KIRAB AGUNG TAPA mBISU
Adakah sebuah skenario besar ?
SUGENG MAHARGYO WARSO ENGGAL
Rebo Kliwon, 1 Sura 1944 Bé
Kurup Asapon (1936 – 2052 M)
Windu Kuntara
Lambang Windu Kulawu
Tahun Bé
Lambang Tahun Buda Mahésa (Kerbau)
Kumarané rupa Mina Lodan
Paarasan Lakuning Srengéngé
Pancasuda Lebu Katiyub Angin
Kamarokam Kala Tinantang
Watak Sasi Sasi Rahayu
Watak DinaSarik Agung (Tumuruning Kuthilapas)
Mangsa Kanem (VI, Maya) 9 November – 21 Desember
Wuku Galungan
Lintang Jun
Padangon Nohan
Padéwan Éndra
Dina Buda (Rabu)
Paringkelan Aryang
Pasaran Kliwon
Lambang Dina Jaran
Wening ing cipta, pasrah ing rasa, kanthi sumunaring budhi. Mugya kita sami tansah manggih ing karaharjan. Hamemayu hayuning bawana, suradira jayaningrat lebur dening pangastuti. Wilujeng rahayu kang tinemu banda lan beja kang teka.
KIRAB AGUNG TAPA MBISU
Sudah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta Hadiningrat sejak ratusan tahun silam, bahwa setiap malam 1 Suro (tahun baru Jawa) masyarakat melaksanakan tradisi kirab mubeng benteng mengitari Kraton. Kirab agun adalah malam hening cipta, atau mesu budi, bertujuan untuk maneges keselamatan lahir dan batin kepada Sang Hyang Jagad Nata. Acara mesu budi dimulai tepat pukul 00.00 wib berangkat dari alun-alun utara Kraton dengan dipandu oleh para abdi dalem kraton yang mengusung pusaka Tumbak Kyai Slamet dan pusaka pendampingnya. Kirab agung ditempuh dengan berjalan tanpa alas kaki mengitari benteng Kraton sembari tapa mbisu alias diam seribu bahasa (tidak berbicara apapun). Kirab agung adalah bentuk meditasi atau semedi sambil berjalan. Eneng ening sinambi mlampah. Ngalap berkah tumurune wahyu dyatmika. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk keselamatan bumi seisinya meliputi binatang, tumbuhan, dan mahluk halus.
Sepuluh tahun lalu, acara ini sempat meredup diakibatkan oleh adanya upaya penggusuran tradisi secara sistematis antara lain dengan cara menempelkan stigma negatif pada acara tersebut. Namun sejak gempa besar di Jogja pada 27 Mei 2006 lalu, masyarakat seolah seperti terbangun kesadarannya, bahwa selama ini telah melupakan nilai-nilai luhur warisan para pendahulu bangsa. Sejak itu peserta Kirab Agung kian ramai lagi. Dua hari sebelum malam 1 Suro, Jogja dan wilayah sekitarnya dalam seharian siang dan malam selalu diguyur hujan sangat lebat sesekali disertai guntur menyambar-nyambar. Namun rupanya berkah alam gayung bersambut. Malam 1 Sura ini langit bersih terang benderang, hawa tidak gerah, terasa lebih sejuk dari biasanya, malam pun terasa begitu hening seolah-olah alam semesta sedang melaksakanan meditasi. Ada suatu fenomena yang fantastis, malam ini malam 1 Suro 1944 (malam 8 Desember 2010) kirab Agung yang dimulai dari pukul 00.00 hingga 03.00 wib diikuti sekitar 5000 perserta, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa bahkan anak-anak dengan latar belakang beragam etnis dan agama.
Sebagaimana prinsip dalam pandangan hidup Jawa, Kirab Agung memiliki nilai universal, tidak sektarian dan primordial. Hal ini sebagai refleksi akan pemahaman spiritual Javaisme yang anti sektarianisme dan primordialisme, karena bagi pemahaman Javaisme, kedua mazab pikir tersebut justru mencerminkan level kesadaran seseorang masih sangat rendah. Setelah gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu, kini masyarakat Jogjakarta seolah dibangunkan kesadaran spiritualnya yang kedua kali dengan peristiwa letusan gunung Merapi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi lebih menyadari pentingnya keharmonisan dan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Kesadaran spiritual yang tergugah itu telah memberikan impilkasi dengan melonjaknya jumlah peserta Kirab Agung secara signifikan. Yah, terlepas dari ada tidaknya “skenario” besar Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong, yang jelas lingkungan alam di sekitar kita telah mengajarkan kepada manusia supaya hidup lebih arif dan bijaksana dengan memahami dan menghayati gamabudi; budi pekerti luhur.
TAPA MBISU
Tapa mbisu hakekatnya adalah bentuk laku prihatin dengan me-nonaktifkan mulut untuk hal-hal negatif dan sia-sia. Melalui tapa mbisu ini kita diajarkan untuk mampu memenej mulut kita. Maka dalam kirab agung seluruh mulut peserta harus diam non-active, sementara itu yang diaktifkan adalah mata batinnya. Ini sebagai bentuk laku sembah cipta, sembah kalbu. Tapa mbisu adalah cara untuk melatih diri kita untuk tidak terbiasa besar mulut, omdo atau omong doang, sampai mulut berbusa. Karena tabiat ini bukanlah gambaran budi pekerti yang luhur. Diam itu lebih baik ketimbang obral bicara tanpa makna. Diam adalah lebih baik daripada bersuara (provokatif) yang akan menimbulkan ketakutan, kebencian dan amarah orang lain. Istilah kasarnya, menengo, ojo kakehan cangkem !! Jika mulut kita terkendali dengan sebaik-baiknya, ia akan menjadi berkah buat diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, mulut akan berubah menjadi “harimau” (malapetaka) buat diri sendiri.
ADAKAH KALENDER JAWA ?
Ada juga yang mengira kalender Jawa sekedar mengikuti, ikut-ikutan, njiplak, plagiat kalender bulan (yang dimulai sejak nabi melakukan eksodus hijriyah) hanya dikarenakan tanggalnya selalu bersama dan identik angkanya. Hal itu merupakan pendapat yang salah kaprah. Kita semua tahu kalender bulan berdasarkan siklus planet bulan (the moon). Sementara itu kalender Jawa ada sejak tahun Saka yang diawali pada tahun 66 Masehi. Kalender Jawa merupakan kombinasi dua siklus yakni matahari dan rembulan. Karakter kalender Jawa asalnya menggunakan siklus kalender Saka dan tradisi asli nusantara sejak zaman kerajaan kuno, sehingga menghasilkan keunikan yang khas, bahkan menghasilkan ragam putaran siklus seperti ; windu, padangon, mangsakala, paringkelan, pasaran, pawukon, lintang, padewan, jaman sebagaimana tersebut di atas. Keunikan ini memang terkesan rumit, namun justru memiliki tingkat akurasi tinggi bila digunakan sebagai alat penganalisa karakter dan tabiat alam semesta, meliputi mikrokosmos dan makrokosmos.
Jika kita cermati antara kalender Jawa dengan kalender bulan (hijriyah) terdapat dua perbedaan mendasar, pertama; adalah angka tahunnya, terdapat perbedaan pada jumlah tahun yang menunjukkan rentang waktu sangat lebar. Kalender bulan saat ini sampai pada hitungan tahun 1432 H. Sementara itu kalender Jawa sampai pada hitungan tahun 1944 Be. Berarti kalender bulan memiliki selisih 512 tahun lebih muda dari kalender Jawa. Sedangkan jika dibanding kalender matahari, kalender Jawa lebih muda 66 tahun. Kedua ; tanggalnya. Antara keduanya selalu terjadi dinamika pergeseran antara 1 sampai dengan 2 hari. Hal ini dapat pula kita lihat bahwa kalender bulan dalam setiap 8 tahun terjadi 4 kali tahun kabisat. Sementara itu kalender Jawa 11 kali kabisat dalam waktu 20 tahun.
KI JURU ANGON (ANGON BEBEK !)
Ada satu kejanggalan di mana antara kalender bulan (hijriyah) dengan kalender Jawa seringkali tanggalnya bersamaan. Kadang berselisih satu dua hari. Namun demikian jelas tahunnya saja yang berbeda. Hal ini terjadi bukan karena kebetulan. Kanjeng Sultan Agung Hanyakrawati pada akhir abad 15 berusaha untuk melakukan asimilasi dan akulturasi budaya, antara budaya Jawa yang memakai kalender Saka, dengan budaya Arab yang memakai kalender hijriyah. Hal itu bukan sebagai suatu tindakan bodoh, sebaliknya pada waktu itu situasi sedemikian rupa sehingga para pemimpin Jawa berusaha bersikap lebih arif dan bijaksana. Anasir asing diijinkan masuk ke nusantara dengan catatan mau melakukan asimilasi dan akulturasi. Karena tidak seluruh anasir asing itu akan baik jika diterapkan di nusantara, dengan alasan itu masyarakat Jawa dengan kearifannya melakukan seleksi hanya nilai-nilai positif dan konstruktif saja yang diambil. Kanjeng Sultan Agung berusaha mengakomodasi budaya asing dengan mengkombinasikan dua sistem kalender tersebut. Selanjutnya sistem penanggalan dalam kalender bulan dimasukkan ke dalam siklus kalender Tahun Saka yang menganut siklus matahari. Jadilah kalender Jawa yang memadukan dua siklus yakni tahun saka dengan siklus matahari dengan bulan hijriyah dengan siklus bulan. Namun rupanya, kearifan dan kebijaksanaan para pendahulu kita, para leluhur bangsa, kini tak pernah dihargai dan disadari generasi penerus bangsa. Bahkan Ibaratnya dahulu kala ada segerombol lebah telah menawarkan madu, namun kini lebah itu tidak lagi menawarkan madu, melainkan membalas kebaikan hati para leluhur nusantara dengan “sengatan lebah” yang menyakitkan. Kita harus berani jujur mengakui bahwa sistem kalender Jawa telah ada jauh sebelum kemudian kalender bulan diberlakukan oleh Kanjeng Sultan Agung Hanyakrawati. Sikap Kanjeng Sultan Agung tersebut sebagai sikap perilaku orang Jawa yang selalu menghormati dan menghargai “tamu” sekalipun itu “tamu asing”. Kanjeng Sultan Agung telah menunjukkan sikap ngemong (asih-asuh) kepada para “tamu”. Dapat dikatakan beliau angon bebek. Namun kini “tamu” tersebut ternyata telah mbagekake sing duwe omah. Kini para tamu telah berlagak tak sopan, dengan mengatur dan mendikte sang tuan rumah. “Sang bebek” telah berusaha untuk berbalik menjadi peng-angon. Namun kodrat kearifan alam tidak demikian rupa adanya.
Dalam acara malam kirab agung 1 Suro, kami pergunakan untuk maneges Gusti Murbeng Gesang, untuk segera rawuhnya Satriyo Pambukaning Gapura, juga keselamatan, karahayuan, kelancaran rejeki, kasantosan, bagi seluruh makhluk dan juga meneges khusus untuk para sedulur yang telah memberikan sumbang sih, sumbang saran, kritikan, bahkan cacian sekalipun, semoga tansah pinaringan rahayu ingkang samya pinanggih, kasantosan, kawaluyan, kabegjan lan gangsar rejeki ing warso ngajeng samangke. Semoga negeri ini menjadi negeri yang adil makmur, damai tenteram, sejahtera lahir dan batin.
Bulan Sura kali ini adalah Sura Mijil, mijiling welas asih saking ngarsane Pengeran, lumantar para ngaluhur tumrap putra wayah, anak turun, generasi bangsa yang selalu eling dan waspada, tansah setya budya, setya tuhu bekti maring para ngaluhur. Kalajengaken ing tahun kawelasan 2011, tedak turune wahyu untuk generasi bangsa yang selalu eling waspada, setya tuhu, berbakti kepada para orang tua, para leluhur yang menurunkan kita semua.
















138 tanggapan kepada “KIRAB AGUNG TAPA mBISU”
suprayitno
Desember 20th, 2010 pada 22:40
@Mas Blontang:
………………….biarlah mereka yang merasa tentram melakukannya, .menikmati keyakinannya.. sama seperti mereka yang rela melakukan jihad bom bunuh diri … untuk menikmati keyakinannya……….
_____________________
Senang bisa bercakap-cakap kembali dengan Mas Blontang, rasanya seperti berhadap-hadapan tetapi saya tak sanggup membayangkan “wajah panjenengan”. Salah satunya mungkin karena panjenengan memakai nama panggilan “Blontang”.
Membayangkan wajah panjenengan saja tidak bisa, apalagi membayangkan wajah Tuhan? wah bagi saya Tuhan TAK TERBAYANGKAN. Biarlah wajah Tuhan untuk diri-NYA sendiri.
Sebab, ketika manusia mencoba mereka-reka dengan “keyakinanannya/agamanya” maka muncullah wajah Tuhan sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Akhirnya menjelmalah Tuhan itu sebagai sosok yang MENAKUTKAN, jadilah Berhala Tuhan.
Mas Blontang, mengenai pendapat panjenengan di atas yang membiarkan para korban racun agama membunuhi sesama yang tidak bersalah dengan bom bunuh diri, terus terang saya tidak sependapat.
Monggo diteruskan mas blontang…….
Dalbo
Desember 22nd, 2010 pada 10:22
Nuwun sewu…………..
Bahasa MenunjukkanBangsa.
Kepada saudar2ku yg tercinta di blog ini…
Seperti kita ketahui bahwa di negara2 lain telah mempunyai jati dir sendiri dg di perlakukanya huruf2 asli dari Negara masing2 misal: Jepang China, Thailand, Arab, Israel, disamping alphabet. Wajarlah kalau kita merasa iri dg mereka. Sedangkan Indonesia adalah Negara yg begitu besar dg kekayaan budaya yg luar biasa, meskipun kenyataannya sudah terasa sekali telah perlahan lahan kena grilya oleh kebudayaan asing. Untuk itu agar jangan samapi terlanjur hancur saya ingin mengusulkan, namun saya nggak tahu harus bagai mana, mungkin saudara2 di sini lebih faham dan tahu musti bagai mana/kemana mohon saya di bantu untuk menindak lanjuti usulan saya di bawah ini:
Usulan kepada Pemerintah R.I/ Menteri pendidikan dan kebudayaan.
1. Mengusulkan agar di berikanya tempat/kursi diparlement sebagi perwakilan yg menyuarai budaya Asli Indonesia.
2. Mengusulkan agar huruf Pali/huruf jawa (Ha,Na,Ca,Ra,Ka) di jadikan huruf Nasional dan wajib di ajarkan mulai dari tingkat SD sd SMA.
Kalau saja huruf Pali/ jawa sdh jadi huruf Nasional, mungkin saja generasi kita skrg tidak banyak yg bisa mengikutinya namun setidak2 nya generasi penerus kita lah yg meneruskanya, dan dg demikian Indonesia akan lebih bertambah jati dirinya dg mempunyai huruf sendiri.
Main tongkat Tangane awe awe, Ayo nggangkat budayane Dhewe,
Salam Asah asih asuh
Dalbo with Love.
Jaka Petir
Desember 22nd, 2010 pada 10:50
Makna HA NA CA RA KA
——————————–
*Ha* Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
*Na* Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
*Ca* Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
*Ra* Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
*Ka* Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam
bw eko
Desember 23rd, 2010 pada 09:02
atur kagem Jaka Petir :
matur sembah suwun bangeeettt, saya jadi bisa nambah ilmu pengetahuan tentang aksara Jawa.
Mugi kagem Jaka Petir tansah pinaringan ilmu, lan banjir berkah mbanyu mili.
Salam ngangsu kawruh.,
salam senyum,salam jogja2010.
matur nuwun.
Jaka Petir
Desember 22nd, 2010 pada 10:51
Makna DA TA SA WA LA
———————————-
*Da* Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
*Ta* Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
*Sa* Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasihTuhan
*Wa *Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
*La* Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunanIllahi
Jaka Petir
Desember 22nd, 2010 pada 10:52
Makna PA DHA JA YA NYA
————————————
*Pa* Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
*Dha* Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
*Ja* Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
*Ya* Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
*Nya* Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Jaka Petir
Desember 22nd, 2010 pada 10:54
Makna MA GA BA THA NGA
————————————-
*Ma* Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
*Ga* Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
*Ba* Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
*Tha* Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
*Nga* Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia.
MANUSIA ADALAH UTUSAN, MAKA MENJALANI PANGGILAN SEBAGAI UTUSAN ADALAH SIKAP YANG TEPAT DI HADAPAN SANGHYANG TUNGGAL
Dalbo
Desember 22nd, 2010 pada 11:09
Nuwun sewu..
@ Jaka Petir.
Sebuah wedaran yg syarat akan makna. Matur nuwun sanget.
Jaya jaya wijayanthi Jayalah Budhaya, Jayalah Nusantara…
Jula juli taline rawe, ojo lali budhayane dhewe,,,
Asah, asih, asuh,,
Dalbo with Love….
blonthang
Desember 23rd, 2010 pada 12:03
Yth mas Suprayitno
he.. he ..
mau gimana lagi mas.. la wong mereka menikmati keyakinannya..
barangkali kita semua memang punya tugas masing-masing .. Njenengan bilang keyakinan tidak bisa disalahkan.. inget ndak?
Hati kita sering sakit melihat peristiwa yang ‘tidak masuk akal dan bertentangan dengan kemanusiaan’ .. apalagi latar belakangnya adalah keyakinan
Sebuah keyakinan yang bagi anda dan saya adalah sesuatu yang absurd
Spt misal begini…
Konsep surga dengan aneka kemewahan (anggur dan wanita cantik yang ditawarkan) jika kita mati kelak.. padahal anggur dan wanita adalah konsep tentang duniawi..
lalu apa artinya kembali kepada-Nya jika kita kembali ke hal-hal yang bersifat duniawi lagi.. Bagi pandangan keyakinan anda dan saya ini tentu absurd..
Alam sendiri kan berproses … akan ada seleksi alam bagi hal-hal semacam itu..
jd maksud saya.. biarlah alam yang menyeleksi .. kita hanya bsa menentramkan diri kita dan mencoba hal-hal baik yang kita bisa.. begitu kira-kira mas…
maturnuwun.. lanjut…
suprayitno
Desember 23rd, 2010 pada 12:41
Mas Blontang,
OKlah kalau begitu, inggih leres mas, keyakinan memang tidak bisa disalahkan, yang bisa disalahkan adalah ketika keyakinan itu dianggap sebagai PENGETAHUAN. sebab, pengetahuan ya mesti harus benar-benar TAHU bukan sekadar jarene/katanya al kitab.
Keyakinan yang tidak pernah terbukti atau dibuktikan, belum bisa dianggap sebagai kebenaran, akhirnya hanya sekadar MITOS dan anehnya mitos ini begitu kuat menyihir otak manusia. Shingga manusia bisa dengan sangat mudah “dikuasai” untuk berbuat sesuatu yang sangat tidak masuk akal sekali pun.
Mereka para “penguasa tuhan”, terus menyebarkan mantranya untuk menghipnosis otak para pengikutnya. Hipnosis ini berjalan sangat efektif karena didukung oleh pemerintah/negara, lingkungan, orang tua dan semua orang menjadi ikut terlibat di dalamnya. Lihat saja fakta, saya akhir-akhir ini melihat lebih banyak orang yang
“jidatnya/keningnya menghitam” akibat tingginya intensitas benturan keningnya dengan lantai. Gak tahu saya, fenomena apakah ini?
Orang hanya manut/patuh saja ketika disuruh sembahyang, tanpa pernah sekalipun menggunggat atau konfirmasi kepada tuhannya “Benarkah ya Allah, Engkau perlu disembah? Bagaimana kalau aku tidak menyembah-MU?”. SAYA BERANI MENJAMIN BAHWA TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENJAWAB PERTANYAAN TERSEBUT.
MENGAPA? karena TUHAN MAHA BISU, yang pandai berbicara itu kan manusia yang mengatasnamakan tuhan. Bahasa Tuhan bukanlah bahasa verbal (ucap) melainkan melalui hukum alam sebab-akibat. Jika manusia tidak bisa memahaminya, yah……risikonya dia akan “dimakan” oleh keras dan disiplinnya hukum alam.
Kesimpulan saya, Tuhan tidak perlu dan tidak butuh disembahyangi, karena ada pekerjaan dari manusia yang jauh lebih besar, yakni bagaimana manusia HARUS MAMPU dan MAU menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Monggo mas Blontang dilanjut……………….
Dalbo
Desember 24th, 2010 pada 14:33
Nuwun sewu…
kami sekeluaarga mengucapkan selamat hari natal buat semua umat kreisten dan katolik yang ada diblog ini dan Tahun baru buat semua nya. dgn harapan agar. rasa cinta dan kasih senantiasa mengiringi perjalanan hidup kita, ” Have a Merry Christmas and Happy new Year”
Santen peresan klopo, nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo.
Dalbo with love.
Kang Sukma
Desember 28th, 2010 pada 10:00
Kebaikan akan berbuah kebaikan pula , tuhan maha tahu dan maha menatap….. se alam Jagat Raya
Kang Sukma
Januari 26th, 2011 pada 09:36
Dalam Islam , membisu atau menyepi / menyendiri dapat juga diartikan sebagai perilaku Khalwat ; yang artinya menyepi di tempat tertentu sambil berzikir dan tafakur mengingat Allah Sang Pemilik segala Kehidupan dan Pengatur Jagat Raya . Di kota Jakarta ada Tariqoh atau Tharekat dengan nama KHALWATIYAH , karena penganutnya sering berzikir menyebut nama ALLAH sambil menyepi di suatu tempat .
RP
Januari 8th, 2012 pada 13:23
menyepi menyendiri..sama dengan mengehningkan sastra jendra wahyu ningrat..alias juhud hingga memegang nur tajjalli Allah, sehingga nama Allah menghilang menjadi TUHAN YANG MAHA ESA..ALLOH HUAKHBAR..
kabar gembira from super indigo : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=122954131073701&set=a.122953954407052.8397.100000773455874&type=3&theater
mang gamalapra…
kumaha apakah saya harus mencabut kujang sangkuriang????
dewi i miss you where are you bahenollll
call me yooo 082121124111..kakang ades arjuna ireng..
ternyata badanku kian semakin sakit, keriput mulai menumbuh, walau bejuku gak pernah muncrat….orisinil bro..
siapa yang mau kawin sama aku hayoo…apa mahar mas kawinnya???
pengen apa…katakan saja..apa aku harus jadi presiden..okkklah..
….
inilah gemerungsungnya..hati, pikiran yang lelah tak bisa lepas dari mimpi yang aku sendiri tak mau…
Dewi
Januari 8th, 2012 pada 18:44
@ Raja Phandita kakang Ades Arjuna Iteng,
Jubah hitam= lambang keangkuhan& kegelapan jiwa?… aku merindukan ‘Pangeran kegelapan’, di balik dunianya yang gelap tersimpan energy sinar yang sejatinya rupawan (di hatinya).
jika kau tak keberatan… aku akan membuka jubah hitammu malam ini…, Tapi tak perlulah aku membuka jubahmu dengan sentuhan kedua tanganku, karena engkaulah sendiri yang akan menanggalkanya di hadapanku… malam ini juga…
Di malam bulan Purnama, malam yang penuh bermandikan cahaya…, mau?…
Salam Bulan,
Dewi