Mengenal Berbagai Simbol Penghormatan
Dalam falsafah hidup Jawa, berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang diagungkan. Orang Jawa yang memahami hakekat hidup, tentunya akan sangat memahami apabila kesuksesan lahir dan batin tak akan bisa diraih apabila kita menjadi seorang anak atau generasi penerus yang durhaka kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya. Ungkapan rasa berbakti, tidak hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yang ditujukan kepada leluhurnya. Lebih dari itu, harus ada langkah konkrit sebagaimana telah saya posting dalam thread terdahulu dengan judul “Membangun Laku Prihatin yang Pener dan Pas” dan Hubungan Leluhur dengan Kembalinya Kejayaan Nusantara. Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji, yang dimaksud sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik sehingga masih dapat kita nikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup kita.
Berikut ini adalah beberapa contoh menu persembahan sebagai ungkapan rasa menghormati kepada leluhur (sesaji). Masing-masing uborampe mempunyai ciri khas dan makna yang dalam. Tanpa memahami makna, rasanya persembahan sesaji akan terasa hambar dan mudah menimbulkan prasangka buruk, dianggap sesat, tak ada tuntunannya, dan syirik. Tetapi semua prasangka itu tentu datang dari hasil pemikiran yang tak cukup informasi untuk mengenal dan memahami apa makna hakekat di balik semua itu.
Saya ambil contoh, misalnya para orang tua zaman dulu suka menabur bunga setaman di perempatan jalan. Tetapi lama-kelamaan tradisi itu hilang karena orang takut dituduh musrik dst. Padahal, sesungguhnya orang yang menabur bunga di perempatan jalan sambil mengucapkan doa yang mensiratkan makna yang dalam dalam limpahan kasih sayang yang tidak pilih kasih. Adapun doanya misalnya sebagai berikut :
Ya Tuhan…berilah keselamatan dan berkah kepada siapapun yang melewati jalan ini, baik manusia, makhluk halus, maupun binatang apapun jenis dan namanya.
Doa dan apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari budi pekerti mereka yang sungguh adiluhung. Melakukannya penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Tentu saja doa yang mengandung ketulusan dan kasih sayang yang berlimpah itu, akan beresonansi dan bersinergi dengan energi alam semesta yang penuh limpahan berkah. Alam menyambutnya dengan limpahan berkah dan keselamatan lahir batin kepada seluruh makhluk yang melewati perempatan jalan itu. Itulah kodrat alam yang telah terbentuk dalam relung-relung hukum keadilan Tuhan.
Kembang
Atau bunga. Bermakna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah-safa’at yang berlimpah dari para leluhur, dapat mengalir (sumrambah) kepada anak turunnya. Menurut pengalaman saya pribadi, masing-masing aroma bunga, dapat menjadi ciri khas masing-masing leluhur. Desa mawa cara, negara mawa tata. Beda daerah, beda masyarakatnya, beda leluhurnya, beda pula tradisi dan tata cara penghormatannya. Bahkan aroma khas bunga serta berbagai jenis dedaunan tertentu sering menjadi penanda bau khas salah satu leluhur kita. Bila bau harum bunga tiba-tiba hadir di sekitar anda, kemungkinan besar ada salah satu leluhur anda yang hadir di dekat anda berada.
Kembang Setaman
Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni, mawar, melati, kanthil, dan kenanga. Lihat dalam gambar.
Adapun makna-makna bunga tersebut yang sarat akan makna filosofis adalah sbb :
1. Kembang KANTHIL, kanthi laku, tansah kumanthil
Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani (Lihat dalam thread; Serat Wedhatama). Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin, setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa. Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama). Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus. Yakni cirahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para leluhurnya. Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk. Jika semua umat manusia bisa melakukan hal demikian tanpa terkotak-kotak ragam “kulit” agama, niscaya bumi ini akan damai, tenteram, dan sejahtera lahir dan batinnya. Tak ada lagi pertumpahan darah dan ribuan nyawa melayang gara-gara masing-masing umat manusia (yang sesungguhnya maha lemah) tetapi merasa dirinya disuruh tuhan yang Maha Kuasa. Tak ada lagi manusia yang mengklaim diri menjadi utusanNya untuk membela tuhan Yang Maha Kuasa. Yaah, mudah-mudahan untuk ke depan tuhan tak usah mengutus-utus manusia membela diriNya. Kalau memang kita percaya kemutlakan kekuasaan Tuhan, biarkan tuhan sendiri yang membela diriNya, biarkan tuhan yang menegakkan jalanNya untuk manusia, pasti bisa walau tanpa adanya peran manusia! Toh tuhan maha kuasa, pasti akan lebih aman, tenteram, damai. Tidak seperti halnya manusia yang suka pertumpahan darah !! Seumpama membersihkan lantai dengan menggunakan lap yang kotor.
2. Kembang MLATHI, rasa melad saka njero ati.
Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja.
3. Kembang KENANGA, Keneng-a!
Atau gapailah..! segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).
4. Kembang MAWAR, Mawi-Arsa
Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur hendaknya dengan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih (tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. Pahala tetap saja “upah” yang diharapkan datang dari tuhan apabila seseorang melakukan suatu perbuatan baik. Pamrih pahala ini tetap saja pamrih, berarti belum mencapai ketulusan yang tiada batas atau keadaan rasa tulus pada titik nihil, yakni duwe rasa, ora duwe rasa duwe (punya rasa tidak punya rasa punya) sebagaimana ketulusan tuhan/kekuatan alam semesta dalam melimpahkan anugrah kepada seluruh makhluk. Pastilah tanpa pamrih.
4.1. Mawar Merah
Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke dunia fana. Yakni lambang dumadine jalma menungsa melalui langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu adalah tempat per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir. Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah (bubur manis gula jawa).
4.2. Mawar Putih
Mawar putih adalah perlambang dari bapa yang meretas roh kita menjadi ada. Dalam lingkup makrokosmos, Bapanya adalah Bapa langit, Ibunya adalah Ibu Bumi. Bapanya jiwa bangsa Indonesia, Ibunya adalah nusantara Ibu Pertiwi. Keduanya mencetak “pancer” atau guru sejati kita. Maka, pancer kita adalah pancerku kang ana sa ngisore langit, lan pancerku kang ana sa nduwure bumi. Sang Bapa dalam bancakan weton dilambangkan pula berupa bubur putih (santan kelapa). Lalu kedua bubur merah dan putih, disilangkan, ditumpuk, dijejer, merupakan lambang dari percampuran raga antara Bapa dan Ibu. Percampuran ragawi yang diikat oleh rasa sejati, dan jiwa yang penuh cinta kasih yang mulia, sebagai pasangan hidup yang seiring dan sejalan. Perpaduan ini diharapkan menghasilkan bibit regenerasi yang berkwalitas unggul. Dalam jagad makro, keselarasan dan keharmonisan antara bumi dan langit menjadukan keseimbangan alam yang selalu melahirkan berkah agung, berupa ketentraman, kedamaian, kebahagiaan kepada seluruh penghuninya. Melahirkan suatu negeri yang tiada musibah dan bencana, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja.
Kembang Telon
Terdiri tiga macam bunga. Bisa menggunakan bunga mawar putih, mawar merah, dan kanthil. Atau mawar, melati, kenanga. Atau mawar, melati, kantil. Telon berasal dari kata telu (tiga). Dengan harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup (tri tunggal jaya sampurna). Sugih banda, sugih ngelmu, sugih kuasa.
Kembang Boreh, Putihan
Terdiri dari tiga macam bunga yang berwarna putih. Yakni kanthil, melati, dan mawar putih. Ditambah dengan “boreh” atau parutan terdiri dua macam rempah; dlingo dan bengle. Agar segala sesuatu selalu dalam tindak tanduk, perilaku yang suci murni. Karena putih di sini melambangkan kesucian dan ketulusan hati. Kembang telon bermakna pula sebagai pengingat agar supaya kita selalu eling dan waspada.
Kembang Tujuh Rupa
Berupa kembang setaman ditambah jenis bunga-bunga lainnya sampai berjumlah 7 macam. Lebih sempurna bila di antara kembang tersebut terdapat kembang wora-wari bang. Atau sejenis bunga sepatu yang wujudnya tidak mekar, tetapi bergulung/gilig memanjang (seperti gulungan bulat memanjang berwarna merah). Ciri lainya jika pangkal bunga dihisap akan terasa segar manis. Kembang tujuh rupa, dimaksudkan supaya apa yang sedang menjadi tujuan hidupnya dapat terkabul dan terlaksana. Tujuh (Jawa; pitu) bermakna sebuah harapan untuk mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari tuhan yang Mahakuasa.
Rujak Degan
Atau rujak kelapa muda. Degan supaya hatinya legan, legowo. Seger sumringah, segar bugar dengan hati yang selalu sumeleh, lega lila lan legawa. Hatinya selalu berserah diri pada tuhan, selalu sabar, dan tulus.
Dlingo dan Bengle
Keduanya termasuk rempah-rempah, atau empon-empon. Bengle bentuk luarnya mirip jahe. Tetapi baunya sangat menyengat dan bisa membuat puisng. Sedangkan dalamnya berwarna kuning muda. Karena baunya yangmblenger sehingga di Indonesia jenis rempah ini tidak digunakan sebagai bumbu masak. Sebaliknya di negeri Thailand rempah ini termasuk sebagai bumbu masak utama. Entah apa sebabnya, bengle dan dlingo merupakan rempah yang sangat tidak disukai oleh bangsa lelembut. Sehingga masyarakat Jawa sering memanfaatkannya sebagai sarana penolak bala atau gangguan berbagai makhluk halus. Anda dapat membuktikannya secara sederhana. Bila ada orang gila yang dicurigai karena ketempelan mahluk halus, atau jika ada seseorang sedang kesurupan, coba saja anda ambil bengle, atau parutan bengle, lalu oleskan di bagian tubuhnya mana saja, terutama di bagian tengkuk. Anda akan melihat sendiri bagaimana reaksinya. Biasanya ia akan ketakutan atau berteriak histeris lalu sembuh dari kesurupan. Dalam tradisi Jawa, jika ada orang meninggal dunia biasanya disiapkan parutan bengle dicampur dengan sedikit air digunakan sebagai pengoles bagian belakang telinga. Gunanya untuk menangkal sawan.
Bahkan pengalaman saya pribadi, setiap hidung ini mencium bau bengle, menandakan ada seseorang yang berada di dekat saya waktu itu, yang akan meninggal dunia.
Dlingo bengle, walaupun keduanya sangat berbeda bentuk dan rupanya, tetapi baunya seolah matching, sangat serasi dan sekilas baunya hampir sama. Dlingo dan bengle ebrmanfaat pula sebagai sarana memasaang pagar gaib di lingkungan rumah tinggal. Dengan cara ; dlingo dan bengle ditusuk bersama seperti sate, lalu di tanam di setiap sudut pekarangan atau rumah.
Begitulah pelajaran berharga yang kini sering dianggap remeh bagi yang merasa diri telah suci dan kaya pengetahuan. Di balik semua itu sungguh memuat nilai adiluhung sebagai “pusaka” warisan leluhur, nenek moyang kita, nenek moyang bangsa ini sebagai wujud sikapnya yang bijaksana dalam memahami jagad raya dan segala isinya. Doa tak hanya diucap dari mulut. Tetapi juga diwujudkan dalam bergai simbol dan lambang supaya hakekat pepeling/ajaran yang ada di dalamnya mudah diingat-ingat untuk selalu dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ajaran adiluhung yang di dalamnya penuh arti, sarat dengan filsafat kehidupan. Kaya akan makna alegoris tentang moralitas dan spiritualitas dalam memahami jati diri alam semesta, jagad nusantara, serta jagad kecil yang ada dalam diri kita pribadi.















55 tanggapan kepada “Bahasa Simbol (Makna Bunga)”
SantriGendeng
Mei 2nd, 2010 pada 01:23
Yth.mas sabda.
trimakasih sekali atas postingannya, dan sungguh luar biasa gambaran ttg buga yg mensiratkan ttg kehidupan, betapa mulia leluhur kita yg mewariskan kearifan dlm menjalani hidup ini.
gambaran bunga yg mas jabarkan sungguh sangat bermanfa,at apa lagi jika kita mau untk menela,ah dan belajar lewat bunga itu sendii.
bahwa :bunga itu ga otomatis atau tiba 2 ada ,
1.harus di tanam dulu pohonnya.
2. melalui pertumbuhan dulu ga langsung berbunga. [ hakekat ]
3.setelah berbunga dan jika tidak jatuh maka akan menjadi buah, [ma,rifat ]
kebetulan mas, di tanah yg gersang dan sangat panas ini, aku menanam cabe[lombok] utk ku pelajari , mungkinkah dlm keada,an sprti ini, akan tumbuh .berbunga, dan berbuah,tapi ternyata ;meskipun bnyk sekali bunga 2 yg berjatuhan, dlm usia yg ke 9 bulan ada buahnya juga.
mengambil hikmah dari : menanam, tumbuh, BERBUNGA, lalu berbuah.
hidup ini[dunia ini] tanaman utk hari nanti [ahirat]
tanaman kita adlh pohon kebaikan,dgn tulus ihlas maka akan BERBUNGA [mengeluarkan bau harum] lalu jika ga jtuh, mka akan berbuah [ buah dari perbuatan kita]
dan smua itu harus kita jalani dgn penuh kesadaran dan kewaspada,an , mengingat bahaya / penyakit akan datang dari segala penjuru.
terimakasih bnyk mas, yg tak henti hentinya dlm mengajari kita untk selalu belajar manembah dgn apapun yg ada di sekitar kita.
mudah 2han mas sekluarga menjadi bunga bagi kehidupan ini.dan menjadi buah yg bisa menghilangkan lapar dan dahaga bagi kita semua dlm menjalani hidup ini.
mohon ma,af lho mas, ats kelancangan saya.
salam rahayu.
sapto
Mei 2nd, 2010 pada 05:17
Semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah untuk Mas Sabda sekeluarga.
Lama juga kayaknya saya nggak sowan diblognya:-).
Pemaparan falsafah bunga semoga memberi pemahaman seimbang, sehingga tidak akan terjadi “sing nglakoni ora ngerti karepe,sing ngarani ora ngerti karepe”.
Suatu pelajaran yg memberikan wawasan bahwa kita melakukan sesuatu mengerti apa yg kita lakukan dan tidak mudah untuk memvonis orang lain.
Salam karaharjan
sunarto
Mei 2nd, 2010 pada 22:52
Rahayu..rahayu dumateng sedaya mahluk…
Matur nuwun sampun njlentrehke makna yang tersirat dari simbolisasi bunga sebagai sesaji para leluhur.
Ada yang ingin saya tanyakan mengenai dlingo & bengle. Sering saya mendengar dari obrolan orang-orang tuwa yang kurang lebih berbunyi seperti ini : “aja ngono kuwi, ngadohke dlingo bengle”,
niku teges’e pripun Ki? Apa maksud yang tersirat dari sanepan tersebut?
Salam rahayu..
Priyo utomo
Mei 2nd, 2010 pada 23:47
Maturnuwun sanget mas atas wedaranya smoga ini bisa menambah wawasan sedulur kabeh tentang luhurnya warisan leluhur kita yg hrs trus diuri2 agar tidak punah oleh majunya jaman yg smakin edan yg tak lagi mengikuti pitutur2 atau tradisi para leluhur.oh ya mas sabda kl sy ingin ngangsu kawruh bab kejawen slain dithred ini apakah ada buku atau primbon yg beredar di pasaran mohon infonya matur nuwun.salam rahayu sentosa mas sabda lan sedulur kabeh.almat serat kulo f_riyo@yahoo.com
Haris Istanto
Mei 3rd, 2010 pada 08:21
Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Wisata kepulau Bali”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan tolong dikomentarin yaaa. Makasiiih.
kanthil
Mei 3rd, 2010 pada 14:01
menurut yang saya pahami, dalam agama apapun tidak pernah tuhan menyuruh makluknya untuk melakukan pembelaan pada dirinyaNYA karena memang sifat tuhan itu tidak membutuhkan sesuatu yang lain,tapi karena sifat manusia itu selain mewarisi sifat tuhan tetapi juga dikarunia oleh tuhan nafsu, sehingga nafsu inilah yang mempengaruhi manusia untuk menjadikan tuhan sebagai alatnya untuk mencapai keinginaanya,sebenarnya ini adalah sesuatu yang kelewat batas.tapi ya itulah manusia,kadang sering berlaku menyalahi kodrat alam sehingga berperilaku kelewat batas.
ngabehi
Mei 3rd, 2010 pada 16:19
Kembang kantil warna seta
tandha yekti tulus suci ing wardaya
Welas asih mring sasama
Tansah raharja kalis saking rubeda
lir melati saumpama
ngambar arum gandane anunjem grana
tansah bekti mring wong tuwa
ngono iku dadi dalane suwarga
ari__
Mei 3rd, 2010 pada 17:08
Amiin Kang mas sabda, smg pencerahan diatas dapat bermanfaat bagi kami & menjadikan ladang amal baik bagi mas sabda.
Terima kasih atas ilmu serta tata cara yg telah di share kan kpd kami, smg menjadi tuntunan untuk lbh baik dalam tata cara pelaksanaan dalam menghormati para leluhur.
Wassalam, salam rahayu
SABDå
Mei 4th, 2010 pada 00:34
Kang Santri Gendeng Yth
Terimakasih panjenengan sampun kersa medar ular-ular, memaknai kehidupan ini secara dalam. Apa yg panjenengan jabarkan tentunya bermanfaat utk lebih memahami arti kehidupan ini secara lebih bijaksana.
Mas Sapto Yth
Paling tidak, kita melakukan segala sesuatu tidak dengan cara ikut-ikutan, taklid, asal-asalan, tetapi bisa memaknai setiap simbiol-simbol kehidupan, dan sadar sepenuhnya akan plus minusnya setiap langkah dan perbuatan yg kita lakukan.
Mas Sunarto Yth
Mengenai pertanyaan Panjenengan ;
Ada yang ingin saya tanyakan mengenai dlingo & bengle. Sering saya mendengar dari obrolan orang-orang tuwa yang kurang lebih berbunyi seperti ini : “aja ngono kuwi, ngadohke dlingo bengle”,
niku teges’e pripun Ki? Apa maksud yang tersirat dari sanepan tersebut?
Jawab;
Suatu perbuatan yg kurang baik, kenyataannya akan mengurangi kekuatan “pagar gaib” dalam diri kita. Kita tahu, bahwa “pagar gaib” kita yg “asli” akan muncul dgn sendirinya apabila kita selalu melakukan kebaikan kepada sesama, lingkungan alam dan seluruh makhluk.
Mas Priyo Utomo Yth
Saat ini sangat banyak sekali diterbitkan buku-buku tentang piwulang Jawa, kebudayaan, tradisi, falsafah hidup Jawa, kitab primbon, horoskop Jawa dst. Panjenengan bisa mendapatkannya di berbagai toko buku, namun tampaknya yg paling lengkap di Gramedia. Jika di Jogja panjenengan bisa mendapatkannya di pasar buku (shoping center), dekat pasar induk Beringhardjo, atau sebelah timur Taman Pintar, Gondokusuman.
Mas Haris sutanto yth
Trims atas linknya, cukup menarik bila suatu waktu kami wisata ke Pulau Dewata.
Kanthil Yth
Ya, sepakat. kiranya tuhan itu sudah Mahakuasa, jadi tidak perlu menyuruh-nyuruh manusia. Sebab manusia itu tempatnya salah dan lemah. Kalau memang mau merombak suatu tatanan, tinggal sebul saja pasti dalam sekejap sudah berubah tanpa harus terjadi pertumpahan darah, perang, dan kekerasan akibat konflik agama.
Ki Ngabehi Yth
Matur sembah nuwun Ki atas pusisinya. Mengingatkan saya sewaktu kanak-kanak, sering didengarkan tembang yg hampir mirip di atas.
Mas Ari Yth
Kembali kasih Mas Ari, semoga panjenengan selalu dalam limpahan berkah dan anugrah Gusti. Jika sudah sabar, musti lebih sabar lagi. Jika sudah tulus, musti lebih tulus lagi. Keduanya adalah pelajaran yg tak pernah ada kata usai.
salam karaharjan
salam sih katresnan utk seluruh pembaca yg budiman
tomy
Mei 4th, 2010 pada 12:36
matur nuwun sanget Mas, menika artikel ingkang sampun kula tengga.
menawi kembang macan kerah napa wedharanipun Mas?
kalih nyuwun pirsa babagan Trimaya ingkang medal saking kebuk, kula angsal kawigatosan mekaten nanging dereng kepanggih buku ingkang saged paring katrangan bab menika
sariah
Mei 4th, 2010 pada 15:37
Assalamualaikum wr wb, Saya selalu mengikuti tulisan Mas Sabda meski jarang memberi komentar. Mau tanya Mas, Benarkah bahwa ajaran memberikan sesaji kepada leluhur kita dipelopori oleh penghulu para wali, Syekh Abdul Kadir Zailani…? Saya percaya bahwa sejak zaman Kabil dan Habil (Anak Nabi Adam) tradisi memberi persembahan sudah dimulai… Tradisi bertapa atau tafakur juga pernah dilakukan Nabi Muhammad sendiri ketika menyendiri di Gua Hira… Pertanyaan saya mengapa banyak orang Islam tidak sadar bahwa beberapa kebiasaan ini pernah dilakukan Rasulullah? Ya saya termasuk orang yang dianggap musyrik oleh keluarga saya karena sering melakukan tradisi memberi sesaji…. Saya ingin mengikuti jejak Mas Sabda, tapi ada yang bilang ga semua orang tergaris seperti Mas.
suprayitno
Mei 4th, 2010 pada 23:14
SESAJI, UNTUK SIAPA?
Masyarakat kota Semarang niscaya sering melihat bunga-bunga yang berserakan di perempatan jalan, bahkan saya pernah melihat ada kelapa muda yang ujungnya telah terbuka sengaja ditaruh persis ditengah perempatan jalan. Saya tahu semua benda-benda itu pastilah dimaksudkan untuk sesaji (sajen), tujuannya mungkin agar semua yang melewati perempatan tersebut aman-aman saja atau tidak terjadi kecelakaan. Ritual pemberian sajen memang memiliki nilai magis yang sangat tinggi. Sebab, mereka menganggap selain dunia kasunyatan yang jelas tampak secara fisik, terdapat juga “dunia lain” yang non fisik. Non fisik (abstrak) sering digambarkan atau dipersonifikasikan sebagai perwujudan riil. Artinya, alam lelembut digambarkan bisa lapar dan haus, marah, berbuat jahat atau baik (menolong) dan seterusnya layaknya seperti tingkah laku manusia. Oleh karena itu, alam lelembut sering diberi sesajen yang macam-macam seperti aneka makanan dan minuman, rokok, tembakau dan kertas sigaretnya, perangkat untuk makan sirih (nginang), kemenyan dan beraneka ragam bentuk sajian lainnya, agar mereka tidak marah.
Melihat fenomena magis seperti itu, kadang saya berpikir kok tidak nyambung antara apa yang dipikirkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi? Mereka berpikir (dan yakin tentunya) bahwa jika alam lelembut tidak diberi sesaji tentu akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara yang sesungguhnya terjadi, apa benar alam lelembut membutuhkan sajian berupa benda-benda yang bersifat nyata, seperti aneka makanan, bunga-bungaan dan sebagainya? Belum pernah ada jawaban pasti, yang ada hanyalah “keyakinan” atau prasangka. Mestinya kalau kita menggunakan rumus logika, yang non fisik (ghaib) atau alam lelembut, seharusnya tidak membutuhkan yang fisik karena pasti tidak nyambung. Misalnya, bagimana mungkin sesuatu yang ghaib membutuhkan makan dan minum, layaknya manusia yang masih hidup saja? Apa iya di dunia ghaib ada rasa lapar dan haus? Jika iya,maka tak ada bedanya dong antara yang fisik dengan yang non fisik (ghaib), ini kan kekeliruan berpikir namanaya. Benarkah dunia ghaib sering mencampuri urusan manusia atau jangan-jangan hanya manusianya saja yang over estimate (geden rumongso)?
Saya melihat kesalahan umat manusia sering terjebak pada hal-hal yang bersifat abstrak (ghaib) sebagai dunia yang “pasti/nyata”, sehingga lahirlah sikap fanatisme dan kadangkala radikalisme demi membela keyakinan dunia ghaibnya. Dunia ghaib termasuk alam lelembut pastilah dunia tanpa batas, yang tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Tetapi mengapa manusia justru sering membatasinya dengan pikiran-pikiran atau keyakianan-keyakinan bahwa “seolah-olah” keberadaan Sang Ghaib telah berhasil “diidentifikasi/ditangkap” dengan berbagai ciri-ciri-Nya. Untuk melengkapi keyakinananya, proses identifikasi ini sering menggunakan media wahyu atau wangsit, sehingga terjadilah berbagai macam aliran kepercayaan sesuai dengan “bunyi wahyu” yang berhasil mereka tangkap. Repotnya mereka saling berlomba mengaku yang paling “valid”, dan sama-sama mengaku mendapat wahyu dari Sang Maha Ghaib. Padahal, sesungguhnya “hakekat kebenaran” itu tak akan pernah berlari, meskipun manusia saling berlomba mengejar-Nya.
Wongkawam
Mei 6th, 2010 pada 11:14
Pembahasan @Kang Suprayitno masuk akal juga !!!
Apakah benar komunitas ghaib membutuhkan hal-hal yang kongkrit seperti sesajen yang disuguhkan oleh manusia yang hidup di alam nyata…?, bukankah kebutuhan makhluk ghaib pasti ghaib juga, dan kebutuhan manusia di alam nyata ya hal-hal yang nyata saja…?.
Sekilas bila di fikirkan benar adanya…….
Tapi jangan lupa bahwa manusia itu berkehidupan di dua alam, yakni lahir(nyata) dan bathin(halus), jiwa dan raga, jasmani & ruhani. Demikian pula benda-benda kongkrit yang terdapat dalam sesaji pun mempunyai efek, energy, aura yang ghaib pula, sebab apapun itu benda tumbuhan kelihatannya saja oleh mata sebagai hal yang kongkrit, tapi manfaat, khasiat, apapun yang ada dibalik benda itu bisa ber efek ghaib.
Demikian pula jiwa manusia yang ghaib, dapat kita rasakan sangat tergantung kepada hal-hal kongkrit yang dikonsumsi oleh raga jasmani, dimana perlakuan jasmani ber efek kepada kesehatan dan kecerdasan jiwa.
Dan jangan lah upa bahwa sesungguhnya apa yang disebut hal dan makhluq ghaib sebenarnya terdiri dari materi -materi juga, hanya materi itu komposisinya berbeda dengan materi jasad manusia. Semua makhluq dijagat terdiri dari berbagai unsur materi seperti hal nya Tanah-Air-Udara-Panas. Hanya dalam penglihatan manusia unsur-unsur matyri tsb ada yang tampak mata jelas kongkrit dan yang terasa.
Semuanya dapat dideteksi dan difahami melalui kemampuan INDERA manusia yang sangat lengkap dan terpadu, mengingat manusia mewakli seluruh unsuir materi makhluq di jagat raya.
Mohon maaf bila tanggapan saya berbeda dengan Kang Suprayitno, hanya sekedar sharing menambah wawasan.
Trims
ahmad murtadlo
Mei 7th, 2010 pada 17:48
assalamualikum ki sabda? salam kenal……..mohon ijin baca baca dan mengcopy semua tulisan di blog njenengan. untuk lebih mudah mempelajarinya. soalnya ga kuat mbaca di depan komputer, jadi diprint dulu, baru dipelajari. salam asih asuh, sepuro sinepuro, dungo dinungo.
===================
Sumonggo dipun sekecakaken ing manah Mas Ahmad. Mugi saget migunani tumrap kesaenaning gesang.
Rahayu karaharjan
Yang-Kung
Mei 7th, 2010 pada 17:49
matur nuwun Ki ulasanipun.Memang “makna bunga ” beda daerah,beda masyarakatnya,beda leluhurnya dan tradisinya.Mungkin bisa dijelaskan makna bunga semboja yang dipasang ditelinga bagi orang Bali ,juga makna bunga/daun suruh yang dilemparkan antara temanten pria & wanita saat temu temanten.
Sekali lagi terima kasih atas penjelasannya.
salam rahayu.
sastrotukimin
Mei 8th, 2010 pada 10:14
Salam mas sabda absen nih,mohon dilengkapi mas misal kembang wangi,kerah macan dll dan kegunaannya.Nuwun
Ngabehi
Mei 8th, 2010 pada 14:28
Begitu misterusnya sekuntum bunga, sehingga menjadi berbagai istilah atau seloka , sasmita dalam kehidupan ini,
Contoh:
1. suluknya pak dalang..
hoooooonnng, wanodya ayutama ngambar arum, kongas gandanya lir sekar gadung, heeeennnng…
2. Pernyataan Mbah Sunan Kali
Jebeng, lamun sira wus bisa sumurup kembang tepus yekti wus sampurna kawruhira…
3. dan ini surat dari Romo Pran-Soeh kepada salah satu muridnya
” Hasareng punika, kula ngintunaken wiji kemiri, kajawi punika kula gadhah wiji sekar mandhalika, nedheng-nedhengipun mekar-mekar, kula kinten sae lan cocog sanget katanema wonten Gunungkidul.
4. sang Buddha sering di lukiskan duduk khidmat di atas bunga teratai.
5. Kira2 10 tahun lalu, ada orang iseng yang mengirimkan bunga yang sudah kering dibungkus mori kuburan kerumah orang tua saya, mungkin sejenis guna-guna.
Begitu hebatnya sekuntum bunga (Kembang) sehingga bisa dijadikan simbol pengajaran filsafat, media guna-guna, untuk pengobatan dan juga sebagai hiasan di pekarangan rumah maupun dalam rumah. Namun ada sekuntum bunga yang paling berbaya bila disentuh di dunia ini, yaitu”Sekar Kedaton”, he he.
saputro
Mei 8th, 2010 pada 21:58
Yth, mas Sabda
Sangat menarik postingannya dan begitu mendalam, menambah pengetahuan dalam pembelajaran saya, terima -kasih.
Rahayu
cak hanif
Juni 8th, 2010 pada 15:16
kulo tetep tumut ndeprok mawon Ki…. bahasane puniko MANTAB
sari
Juli 17th, 2010 pada 14:42
Yth. mas sabda,
saya pernah mimpi mengenai bunga dan sampai skrg saya masih belum tau maknanya.
dalam mimpi saya lihat 4 tanaman bunga yaitu bunga melati, ceplok piring, kamboja, dan bunga sepatu semuanya warna putih. Bisa diartikan maknanya, sampai skrg sy masih penasaran. trima kasih. Berkah Dalem.
NEKUKDENGKUL
Agustus 18th, 2010 pada 03:16
Kulo nuwun…nuwun sewu. Bunga…bunga… Ditanam dirawat dipekarangan rumah bunga apapun tmpak menyenangkan, meng indahahkan bagi orang yg melihat. Bunga… Bunga…klo sudah dipakai ritual, sajen atau untk tujuan tertentu menjadikan fenomena, bagi yg melihat…oh bunga yg misteri… Hikmah apaaa yg bisa kuambil…sisi lain jadi lambang, makna, mistik…juga jadi madu dan racun. Walah2 hikmah nya kok misterius maneh… Opo yo ngono mbah SBL Salam 3A
wee
Oktober 19th, 2010 pada 01:35
jerit hati ingin kembali pulang ke asal……
Alyalouhan
November 19th, 2010 pada 23:03
Ass. Ki itu bgus bgt biar semua orang ga asal menganggap mengecap musryik or syirik tnpa tau arti’y,biar mereka pda pham bhwa ga ada orang tua yg ingin mencelakakan anak cucu,y termsuk pra leluhur kta ini,krna yg sya alami sekarang mendingan jga didikan jman dahulu dri pda jman skrang sya lbh tentram dngan ajran dlu maupun itu lain agama toh dlu ga da prbedaan.Sya sngat suka ini ki,krna sya bsa tau mengpa sya slalu disruh membwa bunga or memakan bunga jenis kantil dn melati ternyta makna’y sngat baik sekali
Budak angon
November 22nd, 2010 pada 20:05
Menurut sy yg awam, kt lahir ke dunia ini lahir juga sdr2 kt 45, lahir juga jin, juga setan, kumplit! Badan satu tp selalu ramai! Tiap hari berantem.
Kalau kt mati? Pd kemana mrk? Shrsnya semua menyatu jadi satu itu mati sampurna. Cahaya yg mencar td sll berhub dgn anak cucu melalui lambang2. Surga msh kosong he he …
Budak angon
November 22nd, 2010 pada 20:15
Cahaya2 leluhur kt yg mencar kemana2 itu punya kekuatan doa yg ampuh kpd allah/sanghyang widi? Jin, juga setan?
Mrk suka dgn simbol2, mrk bs aja tinggal dimn yg mrk suka. Kamu juga akan ngalami nanti?
Budak angon
November 22nd, 2010 pada 20:26
Banyak leluhur kt meninggalkan jejak berupa simbol2 spt ka’bah, masjid ada kubah bln bintang, salib, candi, rangkai bunga sbg tanda mrk dtg memberi pertolongan dll
wiwid
Desember 19th, 2010 pada 21:51
Sekarang saya semakin yakin bahwa apa yang saya buat ( sesaji bunga dan bubur merah putih) selama ini bukanlah suatu hal yang salah, mungkin karena dulu waktu saya masih kecil belum memahami sewaktu kedua orang tua saya membuat sesaji utk para leluhur mengharap doanya agar di berikan keselamatan lahir batin. Sekarang posisi saya yang jauh dari orang tua karena ikut suami di Sumatera Utara saya ucapkan terima kasih atas apa yang diajarakan oleh leluhur suami yg datang kembali kedunia ( SAHALA suku Batak menyebutnya) yang sedikit demi sedikit memberi wejangan yg sangat bermakna kebenaran yang harus saya pahami lahir dan batin. Dan mengenai informasi ini jg saya ucapkan terima kasih atas penjabaran arti dari sesaji yang selama ini saya buat. Keyakinan ku semakin kuat dan bisa membedakan arti agama (vertikal) dan adat istiadat saya sebagai orang jawa (horizontal) semuanya bertujuan satu yaitu kedamaian hidup lahir dan batin.
Budak Angon
Desember 29th, 2010 pada 21:56
Budaya lokal nusantara sarat dgn bahasa simbol
dari corak dan bentuk busananya juga sarat dgn bahasa simbol
jika berdoa kpd robbil alamin tuhan semesta alam juga selalu disertai dgn lambang2 spt bunga dan ubo rampai yg lainnya, kemudian juga disertai laku prihatin spt laku melek (ngurangi tidur) dan puasa (ngurangi makan).
Sebagian lambang2 tsb sudah diterangkan oleh Sabdalangit
bentuk laku prihatin tsb, biasanya jika kita mempunyai cita-cita, umpamanya cita-cita ingin mempunyai pekerjaan jika diawali dgn menyiapkan ubo rampe dan setiap ubo rampai tsb sarat dengan makna-makna, kemudian raga suci (bersih badan) besoknya melakukan olah prihatin ngurangi makan (puasa).
bentuk puasa :
bagi yg mempunyai cita2 tertentu dpt dilakukan dgn puasa senen-kamis, mutih, ngebleng ….. jika setelah terkabul biasanya ia menaruh tambahan pada lambang2 doa dgn tambahan pisang raja, pisang raja bermakna bahwa sudah menjadi raja artinya apa yg dicita-citakan sudah terkabul atau jadi raja.
bagi yg mempunyai cita ingin mengalahkan/melengserkan penguasa (raksasa) yg dzolim dilakukan dgn puasa sehari puasa sehari tidak, puasa jenis ini pernah dijalani oleh nb daud ketika akan mengalahkan Goliat (raksasa) akhirnya raksasa tsb tewas. Puasa jenis ini juga pernah dilakukan oleh bp Amin Rais ketika bercita-cita ingin melengserkan rezim soeharto dan akhirnya memang berhasil menjatuhkan rezim tsb, contoh yg lainnya cerita wayang juga ada jenis puasa bertahun2 sbg permohonan kpd Tuhan YME spt cerita arya penangsang dan cerita dewi madrid.
Kemudian puasa untuk menghapus dosa selama satu tahun, puasa ini dilakukan selama satu bulan di bulan ramadhan, selesai puasa masing-masing bersilaturahmi berkunjung kpd sesamanya sambil membagi-bagikan ketupat (ketupat lambang hati yg sudah bersih).
Setiap tari2an yg ada di budaya lokal nusantara juga syarat dgn mistis atau lambang2 yg sakral yg juga merupakan perwujudan dari doa. Demikian juga shalatnya umat muslim setiap gerakan tubuh juga syarat dgn perwujudan makna sakral penuh filosofis.
Budaya lokal nusantara jika dicermati selalu mengandung monodualisme atau berpasang2an bagaikan dua mata sisi uang, spt siang dan malam, bapak-ibu dll.
dan ternyata pusaka peninggalan leluhur juga selalu berpasang2an.
dan anehnya setiap candi selalu ada pasangannya berupa keris? ambil contoh candi borobudur ada pasangannya 5 buah pusaka betok, kemudian candi prambanan juga pasangannya keris, juga candi2 yg lain? ya wajar saja kalau sekarang aura tempat peribadatan sudah tidak hidup lagi karena nyawanya atau pancer-Nya sudah hilang entah kemana? karena kebodohan manusia jawa.
Maka pantas saja jika BA ketika menerima keris, dan tertera tulisan yg hanya bisa dibaca dgn mata bhatin yg isinya agar berdoa dan menyiapkan lambang-lambang berupa :
1. Telur ayam dara (telor ayam yg pertama keluar dari perut ayam)
2. Daun klewek (buah klewek biasanya untuk bikin sayur rawon, buah ini kalau mau diambil isinya DIHANCURKAN atau diklewek!)
3. Daun sereh.
4. patuh dewa syiwa (ini yg BA masih bingung ttg dewa syiwa ya maklum mmg gak ngerti makna dewa syiwa? tapi akhirnya cari2 di internet menjadi tahu)
Setelah membaca makna2 lambang2 tsb BA menangis ….. meraung-raung
leluhur nusantara menghendaki agar dunia ini di daur ulang, hal tsb terlihat dari makna2 lambang tsb spt daun klewek (manusia akan diklewek) dan dewa syiwa (sbg dewa pendaur ulang) …… maka meletuslah gng2 tp mungkin hanya secara kebetulan kali?
maka barang siapa yg nggak nurut BA ya silahkan saja, nggak maksa.
Cobalah baca warna2 BA melalui tulisan2 BA “intinya mengajak agar selalu urip” dan urip adalah budaya lokal nusantara, juga perintah nb ibrahim dan juga ajaran nb saw yg sudah lama ditinggalkan ……..
Budak Angon
Desember 29th, 2010 pada 22:07
Jujur sj untuk hal2 ttg bermacam2 lambang2 BA baru melek
termasuk lambang2 ttg keris
tp ketika perintah leluhur dijalankan yg aneh ketika telornya “hilang” dicari-cari gak ketemu? kenapa hilang ya? ternyata dimakan anak tikus (red. ramalan jayabaya ke-7 disebut “tikus pithi”) apa ada kaitannya dgn anak tikus?
telor = lambang dunia (jagad raya)
daun klewek = lambang penyangga
daun sereh (spt rumput, yg digunakan untuk masak) = lambang tiang penyangga
walahualam bishawab
Budak Angon
Desember 29th, 2010 pada 22:18
Seandainya budaya lokal nusantara digunakan untuk menyumpah pejabat ketika dilantik menjadi presiden/wakil presiden pasti “paten” …… dampaknya akan luar biasa? jika melanggar sumpah pasti langsung kena imbas antara hidup dan mati!!!!
disumpahnya cuma pakai al-qur’an bagi yg islam, kitab bibel bagi yg kristen dan juga kitab yg lainnya ……….. ketika dia melanggar sumpah malah GEMUK-GEMUK MAKMUR sementera rakyatnya KURUS
Budak Angon
Desember 29th, 2010 pada 22:21
Pokoknya blognya sabdalangit memang “OK”
selamat deh …………. hhh …………
kt menunggu prediksi jayabaya ke-7 ….. “tikus pithi berbaris”
sedangkan yg ke-8, “sabdopalon menitis kembali nusantara jaya”
M
Januari 1st, 2011 pada 06:19
mas….. pada poin dlingo bengle kesannya kok mistik. manfaatnya itu loh yang seolah-olah gk msuk akal, sebagai penangkal hal gaib
SABDå
Januari 2nd, 2011 pada 09:30
Mas M Yth
Saya dulu juga berfikiran sama dengan panjenengan. Tapi setelah tahu rumusnya, saya jadi paham, bahwa tak ada hal yg irrasional sekalipun dalam ranah gaib. Jika masih terkesan irasional, hal itu disebabkan diri kita saja yg belum cukup komplit menerima informasi akan rumus-rumus yg berlaku. Fikiran tanda-tanya panjenengan, sama hal misalnya sukma yg “terheran” kenapa badan jasad jika terkena soda api (atau sejenis HcL) kok bisa terbakar. Lha wong roh atau sukma tidak bisa terbakar oleh soda api.
Salam asah asih asuh
I Made Setiawan SH
Januari 18th, 2011 pada 12:15
Rahayu.
Yang saya sucikan Mas Sabda, Budak angon dan saudara pembaca Blok ini. Saya tertarik dan ingin rasakan mengumpulkan kekuatan sperti pemikiran luhur ini untuk menyelamatkan Nusantara yang sudah sangat parah ini. Tetapi masalahnya, yang mempunyai pemikiran luhur tanpa dicampur niat busuk Jaman ini tidak laku. Lihat saja, acara-acara yang ramai pasti kegiatan yang ada udang dibalik batu. Semoga semakin banyak orang yang menghayati,melakoni makna simbul ini agar kedamain Nusantara kita rais kembali.
Matur nuhun
Bambang
April 10th, 2011 pada 14:21
bersyukur masih ada yang nguri-uri leluhur
Teguh Supriyadi
Agustus 17th, 2011 pada 12:29
sugeng siang mmbah sabdo,dalem badhe nyuwun ijen nyemak.kaliyan nek angsal nyuwun wedaran babagan makno keris luk 1 dugi 13.matur sembah nuwun.salam ayu,hayu rahayu
SABDå
Agustus 17th, 2011 pada 13:50
Ms Teguh yth
Matur nuwun awit rawuh panjenengan ing blog menika. Kula ugi anyenyadong wedaran kawruh saking panjenengan. Bab keris wonten rencang ingkang langkung permono, mbok bilih ki demang sokowaten.com lan blog-blog sanesipun sampun wonten bab wedaran keris kanthi gamblang soho langkung trap. Kula ugi pitados, kathah poro sedulur ing mriki ingkang estu permono, mbok bilih Kang RD, Kang JS, dll saget paring wedaran ingkang tuntas.
Salam karaharjan
Teguh Supriyadi
Agustus 17th, 2011 pada 12:37
wedaran babagan sekaran meniko langkung utami,amargi sampun kathah inkang mboten nyumerepi makno/lambang/simbol sedanten meniko.milo kulo suwun kanti sanget poro piyantun sinten kemawon ingkang mangertosi babagan simbol2 ingkang sami taseh suminpen in batos kemawon,suumonggo sami diwedar supados mboten muspro tinggalan2 poro wicaksono ing tanah jowo.salam ayu,hayu,rahayu. suwun
BIma
Agustus 17th, 2011 pada 16:39
tangan kiri menebar kasih (dewi)…hehe…he….
tangan kanan menebar benci (o on)…haha haa….
Ga malu kamu Sabda…dah berapa tahun blog ini, pertanyaan mendasar tidak bisa dijawab. asih asah asu h h h…
Rini Budiasih
Oktober 14th, 2011 pada 13:15
like
FFI Ikans
Oktober 14th, 2011 pada 21:31
one of the FFI famous ikans girl!
FFI Ikans
Oktober 14th, 2011 pada 21:36
yesus pun ‘tafakur’ di depan pohon di getsmani?!
bartito
Desember 23rd, 2011 pada 17:59
puji syukur atas pencerahanya Ki,smua yg slma ini ku cari tlh ada istana ngelmu yg tiada duanya,mohon maaf & salaam kenal,,, Rahayu,,,
retakan kata
Januari 30th, 2012 pada 23:50
Reblogged this on RetakanKata.
satria
Februari 3rd, 2012 pada 13:56
slm sederek. sedanten..maaf kang bima knp ki sabda harus malu untuk jujur..mungkin kang bima yg harus babar tentang keris luk 1-13 kl memang tau kan di sini belajar dan saling memberi tau..spy negeri kita bersatu tanpa ad saling menjatuhkan. saling nerimo slg ngelengno..ngpuntene kang…salam damai dan bersatu utk kita NKRI..YG TERCINTA…wslm poro sedulur..semoga kita damai…..amiiiiin.
pecinta alam sejati
Februari 4th, 2012 pada 07:37
menggunakan ‘tool kit sebagai tradisi budaya boleh2 saja,
akan tetapi meritual-kan yang tidak diperintahkan dalam agama, itu lah yang disebut mempersekutukan tuhan.
Anwar
April 12th, 2012 pada 01:51
Matur sembah nuwun Bpk.Sabda atas ulasannya…
Hatur nuhun pisan, sim kuring dialajar kieu…
Sedikit cerita mengenai saya :
Saya baru mengerti, mengapa nenek saya memberikan bangle di ubun-ubun untuk adik saya ketika mereka masih bayi.
Kebetulan, nenek saya sendiri adalah keturunan dari trah betawi, konon uyut putri saya suka menolong orang melahirkan waktu dulunya. Terlepas dari pengetahuan ini, nenek saya hanya mengikuti apa yang diajarkan dari orang tua saja, tanpa tahu apa yang terjadi di alam metafisik.
Analogis saya, jika leluhur saya memiliki pengetahuan seperti ini, berarti kemungkinan ada 2 persepsi :
1. Mereka sudah bisa melihat metafisik dikehidupan sehari-hari, atau
2. Mereka patuh dengan yang diajarkan orang tua mereka semasa hidup mereka.
mmmhhh… jadi begitu ternyata.
Sekali lagi, Terima Kasih
agusbocahnakal
Juni 25th, 2012 pada 16:07
Sepuhhh mohon ijin untuk share tulisan ini diblog saya yang baru lahir agusbocahnakal.wordpress.com terima kasih
???????????????
Juni 27th, 2012 pada 14:11
kenapa lua sih….kan gampang kebongkar?
purwadi
Agustus 30th, 2012 pada 17:34
matur nuwun,tumut nyimak
agus
Oktober 11th, 2012 pada 14:38
matur nuwun kagem wawasanipun… menawi kepareng kulo badhe nyuwun preso wredinipun sekar lengo teleng………
agus
Oktober 11th, 2012 pada 14:40
matur nuwun sampun paring wawasan….
menawi kepareng kulo badhe nyuwun preso wredinipun sekar lengo teleng
hariyanto
November 14th, 2012 pada 23:23
matur nuwun dherek ngangsu kaweruh jawi, mugi adhadhosaken piwulang kagem putro wayah, sepidah maleh matur nuwun kawulo nyuwun ijin copypaste. salam tetepangan kagem Ki Sabda
abdijenar
Maret 26th, 2013 pada 09:29
terima kasih atas wawasannya Ki.
Proff Lintang
April 10th, 2013 pada 00:14
sangat bermanfaat bagi saya yg sangat butuh pengetahuan
trimakasih
1 Trackbacks / Pingbacks
Dodik An Natsir Mei 23rd, 2013 pada 13:59
[…] http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/ […]