak diyakininya benar adanya. Dengan cara berusaha untuk mengalami dan menyaksikan paling tidak merasakannya, sehingga tidak hanya sekedar yakin, tetapi menjadi hak atau kesadarannya akan adanya kebenaran sejati. Meskipun demikian kedua kutub keyakinan mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk menopang mental seseorang. Sebaliknya, kelemahan dari kedua kutub keyakinan tersebut masing-masing dapat terpatri secara kuat dalam benak, menyingkirkan kemampuan nalar dan batin untuk memahaminya secara rasional dan secara esensial (hakekat). Bahkan dua kutub keyakinan dapat menjadi lebih kuat daripada pengalaman emphiris dan pengetahuan rasionalitas. Karena kedua keyakinan (sengaja) bertumpu pada sesuatu yang teramat jauh dari jangkauan rasionalisme dan emphrisisme itu sendiri. Jika kita mau jujur, pada saat keyakinan adanya sesuatu atau keyakinan akan tiadanya sesuatu kita serap dengan nalar dengan tanpa disertai olah batin untuk sekedar merasakan bahkan melihat atau mengalami sendiri, nyaris tak ada bedanya pada saat nalar kita menikmati sebuah imajinasi, mitologi, legenda dan dongeng. Dan masing-masing pemegang sikap keyakinan untuk yakin adanya sesuatu dan keyakinan untuk menolak adanya sesuatu, keduanya memiliki kecenderungan yang sama yakni, menganggap bahwa keyakinan dirinyalah yang paling benar sementara ia sulit membuktikannya sendiri.

Sementara itu kesadaran spiritual (ketuhanan) lebih cenderung memahami kehidupan ini  secara bijak dan arif. Ia sadar bahwa jalan menggapai spiritualitas adalah beribu bahkan bermilyar cara yang tiada batasan jumlahnya. Ibarat bilangan berapapun jika dibagi nol (0) ketemunya adalah bilangan tak terbatas. Atau sejatine ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu. Manusia bisa manembah kepada Gusti Yang Maha Tunggal (suatu episentrum dari segala episentrum zat energi yang maha dahsyat atau energi hidup yang menghidupkan) dengan sebanyak nafasnya. Bagaikan aktifitas menghirup udara bisa kita hitung, berapa kali dalam sehari, dan dilakukan oleh berapa banyak orang. Tetapi udara itu sendiri merupakan suatu zat yang tak bisa dihitung. Sikap manembah berarti menselaraskan zat yang ada dalam diri kita dengan zat maha dahsyat tersebut. Lebih lanjut soal spiritualisme, bahwa nilai-nilai spiritual akan tumbuh dengan sendirinya seiring-sejalan dengan makin banyaknya pengalaman demi pengalaman batin dan lahir yang individu alami sendiri. Maka spiritualisme berakar pada suatu pengalaman batin, dan tak dapat disangkal dan ditolak bahwa kecenderungan setiap individu adalah bersentuhan dengan suatu pengalaman batin. Bagi yang mau mencermatinya, tentu akan mendapatkan pengetahuan spiritual, sebaliknya akan mengabaikan pengalaman batin tersebut bagai angin berlalu begitu saja tanpa bekas.

Kebimbangan ; Pertarungan Nurani dengan Nalar

Terkadang nurani merasakan adanya kejanggalan atas sesuatu yang kita yakini atau pun yang tidak kita yakini selama ini. Hingga timbul keraguan yang sangat bergolak di dalam sanubari. Hal itu wajar karena apa yang diyakini atau tidak diyakini merupakan sesuatu yang belum pernah dilihat dan dialami sendiri, sehingga “keimanan” sangat rentan bergoyah. Kebimbangan demi kebimbangan muncul saat terjadi pemberontakan nurani terhadap pola pikir yang selama ini hanya menyerap ilmu melalui doktrin semata. Termasuk di dalamnya manakala anda akan melakukan sesuatu keputusan yang membuat bimbang. Hal ini menunjukkan adanya daya tarik menarik antara getaran nurani dengan pertimbangan nalar anda sendiri. Bila kekuatan keduanya berimbang akibatnya kebimbangan itu muncul, yang disertai keraguan, dan ketidakpuasan terhadap apa yang anda yakini ataupun yang tidak anda yakini selama ini.

Nalar kita yang sudah terpola  (mind-setting) oleh doktrin keyakinan sejak kanak-kanak, biasanya nalar tersebut dengan sekuat tenaga akan segera mencegah kesadaran nurani yang sedang menggeliat, dengan buru-buru mendefinisikan geliat nurani itu sebagai bentuk gangguan mahluk halus. Kesadaran indoktrinasi bagaikan “lingkaran setan”. Kesadaran indoktrinasi meretas nilai-nilai doktrin yang baru. Nalar yang sudah terdoktrin cenderung mendoktrin kesadaran kita, dengan cara meyakin-yakinkan diri kita atas suatu dalih bahwa keyakinan merupakan wilayah yang tabu untuk disentuh dan dijabarkan di depan publik. Atau ditekankan suatu konsep bahwa “hanya tuhan saja yang paling berhak mengetahui segala sesuatu yang gaib”. Walau kenyataannya banyak sekali manusia yang berkesempatan merasakan, mengalami dan menyaksikan suatu noumena di alam kegaiban. Dalam titik kulminasi terjadi extreme ignorance, atau kesalahan yang fatal, di mana nalar yang terindoktrinasi berusaha membunuh setiap getaran nurani. Nalar dengan serta-merta menjatuhkan vonis bahwa kebimbangan dan keraguan terhadap suatu keyakinan bukan datang dari nurani, melainkan wujud nyata “bisikan setan” yang bertujuan menggoyahkan keimanan seseorang. Nalar kita mampu bekerja secara otoriter, artinya tidak berperan secara dinamis melalui prinsip dialektika, dialog imbal balik, atau kontemplasi mendalam dalam memahami kehidupan ini.  Tabiat nalar yang otoriter justru melahirkan dehumanisme, mencetak karakter pribadi yang tumpul mata batinnya. Alam bawah sadar yang merangkum nilai doktrinasi sejak kecil menciptakan akal fikiran yang sangat terpola dan menjadi kaku, tertutup, serta anti toleran (sikap fanatisme).

Sudah menjadi hukum alam semesta bahwa kehidupan ini bersifat dinamis, walau seringkali memakan waktu teramat  panjang dan terlambat. Bisa jadi lambat laun kekuatan nurani memenangkan pertarungannya dengan kekuatan nalar yang terindoktrinasi. Dalam falsafah Jawa dikenal rumus-rumusnya misalnya becik ketitik, ala ketara. Sepadan dengan peribahasa berikut; serapat-rapatnya menyimpan bangkai, toh akhirnya tercium baunya juga. Barangkali tahun 2012 di mana daya magnetik galaktika melemah, gravitasi bumi kendur, menyebabkan banyak orang mengalami penurunan gelombang otak, ibarat melakukan meditasi secara massal. Lereming pancadriya, tinarbuka ing waksita. Bisa jadi saat itu kelak menjadi momentum terbukanya kesadaran nurani yang lebih dalam lagi bagi banyak orang. Bila tahun 2012 dianggap sebagai saat kiamat tiba, saya memahaminya sebagai kiamatnya kesadaran semu yang melekat dalam nilai-nilai doktrin, sekaligus merupakan awal lahirnya suatu kesadaran baru, yakni kesadaran sejati berada di relung sanubari kita. Sementara yang gagal lolos seleksi alam, berarti pula pertarungan dimenangkan oleh kekuatan doktrin yang cenderung kontraversi dengan dinamika alam semesta. Kegagalan itu beresiko melahirkan kepribadian mudah stress, gampang bingung, sikap fatalis, hingga gangguan kejiwaan. Ujung-ujungnya adalah sikap ekstrim sebagaimana sikap-sikap radikal.

Sampai kapan nalar kita mampu mencegah pemberontakan kekuatan nurani? Sejak zaman dulu manusia terjebak oleh pola pikir yang menyangka bahwa kedua macam kutub keyakinan tersebut selalu dikaitkan dengan kekuatan yang transenden (berada di luar diri manusia), yang memiliki hukum sebab akibat fantastis. Kebaikan menghasilkan surga, keburukan menyebabkan neraka. Surga neraka pun terjadinya kelak pada waktu yang tak seorangpun tahu kapan akan terjadi sehingga banyak orang cenderung bersantai-santai. Saya kira “surga-neraka” sudah ada sejak saat kita hidup di bumi ini yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Hari pembalasan/hukum karma  pun tak perlu dinanti kelak, karena telah terjadi pembalasan tiap hari, yang terangkum dalam mekanisme hukum sebab akibat. Hari ini adalah buah dari apa yang kita lakukan di waktu yang telah berlalu.

Fanatisme vs Spiritualitas Sejati

Nilai-nilai keyakinan diikat dan dipertahankan melalui doktrin-doktrin atau proses hegemoni kesadaran agar seseorang mempercayainya. Sementara itu nilai-nilai spiritual diikat dan dipertahankan oleh diri pribadi karena pengalaman emphiris dan pengalaman batiniah yang sekaligus bisa diterima secara rasional. Spiritualisme adalah pemahaman akan hakekat yang memuat nilai-nilai universal. Tak heran jika seorang spiritualis sejati memiliki sikap toleransi tinggi terhadap keyakinan yang berbeda. Karena spiritualisme berlandaskan pada kesadaran holistic spirituality. Inilah bedanya, fanatisme sejati, dengan spiritualis sejati. Fanatisme bertumpu pada keyakinan saja. Sementara itu spiritualitas sejati bertumpu pada perjalanan batin yang penuh dengan pengalaman emphiris, maupun pengalaman batin yang bisa dipahami dan dijangkau oleh rasio. Seorang fanatis menjelaskan tuhan secara etnosentris, rasis, primordialis dan dogmatis, yang memaksa orang lain agar sependapat dengan dirinya. Fanatis juga memvonis siapapun yang berusaha menjelaskan tuhan secara rasional sebagai kafir (menutup diri dari kebenaran) dan sesat (salah jalan). Hal itu justru mengesankan seolah-olah  kebenaran sejati ditandai bilamana “kebenaran” tersebut tidak bisa dicerna secara rasional. Jikalaupun ada orang yang mampu mengalami persentuhan dengan gaib, baik secara batin maupun emphiris, disebutlah ia sebagai pembohong besar dan telah disesatkan oleh si “setan kober”. Sementara itu spiritualis sejati menjelaskan konsep ketuhanan dengan sifat-sifatnya secara esoteris, demokratis dan universal. Maka seorang spiritualis sejati, ia akan menganalogikan tuhan sebagai wujud sifat dan karakter yang lebih enak dan nyaman dirasakan. Misalnya Mahakasih, Tuhan Yang Tidak Pilih kasih, Yang Tidak Kejam, Yang Maha Welas Asih. Sikap sebaliknya, meyakini tuhan dengan karakter seperti layaknya sifat-sifat nafsu manusia yang menakutkan, misalnya ; kejam, murka, bahkan disangka tuhan pencemburu. Faktanya, konsep tersebut sangat mempengaruhi pola pikir masing-masing orang. Orang yang mengkonsep tuhan maha kejam, ia akan menjadi pribadi yang tega-an. Yang mengkonsep tuhan maha murka, ia akan menjadi pribadi yang gampang marah, bahkan menyangka kemurkaannya adalah absah karena telah mewakili kemurkaan tuhan. Darimana ia tahu tuhan telah murka ? Jika kita mau cermati adalah suatu fakta di lingkungan kita, bahwa landasan spiritual –yang berlandaskan pada holistic spirituality–  cenderung memiliki sifat toleran, sebaliknya fanatisme yang tumbuh dari doktrinasi cenderung bersifat anti-toleran.

Saya pribadi memahami bahwa agama bukanlah tujuan melainkan jalan untuk mencapai kesadaran spiritual itu sendiri. Lebih dari itu, agama bukan alat untuk meraih kekuasaan (politisasi agama) apalagi untuk mendirikan suatu kekalifahan seperti zaman dulu di Timteng dan sekitarnya. Memahami agama sebagai tujuan, lagi-lagi akan terjebak pada sikap fanatisme. Selebihnya, menjadikan agama sebagai alat untuk menciptakan dan meraih kekuasaan (kalifah/theokrasi) akan rentan terjadi instabilitas nasional. Itulah salah satu sebab di manapun saja, negara theokrasi –yang berasaskan agama– sangat rawan terjadi perpecahan dan pergolakan. Hal itu dipicu oleh sebab kebebasan beragama yang bersumber pada kesadaran holistic spirituality hilang  bilamana prinsip negara nasional digantikan dengan prinsip “negara agama” (theokrasi). Theokrasi sangat memerlukan tali pengikat keutuhan politik. Biasanya  theokrasi lantas terjebak menerapkan sistem otoriiterisme, tirani, ataupun fasisme. Nah, apakah konsep ketuhanan dipahami bersifat tiran, fasis, otoriter ? Ataukah tuhan bersifat demokratis ? Jawabannya bukan pada tuhan, tetapi pada pola pikir masing-masing  individu.

Apa yang akan terjadi jika nusantara ini berprinsip theokrasi, alias “negara agama”. Tentunya negara theokrasi akan memiliki kecenderungan anti-toleran dan rawan memecah belah kesatuan bangsa yg sangat heterogen ini.  Tak pelak nusantara akan menjadi ladang pembantaian antara satu dengan lainnya (killing field). Sebab akan terjadi “pengadilan atas keyakinan yang berbeda” berdasarkan tafsir tunggal suatu (aliran) agama yang memiliki otoritas politik besar. Sekedar contoh, di zaman dulu banyak kasus-kasus hukuman mati atas perbedaan keyakinan, atau bentuk-bentuk kekerasan fisik dan mental, intimidasi, teror, serta anarkhisme seperti masih terjadi di zaman sekarang. Hal itu membuktikan suatu kebangkrutan sebuah ideologi agama bercorak “imperialisme doktriner” yang kurang memberi tempat pada keyakinan/iman yang berbeda-beda.

Setiap orang pada mulanya berada dalam “goa” prasangkanya sendiri. Manakala menoleh di belakang, oh ternyata ada cahaya tampak terang, lalu melongok ke atas, barulah menyadari betapa selama ini berada di dalam goa yang gelap gulita. Banyak hal merupakan sangkaan pribadinya sendiri, tidak ada apa-apa kecuali yang berfatwa. Maka untuk mengurangi resiko destruktif, kita seyogyanya lebih berpositif thinking dan berhati-hati saat sedang berprasangka (buruk) kepada orang lain yang berbeda pandangan.

Ngelmu dan Kawruh

Ngelmu atau angel anggone ketemu (sukar diraih) disebut pula ilmu spiritual, yakni ilmu tentang kebatinan dan ketuhanan. Ngelmu banyak diserap oleh indera batin sebagai pengetahuan batin.   Sementara itu kawruh adalah ilmu diserap oleh indera fisik, sebagai pengetahuan nalar. Sastra Jendra termasuk kategori ngelmu. Ngelmu Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu ilmu spiritual yang mengandung kebenaran faktual (noumena), nilai-nilai luhur, dan keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia pada umumnya. Karena itu Ngelmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu sejati atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam (fisik dan metafisik) beserta dinamikanya. Ngelmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ilmu pengetahuan batin sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Ngelmu Sastra Jendra berasal dari kaum ningrat di dalam kraton, jika dijabarkan teramat luas cakupannya. Dulunya dipelajari oleh para raja, orang-orang linuwih, empu, resi, kihai dan para pandita.  Itulah orang-orang yang dimaksud golongan NINGRAT, bukan berarti setiap orang yang “berdarah biru”, tetapi orang yang selalu hening ing rat. Orang yang selalu mengheningkan cipta dan batin untuk menggapai kesadaran kosmos. Seseorang sebelum menyerap ngelmu sastra jendra terlebih dulu harus memahami jagad alit dan jagad ageng, mikrokosmos dan makrokosmos. Mengenali hakekat diri sejati dan hakekat alam semesta. Sesudah itu barulah secara bertahap dapat memahami, menghayati dan mengamalkannya. Bagaimana mungkin seseorang berhasil sukses dalam peng-hayat-an dan peng-amal-an  (implementasi) jika belum sungguh-sungguh memahami secara benar tentang diri sejati dan alam semesta ini.

Cakupan Ngelmu Sastra Jendra

Ngelmu Sastra Jendra mencakup beberapa pokok bahasan sebagai berikut ;

1. Ajaran tentang ketuhanan
2. Ajaran tentang alam semesta
3. Ajaran tentang manusia
4. Ajaran tentang kesempurnaan

Ngelmu sastra jendra, menjadikan seseorang memiliki KESADARAN KOSMOS, sehingga mempunyai kemampuan yang titis, tetes, tatas, mampu  weruh sadurunge winarah, karena energi kesadarannya telah menerobos dimensi ruang dan waktu. Muara ngelmu sastra jendra adalah Hayuning Rat Pangruwating Diyu, Jagad gumelar jagad gumulung, yakni sebuah prinsip keseimbangan alam, dalam cerita wayang diperankan dalam cerita Panggung Songgo Buwana.

About these ads

About SABDå

gentleman, Indonesia Raya

Posted on April 1, 2010, in Mengenal Ngelmu Sastra Jendra and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 120 Komentar.

  1. Saya pernah berguru ke Mbah Rustam Tembok muncar Banyuwangi tentang ilmu sastro tjendro hayuningrat. Tapi terakhir mbah rustam mengatakan bahwa belajar ilmu ini tergantung kemampuan masing-masing. Kalau pintar ya cepat naik kelas. Gurunya ada pada dirinya masing-masing. Saya ingin dapat petunjuk gimana dapat naik kelas

  2. wah…..salam kenal…..
    selalu di tunggu postingan kang mas sabdo langit

  3. YTH, Ki Sabdalangit,

    Sudah satu bulan terakhir ini saya terus- menerus membaca artikel- artikel yang Ki buat dan saya benar- benar tergugah, karena menurut saya apa yang menjadi buah pikiran Ki merupakan apa yang menjadi gejolak dalam perjalanan spritualitas saya.

    Sudah lama saya berkeliling ke sana dan ke mari untuk mencari guru sejati yang bisa memberikan nasehat- nasehat dan pemahaman mengenai arti hidup ini hingga pada akhirnya saya juga memiliki konsep pemikiran yang serupa dengan yang Ki paparkan, dimana guru sejati itu terletak pada hati nuranii, yang memang selalu mengatakan hal- hal yang benar.

    Ki, saya ingin memperdalam ilmu kebatinan karena saya merasa diberikan anugrah lebih oleh Allah SWT. Saya mohon agar Ki Sabda bersedia untuk sedikit memberikan pencerahan dan petunjuk pada saya yang masih lugu ini.

    Salam,

    Keni -

  4. Yth,ki sabdo langit,
    kulo badhe tanglet,kapan wonten pambukaan anyar sastra tjendra meniko, kakang kawulo nderek wonten purwodadi,niyat ingsun badhe tumut mbok bilih paring wedal kulo di pun khabari wayahipun lan wonten pundi papan panggenanipun.
    meniko no hp.kawulo 085865590335 / 024 70555611

    matur nuwun

  5. @Sabdalangit
    Sy punya pengalaman spiritual mengenai sukma leluhur, sy juga minta pendapat dari yg lain…sy bermimpi dengan sangat jelas bahwa leluhur sy meminta baju baru da selimut…katanya biar tidak kedinginan. Besoknya sy beli apa yg dipinta lalu menghadiahkannya pada beliau disertai sesaji makanan secukupnya. Setelah itu hari2 berikutnya hidup sy penuh keberuntungan (hoki) jalan usahapun seperti ada yg memudahkannya (seperti ada yg membantu). Alhamdulillah.
    Pemahaman sy sebagai muslim bahwasannya antara dunia dan akhirat terputus sudah…kecuali doa anak yg shaleh, namun pengertian doa disini tdk hanya meminta terus duduk di mesjid, tapi dengan pengamalan nyata berupa pemberian sesuatu pada leluhur..karena sy yakin semua dzat yg ada di dunia selain bentuk wadagnya juga ada bentuk gaibnya (loro ning tunggal). Kalau di Sunda disebut Ijma -khias, ibarat makanan ada rasa dan sarinya.
    Pertanyaan:
    1. Apakah Sukma masih bisa merasakan panas dinginnya hawa lingkungan?
    2. Mengapa bisa terjadi demikian apa yg sy alami

    Mohon penjelasan dr Mas Sabdalangit serta rekan2 semua…Terimakasih
    Hatur Nuhun…

  6. Tiba saatnya Resi Wisrawa menjabarkan arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada di dalam sanggar pemujaan Dewi Sukesi.
    Namun terlebih dahulu Resi Wisrawa menerangkan sekilas tentang ilmu itu kpd Sang Prabu Sumali. Resi Wisrawa berkata lembut bahwa ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur.
    Terperangah Prabu Sumali tatkala mendengar uraian Resi Wisrawa. Mendengar penjelasan singkat itu Prabu Sumali hatinya menjadi sangat terpengaruh, tertegun dan dengan segera mempersilahkan Resi Wisrawa masuk ke dalam sanggar.

    Wejangan dilakukan di dalam sanggar pemujaan, berduaan tanpa ada makhluk lain kecuali Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, krn Sastrajendra adalah rahasia alam semesta, yang tidak dibolehkan diketahui sebarang makhluk, seisi dunia baik daratan, angkasa dan lautan.
    Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah ilmu sebagai kunci orang dapat memahami isi indraloka pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada yaitu pintu gerbang atau kunci rasa jati, yang dalam hal ini bernilai sama dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib.
    Maka dari itu ilmu Sastra Jendera Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai sarana pemunah segala bahaya, yang di dalam hal ilmu sudah tiada lagi. Sebab segalanya sudah tercakup dalam sastra utama, puncak dari segala macam ilmu.

    Raksasa serta segala hewan seisi hutan, jika tahu artinya sastra jendra. Dewa akan membebaskan dari segala petaka. Sempurna kematiannya, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia, manusia yang telah sempurna yang menguasal sastra jendra, apabila ia mati, rohnya akan berkumpul dengan para dewa yang mulya.
    Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu hal yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa.
    Karena itu Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi tugasnya, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup.
    Untuk mencapai tingkat hidup yang demikian itu, manusia harus menempuh berbagai persyaratan atau jalan dalam hal ini berarti sukma dan roh yang manunggal, antara lain dengan cara-cara seperti:
    Mutih : makan nasi tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga.
    Sirik : menjauhkan diri dari segala macam keduniawian.
    Ngebleng : menghindari segala makanan atau minuman yang tak bergaram.
    Patigeni : tidak makan atau minum apa-apa sama sekali.

    Selanjutnya melakukan samadi, sambil mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya. Pada samadi itulah pada galibnya orang akan mendapalkan ilham atau wisik. Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yaitu :

    Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.

    Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.

    Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).

    Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.

    Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.

    Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula “Benih seluruh semesta alam.”

    Jadi semakin jelas bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai.
    Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Luamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi).
    Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

    Saat wejangan tersebut dimulai, para dewata di kahyangan marah terhadap Resi Wisrawa yang berani mengungkapkan ilmu rahasia alam semesta yang merupakan ilmu monopoli para dewa.
    Para Dewa sangat berkepentingan untuk tidak membeberkan ilmu itu ke manusia. Karena apabila hal itu terjadi, apalagi jika pada akhirnya manusia melaksanakannya, maka sempurnalah kehidupan manusia. Semua umat di dunia akan menjadi makhluk sempurna di mata Penciptanya.
    Dewata tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Maka digoncangkan seluruh penjuru bumi. Bumi terasa mendidih. Alam terguncang-guncang. Prahara besar melanda seisi alam. Apapun mereka lakukan agar ilmu kesempurnaan itu tidak dapat di jalankan.

    Semakin lama ajaran itu semakin meresap di tubuh Sukesi. Untuk tidak terungkap di alam manusia, maka Bhatara Guru langsung turun tangan dan berusaha agar hasil dari ilmu tersebut tetap menjadi rahasia para dewa. Karenanya ilmu tersebut harus tetap tetap patuh berada di dalam rahasia dewa. Oleh niat tersebut maka Bhatara Guru turun ke bumi masuk ke dalam badan Dewi Sukesi.
    Dibuatnya Dewi Sukesi tergoda dengan Resi Wisrawa. Dalam waktu cepat Dewi Sukesi mulai tergoda untuk mendekati Wisrawa. Namun Wisrawa yang terus menguraiakn ilmu itu tetap tidak berhenti.
    Bahkan kekuatan dari uraian itu menyebabkan Sang Bathara Guru terpental keluar dari raga Wisrawa. Tetapi Bathara Guru tidak menyerah begitu saja. Dipanggilnya permaisurinya yaitu Dewi Uma turun ke dunia. Bhatara Guru masuk menyatu raga dalam tubuh Resi Wisrawa sedang Dewi Uma masuk ke dalam tubuh Dewi Sukesi.

    Tepat pada waktu ilmu itu hendak selesai diwejangkan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu percobaan atau ujian hidup. Sang Bhatara Guru yang menyelundup ke dalam tubuh Bagawan Wisrawa dan Bhatari Uma yang ada di dalam tubuh Dewi Sukesi memulai gangguannya terhadap keduanya.
    Godaan yang demikian dahsyat datang menghampiri kedua insan itu.
    Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi yang menerima pengejawantahan Bhatara Guru dan Dewi Uma secara berturut-turut terserang api asmara dan keduanya dirangsang oleh nafsu birahi. Dan rangsangan itu semakin lama semakin tinggi. Tembuslah tembok pertahanan Wisrawa dan Sukesi.
    Dan terjadilah hubungan yang nantinya akan membuahkan kandungan. Begawan Wisrawa lupa, bahwa ia pada hakekatnya hanya berfungsi sebagai wakil anaknya belaka. Dan akibat dari godaan tersebut, sebelum wejangan Sastra Jendra selesai, setelah hubungan antara Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi terjadi, kenyataan mengatakan mereka sudah merupakan suami-istri.

    Seusai gangguan itu Bathara Guru dan Dewi Uma segera meninggalkan dua manusia yang telah langsung menjadi suami istri. Sadar akan segala perbuatannya, mereka berdua menangis menyesali yang telah terjadi. Namun segalanya telah terjadi. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal diselesaikan. Dan hasil dari segala uraian yang gagal diselesaikan itu adalah seboah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka besar dikemudian hari.

    Tetapi apapun hasilnya harus dilalui. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi membeberkan semuanya apa adanya kepada sang ayah Prabu Sumali. Dengan arif Prabu Sumali menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi resmi sebagai suami istri, dan seluruh sayembara ditutup.

    inti ilmu sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu ini adalah ilmu bagaimana kita bisa sempurna kembali ka allah. Dari lubang titik hitam itu lah pusatnya metu-mlebu nafas kehidupan yaitu “urip” ….. @ kang Dalbo, jangan menarsirkan lobang titik hitam dgn lobangnya …. tempat masuknya rudal! yg enak tenan …… tapi kalau diartikan dgn lobang hidung tempat keluar masuknya nafas kehidupan boleh lah …. hhh …..

    • hhh ….. bikin anak juga mesti “olah” nafas juga
      cerita tsb di atas menggambarkan “proses” terciptanya jagad kecil (manusia) dan juga gambaran terciptanya jagad besar (jagad raya) ….
      dari atom setitik bisa tercipta jagad kecil dan jagad besar.

    • @budak angon
      kalo resi wisrawa itu jodohnya dewi sukaesih..kalo resi sabda jodohnya dewi..?

      @dalbo
      untuk menyelidiki Black/ dark hole, dan aku telah bener2 menikmati rasa sejatinya,, he .. he…he… ojo nesu lho yo, iki rocket2 ku dewe, yo black hole black hole bojo ko dewe
      ———
      sepertinya sedulur dalbo..sudah mencapai maqom rasa sejati..wong makrifat ?..
      sudah menguasai manajemen makrokosmos blackhole..tolong di wariskan dong ilmu sastra jendra nya?

  7. Cerita wayang lanjutan :

    Lahirnya Rahwana

    Berbulan2 di Lokapala Danaraja menunggu datangnya sang ayah yang diharapkan membawa kabar bahagia. Ia telah mendengar kabar bahwa sayembara Dewi Sukesi telah berhasil dimenangkan oleh Resi Wisrawa. Sampai suatu saat Wisrawa dan Sukesi sampai Lokapala.
    Dengan sukacita Danaraja menyambut keduanya. Namun Wisrawa datang dengan wajah yang kuyu dan kecantikan sang dewi yang diagung-agungkan banyak orang itu tampak pudar. Danaraja, merasa mendapatkan suasana yang tidak nyaman, kemudian bertanya pada ayahnya. Di depan istri dan putranya, Wisrawa menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan secara terus terang mengakui segala dosa dan kesalahannya. Namun kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang amat teramat fatal dimata Danaraja.
    Mendengar penuturan ayahnya, Prabu Danaraja menjadi sangat kecewa dan marah besar. Danaraja tidak dapat mempercayai bahwa ayahnya tega mencederai hati putra kandungnya sendiri. Kemarahan itu sudah tak terbendung. Danaraja lalu mengusir kedua suami-istri tersebut keluar dari negara Lokapala. Akhirnya dengan penuh duka, sepasang suami istri itu kembali ke negara Alengka.

    Dalam perjalanan kembali menuju Alengka, Dewi Sukesi yang sudah mulai hamil itu tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga tampak kuyu dan pucat. Setelah berbulan-bulan perjalanan yang melelahkan, tiba saat melahirkan.
    Di tengah hutan belantara padat, Dewi Sukesi tak kuasa lagi menahan lahirnya sang bayi. Akhirnya lahirlah jabang bayi itu dalam bentuk gumpalan daging, darah dan kuku. Dewi Sukesi terkejut juga Resi Wisrawa.
    Gumpalan itu bergerak keluar dari rahim sang ibu menuju kedalam hutan. Kesalahan fatal dari dua orang manusia menyebabkan takdir yang demikian buruk terjadi.

    Gumpalan darah itu bergerak dan akhirnya menjelma menjadi seorang putra bayi berupa raksasa, seorang bayi laki-laki raksasa sebesar bukit dan satu orang bayi perempuan yang ujud tubuhnya ibarat bidadari, tetapi wajahnya berupa raksasa perempuan.

    Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi hanya dapat berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Sang Penguasa Alam. Ketiga bayi itu lahir ditengah hutan diiringi lolongan serigala dan raungan anjing liar.
    Auman harimau dan kerasnya teriakan burung gagak. Suasana yang demikian mencekam mengiringi kelahiran ketiga bayi yang diberi nama Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna.
    Dengan kepasrahan yang mendalam, Wisrawa dan Sukesi membawa ketiga anak-anaknya ke Alengka. Tiba di Alengka, Prabu Sumali menyambut mereka dengan duka yang sangat dalam. Kesedihan itu membuat Sang Prabu raksasa yang baik hati ini menerima mereka dengan segala keadaan yang ada. Di Alengka Wisrawa dan Sukesi membesarkan ketiga putra-putri mereka dengan setulus hati.

    Rahwana dan Sarpakenaka tumbuh menjadi raksasa dan raksesi beringas, penuh nafsu jahat dan angkara. Rahwana tampak semakin perkasa dan menonjol diantara kedua adik-adiknya. Kelakuannya kasar dan biadab. Demikian juga dengan Sarpakenaka yang makin hari semakin menjelma menjadi raksasa wanita yang selalu mengumbar hawa nafsu.
    Sarpakenaka selalu mencari pria siapa saja dalam bentuk apa saja untuk dijadikan pemuas nafsunya. Sebaliknya Kumbakarna tumbuh menjadi raksasa yang sangat besar, tiga sampai empat kali lipat dari tubuh raksasa lainnya. Ia juga memiliki sifat dan pribadi yang luhur. Walau berujud raksasa, tak sedikitpun tercermin sifat dan watak raksasa yang serakah, kasar dan suka mengumbar nafsunya, pada diri Kumbakarna

    Namun perasaan gundah dan sedih menggelayut di relung hati Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Ketiga putranya lahir dalam wujud raksasa dan raksesi. Kini Dewi Sukesi mulai mengandung putranya yang keempat. Akankah putranya ini juga akan lahir dalam wujud rasaksa atau raseksi? Dosa apakah yang telah mereka lakukan? Ataukah akibat dari gejolak nafsu yang tak terkendali sebagai akibat penjabaran Ilmu Sastrajendra Hayuningrat yang telah dilakukan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi?

    Sadar akan kesalahannya yang selama ini terkungkung oleh nafsu kepuasan, Resi Wisrawa mengajak Dewi Sukesi, istrinya untuk bersemadi, memohon pengampunan kepada Sang Maha Pencipta, serta memohon agar dianugerahi seorang putra yang tampan, setampan Wisrawana/Danaraja, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati, yang kini menduduki tahta kerajaan Lokapala. Sebagai seorang brahmana yang ilmunya telah mencapai tingkat kesempurnaan, Resi Wisrawa mencoba membimbing Dewi Sukesi untuk melakukan semadi dengan benar agar doa pemujaannya diterima oleh Dewata Agung.
    Berkat ketekunan dan kekhusukkannya bersamadi, doa permohonan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi diterima oleh Dewata Agung. Setelah bermusyawarah dengan para dewa, Bhatara Guru kemudian meminta kesediaan Resi Wisnu Anjali, sahabat karib Bhatara Wisnu, untuk turun ke marcapada menitis pada jabang bayi dalam kandungan Dewi Sukesi.

    Dengan menitisnya Resi Wisnu Anjali, maka lahirlah dari kandungan Dewi Sukesi seorang bayi lelaki yang berwajah sangat tampan. Dari dahinya memancar cahaya keputihan dan sinar matanya sangat jernih. Sebagai seorang brahmana yang sudah mencapai tatanan kesempurnaan, Resi Wisrawa dapat membaca tanda-tanda tersebut, bahwa putra bungsunya itu kelak akan menjadi seorang satria yang cendekiawan serta berwatak arif bijaksana. la kelak akan menjadi seorang satria yang berwatak brahmana. Karena tanda-tanda tersebut, Resi Wisrawa memberi nama putra bungsunya itu, Gunawan Wibisana.

    Karena wajahnya yang tampan dan budi pekertinya yang baik, Wibisana menjadi anak kesayangan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dengan ketiga saudaranya, hubungan yang sangat dekat hanyalah dengan Kumbakarna. Hal ini karena walaupun berwujud raksasa, Kumbakarna memiliki watak dan budi yang luhur, yang selalu berusaha mencari kesempurnaan hidup.

    Nun jauh di negara Lokapala, Prabu Danaraja masih memendam rasa kemarahan dan dendam yang sangat mendalam kepada ayahnya. Hingga detik ini dia masih tidak dapat menerima perlakuan ayahnya yang dianggapnya mengkhianati dharma bhaktinya sebagai anak. Sang Resi Wisrawa sebagai ayah dianggapnya telah menyelewengkan bhakti seorang anak yang telah dengan tulus murni dari dalam bathin yang paling dalam memberikan cinta dan kehormatan pada ayah kandung junjungannya.

    Rasa ini benar-benar tak dapat ia tahan hingga suatu saat Prabu Danaraja mengambil sikap yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Prabu Danaraja lalu mengerahkan seluruh bala tentara Lokapala dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Alengka dan membunuh ayahnya sendiri yang sudah tidak memiliki kehormatan lagi dimatanya. Alengka dan Lokapala bentrok dan terjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah yang ditujukan hanya untuk dendam seorang anak pada ayahnya.

    Resi Wisrawa tidak dapat diam melihat semua ini. Ribuan nyawa prajurit telah hilang demi seorang Brahmana tua yang telah penuh dengan dosa. Wisrawa segera turun ke tengah pertempuran dan menghentikan semuanya.
    Kini ia berhadap-hadapan dengan Danaraja, anaknya sendiri. Dengan mata penuh dendam, Danaraja mengibaskan pedang senjatanya ke badan Wisrawa. Darah mengucur deras, Wisrawa roboh di tengah-tengah para prajurit kedua negara.
    Melihat Resi Wisrawa tewas dalam peperangan melawan Prabu Danaraja, Dewi Sukesi berniat untuk membalas dendam kematian suaminya. Rahwana yang ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, dicegah oleh Dewi Sukesi. Kepada keempat putranya diyakinkan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan Prabu Danaraja yang memiliki ilmu sakti Rawarontek.
    Untuk dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Danaraja. Mereka harus pergi bertapa, mohon anugrah Dewata agar diberi kesaktian yang melebihi Prabu Danaraja, yang sesungguhnya masih saudara satu ayah mereka sendiri, sebagai bekal menuntut balas atas kematian ayah mereka. Berangkatlah mereka melaksanakan perintah ibunya.
    Sumber : http://www.kaskus

  8. Ini pegalaman baru dan benar2 nyata terjadi ketika malaikat berjubah menolong seseorang yang sakit parah, sukma orang tersebut sudah meninggalkan jasadnya dan digantikan oleh malaikat untuk menolong sisakit, dan sisakit akhirnya sembuh dan sehat kembali, ketika membuka celana si sakit malaikat tersebut terperanjat terheran heran ternyata malaikat tidak punya nafsu karena tidak punya kelamin, dan tertutup jubah, kalau malaikat punya kelamin maka manusia perempuan bisa terancam

    Jadi bidadari-2 surga (malaikat perempuan) yang dijanjikan ternyata buntet semua….. nah tertipu lagi……. he…he…he

  9. Mas Sabda Langit , sejak saya menemukan blog Penjenengan saya sangat kagum denga tulisan tulisan kangmas yang detil dan sangat gampang sekali untuk dimengerti, saya sangat banyak mendapatkan pencerahan – pencerahan dari apa yang belum saya temukan dalam memperlajari kejawen. Maturnuwun sanget.
    Kalau boleh mengenal lebih dekat mohon informasi kemana saya bisa menghubungi, karena saya masih mohon bimbingan lagi.

    Salam hormat
    Dinoasadjie

  10. Sallam.. Ki,.. jika menyimak uraian diatas, untuk orang yang kurang faham akan bingung.. karena koneksitasnya dengan berbagai aspek, untuk itu alangkah sempurnanya kalau posting saja “serat” SJHN, itu berikut tata lakunya (maaf .. ki, ini lebih penting daripada uraian pertalian yang rumit)

  11. jangan bingung dan jangan heran…hi hi hi…
    cis bun cis kacang bun cis…eee si n cis…ngen cis…hi hi hi…

  12. Salam Ki Sabdo Langit
    saya ijin nimbrung dalam pertemuan ini, terlebih dulu saya sampaikan salam saya kepada semuanya dan permintaan maaf saya jika mengusik audience,
    begini Ki, beberapa tahun saya mencoba menemukan jalan untuk mencoba melaksanakan dan menemukan jalan dalam mempelajari Satra Jendra hayu Ningrat ini, namun sepertinya membentur tembok kosong… tiada jawaban satu pun yang dapat saya pegang sebagai dasar langkah saya menyusuri ilmu ini..
    Hari ini saya membaca pedaran sampean Ki, semoga sampean juga bisa menunjukan jalan dan perilaku dalam pengamalan ilmu ini, mengapa saya bersikukuh untuk belajar ilmu ini akan saya babar jika sampean menginginkannya (karena terlalu panjang). saya menantikan jawabanya Ki, bisa juga langsung lewat e-mail saya.
    Semoga Ki Sabdo Langit dan semua pengunung blog ini selalu dalam perlindungan Allah.. amiin..

  13. Assalamualikum, Salam damai rahayu dan sejahtera
    Yth. Ki Sabdolangit Meskipun saya belum tuntas dalam membaca pencerahan dari Aki di block ini, namun saua bisa rasakan keteduhan yang luar biasa. Pantesan bangasa Barat mengakui bahwasanya bangsa kita mempunyai cirikhas budi pekerti luhur dan adiluhung karya sastra, seni dan olah rasanya.
    Aki yang terhormat, pernah saya ditanya sama anak saya “Bagaimana tahu kalau Tuhan ada di dekat kita? (ngertine piye Pak yen Gusti Allah iku ana cedhak dewe? (basa jawa). Kemudian saya katakan sama anak saya “Nang pernah kamu mengambil sesuatu tanpa ijin, kemudian ada perasaan yang melarangnya?” kemudian dijawab anak saya “Ya Pak” . Nah itulah kepedulian Tuhan untuk kita semua yang mau mengindahkanNya. Maka aktiifkahlah HTmu (hati) yang artinya sarana hubungan kita dengan Tuhan. Dan kalau kita dengan sesama manusia kita aktifkan HP (hand phone) yang artinya hubungan dengan perorangan.
    Begitulah Ki percakapan pendek dengan anak saya. Dan setelah saya sekilas baca pencerahan Aki, betapa dangkalnya penanaman moral kepada anak saya. Maka dari itu Ki saya akan setia membaca semua pencerahan Anda sebagai penanaman moral yang hakiki tanpa tendesi apapun kepada anak saya nanti.
    Wassalam, rahayu kang samyo pinanggih.
    Amin

  14. Apakah ajian. Sastro jendro hayuningrat yg
    Dijual / dimaharkan di semarang oleh perguruan Parasjati itu benar2 asli. Sastro jendro??
    ?
    ?

    • Mas Prasas Yth
      Ilmu kesaktian itu banyak ragamnya. Dpt dikelompokkan paling tdk menjadi 3 ; ilmu kajiman, ilmu kanoman, ilmu kasepuhan. Ilmu ksepuhan termsuk ilmu yg sulit diperoleh krn hrs ditempuh melalui syarat “laku” terlebih dulu. Atas prinsip bahwa “ngelmu iku kalakone kanthi laku, lakune kalawan kas, kas tegese nyantosani (mring sesami), tansah kinaryo karyenak tyas sesama. Ilmu kasepuhan juga banyak skali tingkatannya, hingga mencapai tingkat ilmu kasampurnan. Sedangkan Ilmu kajiman dan kanoman, lbh mudah ditempuh dgn cara pintas. Tetapi kelemahannya jg banyak sekali. Ilmu yg ditempuh secara pintas, bisa jadi umpamanya kita terima gaji di awal bulan alias kas bon, yg kemudian kita masih berhutang “laku” dikemudian hari. Jika “hutang” itu tdk dipenuhi, ilmu yg didapat tak ada efeknya.
      Semog bermanfaat, salam karaharjan

      • Yth ki sabda,
        terima kaih atas pencerahannya

      • Terimaksih atas penjelasanya.

        Sastro jendro itu ada berapa tingkat?
        Saya sebnarnya tertarik dengan ilmu ini, saya sempat bertanya di semarang ,katanya harus bertirakat tidak tidur Magrib sampe magrib, untuk belajar ilmu ini, apakah itu salah 1 lelakunya,???
        maaf saya masih awam….

  15. salam ki sabdo….
    saya ingin nimbrung di forum ini karena ibu sy memberi nama dewi sukesi termasuk dalam pelaku sastra jendra hayuningrat pangruating diyu…bukanxa begitu jadi sy juga ingin sempurna dalam hidup namun bukan hanya teori tapi ilmu kasnyatan..

  16. ki maaf mgkn tulisan saya tidak pada tempatnya.saya mau tanya ki,pernah dulu dimlm jumat malam saya mengalami hal yang saya anggap halusinasi dalam keadaan sadar.dari badan(dada) kog bisa keluar cakra kemudian bintang delepan arah mata angin berwarna kuning keemasan dalam keadaan berpuutar,keduanya keluar scr berurutan.bgm ki,lama saya mencari maknaya.matur sembah nuwon mugi saged dados lereming ati.

  17. Salam rahayu ki.
    Matur sembah nuwon sanget dumateng panjenengan,tulisan ki sabda bener2 membuka kesadaranku yang selama ini tertutup oleh doktrin2 agama. Smoga dengen bimbingan ki sabda ini bisa membuka kesadaran spiritual saya.
    Sugeng rahayu.

  18. wehhh saudara lahir bathin pada diskusi disini ternyata , salam saudara lahir bathin dari poss induk sumatra

  19. dunia ghaib adlh sepenuhnya kekuasan gusti Alloh dan manusia tdk diberikan pengetahuan melainkan sedikit.
    jd bagi saudaraku yg sdh mencapai tingkat waskita jgn sombong…sesungguhnya yg anda lihat itu blm smua terungkap,ibarat mau msk rmh pagarnya sj blm kelihatan.
    hati2 jgn tertipu..

  20. Sastro Jendro pangruwating diyu I like this

  21. Luar biasa..belajarnya dimana ya?

  22. Blog seperti ini yang saya cari-cari. Sangat sangat bermanfaat. Ijin share ya gan. Trimakasih. Rahayu.

  23. Banyak yang membatas seseorang untuk mendalami, dan merasukkan ngelmu sejati lantaran orang tersebut sudah memakan dogma dan doktrin agama modern.
    Apakah ngelmu sejati ini hanya bisa dipelajari oleh orang ‘kejawen’? bagaimanakah kaum dari agamawan selain kejawen yang ingin mempelajarinya, apakah memungkinkan untuk memasuki dunia ini (semisal islam, katholik, kristen, budha) ?

    *apalagi orang islam selalu sudah menjudge bahwa hal gaib yang tidak diakui di al quran adalah syirik, orang kristen tidak terlalu mempercayai kegaiban..

  24. hormat saya sampaikan,perbedaan bukan berarti untuk berhenti,sikap baik belum tentu ditanggapi baik.Keadaan yang tidak mengenakkan”orang minta tidak diberi itu sakit, tetapi lebih sakit bila yang diberi tadak bisa menerima”.Tetapi harus kita sadari,seperti apa karakter wadah tersebut,tentu yang mengisi lebih mengerti.Arif dan bijak dibutuhkan…..

  25. Ngapunten dik Sabda…
    Seratan Dalem yg pertama babagan ” sastro Jendro ….”

  26. ass.wr.wb
    sugeng siang Ki Sabda, ngapuntene sakderenga
    salam kenal kagem para sesepuh dan semua yg b’kunjung di blog ini
    saya sangat ingin belajar ttg ajaran sastra jendra
    mohon bg yg b’sedia mengajari bs menghubungi sya ato sya hrs menghubungi siapa lwt apa/mana?
    matur nuwun

    salam asah asih asuh

  27. kalau cuma teori…anak kecil juga bisa……hehe
    tunjukkan donk dalam blog ini..kesempurnaanmu, pandanganmu ke ‘depan’…he

  28. saudara TEORI MELULU, anda sedang berlaku seperti namaku ya?

  29. Pamer bodo

    kalau ini menurut anda cuman teori, terus yg benar prakteknya harus bagaimana??

  30. ” SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT………………..,………………. ”

    sebuah puncak tinemuning laku Jawa
    Mlebet ing lampah Djawi
    Sebenarnya tidak bisa diwedar
    Ilmu ini tinemu marang kang memang ke ” jatah ”
    Yen ana rasa pingin, wis ora iso
    Iso mangerteni, tapi ” nyembadani ” langka

    Menika ilmi kang tumeko saking lampah saenipun ati, fikir, lesan, tumindaking manungsa sepanjang masa hidupnya
    Dulu jaman Jawa Kuno, yang mendapat derajat tertinggi menjadi manusia yg terunggul
    Sehingga menjadi Raja, karena berwibawa, terpercaya bisa menyelesaikan persoalan pada masanya, paling disegani
    Biasanya diterima bisa di ” sembadani ” oleh Raja Raja Pertama, perintis Kerajaan.
    Berikutnya diajarkan dikalangan internal kerajaan secara sistematis dan turun temurun
    Di internal kerajaan, umum mengatakan kalangan ningrat, darah biru
    Sanepan, sign : pribadi yg ‘ tinggi luas ‘ seperti biru nya ………….., …………….
    Disitupun tdk semua raja berikutnya mampu menguasai sampai derajat tertinggi
    Tetapi tetap ada yg bisa mencapainya, karena memang genotipenya bisa menguasai

    Diluar keluarga ningrat juga ada yg menguasai
    Tetapi pribadi yg bisa mencapai fase tertinggi pasti juga punya “tepo seliro high level ”
    Bersahabat dgn para keturunan raja tapi tahu diri dan menghormati
    Berkonsisten tdk ” merebut jabatan ”
    Berkenan sebagai sebagai pengawal, pendamping, bahkan abdi dalem atau
    ” munakawan “.
    Wujud bisa penasihat, demang, senopati, patih, prajurit atau teman berkelana
    Bahkan tdk menampakkan keberadaannya
    Karena pemilik ilmu sastra jendra..pasti tidak terlalu memikir jabatan duniawy atau kematerian

    Bahwa di kalangan ningrat, tetap ada yg jadi raja
    Ya..karena sistemnya menghendaki ketiban mandat jadi raja
    Sesama pribadi pemilik sastra jendra bisa saling ” tahu ” satu sama lain
    Saling memback up tanpa perlu ditampakkan
    Konsisten menjalankan tugas masing2 sudah saling tahu, dan saling kawal mengawal tampak maupun tdk tampak manusia lain
    Maaf , ngapunten menika mukjizatnya laku lampah Djawi

    Genotype, dan ” jatah ” dari hang maha Agung
    Bisa dari rasa ingin belajar, bisa dari membaca tulis, bisa dari bimbingan manusia lain
    Tapi level tertinggi memang dari genotipe n ” jatah ” dari hasil laku lampahnya manusia kang adiluhung selama perjalanan hidupnya

    Nyuwun sewu menawi wonten tiang lampah Jowo, Jawa, Djawi
    Tetapi sok maido hirarki kerajaan, keluarga ningrat, menafikan..
    Aduh ngapunten ..pasti dereng tinemu lampah Jawa , Jowo ingkang sejatosipun.
    Ngapunten saestu kagem sedaya
    Menapa maleh wujud ngendikanipun, lewat tulisan atau apapun medianya…begejekan, lan lintu lintunipun, pasti manusia tersebut belum menyentuh Jowo, hanya merasa, biasanya dapat dari mendengar, lan maos druwang kemawon……
    Kedah laku lampah jiwaraga, batos, raos, sedaya lelampahan tuntunan laku raga lan manah Jawa dijalankan sepanjang hidupnya.
    ( ngapunten kepekso nyerat supados dunung, teges babagan kawruh lampah Djawi )

    Uluk karaketan kagem lungit linungit sekawan ing Allam Ndonya
    Sugeng Enjang kagem …………………………………..

    One for all
    Keep smile, cool n wise
    Keep smile

    ” smile bird “

  1. Ping-balik: MAKNA KEMBANG SETAMAN | daniswara2012

  2. Ping-balik: MAKNA BUNGA « agusbocahnakal : Berbagi Untuk Negeri

  3. Ping-balik: Dodik An Natsir

  4. Ping-balik: Makna Bunga menurut ki Sabda Langit | Mlathi Wulung

  5. Ping-balik: Kandjeng Pangeran Karyonagoro – Bahasa Simbol (Makna Bunga)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 931 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: